laporan sken indeks maloklusi

Download Laporan Sken Indeks Maloklusi

Post on 27-Oct-2015

455 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laporan Sken Indeks Maloklusi

TRANSCRIPT

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih kurang pendapat perhatian bagi sebagian besar masyarakatnya. Hal ini tercermin dari masih tingginya angka prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut. Masalah kesehatan gigi dan mulut yang masih tinggi angka kejadiannya di Indonesia adalah karies, penyakit periodontal dan maloklusi.

Maloklusi adalah suatu keadaan oklusi yang abnormal. Maloklusi bukan merupakan suatu penyakit melainkan suatu keadaan abnormal. Berbeda halnya dengan karies dan penyakit periodontal yang memberikan keluhan rasa sakit, maloklusi tidak memberikan keluhan sakit. Hal ini menyebabkan maloklusi terkadang diabaikan oleh sebagian penderitanya. Maloklusi juga diabaikan karena bagi sebagian orang hal tersebut tidak perlu dirawat. Maloklusi dianggap sebagai variasi normal, selain itu juga perawatannya yang bagi sebagian orang tak terjangkau. Oleh karena itu suatu penilaian keadaan maloklusi akan keterkaitannya dengan kebutuhan perawatan sangat diperlukan, yaitu dengan dikembangkannya indeks-indeks maloklusi oleh beberapa ahli orthodontist.

Indeks maloklusi yang dikembangkan tidak hanya untuk menilai kebutuhan akan perawatan, tetapi dapat menilai prevalensi dan evaluasi perawatan orthodontik yang dilakukan. Untuk itu mempelajari indeks maloklusi sangatlah penting ,yang mencakup jenis-jenisnya, syarat indeks yang baik, tujuan dan manfaat indeks maloklusi, mengingat fungsinya dalam memantau kejadian maloklusi di masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana prevalensi maloklusi di bidang kedokteran gigi?

2. Apa saja syarat-syarat indeks maloklusi yang baik?

3. Apa saja macam-macam indeks maloklusi?

4. Bagaimana kriteria dalam pemakaian indeks maloklusi?

1.3 Tujuan1. Mampu memahami prevalensi maloklusi di bidang kedokteran gigi.

2. Mampu memahami syarat-syarat indeks maloklusi yang baik.

3. Mampu memahami macam-macam indeks maloklusi.

4. Mampu memahami kriteria dalam pemakaian indeks maloklusi.1.4 Mapping

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi MaloklusiMaloklusi adalah bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk standar namun dapat diterima sebagai bentuk yang normal. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi maloklusi antara lain adalah keturunan, lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, fungsional dan patologi (Wheeler, 2002). Ukuran bentuk gigi serta rahang sangat bervariasi pada setiap manusia. Pengukuran antropologi rahang serta ukuran gigi dari berbagai populasi adalah bervariasi pada setiap ras. Informasi ini sangat penting dalam membantu menegakkan diagnosis serta perawatan terhadap maloklusi tersebut (Proffit & Henry, 2000).

Disebabkan meningkatnya keperluan terhadap kepentingan estetika dan penampilan dental, banyak orang yang termotivasi untuk mendapatkan perawatan ortodonti. Hal ini mendasari kebutuhan organisasi public health dan pakar epidemiologi untuk menciptakan suatu alat epidemiologi untuk menstratakan estetik dari segi dental dan tahapan kebutuhan perawatan ortodontik dalam skala nominal yang dapat diterima lingkungan sosial (Bernabe, 2006).

Maloklusi adalah suatu kondisi yang menyimpang dari relasi normal gigi terhadap gigi lainnya dalam satu lengkung dan terhadap gigi pada lengkung rahang lawannya. Maloklusi merupakan keadaan yang tidak menguntungkan dan meliputi ketidakteraturan lokal dari gigi geligi seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi atau hubungan yang tidak harmonis dengan gigi lawannya (Zenab, 2010).Maloklusi adalah Keadaan gigi yang tidak harmonis secara estetik mempengaruhi penampilan seseorang dan mengganggu keseimbangan fungsi baik fungsi pengunyahan maupun bicara. Maloklusi umumnya bukan merupakan proses patologis tetapi proses penyimpangan dari perkembangan normal (Proffit & Fields, 2007).

Maloklusi adalah akibat dari malrealasi antara pertumbuhan dan posisi serta ukuran gigi. Maloklusi diklasifikasikan menurut relasi molar pertama (I,II dan III), atau sebagai relasi normal, pranormal, dan pasca normal. Maloklusi juga bisa dibagi menjadi maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang berkembang dan maloklusi sekunder yang timbul pada orang dewasa akibat tanggalnya gigi dan pergeraka gigi tetangga (Thomson, 2007).

2.2 Penyebab Maloklusi Maloklusi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, ada beberapa faktor berbeda yang merupakan penyebabnya yaitu, genetik dan lingkungan. Menurut Proffit (1998) secara umum maloklusi disebabkan karena 2 faktor yaitu :

a) Faktor keadaan diluar gigi itu sendiri (ekstrinsik factor ) :

Herediter

Kelainan kongenital Perkembangan dan pertumbuhan yang salah pada waktu prenatal dan postnatal Penyakitpenyakit sistemik yang menyebabkan adanya kecenderungan kearah maloklusi seperti : ketidakseimbangan kelenjar endokrin, gangguan metabolisme, penyakit-penyakit infeksi, malnutrisi. Kebiasaan jelek, sikap tubuh yang salah dan trauma.

b) Faktorfaktor pada gigi (intrinsik / lokal factor) :

Anomali jumlah gigi, terdiri dari adanya gigi berlebih (dens supernumerary teeth) dan tidak adanya gigi (anondontia).

Anomali ukuran gigi. Anomali bentuk gigi. Frenulum labii yang tidak normal. Kehilangan dini gigi desidui. Persistensi gigi desidui. Terlambatnya erupsi gigi permanen. Jalan erupsi yang abnormal. Ankilosis. Karies gigi. Restorasi yang tidak baik.2.3Akibat Maloklusi

Menurut Daniel (2000), maloklusi dapat menyebabkan beberapa gangguan pada penderitanya yaitu :

a) Masalah psikososial yang disebabkan karena gangguan estetis wajah.

b) Masalah dengan fungsi rongga mulut termasuk kesulitan dalam menggerakkan rahang (gangguan otot dan nyeri), gangguan sendi temporomandibular, gangguan pengunyahan, menelan dan berbicara.

c) Kemungkinan mendapatkan trauma yang lebih mudah, masalah penyakit periodontal atau kehilangan gigi.

Dibiase (2001) menyatakan beberapa kasus maloklusi pada anak remaja sangat berpengaruh terhadap psikolgis dan perkembangan sosial, yang disebabkan karena penindasan (bullying) yang berupa ejekan dan hinaan dari teman sekolahnya. Pengalaman psikis yang tidak menguntungkan dapat sangat menyakitkan hati sehingga remaja korban penindasan tersebut akan menjadi sangat depresi.

3.1 Definisi Indeks Maloklusi

Maloklusi menggambarkan sebuah spektrum penyimpangan dari keadaan normal atau ideal menjadi beberapa anomali. Dokter, pasien dan keluarga pasien dapat memiliki perbedaan pandangan tentang apa yang harus dirawat dan apa yang dapat diterima sebagai suatu variasi yang sederhana dan tidak berbahaya.

Klasifikasi maloklusi, misalnya klasifikasi Angle berguna untuk mengelompokan suatu maloklusi sehingga memudahkan seseorang untuk mengingat gambaran maloklusi tersebut. Meskipun demikian klasifikasi maloklusi masih mempunyai kekurangan. Kekurangan klasifikasi maloklusi adalah keparahan suatu maloklusi tidak dapat diketahui meskipun terletak dalam satu kelas, ataupun seandainya digunakan untuk menilai keparahan maloklusi sifatnya subyektif. Suatu upaya dilakukan untuk mengurangi derajat subyektivitas penilaian suatu maloklusi dengan menggunakan indeks maloklusi.

Indeks adalah sebuah angka atau sebuah bilangan yang digunakan sebagai indikator untuk menerangkan suatu keadaan tertentu atau sebuah rasio proporsional yang dapat disimpulkan dari sederetan pengamatan yang terus-menerus. Indeks maloklusi merupakan suatu angka atau bilangan yang menerangkan suatu keadaan maloklusi.

Indeks maloklusi yang diperlukan adalah penilaian kuantitatif dan objektif yang dapat memberikan batasan adanya penyimpangan dari oklusi ideal yang masih dianggap normal, dan dapat memisahkan kasus- kasus abnormal menurut tingkat keparahan dan kebutuhan masyarakat (Dewi, 2008).BAB III

PEMBAHASAN3.1 Prevalensi MaloklusiCara yang paling mudah untuk mengetahui prevalensi maloklusi adalah dengan memisahkan maloklusi menurut morfologi yang ada.

1. Prevalensi Maloklusi pada Anak-anak Pra-remaja

Semenjak ada beberapa bukti tentang validitas TPI dan kalsifikasi Angel dalam meperkirakan masalah ortodontik yang berhuungan dengan estetik muka, sebagian dari kebutuhan akan perawatan pada kelompok anak-akan muda berdasarkan atas pertimbangan estetik atau kecantikan yang dinilai menggunakan indeks.

Indeks yang utama untuk perawatan ortodontik pada masa gigi geligi bercampuran adalah insisvus yang sangat berjejal yang memerlukan perawatan dengan pencabutan gigi secara awal, dan kelainan jarak gigit yang besar yang merupakan indikasi pemakian alat fungsional atau headgear untuk mengkoreksi hubungan antar rahang.

Pengaruh estetik dari kelainan jarak gigit sudah terlihat pada pasien anak-anak pra-remaja. Masalah-masalah gigi lain yang kemungkinan memerlukan perawatan dalam kelompok umur ini adalah tumpang gigit yang sangat dalam atau gigitan palatal yang menyebabkan trauma pada jaringan gingiva di belakang gigi anterior atas, dan gigitan anterior dan posterior.

2. Prevalensi Maloklusi pada Anak-anak Remaja

Persentase yang tinggi dari anak-anak yang memiliki maoklusi yang nyata, makin meningkat pada masa remaja. Prevalensi maloklusi yang tinggi pada remaja masihtinggi mulai dari tahun 1983 adalah 90% sampai tahun 2006 adalah 89%. Prevalensi gigi berjejal meningkat meskipun susunan gigi-gigi insisivus menjadi lebih baik, hal ini agaknya Karena letak gigi caninus yang menyimpang sehingga memberi ruang agak banyak bagi gigi-gigi insisivus. Kelainan kelas 2 cendrung lebih parah serta lebih mencolok, pada kelas III lebih jelas kelihatan pada remaja. Hampir 70-75% remaja dipastikan memiliki maloklusi dalam beberapa tingkat keparahan.

Perilaku kesehatan gigi pada remaja khususnya tentang maloklusi masih belum cukup baik dan pelayanan kesehatan gigi belum optimal. Akibat yang