Pembahasan KP Asrama Glp. 3

Download Pembahasan KP Asrama Glp. 3

Post on 25-Oct-2015

31 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Bab IV Laporan KP Asrama Mahasiswa Geulumpang Tiga/ Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie berlokasi di Jalan AMD, lorong Abdi Utama, Batoh, Banda Aceh.

TRANSCRIPT

<p>75</p> <p>BAB IVKEGIATAN YANG DIIKUTI</p> <p>Kegiatan proyek yang penulis ikuti selama melaksanakan kerja praktek pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama Mahasiswa Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie adalah:1. Pekerjaan Sloof2. Pekerjaan Kolom Lantai I3. Pekerjaan Balok Lantai II4. Pekerjaan Plat Lantai II/ Tangga</p> <p>4.1 Bahan yang DigunakanBahan/ material yang digunakan pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama Mahasiswa Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie ini memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. </p> <p>4.1.1 SemenSebagai bahan pengikat utama, semen mempunyai peranan yang sangat penting. Semen yang dipakai adalah jenis Portland Pozzoland Cement (PPC) tipe I yang diproduksi oleh PT. Semen Padang, Krueng Raya, Aceh Besar dan PT. Semen Andalas, Lhoknga, Aceh Besar. Pengadaan semen sampai ke lokasi pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alat angkut truk. Di lokasi pekerjaan, semen diletakkan dalam gudang yang disediakan. Berdasarkan RKS, tempat penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Dalam pelaksanaan, semen ditempatkan di dalam gudang dengan ketinggian alas balok 10 cm dari permukaan tanah sehingga bisa dihindari dari pengaruh kelembaban dengan tumpukan semen sebanyak 10 zak, lebih dari 2 m.Menurut ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal 5.7 ayat 1 dan 2, di mana bahan semen dan agregat harus disimpan sedemikian rupa untuk mencengah kerusakan, atau intrusi bahan yang mengganggu. Tempat penyimpanan semen dapat dilihat pada lampiran A.3.1 pada halaman 138.</p> <p>4.1.2 Agregat</p> <p>Sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat (RKS), pasir dan agregat kasar untuk bahan beton harus disimpan dalam bak atau lantai papan yang direncanakan khusus untuk mencegah terpisahnya suatu komposisi agregat tertentu atau tercampurnya agregat dari ukuran yang berbeda-beda, dan menghindarkan tercampurnya agregat dengan debu, zat-zat organik atau bahan-bahan pencemar lainnya. Dari hasil pengamatan di lapangan, kondisi pasir dan kerikil yang digunakan cukup baik sebagai agregat pembentuk beton. Hal ini dapat dilihat secara visual bahwa tidak ada lumpur atau bahan lain yang dapat menggangu kualitas pasir dan kerikil tersebut. Hanya saja penempatan pasir dan kerikil tersebut tidak sesuai dengan RKS yakni diletakkan langsung di atas permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena volume material tersebut dalam jumlah kecil dan penempatannya dalam waktu yang sementara. Pengadaan pasir dan kerikil dari Indrapuri sampai ke lokasi proyek dilakukan dengan menggunakan dump truck. Mekanisme pengangkutannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Untuk lebih jelasnya, gambar penempatan pasir dan kerikil di lapangan dapat dilihat pada lampiran A.3.2 pada halaman 138.</p> <p>4.1.3 Air</p> <p>Sesuai RKS, air yang digunakan untuk semua pekerjaan di lapangan adalah air bersih, tidak berwarna tidak mengandung bahan-bahan kimia (asam, alkali), tawar dan bebas dari zat-zat organik atau anorganik yang larut atau mengambang dalam suatu jumlah yang dapat mengurangi kekuatan atau keawetan beton, dan tidak mengandung minyak atau lemak serta harus memenuhi syarat-syarat SNI 06-2412-1991 tentang metoda pengambilan contoh kualitas air. Air tesebut harus di periksa pada laboratorium yang disetujui oleh konsultan manajemen konstruksi. Jika air pada lokasi pekerjaan tidak memenuhi syarat untuk digunakan, maka kontraktor harus mencari air yang memadai untuk itu. Air yang dipakai di lapangan berasal dari sumur yang berada di sekitar lokasi proyek. Menurut pengamatan, air yang digunakan sudah memenuhi persyaratan secara teknis.</p> <p>4.1.4Besi tulangan</p> <p>Besi tulangan merupakan salah satu unsur terpenting kontruksi beton pembuatan beton bertulang. Pengadaan besi tulangan ke lokasi proyek menggunakan alat angkut dump truck. Ukuran besi untuk tulangan sloof yaitu D19, untuk kolom yaitu D19, dan untuk wiremash plat lantai basment yaitu D10.Penimbunan batang-batang tulangan di udara terbuka untuk jangka waktu yang panjang harus dicegah. Pada pengamatan secara visual di lapangan, besi tulangan diletakkan langsung di atas permukaan tanah dan ditutupi dengan terpal. Mengenai pengadaan, material tersebut dibeli dari toko-toko yang berbeda di Banda Aceh, tergantung ketersediaan dan harga yang ditawarkan serta diangkut menggunakan dump truck. Hal ini tidak sesuai dengan SNI 03-2847-2002 mengharuskan batang-batang tulangan disimpan dengan tidak menyentuh tanah secara langsung dan terlindung. Batang-batang tulangan dari berbagai jenis baja harus diberi tanda yang jelas dan disimpan terpisah antara jenis yang satu dengan jenis yang lainnya, sehingga tidak saling tertukar. Penempatan besi tulangan dapat dilihat pada Lampiran A.3.3 pada halaman 139. </p> <p>4.1.5Kayu</p> <p>Kayu yang dimaksudkan di sini adalah kayu-kayu yang digunakan untuk bekisting dan perancah. Bahan bekisting menggunakan kayu tripleks dengan luasan 244 cm x 122 cm dan tebal 9 mm. Bekisting kayu diperkuat dengan balok kayu penahan dengan ukuran kayu 5/7 dan 5/5. Pengangkutan kayu sampai ke lokasi proyek dilakukan dengan alat angkut dump truck. Di lokasi, kayu bekisting sebagian ditempatkan di atas balok triplek sehingga tidak langsung mengenai tanah dan ditutup dengan terpal agar terlindung dari cuaca panas dan hujan. Kayu dapat dilihat pada Lampiran A.3.4 pada halaman 139.</p> <p>4.1.6Batu Bata</p> <p>Batu bata yang digunakan berasal dari Desa Neuhen, Kecamatan Baiturahman, Aceh Besar. Batu bata tersebut diangkut dengan menggunakan truk. Di lokasi pekerjaan, batu bata diletakkan di atas permukaan tanah di lapangan terbuka yang tidak ditutupi dengan plastik. Untuk lebih jelasnya, penempatan batu bata di lapangan dapat dilihat pada gambar A.4.5.</p> <p>4.1.7Tanah UrugTanah urug yang digunakan untuk penimbunan kembali berasal dari tanah galian pelaksanaan proyek yang daya dukungnya memenuhi syarat untuk digunakan sebagai tanah urug. Tanah urug yang digunakan berasal dari tanah galian danyang berasal dari tanah galian di lokasi proyek mencukupi untuk penimbunan kembali. 4.1.6Oli</p> <p>Oli digunakan untuk melapisi bagian dalam bekisting agar dapat dibuka dengan mudah. Oli yang digunakan adalah oli bekas yang masih layak pakai. </p> <p>4.2 Peralatan yang digunakan</p> <p>Peralatan adalah alat bantu yang digunakan dalam pekerjaan fisik bangunan agar pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah. Dalam pelaksanaan pekerjaan digunakan peralatan manual dan juga peralatan dengan tenaga mesin. Peralatan yang digunakan dalam proyek ini diantaranya adalah sebagai berikut:</p> <p>4.2.1 Pemotongan tulangan (Bar cutter)</p> <p>Bar cutter yaitu alat pemotong baja tulangan sesuai ukuran yang diinginkan. Pada proyek ini digunakan bar cutter listrik. Keuntungan dari bar cutter listrik dibandingkan bar cutter manual adalah bar cutter listrik dapat memotong besi tulangan dengan diameter besar maksimal diameter besi tulangan 32 mm dan dengan mutu baja yang cukup tinggi, disamping itu juga dapat mempersingkat waktu pengerjaan.Cara kerja dari alat ini yaitu baja yang akan dipotong dimasukkan kedalam gigi bar cutter, kemudian pedal pengendali dipijak, dan dalam hitungan detik baja baja tulangan akan terpotong. Pemotongan untuk baja tulangan yang mempunyai diameter besar dilakukan satu persatu. Sedangkan untuk baja yang diameternya lebih kecil, pemotongan dapat dilakukan beberapa buah sekaligus sesuai dengan kapasitas dari alat. Dapat dilihat pada lampiran A.3.5 pada halaman 140. 4.2.2 Pencampur beton (Concrete Mixer)</p> <p>Concrete mixer adalah alat yang digunakan untuk mengaduk campuran beton. Alat ini memiliki kapasitas yang berbeda-beda sesuai dengan ukurannya. Concrete mixer yang digunakan pada proyek ini yaitu adalah molen biasa yang digunakan untuk semua pekerjaan pengecoran. Untuk lebih jelasnya, gambar dapat dilihat pada lampiran A.3.6 pada halaman 140.</p> <p>4.2.3 Stamper</p> <p>Stamper atau istilah umum lainnya disebut stamping rammer adalah alat mesin yang dipergunakan untuk pemadatan tanah. Alat ini merupakan alat yang sangat membantu untuk mempercepat proses pemadatan tanah timbun maupun pemadatan tanah asli kohesif. Disamping sebagai alat untuk pemadatan untuk bangunan gedung alat ini juga sering dipergunakan dalam pekerjaan pemadatan jalan, halaman dan juga untuk pekerjaan pemadatan timbunan lainnya. Alat ini umumnya merupakan alat mesin yang menggunakan bahan bakar bensin dalam pengoperasian mesinnya. Untuk lebih jelasnya, gambar stamper dapat dilihat pada lampiran A.3.9 halaman 142.</p> <p>4.3 Pekerjaan SloofSloof adalah beton bertulang yang diletakkan secara horizontal di atas pondasi. Gunanya ialah untuk meratakan beban yang diterima kolom menuju pondasi. Sehingga setiap beban yang diterima suatu kolom, akan tersebar merata pada seluruh pondasi. Selain itu, sloof berfungsi sebagai pengikat antara dinding pondasi dengan kolom. Pekerjaan sloof (pondasi menerus) dilakukan yaitu setelah pekerjaan galian dan pondasi batu gunung selesai. Pekerjaannya disesuaikan dengan ukuran penampang yang terdiri dari dua tipe, yaitu S1 dengan dimensi 30/60 dan S2 dengan dimensi 25/40 seperti yang tercantum pada gambar rencana. S1 merupakan sloof utama, sedang S2 difungsikan sebagai sloof gantung yang menahan beban dinding kamar mandi.Tahapan-tahapan dari pekerjaan sloof ini adalah:1. Pekerjaan pembesian;2. Pekerjaan pemasangan cetakan (bekisting);3. Pekerjaan pengecoran;4. Pembukaan cetakan (bekisting); dan5. Pembukaan perawatan.</p> <p>4.3.1 PembesianTulangan pokok yang digunakan untuk pekerjaan sloof ini adalah besi ulir berdiameter 16 mm dan 13 mm, yang penempatannya sesuai jenis penampang. Detail penulangan sloof untuk setiap tipe penampang sloof adalah sebagai berikut.1. Sloof tipe 1 (S1) dengan dimensi 30/60 cmPada tumpuan :Tulangan atas : 6 D 16Tulangan bawah : 8 D 16Tulangan pinggang : 2 D 13Sengkang utama : 10100 Pada lapangan :Tulangan atas : 8 D 16Tulangan bawah : 6 D 16Tulangan pinggang : 2 D 13Sengkang utama : 10150</p> <p>2. Sloof tipe 2 (S2) dengan dimensi 25/40 cmPada tumpuan :Tulangan atas : 4 D 16Tulangan bawah : 6 D 16Tulangan pinggang : 2 D 13Sengkang utama : 10100 Pada lapangan :Tulangan atas : 6 D 16Tulangan bawah : 2 D 16Tulangan pinggang : 4 D 16Sengkang utama : 10150</p> <p>Pekerjaan pembesian sloof terdiri dari pemotongan, pembengkokan dan perakitan tulangan. Pekerjaan pembengkokan dan pembentukan sengkang dikerjakan di tempat khusus di dalam lokasi proyek, sedangkan perakitan dilakukan di dekat lokasi sloof yang akan dipasang. Pekerjaan ini dilakukan oleh 4 orang pekerja dengan lama pengerjaannya 3 hari dengan menggunakan alat pembengkok dan pemotong besi. Selanjutnya dipasang dengan menyambung atau merangkainya dengan begel/ sengkang. Perangkaian tulangan sengkang pada tulangan utama ini menggunakan kawat beton (bendrat) 2 mm. Sebelum besi tulangan ditempatkan pada posisi sesuai dengan gambar rencana, besi dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan bentuk yang direncanakan.Panjang sambungan tulangan tulangan sesuai dengan ketentuan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16 yaitu sebesar 40 d. Disamping tulangan diberi beton tahu dengan ketebalan 4 cm. Beton tahu berfungsi untuk memberi batasan antara permukaan bekisting bagian dalam dengan tulangan sehingga akan didapatkan ketebalan selimut beton yang sesuai dengan rencana. Pembesian di tumpuan diambil 1/4 bentang sloof sedangkan di lapangan diambil 2/4 bentang sloof. Sengkang untuk pembesian sloof ditambahkan sengkang pengaku yang mengikat masing-masing tulangan atas dan tulangan bawah. Untuk lebih jelasnya, pekerjaan pembesian untuk sloof dapat dilihat pada Lampiran A.3.15 pada halaman 144.</p> <p>4.3.2 Pemasangan cetakan (bekisting)</p> <p>Cetakan dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran sloof yang ditentukan di dalam gambar rencana. Cetakan dibuat dari papan kayu kelas II dengan ukuran 244 cm x 122 cm dan tebal 9 mm yang diperkuat dengan kayu ukuran 5/5 cm dan jarak antara perkuatan ini dibuat sejauh 50 cm. Papan bekisting tersebut diolesi dengan oli yang bertujuan untuk menghindari melekatnya beton pada saat bekisting dibuka. Pemasangan cetakan dilakukan cukup kokoh dan kuat, dimana celah-celah antara papan cetakan dibuat cukup rapat sehingga dapat mencegah terjadinya kebocoran adukan mortar dan membentuk bidang yang rata saat pembongkaran bekisting. Cetakan dibuat beberapa hari sebelum dipasang, pembuatan cetakan dilakukan oleh 2 orang pekerja. Pada saat pemasangan cetakan dilakukan oleh 5 orang pekerja. Untuk lebih jelasnya, pekerjaan pemasangan bekisting dapat dilihat pada Lampiran A.3.16 pada halaman 145. </p> <p>4.3.3 PengecoranSetelah pekerjaan pembesian dan pemasangan cetakan selesai selanjutnya dilakukan pekerjaan pengecoran pada sloof. Sebelum dilakukan pengecoran, beton tahu dicetak terlebih dahulu dengan ukuran setelah dipotong (4x4) cm2, di mana setiap potongan beton tahu terdapat kawat yang tegak lurus terhadap beton tersebut. Kemudian beton tahu yang sudah mengeras dengan ketebalan 4 cm diikatkan di bawah tulangan sloof setiap jarak 1 m. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan selimut beton 4 cm. Setelah jarak selimut beton didapatkan, maka sloof dapat dicor. Mutu beton yang direncanakan untuk pengecoran sloof adalah K 250. Pengadukan material dilakukan dengan mixer selama + 10 menit. Hal ini sesuai dengan SNI 03-2487-2002 pasal 7.8.3.3 dimana pencampuran harus dilakukan terus-menerus sekurang-kurangnya 1,5 menit setelah semua bahan dalam wadah tercampur. Namun tidak dilakukan pengukuran takaran komposisi untuk mencapai suatu mutu beton yang diinginkan. Menurut RKS, pada masa-masa pembetonan pendahuluan harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,5 m3 beton sehingga diperoleh 20 benda uji yang pertama. Selanjutnya harus dibuat 2 buah benda uji untuk setiap 5 m3 beton setiap hari. Namun, dalam pelaksanaan hanya ada dibuat tiga buah benda uji untuk seluruh pekerjaan beton bertulang. Sehingga mutu beton yang dikerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Alat-alat yang digunakan pada pengecoran sloof adalah:1. Mixer 1 unit;2. Kereta sorong 2 buah;3. sendok semen;4. baja tulangan.Pengecoran dilakukan melalui bagian atas bekisting, hal ini sesuai dengan prosedur SK SNI T-15-1991-03 yang menyatakan bahwa pada jatuh bebas dibatasi sampai dengan sekitar 1,5 m. Karena hampir tidak ada tinggi jatuh mortar ke cetakan, maka tidak terjadi degradasi pada beton dimana bahan-bahan yang terberat dan terbesar dari mortar beton akan jatuh ke bawah terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan kerikil kemudian pasir dan akhirnya pasta semen.Selama pengecoran, dilakukan pemadatan agar mortar dapat mengisi ruang-ruang yang kosong. Pengisian mortar beton kedalam bekisting sloof sesaat untuk melakukan penusukanpenusukan dengan menggunakan tongkat besi dan pengetokan dengan menggunakan kayu pada sisi papan bekisting. Setelah mortar padat, bagian atasnya diratakan. Pengangkutan mortal dari tempat adukan ke tempat pengecoran dilakukan dengan menggunakan kereta dorong sebanyak 2 buah, kemudian mortar dituangkan ke tempat yang akan dicor. Pekerjaan ini melibatkan 8 orang pekerja dan 1 orang kepala tukang. Untuk lebih jelasnya,...</p>