bab iii metodologi penelitian - upi...

24
Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan mengenai metodologi penelitian yang digunakan dalam disertai ini yang meliputi: desain peneltian; partisipan, waktu dan lokasi penelitian; teknik pengumpulan data; analisis data dan teknik pengujian vaiditas data hasil penelitian. Penjelasan mengenai aspek-aspek dalam metodologi penelitian ini penting sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian. A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode Grounded Theory. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, peneliti dapat lebih leluasa dalam mengkaji dan menganalisis berbagai fenomena yang ditemui di lapangan yakni proses bagaimana orang-orang menegosiasikan makna dan bagaimana label-label yang menyertainya muncul dan diterapkan secara induktif dan mendalam. Metode kualitatif dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang sedikitpun belum diketahui (Straus dan Cobin, 2015, hlm. 5). Pendekatan kualitatif dapat diartikan sebagai pendekatan yang berorientasi pada proses yang memungkinkan penemuan sejumlah data dan fakta. Fokus penelitian adalah pada perspektif partisiapan yakni dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dalam memahami kehidupan mereka, yaitu apa yang mereka alami dan bagaimana mereka menafsirkan pengalaman mereka, serta bagaimana mereka menstruktur dunia sosial tempat mereka tinggal. Hasil penelitian yang deskriptif ini berupa cuplikan data-data dari ungkapan para partisipan tersebut mengilustrasikan dan sekaligus membuktikan suatu presentasi. Penelitian ini fokus menggunakan metode Grounded Theory (selanjutnya dalam penelitian ini disingkat GT, karena penelitian diharapkan dapat menemukan konsep, pendekatan atau teori baru yang berangkat dari temuan selama penelitian dilakukan. Untuk lebih memperjelas tentang metode yang digunakan dibawah ini akan dijabarkan tentang pemilihan Grounded Theory dan Analisis Dimensional. 73

Upload: others

Post on 06-Sep-2020

33 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai metodologi penelitian yang

digunakan dalam disertai ini yang meliputi: desain peneltian; partisipan, waktu dan

lokasi penelitian; teknik pengumpulan data; analisis data dan teknik pengujian

vaiditas data hasil penelitian. Penjelasan mengenai aspek-aspek dalam metodologi

penelitian ini penting sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian.

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode

Grounded Theory. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, peneliti dapat lebih

leluasa dalam mengkaji dan menganalisis berbagai fenomena yang ditemui di

lapangan yakni proses bagaimana orang-orang menegosiasikan makna dan

bagaimana label-label yang menyertainya muncul dan diterapkan secara induktif

dan mendalam. Metode kualitatif dapat digunakan untuk mengungkap dan

memahami sesuatu dibalik fenomena yang sedikitpun belum diketahui (Straus dan

Cobin, 2015, hlm. 5). Pendekatan kualitatif dapat diartikan sebagai pendekatan

yang berorientasi pada proses yang memungkinkan penemuan sejumlah data dan

fakta. Fokus penelitian adalah pada perspektif partisiapan yakni dari orang-orang

dengan latar belakang yang berbeda dalam memahami kehidupan mereka, yaitu apa

yang mereka alami dan bagaimana mereka menafsirkan pengalaman mereka, serta

bagaimana mereka menstruktur dunia sosial tempat mereka tinggal. Hasil penelitian

yang deskriptif ini berupa cuplikan data-data dari ungkapan para partisipan tersebut

mengilustrasikan dan sekaligus membuktikan suatu presentasi.

Penelitian ini fokus menggunakan metode Grounded Theory (selanjutnya

dalam penelitian ini disingkat GT, karena penelitian diharapkan dapat menemukan

konsep, pendekatan atau teori baru yang berangkat dari temuan selama penelitian

dilakukan. Untuk lebih memperjelas tentang metode yang digunakan dibawah ini

akan dijabarkan tentang pemilihan Grounded Theory dan Analisis Dimensional.

73

Page 2: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

74

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Pemilihan Grounded Theory (GT)

Tujuan dari GT adalah teoretisasi data, yaitu suatu metode penyusunan

teori yang beroreantasi tindakan atau interaksi dari kancah penelitian, sehingga

tepat dipakai pada penelitian terhadap perilaku. Pendekatan ini cocok dengan

subyek yang sedang dikaji oleh peneliti, tentang kehidupan sosial termasuk perilaku

dan karakter mahasiswa di asrama. Penelitian ini berupaya mengembangkan suatu

teori baru tentang pengembangan karakter dan nilai kehidupan di asrama kampus,

dimana mahasiswa Universitas Telkom, dengan jumlah hampir 6.000 orang, berasal

dari berbagai perilaku, suku, budaya dan latar belakang berbeda, tinggal dalam

asrama dalam satu tahun penuh. Tujuan keseluruhan dari penelitian ini untuk

mengeksplorasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi pengembangan karakter

di asrama perguruan tinggi, khususnya berkaitan dengan budaya organisasi dan

nilai-nilai (core value) organisasi.

Penelitian GT memberikan peneliti suatu kemampuan untuk menurunkan

teori dalam konteks data yang dikumpulkan dan dinalisis melalui suatu proses

penelitian (Strauss & Corbin, 1990). Kekuatan GT, pada sifat komprehensif dari

perspektif yang dapat diperoleh peneliti yang secara langsung terjun ke dalam

fenomena sosial dan melakukan observasi secara lengkap, sehingga peneliti dapat

mengembangkan pengertian yang mendalam dan lengkap.

Perbedaan antara metoda penelitian GT dengan metode penelitian lain

adalah pada kekhasan pendekatannya, dalam pengembangan GT yang

menyarankan adanya interaksi yang terus menerus antara pengumpulan data dan

analisanya (Egan, 2002). Perbedaan lain bahwa penelitian GT tidak bertolak dari

suatu teori atau untuk menguji teori, seperti paradigma penelitian kuantitatif,

melainkan bertolak dari data menuju suatu teori (Wardhono, 2011, hlm. 24).

Dapat dikatakan bahwa penelitian GT sebagai metodologi penelitian

kualitatif, penekanan pada penemuan teori dari data observasi empirik di lapangan

dengan metoda induktif, generatif, konstruktif, dan subyektif yaitu merekonstruksi

penafsiran dan pemaknaan hasil penelitian berdasarkan konseptualisasi masyarakat

yang dijadikan subyek studi.

Page 3: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

75

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pendekatan GT awalnya disusun oleh dua orang sosiolog, Barney Glaser

dan Anselm Strauss , yang menulis 4 (empat) buah buku yaitu: The Discovery of

Grounded Theory (1967), Theoretical Sensitivity (1978), Qualitative Analysis for

Social Scientists (1987), dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory

Procedures and Techniques (1990). Menurut Glaser dan Strauss, GT memenuhi

kriteria metode ilmiah, karena prosedur kerjanya dirancang secara cermat. Kriteria

dimaksud adalah signifikansi, kesesuaian teori dan observasi, dapat

digeneralisasikan, diteliti ulang, serta terdapat ketepatan, ketelitian, dan bisa

dibuktikan.

2. Analisis Dimensional

Model peneltian berbasis pada GT melibatkan pengumpulan data dengan

berbagai metode yang disusun melalui suatu sistem pengkodean, seperti

pengamatan awal terhadap partisipan, wawancara dengan partisipan dan

dokumentasi yang akan dibentangkan di bawah. Sejak Glaser dan Strauss

mengajukan GT, berbagai variannya telah muncul selama empat dekade terakhir.

Sesuai dengan tujuan disertasi ini, varian GT yang dianut mengacu pada suatu

adopsi, sekaligus adaptasi dari versi Strauss dan Corbin (1990) dan mengadopsi

perspektif Charmaz (2006).

Langkah (steps) dalam analisis data menurut Strauss dan Corbin (1990)

menekankan tiga aspek utama, yaitu: 1) kategori (category) yaitu unit informasi

yang terdiri dari peristiwa, kejadian dan contoh, 2) sampling teoretis (theoretical

sampling) yaitu sampel yang dipilih dari wawancara dengan partisipan guna

membantu peneliti dalam membentuk teori secara memadai, 3) komparatif konstan

(constant comparative) analisis data yaitu proses pengambilan informasi dari

koleksi data dan mengkomparasikannya guna pemunculan kategori-kategori.

Dalam penelitian GT, analisis atau sering disebut pengkodean, merupakan

proses utama penyusunan teori dari data. Hal ini meliputi penguraian data,

pengkonsepan dan penyusunan kembali konsep dengan cara baru (Strauss dan

Cobin, 2015, hlm. 51). Dalam pengkodean (coding) terdiri dari tiga bagian utama,

yaitu: pengkodean terbuka (open coding), pengkodean aksial (axial coding) dan

pengkodean selektif (selective coding).

Page 4: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

76

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pengkodean terbuka (open coding) merupakan pendataan awal, dengan

proses menguraikan, memeriksa, membandingkan, mengkonsepkan dan

mengkatagorikan data, yang selanjutnya menghasilkan suatu poros data yang

dinamai pengkodean aksial.Sementara itu, pengkodean aksial (axial coding)

merupakan prosedur penempatan data kembali dengan cara-cara baru, dengan

membuat kaitan antar katagori dan sub-katagori yang akan menghasilkan fenomena

inti (core phenomenon). Pengkodean berporos difokuskan pada spesifikasi katagori

(fenomena) berdasarkan kondisi yang memunculkan yaitu 1) konteks, sejumlah

sifat khusus dari katagori dan causal condition (faktor-faktor yang menyebabkan

fenomena inti; 2) proses merupakan aksi atau tindakan untuk menangani,

mengelola dan melakukan penyusunan katagori; 3) konsekuensi adalah hasil atau

akibat dari tindakan dan interaksi.

Catatan-catatan yang dibuat peneliti bagi dirinya, dilakukan dengan

pememoan (memoing), dalam rangka mengelaborasi ide-ide, menyusun hipotesis

tentang sebuah katagori, kususnya tentang hubungan-hubungan antara kategori-

kategori yang ditemukan. Dapat dikatakan pememoan (memoing) adalah proses

mencatat pemikiran-pemikiran dan gagasan dari peneliti sewaktu hal itu muncul

selama penelitian (Glaser, 1967).

Mengingat tujuan penelitian ini, berbagai aspek, langkah dan pengkodean

yang luas, sehingga perlu disistematisasikan agar arah penelitian lebih jelas. Untuk

itu, seperti akan disinggung ulang sekilas pada bagian Pengantar Bab IV, disertasi

ini meminjam Analisis Dimensional (Dimensional Analysis) yang diajukan seorang

tokoh GT, yang pernah bermentor sekaligus berkolaborasi dengan Anselm Strauss

dalam mengembangkan gagasan-gagasan GT, yakni Schatzman (1991 dalam Kools

et al. 1996). Hal mana dimensi-dimensi mengacu pada kemampuan individu dalam

menangani kompleksitas suatu fenomena. Dimensi mencakup kategori-kategori

yang dibangun berdasarkan hasil pengkategorian atau persandian, yang pada waktu

yang bersamaan membawahi properti-properti yang merupakan komponen-

komponen konseptual. Dimensi-dimensi, kategori-kategori dan properti-properti

dalam analisis dimensional ini mencakup empat beberapa segi, yaitu konteks dan

kondisi, proses (aksi-interaksi) dan konsekuensi. Skema dari kerangka kerja umum

yang tertampilkan adalah sebagai berikut.

Page 5: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

77

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Aspek/Langkah

analisis data

Pengkodean

(Coding)

Pememoan

(memoing) Analisis Dimensional (Dimensional Analysis)

Komparatif

Konstan

(Constant

Comparative)

Selektif

(selective

coding)

Pem

emo

an

(Mem

eoin

g)

Pro

per

ti (

Pro

per

ties

)

Kat

ego

ri-k

ateg

ori

(C

ate

go

ries

)

Dim

ensi

(D

imen

sio

ns)

Konsekuensi Dimensi Inti

(Core

dimensions)

Sampling

Teoretis

(Theoretical

sampling)

Aksial (axial

coding)

Proses

Strategi/

Interaksi

Kategori

Konseptual

(Conceptual

categories)

Kategori

(Categories)

Terbuka

(open coding)

Konteks/

Kondisi

Dimensi

Utama

(Primary

Dimension)

Gambar 3.1 Matriks Analisis Dimensional dalam Grounded Theory

Sumber : diadaptasi dari Schatzman (1991 dalam Kools et al 1996)

Dimensi Utama dan Kategori Konseptual akan ”dipetakan” dalam tabel-

tabel pada Bab IV meliputi perspektif dari pemangku kepentingan (stakeholders),

yaitu: manajemen universitas, pengurus asrama dan mahasiswa asrama Universitas

Telkom. Dari dimensi-dimensi dan kategori-kategori ini selanjutnya dilakukan

proses dan komparasi data sehingga termunculkan kategori-kategori yang

mengarah pada dimensi inti, sebagai bentuk pengembangan proposisi-proposisi

atau hipotesis-hipotesis guna membangun teori.

Dalam disain penelitian dengan metode Grounded Theory ini akan

dijelaskan dan diuraikan tentang implementasi GT disertai dengan penjelasan

tentang karakteristik partisipan, waktu, lokasi penelitian, pengumpulan, analisa dan

validasi data.

B. Partisipan, Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Partisipan

Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari pihak-pihak yang dinilai dapat

memberikan gambaran secara memadai mengenai masalah yang dikaji. Untuk itu

peneliti perlu menyusun kriteria calon partisipan sebagai pedoman awal untuk

memulai pengumpulan data. Calon partispan dipilih menggunakan pendekatan

theoretical sampling yang lazim digunakan dalam penelitian GT dimana

pengambilan sampel berdasarkan konsep-konsep yang terbukti berhubungan secara

teoritik dengan teori yang sedang disusun.

Page 6: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

78

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tujuan penyampelan teoritik adalah mengambil sampel peristiwa, insiden

dan sebagianya yang menunjukkan katagori, sifat dan ukurannya, sehingga dapat

disusun dan dihubungkan secara konseptual (Strauss dan Corbin, 2015, hlm. 198).

Pengambilan sampel insiden dan peristiwa dengan mengumpulkan data tentang hal-

hal yang dilakukan atau tidak, kondisi yang mempengaruhi dan tidakan/interaksi

orang-orang atau pelaku yang terlibat dalam peristiwa, dalam hal ini disebut

partisipan.

Adapun kriteria awal calon partisipan dapat mengacu pada tujuan

penelitian dan mengacu pada isu yang relevan dari fenomena yang diteliti. Partispan

yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah: (1) mahasiswa dan mahasiswi yang

menjalani program wajib tinggal diasrama selama satu tahun pertama, (2) pembuat

kebijakanbaik program, pengaturan dan aturan asrama, (3) pengelola asrama baik

asrama putra maupun asrama putri yang sehari-hari berada dan mengawasi kegiatan

asrama, (4) Pengawas asrama yang mendampingi kesaharian dan mentor

mahasiswa di asrama seperti Senior Residence, (5)manajemen puncak yang

mempunyai banyak informasi tentang kebijakan pendirian asrama dan pembangun

konsep nilai-nilai budaya perusahan , (6) pendidik yang terlibat dalam pengajaran

yang terkait dengan mata pelajaran pendidikan dan pengembangan karakter, (7)

pihak lain sebagai nara sumber seperti orang tua mahasiswa yang tinggal di asrama.

Tidak ada ukuran yang baku untuk menetapkan berapa jumlah sampel

atau partispan yang diperlukan dalam penelitian kualitatif utamanya dalam metode

GT. Jumlah sampel dianggap memadai jika telah terjadi saturasi data, yakni sudah

tidak ditemukan lagi katagori, konsep dan pengkodean baru dari informasi yang

diperoleh dari partisipan. Menurut Cresswell (2013) untuk dapat membangun dan

menghasilkan sebuah konsep yang baik dalam penelitian GT diperlukan antara 20

dan 30 partisipan yang terlibat dalam proses pengambilan data. Partispan yang

diidentifikasi dalam penelitian ini adalah:

a. Subjek utama adalah mahasiswa putra dan putri yang tinggal di asrama

mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di asrama.

Page 7: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

79

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

b. Unsur pimpinan, sebagai pembuat kebijakan asrama baik program,

pengaturan dan aturan seperti Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Direktur

kemahasiswaan dan Asrama, Manajer pengembangan karakter dan Asrama,

dan Kaur Asrama.

c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang sehari-

hari berada dan mengawasi kegiatan asrama seperti pengelola asrama putra

dari PT Trengginas, asrama putri dari PT. Gedung Sarana Duta (PT.GSD), PT

Citra Sukapura Megah (PT. CSM).

d. Manajemen puncak yang mempunyai banyak informasi tentang kebijakan

pendirian asrama dan pembangun konsep nilai-nilai budaya perusahan seperti

Rektor dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ketua

Manajemen Transformasi.

e. Pendidik yang terlibat dalam pengajaran yang terkait dengan mata pelajaran

pendidikan dan pengembangan karakter, untuk menggali informasi terhadap

jumlah sks, tanggapan, kecukupan mata kuliah Mata Kuliah Dasar Umum

(MKDU) sepert Agama, PKN, Kewirausahaan selama di kelas.

f. Nara sumber seperti orang tua mahasiswa yang tinggal di asrama dll

Pemilihan subjek penelitian tersebut dimaksudkan untuk memperoleh

gambaran memadai mengenai model pendidikan karakter berbasis pada asrama

dalam membina nilai-nilai budaya organisasi di Universitas Telkom, meliputi: (1)

porsi kecukupan pendidikan karakter yang diberikan pada satuan pendidikan, (2)

area lain sebagai basis dalam pembinaan karakter, (3) pemilihan nilai-nilai karakter

yang akan dikembangkan serta keterkaitannya dengan nilai-nilai budaya organisasi,

(4) kurikulum dan program asrama yang diterapkan di asrama, (5) struktur

organisasi dan tata kelola asrama, (6) aspek dukungan keberhasilan pendidikan di

asrama

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Telkom yang beralamat di Jalan

Telekomunikasi No. 01 Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung. Lokasi

penelitian difokuskan di asrama Universitas Telkom yang berada dikomplek

Universitas.

Page 8: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

80

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sebagai gambaran bahwa asrama Universitas Telkom mempunyai 17 tower

bangunan, dimana setiap tower terdiri empat lantai dengan jumlah kamar per tower

sebanyak 94 sehingga total kamar sebanyak 1.598 kamar.

Pada setiap kamar berisi 4 mahasiswa, sehingga keseluruhan kapasitas asrama

dapat menampung 6.000 mahasiswa. Penempatan asrama putra dan putri dilakukan

terpisah untuk asrama putri menepati 7 tower dengan jumlah penghuni putri

sebanyak 2.567 mahasiswi, sedangkan untuk putra menempati 7 tower dengan

jumlah penghuni sebanyak 3.345 mahasiswa

Lokasi ini dipilih karena Universitas Telkom melaksanakan pembinaan

karakter melalui model pendidikan berbasis asrama yang difokuskan pada

mahasiswa baru selama satu tahun. Dalam kehidupan asrama diberlakukan

pembinaan kepribadian guna pembentukan karakter bagi mahasiswa baru yang

didasarkan pada nilai-nilai budaya Universitas Telkom. Pengelolaan pendidikan

berasrama ini dipandang dapat berkontribusi dalam membangun karakter

mahasiswa disamping melalui pembelajaran di kelas. Wawancara dan observasi

secara intens juga dilakukan pada kehidupan keseharian berasrama yang terletak di

dalam kampus Universitas Telkom.

Waktu penelitian dilakukan selama 9 bulan dari bulan Januari 2016

sampai dengan September 2016, namun untuk lebih mempertajam data penelitian

maka wawancara dan observasi tambahan dilakukan pada bulan Januari 2017.

Dalam GT proses pencarian data dan observasi dapat dilakukan berulang sampai

dengan saturasi data diperoleh.

C. Pengumpulan Data

Salah satu pendekatan dalam penelitian GT adalah peran peneliti sendiri

sebagai instrumen pengumpul data, juga sebagai perencana, pelaksana pengumpul

data, penganalisis, penafsir data dan pelapor hasil penelitian. Ada 2 (dua) metode

utama yang dapat digunakan secara simultan dalam proses kerja pengumpulan data

itu, yaitu wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi, disamping itu

dikumpulkan juga dokumen yang relevan dan studi literatur berupa teori yang

terkait pada penelitian.

Page 9: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

81

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan kunjungan langsung terhadap suatu

objek untuk mengetahui keberadaan, situasi, konteks dan maknanya dalam upaya

mengumpulkan data penelitian, sehingga yang sedang berjalan tidak lepas

pengamatan dan dapat dilihat secara nyata (Satori & Komariah, 2014, hlm. 105).

Dalam penelitian kualitatif utamanya metode GT, observasi tidak untuk menguji

kebenaran, namun untuk mengetahui kebenaran yang berhubungan dengan

aspek/katagori sebagai aspek studi yang dikembangkan peneliti.

Observasi mempunyai kriteria antara lain 1) peristiwa dapat diamati

secara langsung; 2) dilakukan sendiri sehingga bisa mengetahui, merasakan

peristiwa dan perilaku objek; 3) dicatat secara sistematik terhadap suatu peristiwa

dan situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan

yang diperoleh dari data. Dalam observasi tidak boleh dilupakan adanya unsur-

unsur atau komponen dalam setiap situasi sosial yang diamati. Menurut J.P

Spradley (Satori & Komariah, 2014, hlm. 111), bahwa tiap situasi sosial terdapat

tiga komponen yang dapat diamati yaitu: 1) ruang atau tempat dalam aspek fisik;

2) pelaku atau aktor yaitu orang yang terlibat dalam situasi; 3) kegiatan (aktivitas)

yang meliputi obyek, perbuatan, kejadian, peristiwa dan waktu. Pada dasarnya

observasi mempunyai kelebihan seperti peneliti mengetahui kejadian sebenarnya,

bisa memahami substansi, mencatat kebenaran, memahami perilaku yang kompleks

dan memungkinkan pengumpulan data yang tidak dilakukan oleh teknik lain.

Sekalipun demikian, masih ada beberapa kekurangan dalam observasi antara lain

memakan waktu lama, sangat tergantung pada kepiawian pengamatnya, data yang

didapat terlalu banyak sehingga menyulitkan dalam analisa.

Dalam konteks ini, peneliti melakukan pengamatan dalam mengumpulkan

data yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan karakter berbasis asrama.

Observasi dan pengamatan dilakukan dengan melihat secara langsung kegiatan

keseharian mahasiswa selama di asrama, bangun tidur, ketepatan waktu masuk

kuliah, keterlibatan mahasiswa terhadap agenda yang telah ditetpkan oleh unit

pengelola, ekspresi dan kegembiraan selama mengikuti program dan ketaatan

terhadap peraturan. Observasi terus menerus dilakukan terhadap kehidupan

keseharian di asrama seperti rutinitas kegiatan di asrama, ketaatan pada peraturan.

Page 10: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

82

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Wawancara

Teknik wawancara dalam GT biasanya dilakukan tidak hanya satu kali,

namun bisa berulang dalam beberapa kali kunjugan lapangan, sampai data hingga

katagori-katagori mencapai kejenuhan atau saturasi. Pengambilan data dilakukan

dengan menggunakan wawancara atau interview yang pertanyaanya tidak

terstruktur (unstructured interview), dimana pewawancara hanya mempunyai

rencana pertanyaan atau rencana hal-hal atau konteks/topik yang akan

ditanyakannya. Pertanyaan tersebut biasanyamerupakan pertanyaan yang umum

dan bukan merupakan sekumpulan pertanyaan spesifik yang harus ditanyakan

dengan perkataan tertentu dan dengan urutan tertentu (Babbie, dalam Wardhono,

2011, hlm. 26).

Wawancara langsung dilakukan terhadap manajemen Universitas Telkom

antara lain pembuat kebijakan seperti Rektor, Wakil Rektor, unit penyusun

kebijakan corporate culture, Direktur Kemahasiswaan, unit pengelola asrama dan

mahasiswa yang tinggal asrama. Wawancara juga dilakukan kepada partisipan lain

yang terkait dengan kehidupan asrama seperti orang tua mahasiswa, penginisiasi

dan yang mengukur program asrama sebelumnya dan dosen yang bisa merasakan

dampak kehidupan mahasiswa yang tinggal diasrama.

Wawancara secara langsung tersebut dengan tujuan mendapatkan

informasi dengan bentuk dan ciri kekhasan yang ada pada setiap nara sumber.

Dengan wawancara langsung dialog antara peneliti dengan yang diteliti memberi

kesan bahwa sudah terjalin suatu hubungan yang intens dan akrab, sehingga proses

wawancara tidak kaku (Satori & Komariah, 2014, hlm. 131). Dalam wawancara

secara langsung mendalam, ada flexibilitas dan keluwesan, dimana susunan

pertanyaan dan kata-kata dalam setiap pertanyaan dapat diubah saat wawancara,

disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik

sosial budaya narasumber yang dihadapi.

Untuk memandu jalannya wawancara, peneliti menyusun pedoman

wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan pokok yang diajukan. Semua hasil

wawancara ini ditulis dalam lembar catatan lapangan (field notes) atau jika

wawancara dilakukan dengan perekaman video atau audio maka perlu dituliskan

kembali dalam format teks.

Page 11: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

83

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara memiliki beberapa

keuntungan, sebagaimana dikemukakan oleh Creswell (2007, hlm. 226) bahwa

“some advantages are that they provide useful information when you cannot

directly observe participants, and they permit participants to describe detailed

personal information”. Melalui teknik ini peneliti dapat memperoleh informasi

yang berguna bagi penelitian berdasarkan keterangan responden secara terperinci.

Wawancara memberikan keleluasaan kepada peneliti untuk mempertanyakan

berbagai hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti, dimana setiap pertanyaan

tersebut dapat berkembang selama proses percakapan terjadi.

Ada 3 jenis teknik wawancara yaitu: wawancara struktur (structured

interview), wawancara semi terstruktur (semistructured interview), dan wawancara

tidak terstruktur (unstructured interview) (Sugiyono, 2014, hal 73). Dalam

penelitian ini peneliti berupaya menggunakan ketiga jenis wawancara tersebut,

dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi wawancara serta kebutuhan akan

informasi yang dapat berkembang setiap saat.

Wawancara terstruktur dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses

perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program pengembangan pendidikan

karakter di perguruan tinggi. Wawancara ini dilakukan terhadap pimpinan

universitas sebagai pembuat kebijakan tentang budaya perusahaan dan nilai-nilai

organisasi. Sedangkan wawancara semi struktur ini sudah masuk dalam kategori in-

depth interview (wawancara mendalam), pelaksanaannya lebih bebas dan terbuka

dibanding wawancara terstruktur. Dalam hal ini peneliti akan melakukan

wawancara kepada direktorat pengelola kebijakan asrama yang merupakan unit

pembuat kebijakan asrama dan pengelola asrama. Wawancara ini dilakukan sebagai

pelengkap data untuk menjawab fokus penelitian tentang bagaimana proses

perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program pendidikan karakter.

Sedangkan wawancara tak terstruktur, menerapkan metode interview

secara lebih mendalam, luas, dan terbuka, untuk mengetahui pendapat, pandangan,

perasaan, pengetahuan dan pengalaman seseorang. Wawancara ini melibatkan

mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di asrama serta unit yang sehari-hari berada

dan mengawasi kegiatan asrama seperti pengelola asrama putra dari PT Trengginas,

asrama putri dari PT. GSD dan alumni asrama yang menjadi Senior Resident (SR).

Page 12: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

84

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Analisis Dokumen

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi

dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen merupakan catatan peristiwa

yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental.

Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita

/biografi, peraturan, kebijakan. Sedangkan dokuman yang berbentuk gambar bisa

berpa foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Pada sisi lain yang berbentuk karya

dapat berbentuk karya seni seperti patung, film, puisi (Sugiyono, 2011, hlm. 82).

Dokumen merupakan kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa

catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen (file siswa dan

pegawai, deskripsi program, kurikulum, data statistik (Satori, 2011, hlm. 147)

Dokumen yang ada secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu

dokumen resmi dan dokumen tidak resmi. Dokumen resmi mencakup hal-hal

seperti memo-memo, notulen rapat, kumpulan dokumen penting, catatan para

siswa. Sedangkan dokumen tidak resmi misalnya nota, dan surat pribadi yang dapat

memberikan informasi pendukung terhadap suatu peristiwa

Kaitannya dengan penelitian yang sedang dilakukan, peneliti

mengumpulkan dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini menyangkut ide

pembentukan nilai budaya perusahaan, mata kuliah dan metode pengajaran yang

terkait dengan karakter, krurikulum, jadwal, rekaman perkulihaan, feedback

mahasiswa, peraturan bidang akademik, catatan hasil-hasil rapat dinas dan

workshop, foto kegiatan pembelajaran dan asrama.

4. Studi Literatur

Studi literatur diperlukan dalam mengungkap berbagai teori-teori yang

berkaitan dengan permasalahan yang sedang dihadapi atau diteliti sebagai bahan

pembahasan hasil penelitian. Literatur adalah bahan-bahan yang diterbitkan secara

rutin ataupun berkala (Satori & Komariah, 2014, hlm. 152). Menurut Strauss

Cobin (2015, hal 39), GT, baik literatur teknis maupun non-teknis, memainkan

peranan penting dan beragam terkait dengan penelitian.

Page 13: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

85

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Literatur teknis dapat berupa laporan kajian penelitian, karya tulis

profesional atau disipliner dalam bentuk makalah teoritik atau filosofis, yang dapat

digunakan sebagai bahan latar belakang yang merupakan pembanding bagi data-

data yang dikumpulkan dalam penelitian GT. Dalam penelitian kuantitatif, literatur

membantu peneliti menggambarkan variabel-variabel penting, keterkaitan,

pengelompokan variabel, yang akan digunakan dalam menginterpretasikan temuan

yang diperoleh melalui cara yang baku. Hal ini berbeda dalam penelitan kualitatif

GT, yang lebih menekankan pada penemuan katagori-katagori dan hubungan yang

relevan antar katagori, bukan hubungan antar variabel, yaitu dengan menyusun

katagori dengan cara-cara baru, ketimbang cara-cara baku.

Literatur non-teknis meliputi surat, biografi, catatan harian, laporan, kaset

video, surat kabar, dan sebagainya. Literatur ini dapat digunakan sebagai data

primer, yang dapat melengkapi pewawancaraan dan pengamatan. Hal ini dapat

dilakukan melalui membaca, mempelajari dan mengkaji literatur-literatur yang

berhubungan dengan pendidikan karakter, konsep dan teori nilai, pendidikan

berbasis asrama (boarding school), serta budaya organisasi baik berasal dari buku,

internet, maupun hasil-hasil penelitian yang menggambarkan realitas pendidikan

karakter berbasis asrama dalam membina nilai-nilai budaya organisasi serta dengan

mengkaji berbagai hasil pemikiran subjek penelitian baik dalam bentuk buku teks,

artikel maupun modul.

D. Analisis Data

Dalam riset kualitatif dengan menggunakan metode GT, tahap

pengumpulan dan analysis data merupakan proses yang saling berhubungan dan

harus dilakukan secara bergantian. Analisis data merupakan upaya mencari dan

menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk

meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya

sebagai temuan kepada orang lain. Hal ini dapat dilakukan dalam bentuk

pengkodean, yang merupakan proses penguraian data, pembuatan konsep dan

penyusunan kembali dengan cara yang baru.

Page 14: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

86

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Prosedur yang dilakukan dalam tahap analisis data yang merupakan dasar

dari proses pengkodean yaitu dengan melakukan perbandingan secara terus

menerus dan melakukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Metode riset GT

menekankan pada validitas data melalui verifikasi dan menggunakan coding

sebagai alat utama dari pengolahan data. Proses biasanya dimulai dengan

pengkodean (coding) serta pengkategorian data. Ada beberapa cara untuk

melakukan pengkodean, yaitu: pengkodean terbuka (open coding), pengkodean

terporos (axial coding) dan pengkodean terpilih (selective coding). Selama proses

coding ini diadakan aktivitas penulisan memo teoritik. Memo bukan sekedar

gagasan kaku, namun terus berubah dan berkembang atau direvisi sepanjang proses

riset berlangsung.

1. Pengkodean Berbuka (Open Coding)

Pengkodean berrbuka (open coding), yaitu bagian dari analisis data,

dimana peneliti menguraikan, memeriksa, membandingkan, mengkonsepkan dan

mengkatagorikan hal-hal yang ditemukan dalam teks hasil dari wawancara,

observasi, dokumentasi dan catatan harian peneliti itu sendiri. Dalam pengkodean

berbuka (open coding) dilakukan melalui: pelabelan fenomena, penemuan dan

penamaan kategori, penyusunan kategori (Strauss dan Corbin, 2015, hlm. 57-68).

a. Pelabelan Fenomena

Pelabelan fenomena suatu pemberian nama terhadap benda, kejadian atau

informasi yang didapat melalui pengamatan ataupun wawancara. Tahap pelabelan

fenomena merupakan kegiatan konseptualisasi data dimana peneliti diharuskan

lebih teliti dalam memberi nama kegiatan/aktivitas narasumber yang dilakukan

selama diamati ataupun diwawancarai.

Kegiatan konseptualisasi dilakukan dengan membandingkan insiden

insiden, diteruskan pemberian nama yang sama untuk fenomena-fenomena yang

sejenis dan memberikan konsep baru pada fenomena. Dalam arti konseptualisasi

data tidak hanya sekedar meringkas hasil pengamatan atau wawancara dengan

kata-kata kunci sebagai ganti dari sebuah deskripsi yang panjang.

Page 15: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

87

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

b. Penemuan Katagori dan Penamaan Katagori

Penemuan katagori merupakan kegiatan mengkategorisasikan dan

mengelompokkan konsep-konsep yang sama. Bermacam-macam data yang didapat

dari penelitian sangat banyak dan beragam jenis, sehingga perlu disederhanakan

dan dipisahkan ke dalam beberapa kelompok. Penyederhanaan data dapat dilakukan

mellui reduksi data agar lebih ringkas dan padat, dibagi dalam kelompok-kelompok

tertentu dengan melakukan pengkatagorian sesuai sifat dan substansinya.

Fenomena yang digambarkan oleh suatu katagori diberi nama konseptual. Kategori

mempunyai daya konseptual karena mampu mencakup kelompok konsep atau

subkatagori lainnya.

Penamaan kategori adalah suatu proses abstraksi, berupa pemberian

nama/istilah pada kategori-kategori yang berkaitan dengan data yang didapat dan

menyusun kategori yang ada sesuai sifat masing-masing kategori sebagai

karakteristik yang melekat pada kategori tersebut. Kegiatan ini berkaitan dengan

logika induktif, yaitu pengelompokan dalam satu katagori dan penamaan yang lebih

abstrak terhadap sejumlah unit data yang sama atau memiliki keserupaan.

Dalam konteks kehidupan diasrama Universitas Telkom, adanya Senior

Resident (SR) yang mempuyai tugas pemeberlakuan tradisi, peraturan dan

kebijakan serta kewenangan menegur, menghukum dan pemberian penilaian bisa

dibeikan katagori sebagai “pengemban tradisi”

c. Penyusunan Katagori

Sebagai dasar dalam penyusunan kategori yaitu sifat yang berupa

karakteristik atau atribut suatu katagori, dan ukuran yang menujukan posisi dari

sifat dalam suatu kontinum. Pada proses pengkodean berbuka tidak hanya

mendorong penemuan katagori, namun juga sifat dan ukurannya, yang selanjutnya

disusun secara sistematis, karena sifat dan ukuran membentuk landasan untuk

membuat kaitan antara katagori dan subkatagori dan juga katagori utama.

Untuk memperjelas kita berikan contoh: lambang-lambang Partai tertentu

dalam suatu kampanye, misalnya kaos, jaket, topi, bendera, spanduk, umbul-umbul,

dll, semua dikategorikan dengan "warna tertentu". Warna tertentu (kategori) dari

lambang-lambang yang tampak itu sesungguhnya tidak persis sama, di sana ada

perbedaan baik dari segi intensitas coraknya, maupun kecerahannya. Intensitas

Page 16: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

88

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

corak dan kecerahan itulah sifat dari "warna tertentu" tersebut. Masing-masing sifat

itu memiliki dimensi yang dapat diukur. Setiap dimensinya dapat ditempatkan pada

posisi tertentu dalam garis kontinium. Intensitas corak warna itu, misalnya, dapat

diberi ukuran mulai dari yang "tebal" (hitam pekat), sedang (abu-abu), sampai pada

"tipis" (keputih-putihan). Demikian seterusnya, setiap kategori data bisa

ditempatkan di mana sajadi sepanjang kontinum dimensional secara bervariasi.

Akibatnya, setiap kategori memiliki profil dimensional yang terpisah. Beberapa

profil itu dapat dikelompokkan sehingga membentuk suatu pola. Profil dimensional

ini menggambarkan sifat khusus dari suatu fenomena dalam kondisi-kondisi yang

ada (Wardhono, 2011, hlm. 29)

Perlu diperhatikan bahwa penentuan sifat umum suatu fenomena atau kategori

cenderung tidak sama. Sebagai contoh sifat umum dari warna, adalah intensisitas

corak dan kecerahan, sedangkan sifat umum dari perilaku adalah frekuensi,

intensitas, durasi, dst.

2. Pengkodean Berporos (Axial Coding)

Axial coding atau pengkodean berporos adalah seperangkat prosedur

penempatan data kembali dengan cara-cara baru dengan membuat kaitan antar

katagori.Pengodean diawali dengan penentuan jenis katagori kemudian dilanjutkan

dengan penemuan hubungan antar katagori atau antar sub-katagori.

Data yang telah diuraikan dan diidentifikasi pada tahap pengkodean

berbuka (open coding) seperti katagori, sifat dan ukurannya, selanjutnya pada

pengkodean berporos akan ditempatkan kembali secara bersama dengan cara baru

dengan membuat hubungan antara katagori dan subkatagorinya (Strauss and

Corbin, 2015, hal 100). Hal ini diperkuat oleh Creswell (2007, hlm. 67), pada axial

coding peneliti menggabungkan data dengan cara yang baru setelah open coding.

Pada pengkodean ini, peneliti mengidentifikasi suatu fenomena sentral (central

phenomenon), mengeksplorasi kondisi kausal (casual conditions), menspesifikasi

strategi-strategi, mengidentifikasi konteks (context) dan kondisi yang

mempengaruhi (intervening conditions), dan mendeskripsikan konsekuensi-

konsekuensi (consequences) untuk fenomena tersebut

Page 17: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

89

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam GT, per kategori akan dikelompokkan dalam satu jenis kategori

yaitu: kondisi kausal, konteks, kondisi pengaruh, proses (aksi/interaksi), dan

konsekuensi, disebut dengan model paradigma GT. Pada tahap ini peneliti memberi

kode pada setiap kategori data, dengan mengajukan pertanyaan,"termasuk jenis

kategori apa data ini"? Model paradigma ini menjadi dasar untuk menemukan

hubungan antar kategori atau antar sub-kategori. Dalam pengkodean berporos

dilakukan dengan memanfaatkan paradigma pengkodean yang fokus pada

spesifikasi katagori (fenomena) berdasarkan kondisi yang memunculkannya seperti

konteks (sejumlah sifat khusus); proses (aksi/interaksi) untuk menangani,

mengelola dan melakukan; dan konsekuensi dari strategi tersebut (Strauss dan

Corbin, 2015, hlm. 100). Dalam tahap ini menurut Strauss dan Corbin (1990),

peneliti dapat menanyakan hal-hal sebagai berikut:

a. Apakah konsep yang ada dapat dibagi menjadi sub dimensi atau sub kategori?

b. Apakah beberapa konsep yang ada dan berhubungan dekat dapat dikombinasi-

kan menjadi konsep yang lebih umum?

c. Dapatkah kategori-kategori diorganisasikan menjadi suatu urutan,atau dari

lokasi fisik, atau dari hubungannya dengan topic perhatian utama.

Pada pengkodeaan berporos, sifat pertanyaan yang diajukan

mengarah pada suatu jenis hubungan antara kondisi kausal dengan strategi

aksi/interaksi, hubungan antara konteks dengan strategi aksi/interaksi,

hubungan antara kondisi pengaruh dengan strategi aksi/interaksi, hubungan

antara strategi aksi/interaksi dengan konsekuensi. Pola hubungan yang perlu

ditemukan harus dapat mengungkap hubungan antara semua jenis kategori,

bukan hanya pada hubungan antara dua kategori saja. Hal ini dapat

digambarkan dalam diagram berikut:

Gambar 3.2: Hubungan Konteks/Kondisi-Aksi/Interaksi-Konsekuensi

Kondisi Pengaruh

Kondisi Kausal

Konteks

Proses (Aksi/Interaksi)

Konsekuensi

Page 18: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

90

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Pengkodean Terpilih (Selective Coding)

Selective coding (pengkodean terpilih) adalah pengkodean tahap akhir

yang meliputi penelusuran (scanning) pada semua data dan kode-kode sebelumnya.

Tahap terakhir ini dilakukan saat peneliti telah siap melakukan pengkodean

terakhir, telah mengidentifikasi tema-tema utama. Pada pengkodean ini, peneliti

melihat secara selektif untuk kasus-kasus yang mengilustrasikan tema-tema hasil

pengkodean sebelumnya dan membuat perbandingan setelah hampir semua data

terkumpul lengkap. Dapat dikatakan bahwa dalam selective coding, peneliti

mengidentifikasi suatu alur cerita (story line) dan menuliskan cerita yang

mengintegrasikan kategori-kategori pada model axial coding (Creswell, 2007, hlm.

67).

Masalah penelitian dalam GT masih bersifat umum, adanya sejumlah

besar data dengan kategori dan hubungan antar kategori/subkategori yang banyak

dan bervariasi dan belum fokus pada titik tertentu. Untuk menyederhanakan perlu

dilakukan proses penggabungan dan atau seleksi secara sistematis.

Langkah untuk menyederhanakan data, dengan menggabungkan semua

kategori, sehingga menghasilkan tema khusus. Konsep-konsep yang digunakan

dalam penggabungan lebih abstrak dari konsep pengkodean terporos. Cara ini

merupakan tugas peneliti yang paling sulit, sehingga kepekaan teoritik dari peneliti

memegang peran. Inti dari proses penggabunga, bagaimana peneliti dapat

menemukan spirit teoritis dari semua kategori, yang mungkin saja tidak tampak s

ecara eksplisit, tetapi tertangkap oleh pikiran peneliti. Tahapan kerja yang

disarankan dalam proses pengkodean terpilih ini;

a. Melakukan reproduksi kembali alur cerita atau susunan data ke kerangka

pemikiran.

b. Identifikasi data dengan menulis beberapa kalimat pendek yang berisi inti cerita

atau data.

c. Menyimpulkan dan pemberian kode pada satu atau dua kalimat sebagai'kategori

inti.

d. Penetuan pilihan kategori inti. Dipilih satu saja katagori inti, yang lain sebagai

kategori tambahan yang tidak menjadi inti pembahasan dalam penelitian ini.

Page 19: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

91

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pada tahap penggabungan dan atau pemilihan ini, peneliti sebenarnya

telah sampai pada penemuan tema pokok penelitian. Pada umumnya metode

kualitatif menganggap penelitian telah selesai pada penemuan tema ini. Lain hal

dalam Grounded Theory, tema utama (yang sudah ditemukan) dipandang sebagai

dasar untuk merumuskan masalah utama dan hipotesis penelitian. Karena itu,

peneliti perlu merumuskan masalah pokok dan hipotesis penelitiannya.

Berdasarkan masalah dan hipotesis itu, peneliti harus kembali lagi ke lapangan

untuk mengabsahkan atau membutikannya. Hasil pembuktian itulah yang menjadi

temuan penelitian, yang disebut sebagai teori.

4. Pememoan (Memoing)

Dalam penelitian GT, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat

peneliti untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-

kategori yang dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan yang dibuat

peneliti bagi dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis tentang sebuah

kategori, tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang ditemukan.

Memoing (memo) adalah proses mencatat pemikiran-pemikiran dan gagasan dari

peneliti sewaktu hal itu muncul selama penelitian (Glasser, 1998), Penulisan memo

harus harus diberikan prioritas utama karena ide tentang hubungan-hubungan

antara kategori-kategori bisa muncul kapan saja dan peneliti harus segera

mencatatnya.

Dari penjelasan diatas dapat disarikan bahwa langkah riset dalam GT

melalui tahapan perumusan masalah, penjaringan data, analisis data, penyusunan

dan validasi teori, dan penulisan laporan. Riset kualitatif dengan metode GT

dimulai dengan fokus pada wilayah studi dan mengumpulkan data dari berbagai

sumber, termasuk wawancara dan observasi lapangan. Selanjutnya data dianalisis

menggunakan pengkodean dan prosedur sampling teoritis. Akhirnya, setelah teori

dihasilkan dengan bantuan prosedur penafsiran, riset ditulis dan disajikan. Teknik

pengelolaan data, hubungan, rumusan dan analisa data dalam pengembangan

sebuah grounded theory dapat dilihat dalam skema berikut:

Page 20: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

92

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.3 Konsep Grounded Theory

Sumber : dikembangkan oleh Murdowoi (2016)

E. Validitas Data

Hasil penelitian dapat dianggap sah apabila dapat memenuhi kriteria

valid, reliable, dan obyektif. Pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif

meliputi: uji derajat kepercayaan (credibility atau validitas internal), keteralihan

(transferability atau validitas eksternal), ketergantungan (dependability atau

reliabilitas), dan kepastian (confirmability atau objektivitas) (Satori & Komariah,

2014, hlm. 164)

1. Pengujian Keterpercayaan (Credibility atau Validitas Internal)

Penelitian berangkat dari data sebagai sumber utama, untuk itu data

penelitian harus valid yang perlu dilakukan pengujian. Uji keterpecayaan

(credibility) merupakan derajat kepercayaan terhadap data hasil penelitian. Untuk

menguji kredibilitas dari data penelitian dapat digunakan beberapa cara pengujian

kredibilitas data dalam penelitian kualitatif yaitu: (1) perpanjangan pengamatan, (2)

peningkatan ketekunan/kegigihan, (3) triangulasi, dan (4) member cek.

Kesatu, memperpanjang masa observasi. Dalam penelitian kualitatif agak

sulit mempercayai hasil penelitian apabila hanya datang sekali saja kelapangan.

Pada saat melakukan observasi diperlukan waktu untuk betul-betul mengenal suatu

Wawancara

Observasi

Dokumentasi

Literatur

Lapangan

Constantt Comparatif

Theoretical Sampling

Catagories

Katagori

Sub Katagori

Katagori

Sub Katagori

Dimensi Inti

Katagori

Katagori

Dimensi Inti

Sub Katagori

Katagori

Sub Katagori

Katagori

Dimensi Inti

Rumusan masalah & hipoteses penelitian

OPEN CODING CONSEPTUAL CATAGORIES

AXIAL CODING CORE DIMENSIONS

SELECTIVE CODING

PRIMARY DIMENSION SUMBER DATA

Penelitian Lapangan

Grounded Theory

Page 21: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

93

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

lingkungan, sebab itu peneliti berusaha memperpanjang waktu penelitian dengan

cara mengadakan hubungan baik dengan orang-orang disana, dengan cara

mengenal kebiasaan yang ada dan mengecek kebenaran informasi.

Kedua, peningkatan ketekunan, dilakukan peneliti agar dapat

mengumpulkan data yang benar, akurat, actual dan lengkap. Dengan meningkatkan

ketekunan/kegigihan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan

berkesinambungan, sehingga dapat diperoleh kepastian data dan urutan peristiwa

secara pasti dan sistematis.

Ketiga Triangulasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan

menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah

ada (Sugiyono, 2013, hlm. 83). Ada tiga macam teknik triangulasi, yakni triangulasi

berdasarkan sumber data, berdasarkan teknik pengumpulan data serta triangulasi

berdasarkan waktu pengumpulan data (Sugiyono, 2013, hlm. 372).

Berikut ini adalah bagan dan penjelasan dari triangulasi sumber,

triangulasi teknik , dan triangulasi pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini.

Triangulasi Sumber adalah eksplorasi dan mengecek kebenaran data dari

berbagai sumber dan berkaitan. Dalam penelitian menguji nilai-nilai karakter dan

nilai budaya organisasi yang telah ditetapkan oleh top leader apakah sudah

dimengerti, dipahami dan diterapkan di asrama. Pengumulan data dan pengujianya

dilakukan ke beberapa sumber seperti pembuat kebijakan asrama, pengelola,

penghuni asrama. Jika hasil wawancara dari para narasumber tersebut mempunyai

kesamaan maka itulah yang dianggap sebagai hasil temuan.

Gambar 3.4 Triangulasi dengan Tiga Sumber Data

Sumber : dikembangkan oleh Peneliti (2016)

Pimpinan Universitas

Pamong Asrama

Mahasiswa di asrama

Pembuat kebijakan asrama

Page 22: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

94

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Selanjutnya, triangulasi teknik adalah melakukan pengecekan data pada

sumber yang sama dengan teknik berbeda. Dalam penelitian ini digali tentang

aktifitas mahasiswa di asrama dengan teknik wawancara, lalu dicek dengan

observasi dilapangan, kemudian dengan dokumentasi. Bila ternyata diperoleh

situasi yang berbeda maka perlu dilakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data

atau yang lain untuk memastikan data yang dianggap benar.Triangulasi berdasarkan

tiga teknik pengumpulan data untuk mengetahui derajat kesesuaian antara hasil

wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.

Gambar 3.5 Triangulasi dengan Tiga Teknik Pengumpulan data

Sumber : dikembangkan oleh Peneliti (2016)

Triangulasi berdasarkan waktu pengumpulan data, untuk mengetahui

derajat kesesuaian/konsistensi antara hasil penelitian dengan cara mengumpulkan

data pada waktu yang berbeda. Untuk mengetahui aktiftas mahasiswa diasrama

dapat diamati dan dikumpulkan data dengan melakukan wawancara pada pagi hari,

diulangi padi sore hari dan mengeceknya kembali pada malam hari. Hal yang sama

dapat dilakukan wawancara pada bulan pertama masuk, dilakukan pengecekan

kembali pada bulan ke 6, dan bisa dilakukan kembali pada bulan ke 8 dimana

mahasiswa yang tinggal diasrama telah pulang kembali dari libur semester.

Gambar 3.6 Triangulasi dengan Tiga Waktu Pengumpulan Data

Sumber : dikembangkan oleh Peneliti (2016)

Wawancara Dokumen

Observasi

Bulan ke 1 Bulan ke 6

Bulan ke 8

Page 23: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

95

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Keempat, mengadakan member cek, dilakukan pada akhir wawancara

dengan menyebutkan garis besarnya, bertujuan agar narasumber memperbaiki bila

ada kekeliruan, atau menambahkan apa yang masih kurang. Tujuannya agar

informasi yang diperoleh sesuai dengan apa yang dimaksud oleh narasumber.

2. Pengujian Keteralihan (Transferability atau Validitas Eksternal)

Uji terhadap ketepatan suatu penelitian kualitatif selain dilakukan pada

internal penelitian juga pada keterpakaiannya oleh pihak eksternal. Validitas

eksternal berkenaan dengan derajat akurasi hasil penelitian dapat digeneralisasikan

atau diterapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diambil.

Suatu penelitian yang nilai transferabilitasnya tinggi senantiasa dicari orang lain

untuk dirujuk, dicontoh, dipelajari lebih lanjut untuk diterapkan ditempat lain.

Karena itu, agar hasil penelitian ini dapat diterapkan pada konteks dan situasi lain,

perlu dibuatnya laporan yang rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya.

3. Pengujian Kebergantungan (Dependability atau Reliabilitas)

Dalam penelitian memiliki sifat ketaatan dengan menunjukkan

konsistensi dan stabilitas data atau temuan yang dapat direflikasi.Suatu penelitian

yang reliabel adalah ketika orang lain dapat mengulangi atau mereplikasi proses

penelitian tersebut. Pengujian dependabilitas ini untuk membuktikan bahwa hasil

penelitian dapat ditemukan dengan hasil yang sama kembali oleh peneliti lainnya.

4. Pengujian Kepastian (Confirmability atau Obyektivitas)

Uji kepastian yaitu menguji bahwa data yang diperoleh dapat dilacak

kebenarannya dan sumber informannya jelas. Hasil penelitian dikatakan memiliki

derajat objektivitas yang tinggi apabila keberadaan data dapat ditelusuri secara pasti

dan hasil penelitian telah disepakati banyak orang. Dalam penelitian kualitatif, uji

konfirmability mirip dengan uji dependability, sehingga pengujiannya dapat

dilakukan secara bersamaan. Hal tersebut berkaitan dengan pelaksanaan penelitian

yang dilakukan oleh peneliti di lapangan. Keberlangsungan proses penelitian sebisa

mungkin harus dapat dibuktikan oleh peneliti. Menguji konfirmability berarti

menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan, ketika hasil

penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian

tersebut memenuhi standar konfirmability.

Page 24: BAB III METODOLOGI PENELITIAN - UPI Repositoryrepository.upi.edu/30634/6/D_PU_1402830_Chapter3.pdfdan Kaur Asrama. c. Unit pengelola asrama baik asrama putra maupun asrama putri, yang

96

Djoko Murdowo, 2017 PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ASRAMA UNTUK PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Member Check

Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneiliti

kepada informan. Hal ini untuk mengetahui kesesuaian data yang diberikan oleh

pemberi data. Apabila para pemberi data sudah menyepakati data yang diberikan

berarti data tersebut valid dan kredibel, namun jika pemberi data meragukan

datanya dan peneliti tidak melakukan diskusi lebih lanjut dengan informan maka

menjadi tidak valid dan terpercaya (credible). Dengan demikian, perlu dilakukan

diskusi lebih lanjut apabila ditemukan ketidak cocokan antara data yang sudah

dielaborasi oleh peneliti dengan penjelasan lebih lanjut dari informannya.

Member check dilakukan setelah satu periode pengumpulan data selesai,

atau setelah mendapatkan suatu temuan atau kesimpulan. Hal tersebut dapat

dilakukan secara individu atau kelompok. Dalam diskusi peneiliti menyampakan

temuan kepada pemberi data, yang dalam pelaksanaanya data yang disampaikan

ada yang dikurangi, ditambah, disepakati atau ditolak.