konsep gizi pada balita

7
Konsep Gizi Pada Balita Diposkan oleh Rizki Kurniadi Konsep Gizi Pada Balita 1. Pengertian Gizi Gizi adalah suatu zat yang terkandung dalam bahan makanan yang di butuhkan manusia (Hendra, 2010). Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Istiqomatunnisa, 2008). Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan (Almatsier, 2001). 2. Klasifikasi Status Gizi a. Status gizi lebih Status gizi lebih berkaitan dengan konsumsi makanan yang melebihi dari yang dibutuhkan terutama konsumsi lemak yang tinggi dan makanan dari gula murni (Djaeini Ahcmad, 2000 : 27). b. Status gizi baik Status gizi baik adalah kesesuaian antara jumlah asupan dengan kebutuhan gizi seorang anak (Santoso Soegeng, 2004). c. Status gizi kurang Status gizi kurang pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein dalam waktu tertentu (DepKes RI, 2002). d. Status gizi buruk Bila kondisi gizi kurang berlangsung lama maka akan berakibat semakin berat kekurangannya, dalam keadaan ini dapat menjadi gizi buruk (DepKes RI, 2000).

Upload: angga-bagja-gumilar

Post on 24-Oct-2015

58 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

Kondas Gizi

TRANSCRIPT

Page 1: Konsep Gizi Pada Balita

Konsep Gizi Pada BalitaDiposkan oleh Rizki Kurniadi

Konsep Gizi Pada Balita

1.      Pengertian Gizi

Gizi adalah suatu zat yang terkandung dalam bahan makanan yang di butuhkan manusia

(Hendra, 2010).

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara

normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran

zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal

dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Istiqomatunnisa, 2008).

Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu

menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses

kehidupan (Almatsier, 2001).

2.      Klasifikasi Status Gizi

a.       Status gizi lebih

Status gizi lebih berkaitan dengan konsumsi makanan yang melebihi dari yang dibutuhkan

terutama konsumsi lemak yang tinggi dan makanan dari gula murni (Djaeini Ahcmad, 2000 :

27).

b.      Status gizi baik

Status gizi baik adalah kesesuaian antara jumlah asupan dengan kebutuhan gizi seorang anak

(Santoso Soegeng, 2004).

c.       Status gizi kurang

Status gizi kurang pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh

kekurangan asupan energi dan protein dalam waktu tertentu (DepKes RI, 2002).

d.      Status gizi buruk

Bila kondisi gizi kurang berlangsung lama maka akan berakibat semakin berat

kekurangannya, dalam keadaan ini dapat menjadi gizi buruk (DepKes RI, 2000).

3.      Pengertian Balita

Anak Balita adalah sebagai masa emas atau "golden age" yaitu insan manusia yang berusia

0-5 tahun (UU No. 20 Tahun 2003), meskipun sebagian pakar menyebut anak balita adalah anak

dalam rentang usia 0-8 tahun (scribd, 2010).

Page 2: Konsep Gizi Pada Balita

4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita

a.       Ketersediaan pangan ditingkat keluarga

Status gizi dipengaruhi oleh ketersediaan pangan ditingkat keluarga, hal ini sangat tergantung

dari cukup tidaknya pangan yang dikonsumsi oleh setiap anggota keluarga untuk mencapai gizi

baik dan hidup sehat (Depkes RI, 2004 : 19). Jika tidak cukup bisa dipastikan konsumsi setiap

anggota keluarga tidak terpenuhi (Depkes RI, 2002 : 13). Padahal makanan untuk anak harus

mengandung kualitas dan kuantitas cukup untuk menghasilkan kesehatan yang baik (scribd,

2010).

b.      Pola asuh keluarga

Yaitu pola pendidikan yang diberikan pada anak-anaknya. Setiap anak membutuhkan cinta,

perhatian, kasih sayang yang akan berdampak terhadap perkembangan fisik, mental dan

emosional. Pola asuh terhadap anak berpengaruh terhadap timbulnya masalah gizi. Perhatian

cukup dan pola asuh yang tepat akan memberi pengaruh yang besar dalam memperbaiki status

gizi (Herwin B, 2004). Anak yang mendapatkan perhatian lebih, baik secara fisik maupun

emosional misalnya selalu mendapat senyuman, mendapat respon ketika berceloteh,

mendapatkan ASI dan makanan yang seimbang maka keadaan gizinya lebih baik dibandingkan

dengan teman sebayanya yang kurang mendapatkan perhatian orang tuanya (Depkes RI, 2002 :

12).

c.       Kesehatan lingkungan

Masalah gizi timbul tidak hanya karena dipengaruhi oleh ketidak seimbangan asupan

makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh penyakit infeksi. Masalah kesehatan lingkungan

merupakan determinan penting dalam bidang kesehatan. Kesehatan lingkungan yang baik seperti

penyediaan air bersih dan perilaku hidup bersih dan sehat akan mengurangi resiko kejadian

penyakit infeksi (Depkes RI, 2002 : 12). Sebaliknya,lingkungan yang buruk seperti air minum

tidak bersih, tidak ada saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik

dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Infeksi dapat menyebabkan kurangnya nafsu makan

sehingga menyebabkan asupan makanan menjadi rendah dan akhirnya menyebabkan kurang gizi

(FKM UI, 2007).

d.      Pelayanan kesehatan dasar

Pemantauan pertumbuhan yang diikuti dengan tindak lanjut berupa konseling, terutama oleh

petugas kesehatan berpengaruh pada pertumbuhan anak. Pemanfaatan fasilitas kesehatan seperti

Page 3: Konsep Gizi Pada Balita

penimbangan balita, pemberian suplemen kapsul vitamin A, penanganan diare dengan oralit serta

imunisasi (Depkes RI, 2002 : 12).

e.       Budaya keluarga

Budaya berperan dalam status gizi masyarakat karena ada beberapa kepercayaan seperti tabu

mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut

justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tertentu (FKM UI, 2007 : 277). Unsur-unsur

budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan masyarakat yang kadang-kadang

bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi. Misalnya, terdapat budaya yang memprioritaskan

anggota keluarga tertentu untuk mengonsumsi hidangan keluarga yang telah disiapkan yaitu

umumnya kepala keluarga. Apabila keadaan tersebut berlangsung lama dapat berakibat

timbulnya masalah gizi kurang terutama pada golongan rawan gizi seperti ibu hamil, ibu

menyusui , bayi dan anak balita (Suhardjo, 2008 : 9).

f.       Sosial ekonomi

Banyaknya anak balita yang kurang gizi dan gizi buruk di sejumlah wilayah di tanah air

disebabkan ketidaktahuan orang tua akan pentingnya gizi seimbang bagi anak balita yang pada

umumnya disebabkan pendidikan orang tua yang rendah serta faktor kemiskinan. Kurangnya

asupan gizi bisa disebabkan oleh terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau

makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial ekonomi yaitu

kemiskinan (scribd, 2010).

g.      Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan

Permasalahan kurang gizi tidak hanya menggambarkan masalah kesehatan saja, tetapi lebih

jauh mencerminkan kesejahteraan rakyat termasuk pendidikan dan pengetahuan masyarakat.

(Menkes, 2010). Menurut Notoatmodjo (2003) tingkat pendidikan akan mempengaruhi

pengetahuan seseorang sehingga membuat seseorang berpandangan luas, berpikir dan bertindak

rasional. (Notoatmodjo, 2003 : 121)

5.      Penilaian dan Standar atau Alat Ukur Status Gizi

Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung maupun tidak langsung :

a.       Penilaian status gizi secara langsung

Penilaian gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu :

1)      Klinis

Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan

ketidakcukupan gizi.

Page 4: Konsep Gizi Pada Balita

2)      Biokimia

Metode ini menggunakan pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris.

3)      Biofisik

Metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan)

dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa IDN).

4)      Antropometri

Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadap  dimensi tubuh dan komposisi

tubuh (FKM UI). Antropometri sebagai indikator status gizi dapat digunakan dalam memberikan

indikasi tentang kondisi sosial ekonomi penduduk. Antropometri sebagai indikator status gizi

dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Kombinasi antara beberapa parameter

disebut indeks antropometri. Indeks antropometri yang digunakan adalah berat badan menurut

umur (BB/U). (Supariasa IDN, 2001).

a)      Berat badan

Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik

maupun status gizi. Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat ukur yang

digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan : mudah digunakan dan

dibawa dari satu tempat ketempat lain, mudah diperoleh dan relatif murah harganya, ketelitian

penimbangan sebaiknya 0,1 kg, skalanya mudah dibaca dan cukup aman untuk menimbang

badan anak balita. Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan dianjurkan

untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacin (Supariasa IDN, 2001).

b)      Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi.

Kesalahan penentuan dapat menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Cara

menghitung umur yaitu dengan menentukan tanggal, hari, bulan dan tahun pada waktu anak

ditimbang kemudian dikurangi tanggal, hari, bulan dan tahun anak waktu lahir sehingga didapat

umur anak. Bila kelebihan atau kekurangan hari sebanyak 16 hari sampai 30 hari dibulatkan 1

bulan. Bila kelebihan atau kekurangan 1 hari sampai 15 hari dibulatkan menjadi 0 bulan.

(Supariasa IDN, 2001).

b.      Penilaian status gizi secara tidak langsung.

1)      Survei konsumsi makanan

Adalah metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan jenis bahan makanan

atau zat gizi yang dikonsumsi.

2)      Statistik vital

Adalah menganalisis data beberapa statistik kesehatan.

Page 5: Konsep Gizi Pada Balita

3)      Faktor ekologi

Adalah hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. (Supariasa

IDN, 2001)

Sedangkan menurut Menkes (2002) Klasifikasi Status Gizi Anak Balita dapat dilihat pada

tabel dibawah ini :

Tabel 2.1 Klasifikasi status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (Balita)Indeks Status Gizi Ambang Batas *)

Berat badan Menurut Umur (BB/U)

Gizi lebih > + 2 SDGizi Baik > -2 SD sampai +2 SDGizi Kurang < -2 SD sampai ≥ -3 SDGizi Buruk < -3 SD

Tinggi badan Menurut Umur (BB/U)

Normal ≥ 2 SDPendek (Stunted) < -2 SD

Berat badan Menurut Tinggi Badan (BB/U)

Gemuk > + 2 SDNormal > -2 SD sampai +2 SDKurus (Wasted) < -2 SD sampai ≥ -3 SDKurus Sekali < -3 SD

*) SD = Standar Deviasi, (Dinkes Riau, 2010).                    

6.      Dampak Gizi Tidak Seimbang

a.       Dampak gizi lebih

Obesitas (gizi lebih) jika tidak teratasi akan berlanjut sampai remaja dan dewasa, hal ini akan

berdampak tingginya kejadian berbagai penyakit infeksi. Pada orang dewasa tampak dengan

semakin meningkatnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi

dan penyakit hati (Almatsiar S, 2001).

b.      Dampak gizi kurang

Pertumbuhan fisik terhambat (anak akan mempunyai tinggi badan lebih pendek),

perkembangan mental dan kecerdasan terhambat, daya tahan anak menurun sehingga anak

mudah terserang penyakit infeksi (Depkes RI, 2002).

c.       Dampak gizi buruk

Gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem organ yang akan merusak sistem

pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik. Dampak selanjutnya

dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental serta penurunan skor tes IQ

(Pudjiadi S, 2001). Penurunan fungsi otak berpengaruh terhadap kemampuan belajar,

kemampuan anak bereaksi terhadap rangsangan dari lingkungannya dan perubahan kepribadian

anak (Moehji, 2003 ).

Page 6: Konsep Gizi Pada Balita

DAFTAR PUSTAKANunik (2005). Pendapatan dan pangan. Diakses 08 Maret 2011. http://keluargasehat.co.idPaath (2004). Gizi pada Balita. Diakses 05 Maret 2011. http://Paath-information.comPudjiaji (2001). Permasalahan Gizi. Diakses 01 April 2011. http://gizi-indonesia.co.idTomouto (2010).Krisis dan Masalah Gizi. Diakses 07 Maret 2011. http://tomouto.netVoni (2010). Hubungan   Pengetahuan dan Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Anak Batita di Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2010. Stikes Hang Tuah, Pekanbaru