definisi diabetes mellitus

Download Definisi Diabetes Mellitus

Post on 28-Nov-2015

22 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

DM

TRANSCRIPT

DM Untuk Dokter UmumDr, Waisul Choroni SpPD

Definisi Diabetes Mellitus Diabetes melitus adalah merupakan penyakit gangguan kronik pada metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolism karbohidrat, lemak dan protein, disebabkan oleh defisiensi insulin relative atau absolut. Gambaran patologik DM sebagian besar dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin yaitu berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel-sel tubuh, peningkatan metabolisme lemak yang menyebabkan terjadinya metabolism lemak abnormal disertai endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah sehingga timbul gejala aterosklerosis serta berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

EPIDEMIOLOGIPada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya terus meningkat dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka ini akan bertambah menjadi 366 juta atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun lebih sering (terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens terbesar terjadi di Asia dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup, seperti pola makan Western-style yang tidak sehat.Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. TIPE DIABETES MELITUS1. Diabetes Melitus tipe 1Karakteristik dari DM tipe 1 adalah insulin yang beredar di sirkulasi sangat rendah, kadar glukagon plasma yang meningkat, dan sel beta pankreas gagal berespons terhadap stimulus yang semestinya meningkatkan sekresi insulin.DM tipe 1 sekarang banyak dianggap sebagai penyakit autoimun. Kelainan autoimun ini diduga ada kaitannya dengan agen infeksius/lingkungan, di mana sistem imun pada orang dengan kecenderungan genetik tertentu, menyerang molekul sel beta pankreas yang menyerupai protein virus sehingga terjadi destruksi sel beta dan defisiensi insulin. Faktor-faktor yang diduga berperan memicu serangan terhadap sel beta, antara lain virus (mumps, rubella, coxsackie), toksin kimia, sitotoksin, dan konsumsi susu sapi pada masa bayi.Selain akibat autoimun, sebagaian kecil DM tipe 1 terjadi akibat proses yang idiopatik. Tidak ditemukan antibodi sel beta atau aktivitas HLA. DM tipe 1 yang bersifat idiopatik ini, sering terjadi akibat faktor keturunan, misalnya pada ras tertentu Afrika dan Asia.2. Diabetes Melitus tipe 2Pada DM tipe 2 resistensi insulin terjadi pada otot, lemak dan hati serta terdapat respons yang inadekuat pada sel beta pankreas. Terjadi peningkatan kadar asam lemak bebas di plasma, penurunan transpor glukosa di otot, peningkatan produksi glukosa hati dan peningkatan lipolisis.Defek yang terjadi pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup yang diabetogenik (asupan kalori yang berlebihan, aktivitas fisik yang rendah, obesitas) ditambah kecenderungan secara genetik. Nilai BMI yang dapat memicu terjadinya DM tipe 2 adalah berbeda-beda untuk setiap ras.3. Diabetes Melitus tipe lain- Defek genetik fungsi sel betaBeberapa bentuk diabetes dihubungkan dengan defek monogen pada fungsi sel beta, dicirikan dengan onset hiperglikemia pada usia yang relatif muda ( 23,0 - Dengan risiko 23,0 24,9 - Obes I 25,0 29,9 - Obes II > 30Untuk menghitung kebutuhan kalori, dapat dipakai rumus Broca, yaitu :Berat Badan Idaman (BBI) = ( TB 100) 10%Status gizi : BB aktual x 100%/TB(cm) 100 - BB kurang bila BB < 90% BBI - BB normal bila BB 90 110% BBI - BB lebih bila BB 110 120% BBI - Gemuk bila BB > 120% BBILATIHAN JASMANIKegiatan jasmani sehari-hari dan latihan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes tipe 2. Latihan jasmani dapat menurunkan berat badan (jalan, bersepeda santai, jogging, berenang). Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Perlu dibatasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang gerak (menonton televisi).INTERVENSI FARMAKOLOGISIntervensi farmakologik ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL (OHO)Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 3 golongan :a. Pemicu sekresi insulin ( insulin secretagogue ) : sulfniturea dan glinidb. Penambah sensitivitas terhadap insulin : metformin, tiazolidindionc. Penghambat absorbs glukosa : penghambat glukosidase alfaa. Pemicu Sekresi Insulin1. SulfonilreaObat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulinoleh sel beta pancreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien denganberat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskuler tidak dianjurkan penggunaan sulfoniluria kerja panjang seperti klorpamid.2. GlinidGlinid merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfoniluria, dengan meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Obat ini diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan dieksresin secaracepat melalui hati.b. Penambah Sensitivitas Terhadap Insulin1. MetforminObat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati, disamping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer, dan terutama dipakai pada pasien DM gemuk. 2. TiazolidindionTiazolidindion (contoh : rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPAR), suatu reseptorinti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunnkanresistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I IV karena dapat memperberat edema/resistensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. c. Penghambat Glukosaidase Alfa ( Acarbose )Obat ini bekerja dengan mengurangi absorbs glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak mengakibatkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulen.EDUKASIDiabetes tipe2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku setelah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan pengelolaan diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif yang meliputi pemahaman tentang:a) Penyakit DMb) Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DMc) Penyulit DMd) Intervensi farmakologis dan non-farmakologise) Hipoglikemiaf) Masalah khusus yang dihadapig) Cara mengembangkan system pendukung dan mengajarkan ketrampilanh) Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatanEdukasi secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil 1. Adapun perilaku yang diinginkan antara lain adalah:a) Mengikuti pola makan sehatb) Meningkatkan kegiatan jasmanic) Menggunakan obat diabetes dan obat obat-obat pada keadaan khusussecara aman dan teratur.d) Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) danmemanfaatkan data yang adaPERENCANAAN MAKANANPerencanaan makanan merupakan salah satu pilar pengelolaan diabetes. Faktor yang berpengaruh pada respon glikemik makanan adalah cara memasak, proses penyiapan makanan dan bentuk makanan serta komposisi makanan (karbohidrat, lemak dan protein), yang dimaksud dengan karbohidrat adalah gula, tepung dan serat. Jumlah masukan kalori makanan yang berasal dari karbohidrat lebih penting dari pada sumber atau macam karbohidratnya. Standar yang diajukan adalah makanan dengan komposisi 1:- Karbohidrat 60 70 %- Protein 10 15% Lemak 20 25%Makanan dengan komposisi karbohidrat sampai 70 75 % masih memberikan hasil yang baik. Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA, Mono Unsaturated Fatty Acid), dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kandungan serat } 25 g/hari, diutamakan serat larut. Pasien diabetes dengan hipertensi perlu mengurangi konsumsi garam. Pemanis buatan dapat dipakai secukupnya. Pemanis buatan yang tak bergizi yang aman dan dapat diterima untuk digunakan pasien diabetes termasuk yang sedang hamil adalah : sakarin, aspartame, acesulfame potassium dan sucralose. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur ada tidaknya stress akut, dan kegiatan jasmani. Untuk penentuan status gizi,status gizi, umur, ada tidaknya stress akut, dan kegiatan jasmani. Untuk penentuan status gizi, dapat dipakai Indeks Massa Tubuh (IMT) dan rumus Broca. Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus IMT = BB (kg)/TB(m2)Klasifikasi IMT- BB Kurang < 18,5- BB Normal 18,5 22,9- BB Lebih > 23,0- Dengan risiko 23,0 24,9- Obes I 25,0 29,9- Obes II > 30Untuk menghitung kebutuhan kalori, dapat dipakai rumus Broca, yaitu :Berat Badan Idaman (BBI) = ( TB 100) 10%Status gizi : BB aktual x 100%/TB(cm) 100- BB kurang bila BB < 90% BBI- BB normal bila BB 90 110% BBI- BB lebih bila BB 110 120% BBI- Gemuk bila BB > 120% BBILATIHAN JASMANIKegiatan jasmani sehari-hari dan latihan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes tipe 2. Latihan jasmani dapat menurunkan berat badan (jalan,