jurnal pdf mel_2

20
ANALISA PENGUKURAN KINERJA KESEHATAN KEUANGAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA BERDASARKAN METODE BATAS TINGKAT SOLVABILITAS MINIMUM PT. ASURANSI JIWASRAYA Melissa Maya Karuniawati UNIVERSITAS GUNDARMA ABSTRAK Batas tingkat Solvabilitas Minimum adalah suatu jumlah minimum tingkat solvabilitas yang ditetapkan, yaitu sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi pengelolaan kekayaan. Pengukuran rasio pencapaian solvabilitas atau batas tingkat solvency minimum (BTSM) yang didasarkan pada keputusan Mentri Keuangan No.424/KMK/06/2003 tentang pelaporan perusahaan asuransi dan keputusan Direktorat Jendral Lembaga Keuangan No. 53 14/LK/2000 dengan rumusan kekayaan yang diperkenankan dikurangi kewajiban dibagi BTSM dikali 100%. Harus lebih dari ketetapan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 120% untuk (tahun 2004), 120% (tahun2005), dan untuk (tahun2006)juga harus sebesar 120%. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM) dari PT. Asuransi Jiwasraya dalam hal pengukuran kinerja keuangannya dengan menggunakan metode RBC untuk tahun 2004, 2005, dan 2006. Dari analisa tersebut maka penulis berkesimpulan bahwa hasil perhitungan menunjukan rasio pencapaian solvabilitas yang sebesar 136,74% (tahun 2004), 139,63 (tahun 2005) dan 13 8,44% (tahun 2006). Maka Batas Tingkat Solvabilitas Minimum yang dimiliki PT. Jiwasraya telah melampaui Batasan Tingkat Solvabilitas yang ditetapkan pemerintah (Depkeu). Kata Kunci : Pengukuran Kinerja Kesehatan Keuangan PT. Asuransi Jiwasraya.

Upload: irwan-zekai-solehudin

Post on 21-Oct-2015

297 views

Category:

Documents


11 download

DESCRIPTION

jurnal penelitian

TRANSCRIPT

Page 1: Jurnal PDF Mel_2

ANALISA PENGUKURAN KINERJA KESEHATAN KEUANGAN

PERUSAHAAN ASURANSI JIWA BERDASARKAN

METODE BATAS TINGKAT SOLVABILITAS MINIMUM

PT. ASURANSI JIWASRAYA

Melissa Maya Karuniawati

UNIVERSITAS GUNDARMA

ABSTRAK

Batas tingkat Solvabilitas Minimum adalah suatu jumlah minimum tingkatsolvabilitas yang ditetapkan, yaitu sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untukmenutup resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasipengelolaan kekayaan. Pengukuran rasio pencapaian solvabilitas atau batas tingkatsolvency minimum (BTSM) yang didasarkan pada keputusan Mentri KeuanganNo.424/KMK/06/2003 tentang pelaporan perusahaan asuransi dan keputusanDirektorat Jendral Lembaga Keuangan No. 53 14/LK/2000 dengan rumusan kekayaanyang diperkenankan dikurangi kewajiban dibagi BTSM dikali 100%. Harus lebih dariketetapan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 120% untuk (tahun2004), 120% (tahun2005), dan untuk (tahun2006)juga harus sebesar 120%.

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui Batas Tingkat SolvabilitasMinimum (BTSM) dari PT. Asuransi Jiwasraya dalam hal pengukuran kinerjakeuangannya dengan menggunakan metode RBC untuk tahun 2004, 2005, dan 2006.

Dari analisa tersebut maka penulis berkesimpulan bahwa hasil perhitunganmenunjukan rasio pencapaian solvabilitas yang sebesar 136,74% (tahun 2004),139,63 (tahun 2005) dan 13 8,44% (tahun 2006). Maka Batas Tingkat SolvabilitasMinimum yang dimiliki PT. Jiwasraya telah melampaui Batasan Tingkat Solvabilitasyang ditetapkan pemerintah (Depkeu).

Kata Kunci : Pengukuran Kinerja Kesehatan Keuangan PT. Asuransi Jiwasraya.

Page 2: Jurnal PDF Mel_2

I. PENDAHULUAN

Industri jasa asuransi merupakan salah satu pilar keuangan, gunanya untuk

memproteksi usaha dari segala macam bentuk kecelakaan yang tidak diinginkan.

Usaha asuransi mengambil alih berbagai resiko dari pihak lain sehingga perusahaan

asuransi menjadi padat resiko apabila tidak dikelola dengan baik.. Batas tingkat

solvabilitas (solvancy margin) merupakan tolok ukur kesehatan keuangan perusahaan

asuransi dan perusahaan reasuransi. Batas tingkat solvabilitas ini merupakan selisih

antara kekayaan terhadap kewajiban yang perhitungannya didasarkan pada cara

perhitungan tertentu sesuai sifat asuransi. Dalam SK (Surat Keputusan) Mentri

keuangan No.424/KMK 06/2003 tentang perhitungan tingkat solvabilitas dengan

metode Risk Based Capital (RBC). Penyesuaian pemenuhan kebutuhan RBC

dilakukan dengan target angka dan toleransi waktu yang sangat longgar dan protektif.

Yakni, minimum 120%. pada akhir triwulan pertama 2004, pada akhir tahun 2005,

dan pada akhir tahun 2006. Pentingnya masalah tersebut dalam perusahaan asuransi

sangat menarik untuk dijadikan bahan penulisan skripsi saya dengan judul

“Pengukuran Kinerja Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi Jiwa Berdasarkan

metode Batas Tingkat Solvabilitas Minimum PT.Asuransi Jiwasraya “.

Identifikasi Masalah, Industri asuransi sepertinya luput dari restrukturisasi

pemerintah. Perang tarif khususnya untuk asuransi jiwa akan menjadi bumerang bagi

nasabah dalam pembayaran klaim dan pemegang polis akan dirugikan. Tidak adanya

penyelesaian yang pasti bila ada perusahaan asuransi yang ingkar janji bagi

Page 3: Jurnal PDF Mel_2

pemegang polis maupun perusahaan asuransi itu sendiri. Masyarakat masih lebih

percaya pada perusahaan asuransi patungan di bandingkan lokal. Jadi perusahaan

asuransi lokal mau tidak mau menstrukturisasi diri terutama untuk mengenali pasar

khususnya sendiri. Jalan keluar dari kesulitan tersebut harus didasarkan pada

pemerintah paling tidak ditetapkan. Dengan adanya RBC diharapkan dapat mencegah

agar asuransi jangan hancur seperti perbankan

Penulis merumuskan masalah pada, Bagaimana pengukuran tingkat

kesehatan/kinerja perusahaan asuransi jiwa dengan metode RBC, Unsur- unsur yang

terlibat dalam pengukuran tersebut, Berapa rasio kesehatan keuangan perusahaan

asuransi dengan batas tingkat solvabilitasnya tahun 2004, 2005, 2006.

Permasalahan yang dibahas dibatasi dengan pembahasan penerapan RBC dalam

perhitungan solvency margin perusahaan asuransi kerugian pada PT. Asuransi

Jiwasraya.

Adapun tujuan penulisan skripsi adalah untuk, Mengetahui apakah perusahaan

asuransi yang diteliti telah memenuhi syarat didalam memenuhi tingkat solvabilitas

yang telah ditentukan berdasarkan SK menkeu No.424/KMK.06/2003, Mengetahui

bagaimana cara perhitungan RBC perusahaan asuransi, Mengetahui rasio kesehatan

keuangan dengan batas tingkat solvabilitas tahun 2004, 2005. 2006.

Adapun manfaat penelitian dalam skripsi ini adalah, Manfaat akademis, agar

dapat mengetahui bahwa Batas Tingkat Solvabilitas Minimum yang ditetapkan

Pemerinatah terhadap perusahaan asuransi konvesional harus melebihi 120% dari

ketetapan Menkeu, dimana Batas Tingkat Solvabilitas untuk perusahaan asuransi

Page 4: Jurnal PDF Mel_2

tersebut di ukur dengan metode RBC. Manfaat praktis, agar dapat mengetahui bahwa

rasio kesehatan keuangan melalui batas tingkat solvabilitas perusahaan asuransi

sangat dipengaruhi oleh perbandingan tingkat kekayaan dan kewajiban perusahaan

tersebut.

BAB II. LANDASAN TEORI

Pengertian asuransi menurut Undang-Undang nomor 2 tahun 1992 tentang

usaha asuransi adalah sebagai berikut: Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian

antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri dengan

tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian

kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang

diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan

diderita tertanggung yang timbul dari sesuatu yang ditanggungkan. tertanggung dan

penanggung mengikat sesuatu perjanjian tentang hak dan kewajiban masing-masing.

Perusahaan asuransi membebankan sejumlah premi yang harus di bayar sebelumnya

sudah ditaksirkan dulu atau diperhitungkan dengan nilai resiko yang akan dihadapi. .

semakin besar resiko, maka semakin besar premi yang harus dibayarkan dan

sebaliknya. Jadi pada prinsipnya asuransi mengandung pengertian tentang adanya

pengalihan resiko.

Fungsi perusahaan asuransi adalah memberikan financial assistance kepada

pihak-pihak yang menderita kerugian. Asuransi jiwa memberikan dukungan bagi

pihak yang selamat dari suatu kecelakaan, santunan bagi tertanggung yang

Page 5: Jurnal PDF Mel_2

meninggal, bantuan untuk menghindari kerugian yang disebabkan oleh meninggalnya

orang kunci, penghimpunan dana untuk persiapan pensiun. Fungsi primer asuransi

adalah penyediaan mekanisme pengalihan resiko melalui alat/cara common pool yang

mana setiap pemegang polis membayar premi yang adil dan seimbang, sesuai dengan

tingkat kerugian atas pertanggungan yang dibawanya kedalam pool tersebut. Fungsi

primer terdiri dari Mekanisme Pengalihan Resiko (Risk Transfer Mechanism),

(Establish Common Pool), Equitable Premium. Fungsi Sekunder, Fungsi ini dapat

merubah fungsi dana (fund) yang tidak produktif dan menyalurkan kedalam bentuk

investasi pengembangan usaha/bisnis yang lebih produktif. Tanpa adanya asuransi,

perusahaan/pabrik ukuran menengah keatas mungkin perlu membentuk cadangan

(reserve) untuk keperluan darurat (emergency). Fungsi sekunder diantaranya seperti,

keamanan pada pelaku bisnis (Security) , Loss Prevention, Loss Control Reduction,

Social Benefits, Savings. Fungsi Terkait lainnya seperti Investment, Invisable

Earnings.

Beberapa karakteristik usaha asuransi Jiwa diantaranya: Asuransi jiwa adalah

suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam penanggulangan resiko

yang dikaitkan dengan jiwa atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan

misalnya meninggal dunia dan cacat akibat kecelakaan, Bisnis asuransi jiwa identik

dengan kepercayaan atau adanya kepastian dan kenyamanan yang diterima oleh

nasabah, kepercayaan merupakan unsur paling dominan dalam menetukan royalitas

pelanggan, karena manfaat asuransi jiwa baru akan diperoleh dalam jangka panjang,

Di dalam asuransi jiwa, Pertanggungjawaban keuangan kepada para tertanggung

Page 6: Jurnal PDF Mel_2

mempengaruhi penyajian laporan keuangan, Laporan keuangan sangat dipengaruhi

oleh unsur-unsur estimasi, misalnya estimasi jumlah premi yang belum merupakan

pendapatan (unearned premium), estimasi jumlah klaim yang terjadi namun belum

dilaporkan. (incurred but not reported claim), Pihak tertanggung (pembel i asuransi)

membayar premi asuransi terlebih dahulu kepada perusahaan asuransi sebelum

peristiwa yang menimbulkan kerugian yang diperjanjikan terjadi, Peraturan

perundang-undangan di bidang pengasuransian mewajibkan perusahaan asuransi

kerugian memenuhi ketentuan kesehatan keuangan misalnya tingkat solvabilitas.

Prinsip-Prinsip D alam Asuransi, Insurable Interest merupakan hal

berdasarkan hukum, Utmost good faith atau “itikad baik”, Indemnity atau ganti rugi,

Proximate Cause adalah suatu sebab aktif, Subrogation merupakan hak penanggung

yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain

yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami peristiwa kerugian,

Contribution suatu prinsip dimana penanggung berhak mengajak penanggung-

penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama

membayar ganti rugi kepada tertanggung.

Aspek Keuangan Perusahaan Asuransi, Sumber pendapatan perusahaan

asuransi yang paling utama adalah pendapatan premi yang diperoleh dari nasabah.

Pendapatan lainnya yang diperoleh dari investasi perusahaan. Penempatan investasi

yang diperkenankan dalam SK Menkeu No.424/KMK.06 /2003 yang dilaksanakan

oleh perusahaan asuransi.

Page 7: Jurnal PDF Mel_2

Unsur-unsur Pendapatan Asuransi, Sesuai dengan standart akuntansi

keuangan pendapatan yang diperoleh dari aktifitas perusahaan asuransi adalah

pendapatan underwriting (premi tanggungan sendiri ), yang terdiri dari premi bruto,

dikurangi premi reasuransi dan dikurangi / ditambah kenaikan / penurunan premi

yang belum merupakan pendapatan. Cadangan teknis (technical reserve) adalah dana

yang harus disisihkan untuk memenuhi kewajiban kepada tertanggung atau pemegang

polis. Cadangan teknis pada umumnya terbagi menjadi: Cadangan premi yang belum

merupakan pendapatan (unearned premium reserve), Cadangan klaim dalam proses

(outstanding claim reserve) , Cadangan klaim yang sudah terjadi tetapi belum

dilaporkan (IBNR claim reserve), Cadangan klaim katastropi (catasthrop claim

reserve).

Risk Based Capital, Batas tingkat Solvabilitas Minimum adalah suatu jumlah

minimum tingkat solvabilitas yang ditetapkan, yaitu sebesar jumlah dana yang

dibutuhkan untuk menutup resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari

devisi pengelolaan. Komponen-komponen Batas Tingkat Solfabilitas Minimum (Risk

Based Capital) terdiri dari : Kegagalan pengelolaan kekayaan, Ketidakseimbangan

antara nilai kekayaan dan kewajiban dalam setiap jenis mata uang, Perbedaan antara

beban klaim yang terjadi dan beban klaim yang diperkirakan, Ketidakseimbangan

pihak reasuradur untuk memenuhi kewajiban membayar klaim.

III. METODE PENELITIAN

Obyek Penelitian, PT. ASURANSI JIWASRAYA (General insurance) adalah

suatu perusahaan asuransi yang bergerak dibidang asuransi jiwa. Tanggal 31

Desember 1859 menjadi awal kiprah Jiwasraya di Indonesia yang lahir dengan nama

Page 8: Jurnal PDF Mel_2

Nederlandsche Indisch Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ).

Bidang usaha dan perkembangannya, Jenis-jenis usaha/produk yang disediakan oleh

PT. Asuransi Jiwasraya antara lain: Produk individu, Produk Investasi dan Unit Link,

Produk Pendidikan (Beasiswa), Produk Proteksi, Produk Anuitas, Produk Kumpulan,

Produk Pensiun. Struktur Organisasi, merupakan salah satu fungsi dari manjemen

yang menunjang, untuk itu dalam usaha meraih tujuan usaha maka harus didukung

oleh penempatan orang-orang secara tepat yang dapat menggerakkan organisasi

dengan baik. Data Yang Digunakan, Data yang penulis gunakan untuk menganalisis

pengukuran kinerja keuangan PT. Asuransi Jiwasraya adalah Data internal, data yang

didapat penulis dari dalam perusahaan, dimana penulis memperolehnya dengan

melakukan riset pada perusahaan asuransi jiwasraya selama 1 bulan pada bulan mei

2008, Data Time series, data yang diperoleh penulis berupa laporan keuangan seperti

Neraca per 31 Desember 2004, 2005, 2006, Laporan laba/Rugi per 31 Desember

tahun 2004, 2005, 2006, Laporan Pemenuhan Tingkat Solvabilitas per 31 Desember

2004, 2005, 2006, Laporan Informasi lain per 31 Desember 2004, 2005, 2006,

Laporan Produk Asuransi yang dikaitkan dengan investasi per 31 Desember 2004,

2005, 2006, Laporan Batas Tingkat Solvabilitas tahun 2004, 2005, 2006.

Metode pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu melalui Studi

pustaka, penulis menggunakan sumber buku untuk memperoleh pengetahuan

mengenai asuransi beserta perhitungan pengukuran kinerja keuangan PT. Asuransi

Jiwasraya (BTSM), Studi Lapangan Wawancara (interview), Pengamatan

Page 9: Jurnal PDF Mel_2

BTSM

(Observation).

Page 10: Jurnal PDF Mel_2

Alat Analisis Yang Digunakan yaitu Analisis Deskriptif, , yakni penulis

menganalisis masalah dengan perbandingan penggunaan tabel perhitungan neraca,

laba-rugi, dan tabel batas tingkat solvabilitas minimum (BTSM) dalam laporan

keuangan dengan mengunakan metode RBC (Risk Based Capital).

BAB IV ANALISIS DATA

Analisis rasio solvabilitas atau Risk Based Capital, Analisis kinerj a keuangan

PT. Jiwasraya dilakukan dengan menggunakan metode RBC atau pengukuran rasio

pencapaian solvabilitas atau batas tingkat solvency minimum (BTSM) yang

didasarkan pada keputusan Mentri Keuangan No.424/KMK06/2003. dengan rumusan

sebagai berikut:

K EKAYAAN YANG DIPERK ENANKAN – K EWAJIBAN X1 00%

BTSM

Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2004-2006 yang terdapat pada

lampiran, PT. Jiwasraya tentang Batas Tingkat Solvabilitas maka hasil perhitungan

rasio pencapaian solvabilitas PT. Jiwasraya adalah:

Tahun 2004 sebesar:

Jumlah Tingkat Solvabilitas : 136,74%

Page 11: Jurnal PDF Mel_2

BTSM

Tahun 2005 sebesar:

Jumlah Tingkat Solvabilitas : 139,63%

BTSM

Tahun 2006 sebesar:

Jumlah Tingkat Solvabilitas : 13 8,44%

BTSM

Berdasarkan perhitungan diatas diketahui bahwa Batas Tingkat Solvabilitas

Minimum untuk tahun 2004 harus sebesar 120%, untuk tahun 2005 sebesar 120%,

dan untuk tahun 2006 harus sebesar 120%. Namun, dibandingkan dengan rasio

pencapaian solvabilitas PT. Jiwasraya pada tahun-tahun sebelumnya dengan rasio

pencapaian solvabilitas yang sebesar 136,74% tahun 2004, 139,63 tahun 2005 dan

13 8,44% tahun 2006. Maka Batas Tingkat Solvabilitas (RBC) yang dimiliki PT.

Jiwasraya telah melampaui Batasan Tingkat Solvabilitas yang ditetapkan pemerintah

(Depkeu). Hasil perbandingan ini menunjukan bahwa, kebijakan investasi yang

dilakukan perusahaan, masih memenuhi persyaratan. Berdasarkan kinerja tahun ke

tahun kondisi keuangan rasio solvabilitas PT. Jiwasraya selalu mengalami fluktuasi

(Kenaikan dan Penurunan) dari tahun ke tahun. Namun, yang terpenting adalah batas

dari rasio perusahaan selalu diatas batasan yang ditetapkan oleh pemerintah (Depkeu)

agar perusahaan asuransi dapat terus beroperasi dan tidak dilikuidasi.

Page 12: Jurnal PDF Mel_2

Perolehan Batas Tingkat Solvabilitas Minimum, Dari lampiran diperoleh batas

tingkat solvabilitas minimum untuk tahun 2004 sebesar 268.97 1,93, untuk tahun 2005

sebesar 291.015,82 dan untuk tahun 2006 sebesar 314.140,59 dari seluruh jumlah

BTSM yang dihasilkan dari tiap tahun menunjukan peningkatan terus menerus,

sehingga dalam hal ini dapat diketahui bahwa perusahaan dapat mengatasi berbagai

macam resiko yang ditimbulkan dari berbagai macam komponen batas tingkat

solvabilitas yang dilakukan melalui penanaman investasinya.

Perhitungan Komponen Rasio Solvabilitas (BTSM), Berikut Perincian Dari Faktor-

faktor Atau Komponen Batasan Tingkat Solvabilitas:

A. Kegagalan Pengelolaan Kekayaan (Asset Default) dari jumlah kekayaan yang

diperkenankan sebesar Rp. 3.355.104.45 (tahun2004), Rp.3 .656.313.03 (tahun

2005), Rp. 4.410.230.56 (tahun 2006). Dan kegagalan dalam mengelola

kekayaan perusahaan hanya sebesar Rp. 110.75 8.02 (tahun 2004), dan Rp.

115.356.84 (tahun 2005), sedangkan Rp. 103.924.60 (tahun2006). Dimana

dana ini dimaksudkan untuk mengatasi kemungkinan kehilangan atau

penurunan nilai kekayaan perusahaan.

B. Ketidakseimbangan Antara Proyeksi Arus Kekayaan Dan Kewajiban (Cash

Flow Risk). Jumlah dana yang dibutuhkan untuk menanggulangi resiko dari

ketidakseimbangan ini adalah nilai absolut dari hasil perhitungan yang ada,

dimana besarnya Rp. 1 16.092.26 (tahun 2004), Rp. 127.367.81 (tahun2005),

dan Rp. 154.936.60 (tahun 2006). Resiko ini ditentukan dengan

Page 13: Jurnal PDF Mel_2

membandingkan nilai sekarang dari proyeksi arus kas kekayaan dan nilai

sekarang dari proyeksi arus kas kewajiban.

C. Ketidakseimbangan Antara Nilai Kekayaan Dan Kewajiban Dalam Setiap

Jenis Mata Uang ( Currency Risk ). Pada tahun2004, 2005, 2006, PT.

Jiwasraya tidak memiliki resiko ini, karena jumlah kekayaan dalam masing-

masing mata uang.lebih besar dari pada kewajibannya. Dimana berarti

perusahaan cukup berhasil menjaga keseimbangan antara kewajiban dan

kekayaan untuk masing-masing mata uang. Resiko ini ditentukan dengan

membandingkan kekayaan dengan kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan

dalam setiap jenis mata uang.

D. Perbedaan Antara Beban Klaim Yang Terjadi dan Beban Klaim Yang

Diperkirakan (Claim Risk). Jumlah dana yang diperkirakan untuk

menanggulangi akibat perbedaan antara beban klaim yang terjadi dengan

beban klaim yang diperkirakan sebesar Rp.15.147.24 (tahun2004), Rp.

17.856.84 (tahun2005), dan Rp. 23.818.44 (tahun 2006). Resiko ini timbul

dari kemungkinan pengalaman klaim yang terjadi lebih buruk dari klaim yang

diperkirakan oleh perusahaan asuransi.

E. Ketidakcukupan Premi Akibat Perbedaan Hasil Investasi Yang Diasumsikan

Dalam Penetapan Premi Dengan hasil investasi yag diperoleh

(InvestmentRisk). Jumlah dana yang diperkirakan untuk menanggulangi resiko

perbedaan hasil investasi yang diperkirakan untuk menanggulangi resiko

perbedaan hasil investasi yang diperkirakan dengan yang diperoleh adalah

Page 14: Jurnal PDF Mel_2

sebesar Rp.26.974.41 (tahun2004), Rp. 30.446.31 (tahun 2005),dan Rp. 31.

460.95 (tahun 2006). Resiko ini untuk menanggulangi apabila hasil investasi

yang diperoleh oleh perusahaan lebih rendah dari pada yang diperkirakan

(Plafond).

F. Ketidakmampuan Pihak Reasuradur Untuk Memenuhi Kewajiban Membayar

Klaim (Reinsurance Risk). Jumlah yang dialokasikan untuk faktor ini adalh

sebesar O% untuk tiap-tiap tahun. Hal ini berkaitan dengan pihak reasuransi

(penanggung ulang atau reasuransi) dari PT. Jiwasraya. Oleh karena itu,

sesuai dengan ketetapan dari Depkeu maka resiko reasurandur adalah nihil.

Analisis Rasio Selain Batas Tingkat Solvabilitas

Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban-kewajiban lancarnya ( jangka pendeknya). Rasio ini paling

penting dalam menentukan solvabilitas perusahaan asuransi. Perhitungan dalam rasio

likuiditas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:

Rasio Likuiditas = Kekayaan lancar

Kewajiban lancar

Tahun 2004 =4029,1%

Tahun 2005 =4866,56%

Tahun 2006 =4003,15%

Page 15: Jurnal PDF Mel_2

Rasio-rasio tersebut ini menunjukan bahwa PT. Jiwasraya dapat atau mampu

memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada para pemegang polis.

Dilihat dari tingginya persentase rasio, walaupun mengalami fluktuasi, namun

rasio yang tinggi juga dapat menunjukan adanya permasalahan dalam hal

likuiditas dan perusahaan kemungkinan besar berada pada kondisi yang tidak

solven (sehat), sehingga perlu dilakukan analisis terhadap tingkat kecukupan

cadangan (reserve adequency) serta kestabilan dan likuiditas kekayaan yang

diperkenankan (admitted assets).

Dilihat dalam kondisi internal PT. Jiwasraya sendiri, kondisi likuiditas perusahaan

sudah cukup baik karena perusahaan secara financial dapat memenuhi kewajiban-

kewajiban jangka pendeknya.

Rasio Perimbangan Investasi dengan Kewajiban, Rasio ini digunakan untuk

mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya

kepada para pemegang polis. Perhitungan rasio Investasi terhadap cadanga Teknis

dan retensi sendiri dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Rasio investasi dengan kewajiban = Investasi : (cadangan Teknis + hutang klaim +

retensi sendiri)

Tahun 2004 = 104,98%

Tahun 2005 = 102,04%

Tahun 2005 = 104,31%

Page 16: Jurnal PDF Mel_2

Batasan dari pemerintah (Depkeu) untuk rasio perimbangan ini minimal sebesar

100%.

Rasio-rasio tersebut diatas menunjukan bahwa kondisi perimbangan antara

investasi dengan kewajiban PT. Jiwasraya dalam memenuhi kewajibannya kepada

para pemegang polis sudah baik, hal ini dapat dilihat dari rasio PT. Jiwasraya

yang sudah melebihi batas rasio yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 120%.

Rasio Pendapatan Investasi neto Terhadap Rata-Rata Investasi, Rasio ini

memberikan indikasi dalam menilai kemampuan manajemen dan kebijakan-

kebijakan investasi dari perusahaan yang bersangkutan (Asuransi) dan dapat

menentukan sehat tidaknya perusahaan asuransi dari penentuan jumlah laba yang

diperoleh. Perhitungan rasio pendapatan investasi neto dapat dilakukan dengan rumus

berikut:

Rasio pendapatan investasi neto terhadap rata-rata investasi =

Pendapatan Investasi Neto

Rata-rata investasi

Tahun 2004 = 9,15 %

Tahun 2004 = 9,57 %

Tahun 2004 = 6,98 %

Rendahnya rasio ini menunjukan bahwa investasi yang dilakukan perusahaan

kurang tepat, dimana dapat disebabkan penempatan yang salah dalam harta tetap,

Page 17: Jurnal PDF Mel_2

investasi spekulatif atau dalam hal metode penilaian aktiva, solvabilitas dan

likuiditas investasi.

Penyebab rendahnya rasio ini adalah terbatasnya portofolio investasi yang tersedia

(available) sehingga pendapatan dari sektor ini kurang maksimal atau belum

optimal namun secara internal perusahaan, kendala kurangnya portofolio diatas

masih dalam tingkat wajar atau tingkat pencapaian rasio ini sudah cukup baik.

Rasio Beban Klaim, Beban Usaha dan Komisi neto, Rasio-rasio ini

digunakan untuk mengukur beban dari perusahaan yang terdiri dari beban klaim,

beban usaha, dan beban komisi terhadap pendapatan preminya. Rasio ini juga

menunjukan tingkat efisiensi perusahaan. Rasio ini dihasilkan dari total perhitungan

rasio beban klaim, rasio beban usaha, dan rasio komisi neto dari tiap tahunnya.

A. Rasio Beban Klaim, Rasio ini sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan laba dari usaha asuransi serta menjaga likuiditas perusahaan.

Perhitungan rasio beban klaim dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

Rasio beban klaim = beban klaim

Pendapatan premi neto

Tahun 2004 = 52,97%

Tahun 2005 = 74,56%

Tahun2006 = 54,12 %

Page 18: Jurnal PDF Mel_2

Secara teoritis tingginya rasio beban klaim ini memberikan informasi tentang

buruknya proses underwriting dan penerimaan penutupan resiko serta sangat

mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan perusahaan dalam melaksanakan

fungsi teknis asuransi (underwriting).

Besarnya rasio diatas yang dimiliki PT. Jiwasraya masih dalam batas kewajaran

dan tidak terlalu tinggi. Hal ini membuktikan bahwa PT. Jiwasraya sudah cukup

baik dalam proses dan fungsi underwriting serta dalam hal pendapatan resiko.

B. Rasio Beban Usaha,Rasio ini untuk mengukur biaya administrasi atau

umum/manajemen yang terjadi dalam kegiatan usaha serta memberi indikasi

tentang tingkat efisiensi operasi perusahaan selain itu rasio ini juga merupakan

rasio terpenting karena dapat dijadikan ukuran dalam melihat rentabilitas.

Rasio beban usaha = Beban Usaha

Pendapatan premi neto

Tahun 2004 = 19,85%

Tahun 2005 = 22,12%

Tahun 2006 = 15,87%

Besarnya rasio-rasio diatas menunjukan peningkatan dan penurunan dari tiap

tahunnya sehingga dapat diketahui bahwa perusahaan asuransi belum begitu

efisien dalam biaya menejemennya.

Page 19: Jurnal PDF Mel_2

Perlu adanya analisis lebih mendalam terhadap setiap unsur biaya manajemen,

khususnya yang memberi kontribusi terbesar (misalnya: biaya umum dan

administrasi).

C. Rasio Komisi Neto, Rasio ini untuk mengukur biaya komisi yang dikeluarkan

perusahaan atas bisnis yang didapat, disamping itu juga, rasio ini dapat juga

digunakan untuk melakukan perbandingan besarnya tarif komisi keperantaraan antara

perusahaan yang satu dengan yang lain dengan rata-rata tarif dalam industri.

Rasio komisi neto = Komisi neto

Pendapatan premi neto

Tahun 2004 = 4,15%

Tahun 2005 = 5,08%

Tahun 2006 = 10,28%

Tingginya rasio-rasio ini menunjukan bahwa PT. Jiwasraya sudah cukup baik

dalam mengelola biaya komisinya.

Berdasarkan perhitungan rasio beban klaim, rasio beban usaha, dan rasio komisi

neto maka didapat jumlah total rasio beban (klaim, usaha, komisi) terhadap

pendapatan premi neto % sebesar 76,97% untuk (tahun2004), 101,76%

(tahun2005) dan 80,27% (tahun2006).

Page 20: Jurnal PDF Mel_2

DAFTAR PUSTAKA

Ade Arthesa, Ir, MM, dan Edia Handiman, Ir, MM, Bank Dan LembagaKeuangan Bukan Bank, PT. Indexs Kelompok Gramedia – Jakarta 2004

Jiwasraya, Magazine edisi 67 Th. VI juli 2006.

Kasmir, SE, MM, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya , PT. Raja GrafindoPersada – Jakarta 2004

Mandala Manurung dan Prathama Rahardja, Uang, Perbankan dan EkonomiMoneter , Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia - Jakarta 2004

Sekretariat Jendral Dewan Asuransi Indonesia, Undang-Undang RepublikIndonesia No.2 tahun 1992

Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain ,Salemba Empat – Jakarta 2006

Widhya Darma Artha, Penyusunan Laporan Keuangan SAP AsuransiKeuangan, 2000

www.Jiwasraya.ac.id