lp hipertensi

of 23 /23
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS ARJOWINANGUN Disusun oleh : Didin Hidayat 201420461011051 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN

Upload: didin-hidayat

Post on 08-Dec-2015

17 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

belajar bersama :)

TRANSCRIPT

Page 1: LP Hipertensi

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

DI PUSKESMAS ARJOWINANGUN

Disusun oleh :

Didin Hidayat

201420461011051

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI

NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

Page 2: LP Hipertensi

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MALANG

2015

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

I. DEFINISI

Hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatan

tekanan darah secara kronis. Tekanan darah yang selalu tinggi

dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal juantung dan

aneurisma arterial dan penyebab utama gagal ginjal kronis 1

Menurut WHO tahun 1999, batas tekanan darah yang masih

dianggap normal adalah (sistole ≥140, diastole ≤90 mmHg) dan

tekanan darah sama dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan

sebagai hipertensi.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan

pada sistem peredaran darah yang sering terdapat pada usia

pertengahan atau lebih, yang ditandai dengan tekanan darah lebih

dari normal. Hipertensi menyebabkan perubahan pada pembuluh

darah yang mengakibatkan makin meningkatnya tekanan darah.2

Hipertensi dengan peningkatan tekanan systole tanpa disertai

peningkatan tekanan diastole lebih sering pada lansia, sedangkan

hipertensi peningkatan tekanan diastole tannpa disertai peningkatan

tekanan systole lebih sering terdapat pada dewasa muda.

II. ETIOLOGI

Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial

Penyebabnya tidak di ketahui, disebut juga hipertensi idiopatik.

Terdapat sekitar 95% kasus banyak faktor yang

mempengaruhinya seperti : genetic, usia, lingkungan,

Page 3: LP Hipertensi

hiperaktivitas, susunan saraf simpatis, system rennin

angiotensin, defek dalam ekskresi natrium. Peningkatan Na+, ca

intra selular dan faktor – faktor yang meningkatkan resiko

seperti obesitas, alcohol, merokok, serta polisitemia.

b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal

Penyebab spesifiknya, seperti penggunaan hormon estrogen

(KB), penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal,

hiperaldosteronisme primer dan sindrom cushing. 3

III. KLASIFIKASI

Klasifikasi hipertensi menurut WHO (1999)

Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolic (mmHg)

Normal tensi < 140 <90

Hipertensi

ringan/tingkat 1

140 – 159 90 – 99

Hipertensi

sedang/tingkat 2

160 - 179 100 – 109

Hipertensi berat/tingkat

3

≥ 180 ≥ 110

Hipertensi menurut kelompok umur berbeda

Kelompok usia Normal (mmHg) Hipertensi (mmHg)

Bayi 80/40 90/60

Anak (7 – 11 th) 100/60 120/80

Remaja (12 – 17 th) 115/70 130/80

Dewasa (20 – 45 th) 120-125/75-80 135/90

Dewasa (45 – 65 th) 135-140/85 140/90 – 160/95

Dewasa (> 65 th) 150/85 160/95

Page 4: LP Hipertensi

Menurut dr. Jan tambayong, 1999. (patofisiologi untuk keperawatan)

V. MANIFESTASI KLINIS

a. Pemeriksaan fisik jarang dijumpai selain peningkatan tekanan

darah, dapat pula ditemukan perubahan pada retina seperti

perdarahan, exudat, penyempitan pembuluh darah dan pada

kasus hypertensi berat dapat ditemukan edema pupil.

b. Gejala klasik : sakit kepala, epistaksis, pusing dan migren, cepat

marah, telinga berdenging, suka tidur, rasa berat ditengkuk dan

mata berkunang-kunang.

c. Gejala lain yang disebabkan oleh komplikasi hypertensi seperti

gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gagal jantung dan

gangguan fungsi ginjal. Gangguan serebral yang disebabkan oleh

hypertensi dapat berupa kejang, gejala akibat perdarahan

pembuluh darah otak yang berupa kelumpuhan, gangguan

Page 5: LP Hipertensi

kesadaran bahkan sampai koma. Apabila gejala tersebut timbul,

merupakanpertanda tekanan darah perlu segera diturunkan.

VI. FAKTOR RESIKO

Yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah

a. Faktor genetik : adanya bukti bahwa kejadian hipertensi lebih

banyak dijumpai pada penderita kembar monozoit daripada

heterozigot

b. Jenis kelamin : pada umumnyua insiden pada pria lebih tinggi

dari pada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua,

insiden pada wanita mulai meningkat, sehingga pada usia diatas

65 tahun isiden pada wanita lebih tinggi.

c. Usia: insiden hipertensi makin meningkat dengan bertambahnya

usia. Hipertensi pada yang berusia < 35 th dengan jelas

menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian dini.

d. Ras: hipertensi pada yang berkulit hitam paling sedikit dua

kalinya pada yang berkulit putih. Akibat penyakit ini umumnya

lebih berat pada ras kulit hitam. Misalnya mortalitaspasien pria

hitam dengan diastole 115 atau lebih 3,3 kali lebih tinggi

daripada pria berkulit putih dan 5,6 kali bagi wanita putih.

e. Pola hidup : faktor seperti pendidikan, penghasilan dan faktor

p0ola hidup lain telah di teliti, tanpa hasil yang jelas.

Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah dan kehidupan

atau pekerjaan yang penuh stres agaknya berhubungan dengan

insidens hipertensi yang lebih tinggi. Obesitas di pandang

sebagai faktor resiko utama, bila berat badan turun, tekanan

darahnya sering turun menjadi normal. Merokok dipandang

sebagai faktor resiko tinggi bagi hipertensi dan penyakit arteri

koroner. Hiperkolosterolemia dan hiperglikemia adalah faktor-

faktor utama untuk perkemabangan aterosklerosis, yang

berhubungan erat dengan hipertensi.

f. Diabetes melitus : hubungan antara diabetes militus kurang

jelas, namun secara statistik nyata pada hubungan anatara

hipertensi dan penyakit arteri koroner. Penyebab utama

Page 6: LP Hipertensi

kematian pasien DM adalah penyakit kardiovaskuler, terutama

yang mulainya dini dan kurang kontrol. Hipertensi dengan DM

meninbgkatkan mortalitas.

g. Peranan ginjal : penyebab hipertensi sekunder

h. Penumpukan garam

i. Ketidak seimbangan kimiawi : disebabkan oleh pembesaran dan

kegiatan yang berlebihan pada salah satu kelenjar adrenalin

j. Alkohol : meninggi bila minum lebih dari 3X per hari

k. Pil kontrasepsi kombinasi

VII. PENATALAKSANAAN

Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah

menurunkan resiko penyakit cardiovaskuler dan mortalitas serta

morbilitas yang berkaitan dengan tujuan terapi adalah mencapai dan

memepertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan

diastolic dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko. Hal ini

dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup atau dengan obat anti

hipertensi.

1. Penatalaksanaan sesuai kelompok resiko:

a. Pasien dengan tekanan darah perbatasan atau tingkat 1, 2,

atau 3, tanpa gejala penyakit cardiovaskuler, kerusakan

organ atau faktor resiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya

hidup tekanan darah belum dapat diturunkan maka harus

diberi obat anti hipertensi.

b. Pasien tanpa penyakit cardiovaskuler atau kerusakan organ

lainnya, tapi memiliki satu atau lebih faktor resiko namun

bukan diabetes mellitus jika terdapat beberapa faktor maka

harus langsung diberikan obat anti hipertensi.

c. Pasien dengan gejala klinis penyakit cardiovaskuler atau

kerusakan organ yang jelas.

Page 7: LP Hipertensi

Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi resiko

Tekanan darah

Kelompok resiko A

Kelompok resiko B

Kelompok resiko C

Hipertensi ringan/tingkat1 (140 – 159 mmHg / 90 – 99 mmHg)

Modifikasi gaya hidup

Modifikasi gaya hidup

Dengan obat

Hipertensi sedang/tingkat2(160 – 179 mmHg / 100 – 109 mmHg)

Modifikasi gaya hidup

Modifikasi gaya hidup

Dengan obat

Hipertensi berat/tingkat3 (≥ 180/ ≥ 110 mmHg)

Dengan obat Dengan obat Dengan obat

2. Penatalaksanaan dengan terapi dan pengobatan

Farmakologi

A. Obat anti hipertensi

a. Diuretic

Fungsi: menurunkan volume plasma untuk

pengeluaran air dan natrium, mencegah ekspansi

sekunder dari plasma, menurunkan resistensi

perifer dan tekanan darah,

Efek samping; meningkatkan kadar urin Acid dalam

darah, hiperurisemia, hiperkalemia, hiperglikemia

Contoh obat : furasemid (lasix), clunidin

b. Golongan penghambat simpatetik

Page 8: LP Hipertensi

Fungsi : menurunkan tonus simpatik secara sentral

Efek samping : anemia hemolitik, gangguan faal

hati, hepatitis kronis, sedasi, rasa lelah, rasa kering

pada mukosa mulut dan bibir, impotensi dan pusing.

Contoh obat : metildopa, klonidin. Reserpin,

guanetidin

c. Penyekat beta

Contoh obat : larut dalam lemak (asebutolol,

alprenolol, metoprolol, oksprenolol, pindolol,

propanolol dan timilol) dan larut dalam air dan

eliminasi melalui ginjal (atenolol, nadolol, praktolol,

satalol)

d. Vasodilator

Fungsi : mengembangkan pembuluh darah arteri,

mengurangi tahanan perifer, menurunkan tekanan

darah

Efek samping : meningkatkan curah jantung dan

meningkatkan heart rate

Contoh obat : guancydine, diazoxide, minoxidil,

prazosin, doxsazosin, hidralazin, diakzodsid, dan

sodium nitroprusid.

e. Penghambat enzim konversi angiostensin

Fungsi : menghambat enzim konversi angiotensin

Efek samping : kemerahan kulit, gangguan

pengecapan, agranulasi, proteinuria dan gagal ginjal

Contoh obat : kaptropil

f. Adrenolitik

Alfa bloker

Fungsi : menurunkan tekanan darah dengan cepat

dan langsung, menurunkan tekanan sistemikj dan

paru

Efek samping : takikardi, menurunkan curah

jantung, menurunkan kontraktilitas miocard

Page 9: LP Hipertensi

Contoh obat : phentolomine, phenoxybenzomine

Beta Bloker

Fungsi : menurunkan curah jantung, menghambat

sekresi urin

Efek samping : system cardio – faal jantung,

bradikardi, gangren perifer, system pernapasan-

asma bronkiale, SSP – mimpi buruk, sukar tiur,

halusinasi, depresi

Contoh obat : propondol

B. Non farmakologi

a. Menghindari faktor resiko, seperti : merokok, minum

alkohol, hiperlipidemia dan stres

b. Penurunan berat badan

c. Diit rendah garam

d. Perubahan diet yang kompleks : penurunan konsumsi

lemak, peningkatan konsumsi ssayur dan buah (>> K,

Mg)

e. Peningkatan aktivitas fisik

f. Penanganan psikologis

g. Olahraga yang teratur.

h. Pendidikan kesehatan, meliputi :

- Mengontrol tekanan darah

- Meningkatkan kepatuhan program pengobatan

- Meningkatkan support sosial

VIII. PENCEGAHAN

a. Pencegahan primer

Utamanya dianjurkan untuk orang-orang yang mempunyai faktor

resiko, yaitu dengan:

1. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal, juga untuk

menjaga agar tidak terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes

Mellitus, dan sebagainya.

2. Dilarang merokok atau menghentikan merokok.

3. Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi

Page 10: LP Hipertensi

rendah garam.

4. Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.

b. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui

menderita hipertensi berupa:

- Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan

obat maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada

pencegahan primer.

- Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol

secara normal dan stabil mungkin.

- Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain

harus dikontrol.

- Batasi aktivitas.

IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum

memulai terapi yang bertujuan menentukan adanya kerusakan

organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi.

Pemerikasaan yang di lakukan :

a. Urinalisa darah perifer dan kimia darah lengkap (kalium,

natrium, kreatinin, kolesterol NDL) : adanya darah, protein,

glukosa dalam urin untuk mengidentifikasi fungsi renal atau DM

b. H6 untuk menilai viskositas dan indicator faktor resiko seperti

anemia

c. BUN kreatinin : untuk menilai adanya perfusi / faal renal

d. Gula darah atau glukosa serum hiperglesemia akibat dari

peningkatan katekolamin

e. Kadar kolesterol trigliserida : untuk menilai adanya indikasi

predisposisi pembentukan plaquetheromatus

f. Kadar serum aldosteron : menilai adanya aldosteronisme primer

g. Pemeriksaan tiroid T3 + T4 : menilai adanya hipertiroidisme

yang berkonstribusi terhadap vasokonstriksi hipertensi

Page 11: LP Hipertensi

h. Uric Acid : mengetahui adanya hiperoricemia yang merupakan

implikasi faktor resiko hipertensi

i. ECG : Untuk mengetahui Cardiomegali dan Gangguan –

gangguan konduksi kelistrikan jantung, tampak gelombang p.

pulmonal (hipertensi pulmonal).

X. KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat timbul bila hipertensi tidak terkontrol adalah

:

1. Krisis Hipertensi: adalah keadaan klinis yang ditandai oleh

tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan timbulnya

atau telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina),

ginjal, jantung, dan pembuluh darah). Pada umumnya krisis

hipertensi terjadi pada pasien hipertensi yang tidak atau lalai

memakan obat antihipertensi.

2. Penyakut jantung dan pembuluh darah : penyakit jantung

koroner dan penyakit jantung hipertensi adalah dua bentuk utama

penyakit jantung yang timbul pada penderita hipertensi

3. Penyakit jantung cerebrovascular : hipertensi adalah faktor resiko

paling penting untuk timbulnya stroke. Kekerapan dari stroke

bertambah dengan setiap kenaikan tekanan darah

4. Ensefalopati hipertensi : sindroma yang ditandai dengan

perubahan neurologis mendadak atau sub akut yang timbul

sebagai akibat tekanan arteri yang meningkat dan kembali

normal apabila tekanan darah diturunkan

5. Nefrosklerosis karena hipertensi: stenosis arteri ginjal dapat

mengakibatkan hipertensi yang mengakibatkan nefrosklerosis

atau kerusakan pada arteri ginjal, arteriola, dan glomeruli.

Hipertensi merupakan penyebab kedua terjadinya penyakit ginjal

tahap akhir. Sekitar 10% individu pengidap hipertensi esensial

akan mengalami penyakit ginjal tahap akhir.

6. Retinopati hipertensi: Retinopati hipertensi merupakan suatu

keadaan yang ditandai dengan kelainan pada vaskuler retina pada

Page 12: LP Hipertensi

penderita dengan peningkatan tekanan darah. Tanda-tanda pada

retina yang diobservasi adalah penyempitan arteriolar secara

general dan fokal, perlengketan atau “nicking” arteriovenosa,

perdarahan retina dengan bentuk flame-shape dan blot-shape,

cotton-wool spots, dan edema papilla.

XI. KONSUMSI GARAM

Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi. Untuk

penderita hipertensi terdapat 3 diet:

a. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat

dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam

makanan.

b. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi

sedang (100-114 mmHg). Garam dianjurkan ¼ sendok the garam

dapur.

c. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi

ringan (diastole kurang dari 100 mmHg), garam dapur

dianjurkan ½ sendok teh.

XII. DIAGNOSA & INTERVENSI KEPERAWATAN

NO

DIAGNOSA NOC NIC

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tidak terjadi penurunan curah jantung.

Kriteria hasil: Berpartisipasi

dalam aktivitas yang menurunkan TD.

Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima.

Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil

1. Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat

2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer

3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas

4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler

5. Berikan lingkungan tenang, nyaman

6. Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.

Page 13: LP Hipertensi

7. Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan

2. Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang.

Kriteria hasil: Pasien

mengungkapkan tidak adanya sakit kepala

Pasien tampak nyaman

TTV dalam batas normal

1. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang

2. Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi

3. Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk

3 Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam diharapkan tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung.

Kriteria hasil: Pasien dapat

mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing.

Tanda-tanda vital stabil.

1. Pertahankan tirah baring

2. Tinggikan kepala tempat tidur

3. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia

4. Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan

5. Amati adanya hipotensi mendadak

Page 14: LP Hipertensi

4 Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharakan tidak terjadi intoleransi aktifitas.

Kriteria hasil: Meningkatkan

energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari.

Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas.

1. 1.Berikan bantuan sesuai kebutuhan

2. Instruksikan pasien tentang penghematan energy

3. Kaji respon pasien terhadap aktifitas

4. Monitor adanya diaforesis, pusing

5. Observasi TTV tiap 4 jam

5 Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan pola tidur.

Kriteria hasil Mampu

menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari.

Tampak dapat istirahat dengan cukup.

TTV dalam batas normal.

1. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman

2. Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur

3. Evaluasi tingkat stress4. Monitor keluhan nyeri

kepala5. Lengkapi jadwal tidur

secara teratur6. Lakukan masase

punggung7. Putarkan musik yang

lembut

6 Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan perawatan diri klien terpenuhi.Kriteria hasil : Mampu melakukan

aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan.

Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan

1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri

2. Beri pasien waktu untuk melakukan rutinitas

3. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri

4. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya

Page 15: LP Hipertensi

perawatan diri.

7 Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24Jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang.

Kriteria hasil : Klien mengatakan

sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang.

Ekspresi wajah rilekTTV dalam batas normal.

1. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan

2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah

3. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya

4. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan

5. Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup

6. Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal

7. Observasi TTV tiap 4 jam

8. Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya

9. Berikan support mental pada klien

10. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien

Page 16: LP Hipertensi

8 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit

Setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi.

Kriteria hasil: Pasien

mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi.

Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program.

1. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur

2. Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress

3. Diskusikan tentang obat-obatan : nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping atau efek toksik

4. Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter

5. Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah.

6. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil

7. Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat

8. Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai program

9. Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh serta alcohol

10. Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahananBerikan support mental,

Page 17: LP Hipertensi

konseling dan penyuluhan pada keluarga klien

Page 18: LP Hipertensi

DAFTAR PUSTAKA

1. Baughman, Diane C; Hackley, JoAnn C. 2000. Keperawatan Medical-

Bedah edisi 1

Terjemahan. Jakarta : EGC

2. Budi Soesutyo Joewono. 2003. Ilmu Penyakit Jantung. Surabaya :

Airlangga University Press

3. Mansjoer, Arief, Dkk. 2005, Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta :

Media Aesculapius

4. Noer, H.M. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai

Penerbit FKUI

5. Agus Purwadianto (2000), Kedaruratan Medik: Pedoman

Penatalaksanaan Praktis, Binarupa Aksara, Jakarta.

6. Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada

Praktek Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

7. Doenges Marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman

Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,

Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

8. Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit

Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

9. Hudak and Gallo (1996), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik,

Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Page 19: LP Hipertensi