pembahasan jurnal

5
PEMBAHASAN Tanaman kenaf adalah salah satu tanaman perkebunan yang dibudidayakan oleh petani kenaf di Indonesia. Tanaman kenaf ini merupakan bahan baku dari pembuatan karung goni. Pembudidayaan tanaman kenaf dapat mengurangi impor serat, menambah devisa negara, dan juga menambah pendapatan petani. Perusahaan yang membudidayakan tanaman kenaf ini antara lain PTPN X dan PTPN XI. Akan tetapi, dengan munculnya karung plastik menyebabkan karung goni kalah bersaing dengan karung plastik tersebut sehingga kedua PTPN tersebut mengundurkan diri untuk pembudidayaan tanaman kenaf ini. Lalu untuk meneruskan kelangsungan budidaya tanaman kenaf, maka pemerintah bekerja sama dengan PT. GLOBAL AGROTEK NUSANTARA dalam hal mendiversivikasi serat tanaman kenaf menjadi beberapa produk, seperti sebagai pengganti fiber glass, aneka kerajinan rakyat, wall pack, lapisan interior mobil, geotextilles, particle board, dsb. Pengembangan program ini dilaksanakan pada Kabupaten Lamongan, di desa Kecamatan Laren. Penelitian mengenai efisiensi ekonomis dalam usahatani kenaf pernah dilakukan oleh soekartawi di Kabupaten Nganjuk. Dari penelitiannya tersebut didapatkan hasil bawha nilai R/C ratio yang diperoleh adalah 1,31. Tanaman Kenaf tumbuh subur pada kondisi lahan iklim yg basah dengan curah hujan berkisar antara125-400 mm perbulan dan suhu antara 25 0 C – 27 0 C, tanah dengan PH

Upload: tri-suherman

Post on 24-Jul-2015

44 views

Category:

Documents


2 download

TRANSCRIPT

Page 1: PEMBAHASAn jurnal

PEMBAHASAN

Tanaman kenaf adalah salah satu tanaman perkebunan yang dibudidayakan

oleh petani kenaf di Indonesia. Tanaman kenaf ini merupakan bahan baku dari

pembuatan karung goni. Pembudidayaan tanaman kenaf dapat mengurangi impor

serat, menambah devisa negara, dan juga menambah pendapatan petani. Perusahaan

yang membudidayakan tanaman kenaf ini antara lain PTPN X dan PTPN XI. Akan

tetapi, dengan munculnya karung plastik menyebabkan karung goni kalah bersaing

dengan karung plastik tersebut sehingga kedua PTPN tersebut mengundurkan diri

untuk pembudidayaan tanaman kenaf ini.

Lalu untuk meneruskan kelangsungan budidaya tanaman kenaf, maka

pemerintah bekerja sama dengan PT. GLOBAL AGROTEK NUSANTARA dalam

hal mendiversivikasi serat tanaman kenaf menjadi beberapa produk, seperti sebagai

pengganti fiber glass, aneka kerajinan rakyat, wall pack, lapisan interior mobil,

geotextilles, particle board, dsb. Pengembangan program ini dilaksanakan pada

Kabupaten Lamongan, di desa Kecamatan Laren. Penelitian mengenai efisiensi

ekonomis dalam usahatani kenaf pernah dilakukan oleh soekartawi di Kabupaten

Nganjuk. Dari penelitiannya tersebut didapatkan hasil bawha nilai R/C ratio yang

diperoleh adalah 1,31.

Tanaman Kenaf tumbuh subur pada kondisi lahan iklim yg basah dengan

curah hujan berkisar antara125-400 mm perbulan dan suhu antara 250 C – 270 C, tanah

dengan PH antara 4,4 – 6,5, tanah yang kaya dengan bahan organik. Hal-hal yang

dilakukan dalam bercocok tanam tanaman kenaf antara lain persiapan dan pengolahan

lahan, pemeliharaan, penebangan dan pengolahan hasil.

Efisiensi usaha tani dapat diukur dengan cara menghitung efisiensi teknis,

efisiensi harga dan efisiensi ekonomis. Ketiga macam efisiensi tersebut sangat penting

dan harus perhatikan oleh para petani bila mereka ingin mendapatkan keuntungan

yang sebesar-besarnya. Umumnya memang petani tidak mempunyai catatan usaha

tani (farm recording) sehingga sulit bagi petani untuk melakukan analisis usaha

taninya. Petani hanya mengingat-ingat cash flow (anggaran arus uang tunai) yang

mereka lakukan walaupun sebenarnya ingatan itu tidak terlalu jelek karena mereka

masih ingat bila ditanya tentang berapa output yang mereka peroleh dan berapa input

yang mereka gunakan. Hal tersebut dapat dijadikan bahan untuk perhitungan

mengenai analisis bagi mereka. Tetapi apabila petani dapat menghitung efisiensi

Page 2: PEMBAHASAn jurnal

teknik, harga, dan ekonomis maka mereka akan mudah untuk menentukan berapa

produksi maksimal yang harus diupayakan sehingga akan menghasilkan keuntungan

yang maksimal pula.

Pada beberapa pengalaman analisis usaha tani yang dilakukan oleh petani dan

produsen memang bertujuan untuk tujuan mengetahui atau meneliti (Soekartawi, dkk,

1990) antara lain keunggulan komparatif (comparative advantage), kenaikan hasil

yang semakin menurun (law of diminishing returns), substitusi (substitution effect),

pengeluaran biaya usaha tani (farm expenditure), biaya yang diluangkan (opportuniw

cost), pemilikan cabang usaha (macam tanaman lain apa yang dapat diusahakan), dan

baku timbang tujuan (goal trade-on). Tujuh macam analisis usaha tani tersebut pada

dasarnya sama, yaitu mencari informasi tentang keragaan suatu usaha tani yang dilihat

dari berbagai aspek.

Usaha tani pada skala usaha yang luas pada umumnya memiliki ciri sebagai

berikut : bermodal besar, berteknologi tinggi, manajemennya modern, lebih bersifat

komersial, dan sebaliknya usaha tani skala kecil pada umumnya memiliki ciri :

bermodal pas-pasan, teknologinya tradisional, lebih bersifat usaha tani sederhana dan

sifat usahanya subsistem, serta lebih bersifat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi

sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Dari hal ini tentunya sangat membedakan antara

usahatani dengan skala usaha yang luas dan juga usaha tani dengan skala usaha tani

yang kecil. Ini juga berpengaruh terhadap produksi dan penerimaan yang didapatkan

oleh petani tersebut. Petani yang memiliki skala usaha yang luas akan mengeluarkan

biaya produksi yang lebih besar dibandingkan dengan petani yang memiliki skala

usaha yang kecil.

Salah satu desa pada Kecamatan Laren yang menjadi tempat pengembangan

program pemerintah dalam membudidayakan tanaman kenaf adalah desa

Pesanggarahan. Desa ini memiliki wilayah seluas 228,6 Ha, yang terdiri dari tanah

sawah, tanah kering dan tanah bonorowo serta tanah pemukiman. Desa ini memiliki

beberapa hal yang sangat menguntungkan bagi petugas Dinas Pertanian dalam

mengatur pola tanam pada petani di desa Pesanggarahan tersebut, hal tersebut

diantaranya jarak dari pusat pemerintahan kecamatan: 10 km, jarak dari 1bu kota

Kabupaten: 45 km, jarak dari Ibu kota Propinsi: 77 km, Ketingian tempat 5 m DPL,

curah hujan 1000 mm, dan keadaan suhu 350 C.

Para penduduk desa Pesanggarahan ini pada umumnya bermata pencarian

sebagai petani, sehingga mereka memiliki banyak waktu untuk membudidayakan

Page 3: PEMBAHASAn jurnal

tanaman kenaf ini. Para petani tersebut rata-rata memiliki lahan yang sangat kecil

yaitu 0,1 – 0,5 Ha. Tetapi ada juga petani yang memiliki lahan antara 0,5 – 1,0 Ha.

Petani yang memiliki lahan tersebut mengeluarkan biaya (TC) sebesar Rp4.165.000,-.

Biaya tersebut merupakan hasil penjumlahan dari biaya tetap (TFC) dengan biaya

variabel (TVC). Biaya yang terbesar dalam memproduksi dan pengolahan tanaman

kenaf ini terletak pada biaya tenaga kerjanya. Hal itu dapat kita lihat pada jurnal di

tabel 9.

Penerimaan yang diperoleh oleh petani tersebut sebesar Rp5.326.800,-.

Penerimaan tersebut berasal dari produksi kenaf yang dihasilkan sebanyak 2.316 Kg

dan harga panen saat itu sebesar Rp2.300 /Kg. Keuntungan yang diperoleh oleh para

petani kenaf tersebut adalah Rp5.326.800 – Rp4.165.000 = Rp1.161.800,- /Ha. Jadi,

petani yang memiliki luas lahan 1,0 Ha akan mendapatkan keuntungan sebesar

Rp1.161.800,-. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan 0,5 Ha akan mendapatkan

keuntungan setengah dari keuntungan yang diterima oleh petani yang memiliki luas

lahan 1,0 Ha. Demikian pula dengan petani yang memiliki lahan yang kecil, maka

penerimaan yg didapat akan semakin kecil pula. Semakin luas lahan yang dimiliki

maka akan semakin tinggi keuntungan yang akan didapatkan. Akan tetapi ada ukuran

tertentu untuk memperoleh keuntungan maksimal. Artinya apabila lahan terlalu luas

maka akan terjadi penambahan keuntungan yang semakin berkurang. Hal itu juga

dapat disebabkan biaya total yang harus dikeluarkan selama masa produksi.

Sedangkan nilai R/C ratio yang diperoleh adalah = Rp.5.326.800 : Rp.

4.165.000,-./ha. = 1,27. Hasil ini termasuk pada daerah >1 artinya usahatani kenaf ini

menguntungkan bagi para petani yang ada di desa Pesanggarahan. Walaupun dengan

lahan yang sempit para petani masih mendapatkan keuntungan. Akan tetapi akan lebih

baik jika lahan petani lebih diluaskan.