pemb pertan era otonomi

Download Pemb Pertan Era Otonomi

Post on 15-Jan-2016

9 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pemb Pertan Era Otonomi

TRANSCRIPT

DEMOKRATISASI PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA OTONOMI DAERAH:

DEMOKRATISASI PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA OTONOMI DAERAH:

TINJAUAN DARI ASPEK PENYULUHAN PERTANIAN1

Oleh : Subejo, SP, M.Sc.2

Pendahuluan

Bebarapa isu utama yang dihadapi pembangunan pertanian di Indonesia adalah

demokratisasi dan desentralisasi. Searah dengan semangat desentralisasi, kebijakan nasional

yang tertuang dalam UU No.22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No.32 Tahun

2004 telah memberikan ruang gerak desentralisasi melalui kebijakan otonomi daerah.

Desentralisasi dipandang penting karena membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi

masyarakat dalam memantau kebijakan pemerintah. Menurut Akhmadi (2004), sesuai dengan

otonomi daerah, kewenangan di bidang penyuluhan pertanian sejak tahun 2001 dilimpahkan

kepada pemerintah daerah agar daerah mampu meningkatkan kinerja penyuluhan pertanian.

Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, otoritas penyuluhan pertanian juga telah

didelegasikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tingkat kabupaten. Meskipun

masih perlu didukung dengan data-data empiris, kecenderungan umum menunjukkan bahwa

kebijakan pemerintah daerah beberapa tahun terakhir kurang pro terhadap kegiatan terkait

penyuluhan pertanian sehingga kinerja penyuluhan pertanian menurun..

Kinerja dan aktivitas penyuluhan pertanian yang menurun antara lain disebabkan oleh:

perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dengan daerah dan antara eksekutif dengan legislatif

terhadap arti penting dan peran penyuluhan pertanian, keterbatasan anggaran untuk penyuluhan

pertanian dari pemerintah daerah, ketersediaan materi informasi pertanian terbatas, penurunan

kapasitas dan kemampuan managerial dari penyuluh serta penyuluh pertanian kurang aktif untuk

mengunjungi petani dan kelompoknya, kunjungan lebih banyak dikaitkan dengan proyek.

Demokratisasi Pembangunan Pertanian

Terkait dengan pembangunan pertanian, demokratisaasi pembangunan dapat dimaknai

sebagai suatu proses yang melibatkan anggota masyarakat/petani dengan akses menentukan

1 Sebagian isi makalah telah disampaikan pada Seminar Regional PERHIPTANI Kabupaten Sleman Propinsi

Yogyakarta pada tanggal 22 November 2006 dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2006

2 Staf pengajar Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, anggota Agricultural

Research and Extension Network (AgREN)-UK, (email address: Subejo@Lycos.com)

-2-

pilihan dan hak-hak yang setara untuk bersama-sama dengan staf pemerintah/NGO/perguruan

tinggi/lembaga donor internasional melakukan tahapan-tahapan pembangunan mulai dari

identifikasi potensi, perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi keberhasilan

program pembangunan. Dalam proses yang demokratis tersebut, partisipasi masyarakat dalam

program pembangunan pertanian menjadi kata kunci yang sangat penting.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pertanian dikatakan berhasil jika telah

melibatkan masyakarat dalam: (1) proses penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan

yang dilakukan oleh pemerintah, (2) keterlibatan dalam memikul beban dan bertanggungjawab

dalam pelaksanaan pembangunan, dan (3) keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat

pembangunan secara berkeadilan.

Ruang gerak partisipasi masyarakat yang cukup dalam pembangunan pertanian akan

memposisikan masyarakat sebagai salah satu penentu dalam perencanaan, pelaksanaan dan

sebagai penerima manfaat program pembangunan. Pada beberapa dekade terakhir, di berbagai

negara termasuk di Indonesia mulai menerapkan model paticipatory rural appraisal (PRA)

dalam implementasi perencanaan pembangunan pertanian (termasuk penyuluhan). Paradigma

pembangunan yang partisipatif ini nampaknya memiliki perbedaan ideologi jika dibandingkan

dengan paradigma yang sebelumnya sangat populer yaitu rekayasa sosial (social engineering3).

Penyuluhan Pertanian di Era Desentralisasi

Seiring perubahan global dan isu lingkungan strategis, layanan penyuluhan pertanian juga

mengalami perubahan-perubahan. Subejo (2002) mengindikasikan bahwa transformasi

penyuluhan pertanian sedang berlangsung di berbagai negara. Perubahan terjadi pada organisasi,

sistem penugasan, dan praktek sistem penyuluhan pertanian dan pedesaan.Tantangan untuk

mengintrodusir suatu sistem institusi baru yang lebih sesuai menjadi pertimbangan dalam

mereformasi sistem penyuluhan pertanian. Jika hal tersebut dikesampingkan maka sistem

pelayanan penyuluhan akan menjadi suatu yang usang dan ketinggalan.

Salah satu isu utama dalam penyuluhan adalah desentralisasi. Searah dengan semangat

desentralisasi, kebijakan nasional telah memberikan ruang gerak desentralisasi melalui

3 Social engineering is about attempts to influence popular behavior. For social engineering as it applies to

manipulation of individuals. Social engineering is a concept in political science that refers to efforts to influence

popular attitudes and social behavior on a large scale, whether by governments or private groups. In the political

arena the counterpart of Social engineering is: Political engineering. For various reasons, the term has been imbued

with negative connotations (www.wikipedia.org).

-3-

kebijakan otonomi daerah. Desentralisasi dipandang penting karena membuka ruang partisipasi

yang lebih luas bagi masyarakat sipil dalam memantau kebijakan pemerintah. Sebagai

implementasi otonomi daerah, Akhmadi (2004) menyatakan bahwa kewenangan di bidang

penyuluhan pertanian sejak tahun 2001 dilimpahkan kepada pemerintah daerah agar daerah

mampu meningkatkan kinerja penyuluhan pertanian.

Melalui otnomi daerah diharapkan dapat mendukung dan meningkatkan kinerja penyuluhan

pertanian. Terkait dengan hal tersebut, Saragih (2005) berpendapat bahwa dengan adanya

otonomi daerah, telah diberikan kebebasan kepada regional agricultural services untuk

mengambil inisiatif dalam mendesain kebijakan spesifik lokal, sementara itu pemerintah pusat

melalui Menteri Pertanian bertanggungjawab hanya pada penyusunan dan manajemen strategi,

kebijakan nasional dan standar-standar. Dengan dukungan anggaran yang besar, pemerintah lokal

memiliki lebih banyak sumber daya serta kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan

kebijakan spesifik lokal dan teknologi lokal melalui kajian/penelitian di lembaga penelitian

lokalnya. Dengan otonomi daerah ini, tanggung jawab pembangunan pertanian dalam kendali

kepala daerah bukan lagi pegawai/dinas pertanian.

Kebijakan otonomi daerah terkait penyuluhan pertanian memberikan dampak positif dan

negatif. Mawardi (2004) mengidentifikasi beberapa kendala penyuluhan pertanian era otonomai

daerah: (1) adanya perbedaan pandangan birokrasi dan DPRD terhadap peran penyuluhan

pertanian dalam pembangunan pertanian, (2) kecilnya alokasi anggaran pemerintah daerah untuk

kegiatan penyuluhan pertanian, (3) ketersediaan dan dukungan informasi pertanian sangat

terbatas, (4) makin merosotnya kemampuan manajerial penyuluh. Penelitian World Bank di

beberapa pedesaan Indonesia (2000) melaporkan persepsi petani dengan kepemilikan kecil

merasa telah ditinggalkan oleh pihak yang berkompeten dalam pertanian. Petani merasa bahwa

petugas pertanian tidak lagi membantunya dalam menemukan penyelesaian masalah-masalah

yang muncul secara praktis sebagaimana dulu dilakukan ketika revolusi hijau.

Memaknai Privatisasi dan Demokratisasi Penyuluhan Pertanian4

Meskipun di berbagai negara penyuluhan pertanian telah dianggap memberikan

kesuksesan dalam pembangunan pertanian, banyak pihak mengkritisi kinerja public extension

4 Diskusi tentang isu privatisasi penyuluhan pertanian di Indonesia serta implikasinya secara lebih detail dapat dilihat

dalam artikel Subejo pada Jurnal Agro Ekonomi Vol. 9 No. 2, Desember 2002

-4-

service. Institusi tersebut dikritisi karena kurang efisien, kurang efektif dan pentargetan lemah.

World Bank (2002) melalui evaluasi pada proyek-proyek penyuluhan mengindikasikan bahwa

penyuluhan belum memenuhi orientasi dan kepentingan client, kapasitas sumberdaya manusia

dan komitmen pemerintah lemah. Beberapa masalah yang dihadapi kadangkala berupa external

factos seperti lemahnya komitmen politik dan ketergantungan pada coplementary policies. Salah

satu alternatif yang dapat dilakukan sebagai bagian dari reformasi institusi untuk meningkatkan

pelayanan penyuluhan adalah privatisasi penyuluhan (privatization of extension).

Argumentasi tentang perlunya privatisasi penyuluhan menurut Rivera (1997) yaitu: (1)

pelayanan dan penyampaian lebih efisien, (2) menurunkan anggaran belanja pemerintah, dan (3)

pelayanan dengan kualitas tinggi. Kidd et.al., (2000) menyatakan umumnya sektor private

terbebas dari sistem administratif/birokrasi dan hambatan kepentingan politik. Hal ini

mengimplikasikan suatu kemampuan yang cukup pada sektor private untuk mengalokasikan

sumberdaya dengan lebih efisien.

Namun demikian, privatisasi juga memiliki potensi keterbatasan dan kelemahan yaitu

akses terhadap sumber penyuluhan menjadi tidak sama karena keberagaman agency dan kesulitan

berkoordinasi dengan kelompok luar dan departemen pemerintah. Agen penyuluhan pertanian

swasta akan lebih berorient

Recommended

View more >