metode pemantauan ekosistem tanaman kelapa

6
 © I W. Mudita (2004) Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT 1 METODE PEMANTAUAN AGROEKOSISTEM SERTA PERAMALAN HAMA DAN PENYAKIT: Tanaman Kelapa 1  I W. Mudita Dosen pada PS Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Undana, Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang 85001, NTT, e-mail: mudita.mailto@gmail.com  A. Apa dan Mengapa Perlu Pemantauan Agroekosistem? Segala sesuatu yang terdapat di kebun kelapa sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Tanaman kelapa memperoleh unsur hara dan air dari dalam tanah dan udara serta energi dari matahari. Bersama-sama dengan tanaman kelapa, tumbuh berbagai jenis tumbuhan lain yang bersaing untuk memperoleh unsur hara, air, dan energi sinar matahari. Tanaman kelapa dan tumbuhan lain dimakan oleh berbagai jenis binatang pemakan tumbuhan, sedangkan binatang pemakan tumbuhan akan dimakan oleh binatang pemakan daging. Tumbuhan, termasuk tanaman kelapa, dan binatang akan mati dan dimakan oleh pemakan tumbuhan mati dan bangkai binatang. Sisanya selanjutnya akan diuraikan oleh jasad renik yang hidup di udara maupun di dalam tanah sehingga kembali menjadi unsur hara dan air. Hubungan timbal balik antara tumbuhan, binatang, tanah, air, dan udara di dalam kebun kelapa tersebut membentuk suatu ekosistem. Karena kebun kelapa adalah lahan pertanian maka ekosistemnya disebut ekosistem pertanian atau agroekosistem untuk membedakannya dengan ekosistem alami seperti semak belukar dan hutan. Di dalam ekosistem, berbagai kelompok mahluk hidup tergantung pada benda-benda mati seperti tanah, air, udara, dan sinar matahari selain juga tergantung pada mahluk hidup lain. Berbagai mahluk hidup yang saling tergantung satu sama lain dalam suatu ekosistem membentuk komunitas biotik. Mahluk-mahluk hidup yang membentuk suatu komunitas biotik dapat dibeda-bedakan berdasarkan jenisnya, misalnya tanaman kelapa Cocos nucifera, tumbuhan bunga putih Chromolaena odorata , kutu perisai  Aspidiotus destructor , kutu kapuk  Aleurodicus destructur , kumbang kubah Chilocorus politus, dan sebagainya, yang masing-masing terdiri atas sejumlah individu. Seluruh individu dari suatu mahluk hidup yang membentuk suatu komunitas biotik disebut populasi. Populasi terdiri atas sejumlah individu yang khusus untuk serangga dapat berupa fase pertumbuhan yang berbeda, misalnya larva, nimfa, atau imago. Jumlah individu yang menyusun suatu populasi disebut padat populasi. Pemantauan agroekosistem merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan agroekosistem. Pada langkah pertama, pemantauan dilakukan untuk menentukan apa-apa saja yang menyusun suatu agroekosistem, dalam hal ini agroekosistem kelapa. Pada langkah kedua, pemantauan dilakukan untuk menentukan hubungan antara bagian- bagian yang menyusun suatu agroekosistem. Misalnya bagaimana hubungan antara kutu perisai  Aspidiotus destructor  dengan kumbang kubah Chilocorus politus dan hubungan keduanya dengan iklim, katakanlah suhu udara dan curah hujan? Pada langkah ketiga, pemantauan dilakukan untuk mengukur keadaan setiap bagian yang menyusun suatu agroekosistem. Misalnya, bila pada langkah pertama telah diketahui adanya kutu perisai  Aspidiotus destructor dan kumbang kubah Chilocorus politus  maka pada langkah ketiga perlu ditentukan berapa banyak jumlah ngengat dan semut hitam tersebut dan bagaimana keadaan iklim, misalnya suhu udara dan curah hujan. Pada langkah keempat, pemantauan dilakukan untuk memperoleh data guna melakukan peramalan letusan hama atau penyakit. Dalam hal ini, data yang diperoleh, setelah dianalisis dengan menggunakan teknik tertentu, dapat digunakan untuk meramalkan terjadinya letusan hama atau penyakit pada waktu yang akan datang. Pada langkah kelima, pemantauan dilakukan untuk memperoleh data 1) Materi Pelatihan Petugas Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu Tanaman Kelapa dan Kelapa yang Diselenggarakan Dinas Perkebunan Provinsi NTT di Kupang pada 27 September-9 Oktober 2004

Upload: muditateach

Post on 17-Jul-2015

131 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 1/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  1

METODE PEMANTAUAN AGROEKOSISTEM SERTAPERAMALAN HAMA DAN PENYAKIT:

Tanaman Kelapa1 

I W. MuditaDosen pada PS Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Undana,

Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang 85001, NTT, e-mail: [email protected]

A. Apa dan Mengapa Perlu Pemantauan Agroekosistem?Segala sesuatu yang terdapat di kebun kelapa sesungguhnya tidak berdiri sendiri.

Tanaman kelapa memperoleh unsur hara dan air dari dalam tanah dan udara serta energidari matahari. Bersama-sama dengan tanaman kelapa, tumbuh berbagai jenis tumbuhanlain yang bersaing untuk memperoleh unsur hara, air, dan energi sinar matahari. Tanamankelapa dan tumbuhan lain dimakan oleh berbagai jenis binatang pemakan tumbuhan,

sedangkan binatang pemakan tumbuhan akan dimakan oleh binatang pemakan daging.Tumbuhan, termasuk tanaman kelapa, dan binatang akan mati dan dimakan oleh pemakantumbuhan mati dan bangkai binatang. Sisanya selanjutnya akan diuraikan oleh jasad renikyang hidup di udara maupun di dalam tanah sehingga kembali menjadi unsur hara dan air.

Hubungan timbal balik antara tumbuhan, binatang, tanah, air, dan udara di dalamkebun kelapa tersebut membentuk suatu ekosistem. Karena kebun kelapa adalah lahanpertanian maka ekosistemnya disebut ekosistem pertanian atau agroekosistem untukmembedakannya dengan ekosistem alami seperti semak belukar dan hutan. Di dalamekosistem, berbagai kelompok mahluk hidup tergantung pada benda-benda mati sepertitanah, air, udara, dan sinar matahari selain juga tergantung pada mahluk hidup lain.Berbagai mahluk hidup yang saling tergantung satu sama lain dalam suatu ekosistemmembentuk komunitas biotik. Mahluk-mahluk hidup yang membentuk suatu komunitasbiotik dapat dibeda-bedakan berdasarkan jenisnya, misalnya tanaman kelapa Cocos nucifera , tumbuhan bunga putih Chromolaena odorata , kutu perisai Aspidiotus destructor ,kutu kapuk Aleurodicus destructur , kumbang kubah Chilocorus politus , dan sebagainya,yang masing-masing terdiri atas sejumlah individu. Seluruh individu dari suatu mahlukhidup yang membentuk suatu komunitas biotik disebut populasi. Populasi terdiri atassejumlah individu yang khusus untuk serangga dapat berupa fase pertumbuhan yangberbeda, misalnya larva, nimfa, atau imago. Jumlah individu yang menyusun suatupopulasi disebut padat populasi.

Pemantauan agroekosistem merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahuikeadaan agroekosistem. Pada langkah pertama, pemantauan dilakukan untuk menentukanapa-apa saja yang menyusun suatu agroekosistem, dalam hal ini agroekosistem kelapa.Pada langkah kedua, pemantauan dilakukan untuk menentukan hubungan antara bagian-bagian yang menyusun suatu agroekosistem. Misalnya bagaimana hubungan antara kutu

perisai Aspidiotus destructor  dengan kumbang kubah Chilocorus politus  dan hubungankeduanya dengan iklim, katakanlah suhu udara dan curah hujan? Pada langkah ketiga,pemantauan dilakukan untuk mengukur keadaan setiap bagian yang menyusun suatuagroekosistem. Misalnya, bila pada langkah pertama telah diketahui adanya kutu perisaiAspidiotus destructor  dan kumbang kubah Chilocorus politus  maka pada langkah ketigaperlu ditentukan berapa banyak jumlah ngengat dan semut hitam tersebut dan bagaimanakeadaan iklim, misalnya suhu udara dan curah hujan. Pada langkah keempat, pemantauandilakukan untuk memperoleh data guna melakukan peramalan letusan hama atau penyakit.Dalam hal ini, data yang diperoleh, setelah dianalisis dengan menggunakan teknik tertentu,dapat digunakan untuk meramalkan terjadinya letusan hama atau penyakit pada waktuyang akan datang. Pada langkah kelima, pemantauan dilakukan untuk memperoleh data

1) Materi Pelatihan Petugas Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu Tanaman Kelapadan Kelapa yang Diselenggarakan Dinas Perkebunan Provinsi NTT di Kupang pada 27September-9 Oktober 2004

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 2/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  2

yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian. Pemantauandalam hal ini merupakan dasar pengambilan keputusan pengendalian, baik pengambilankeputusan berdasarkan ambang ekonomi maupun tanpa ambang ekonomi.

B. Apa yang Harus Dipantau?Pemantauan agroekosistem dilakukan terhadap bagian-bagian agroekosistem yang

penting sebagai berikut:1) Tanaman kelapa, teknik budidaya, dan hasilnya. Dalam hal ini pemantauan dilakukan

terhadap klon tanaman, umur tanaman, jarak tanam, pola pertanaman (monokulturatau tumopangsari), sanitasi, pemupukan, pengendalian hama jika pernah dilakukan,cara panen dan pascapanen, dan harga hasil.

2) Hama dan penyakit kelapa. Untuk hama dilakukan pemantauan terhadap padatpopulasi hama dan kerusakan tanaman akibat serangan hama, sedangkan untukpenyakit dilakukan pemantauan terhadap intensitas penyakit

3) Musuh alami hama dan penyakit. Dalam hal ini dilakukan terhadap jenis musuh alamiyang ada dan padat populasi setiap jenis.

4) Keadaan faktor lingkungan. Pemantauan dilakukan terhadap faktor lingkungan,

terutama faktor yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan hama danpenyakit seperti suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, hari hujan, dansebagainya. Bila diperlukan juga dilakukan pemantauan terhadap keadaan tanahmisalnya terhadap kelembaban tanah, pH tanah, kesuburan tanah, dan sebagainya.Pemantauan faktor lingkungan dapat dilakukan secara tidak langsung denganmengambil data sekunder dari instansi terkait.

5) Kehilangan hasil. Dilakukan terhadap hasil kelapa pada saat tanaman terserang hamaatau menderita penyakit dan hasil kelapa ketika tanaman masih sehat denganmelakukan pengamatan langsung dan wawancara dengan petani.

C. Bagaimana Merencanakan Pemantauan?Pemantauan agroekosistem tanaman kelapa tentu saja tidak dapat dan memang

tidak perlu dilakukan terhadap seluruh kebun kelapa yang ada. Pemantauan terhadapseluruh kebun kelapa akan memerlukan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.Pemantauan hanya mungkin dilakukan terhadap sejumlah kebun kelapa yang terdapat disuatu hamparan pertanaman kelapa. Persoalannya adalah bagaimana agar kebun yangdipantau dapat mewakili seluruh hamparan tanaman kelapa yang ada. Untuk itu makapemantauan agroekosistem perlu direncanakan. Perencanaan dilakukan untukmenetapkan:

1) Batas-batas hamparan areal pertanaman kelapa yang akan dipantau. Batas-batashamparan areal pertanaman perlu ditentukan karena data hasil pemantauan harusmewakili suatu wilayah tertentu. Batas-batas hamparan dapat ditentukan denganmengacu pada batas-batas wilayah administratif, misalnya di suatu kecamatan,maupun batas-batas ekologis, misalnya di suatu daerah aliran sungai.

2) Satuan yang akan dipantau secara langsung dalam pelaksanaan pemantauan. Satuanyang akan dipantau secara langsung dapat berupa satuan kebun, satuan individutanaman dalam satu kebun, atau satuan buah kelapa dalam satu individu tanaman.Penentuan satuan pemantauan penting dilakukan dalam kaitan dengan menentukanrancangan pemantauan. Bila satuan pemantauan adalah kebun petani makapengamatan hama dan musuh alaminya harus dilakukan dalam kebun secarakeseluruhan. Bila satuan pemantauan adalah individu tanaman maka pengamatanpopulasi hama dan musuh alaminya harus dilakukan pada satu individu tanamansecara keseluruhan. Bila satuan pemantauan adalah buah kelapa maka pengamatandilakukan terhadap buah-buah tertentu pada setiap individu tanaman kelapa. Seluruhsatuan pemantauan akan membentuk suatu daftar kerangka pemantauan.

3) Rancangan pemantauan untuk menentukan cara pengambilan satuan pemantauanyang akan diamati. Pengambilan satuan pemantauan untuk diamati dari kerangkapemantauan yang mencakup seluruh areal dapat dilakukan secara acak sederhanaatau secara sistematik. Pengambilan satuan pemantauan secara acak dilakukan

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 3/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  3

dengan mendaftar seluruh satuan pemantauan yang membentuk suatu kerangkapemantauan dan kemudian mengambil satuan pemantauan tertentu secara acakdengan cara tertentu, misalnya dengan penarikan lotere. Pengambilan satuanpemantauan secara sistematik tidak perlu disertai dengan penyediaan kerangkapemantauan. Pada pengambilan satuan pemantauan secara sistematik, pengacakan

dilakukan hanya terhadap satuan pemantauan yang pertama. Satuan pemantauanberikutnya dilakukan dengan aturan tertentu, misalnya dengan menentukan posisitanaman dengan mengikuti pola tertentu. Mengingat satuan pemantauan dapat berupakebun, individu tanaman, atau bagian tertentu dari tanaman maka rancanganpemantauan dapat dilakukan secara bertingkat. Misalnya mula-mula ditentukansejumlah kebun dari satu hamparan, selanjutnya individu tanaman dari setiap kebunyang terambil, dan terakhir bagian tanaman dari setiap individu tanaman yang terambil.

4) Jumlah satuan pemantauan yang harus diamati. Jumlah satuan pemantauan yangharus diambil dari suatu hamparan disebut ukuran pemantauan. Ukuran pemantauanmenentukan keterwakilan satuan pemantauan terhadap hamparan areal pertanamanyang dipantau. Pada dasarnya semakin banyak satuan pemantauan yang diambilmaka semakin akurat data hasil pemantauan, tetapi akan memerlukan tenaga, waktu,

dan biaya yang makin banyak. Ukuran pemantauan yang memadai agar diperoleh datayang dapat mewakili hamparan dapat ditentukan secara statistik. Namun perludiketahui pula bahwa pengamatan terhadap satuan pemantauan dalam jumlah besarakan sangat melelahkan sehingga hasil pemantauan menjadi kurang akurat justerukarena jumlah satuan pemantauan terlalu banyak.

5) Frekuensi dan periode pemantauan yang harus dilakukan. Frekuensi pemantauanmenyatakan berapa kali pemantauan harus dilakukan selama kurun waktu tertentu.Frekuensi pemantauan berkaitan dengan periode pemantauan, yaitu lama waktu diantara pelaksanaan dua pemantauan berurutan. Bila frekuensi pemantauan dalamsetahun adalah 12 kali maka periode pemantauan menjadi setiap bulan. Penentuanfrekuensi dan periode pemantauan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor daurhidup hama dan musuh alaminya dan kepraktisan pelaksanaan pemantauan.

D. Apa yang Perlu Dipersiapkan?Pemantauan memerlukan bahan dan alat serta pelaksanaan pelaksanaan

pemantauan. Bahan, alat, dan pelaksanaan tersebut perlu dipersiapkan agar pemantauandapat dilaksanakan sebagaimana yang telah direncanakan. Persiapan yang perludilakukan adalah sebagai berikut:

1) Bahan. Bahan yang perlu dipersiapkan terutama adalah bahan untuk keperluanpencatatan hasil pemantauan berupa daftar pertanyaan dan tabel pengamatan. Selaindaftar pertanyaan dan tabel pengamatan juga perlu dipersiapkan format tabulasi yangbila memungkinkan dilakukan dengan bantuan komputer. Format tabulasiterkomputerisasi dapat dipersiapkan dengan menggunaan program aplikasi tabel lajurExcel. Bahan yang juga perlu dipersiapkan adalah yang diperlukan untuk

pengoperasian perlatan tertentu seperti minyak tanah untuk lampu perangkapberbahan bakar minyak. Bila diperlukan pengumpulan spesimen maka perludipersiapkan bahan untuk membunuh dan mengawetkan serangga, misalnya kamper,formalin, atau bahan pestisida tertentu.

2) Alat. Alat yang diperlukan sangat tergantung pada jenis hama atau penyakit utamayang akan dipantau dan cara pelaksanaan pemantauan. Namun terlepas dari itu, perludipersiapkan alat-alat dasar seperti meteran kain, kaca pembesar, altimeter,termometer bola basah dan bola kering, dan kompas. Bila diperlukan perangkap makaharus dipilih tipe perangkap yang akan digunakan, apakah berupa perangkapberperekat, perangkap lampu, perangkap volumetrik, dan sebagainya. Bila diperlukanpengambilan spesimen maka harus dipersiapkan wadah spesimen berupa kantongatau kotak plastik.

3) Pelaksanaan. Persiapan yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pemantauantergantung pada siapa yang akan melakukan pemantauan. Bila pemantauan akandilakukan oleh petani maka tidak banyak yang perlu dipersiapkan untuk melaksanakan

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 4/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  4

pemantauan kecuali waktu. Namun bila pemantauan akan dilakukan oleh petugaspengamat hama atau penyuluh maka perlu dipersiapkan waktu pelaksanaan, surat-surat yang berkaitan dengan penugasan, sarana transportasi, dan akomodasi selamapelaksanaan pemantauan.

E. Siapa yang Harus Melakukan dan Bagaimana Melakukan Pemantauan?Pemantauan dapat dilakukan sendiri oleh petani sebagaimana lazim di negara-

negara maju. Pelaksanaan pemantauan oleh petani tentu saja memerlukan pelatihanpetani agar dapat melaksanakan pemantauan dan melaporkan hasilnya. Pemantauan jugadapat dilakukan oleh petugas, dalam hal ini petugas pengamat hama, penyuluh, ataupetugas dinas perkebunan sendiri.

Bagaimana melakukan pemantauan sangat tergantung pada apa yang dipantau,apakah yang dipantau adalah tanaman kelapa sendiri, hama dan penyakit kelapa, musuhalami hama dan penyakit kelapa, keadaan lingkungan dan kehilangan hasil. Pemantauantanaman dapat dilakukan dengan melihat secara langsung di lapangan. Pengamatan hamadan penyakit serta musuh alaminya biasanya dilakukan terhadap padat populasi, intensitaskerusakan, dan intensitas penyakit sebagai berikut:

1) Pengamatan padat populasi dilakukan dengan metode mutlak, metode nisbi, danindeks populasi. Pengamatan padat populasi dikatakan mutlak bila padat populasihasil pengamatan dapat dinyatakan dalam satuan pengamatan yang dapat diukur,misalnya jumlah koloni kutu perisai per helai anak daun kelapa atau jumlah kutu perisaidewasa per m3 udara. Pengamatan padat populasi dikatakan nisbi apabila padatpopulasi hasil pengamatan tidak dapat dinyatakan dalam satuan pengamatan yangdapat diukur, misalnya jumlah kutu perisai dewasa per sekali ayun jaring serangga.Pengamatan padat populasi dikatakan bersifat sebagai indeks populasi bila yangdiamati hanya bekas hama atau penyakit, misalnya jumlah perisai mati dansebagainya.

2) Intensitas kerusakan tanaman oleh hama dan intensitas penyakit. Intensitas kerusakantanaman oleh hama sering disebut intensitas serangan. Istilah serangan sebenarnya

kurang tepat sebab ketika dilakukan pengamatan yang diamati bukanlah proses hamamenyerang tetapi kerusakan yang diakibatkan oleh terjadinya serangan pada tanaman.Karena keduanya menggunakan intensitas maka pengamatan intensitas kerusakankarena serangan hama maupun intensitas penyakit dilakukan dengan prinsip yangsama, yang selama ini umumnya dilakukan dengan pemberian skor berdasarkankepada keadaan kerusakan atau penyakit tertentu. Karena dilakukan denganmemberikan skor maka hasil pengamatan akan sangat tergantung pada siapa yangmemberikan skor. Hal ini bisa diperbaiki bila pemberian skor disertai dengan panduangambar kerusakan atau keadaan penyakit berskala. Pilihan lain yang dapat dilakukanuntuk mengamati kerusakan adalah dengan menghitung jumlah bagian-bagian satuanpengamatan yang rusak. Misalnya jika satuan pengamatan adalah pelepah daunkelapa maka intensitas kerusakan atau intensitas penyakit dapat diamati denganmenghitung jumlah seluruh anak daun dan jumlah anak daun rusak atau bergejalapenyakit yang terdapat dalam suatu pelepah. Intensitas kerusakan atau intensitaspenyakit untuk setiap anak daun dapat dinyatakan dengan menghitung jumlah lembardaun yang rusak atau bergejala penyakit 0, >0-25, >25-50, >50-75, dan >75-100%.Cara ini akan memberikan hasil yang lebih konsisten daripada melakukan pengamatandengan skor.

Pemantauan hasil dapat dilakukan dengan penghitungan atau penimbanganlangsung atau melalui wawancara dengan petani. Pemantauan harga juga dapat dilakukandengan melakukan wawancara dengan petani atau dengan pedagang perantara danpedagang pengumpul. Pemantauan faktor lingkungan dapat dilakukan dengan melakukanpengukuran secara langsung di lapangan atau dengan mengumpulkan data sekunder dariinstansi terkait, misalnya data suhu dan curah hujan dari stasiun klimatologi terdekat.

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 5/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  5

F. Bagaimana Menggunakan Hasil Pemantauan untuk Melakukan Peramalan Hamadan Penyakit?

Peramalan hama atau penyakit merupakan proses untuk menentukan akanterjadinya letusan hama atau penyakit di masa yang akan datang dengan menggunakandata hasil pemantauan yang tersedia pada saat ini. Istilah yang lebih tepat sebenarnyaadalah prakiraan, sebagaimana digunakan dalam prakiraan cuaca. Prakiraan dilakukandengan menggunakan metode dan teknik tertentu yang didasarkan pada data yangtersedia, sedangkan peramalan mengandung makna meramal seperti misalnya paranormalmeramal masa depan seseorang.

Peramalan hama dan penyakit tidak perlu dilakukan terhadap semua jenis hamadan penyakit. Peramalan diperlukan bila:1) Hama dan penyakit merupakan hama dan penyakit sewaktu-waktu, seperti misalnya

kutuperisai dan kutu kapuk pada kelapa. Hama dan penyakit yang selalu ada tidakperlu diramalkan lagi, misalnya penyakit busuk batang vanili.

2) Peramalan hanya diperlukan terhadap hama dan penyakit penting pada komoditasyang bernilai ekonomis tinggi. Hal ini karena peramalan memerlukan tenaga, waktu,dan biaya yang tidak sedikit.

3) Peramalan diperlukan hanya bila dapat dilakukan pengambilan keputusan dantindakan pengendalian secara cepat. Bila pengambilan keputusan harus mengikutiproses birokrasi yang rumit serta sarana dan prasarana yang diperlukan untukmelakukan tindakan pengendalian tidak tersedia maka peramalan tidak akan adamanfaatnya.

4) Peramalan diperlukan bagi hama dan penyakit penting yang telah tersedia teknologipengendaliannya. Bila teknologi pengendalian belum tersedia maka peramalan akanmubazir.

5) Peramalan akan bermanfaat bila petani siap berpartisipasi melakukan tindakanpengendalian yang perlu dilakukan.

Untuk melakukan peramalan diperlukan suatu model. Model merupakanpenyederhanaan dari proses saling ketergantungan yang terjadi dalam agroekosistem

yang akan berpengaruh terhadap perkembangan padat populasi hama. Model dapatbersifat analitik atau simulasi. Suatu model analitik menerangkan perkembangan padatpopulasi hama atau intensitas penyakit berdasarkan pengaruh jumlah faktor yang terbatas,biasanya berdasarkan pengaruh satu atau dua faktor. Suatu model simulasi menerangkanperkembangan padat populasi hama atau intensitas penyakit berdasarkan pengaruhbanyak faktor. Yang dimaksud dengan faktor di sini adalah segala sesuatu yangberpengaruh terhadap naik atau turunnya padat populasi hama atau intensitas penyakit.Proses untuk merangkaikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan padatpopulasi hama atau intensitas penyakit tersebut dikenal dengan pemodelan. Pemodelananalitik maupun simulasi pada saat ini dilakukan terutama dengan bantuan komputer.Model-model analitik maupun simulasi tersebut dituliskan dalam bentuk program komputer.Data hasil pemantauan kemudian dimasukkan ke dalam program sebagai masukan ( input )untuk menghasilkan keluaran (output ) berupa padat populasi hama atau intensitas penyakityang akan terjadi pada waktu yang akan datang.

Untuk lebih memahami bagaimana peramalan hama dan penyakit dilakukanmisalkan perkembangan kutu perisai kelapa dipengaruhi oleh suhu udara, curah hujanbulanan, kecepatan angin rata-rata bulanan, dan padat populasi musuh alami. Misalkanpengaruh faktor-faktor tersebut terhadap padat populasi kutu perisai kelapa yangdinyatakan sebagai X adalah berturut-turut A, B, C, dan D. Dalam hal ini nilai X tergantungpada nilai A, B, C, dan D, sedangkan nilai D tergantung pada nilai X, A, B, dan C.Hubungan ketergantungan tersebut dinyatakan dalam persamaan matematik yangkemudian diprogram ke dalam komputer. Ketika ke dalam program dimasukkan nilai A, B,C, dan D maka akan dihasilkan nilai X, misalnya, pada waktu satu bulan yang akan datang.Contoh peramalan yang dilakukan dengan bantuan komputer adalah BLITECAST untukmeramalkan penyakit hawar lambat (late blight ) pada tanaman kentang di AS.

5/14/2018 Metode Pemantauan Ekosistem Tanaman Kelapa - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/metode-pemantauan-ekosistem-tanaman-kelapa 6/6

 

 © I W. Mudita (2004)

Materi Pelatihan Petugas SLPHT Dinas Perkebunan Provinsi NTT  6

Daftar PustakaBurrage, S.W. 1978. Monitoring the Environment in Relation to Epidemiology. In: Plant Disease Epidemiology.

Pp. 93-101. P.R. Scott & A. bainbridge (eds.). Blackwell, Oxford (8)Campbell, C.L., and L.V. Madden, 1990. Introduction to Plant Disease Epidemiology. John Wiley & Sons, New

York (2, 4, 7)

Danthanarayana, W. 1975. Integrated Pest Management: Part 1, Population Ecology. Universitas Udayana,Denpasar. (5)

Fritschen, L.J., & L.W. Gay 1979. Environmental Instrumentation. Springer, Berlin (8).Hunt, R. 1982. Plant Growth Curves: The Functional Approach to Plant Growth Analysis. University Park Press,

Baltimore (4).Johnson, L.F., & E.A. Curl 1972. Methods for Research on the Ecology of Soil-Borne Plant Pathogens. Burgess

Publishing Company, Minneapolis (10).Kranz, J., & J. Rotem 1988. Experimental Techniques in Plant Disease Epidemiology. Springer-Verlag, Berlin

(7).Ludwig, J.A., & J.F. Reynolds 1988. Statistical Ecology: A Primer on Methods and Computing. John Wiley &

Sons, New York (6, 11).Nazir, 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta (1, 3)

Pollet, A., & Nasrullah 1994. Penggunaan Metode Statistika untuk I lmu Hayati. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta (11).

Poole, R.W. 1974. An Introduction to Quantitative Ecology. McGraw-Hill Kogakusha, Tokyo. (5)Rosenberg, N.J., B.L. Blad, & S.B. Verma 1983. Microclimate: The Biological Environment. John Wiley & Sons,

New York (8).Singarimbun, M., & S. Effendi (eds.) 1995. Metode Penelitian Survai. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta (1, 3)Southwood, T. R. E. 1978. Ecological Methods With Particular Reference to the Study of Insect Populations.

John Wiley & Sons, New York. (5)Tarumingkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi: Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan dan

Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta. (5)