migrasi pekanbaru

of 56 /56
MIGRASI ORANG MISKIN KE PEKANBARU (sebuah kajian Permulaan) Oleh M.Rawa El Amady Abstrak Studi ini membahas migrasi penduduk miskin ke Pekanbaru, berdasarkan pada faktor dorongan dan tarikat masyarat miskin yang bermigrasi ke Penkanbaru. Latar belakang yang menarik minat untuk membahas penelitian ini berdasarkan pendapat yang berkembang di media massa bahwa salah satu penyebab kemiskinan di Riau adalah masuknya orang miskin ke Riau, dalam hal ini khususnya Pekanbaru. Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa yang menyebabkan orang miskin pindah ke Pekanbaru? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang mendorong dan menarik orang miskin pindah ke Pekanbaru. Teori yang dipakai adalah teori migrasi sosial yang memahami dua faktor seseorang bermigrasi yaitu faktor dorongan dari daerah asal dan faktor tarikan dari daerah yang menjadi tujuan serta aktivitas produksi yang dilakukannya di daerah tujuan. Metoda penelitian ini adalah kwalitatif dengan menggunakan tabulasi kuantitatif jawababn responden. Teknik pengumpulan data, pertama, pengumpulan data skunder dalam hal data hasil pendataan Balitbang Provinsi Riau tahun 2005 dan informasi lain yang akan mendukung penelitian ini di perpustakaan. Kemudian dilanjutkan dengan survey ke rumah tangga sesuai dengan sample terpilih. Jumlah responden yang akan diwawancara adalah330 rumah tangga yang ambil masin-masing secara acak di kelurahan yang penduduk miskinnya lebih dari 24 persen.

Upload: mamady

Post on 01-Jul-2015

764 views

Category:

Documents


1 download

DESCRIPTION

mingrasi kemiskinan ke pekanbaru

TRANSCRIPT

Page 1: MIgrasi Pekanbaru

MIGRASI ORANG MISKIN KE PEKANBARU

(sebuah kajian Permulaan)

Oleh M.Rawa El Amady

Abstrak

Studi ini membahas migrasi penduduk miskin ke Pekanbaru, berdasarkan pada

faktor dorongan dan tarikat masyarat miskin yang bermigrasi ke Penkanbaru. Latar

belakang yang menarik minat untuk membahas penelitian ini berdasarkan pendapat

yang berkembang di media massa bahwa salah satu penyebab kemiskinan di Riau

adalah masuknya orang miskin ke Riau, dalam hal ini khususnya Pekanbaru.

Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa yang

menyebabkan orang miskin pindah ke Pekanbaru?

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang mendorong

dan menarik orang miskin pindah ke Pekanbaru.

Teori yang dipakai adalah teori migrasi sosial yang memahami dua faktor seseorang

bermigrasi yaitu faktor dorongan dari daerah asal dan faktor tarikan dari daerah

yang menjadi tujuan serta aktivitas produksi yang dilakukannya di daerah tujuan.

Metoda penelitian ini adalah kwalitatif dengan menggunakan tabulasi kuantitatif

jawababn responden. Teknik pengumpulan data, pertama, pengumpulan data skunder

dalam hal data hasil pendataan Balitbang Provinsi Riau tahun 2005 dan informasi

lain yang akan mendukung penelitian ini di perpustakaan. Kemudian dilanjutkan

dengan survey ke rumah tangga sesuai dengan sample terpilih. Jumlah responden

yang akan diwawancara adalah330 rumah tangga yang ambil masin-masing secara

acak di kelurahan yang penduduk miskinnya lebih dari 24 persen.

Page 2: MIgrasi Pekanbaru

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perdebatan yang berkembang di tengah masyarakat dan media massa bahwa salah

satu penyebab tingginya angka kemiskinan di Riau khususnya di perkotaan adalah

masuknya orang miskin ke Riau. Adapun kota-kota yang menjadi daerah tujuan orang

miskin tersebut, seperti Pekanbaru, Dumai, Pangkalan Kerinci, Perawang dan daerah

lainnya. Jika dilihat data lamanya penduduk miskin tinggal pada tabel 1. maka rata-

rata penduduk miskin yang datang ke Pekanbaru berjumlah 2.429 orang setiap

tahunnya. Data ini diperoleh dari total jumlah penduduk yang tinggal di Pekanbaru

kurang dari 5 tahun 12.143 jiwa dibagi lima. Jumlah ini jauh meningkat jika

dibanding 5 tahun sebelumnya yang hanya 8.654 jiwa. Jika dibandingkan dengan

jumlah penduduk yang tinggal diatas 10 tahun 21.567 jiwa dan dibawah 10 tahun

20.797 selisihnya sangat sedikit yaitu 770 jiwa. Data ini agak mendekati asumsi di

media terutama para pejabat yang mengatakan bahwa kemiskinan di Riau khususnya

Pekanbaru disebabkan oleh migrasi. Asumsi ini juga harus dibandingkan dengan

jumlah pendatang yang tidak miskin atau yang menyebabkan bergeraknya motor

ekonomi di Pekanbaru.

Tabel 1. Lama Tinggal Penduduk Miskin di Pekanbaru berdasarkan Usia

Usia (th) Lama Tinggal (th)

15-30 30-45 45-55 >55 Jumlah

< = 5 6.387 4.450 886 420 12.143

6 - 10 4.060 3.354 877 363 8.654

> 10 10.269 6.805 2.863 1.630 21.567

Sumber : Balitbang Provinsi Riau 2004 (sudah diolah)

Jika berpedoman pada rata-rata penduduk miskin yang datang ke Pekanbaru

berjumlah 2.429 jiwa pada lima tahun terakhir dan tidak termasuk yang tidak miskin

maka dapat disimpulkan bahwa jumlah migrasi di Riau memang termasuk besar.

Besarnya presentase penduduk miskin yang pindah ke Pekanbaru merupakan

fenomena yang sangat menarik untuk dikaji. Tentu saja migrasi ini disebabkan oleh

berbagai hal baik itu oleh faktor dorongan maupuna faktor tarikan. Atas dasar itulah

maka penelitian ini perlu dilakukan kajian secara serius.

Penduduk pedesaan yang biasanya tergantung hidup pada hutan dan tanah

tepaksa mengganti sumber ekonominya karena hutan dan tanah telah beralih fungsi

antara lain diambil oleh industri. Oleh karena itu, diantaranya untuk tetap bertahan

hidup dan meningkatkan kesejahteraan keluarga tidak mungkin lagi mereka tinggal di

desa. Selain itu, kota memang mempuyai daya tarik sendiri dan tersedianya lowongan

kerja untuk berbagai lapisan sosial. Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengajukan

pertanyaan, yaitu Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan migrasinya penduduk

miskin ke Pekanbaru? Oleh sebab itu tujuan utama penelitian ini adalah untuk

mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penduduk miskin migrasi ke Pekanbaru.

Page 3: MIgrasi Pekanbaru

Methoda Penelitian

Penelitian ini tediri dari dua tahap, tahap pertama peneliti melakukan kajian terhadap

data skuder terutama yang bersumber daridata dari Balitbang provinsi Riau tahun

2004. Ini sangat penting untuk memahami secara detail Kemiskinan di Pekanbaru.

Setelah itu dilanjutkan dengan studi lapangan yaitu melalui menyebaran quesioner

kepada responden. Untuk menentukan responden berapa langkah dilakukan, yaitu

pertama, diambil kecamatan yang rata-rata rumah tangga miskinannya diatas 10

persen, maka dari 11 kecamatan yang ada di kota Pekanbaru diperoleh informasi

kecamatan yang rata-rata rumah tangga miskinnya diatas 10 persen yaitu sebagai

berikut:

Tabel 2. Kecamatan yang Ruta Miskinnya diatas 10%

No Kecamatan % Ruta Miskin

1 Tenayan Raya 11,72

2 Limapuluh 11,72

3 Pekanbaru Kota 15,76

4 Sukajadi, 15,80

5 Senapelan, 12,71

6 Rumbai 16,38

7 Rumbai Pesisir 13,11

Dari tujuh kecamatan tersebut yang mewakili daerah pertanian meliputi Kecamatan

Tenayan Raya, Rumbai dan Rumbai Persisir, sedangkan yang mewakili perkotaan

dan perdagangan meliputi kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru Kota, Sukajadi dan

Senapelan.

Kedua, pada 7 kecamatan terpilih tersebut dipilih dua kelurahan yang

kemiskinannya tertinggi yaitu diatas 24 persen di dua karateristik tersebut . Untuk

karateristik daerah pertanian dan pinggiran yaitu Tanayan Raya, Rumbai dan Rumbai

persisir, dipilih kelurahan Sail yang rumah tangga miskinnya mencapai 24,87 persen

sebagai reperesentasi Kecamatan Tanayan yang berasa di kawasan timur Pekanbaru

dan Kelurahan Palas yang rumah tangga miskinnya mencapai 34,80 persen sebagai

representasi dari Kecamatan Rumbai dan Rumpai Pesisir yang berada kasawasan

utara Pekanbaru.

Sedangkan untuk kawasan perkotaan dan perdagangan yaitu

kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru Kota, Sukajadi dan Senapelan yang kelurahan

yang terpilih adalah Sukaramai yang kemiskinannya mencapai 25,98 persen, dan

kelurahan Kampung Tengah yang kemiskinannya mencapai 25,15 persen. Bedasarkan

data Balitbang tahun 2005 jumlah rumah tangga miskin adalah 9,538 rumah tangga

sedangkan jumlah rumahtangga miskin sebesar 2467 rumah tangga. Sedangkan rumah

tangga miskin yang tinggal < = 5 tahun berjumlah 484 rumah tangga dari jumlah

responden rumah tangga miskin yang tinggal < = 5 tahun dimabil 31 persen untuk

menjadi sample yaitu 152 rumah tangga yang didistribusikan berdasarkan banyaknya

rumah tangga miskin di kelurahan tersebut. Untuk sampel kontrol diambil10 rumah

tangga di kelurahan yang kemiskinannnya paling kecil. Pengambilan sample sebesar

semula ditetapkan 31 persen, tetapi dilapangan ternyata banyak ketidakcocokan data

dari Balitbang 2004 dengan fakta lapangan maka surveyor diberi hak untuk

Page 4: MIgrasi Pekanbaru

menambah jumlah sample sampai menurutnya mampu menmpekecil eror untuk

analsis data.. Maka jumlah sample di kelurahan adalah 208 ditambah 10 di kelurahan

Delima maka N sample adalah 218 kepala keluarga. Secara rinci uraian sample

sebagai berikut:

Tabel 3 : Sampel Penelitian

Kawasan Perkotaan/Perdagangan Kawasan Pinggit/Pertanian

(Pku Kota, L Puluh, Su Jadi, S Plan) (Tenayan Raya, Rumbai,Rumbai Pesisir)

Kel Ruta Ruta Misk RuTa <

5

Sampel Kel Ruta Ruta Misk Ruta < 5 Sampel

Kampung

Tengah

1940 488 95 65 Palas 842 293 93 26

Sukaramai 993 253 32 17 Sail 5763 1443 264 102

Jumlah 2933 741 127 82 6605 1736 357 128 Sumber : Data Balitbang tahun 2004

Di luar sampel penduduk miskin tersebut diambil ambil sample 10 ruma

tangga miskin yang berada di kelurahan yang paling rendah kemiskinannya, yaitu

Kelurahan Delima Kecamatan Tampan yang rumah tangga miskinnya hanya 1,82

persen dari 4,837 ruta, yaitu hanya sample ini bertindak sebagai sample kontrol

dalam analisis.

PENDEKATAN TEORITIS

Urbanisasi dan Migrasi

Urbanisasi secara sosiologis menurut J.Clyde Mitchell (Breesse, G 1966)

meliputi beberapa pengertian yaitu pertama, proses menuju gaya hidup kota, yaitu

perubahan dari tipe masyarakat desa menuju masyarakat kota sebagaimana konsep

Durkheim dari gemeinschaft ke gessellscaft. kedua, perpindahan ke kota,

berpindahnya (migrasi) masyarakat desa ke kota dengan berbagai alasannya. ketiga,

peralihan pekerjaan dari pertanian ke jenis pekerjaan perkotaan yang bersifat keahlian

tertentu dan terrencana, dan keempat, berprilaku kota, yaitu dari prilaku yang lamban

statis dan cepat berpuas diri pada tradisi menuju ke perilaku kota yang dinamis,

ambisius, bebas dan terencana.

Selain itu, Nas (1979) memberi pengertian urbanisasi pada proses

pembentukan kota, perluasan kota ke pedesaan yaitu pengaruh kota pada desa,

pertumbuhan desa menjadi kota, peprindahan penduduk ke kota, kenaikan prosentase

penduduk yang pindah ke kota.

Karena pemahaman dan pengertian urbanisasi sangat luas tersebut diatas,

maka penelitian ini tidak memakai istilah urbanaisasi tetapi migrasi. Mengambil salah

satu dari pengertian urbanisasi. Selain itu, pemahaman masyarakat awam tentang

urbanisasi lebih dominan pada pengertian perpindahan penduduk dari desa ke kota,

padahal urbanisasi pengertiannya sangat luas. Oleh sebab itu, urbanisasi pada

Page 5: MIgrasi Pekanbaru

penelitian ini hanya mengambil salah satu dari pengertian di atas, yaitu pengertian

migrasi penduduk menuju kota Pekanbaru.

Pilihan ini diambil karena migrasi yang dimaksud adalah imigrasi orang atau

rumah tangga ke Pekanbaru. Migrasi ini sendiri sangat tidak identik dengan

pengertian umum tentang migrasi merujuk perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Kedatangan orang miskin ke Pekanbaru, tidak dilihat semata-mata kedatangan orang

desa ke kota Pekanbaru, tetapi juga termasuk perpindahan orang miskin dari kota lain

dari luar Riau ke Pekanbaru. Bisa juga Pekanbaru bukan kota tujuan utamanya, tetapi

tujuan kedua, ketiga atau tujuan antara.

Pemahaman diatas dimaksudkan untuk meperjelas bahwa migrasi bisa

berbentuk urbanisasi bisa juga tidak, tetapi urbanisasi dalam plihan penelitian ini

adalah urbanisasi dalam pengertian migrasi. Selain itu, fokus penelitian ini bukan

studi perkotaan atau kajian tentang proses menjadi kota, tetapi kajian ini mefokuskan

orang-orang yang pindah dan menetap ke Pekanbaru dalam status sosial ekonominya

yang miskin.

Faktor-Faktor Migrasi

Faktor-faktor migrasi ke kota atau dari kota ke kota lain tetap meminjam

faktor-faktor perpindah penduduk dari desa ke kota. Mengambil dua alasan orang atau

penduduk untuk pindah yaitu faktor penarik dan dorongan (Schoorl, 1988, Evers

2002, Nas 1979, Harun 1993, Foster-Carter 1989). Walaupun faktor penarik dan

faktor pendorong ini bersifat statis tetapi setidaknya dapat menjadi acuan dasar untuk

mengetahui alasan perpindahan.

Nas, P.J.M, (1979) memahami hubungan kota – desa atau kota lainnya sebagai

interaksi ekonomi, yaitu beralihnya sumber daya ekonomi dari desa atau kota kecil ke

kota atau ke kota besar. Secara spesifik Nas meminjam konsep Santos (1971)

hubungan pusat dan pinggiran. Kota sebagai pusat yang menyedot sumber ekonomi

pedesaan atau pinggiran yang disebut dengan pinggiran. Penyedotan sumber ekonomi

ini diikuti oleh arus pepindahan manusia. Konsep Nas ini masuk dalam faktor-faktor

pendorong dari perpindahan penduduk tersebut.

Kelebihan dari teori Nas ini adalah proses pembandaran (menjadi kota) tidak

semata-mata sebagai hasil dari hubungan kota-desa. Tetapi lebih disebabkan oleh

dominasi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Apabila satu kota menjadi pusat

pertumbuhan ekonomi maka kota lainnya berubah status menjadi pinggiran bagi kota

tersebut. Batam sebagai contoh yang baik untuk ini, munculnya Batam sebagai kota

metropolitan dari sebuah desa kecil bukan disebabkan oleh hubungan desa-kota tetapi

disebabkan pertumbuhan ekonomi yang cepat di Batam. Dalam kasus Batam Tanjung

Pinang tidak lagi menjadi kota pusat tetapi sudah menjadi pinggiran, sehingga orang-

orang Tanjung Pinangpun banyak yang pindah ke Batam.

Nas menggunakan pedekatan struktural untuk mempelajari perkembangan

kota. Mengutip Galtung, Nas menjelaskan pendekatan struktural dengan

menggunakan konsep imprelalisme sebagai pendekatan sebagai suatu sistem

memecah kolektivitas sambil menghubungkan berbagai bagian yang mana mana

hubungannya bersifat selaras dalam kepentingan. Maka pembentukan suatu kota

sangat dipengaruhi keselarasan kepentingan pusat dan kepentingan pinggiran.

Page 6: MIgrasi Pekanbaru

Ada dua mekanisme penting mengenai imprealisme menurut Galtung yaitu

hubungan interkasi vertical dan struktur interkasi feudal. Hubungan interaksi vertical

berarti bahwa seluruh sistem adalah simetris mengenai pertukaran nilai-nilai antara

pusat dan pinggiran maupun akibatnya. Pusat memanfaat pinggiran dalam bentuk

perampasan, pertukaran tidak sama, dan pertukaran sama tetapi dengan intra aktor

yang berlainan.

Akibat dari struktur interkasi feodal adalah adanya pemusatan sekutu

perdangangan, pemusatan barang-barang perdangangan dan pemusatan modal. Pada

daerah pinggiran hanya melakukan perdangangan dengan daerah pusat dan barang

yang dihasilkan daerah pinggiran sangat kecil dibandingan dengan darah pusat.

Teori ini secara gamblang mampu menjelaskan perkembangan Pekanbaru terkini yang

berkecenderungan menjadi pusat perdagangan bagi Sumatera Tengah dalam hal ini

Riau, Sumatera Barat dan sebagian Sumatera Utara, sedangkan Jambi menjadikan

Jakarta sebagai pusat utama, Pekanbaru sebagai pusat alternatif.

Jika merujuk kepada potensi ekonomi Pekanbaru sejak tahun 1942 dengan

hadirnya Caltex Pacifik Indonesia (PT CPI) sebagai perusahaan minyak yang tentu

akan memotori migrasi penduduk ke Pekanbaru. Kemudian dilanjutkan dengan

berkembangnya perusahaan kertas Indah Kiat (PT IKPP) dan Riau Pulp (PT RAPP),

perkebunan kelapa sawit, dan pada tahun 2000-an berkembang pesat perusahaan retail

di Pekanbaru.

Atas dasar tersebutlah maka faktor-faktor migrasi yang datang ke Pekanbaru

merupakan gabungan antara faktor dorongan dan faktor tarikan. Secara rinci Faktor

penarik terutama sekali karena daya tarik kota di bidang ekonomi, lapangan kerja,

ketersediaan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas sosial lain. Begitu juga daya

tarik hiburan dan pusat kesenangan, serta peningkatan status sosial.

Diantara faktor tarikan tersebut faktor tarikan utama orang pindah ke

Pekanbaru adalah perubahan pekerjaan. Di tempat asal tidak tersedia lowongan

pekerjaan yang memadai, sehingga mereka migrasi ke Pekanbaru untuk mengantikan

atau mendapatkan Pekerjaan. Hal serupa juga dilakukan oleh penduduk miskin yang

pindah dari desa atau daerah daerah sulit secara ekonomi ke Pekanbaru, sementara

tidak mempunyai keahlian untuk masuk ke dunia kerja. Kecenderungan mereka ini

menetap di daerah pinggir dan tetap pada pekerjaan sektor pertanian dengan

menggarap tanah baik yang tidak bertuan atau sewa garap atau bekerja disektor jasa

yang merupakan sisa-sisa pekerjaan kota. Hasil analisis data yang dikeluarkan oleh

Balitbang dijumpai bahwa pendatang lima tahun terkahir yang miskin tinggal di

pinggiran Pekanbaru.

Sedangkan faktor pendorong di tempat asalnya adalah terjadinya penurunan

kualitas lingkungan, terutama di desa seperti pengalihan hak-hak ekonomi ke industri.

Berkembangan Industrialisasi dan bencana alam di desa menyebabkan terjadi proses

peminggiran dan krisis ekonomi dalam keluarga petani. Krisis tersebut timbul

disebabkan hilangnya sumber produksi sebagai jaminan untuk hidup (makan) bagi

petani.

Aditjondro, (1994:113-123) menemukan bahwa kehadiran industri di desa

menyebabkan penggusuran petani, pencemaran lingkungan dan penurunan mutu

lingkungan yang dekat industri tersebut. Begitu juga studi M.Yamin Sani (1990),

Adnan Abdullah (1993) dan Budhi Tjahjati S.Soegijoko (1985) menjumpai bahwa

Page 7: MIgrasi Pekanbaru

kehadiran industri menyebabkan hilangnnya pekerjaan agraris dan perubahan fungsi

ekonomi dalam keluarga. Bagi masyarakat desa, pindah ke kota merupakan langkah

penyelamatan diri melalui langkah kontrukstif terhadap lingkungnnya. Di kota,

mereka akan bekerja disektor informal atau sektor jasa sisa perkotaan lainnya.

Perpindahan ke Pekanbaru dari kota-kota lain dapat dengan jelas dipahami

dengan menggunakan teori dwi polar dari Heidi (1965) lalu dikembangkan oleh Lee

(1967) yang mengemukakan bahwa ada empat faktor proses migrasi, faktor yang

berhubungan dengan daerah asal, faktor yang berhubungan dengan daerah

pemukiman baru, faktor rintangan antara daerah asal dengan daerah baru dan faktor

manusia secara pribadi.

Baik di daerah asal maun di daerah baru yang menjadi tujuan terdapat tiga

kondisi yang menyebabkan seseorang bermigrasi, yaitu positif yaitu faktor yang

membantu orang bermigrasi, faktor negatif yaitu faktor yang tidak membantu migrasi

dan faktor ‘0’ sebagai faktor yang tidak mempengaruhi. Makin besarnya faktor positif

pada daerah asal dan tujuan maka akan memperbesar migrasi di kedua derah tersrebut

yaitu emigrasi dan imigrasi. Tetapi proses migrasinya akan dipengaruhi pula oleh

hambatan yang dijumpai ketika menuju daerah tujuan, hambatan transfortasi, tempat

sementara yang dituju, keadaan personal yang bermigrasi seperti umur, jenis kelamin,

pendidikan dan lain-lainnya.

Selain dari tiga faktor dan hambatan-hambatan di atas, faktor keempat adalah

faktor manusia secara pribadi yang mampu melewati batas-batas di atas sesuai dengan

kepentingan dan tujuan dari pribadi tersebut untuk pindah. Kapasitas pribadi meliputi

pendidikan, jenis kelamin, usia, keterampilan tempat yang dituju menjadi pendorong

utama bagi pribadi-pribadi tertentu untuk bermigrasi.

Nas mengingatkan bahwa memahami migrasi penduduk tidak dengan mudah

begitu saja, ada faktor yang sering diabaikan oleh banyak pihak seperti migrasi

dimulai karena telah terjadi migrasi terlebih dahulu. Dimana setiap gelombang

migrasi menimbulkan suatu gelombang migrasi lain yang kadang berlawanan dengan

faktor semula.

Pandangan Nas ini ternyata relevan dengan temuan Arif Nasution, M (1997)

bahwa bersarnya migrasi pekerja illegal ke Malaysia tidak terlepas dari bantuan pihak

lain terutama yang lebih dahulu datang ke Malaysia. Pihak-pihak yang terlibat

membantu kedatangan para migran ini adalah 70,3 % adalah tekong sisanya diurus

oleh keluarga taua teman. Pendapat ini membenarkan temuan Hugo (1993), (Choucri

(1983) Sulivan (1992), Ling (1984) Phuphongsakorn (1992) yang mengemukan

bahwa besarnya peranan organisasi pendatang yang lebih dahulu terhadap mobilisasi

kedatang migrasi baru.

Berdasarkan kecenderungan migrasi antara negara, bahwa pola mingrasi

global telah terjadi arus balik-balik. Jutaan menusia bermigrasi ke negara-negara

pusat untuk mendapatkan perobahan pekerjaan dan perbaikan derjat hidup.

Sebaliknya jutaan migrasi negara pusat ke negara pinggiran yang bertindak sebagai

agen pengembangan modal dengan keahlian yang dimilikinya (Abdul Samad Hadi,

1997).

Dalam kasus migrasi pekerja illegal Indonesia ke Malaysia bukan semata

faktor dorongan dan tarikan, tetapi lebih merupakan suatu bisnis tenaga kerja yang

mengorganisir pendatang illegal ini. Bisnis illegal itu berkembang dengan pesat

Page 8: MIgrasi Pekanbaru

karena besar dukungan dari industri-industri di Malaysia yang mendapat keuntungan

besar dengan pekerja illegal ini. Walaupun berbeda temuan ini tetap relevan dengan

pendapat Lee (1966) bahwa tersedianya peluang kerja di daerah tujuan akan

mendorong pekerja untuk bermigrasi walau gajinya belum tentu lebih besar.

Faktor dorongan lain penduduk pindah dari desa ke kota atau dari satu kota

ke kota lain adalah terjadinya perubahan lingkungan dan demografis secara cepat

ditempat asal. Pola perubahan adalah dari lingkungan pedesaan ke perkotaan, atau

dari kota kecil ke kota besar. (Pelly 1996 ; Embong 1996). Perubahan ini

meningkatkan beban prikologis untuk tetap bertahan di tempat asal. Kesadaran

bermigrasi ini semakin meningkatkan dengan makin besarnya jumlah pendatang ke

tempat asal yang memiliki kemampuan ekonomi dan skill. Sementara pekerjaan-

pekerjaan sektor pertanian berkurang dan pekerjaaan sektor informal sudah diambli

alih pendatang. Apalagi sampai kepada kondisi menjadi minoritas di daerah sendiri.

Perubahan lingkungan dari agraris ke industri menimbulkan satu situasi krisis

ketahanan pangan atau kemiskinan. Merka yang kalah secara ekonomi di daerah asal

mencari pilihan ketempat lain. Kecenderungan penduduk miskin yang bermigrasi ke

Pekanbaru berada di daerah pinggiran kota dengan mengandalkan sektor pertanian.

Kecenderungan ini mengambarkan bahwa penduduk miskin yang pindah ke

Pekanbaru adalah penduduk yang kalah di daerah asalnya dan mencari pilihan tempat

dengan sumber daya ekonomi yang sama. Walaupun sumber ekonomi yang tersedia

hanya sebatas sumber ekonomi sekunder (Anderson 1924) pertanian subsisten (Pelly

1996) tanpa pertanian primer.

Selain itu, penduduk ditempat asalnya ini akan menghadapi apa yang dikenal

dengan involusi pertanian (Geertz 1970), dimana tanah atau rumah tidak bertambah

sementara jumlah anggota keluarga bertambah. Situasi ini tentu mendesak anggota

keluarganya untuk mencari piliha-pilihan strategis agar bisa bertahan hidup. Diantara

strategi yang diambil adalah pengandalan dari sektor non pertanian, dalam bentuk

menyerbu ekonomi uang dengan pergi ke kota mencari serpihan ke kota atau mencari

tempat pertanian baru yang tidak memerlukan pengerluaran modal yang besar tetapi

mampu menjamin keberlangsungan pangan.

Bertahan Hidup dan Tetap Miskin

Studi-studi ekonomi mikro yang dilakukan beberapa pakar mengemukakan

bahwa pada masyarakat yang agraris tradisonal menganut sistem ekonomi subsisten.

Chayanov (1966) Scott, Ever, Wong, Dan Claus (1984). Sebuah sistem pemikiran

yang berkembang dalam masyarakat miskin yang disebut Oscar Lewis sebagai budaya

kemiskinan. Pada tipe masyarakat ini sebesar apapun produksi, out putnya tetap

miskin karena sudah merupakan budaya. Maka perpindahan penduduk miskin ke

Pekanbaru akan menghabiskan perode yang panjang untuk merubah budaya

kemiskinannya.

Chayanov mengambarkan ekonomi subsisten ini dengan houseshold utility

maximisation (menggunakan secara berlebihan). Assumsi kunci dari teori mikro

ekonomi rumah tangga petani, yaitu pertama tidak ada pasar tenaga kerja, misalnya

tenaga kerja tidak disewa oleh keluarga, dan tidak ada bantuan kerja dari anggota

keluarga dari luar rumah. Kedua, produksi hanya untuk konsumsi keluarga dan kalau

Page 9: MIgrasi Pekanbaru

dijual harga ditentukan oleh pasar. Ketiga, semua keluarga lebih mudah berhubungan

dengan tanah untuk dikerjakan. Keempat, dalam komunitas ini, norma sosial membuat

rendahnya pendapatan.

Lebih jelas Chayanov menerangkan household utulity maximisation sebagai

usaha memaksimal potensi ekonomi rumah tangga melalui tenaga kerja rumah tangga

tanpa bayar, dan memaksimalkan fungsi lahan pertanian yang sempit. Setiap

produksi dicoba untuk mencapai keseimbangan antara produksi dan konsumsi.

Semakin tinggi produksi semakin besar konsumsi. Semakin kecil produksi semakin

kurang konsumsi.

Hampir sama dengan Chayanov, Ellis (1988) dalam bukunya Peasant

Economics, Farm Households And Agrarian Development mengemukan bahwa

ekonomi subsisten meliputi tiga unit, yaitu pertama, aktivitas ekonomi adalah

sebagai pekebun (farmer), Kedua, tanah sebagai basis ekonomi, ketiga, pekerja

berasal dari keluarga yang tidak dibayar. Keempat, modal, jumlah produksi sama

dengan konsumsi, dan kelima konsumsi adalah konsumsi subsisten.

Elis juga menyebut tiga indikator penting ekonomi petani subsistens, yaitu

tiada tempat secara khusus dalam ekonomi nasional; merupakan ekonomi tradisional,

kecil dan subsisten yang wujud dalam ekonomi pertanian; tidak mempunyai pasar

yang luas, cenderung merupakan ekonomi keluarga. Famili sebagai unit sosial yang

menjalin hubungan persahabatan antara penduduk, sedangkan rumah tangga sebagai

unit sosial dimaksudkan untuk kebersamaan dalam senang dan susah.

Pendapat Ellis berbeda dengan pendapat Ever (1993) yang memberi dua

varibel utama ekonomi subsisten, yaitu unit rumah tangga dan unit komunitas. Kedua

unit tersebut mempunyai hubungan keterkaitan yang sangat kuat baik dalam proses

produksi maupun konsumsi. Rumah tangga merupakan unit produksi dan konsumsi

yang menjadi teras utama ekonomi, pekerja adalah anggota keluarga tanpa bayar.

Selain menjadi buruh rumah tangga, anggota keluarga juga menjadi buruh tanpa bayar

dalam hubungan dengan komunitas. Pada sistem ekonomi subsisten nilai produksi dan

konsumsi tidak dapat dipisahkan, bergotong royong membangun rumah warga

merupakan produksi jasa yang secara otomatis juga memperoleh konsumsi dan nilai

saving jasa.

Dari pemikiran Evers dan Chayanov, 1 dapat disimpulkan bahwa ekonomi

subsisten adalah produksi yang dihasilkan oleh pekerja rumah tangga tanpa bayar

yang bertujuan untuk konsumsi langsung, di mana sumber produksi adalah alam atau

jasa. Produksi rumah tangga ekonomi subsisten tidak terikat dengan pasar dan juga

lepas dari statistik pemerintah. Definisi ini tentu berbeda dengan definisi

subsistensinya Scott (1966) sebagai usaha maksimal rumah tangga untuk memenuhi

kebutuhan minimal rumah tangga.

Jumlah produksi bukan hanya menentukan konsumsi tetapi juga menentukan

jam kerja. Jika kerja dalam 60 jam cukup untuk konsumsi sebulan maka dalam

1 Menurut Ever (1984) ekonomi subsisten adalah hubungan langsung antara produksi dan konsumsi

(produksi sama dengan konsumsi) yang lepas dari hitungan negara, melibatkan tenaga kerja tanpa

bayar dalam rumah tangga. Sedangkan menurut Chayanov (1966) suatu aktivitas ekonomi yang

melakukan self exploitation dengan maksud untuk memuaskan kebutuhan rumah tangga dengan apa

yang dipunyai oleh pekerja rumah tangga tanpa dibayar.

Page 10: MIgrasi Pekanbaru

sebulan mereka hanya bekerja selama maksimal 65 jam. Dengan sumber produksi

yang terdiri dari sektor primer tanah petanian, sektor skunder alam, kebun rakyat serta

jasa dan sektor tertier dari keluarga dan kemunitas.

Sebaliknya, jika produksi selama sebulan tidak mencukupi konsumsi

minimum rumah tangga, maka total konsumsi akan diminimalis jam kerjapun akan

semakin banyak. Termasuk misalnya dari makan dua kali sehari menjadi satu kali

sehari. Sebagaimana yang dinyalir Scott bahwa apabila petani sudah sampai batas

etika subsistensi mereka akan mengganti jenis konsumsi dari beras ke umbi-umbi.

Pada ekonomi subsisten masyarakat tidak mempunyai standar kebutuhan

dasar. Standar petani adalah produksi, makin tinggi produksi maka standar belanja

dalam rumah tangga juga tinggi. Apabila produksi tahun ini bisa mencukupi sampai

panen tahun berikutnya, hasil kerja bulanan dan mingguan akan digunakan untuk

membelanjakan keperluan skunder lainnya, artinya hutang akan berkurang. Sayur-

mayur, buah-buahan, daging merupakan produksi sendiri, hanya minyak, gula, kopi,

garam, korek dan pakaian dan keperluan skunder lainnya dibeli dari hasil kerja

mingguan atau bulanan.

Kelebihan produksi dari konsumsi akan didistribusikan kepada kerabat dekat,

bahkan dialokasikan untuk dana sosial menyumbang pembangunan fasilitas desa atau

bahkan membantu kerabat dalam melaksanakan perayaan. Saving dalam arti ekonomi

moderen tidak berlaku pada ekonomi subsisten, yang berlaku adalah persiapan modal

untuk konsumsi besar seperti perayaan lebaran, pesta perkawinan, pesta kelahiran dan

pesta desa lainnya. Setelah berbagai upacara tersebut selesai kondisi ekonomi rumah

tangga kembali semula bahkan cenderung makin sulit karena beban hutang dari

konsumsi besar tersebut.

Memahami ekonomi subsisten dapat dengan mudah karena ekonomi subsisten

hanya mempunyai dua variabel yaitu variabel produksi dan variabel konsumsi.

Prinsip-perinsip ekonomi pasar tetap diadopsi secara tidak tepat pada ekonomi

subsisten, yaitu produksi, konsumsi, saving dan hutang. Tujuan produksi pada

ekonomi subsisten adalah konsumsi. Jenis produksi sama dengan jenis konsumsi, atau

jenis produksi dipengaruhi oleh jenis konsumsi. Ever membagi konsumsi pedesaan

menjadi dua yaitu konsumsi rumah tangga dan konsumsi komunitas. Konsumsi rumah

tangga diproduksi oleh rumah tangga dan subsidi komunitas, sedangkan konsumsi

massal berasal dari subsidi dari masing-masing rumah tangga.

Saving (menabung) ditujukan untuk konsumsi massal, seperti menabung untuk

menikah, menabung untuk pergi haji, dan pesta adat lainnya. Bentuk produksi adalah

membuka lahan kemudian menanamnya dengan tanaman keras seperti karet, ketika

prosesi konsumsi massal dilakukan maka kebun dan tanah tersebut dijual sebagai

sumber utama keuangan. Saving juga sama dengan produksi massal untuk konsumsi

jangka panjang. Contoh berladang menanam padi dan hasil panen dijadikan

persediaan konsumsi sepanjang tahun.

Hutang bagi penduduk pendesaan ditujukan untuk pemenuhan kekurangan

kebutuhan primer dan biaya massal. Hutang terjadi karena hubungan antara

masyarakat dengan tauke, yang dibayar melalui hasil kerja harian atau bulanan serta

jasa yang tidak dibayar. Tauke mempunyai inisiatif meningkatkan jumlah hutang

setiap hari yang bertujuan untuk peningkatan ketergantungan. Kelas tauke ini sangat

berpengaruh terhadap persepsi petani pada perubahan. Semakin tergantung petani

Page 11: MIgrasi Pekanbaru

pada tauke semakin sulit perubahan terjadi. Karena perubahan bagi tauke adalah

ancaman kestabilan ekonomi, politik dan struktur sosial.

Konsumsi dalam masyarakat subsisten merupakan tujuan utama produksi.

Maka produksi ditentukan beberapa besar konsumsi yang diperlukan. Jika gambaran

konsumsi lebih besar sementara faktor produksi juga besar maka aktivitas produksi

akan tinggi guna memenuhi asumsi konsumsi. Chayanov (1966) menyebutnya dengan

labor consume balance, Ellis (1988) dan Evers (1991) menyebutnya penggunaan

produksi langsung.

Konsumsi secara umum dibagi menjadi dua konsumsi utama, yaitu konsumsi

rumah tangga dan konsumsi sosial. Konsumsi rumah tangga merupakan sejumlah

penghasilan yang dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari rumah

tangga. Sedangkan konsumsi sosial merupakan sejumlah penghasilan dikeluarkan

untuk keperluan sosial, seperti sumbangan mesjid, sumbangan pesta perkawinan dan

hantar ketika hari besar.

Tauke atau rentenir merupakan sumber over consumption, ketika produksi

menurun sementara konsumsi meningkat, petani sering mengabaikan hukum

household utulity maximisation. Konsumsi selalu saja dipenuhi melalui hutang,

sementara produksi sangat minim. Akibatnya seluruh produksi tahunan dan bulanan

diserahkan semuanya ke tauke untuk membayar hutang. Jika kondisi ini berlaku maka

tingkat ketergantungan petani tersebut akan semakin besar pada tauke, bahkan tauke

bisa menjadi tuan bagi keluarga tersebut.3

Kondisi over consumption terjadi pada pertama, suatu massa tertentu terjadi

penurunan harga komoditas, atau terjadi persitiwa alam yang dipandang tidak lama

atau kepala rumah tangga sakit keras.

Kedua, hari-hari besar agama seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, muharam

atau hari-hari besar adat. Pada hari itu semua masyarakat memaksimalkan konsumsi

untuk merayakan hari besar tersebut sampai tiga hari. Selain biaya untuk makan juga

pembelanjaan tahunan berupa pakaian dan penghiasan rumah.

Ketiga, perayaan perkawinan, kelahiran anak, tujuh bulanan, kematian dan

lainnya. Semua jenis perayaan ukuran jumlah konsumsi adalah kampung. Satu rumah

tangga menyediakan konsumsi untuk satu kampung. Sumber konsumsi tersebut

biasanya berasal dari harta kekayaan berupa tanah, kebun dan binatang ternak yang

dijual dan berhutang pada tauke dan juga pemberian dari anggota komunitasnya.

Keempat, ada sebagian kecil dari keluarga petani yang ingin memperbaiki hari

tuanya melalui pendidikan, sekarang keadaan ini sudah menjadi kecendrungan umum.

Anak bagi keluarga desa adalah saving yang berguna di hari tua. Anak yang sekolah

memerlukan dana besar apalagi kalau sampai kuliah di perguruan tinggi. Sumber

3 Contoh yang menarik untuk disimak keberhasilan penduduk Desa Teladas, Rawas Sumsel

melepaskan diri dari tauke secara diam-diam menjual sebahagian penghasilan bulanannya (karet) ke

pembeli bebas dengan harga yang tinggi. Hasil penjulan diam-diam tersebut dibelikan untuk kebutuhan

bulanannya di pedangang lain. Sementara hutangnya pada tauke dibayar secara berangsur ke tauke

dengan sebahagian produksi karetnya. Munculnya inisiatif ini setelah masuknya pembeli-pembeli getah

karet dari kota yang membeli karet lebih mahal, bahkan karena yang datang kedesa tersebut sering

mencapai lima pedagang, di mana masing-masing pedangan getah karet tersebut berusaha membeli

harga tertinggi

Page 12: MIgrasi Pekanbaru

biayanya kekayaan berupa tanah, kebun, ternak dan perhiasan dan meminjam uang ke

tauke.

Pola konsumsi di atas mengambarkan pola produksi. Semakin besar konsumsi

semakin meningkat dan beragam aktivitas produksi. Ever, (1988) menjelaskan

produksi melalui dua variable, yaitu variabel rumah tangga dan variabel komunitas.

Adapun variabel rumah tangga meliputi tenaga kerja, jenis lahan dan jenis pekerjaan

dan reproduksi. Tenaga kerja dibagi berdasarkan sex dan umur. Kerja-kerja

reproduksi dilakukan oleh perempuan dengan dibantu oleh anak-anak perempuan.

Reproduksi meliputi reproduksi tenaga kerja rumah tangga dan reproduksi hasil kerja

dari suami atau lelaki yang bekerja di luar rumah tangga terutama yang dimaksud

Ever dengan sektor skunder dan tertier. Isteri selain berfungsi reproduksi juga

melakukan produksi perkarangan, kraf tangan, pemeliharaan ternak dan pendidikan

anak.

Sistem produksi subsisten ini sangat beragam berdasarkan ekologi di mana

berada. Untuk yang tinggal yang hutannya masih luas umumnya berladang berpindah-

pindah, mengambil hasil hutan dan sungai, sementara petani yang tinggal di tanah

yang terbatas mengelola pertanian dan mengembangkan sektor jasa non formal.

Perubahan-perubahan sumber daya ekonomi pedesaan mengancam ketahanan

pangan dan keberlangsungan hidupnya selalu disiasati melalui beberapa strategi.

pertama, pendalaman pada bentuk-bentuk setempat dari usaha swadaya dalam bentuk

pertukaran jenis tanaman ke peralihan padat karya dan peralihan ketanaman

komersial. Kedua, pengandalan dari sektor non pertanian, dalam bentuk menyerbu

ekonomi uang dengan pergi ke kota mencari serpihan ke kota. ketiga, pengandalan

pada bentuk patronase dan bantuan dukungan dari negara, berupa projek negara

berupa subsidi pangan dan bantuan untuk daerah yang tertimpa kelaparan. Keempat,

pengandalan pada struktur-struktur proteksi dan bantuan yang bersifat keagamaan

atau oposisi. (Rawa, 2004)

Perpindahan penduduk miskin dari desa dan kota lain ke Pekanbaru bisa

diterjemahkan sebagai pilihan strategi bertahan dari ancaman ketahanan pangan dan

ancaman keberlangsungan hidup. Mayoritas penduduk miskin yang pindah ke

Pekanbaru empat tahun terkahir memilih dipinggiran kota dan konsisten dengan

sektor pertanian sebagai produksi utama. Posisi ini bergeser perlahan menuju kota

bersamaan dengan lamanya tinggal di Pekanbaru.

Perpindahan mereka ke Pekanbaru tidak serta merta merubah pola pemikiran

ekonomi keluarga. Pemikiran dan aktivitas ekonomi rumah tangga tetap

melaksanakan aktivitas ekonomi subsisten yaitu berkeja untuk bertahan hidup.

Walaupuin demikian setelah di Pekanbaru potensi perubahan sangat besar karena

besarnya penetrasi perubahan yang tidak mampu m,ereka rkontrol sehingga akan

merombak tatanan struktur sosial menuju ke arus perubahan. Perubahan struktur

sosial menjadikan pengembangan pilihan-pilihan alternatif yang tidak terikat dengan

struktur sosial lama. Kemerdekaan untuk memiliki bebagai alternatif tersebut

menyebabkan terjadinya perubahan cara pikir, budaya dan prilaku ekonomi. (rawa

2005) Perubahan ini didorong oleh makin konperehensif berbagai aspek yang lekat

pada permasalahan ekonomi rumah tangganya yang berada dilingkungan perkotaan.

Apalagi Hans Dieter Ever (1993) juga menjelaskan bahwa petani di Asia

Tenggara tidak tergantung pada lahan pertanian, tetapi tergantung pada sektor skunder

Page 13: MIgrasi Pekanbaru

dan tertier. Sektor skunder adalah seperti tersedianya alam, perkebunan rakyat serta

buruh harian. Sedangkan sektor tertier adalah dana keluarga dan jasa.

Evers sudah secara jelas mengemukan bahwa ekonomi subsisten bukan hanya

terbatas pada petani di pedesaan tetapi memberi pengertian yang lebih luas tentang

ekonomi kelas bawah, buruh dan kaum miskin kota. Secara sosiologis di negara

ketiga sektor ekonomi kelas bawah ini masih sangat kuat memegang perinsip

ekonomi subsisten. Buruh dan masyarakat miskin perkotaan tidak mengalami

perubahan bukan semata-mata disebabkan permikiran ekonomi susbsiten tetapi juga

disebabkan faktor struktural modal dan peluang usaha. Situasi berkembangan

pemikiran ekonomi subsisten oleh yang lebih dulu berada di kota mempengaruhi

lambat perubahan sikap dari miskin ke tidak miskin.

Gambaran teoritis diatas sangat jelas memaparkan bahwa semakin besar

migrasi kemiskinan ke Pekanbaru akan mempengaruhi jumlah pertambahann ke

miskinan dalam masa lebih dari lima tahun. Tetapi migrasi penduduk ke pusat

perkotaan yang memiliki akses kerja yang mampu memanfaatkan peluang kerja yang

tersedia akan mampu meningkatkan perekonomian Pekanbaru dan mempunyai

dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan di Pekanbaru.

DISKRIPSI KOTA PEKANBARU

Sejarah Singkat

Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang pada saat

itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai

ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan

berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki

yang terletak di tepi muara Sungai Siak.

Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya melainkan

Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan

Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di

Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan

perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Mesjid Raya

sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat

Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis tersebut

kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu

disekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni

1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh,

Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi "Pekan

Baharu" selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Mulai saat itu

sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan "PEKAN

BAHARU", yang dalam bahasa sehari-hari disebut PEKANBARU.

Perkembangan Pekanbaru baik pada zaman penjajahan Belanda maupun

Jepang, merupakan pusat – pusat tertentu sehubungan dengan kepentingan bagi

Page 14: MIgrasi Pekanbaru

masing – masing penjajah.1 Pada zaman penjajahan Belanda, Pekanbaru menjadi

tempat kedudukan Distric Hofd Van Pekanbaru yang selanjutnya sebagai tempat

kedudukan Controleur (PHB) Pemerintahan Belanda, berdasarkan Besluit Van Het

Indlansche Zelfbestuur Van Siak, nomor 1 tahun 1919. Begitu juga pada pendudukan

Jepang, Pekanbaru menjadi Daerah Gun yang dikepalai oleh Guncho dan tempat

kedudukan Riau Syu Cokang.

Keadaan ini berlanjut setelah Indonesia merdeka kedudukan Pekanbaru melalui

beberapa tingkatan perkembangan (hirarki) ditandai dengan Surat Keputusan Menteri

Dalam Negeri Republik Indonesia No. Des.52/I/44-25, tanggal 20 Januari 1959.

Arti dari perkembangan status kota dari sudut administrasi di atas menyimpulkan

bahwa kota Pekanbaru semakin membenahi dirinya sebagai suatu ”kota”. Baik

sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan provinsi maupun dengan

status ”kotamadya”. Dengan demikian secara fungsional berarti pemerintahan kota

harus menyiapkan dan mampu berperan untuk menghidupi setiap warganya melalui

pranata – pranata yang ada.

Jika batasan kota menggunakan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan

perkotaan (urban), Kota Pekanbaru telah berkembang menjadi kota besar (penduduk

≥0,5 juta jiwa). Bentuk ini akan terwujud pada tahun 2003 ini yang jumlah

penduduknya mencapai 653.435 jiwa. Sebagian besar penduduknya merupakan

pendatang dari berbagai pulau (provinsi/suku) di Indonesia, yang terbanyak seperti

Suku-suku Minang (Sumatra Barat), Batak (Sumatra Utara), Jawa (Jawa Tengah dan

Timur), Sunda (Jawa Barat). Jumlah penduduk pendatang itu justru lebih banyak dari

Penduduk aslinya (suku Melayu Riau).

Pekanbaru dikujungi banyak pendatang tersebut dikarenakan letaknya yang

strategis hanya 1 jam penerbangan dari Singapura, 1 jam 30 menit dari Kuala

Lumpur, atau 30 menit penerbangan dari Medan menjadikan kota ini sebagai 'trading

hub' yang sangat menjanjikan di masa datang. Oleh sebab itu sangat wajar kalau

kemudian Pekanbaru menjadi kota pendatang, karena penduduknya mayoritas

pendatang.

1 Bagian ini bahan diambil dari makalah Hasanudin Jalil, Pekanbaru dari Pandangan Sosilogis tahun

1993.

Page 15: MIgrasi Pekanbaru

Tabel 4 : Komposisi Penduduk Pekanbaru tahun 2003

Jenis Kelamin Umur

Lk Pr JLH

00 – 04 34,111 31,680 65,791

05. – 09 38,075 37,990 76,065

10. – 14 35,643 29,501 65,144

15 – 19 32,112 31,519 63,631

20 – 24 26,283 36,388 62,631

25 – 29 35,510 33,089 68,599

30 – 34 33,046 35,523 68,569

35 – 39 27,682 24,729 52,411

40 – 44 24,251 19,059 43,310

45 – 49 15,890 11,788 27,678

50 – 54 10,526 12,268 22,794

55 – 59 6,329 6,022 12,351

> 60 13,658 10,763 24,421

TOTAL 333,116 320,319 653,395 Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Pusat kota Pekanbaru (down town) dibelah oleh sebuah jalan protokol, yaitu Jl

Sudirman yang sangat panjang. Sayang saat ini bagian tengah dari jalan ini

separuhnya dipakai untuk luapan pedagang Pasar Pusat, tetapi sebetulnya jalan yang

meniru konsep 'Avenue' ini sangat indah jika tertata apik dan rapi

Migrasi dan Perkembangan Kota Pekanbaru

Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau sama seperti ibukota propinsi

lainnya di Indonesia, Pekanbaru menjadi magnet yang sangat kuat bagi seluruh

penduduk Riau untuk bermigrasi ke kota ini.

Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk tahun 1980 penduduk Kotamadya Daerah

Tingkat II Pekanbaru berjumlah 186.199 jiwa. Dari jumlah tersebut tersebar di dalam

enam wilayah kecamatan yakni kecamatan – kecamatan Pekanbaru Kota, Sukajadi,

Sail, Limapuluh, Senapelan dan Rumbai. Luas daerah kota mencapai 62,96 kilometer

persegi.

Pada tahun 1987 (setahun sebelum reklasifikasi perkotaan) kepadatan rata –

rata mencapai 5.389 jiwa per kilometer persegi. Angka ini relatif sangat padat jika

dibandingkan dengan kota – kota lain diwilayah Provinsi Riau. Perubahan yang

sangat drastis terjadi pada tahun 1988 yakni adanya pemekaran wilayah kota

(reklasifikasi). Perluasan daerah tersebut mencapai 10 kali lebih luas dari daerah

sebelumnya, yakni dari 62,96 kilometer persegi menjadi 632,07 kilometer persegi

(sungguh luar biasa). Akibat dari reklasifikasi tersebut pertambahan absolut penduduk

mencapai jumlah 108.424 jiwa. Pertambahan yang mampu menciptakan sebuah kota

kecil dalam wilayah kota Pekanbaru.

Page 16: MIgrasi Pekanbaru

Perkembangan selanjutnya setelah reklasifikasi perkotaan hingga sensus

penduduk tahun 1990 dilaksanakan, telah mencapai jumlah sebesar 398.621 jiwa.

Laju pertumbuhan rata – rata sejak adanya Pekanbaru dapat dilihat pada lampiran 1.

Laju pertumbuhan penduduk mencapai point tertinggi selama periode 1980 – 1990

sebesar 7,9 % rata – rata setiap tahun. Pada tahun 2003 jumlah penduduk Pekanbaru

bertambah menjadi 653.435 jiwa dengan pertumbuhan rata-sata 4,85 persen per

tahun.

TABEL 5 : PERKEMBANGAN PENDUDUK PEKANBARU

TAHUN

JUMLAH

1930 10.000

1961 70.821

1971 145.030

1980 186.199

1990 398.621

2000 586.223

20003 653.435

20004 676.076 Sumber: Assalundin,1993, BPS Pekanbaru tahun 2003.

Bertolak dari data tersebut, maka kepadatan penduduk dan sex rasio pada

masing – masing kecamatan dapat dihitung. Kepadatan tertinggi ada di wilayah

Kecamatan Pekanbaru Kota dan Sukajadi. Menyusul dibelakangnya adalah

Kecamatan Limapuluh dan Sail. Keempat kecamatan ini merupakan kawasan sentral

pemerintahan dan dengan distribusi fasilitas umum terkonsentrasi di daerah – daerah

kecamatan tersebut. Pusat – pusat perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan serta

pusat – pusat perkantoran berlokasi ditiga wilayah kecamatan ini. Sebaliknya

sebahagian dari wilayah kecamatan Rumbai, Senapelan, Bukit Raya dan Tampan jika

dibahas dari sudut pendekatan ”pusat-pinggiran” merupakan daerah pinggiran jika

dilihat dari visi geografis, fasilitas umum dan ciri ekonomi masyarakat.

Tabel 6 : Kepadatan Penduduk Tahun 2003

Kecamatan Luas Wlayah (KM) Jumlah Pddk Kepadatan Pddk

Tampan 108,84 184.773 1.400

Bukit Raya 299,08 210.422 704

Lima Puluh 4,04 41.343 10.187

Sail 3,26 22,903 6.615

Pekanbaru Kota 2,26 27,110 13.193

Sukajadi 5,10 61,586 12.128

Senapelan 6,65 35,762 5.486

Rumbai 203,03 100,496 491 Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Sampai tahun 2003, tingkat kepadatan penduduk tetap berda di Pekanbaru

Kota, Sukajadi dan Lima Puluh, sementara rumbai masih yang terjarang jumlah

Page 17: MIgrasi Pekanbaru

dilihat dari kepadatan penduduknya. Hal ini tentu tidak lepas dari visi pekerjaan dan

kuantitatif aktivitas bisnis berada di tiga kecamatan tersebut.

Tabel 7: Rasio Penduduk Pekanbaru Berdasarkan Seks Tahun 2003

Jenis Kelamin

Kecamatan Lk Pr JLH

Tampan 97.554 87.219 184.773

Bukit Raya 109.854 100.568 210.422

Lima Puluh 21,430 20.004 41.343

Sail 11,858 11,045 22,903

Pekanbaru Kota 13,895 13.215 27,110

Sukajadi 31,387 30.199 61,586

Senapelan 19,141 16.621 35,762

Rumbai 52182 48.314 100,496 Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Seks rasio di beberapa kawasan kecamatan yang termasuk dalam lingkungan

”pusat” disadari bahwa lebih dari setengah penduduk kotamadya Pekanbaru dipenuhi

oleh perantau ”minang” yang memiliki konotasi khusus dalam migrasi. Perbedaan

yang tajam dalam hal sex rasio akan memunculkan pula fenomena lain di dalam

kehidupan masyarakat.

Secara fisik kota telah berubah, perbedaan antara ”rural” dan ”urban” semakin

jelas. Akibatnya timbul kepincangan distribusi penduduk dan fasilitas sosial. Hasil

sensus penduduk tahun 1980 Pekanbaru secara total tergolong dalam klasifikasi

”urban”. Pada hasil sensus penduduk tahun 1990 proporsi penduduk yang tinggal di

”urban” sejumlah 85,6 persen. Berarti terdapat penduduk yang bermukim di ”rural”

sebesar 14,4 persen. Tahun 2003 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan

mencapai 98,66% dan hanya 1,34% tinggal di Pedesaaan. Berkurangnya jumlah

penduduk yang tinggal di pedesaan ini bukan disebabkan jumlah penduduk yang

beralih ke perkotaan tetapi disebabkan berkembangnya kota yang menyebabkan

daerah pinggiran atau desa makin sempit dan makin berkurang.

Kesimpulan sementara terjadi pergeseran ”status urbanit”. Masyarakat yang

tinggal diluar kota Pekanbaru (secara administratif) setelah reklasifikasi berubah

status menjadi warga kota baru (interaksi dan aktivitas masyarakat di kawasan ini

lebih banyak di Kotamadya Pekanbaru). Dengan menempati daerah pinggiran yang

sering disebut dengan ”sub urban”, secara perlahan – lahan daerah pinggiran tersebut

telah memunculkan aktivitas ekonomi dan pasar yang berkembang dengan sendiri.

Sama pula halnya dengan sarana dan prasarana lain yang menunjang kehidupan

urbanit. Jaringan transportasi, sarana pendidikan, pasar, jasa, kesehatan dan fasilitas

lainnya akibat kepincangan tersebut menimbulkan aktivitas tersendiri. Problema lain

yang menarik diperhatikan adalah pengendalian dan mengatasi resedual (pembuangan

limbah rumah tangga dan sampah) warga kota.

Page 18: MIgrasi Pekanbaru

Dilihat dari komposisi jumlah usia produktif dengan usia tidak produktif dan

usia sekolah menunjukkan range yang sangat menonjol. Terlihat pada tabel 5 berikut

bahwa jumlah usia produktif mencapai 62 % dari seluruh jumlah penduduk,

sementara usia sekolah mencapai 32%, usia tidak produktif di atas 55 tahun hanya 6

persen. Perbandingan persentase tersebut dihubungan dengan usia produktif dapat

diinterpretasikan bahwa mayoritas usia produktif tersebut adalah pendatang yang

datang 10 tahun terakhir. Jika jumlah usia di atas 55 tahun dikalikan rata jumlah

anggota rumah tangga 5 maka diperoleh jumlah yang lahir dari usia di atas 55 tahun

adalah 183.860 jiwa atau hanya 29 %, artinya jumlah usia produktif yang merupakan

pendatang 10 tahun terakhir adalah 33 persen. Data ini seharusnya mampu memacu

perkembangan ekonomi Pekanbaru dan punya dampak positif terhadap pengurangan

kemiskinan di Pekanbaru.

Tebel 8 : Perbandingan Usia Produktif dengan Non Pruduktif

Jenis Kelamin

Umur Lk Pr JLH

00 - 14 107,829 99,171 207,000

15. -54 194,774 192,095 409,623

55 + 19,987 16,785 36,772 Sumber: di olah dari data BPS Pekanbaru tahun 2003.

Suparlan (Jalil, 1993) menjelaskan semakin berkembang sebuah kota maka

semakin berkembang pula berbagai bentuk pelayanan jasa dan pasar. Semakin

kompleks pula kebutuhan – kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan

warganya. Sebab setiap kebutuhan yang harus dipenuhi menuntut pula dipenuhinya

kebutuhan lain yang mendukung pemenuhan kebutuhan yang pertama tersebut.

Ciri kehidupan perkotaan yang lebih menekankan kepada kegiatan – kegiatan

ekonomi di bidang pelayanan dan industri memunculkan berbagai bentuk spesialisasi

kemampuan, teknologi, jasa dan keterampilan. Kegiatan ekonomi pasar di perkotaan

menyebabkan munculnya batas – batas yang jelas antara pemilik modal dan yang

tidak memiliki modal atau selalu muncul dengan sebutan dan istilah ”bos” dan

”bawahan”.

Tidak dapat disangkal bahwa fasilitas pelayanan umum di kota Pekanbaru

semakin tampak. Jaringan transportasi semakin meluas (walaupun masih memerlukan

penataan kembali), pasar swalayan bermunculan disamping pasar tradisional yang

terus berkembang, mall sudah 5 buah. Indikasi ini merujuk pada keadaan persaingan

sektor formal (yang cenderung terbatas kepada pemilik modal) dan sektor informal

yang semakin membengkak. Demikian tingginya keaktifan sektor informal

menyebabkan pemanfaatan fasilitas yang ada seperti, jalan dan pelataran parkir,

trotoar disulap menjadi lokasi kegiatan.

Walaupun sebahagian besar warga kota Pekanbaru masih bercirikan in door

oriented, keberadaan pusat jasa dan hiburan sebagai ciri ekonomi bisnis perkotaan

diimbangi oleh ciri ekonomi bazaar (tradisional). Penonjolan kegiatan jasa dan jasa

perorangan mengarah kepada ciri kehidupan kekotaan. Semarak kehidupan kota

memberikan daya tarik yang khas tidak hanya bagi penduduk kota, penduduk yang

Page 19: MIgrasi Pekanbaru

tinggal di luar kota tertarik untuk menikmati corak kehidupan tersebut. Corak dan ciri

kehidupan seperti ini yang disebut dengan urban as away of life, artinya keinginan

untuk tinggal dikota berupaya untuk mengikuti cara hidup kota dengan menikmati

fasilitas kota yang tersedia. Oleh karena itu, keberadaan pusat – pusat pelayanan jasa

hiburan merupakan suatu aktivitas yang sangat cepat berkembang.

Sisi lain dari kehidupan warga kota adalah kebutuhan akan rekreasi.

Kekurangan fasilitas rekreasi menyebabkan tempat – tempat tertentu dipenuhi oleh

orang –orang yang ingin melepaskan keperluan tersebut. Penataan tata kota yang

semestinya sudah memperkirakan fasilitas tersebut hingga saat ini belum terwujud.

Walaupun ada pusat rekreasi tetapi aksessibilitas ketempat tujuan masih merupakan

beban masyarakat kota. Bahkan tempat tersebut (sepertinya) hanya diperuntukkan

bagi warga kota yang memiliki angkutan pribadi khususnya angkutan roda empat.

Masalah yang muncul ialah apakah pemerintah kota mampu melaksanakan

fungsinya sebagai suatu pranata formal. Apakah pemerintah kota sudah

mengakomodir semua pranata yang terkait di dalam sistem pelayanan masyarakatnya.

Dalam hubungan ini kemapuan pemerintah kota ditantang. Permasalah seperti

kriminalitas, munculnya permukiman liar (squatter) dan kumuh (slums) merupakan

beberapa dilema sebagai akibat kurang berfungsinya pranata yang ada. Dilain pihak

perkembangan kota (baik fisik maupun penduduknya) bila tidak berjalan sebagai

suatu sistem, hanya merupakan beban yang serius bagi pemerintah kota. Dilain pihak

warga kota semestinya pulalah memahami akan adanya normatif dan sistem kota

tersebut.

Kota Pekanbaru memiliki heterogenitas dan diferensiasi pekerjaan yang

semakin nyata. Perkembangan wilayah menempatkan kota ini memerlukan

perencanaan tata ruang kota dan perencanaan sosial yang dinamis. Terdapat empat

kutub yang menghubungkan antarwilayah di dalam kota Pekanbaru. Masing – masing

kutub tersebut ditandai dengan ciri yang khas. Yakni berdiri sentra – sentra

pendidikan yang secara tidak langsung mengitari kotamadya Pekanbaru. Kawasan

Universitas Lancang Kuning di wilayah kecamatan Rumbai, Universitas Riau di

Kecamatan Tampan dan Universitas Islam Riau di Kecamatan Bukit Raya. Dibelahan

lain masih dalam kawasan Kecamatan Bukit Raya merupakan pintu gerbang masuk

transportasi (dan arus manusia) dari kawasan Timur Sumatera.

Bila dikaitkan dengan pendekatan analisis yang telah disebutkan dimuka,

antara daerah pusat kota dengan pusat pendidikan merujuk kepada kawasan sub-

urban. Permasalahan yang sering terangkat kepermukaan berkenaan dengan keadaan

sub urban ini adalah sengketa atas tanah, penyerobotan dan spekulasi harga. Di

samping itu adalah kecenderungan pola lompat katak dari spekulan pemilik modal

melalui real estate, pengkaplingan tanah, dan perumahan umum.

Pengaturan dan penciptaan sistem dan jaringan transportasi pada dasarnya

merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan kota. Masalah kemacetan lalu

lintas, kelebihan beban yang diangkut, terminal dan halte serta pengaturan arus masuk

transportasi diatur secara dini. Termasuk didalamnya penunjukan dengan jelas logistic

base dengan building yang digunakan.

Hubungan seterusnya ialah keharusan aktivitas ekstra keras dari Pemerintah

Kota, khususnya kelengkapan dan kesiapan aparat Pemerintah dalam usaha

Page 20: MIgrasi Pekanbaru

pembenahan sistem pelayanan dan kebijakan kependudukan untuk tetap

memperhatikan berjalannya fungsional perkotaan.

Perkembangan Ekonomi

Kota Pekanbaru sebagai pusat Pemerintah Provinsi Riau dan perdagangan

menjadi daya tarik ekonomi tersendiri. Faktor lain yang juga menunjang sangat

prospektifnya kota ini, adalah begitu banyaknya perusahaan penanaman modal asing

yang berkiprah di Propinsi Riau mendirikan kantor pusatnya di kota ini. Sebut saja

perusahaan seperti PT Caltex Pacific Indonesia, perusahaan minyak terbesar di

Indonesia, mempunyai kantor pusat operasi di Rumbai (+/- 15 km dari Pekanbaru),

atau PT Indah Kiat Pulp and Paper yang bergerak di bidang usaha Pulp dan Paper,

demikian juga perusahaan sejenis yang besar seperti PT Riau Andalan Pulp and

Paper, PT Raja Garuda Mas, dan perusahaan lainnya. Di bidang kehutanan ada

perusahaan raksasa seperti PT Surya Dumai, atau PT Siak Raya. Tidak bisa dipungkiri

perusahaan-perusahaan itulah yang menjadi denyut nadi perekonomian di Riau, atau

Pekanbaru khususnya

Lihatlah Produk Domestik Regional Bruto Kotamadya Pekanbaru mengalami

kenaikan. Perhitungan atas dasar harga berlaku pada tahun 1999 adalah sebesar

Rp.2.194.962,29 juta, tahun 2000 naik menjadi Rp.3.212.380,80 juta atau naik sebesar

46,35%. Perhitungan atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 1999 sebesar Rp.

1.135.287,66 juta dan tahun 2000 Rp.1.322.723,55 juta atau naik sebesar 16,51%.

Pada tahun 2001 mengalami kenaikan lagi 16,14 % menjadi Rp. 5.717.027,61,

ditahun 20002 naik 16,15 % menjadi Rp.6.168.586, 97,-

Pendapatan perkapita penduduk Kotamadya Pekanbaru juga mengalami

kenaikan. Perhitungan atas dasar harga berlaku, tahun 1999 sebesar Rp.3.413.040,10

juta menjadi Rp.5.093.714,30 juta pada tahun 2000 atau naik sebesar 49,24%.

Sedangkan atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 1999 sebesar Rp.1.873.218,19

menjadi Rp.2.097.377,71 pada tahun 2000 atau naik sebesar 11,97%. Tahun 2002

naik menjadi 2.188.882,25,-

Jika dilihat dari Luas Tanah menurut penggunaan lahan terlihat bahwa daerah

yang masih mungkin untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian hanya berada di

dua kecamatan yaitu : Kecamatan Tampan dan Bukitraya. Di Kecamatan Tampan

terdapat 2.150 Ha lahan yang sementara tidak ditanami, sedangkan di Kecamatan

Bukitraya ada 2.050 Ha.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sector ekonimi semakin

berkembang ditandai dengan peningkan PDRB dan pendapatan perkapita perorangan,

makin berkurangnya tanah untuk sector pertanian dan meluasnya sector perdagangan

dan jasa. Suatu gambaran Pekanbaru yang akan menuju ke kota metropolitan menjadi

pusat pertumbuhan ekonomi dikawasan Sumatera Tengah. Perkembangan retail

sangat cepat ditahun 2004 dan 2005 sudah beroperasi perdagangan retail Makro dan

Hypermart dan retail lainnya, serta telah beroperasi lima mall besar. Tentu keadaan ini

menjadi factor penarik bagi migran untuk masuk ke Pekanbaru.

Walaupun pertumbuhan ekonomi ini tidak begitu sinkron dengan kondisi

sumber daya manusia yang menopangnya, table berikut menjelaskan tentang tingkat

pendidikan di Pekanbaru

Page 21: MIgrasi Pekanbaru

Tabel 8 : Tingkat Pendidikan di Pekanbaru

Tingkat Pendidikan

Tamat SD SLTP SLTA Kecamatan Buta Huruf

ke bawah kebawah ke atas

Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 TAMPAN 82 425 151 9 667

2 PAYUNG SEKAKI 101 590 277 968

3 BUKIT RAYA 150 783 263 11 1,207

4 MARPOYAN DAMAI 193 931 405 15 1,544

5 TENAYAN RAYA 403 2,060 578 20 3,061

6 LIMA PULUH 105 639 345 9 1,098

7 SAIL 76 269 137 5 487

8 PEKANBARU KOTA 99 564 172 12 847

9 SUKAJADI 126 907 499 36 1,568

10 SENAPELAN 145 646 306 6 1,103

11 RUMBAI 216 1,344 381 15 1,956

12 RUMBAI PESISIR 238 1,089 318 7 1,625

Kota Pekanbaru 1,934 10,247 3,832 145 16,158

Persentase (%) 11.97 63.42 23.72 0.90 100.00

Sumber: Pendataan Penduduk / Keluarga Miskin Propinsi Riau 2004

Data secara jelas memaparknan bahwa 75, 89 persen sumber daya keluarga

miskin yang tersedia di Pekanbaru adalah tidak dan tamat sekolah dasar serta buta

hubuf, tamat SLTP 23, 72 persen dan hanya 0,92 % yang tamat SLTA dan perguruan

tinggi. Kondisi ini sungguh sangat mengkhawatirkan jika melihat kecenderungan

kebutuhan tenaga kerja di perkotaan yang semakin hari semakin membutuhkan tenaga

skill. Sedangkan tenaga tidak cakap (unskill) makin berkurang. Kondisi ini tentu

saja akan berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah pengangguran di Pekanbaru

dan makin rawannya ketahanan sosial serta makin berkembangnya ancaman

keriminalitas. Diperkirakan 75,89% tersebut akan tetap miskin bahkan akan menjadi

semakin miskin karena makin berkurangnya perluang kerja tersebut.

Kemiskinan di Pekanbaru

Angka kemiskinan kota Pekanbaru tahun 2003 adalah 11, 74 %, jumlah ini

menurut ditahun 2004 menjadi 10,91% (Balitbang 2005), jadi terjadi penurunan 0, 83

persen. Penurunan ini sangat kecil bahkan bisa disimpulkan bahwa penurunan ini

bukan disengaja tertapi terjadi karena meningkatnya jumlah perdagangan retail besar

ke Pekanbaru yang menyebabkan bertambah orang yang tidak miskin ke Pekanbaru

sehingga mengurangi jumlah orang miskin di Pekanbaru. Sayangnya tidak tersedia

data orang yang tidak miskin pindah ke Pekanbaru dalam lima tahun, sehingga tidak

bisa membandingan pengaruh migrasi orang bekerja denan migrasi orang miskin ke

pekanbaru..

Page 22: MIgrasi Pekanbaru

Data pada table tersebut diketahui bahwa kemiskinan terbesar berada di yaitu

Tanayan Raya yaitu 17,66% rumah tanga miskin dan 16,95% penduduk miskin,

Rumbai, 16,88 rumah tangga miskin, 16, 74 pendududk miskin, Sukajadi 15,80 rumah

tangga miskin dan 15, 28 persen penduduk miskin, Pekanbaru Kota 14, 70 rumah

tangga miskin dan 15, 28 persen penduduk miskin.

Data ini mengambarkan bahwa jumlah penduduk miskin terbesar berada di

kecamatan pinggir yang berbasis pertanian yaitu Kecamatan Tanayan Raya dan

Kecamatan Rumbai Besar. Bahkan desa Palas Rumbai menempati jumlah penduduk

miskinnya berada dalam posisi 40%,Daerah yang paling padat penduduk yaitu

Sukajadi dan Pekanbaru Kota menjadi peringkat berikutnya yang berada di daerah

kota. Begitu juga Kelurahan Sukaramai, Kampung Tengah merupakan kelurahan yang

kemiskinannya berada diantara 20-30%. Gambaran ini menunjukkan bahwa

kemiskinan di Pekanbaru merata tidak hanya ada di kawasan pinggir saja.

Tabel 10 : Penduduk dan Ruta Miskin Pekanbaru

JMLH JMLH % JMLH JMLH %

KECAMATAN RUTA RUTA RUTA PDDK PDDK PDKK

MISKIN MISKIN

MISKI

N

MISKI

N

1 TAMPAN 18,412 667 3.62 89,294 3,334 3.73

2 PAYUNG SEKAKI 13,896 968 6.97 67,878 4,714 6.94

3 BUKIT RAYA 15,209 1,207 7.94 73,793 5,662 7.67

4

MARPOYAN

DAMAI 20,297 1,544 7.61 97,276 7,593 7.81

5 TENAYAN RAYA 17,336 3,061 17.66 83,210 14,100 16.95

6 LIMA PULUH 9,366 1,098 11.72 43,166 5,216 12.08

7 SAIL 5,111 487 9.53 23,835 2,211 9.28

8

PEKAN BARU

KOTA 5,761 847 14.70 28,332 4,464 15.76

9 SUKAJADI 9,924 1,568 15.80 47,468 7,255 15.28

10 SENAPELAN 8,680 1,103 12.71 39,064 5,292 13.55

11 RUMBAI 11,943 1,956 16.38 56,115 9,394 16.74

12 RUMBAI PESISIR 12,597 1,652 13.11 55,086 7,606 13.81

KOTA PEKANBARU 148,532 16,158 10.88 704,517 76,841 10.91 Sumber : Balitbang Prov. Riau 2004

Selain itu, gambaran data juga mampu menjelaskan bahwa perkembangan

industri di Pekanbaru khususnya mall dan perusahaan retail lainnya tidak secara

langsung berpengaruh terhap tersedianya peluang kerja bagi rumah tangga miskin di

Pekanbaru. Terbukti peningkatan PDBR mencapai 16, 14 ditahun 2002 tetapi

kemiskinan hanya berkurang 0,83 % ditahun 2004.

Tabel dibawah ini mengambarkan jumlah penduduk miskin berdasarkan lama

tinggal. Pendatang selama 5 tahun terakhir (terhitung tahun 2005) mencapai 12 .143

orang, jumlah tersebut hampir berdekatan dengan yang datang dalam kurun waktu 6-

10 tahun, tetapi yang datang di atas 10 tahun jauh lebih besar atau 100% dari yang

Page 23: MIgrasi Pekanbaru

datang dalam kurung waktu kurang dari lima tahun. Ini artinya penduduk miskin yang

sudah tinggal lama tinggal di Pekanbaru cenderung konstan jumlahnya.

Tabel 11: Penduduk Miskin di Pekanbaru Berdasarkan lama tinggal

Lama Tinggal (th) Usia (th) Jumlah

15-30 30-45 45-55 >55

< = 5 6.387 4.450 886 420 12.143

6 - 10 4.060 3.354 877 363 8.654

> 10 10.269 6.805 2.863 1.630 21.567

Sumber : Balitbang Provinsi Riau 2005 (sudah diolah)

Tabel 12 berikut menjelaskan di penduduk yang tinggal pada periode kurang

dari lima tahun. Secara jelas table ini menginformasikan bahwa penduduk miskin

yang datang ke Kota Pekanbaru memilih tinggal di daerah pinggir yang berbasis

pertanian. Peringkat utama Tanayan Raya, Rumbai dan Rumbai Pesisir yang masih

sangat luas lahan terbuka untuk dikelola yang berbasis pertanian. Sedangkan

penduduk miskin dikawasan perkotaan adalah yang mana mereka tinggal lebih dari 5

tahun di Pekanbaru bahkan yang tinggal lebih dari 10 tahun mencapai hanya berada

pada posisi urutan 4 yaitu Kecamatan Sukajadi. Sebagaimana kita ketahui bahwa

sukaja dipenuhi oleh pendatang yang berbasis sector informal yang mayoritas berasal

dari Sumatera Barat.

Tabel 12. Perbandingan Lama Tinggal Penduduk Miskin

Lama Tinggal di Kabupaten ini (tahun)

Kecamatan <1 tahun 2-4 tahun 5-9 tahun >=10 tahun

Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 TAMPAN 62 199 229 177 667

2 PAYUNG SEKAKI 87 180 271 430 968

3 BUKIT RAYA 91 206 344 566 1,207

4 MARPOYAN DAMAI 187 365 387 605 1,544

5 TENAYAN RAYA 201 656 766 1,438 3,061

6 LIMA PULUH 68 154 159 717 1,098

7 SAIL 32 72 83 300 487

8 PEKANBARU KOTA 42 114 173 518 847

9 SUKAJADI 106 325 321 816 1,568

10 SENAPELAN 59 136 207 701 1,103

11 RUMBAI 155 431 578 792 1,956

12 RUMBAI PESISIR 102 198 316 1,036 1,625

Kota Pekanbaru 1,192 3,036 3,834 8,096 16,158

Persentase (%) 7.38 18.79 23.73 50.11 100.00

Sumber: Pendataan Penduduk / Keluarga Miskin Propinsi Riau 2004

Page 24: MIgrasi Pekanbaru

Fenomena lain yang menarik yang dapat diketahui dari data yang dihasilkan

oleh Balitbang Provinsi Riau adalah ada dua daerah asal yang merupakan mayoritas

pendatang di bawah tahun. Untuk di daerah pinggiran mayoritas berasal dari Sumatera

Utama yang bermarga dan dari pulau Nias, setelah itu diikuti oleh dari luar sumatera

khususnya dari Jawa. Sedangkan pendatang dibawah lima tahun yang beradai di

perkotaan khsusunya di Pekanbaru Kota dan Sukajadi mayoritas berasal dari

Sumatera Barat. Fenomena ini menunjukkan bahwa peranan pendatang yang lebih

dulu bisa diyakini cukup besar.

Dampak Yang Dirasakan

Menyimak uraian terdahulu dapat disimpulkan antara lain bahwa

perkembangan kota Pekanbaru semakin mengarah pada kota metropolitan. Indikasi

tersebut terlihat dari jumlah penduduk yang bermukim di urban semakin meningkat.

Meskipun secara relatif terjadi perubahan proporsi penduduk tetapi secara absolut

perubahannya sangat berarti.

Perluasan wilayah perkotaan (reklasifikasi) Kotamadya Pekanbaru merujuk

kepada hal – hal yang khas. Diantaranya ialah terjadi perubahan yang cukup tajam

dalam hal kepadatan (density) dan distribusi penduduk. Hal lain ialah adanya

kepincangan terhadap distribusi fasilitas sosial dan tenaga kerja. Sejalan dengan itu

adalah penataan jaringan dan sistem transportasi kota.

Penurunan proporsi dalam hal distribusi penduduk dibeberapa wilayah

kecamatan mengacu pada pergeseran pola pemukiman. Kendatipun demikian masih

tampak kepadatan yang tinggi jika ditinjau perwilayah kecamatan, terutama

Pekanbaru Kota dan Sukajadi. Melihat arah perkembangan tersebut (termasuk

perkembangan kependudukan), penataan pola permukiman dan tata ruang kota

melalui Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) sangat mendesak untuk

diberlakukan. Hal ini mengingat jika terlambat dilaksanakan kecendrungan

pemukiman dan perluasan fisik perkotaan yang tidak terkendali akan terangkat

kepermukaan. Efek dari hal itu adalah akan memunculkan pemukiman kumuh (slums)

dan pemukiman liar (squatter) untuk beberapa kawasan pemukiman di daerah

perkotaan, terutama daerah – daerah yang dianggap sebagai kawasan sentra.

Pengaturan pola pemukiman khususnya bagi daerah pinggiran harus diatur

menurut RUTRK melalui mekanisme izin bangunan (IMB). Pengaturan drainase

(sanitase) sudah pula ditetapkan agar di dalam perkembangan tata kota selanjutnya

tidak menimbulkan beban yang berat.

Mekanisme dari salah satu wujud fungsional perkotaan tersebut adalah

pengaturan izin menetap bagi warga kota. Hal ini dimaksudkan untuk pendataan

(registrasi) dan menata pola pemukiman. Izin membangun yang lebih diseleksi baik

bentuk (konstruksi) maupun luas lantai bangunan (beserta sistem residual rumah

tangga), penentuan tempat panyiapan daerah – daerah filter sebagai kantong –

kantong penyangga bila terjadi kepadatan yang dianggap sudah maksimal sudah

dipersiapkan.

Menyimak dari semua ulasan yang telah dikemukakan secara totalitas telah

terjadi perubahan. Rentetan dari semua fenomena tersebut membawa kepada suatu

pemikiran yakni perkembangan kota Pekanbaru merupakan suatu perkembangan yang

spesifik sehingga memerlukan kajian – kajian yang lebih dalam dan berlanjut.

Page 25: MIgrasi Pekanbaru

Terutama kajian yang mengarah ke kehidupan urban. Pemikiran ini diajukan atas

dasar bahwa pemegang kebijaksanaan kota dihadapkan pada suatu kenyataan untuk

melengkapi sarana atau fasilitas yang menunjang warga kota yang bersangkutan.

Fasilitas tersebut meliputi transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan,

pemukiman (termasuk di dalamnya listrik, air bersih dan MCK) serta fasilitas sosial

maupun ekonomi guna kelangsungan kehidupan urbanit.

Penataan pasar dan pusat – pusat pasar, terminal diselaraskan dengan pola

pengembangan perkotaan. Artinya jalur dan sistem transportasi sebagai salah satu

bagian (komponen) dari jaringan pelayanan jasa yang terus berkembang, disesuaikan

dengan pola penataan perkotaan. Penentuan daerah bumper sebagai penyangga atau

filter sudah harus ditetapkan. Pengendalian sistem ini adalah melalui mekanisme izin

menetap. Selanjutnya ditetapkan pula melalui suatu Peraturan Daerah (PerDa)

berkenaan dengan pengaturan bagi penduduk dikawasan pusat (center) boleh pindah

kedaerah pinggiran. Sebaliknya bagi penduduk yang telah bermukim di daerah

pinggiran tidak dibenarkan pindah (menetap) di daerah pusat.

HASIL PENELITIAN

Imigrasi lima tahun terakhir

Berdasarkan data Balitbang 2004 bahwa jumlah rumah tangga miskin yang

masuk ke Pekanbaru sejak tahun 2001 sampai 2005 atau lima tahun terakhir

berjumlah 3, 431 rumah tangga. Pendatang terbesar berada di Tenayan Raya

mencapai 634 rumah tangga khususnya kelurahan Sail mencapai 264 rumah tangga.

Mayoritas pendatang tersebut berasal dari Sumatera Utara. Hal ini diketahui nama

yang memakai marga.

Grafik 1. Rumah Tangga Miskin 5 thn Terakhir Tiba di Pekanbaru

214236

258

458

63418894139

381

161

450

218

TAMPAN PAYUNG SEKAKI BUKIT RAYAMARPOYAN DAMAI TENAYAN RAYA LIMA PULUHSAIL PEKAN BARU KOTA SUKAJADISENAPELAN RUMBAI RUMBAI PESISIR

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Sedangkan daerah yang paling kecil didatangi migran adalah Kecamatan Sail

hanya 94 Keluarga. Namun demikian kecilnya jumlah ini juga dipengaruhi sedikitnya

jumlah kelurahan di Kecamatan Sail yang hanya 3 kelurahan, bukan pusat

perdagangan atau perkantoran tetapi lebih banyak perumahan permanen yang sudah

Page 26: MIgrasi Pekanbaru

lama. Kelurahan yang tidak didatangi migran adalah kelurahan Sago Kecamatan

Senapelan.

Dilihat dari kecenderungan daerah yang menjadi tujuan pendatang adalah

daerah pinggir kota yang masih berbasis pertanian. Posisi terbesar ditempati Tanayan

Raya, lalu diikuti Rumbai Pesisir, Rumbai, dan Bukit Raya. Hanya yang menarik dari

data ini adalah Sukajadi yang bukan pinggiran menempati urutan ke empat setelah

Rumbai. Kecuali Sukajadi, makin ke kota semakin kecil menjadi daerah tujuan

pendatang.

Daerah pinggiran yang berbasis pertanian jika dilihat dari suku bangsa

mayoritas berasal dari Sumatera Utara khususnya Batak dan Jawa. Sedangkan suku

Minang (dilihat dari nama) menjadikan Sukajadi sebagai kecamatan favorit daerah

tujuan.

Grafik 2. Jumlah KK di Kelurahan yang menjadi Responden

19

264

32

95

93

DELIMA SAIL SUKA RAMAI KAMPUNG TENGAH PALAS

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Grafik ini secara jelas mengambil responden berdasarkan karateristik daerah

tujuan pendatang, yaitu mewakili daerah pinggiran dalam hal ini Kelurahan Sail dan

Kelurahan Palas dan yang mewakili perkotaan Kelurahan Sukaramai dan Kelurahan

Kampung Tengah, sedangkan Kelurahan Delima dipandang mewakili antara

keduanya dan juga merupakan kawasan semi kota atau semi pinggiran tersebut.

Grafik 3 : Asal Pendatang

Page 27: MIgrasi Pekanbaru

49%

23%

18%

2% 7% 1%

SUMATERA UTARA SUMATERABARAT RIAU Sumsel Jawa Nias

Sumber : Hasil Survey 2005

Grafik ini secara jelas memaparkan bahwa mayoritas sample berasal dari

Sumatera Utara mencapai 49% kemudian diikuti oleh Sumatera Barat 23 %,

kemudian diikuti oleh warga Riau diluar Pekanbaru mencapai 18%, sisanya dari Jawa,

Sumsel dan Nias.

Adapun pendatang dari sumatera Utara berasal dari 16 daerah, yang

mayoritasnya berasal dari Kisaran kemudian diikuti oleh Sidakalang. Jumlah ini

akan mewarnai pendatang yang akan datang ke Riau pada tahun-tahun ke depan.

Sedangkan dari Sumbar juga merata dari semua daerah hanya yang besar berasal dari

daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau.

Grafik 4 : Daerah asal dari Sumatera Utara.

3% 3% 3%

14%

4%

3%

7%

24%

3%

5%

3%

7%

12%

3% 3% 3%

SIABU DOLOG BRASTAGI r prapat sidakalangsibolga belawan p sidempuan kisaranbalam k pinang kb jahe p siantartarutung binjai balige T Morawa

Sumber : Hasil Survey 2005

4.2.1. Agama yang Dianut Pendatang

Berdasarkan agama yang dianut oleh migran, dilihat dari jumlah keseluruhan maka

agama Islam merupakan agama terbesar yitu 2,950 kepala keluarga, diikuti agama

Protestan mencapai 437 KK, Kahtolik 37 KK, 2 Budha, dan 1 Kong Hu tsu.

Page 28: MIgrasi Pekanbaru

Mayoritas pemeluk agama Islam datang dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan,

sedangkan pemeluk agama Protestan datang dari Sumatera Utara. Sementara penganut

agama Protestan mayoritas tinggal di kawasan pinggir Pekanbaru yang berbasis

pertanian.

Tabel 13 : AGAMA YANG DIANUT PENDUDUK YANG 5 TAHUN

TERAKHIR KE PEKANBARU

Budha Islam Protestan Katolik Kong Hu

Tsu

KECAMATAN Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %

1.TAMPAN 208 97.2% 6 2.8%

2.PAYUNG SEKAKI 175 74.2% 60 25.4% 1 0.4%

3.BUKIT RAYA 249 96.5% 7 2.7% 2 0.8%

4.MARPOYAN

DAMAI

436 95.2% 22 4.8%

5.TENAYAN RAYA 2 0.3% 485 76.5% 134 21.1% 12 1.9% 1 0.2%

6.LIMA PULUH 156 84.8% 25 13.6% 3 1.6%

7.SAIL 89 94.7% 5 5.3%

8.PEKAN BARU

KOTA

136 97.8% 3 2.2%

9.SUKAJADI 362 95.0% 18 4.7% 1 0.3%

10.SENAPELAN 150 93.2% 10 6.2% 1 0.6%

11.RUMBAI 306 68.0% 132 29.3% 12 2.7%

12.RUMBAI

PESISIR

198 90.8% 15 6.9% 5 2.3%

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Secara keseluruhan pendatang yang beragama Islam masih mayoritas, hanya

pada kelurahan tertentu agama protestan justeru mayoritas sebagaimana grafik bawah

ini;

Grafiik 5 : Penganut Agama di Kelurahan Sampel

0%

86%

13% 1%0%

Budha Islam Protestan Katolik Kong Hu Tsu

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Pada kelurahan yang menjadi populasi penelitian tergambar jelas bahwa daerah

pinggiran dalam hal ini Palas mayoritas pendatangnya beragama Protestan mencapai

Page 29: MIgrasi Pekanbaru

59,1 %, begitu juga dengan Kelurahan Sail jumlah penganut protestan mencapai 32%.

Sedangkan di daerah perkotaan didominasi penganut agama Islam.

Grafik 6 : Penganut agama di Kelurahan responden

19

180

32

95

29

0

20

40

60

80

100

120

140

160

180

delima sail sukaramai kampung

tengah

palas

islam protestan budha kong khu tsu

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Dilihat dari hasil survey diketahui bahwa komposisi agama yang

dianut pendatang yang menjadi sample pada survey berikut dibawah ini.

Grafik 7 : Agama yang dianut oleh sample

53%44%

3%

Islam Protestan Khatolik

Sumber: Hasil Survey 2005

Data ini mengambarkan bahwa agama yang dianut oleh sample mayoritas

beragama Islam dan diikuti oleh Kristen Protestan dan hanya sedikit yang beragama

Kriten Khatolik.

4.2.2. Pendidikan Pendatang

Dilihat dari profil pendidikan pendatang lima tahun terkahir yang ke

Pekanbaru adalah sebagai berikut;

Kecamatan Tidak

Pernah

Sekolah

Tidak

Tamat

SD

Tamat

SD

Tamat

SLTP

Sederajat

Tamat

SLTA

Sederajat

Pergurua

n Tinggi

Page 30: MIgrasi Pekanbaru

10.TAMPAN 13 52 188 199 127 7

11.PAYUNG SEKAKI 8 31 148 235 207 1

20.BUKIT RAYA 5 59 176 261 149 12

21.MARPOYAN

DAMAI

14 80 351 434 344 5

22.TENAYAN RAYA 23 192 450 592 389 13

30.LIMA PULUH 3 17 142 174 137 4

40.SAIL 4 16 47 84 77 1

50.PEKAN BARU

KOTA

4 23 107 144 104 4

60.SUKAJADI 7 57 287 324 313 23

70.SENAPELAN 39 116 142 127 1

80.RUMBAI 22 76 353 444 281 10

81.RUMBAI PESISIR 6 55 174 173 122 6

Total 109 697 2,539 3,206 2,377 87

Tabel 14: Tingkat pendidikan Pendatang

Di Kecamatan Tampan terdapat 2 Kepala keluarga tamatanS2/S3

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Tabel diatas dengan jelas menunjukkan bahwa mayoritas pendatang adalah

tingkat pendidikan SLTP mencapai 36% diikuti tamat SD dan tamat SMU. Data ini

cukup mengejutkan juga karena ternyata terdapat dua orang yang tamatan S2/S3 dan

85 orang tamat S1. Tamat S2/S3 menimbulkan kekaburan pemahaman tentang

pengaruh pendidikan terhadap Kemiskinan. Data diatas secara implisit menjelaskan

bahwa tidak begitu relevan antara Kemiskinan dengan pendidikan.

Secara jelas Grafik berikut ini memaparkan persentase tingkat pendidikan

pendatang ke Pekanbaru. Persentase yang tidak pernah sekolah berimbang dengan

jumlah yang tamatan perguruan tinggi.

Grafik 8 : Pendidikan Pendatang Lima tahun terkahir

1% 8%

28%

36%

26%

1%

Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD

Tamat SLTP Sederajat Tamat SLTA Sederajat Perguruan Tinggi

Page 31: MIgrasi Pekanbaru

Sementara tabel tingkat pendidikan di kelurahan yang menjadi populasi survey

adalah sebagai berikut;

Tabel Tingkat pendidikan Pendatang 5 tahun terakhir ke Pekanbaru

Kelurahan Tidak

Pernah

Sekolah

Tidak

Tamat

SD

Tamat

SD

Tamat

SLTP

Sederajat

Tamat

SLTA

Sederajat

PT

DELIMA 2 9 16 25 6

SAIL 11 104 194 227 146 3

SUKA RAMAI 1 9 18 35 20 2

KAMPUNG

TENGAH

2 17 55 83 80 6

PALAS 4 17 49 99 55 3

Total 20 156 332 469 307 14

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Tabel tersebut mengambarkan bahwa ternyata komposisinya sama dengan

komposisi kota madya yaitu tamatan SLTP mayoritas mencapai 469 kepala keluarga

kemudian diikuti tamatan SD mencapai 332 Kk, lalu SLTA mencpaia 307 KK, tidak

tamat SD 156, 14 tamatan perguruan tinggi dan 20 Kk tidak pernah sekolah.

Sedangkan tingkat pendidikan sample yang disurvey sebagai berikut;

Grafik 9 : Tingkat pendidikan sample

16%

24%

50%

10%

SD SMP SMU PT

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Ternyata tingkat pendidikan sample cukup baik dimana 50% tamat

SLTA/SMU, SLTP 24%, SD 16 %, tamatan perguruan tinggi 10 % tamatan dan tidak

Page 32: MIgrasi Pekanbaru

satupun yang tidak tamat sekolah dasar apalagi tidak pernah sekolah. Hasil survey

ini dapat dipahami bahwa mereka yang berani keluar dari kampung halamannya

sudah tentu mempunyai bekal pendidikan. Adalah terbuka peluang asumsi bahwa

tidak memungkinkan bagi mereka tidak pernah sekolah berani merantau.

4.2.3. Jenis Kelamin Pendatang

Dilihat dari jenis kelamin pendatang bahwa jumlah penduduk perempuan

dengan lelaki berimbang hanya selisih tiga persen saja, dimana perempuan 49%

sedangkan lelaki 51 persen. Perimbangan jumlah jenis kelamin ini ada hubungan

dengan perpindahan suami diikuti isteri atau menikah sesama dengan daerah asal.

Grafik berikut mengambarkan komposisi seks pendatang;

Grafik 10 ; Pendatang lima tahun terakhir berdasarkan seks.

51%

49%

Laki-Laki Perempuan

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Secara detailnya di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut;

Tabel 16 Jenis kelamin pendatang lima tahun terkahir.

Kecamatan Jenis Kelamin

Laki Prempuan

1.TAMPAN 302 284

2.PAYUNG SEKAKI 330 300

3.BUKIT RAYA 337 325

4.MARPOYAN DAMAI 625 603

5.TENAYAN RAYA 851 808

6.LIMA PULUH 242 235

7.SAIL 110 119

8.PEKAN BARU KOTA 187 199

9.SUKAJADI 513 498

10.SENAPELAN 208 217

11.RUMBAI 625 561

12.RUMBAI PESISIR 263 273

Total 4,593 4,422

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Page 33: MIgrasi Pekanbaru

Ternyata dari tabel tersebut juga menunjukkan bahwa perimbangan jumlah

lelaki dan perempuan merata di semua kecamatan. Kecamatan Sail, Pekanbaru Kota,

Senapelan dan Rumbai Pesisir jumlah perempuan lebih banyak daripada lelaki,

sementara di kecamatan lainnya lelaki lebih banyak. Jika dilihat dari letak kecamatan

maka di daerah yang perempuannya lebih banyak adalah di kawasan perkotaan,

kecuali di Rumbai Pesisir.

Sementara itu di kelurahan yang menjadi populasi survey ini diketahui

perbandingan perempuan dengan lelaki menunjukkan corak yang sama yaitu

berimbang jumlah lelaki dan perempuan. Hanya kelurahan Sukaramai yang

perempuannya lebih banyak dari lelaki dengan perbedaan 10 % . Data ini menguatkan

bahwa kecenderungan perempuan menuju ke pusat kota untuk memilih pekerjaan di

sektor jasa yang tidak mengandal kekuatan tenaga. Gambaran jumlah pendatang

berdasarkan jenis kelamin yang dihitung berdasarkan pendduduk adalah sebagai

berikut:

Grafik 11: Jenis Kelamin di Kelurahan yang menjadi responden berdasarkan Jumlah

penduduk

51%

49%

Laki PR

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut;

Tabel 17: Jenis Kelamin di Kelurahan Respon

Kelurahan Jenis Kelamin

Laki Perempuan

JML % Jml %

DELIMA 31 53.4% 27 46.6%

SAIL 351 51.2% 334 48.8%

SUKA RAMAI 38 44.7% 47 55.3%

KAMPUNG TENGAH 127 52.3% 116 47.7%

PALAS 119 52.4% 108 47.6%

Total 666 632

Page 34: MIgrasi Pekanbaru

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Data penduduk ini sangat berbeda dengan data kepala keluarga, karena

populasi dari kepala keluarga yang datang 5 tahun terakhir mayoritas adalah lelaki

dan hanya 6 persen yang perempuan disebabkan oleh kematian suami atau bercerai.

Grafik berikut dapat dengan mudah mengambarkan bahwa mayoritas kepala keluarga

adalah lelaki:

Grafik 12: Kepala Keluarga yang menjadi Populasi

94%

6%

Lk PR

Sumber: Hasil Survey 2005

Data ini juga memberi gambaran bahwa jaminan keberlangsungan ekonomi

keluarga pendatang lebih baik karena masih mayoritas keluarga lengkap. Suami dan

isteri bisa sama-sama bekerja untuk menopang ekonomi rumah tangga sesuai dengan

pekerjaan yang tersedia.

4.2.4. Pekerjaan Pendatang

Dilihat dari pekerjaan pendatang lima tahun terakhir maka sektor jasa menempati

urutan tertinggi yaitu 1.710 jiwa, kemudian diikuti sektor dagang 1014 jiwa, lalu

diikuti oleh sektor pertanian dan perkebunan 519 jiwa. Ini menandakan bahwa

pendatang memiliki kemampuan skill dan motivasi berusaha lebih tinggi, karya sektor

jasa dan dagang hanya bisa dimasuki oleh tenaga kerja yang mempunyai sklill dan

bermotivasi tinggi saja. Sektor lain yang juga besar adalah kontruksi alias kerja

bangunan, industri pengolahan dan angkutan. Sektor-sektor yang tidak memerlukan

skill yang cukup tinggi.

Berikut grafik yang bisa menjelaskan tentang sektor usaha dan pekerjaan yang

digeluti oleh pendatang;

Grafik 13: Pekerjaan Pendatang

Page 35: MIgrasi Pekanbaru

0.15%11.39%

1.01%

8.97%

1.32%

9.54%

22.25%7.70%0.15%

37.52%

Tidak Bekerja Pertanian, PerkebunanPertambangan, Pernggalian Industri PengolahanListrik, Gas, Air Minum KontuksiPerdagangan AngkutanLembaga Keuangan Jasa

Grafik ini juga secara meyakinkan bahwa yang tidak berkerja ternyata sangat kecil

hanya 0,15% atau tujuh orang saja. Ini menandakan bahwa kehadiran pendatang ini

mempunyai pengaruh terhadap produktivitas dan GNP Pekanbaru karena umumnya

mereka bekerja pada sektor yang mendorong pertumbuhan income perkapita .

Tabel berikut secara detail menunjukkan angka sektor yang diminati oleh

pendatang di Pekanbaru. Data sektor ini cukup juga memberi gambaran secara

implisit kecenderungan pertumbuhan industri dan pertumbuhan kota di Pekanbaru.

Tabel 18: Pekerjaan Pendatang

Kecamatan Tidak

Bekerj

a

Pertanian,

Perkebuna

n

tambang,

&galian

Industri

olahan

Listrik

, Gas,

Air

Minu

m

Kontuk

si

Dagang Angkuta

n

Lemkeu Jasa Total

Jlmh Jml Jlmh Jlmh Jlmh Jlmh Jlmh Jlmh Jlmh Jlmh

1.TAMPAN 26 2 11 5 38 64 24 88 258

2. PAYUNG

SEKAKI

1 11 9 10 60 51 22 132 296

3.BUKIT RAYA 41 3 3 4 22 54 21 1 193 342

4.MARPOYAN

DAMAI

2 32 7 22 5 57 171 54 1 240 591

5.TENAYAN

RAYA

105 11 273 5 80 94 60 267 895

6.LIMA PULUH 1 1 2 5 5 51 62 23 92 242

7.SAIL 31 2 3 2 8 19 6 2 43 116

8.PEKAN BARU

KOTA

1 2 3 10 78 6 72 172

9.SUKAJADI 5 2 7 7 29 227 43 2 181 503

10.SENAPELAN 6 9 3 10 64 12 97 201

11.RUMBAI 195 11 51 12 43 99 65 205 681

12.RUMBAI 2 64 6 13 2 27 31 15 1 100 261

Page 36: MIgrasi Pekanbaru

PESISIR

Total 7 519 46 409 60 435 1,014 351 7 1,710 4,558

Jika dilihat pada kelurahan yang menjadi populasi survey maka sektor yang dominan

adalah sektor industri pengolahan menempati urutan teratas yaitu 32%, diikuti oleh

jasa 20,69%, perdagangan 19,67% dan pertanian perkebunan 14,94%. Gambaran ini

tampak sekali bahwa terdapat hubungan antara tempat tinggal dengan jenis pekerjaan

yang dipilih. Keberadaan di kawasan pinggiran kota menyebabkan pilihannya

pekerjaannya adalah di sektor pertanian-perkebunan dan industri pengolahan. Selain

itu, sektor pinggiran ini juga masuk ke kawasan perkotaan dengan mengambil jenis

pekerjaan perdagangan dan jasa. Mengakibatkan jumlah yang bekerja disektor jasa

dan perdagangan lebih besar dari sektor lainnya.

Grafik 14: Pekerjaan Pendatang

14.94%

1.66%

32.82%

0.51%4.60%

19.67%

4.98%0.13%

20.69%

Pertanian, Perkebunan Pertambangan, PernggalianIndustri Pengolahan Listrik, Gas, Air MinumKontuksi PerdaganganAngkutan Lembaga KeuanganJasa

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Hasil survey menunjukkan bahwa komposisi pekerjaan pendatang yang

berbeda dengan data survey Balitbang 2004, sebagaimana terlihat pada grafik berikut

berikut:

Grafik 15 :Pekerjaan sample

Page 37: MIgrasi Pekanbaru

Pekerjaan sampel

26%

9%

4%

14%6%1%6%

8%

2%

1%2%

19%2%

Berdagang Bangunan BengkelSopir ojek juru parkirindustri pengolahan berkebun pegawaipenjahit Teknisi JasaTidak Kerja

Sumber: Hasil Survey 2005

Data ini menggambarkan bahwa sektor terbesar adalah perdagangan, yang

dimaksud pedagang disini adalah pedagang kaki lima, pedangan keliling, buka

warung harian, sektor terbesar ke dua adalah sektor jasa yaitu buruh harian lepas

yang bertugas mengangkat barang-barang di pasaran atau mengangkat barang dari

truk dan lain sebagainya. Berbeda dengan data Pekanbaru dan populasi penelitian

dimana sektor jasa merupakan sektor terbesar. Hanya kecenderungannya yang masih

sama yaitu sektor informal perkotaan, yaitu berdagang, dan menyedia jasa yang tidak

disediakan oleh pekerja perkotaan yang berpendidikan atau menurut bahasa Ever

(1991) pekerjaan yang merupakan sisa pekerjaan perkotaan.

4.2.5. Umur Pendatang

Data Balitbang tahun 2004 menunjukan bahwa mayoritas pendatang pada usia

produktif , dimana 58% berumur 15-55 tahun, hanya 2 % saja penduduk yang berada

diusia lanjut, sisanya 40% berusia dibawah 15 tahun. Penduduk yang berusia dibawah

15 tahun dapat dipahami sebagai anak dari yang berusia produktif tadi. Lebih detil

data ini menunjukkan bahwa jumlah usia tertinggi yang berda di Pekanbaru adalah

umur 25 sampai 40. Pada usia tersebut merupakan puncak usia produktif dari pekerja.

Grafik 16: Usia Pendatang

Page 38: MIgrasi Pekanbaru

40%

58%

2%

<15 15- 55 >55

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Data usia ini mengambarkan bahwa kehadiran pendatang ini bisa memacu

produktifitas, jika usia yang datang tersebut berusaha maksimal untuk peningkatan

ekonomi mereka. Secara detail per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut yang

memaparkan distribusi usia berdasarkan kecamatan;

Tabel 19 : Jumlah usia pendatang

<15 15- 55 >55 Jumlah

Kecamatan Jumlah % Jmlh % Jmlh

t

%

1.TAMPAN 421 41.81% 560.0 55.61% 26 2.58% 1007.0

2.PAYUNG SEKAKI 445 41.40% 608.0 56.56% 22 2.05% 1075.0

3.BUKIT RAYA 456 40.79% 640.0 57.25% 22 1.97% 1118.0

4.MARPOYAN

DAMAI

840 40.62% 1189.0 57.50% 39 1.89% 2068.0

5.TENAYAN RAYA 1,139 40.71% 1582.0 56.54% 77 2.75% 2798.0

6.LIMA PULUH 305 39.00% 468.0 59.85% 9 1.15% 782.0

7.SAIL 161 41.28% 225.0 57.69% 4 1.03% 390.0

8.PEKAN BARU

KOTA

240 38.34% 374.0 59.74% 12 1.92% 626.0

9.SUKAJADI 646 38.99% 980.0 59.14% 31 1.87% 1657.0

10.SENAPELAN 277 39.46% 411.0 58.55% 14 1.99% 702.0

11.RUMBAI 829 41.14% 1153.0 57.22% 33 1.64% 2015.0

12.RUMBAI PESISIR 365 40.51% 512.0 56.83% 24 2.66% 901.0

Jumlah 6,124 40.45% 8,702 57.48% 313 2.07% 15139.0

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Page 39: MIgrasi Pekanbaru

Jika dilihat dari kelurahan yang menjadi populasi maka usia populasi memiliki

corak yang sama dengan corak kotamadya, yaitu 58% usia produktif antara 15-55

tahun, 40 % usia dibawah 15 tahun dan hanya 2 % yang berusia lanjut diperkirakan

tidak produktif. Untuk usia ini cenderung homogen dan berlaku untuk semua

pendatang yang di masing-masing kelurahan. Hanya apakah kecenderungan setiap

tahun akan sama atau hanya pada tahun-tahun tertentu saja. Penting sekali mengetahui

kecenderungan usia para migran ini untuk memudahkan menentukan arah kebijakan

terutama sekali sektor pekerjaan dan sektor sosial lainnya di Pekanbaru pada masa

yang akan datang.

Grafik : Umur Pendatang di kelurahan Populasi.

40%

58%

2%

< 15 15 - 55 >55

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Hasil survey menunjukkan bahwa umur usia sample 98% merupakan usia

produktif, hanya 2 persen yang sudah lanjut diatas 55 tahun sedangkan dibawah 15

tahun tidak ada. Tidak adanya umur dibawah 15 tahun ini disebabkan yang sample

adalah kepala rumah tangga yang sudah pasti berumur diatas 15 tahun. Usia

terbanyak pendatang yang disurvey adalah usia 25-40 tahun.

Grafik 17: Usia Sampel

Page 40: MIgrasi Pekanbaru

0%

98%

2%

< 15 15-55 >55

Sumber: Hasil Survey Balitbang 2005

Grafik ini cukup rasional jika dilihat dari potensi seseorang untuk bisa pindah.

Usia dibawah 15 tahun tidak memungkinkan migran untuk berpindah dengan alasan

ekonomi, begitu juga yang diatas 55 tahun.

4.2.6. Jenis Bantuan yang Diterima

Mayoritas sample pernah menerima bantuan yaitu mencapai 82 persen dari

kepala keluarga sample. Hanya 18% saja yang belum pernah menerima bantuan

apapun. Jenis bantuan terbanyak yang diterima oleh sample adalah PKBS BBM

mencapai 51 persen, beras buloq mencapai 23 persen. Selain itu, 7 persen menerima

rumah layak huni dan satu persen menerima asuransi kesehatan. Data ini

mengambarkan bahwa akses pendatang terhadap bantuan pemerintah cukup besar dan

dalam hal memberikan bantuan pemerintah tidak mempertimbangakan lama tinggal

ataupun pendatang atau tempatan.

Grafik 18: Jenis Bantuan Pemerintah yang diterima sampel

Page 41: MIgrasi Pekanbaru

51%

1%23%

7%

18%

PKPS BBM Asuransi Kesehatan Beras Bulog

Rmh layak huni tidak pernah

Sumber: Hasil Survey 2005

4.3. Faktor dan Pengaruh

Faktor-faktor migrasi dilihat dari dua aspek yaitu tarikan dan faktor dorongan.

Faktor tarikan adalah daya tarik Pekanbaru yang menyebabkan migran datang ke

Pekanbaru, penelitan ini hanya menempatkan dua indikator yaitu tersedia peluang

pekerjaan dan peluang berusaha di Pekanbaru. Faktor dorongan adalah situasi buruk

ditempat asal yang menyebabkan mereka harus pindah ke tempat lain dalam hal ini

menjadikan Pekanbaru sebagai daerah tujuan. Indikator yang dipakai adalah

penghasilan ditempat asal, ketersediaan lahan ditempat asal, pekerjaan di tempat asal,

Selain variable dorongan dan tarikan tersebut di kemukakan juga faktor perantara,

meliputi beberapa indikator yaitu informasi tentang Pekanbaru, keaktifan ditempat

asal, sarana transportasi, dorongan dari keluarga, motivasi individual, tempat tinggal

yang dituju.

4.3.1. Faktor Perantara

Faktor perantara ini sering diabaikan para peneliti, padahal para peneliti

migran menunjukkan bahwa faktor ini sering sekali memegang peranan sangat

penting. Atas pertimbang tersebut faktor perantara ini ditampilkan lebih dahulu. Ada

enam indikator yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu:

4.3.1.1. Informasi Tentang Pekanbaru

Pertanyaan ini diajukan untuk melihat sejauh mana pengetahuan migran

tentang Pekanbaru dan dari mana informasi tersebut diperoleh. Melalui informasi ini

akan diketahui skenario migran menuju ke Pekanbaru. Pertanyaan ini harus

dihubungakan dengan tempat yang dituju di Pekanbaru. Karena seharusnya sinkron

antara sumber informasi dengan tempat tinggal yang dituju di Pekanbaru.

Page 42: MIgrasi Pekanbaru

Grafik 19 : Informasi tentang Pekanbaru

33%

52%

7%8%

dr teman Saudara Tidak ada Ada sedikt

Sumber : hasil Survey 2005

Hasil survey menunjukkan bahwa 85 % para migran mengetahui informasi

tentang Pekanbaru berasal dari saudara dan teman di Pekanbaru. Masing-masing 52 %

dari saudara, 33% dari teman, hanya 8% mengetahui sedikit saja dari berbagai sumber

dan hanya 7% yang datang ke Pekanbaru dengan modal nekat tanpa ada informasi dan

orang yang dikenal di Pekanbaru.

Gambaran ini menunjukkan bahwa peranan orang yang datang lebih dahulu terhadap

migran yang datang 5 tahun terakhir cukup besar. Data ini mengambarkan arus umum

terjadinya perpindahan yang terjadi. Arus umum migran global menunjukkan

besarnya peranan pendatang lebih dahulu. Dalam beberapa kasus seperti migran

Indonesia ke Malaysia justeru diorganisir oleh bisnis tenaga kerja.

4.3.1.2. Tempat Tinggal yang dituju di Pekanbaru.

Pertanyaan yang diajukan pada tempat yang dituju setiba di Pekanbaru. Hasil

survey menunjukkan bahwa 52% menumpang ditempat teman, 38 % sewa rumah, dan

9 persen tinggal di tempat kerja. Data ini cukup relevan dengan sumber informasi

tentang Pekanbaru. Angka sumber informasi dari keluarga di Pekanbaru sama dengan

angka menumpang di tempat teman. Bisa dipahami teman yang dimaksudkan disini

sama dengan saudara. Sementara yang mengetahui sumber informasi dari teman di

Pekanbaru berimbang dengan persentase yang menyewa. Ini bisa diartikan bahwa

tempat yang dituju adalah ditempat teman tetapi dengan menyewa.

Grafik 20: Tempat Tinggal yang dituju di Pekanbaru.

Page 43: MIgrasi Pekanbaru

52%

9%1%

38%

Numpang Teman Tpt Kerja Penginapan Sewa Rumah

Sumber : Hasil Survey 2005

Data ini bisa diinterpertasikan bahwa pendatang yang masuk ke Pekanbaru

merupakan pendatang yang mempunyai jaminan dari keluarganya di Pekanbaru,

minimal berupa tempat sementara. Ini diperkuat lagi 10% tersisa yaitu 1% di

penginapan dan 9 persen di tempat kerja, jadi tidak ada yang menjadi gelandangan.

4.3.1.3. Dorongan Ke Pekanbaru.

Pertanyaan yang diajukan pada bagian ini adalah dorongan siapa yang

mengajaknya ke Pekanbaru. Hasilnya sangat mengejutkan bahwa dorongan ke

Pekanbaru yang terbesar adalah kemauan sendiri, lalu diikuti 27% diajak saudara, 21

% diajak teman dan 8% sudah diterima kerja di Pekanbaru.

Grafik 21: Dorongan Migran ke Pekanbaru

44%

27%

21%

8%

Kemauan Sendiri Diajak Saudara Diajak Teman Diterima Kerja

Sumber : Hasil Survey 2005

Data diatas mengambarkan bahwa kemauan sendiri pindah ke Pekanbaru

dipengaruhi oleh saudara dan teman yang sudah ada di Pekanbaru. Selain itu, cukup

mengejutkan karena 8% pendatang tersebut masuk ke Pekanbaru karena sudah

Page 44: MIgrasi Pekanbaru

diterima kerja di Pekanbaru, yang sebagaimana diketahui banyaknya proses

rekrutmen pegawai dilaksanakan di luar Pekanbaru.

Data ini diperkuat lagi dimana aktivitas dalam organisasi di daerah asal hanya

21% yang tidak pernah aktif dan 7% merupakan ketua remaja ditempat asalnya, 72 %

merupakan anggota aktif. Gambaran tersebut bisa dilihat pada grafik berikut;

Grafik 22 : Keaktifan di Organisasi Pemuda di Tempat Asal.

72%

7%

14%

7%

aktif Sbgi anggota Ketua Remaja Tidak tahu Tidak Mau

Sumber : Hasil Survey 2005

Data ini jelas sekali bahwa yang masuk ke Pekanbaru adalah kelompok

masyarakat yang sadar akan hak-hak dan kewajibannya dan mempunyai perhatian

sosial yang cukup besar.

4.3.1.4. Transportasi yang digunakan untuk ke Pekanbaru.

Pertanyaan yang diajukan pada bagian ini adalah transportasi yang digunakan

untuk menuju ke Pekanbaru. Hasilnya 62% menggunakan bus umum, ini memang

pilihan yang paling moderat bagi pendatang yang telah mempersiapkan diri untuk

pindah ke Pekanbaru. Tumpangi teman mencapai 13% ini bukan berarti tidak tersedia

modal ke Pekanbaru. Hanya 9% saja yang modalnya nekat karena hanya bisa ke

Pekanbaru dengan menumpang truk. Menariknya lagi adalah ada 16% yang ke

Pekanbaru dengan menggunakan travel sebuah angkutan yang menandai lebih

baiknya kemampuan ekonomi yang dipunyainya.

Grafik 23: Transfortasi yang digunakan untuk ke Pekanbaru.

Page 45: MIgrasi Pekanbaru

9%

13%

16%62%

Truk Tumpangi Teman Travel Bus Umum

Sumber : Hasil Survey 2005

Data ini bisa diinterpretasikan bahwa migran yang masuk Pekanbaru

mempunyai persiapan yang lebih baik terbukti dengan 62% ke Pekanbaru

menggunakan bus umum dan 16% menggunakan travel.

4.3.1.5. Dukungan dari Keluarga

Dukungan keluarga yang ditanyakan disini adalah tanggapan keluarga ketika

mengutarakan akan bermigrasi ke Pekanbaru dan dukungan itu terlihat dari siapa yang

melepas kepergiannya ke Pekanbaru.

Grafik 24 : Dukungan dari Keluarga

11%

38%40%

11%

Dilarang Disokong Spnuh Didorong t Plg K Dianjurkan secepatnya

Sumber : Hasil Survey 2005

Hasil survey menunjukkan bahwa tanggapan keluarga atas keinginan sample pindah

ke Pekanbaru mendapat restu dari keluarga ini terbukti hanya 11 % saja yang

keluarganya melarang, 89% merestui. Data ini diperkuat lagi dengan siapa yang

mengantar migran berangkat ke Pekanbaru yang mencapai 55% diantar oleh keluarga

dan istrinya, 25% berangkat sendiri dan 11% diantar teman. Gambaran ini dapat

dilihat pada grafik berikut;

Page 46: MIgrasi Pekanbaru

Grafik 25 : Pengantar keberangkatan ke Pekanbaru.

30%

11%34%

25%

Sendiri Teman Semua kel Hanya Isteri

Sumber : Hasil Survey 2005

Perbedaan antara jumlah yang melarang ke Pekanbaru dengan sedikitnya yang

menghantar ini memungkinkan disebabkan oleh situasi saat keberangkat tersebut,

misalkan ketika malam hari atau karena jam kerja.

4.4. Faktor Migrasi ke Pekanbaru.

Bagian ini fokus kepada dua faktor utama alasan migrasi, yaitu faktor tarikan

kota dan faktor dorongan dari desa atau tempat asal. Faktor ini diajukan pada 11

pertanyaan yang pilihan jawabannya mengacu kepada faktor dorongan atau faktor

tarikan. Untuk sampai pada kesimpulan faktor mana yang dominan maka akan dilihat

dari persentase kuantitas pilihan sample terhadap empat opsi yang diberikan.

Kesepuluh pertanyaan tersebut didiskritkan dalam satu tabel sebagi berikut;

Grafik berikut merupakan gambaran daya tarik Pekanbaru yang menyebabkan migran

masuk ke Pekanbaru.

Grafik 26 :Faktor tarikan Kota Pekanbaru

Page 47: MIgrasi Pekanbaru

24%

12%

1%

23%

5%2%

24%

7% 2%

Mudah MendapatPekerjaan

Mudah Membukausaha

Untuk sekolah anak-anak

Cari AlternatifPekerjaan

Gak Betah di Kampung

Lahan di kampungdikelola orang lain

Tersedia banyakpeluang

Penghasilan mecukupi

pekerjaan tidak cocokdng pendidikan

Sumber : Hasil Survey 2005

Grafik diatas mengambarkan bahwa tidak ada faktor dominan yang menyebabkan

migran masuk ke Pekanbaru. Angka terbesar mereka pindah ke Pekanbaru karena

mencari pekerjaan 24% atau mencari alternatif pekerjaan 23%, hal ini berkaitan

dengan persepsi bahwa di Pekanbaru tersedia banyak peluang pekerjaan yaitu 24%

sama dengan yang mencari Pekerjaan. Ada 12% yang pindah ke Pekanbaru karena

mau buka usaha. Sangat kecil yang pindah ke Pekanbaru karena penghasilan tidak

mencukupi atau karena tidak betah di kampung. Sekali lagi data ini mengambarkan

potensi produktivitas migran yang pindah ke Pekanbaru.

Jika dilihat faktor tarikan tidak ada yang dominan, maka dilihat dari faktor

dorongan dari daerah asalpun juga seluruh faktor yang diajukan juga merata. Hanya

keyakinan di Pekanbaru bisa perbaiki ekonomi yang mencapai 19% dari pilihan

sample.

Grafik 27: Faktor Dorongan Migran ke Pekanbaru.

Page 48: MIgrasi Pekanbaru

11%

16%

2%

12%

12%16%

19%

3% 5% 4%

Belum adapenghasilan

Ada belum memadai

bebas dari kesulitandi kampung

Tidak ada Pekerjaandi Kampung

Tidak ada lahan dikampung

ada tapi terbatas

Di Pku yakin akanperbaiki ekonomi

Yakin karena di desasemakin miskin

Tidak yakin

Hanya Alternatif

Sumber : Hasil Survey 2005

Kedua grafik diatas mengambarkan bahwa para migran yang masuk ke Pekanbaru

disebabkan pengaruh bayangan daya tarik kota, jadi bukan daya tarik Pekanbaru. Ini

terbukti bahwa mereka ke Pekanbaru disebabkan faktor teman dan saudara yang

sudah ada sebelumnya di Pekanbaru.

Faktor tarikan dan dorongan diatas menjadi semakin jelas setelah melihat hasil survey

tentang sikap sample setelah tiba di Pekanbaru dan keinginan bertahan di Pekanbaru,

sebagai mana grafik berikut;

Grafik 28: Sikap Setelah Tiba di Pekanbaru

56%

16%

9%

19%

Tidak menyesal berada di PKUAgak kecewa tiba di PKU tp tidak ada pilihanSetiba di Pku merasa kecewasetiba Pekanbaru merasa biasa aja

Sumber : Hasil Survey 2005

Terdapat 56% sample tidak menyesal pindah ke Pekanbaru, hal ini tentu saja

berkaitan dengan jaminan keluarga dan temannya yang ada di Pekanbaru. Perasaan

Page 49: MIgrasi Pekanbaru

tidak menyesal ini juga dilengkapi dengan 19% yang merasa biasa saja, artinya situasi

ditempat asal sama dengan di Pekanbaru. Namun demikian cukup mengejutkan juga

terdapat 9% yang kecewa dan 16% yang kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa

karena tidak ada pilihan lainnya.

Namun demikian data yang merasa tidak kecewa pindah ke Pekanbaru tidak

begitu tampak pada grafik keinginan menetap di Pekanbaru. Grafik tersebut dibawah

ini berbicara banyak:

Grafik 29 : Keinginan Menetap di Pekanbaru

4%

59%

17%

20%

Sementara di PKU Mungkin Saja Nanti Tidak Betah di Pku

Sumber : Hasil Survey 2005

Ternyata hanya 20% saja yang betah di Pekanbaru di tambah 17% tidak ingin

pindah tetapi tidak memilih betah di Pekanbaru.

Grafik 30: Kota yang menjadi tujuan kalau pindah.

63%25%

10% 2%

Ke kota lain sumaterpulang kampungjktsumbar

Sumber : Hasil Survey 2005

Semua sample ditanyakan kembali ke kota mana tujuan mereka jika harus ingin

pindah dari Pekanbaru? Ternyata 63% responden menginginkan pindah ke kota

masih di Sumatera, 25% pulang kampung dan 10% ke Jakarta dan 2% Sumatera barat.

Data ini dapat mengambarkan bahwa sebenarnya Pekanbaru bukanlah tujuan utama

migran. Pekanbaru merupakan tujuan perantara menjelang tersedia fasilitias yang

Page 50: MIgrasi Pekanbaru

memadai untuk pindah ke kota lain. Jika demikian halnya maka Pekanbaru akan tetap

didominasi usia produktif, karena ketika mencapai usai pensiun migran akan pindah

ke tempat lain yang lebih nyaman atau pulang kampung.

4.5. Pengaruh Migran terhadap Penduduk Miskin

Pengaruh dilihat dari kemampuan produksinya yaitu berapa lama dapat

pekerajaan atau berusaha dan berapa besar pembelanjaannya dan ketelibatan pihak

lain pada kerja dan usahanya

Grafik dibawah ini sangat jelas mengambarkan bahwa kedatangan pertama

sekali migran ke Pekanbaru membawa uang masuk ke Pekanbaru senilai satu bulan

biaya hidup fisik minimum mencapai 50% sampel. Jika dilacak lagi bahwa hampir

80% dibawah 500.000 rupiah. 10% dari sample membawa biaya hidup untuk satu

minggu. Namun demikian modal nekat juga cukup besar mencapai 17%. Sisanya 23%

bantuan keluarga di Pekanbaru.

Grafik 31: Persiapan Uang di Pekanbaru.

50%

10%

17%

23%

1 Bulan 1 minggu nekat bantuan kel

Sumber : Hasil Survey 2005

Berkiatan dengan persiapan modal yang dimiliki, para migran merespon

secara cepat langkah yang akan diambil ketika tiba di Pekanbaru.

Grafik 32 :Aktivitas begitu Tiba di Pekanbaru

Page 51: MIgrasi Pekanbaru

10%

19%

71%

0%

kerja serabutan Buat usaha Cari Kerja Pasrah

Sumber : Hasil Survey 2005

Grafik tersebut sangat jelas mengambarkan aktivitas migran begitu tiba di Pekanbaru.

Tidak satupun dari mereka tersebut berpaku tangan, dimana 71% mencari kerja dan

19% buat usaha kecil-kecilan dan 10 persen kerja serabutan agar bisa bertahan hidup.

Data 10 persen ini tentu saja berkaitan dengan 17% yang datang ke Pekanbaru hanya

bermodal nekat saja.

Berapa lama migran dapat pekerjaan setelah tiba di Pekanbaru? Ternyata dari

grafik dibawah ini menunjukkan terdapat 27 % migran langsung bekerja atau ke

Pekanbaru karena mendapat pekerjaan di Pekanbaru. 11 persen buka usaha kecil-

kecilan dan 40% bekerja setelah satu bulan di Pekanbaru. 22 % lupa berapa lama baru

dapat pekerjaan. Ini artinya akses migran untuk mendapatkan pekerjaan cukup baik,

terbukti bahwa ada yang langsung kerja dan paling lambat 1 satu minggu mereka

sudah bekerja.

Grafik 33 : Lama medapatkan Pekerjaan di Pekanbaru

27%

11%

40%

22%

langsung kerja persiapan usaha satu bulan lupa

Sumber : Hasil Survey 2005

Page 52: MIgrasi Pekanbaru

Adapun jenis Pekerjaan yang diperoleh adalah kerja bangunan (konstruksi),

sales , kerja kantoran, dan oplet (kenek/sopir). Menariknya lagi 51 persen dari migran

ini mengisi sektor formal di dunia kerja di Pekanbaru, 49 persen dari mereka yang

mengisi sector informal yang tidak memerlukan keahlian khusus. Hal ini wajar sekali

karena mayoritas migran yang masuk ke Pekanbaru adalah tamatan SLTA.

Grafik 34 : Pekerjaan yang diperoleh para migran

32%

8%51%

8% 1%

bangunan Sales kantor oplet dagang

Sumber : Hasil Survey 2005

Selain memiliki pekerjaan utama diatas para migran juga berkeinginan

menambah usaha sampingan bahkan 70% para migran telah memiliki usaha

sampingan. Kepemilikan usaha sampingan dan keinginan memiliki usaha sampingan

ini memang menjadi alternatif bagi memenuhi kebutuhan dasar yang makin besar

yang tidak mampu dipenuhi oleh pekerjaan utama mereka. Gambaran usaha

sampingan atau keinginan memiliki usaha sampingan dapat dilihat pada grafik

berikut:

Grafik 35 : Usaha sampingan dan atau rencana usaha sampingan

21%

29%

8%

22%

3%

6%5% 2%2%1%1%

warung kaki lima berdaganga keliling rmh makan punya toko bengkel Jasa Penjahit salonCucian Mobil Kebun

Sumber : Hasil Survey 2005

Page 53: MIgrasi Pekanbaru

Untuk mendukung usaha atau rencana usaha tersebut, migran biasanya mengandalkan

tenaga dalam rumah tangga sebagai tenaga kerja. Jika memerlukan tambahan tenaga

kerja mereka akan ambil tenaga kerjanya, ternyata grafik berikut ini mampu

menjelaskan secara jelas kemana mereka mencari tenaga kerja. Tampak dari data

tersebut umunya migran membawa pekerja dari kampung asal mereka yang mencapai

46%, sisanya 24 persen dari pendatang baru, 19 dan 11 persen dari Pekanbaru dan

pendatang lama. Diperkirakan pilihan ini menyangkut kemampuan pembayaran gaji

kepada pekerjanya. Pekerja yang dari kampung tentu akan lebih murah dan lebih

mudah pula mengontrol karena masih terbatasnya mobilitas pekerja.

Grafik 36 : Sumber tenaga kerja untuk usaha

19%

11%

46%

24%

Dari Pku Pedatang lama bawa dari kampung pendatang baru

Sumber : Hasil Survey 2005

Menarik lagi bahwa para migran yang telah membuka usaha sampingan

menyatakan mereka yakin usahanya akan berkembang dimana mencapai 42 %,

namun demikian 27% tidak, sisanya ragu atau tidak tahu.

Grafik 37: keyakinan usaha mereka akan berkembang.

Page 54: MIgrasi Pekanbaru

42%

12%

27%

19%

yakin ragu tidak tidak tahu

Sumber : Hasil Survey 2005

Migran yang yakin usahanya berkembang tersebut cenderungan bergerak

disektor warung harian, rumah makan dan bengkel. Keyakinan ini tidak lain

disebabkan oleh masih luasnya pasar dan tentu nilai investasinya juga besar.

Terpenting adalah rendahnya konflik dengan masyarakat lokal, terbukti besarnya

penerimaan masyarakat terhadap pendatang.

Grafik : 38 Penerimaan masyarakat lokal pada migran.

74%

2%1%

23%

Justeru dibantu ragu tidak tidak tahu

Sumber : Hasil Survey 2005

Grafik tersebut menunjukkan sikap terbuka masyarakat Pekanbaru terhadap

Pendatang, yang cukup memudahkan bagi pendatang untuk pindah ke Pekanbaru.

*****

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Page 55: MIgrasi Pekanbaru

Salah satu penyumbang angka kemiskinan di Kota Pekanbaru sangat adalah

pendatang dimana jumlah pendatang miskin yang ke Pekanbaru (data Balitbang 2004)

hampir 50% dari penduduk miskin lainnya.

Jumlah pendatang miskin terbesar yang ke Pekanbaru berasal dari Sumatera Utara

yang cenderung berada disektor informal dengan tingkat pendidikan SLTP (24%) dan

SLTA (50%). berasal dari Sumatera Utara mencapai 49% kemudian diikuti oleh

Sumatera Barat 23 %, kemudian diikuti oleh warga Riau diluar Pekanbaru mencapai

18%, sisanya dari Jawa, Sumsel dan Nias.

Perlu perbaikan survey masyarakat miskin kerja Balitbang Provinsi Riau dengan BPS

Riau agar deviasi hasilnya dapat dikurangi.

Pekerjaan Pendatang sekarang adalah berdagang dan sektor jasa perdangan, dan jasa

lainnya.

Usia pendatang adalah usia produktif yaitu 98 % berusia 15-55 tahun sisanya diatas

55 tahun.

Faktor tarikan migran datang ke Pekanbaru lebih dominan oleh keinginan usaha dan

pekerjaan dan kedatang mereka ke Pekanbaru. Variabel dominan yang menyebabkan

mereka pindah ke Pekanbaru lebih disebabkan oleh variabel perantara yaitu keluarga

dan teman yang sudah ada di Pekanbaru. Faktor tarikan migran ke Pekanbaru lebih

disebabkan oleh tarikan semua karena adanya jaminan dari teman dan keluarga di

Pekanbaru. Secara tidak langsung kepindahan pendatang ke Pekanbaru telah

diorganisir oleh keluarga atau teman dan perusahaan yang mempekerjakan tenaga

kerja yang datang dari luar.

Perlu diterbitkan peraturan daerah yang mengatur tentang pendatang, terutama yang

meyangkut syarat-syarat yang ketat untuk masuk ke Pekanabru serata pengaturan

lainnya.

BIBLIOGRAFI

Arief, Nasution, M.1996. Mereka yang Kesemberang, Proses Migrasi TKI ke

Malasyia. Medan: USU Pres.

Budy Tjahjati S Soegijoko. 1985. ‘Dampak Pembangunan Proyek Industri Besar

Kasus Zona Industri Lhok Seumawe’. Prisma no. 12 .

Chayanov: A.V. 1966, The Theory Of Peasant Economy, Illonois : Homewood.

Daljoen, J, 1992, Seluk Beluk Masyarakat Kota, Pusparagam Sosiologi Kota dan

Ekologi Sosial, Bandung, Alumni

Evers, Hans-Dieter, 1991 “Ekonomi Bayangan, Produksi Subsisten dan Sektor

Informal, Ekonomi di Luar Jangkauan Pasar dan Negara” dalam Prisma nomor 5, Mei

1991. Jakarta : LP3ES,

Evers, Hans-Dieter & Rudiger Korff 2002, “Urbanisme di Asia Tenggara” Jakarta

yayasan Obor.

Evers, Hans-Dieter, 1991, “Teori ProduksiSubsisten si dan ProduksiTak Formal”

dalam Jurnal Antropologi Sosiologi No.19, Bangi : UKM.

Hasanudin Jalil, Pekanbaru dari Pandangan Sosilogis tahun 1993.

Page 56: MIgrasi Pekanbaru

Goerge Junus Aditjonro. 1994. ‘Dampak Industrialisasi Terhadap Lingkungan dan

Upaya Warga Masyarakat dalam Menghadapinya’ dalam Johanes Maridin (ed.)

Jangan Tangisi Tradisi; Transformasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia

Modern. Yogyakarta: Kanisius

Nas, P.JM, 1984, Pengantar Sosiologi Kota, Jakarata : Bhrtara Karya Asmira

Rawa, Muhammad El Amady, 1997, ‘Dampak Kehadiran Industri di Dusun Pertiwi

Riau, Indonesia’ kertas Projek Sarjana Jabatan Antropologi dan Sosiologi UKM

Malaysia.

Rahimah Abdul Aziz, 1989, Pengantar Sosiologi Pembangunan, Kuala Lumpur :

Dewan Bahasa dan Pustaka.

Scott, James C, 1981 (terjemahan) : Moral ekonomi Tani, Pergolakan dan Subtensi di

Asia Tenggara, Jakarta : LP3ES.

Schoorl, JW. 1988. Modernisasi: Jakarta; Gramedia.

Yacob Harun, 1993, Keluarga Melayu Bandar Suatu Analisis Perubahan, Dewan

Bahasa dan Pustaka : Kuala Lumpur.