aqidah islam

Click here to load reader

Post on 30-Dec-2015

68 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Aqidah Islam

TRANSCRIPT

BAB IV

AQIDAH ISLAM

I. Pengertian Aqidah Islam

Istilah aqidah berasal dari kata aqada (ikatan atau simpul), jamaknya aqa-id (mahkota, simpulan atau ikatan-ikatan iman). Dari segi bahasa aqidah berarti sesuatu yang tersimpul dalam hati dan dihormati seperti mahkota. Dari kata tersebut muncul itiqaad yang berarti membenarkan atau kepercayaan.

Aqidah secara istilah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan fitrah, akal dan wahyu, kemudian dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya (kebenarannya) dan ditolak kebenaran selainnya.(Drs. Supriadi, M.Ag dkk, hal. 127).

Ruang lingkup aqidah Islam berkenaan dengan masalah sebagai berikut:

1. Ilahiyaat (masalah ketuhanan seperti tentang Zat-Nya)

2. Ruhaniyyaat (masalah ghaib seperti ruh, malaikat, jin dll).

3. Nubuwaat (masalah kerasulan, kitab suci, dll).

4. Samiyyaat (masalah-masalah yang bisa diketahui melalui wahyu, seperti barzhakh, surga, neraka dll).

Pembahasan aqidah Islam pada hakikatnya adalah membahas rukun iman. Berikut ini akan dibahas tentang perihal rukun iman.

II. Rukun Iman

Rukun berasal dari bahasa Arab, yaitu yang berarti sisi sesuatu yang paling kuat. Sedangkan yang dimaksud dengan rukun iman adalah sesuatu yang menjadi sendi tegaknya iman (Kitab Tauhid 2, hal. 16). Tanpa adanya sendi tersebut, maka iman tidak akan tegak.

Rukun iman ada enam, yaitu:

Pertama, beriman kepada Allah.

Kedua, beriman kepada malaikat-malaikat Allah.

Ketiga, beriman kepada kitab-kitab Allah.

Keempat, beriman kepada rasul-rasul Allah.

Kelima, beriman kepada hari akhir.

Keenam, beriman kepada takdir Allah, takdir baik maupun buruk.

Rukun iman yang enam ini didasarkan pada Firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Quran) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh."(QS. An-Nisaa/4: 136).

Dan didasarkan pada sabda Rasulullah saw:

( )

"Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir (Allah), baiknya maupun buruknya."(HR. Muslim)

1. Keimanan Kepada Allah

a. Arti Iman

Iman berasal dari kata amuna/amana/amina yang mengandung arti jujur, setia, percaya, aman dan tenteram. Iman berarti kejujuran, kepercayaan, keamanan dan ketenteraman.

Keimanan kepada Allah berarti kepercayaan akan adanya Allah yang dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, dan dengan keimanan itu jiwa menjadi tenang dan tenteram.

Tentang iman, Rasulullah saw bersabda:

( )

"Iman itu keyakinan dalam hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan."(HR. Thabrani).

Seseorang yang beriman kepada Allah SWT disebut Mukmin. Seorang Mukmin berarti orang yang hatinya beriman kepada Allah, ucapan dan perilakunya sesuai dengan tuntunan-Nya. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

"Tidak lain ucapan orang-orang Mukmin, yang apabila mereka diajak (tunduk) kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata: Kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. An-Nuur/24: 51).

Firman Allah:

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."(QS. At-Taubah/9: 71)

b. Hakikat Iman dan Cabangnya

Beriman kepada Allah SWT hakikatnya tidak sekadar atau sebatas membenarkan adanya Allah saja, melainkan juga haruslah dibuktikan dengan ucapan dan perbuatannya. Yakni mengucapkan dua kalimat syahadat dan perbuatannya mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu seseorang pada hakikatnya belum dikatakan beriman kepada Allah jika ucapan dan perbuatannya belum sesuai dengan tuntunan Nya.

Dalam al-Qur`an dan Hadis, banyak dalil-dalil yang mengkaitkan iman dengan perbuatan. Di antaranya sebagai berikut:

Firman Allah:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia."(QS. Anfaal/8: 2-4).

Firman Allah:

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia."(QS. Al-Anfaal/8:74)

Sabda Rasulullah saw:

, , ( )

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah kepada tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau lebih baik diam."(HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah saw:

, ( )

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, dan jika tidak bisa maka rubahlah dengan lidahnya, dan jika tidak bisa maka rubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah iman yang paling lemah." (HR. Muslim)

Dalil-dalil tersebut di atas mengkaitkan iman dengan tawakkal, shalat, infak (zakat), jihad (berjuang) menolong, berbuat baik dengan tetangga, memuliakan tamu, berkata yang baik dan memberantas kemungkaran. Masih banyak lagi dalil-dalil yang mengkaitkan perbuatan manusia dengan iman.

Rasulullah saw menjelaskan bahwa iman mempunyai 70 cabang lebih, cabang yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illalla (tidak ada Tuhan selain Allah) dan yang paling ringan ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebagaimana tersebut dalam sabda beliau:

. : , . ( )

"Iman itu mempunyai tujuh puluh lebih cabang, yang paling utama ialah mengucapkan tidak ada tuhan kecuali Allah, dan yang paling ringan ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah sebagian dari iman."(HR. Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Majah).

c. Hal-hal yang Membatalkan/Merusak Iman

Pembatal atau perusak iman ialah sesuatu perbuatan yang dapat merusak iman dan bahkan menghapus iman setelah seseorang menyatakan diri beriman kepada Allah SWT. Adapun yang membatalkan atau merusak iman ialah sebagai berikut:

1) Mengingkari Rububiyah Allah SWT, baik semuanya maupun sebagianya. Firman Allah:

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."(QS. Al-Jatsiah/45:24

2) Sombong dan menolak beribadah kepada Allah SWT. Firman Allah:

"Al masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah."(QS. An-Nisaa/4: 172-173)

3) Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai pertolongan selain Allah. Seperti menjadikan patung, kuburan atau benda-benda keramat lain sebagai perantara atau tempat meminta.

Firman Allah SWT:

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah'. Katakanlah: 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?' Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)."(QS. Yunus/10:18).

Firman Allah:

"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, Padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka."(QS. Ar-Ra'du/13:14)

4) Menolak sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, seperti ke-Esaan-Nya, sifat-sifat-Nya atau asma-asma-Nya.

Firman Allah:

"Katakanlah: 'Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorang