penelitian individu politik pemberdayaan pedagang kaki ... · pdf fileuntuk bersama-sama...

Click here to load reader

Post on 06-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

Penelitian Individu

POLITIK PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA DALAM MENGATASI PENGANGGURAN

DI KOTA MAKASSAR DAN KOTA SEMARANG

Oleh Mohammad Mulyadi

EXECUTIVE SUMMARY

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Maraknya PKL berbuntut pada munculnya berbagai persoalan. Ada anggapan

bahwa keberadaan PKL yang semrawut dan tidak teratur mengganggu ketertiban,

keindahan serta kebersihan lingkungan. Lokasi berdagang yang sembarangan bahkan

cenderung memakan bibir jalan sangat mengganggu lalu lintas baik bagi pejalan kaki

maupun pengendara motor atau mobil. Selain itu, parkir kendaraan para pembeli

yang tidak teratur juga sangat mengganggu ketertiban. Belum lagi masalah limbah

atau sampah. Selama ini para PKL belum sadar akan pentingnya kebersihan sehingga

keindahan di lingkungan pun sulit diwujudkan. Mutu barang yang diperdagangkan

juga harus diperhatikan, sehingga nantinya tidak merugikan konsumen.

Masalah kemacetan, sejatinya bukanlah permasalahan sektoral lagi, melainkan

menjadi bagian dari beragam permasalahan kota yang saling terkait satu dengan

lainnya. Banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemacetan.Beberapa faktor

penyebab kemacetan, di antaranya pertama daya tampung ruas jalan yang overload

dengan jumlah kendaraan yang lewat. Beberapa jalan yangsebenarnya tidak mampu

lagi menampung aktivitas kendaraan pada jam-jam puncak.

Selain daya tampung ruas jalan, beberapa traffic light yang sudah tidak akurat

lagi (kurang berfungsi) turut menjadi penyebab meningkatnya angka kemacetan.

Faktor lainnya yang menyumbang angka kemacetan terbesar yaitu pedagang kaki lima

(PKL). Tak bisa dielakkan aktivitas PKL, khususnya yang ada di sekitar jalan-jalan di

pusat kota yang menggunakan badan jalan ikut menyumbang kemacetan. Kemacetan

2

terjadi dipenuhi pedagang kaki lima (PKL), pejalan kaki, becak, dan sepeda motor.

Kemacetan tersebut disebabkan banyaknya kendaraan pribadi yang terjadi di pusat

kota tersebut secara bersamaan.

Fenomena permasalahan yang ditimbulkan dari adanya pedagang kaki lima

tentu saja membutuhkan sebuah penanganan yang tidak menimbulkan benturan di

bawah. Politik pemberdayaan pedagang kaki lima diharapkan dapat menjadi solusi

dari banyaknya masalah keberadaan pedagang kaki lima. Politik pemberdayaan

pedagang kaki lima lebih tertuju pada aspek politik dan kebijakan pemberdayaan

pedagang kaki lima. Sehingga keputusan politik terhadap program pemberdayaan

pedagang kaki lima bertujuan untuk mengembangkan kapasitas masyarakat, untuk

meningkatkan kualitas kehidupannya dan kesejahteraan masyarakat yang mempunyai

mata pencaharian pedagang kaki lima.

Pemberdayaan merupakan proses break-down dari hubungan atau relasi

antara subyek dengan obyek. Proses ini memfokuskan adanya pengakuan subyek

akan kemampuan atau daya (power) yang dimiliki obyek. Secara garis besar,

proses ini melihat mengalirnya daya dari subyek ke obyek dengan memberinya

kesempatan untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai sumber yang ada

merupakan salah satu manifestasi dari mengalirnya daya tersebut. Pada akhirnya,

kemampuan individu miskin untuk dapat mewujudkan harapannya dengan diberinya

pengakuan oleh subyek merupakan bukti bahwa individu tersebut mempunyai

daya. Dengan kata lain, mengalirnya daya ini dapat berwujud suatu upaya dari obyek

untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai daya yang ada padanya serta dibantu

juga dengan daya yang dimiliki subyek. Dalam pengertian yang lebih luas,

mengalirnya daya ini merupakan upaya atau cita-cita untuk mengintegrasikan

masyarakat miskin ke dalam aspek kehidupan yang lebih luas. Hasil akhir dari proses

pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula obyek menjadi subyek

(yang baru), sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya dicirikan dengan relasi

antar subyek dengan subyek yang lain. Dengan kata lain, proses pemberdayaan

mengubah pola relasi lama subyek-obyek menjadi subyek subyek.

3

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut di atas, maka pokok

masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana politik pemberdayaan pedagang kaki

lima dalam mengatasi pengangguran, dengan pertanyaan penelitiannya adalah sebagai

berikut:

1. Mengapa politik pemberdayaan bagi pedagang kaki lima perlu dilakukan

dalam upaya mengatasi pengangguran di Kota Makassar dan Kota Semarang?

2. Bagaimana bentuk politik pemberdayaan bagi pedagang kaki lima yang

dilakukan oleh pemerintah daerah dalam upaya mengatasi pengangguran di

Kota Makassar dan Kota Semarang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai upaya politik

pemberdayaan pedagang kaki lima dalam mengatasi pengangguran di Kota Makassar

dan Kota Semarang. Politik pemberdayaan yang dimaksud adalah bagaimana bentuk

politik pemberdayaan bagi pedagang kaki lima yang dilakukan oleh pemerintah

daerah dalam upaya mengatasi pengangguran di Kota Makassar dan Kota Semarang.

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat dijadikan bahan dalam

mengembangkan konsep politik pemberdayaan dalam menghadapi keberadaan

Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai sebuah potensi yang hidup dan berkembang di

masyarakat guna memudahkan pemerintah dalam menggerakkan masyarakat PKL

untuk bersama-sama mengatasi masalah pembangunan di daerah. Selain itu hasil

penelitian ini dapat menjadi masukan yang berarti bagi para anggota DPR RI dalam

menyusun kebijakan yang terkait dengan pembangunan daerah melalui politik

pemberdayaan PKL.

4

II. Kajian Literatur

A. Konsep Politik Pemberdayaan Masyarakat

Politik pada umumnya dapat dikatakan sebagai usaha untuk menentukan

peraturan-peraturan yang dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar warga,

untuk membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis (2008:15).

Politik memiliki dua sisi pengertian, yaitu dalam arti baik dan dalam arti buruk. Peter

Merkl (1967:13) menyatakan bahwa politik dalam bentuk yang paling baik adalah

usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan (Politics, at its best is a

noble quest for a good order and justice). Adapun bahwa politik, dalam bentuk yang paling

buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri

sendiri (Politics at Its worst is a selfish grab for power, glory, and riches).

Adapun pemberdayaan menurut arti secara bahasa adalah proses, cara, untuk

membuat berdaya. Sedangkan masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-

luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Sehingga

pemberdayaan masyarakat secara sederhana dapat didefinisikan sebagai proses atau

cara yang dilakukan untuk membuat berdaya sejumlah orang.

Unsur utama dari proses pemberdayaan adalah pemberian kemampuan,

sehingga kemampuan menjadi indikator utama, apakah proses pemberdayaan

tersebut dapat dikatakan berhasil atau tidak. Dengan demikian untuk memperoleh

kemampuan dalam melakukan sesuatu, masyarakat perlu diberdayakan. Menurut

Soetomo (2011:66) agar masyarakat memiliki kemampuan, maka masyarakat sampai

pada tingkat komunitas terbawah diberi peluang dan kewenangan.

Kekuasaan seringkali dikaitkan dan dihubungkan dengan kemampuan

individu untuk membuat individu melakukan apa yang diinginkan, terlepas dari

keinginan dan minat mereka. Pemberdayaan merujuk pada kemampuan orang,

khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau

kemampuan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya mereka memiliki kekuatan

atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki

kebebasan dalam mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan,

bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan; (b) menjangkau sumber-sumber

5

produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan

memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan; dan (c)

berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan keputusan yang

mempengaruhi mereka (Suharto 2005). Pandangan tersebut menunjukkan bahwa

pemberdayaan masyarakat memberikan kesempatan masyarakat untuk memperoleh

ketrampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi

kehidupannya menjadi lebih baik.

B. Konsep Pengangguran

Pelaksanaan pembangunan akan selalu menimbulkan dampak sosial, sebagai

akibat tidak meratanya akses dan manfaat pembangunan yang diterima oleh

masyarakat. Pengangguran merupakan masalah klasik yang selalu ada di setiap

negara, termasuk di Indonesia. Keterbatasan akses terhadap pendidikan dan lapangan

pekerjaan merupakan penyebab utama pengangguran. Keterbatasan lapangan

pekerjaan menyebabkan supply (penawaran) tenaga kerja di pasar tenaga kerja

melebihi demand (permintaan) tenaga kerja untuk mengisi kesempatan kerja yang

tercipta. Akibatnya timbul kelompok

View more