analisis kesulitan guru dalam melaksanakan penilaian

of 22/22
p-ISSN 2548-1517 Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020 Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 39 ANALISIS KESULITAN GURU DALAM MELAKSANAKAN PENILAIAN AUTENTIK KURIKULUM 2013 DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Purnamawati Balai Diklat Keagamaan Padang [email protected] Diterima: 11 September 2020 | Disetujui: 30 November 2020 | Dipublikasikan: 30 Desember 2020 Abstrak Penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif ini, digunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013 pada saat kegiatan pembelajaran dan solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan tersebut. Yang menjadi subyek penelitian ini adalah guru-guru madrasah peserta Pelatihan Peningkatan Kompeteni Pedagogik Guru MI ( Bimtek ) dari 2 Angkatan tahun 2020 sebanyak 30 orang guru model dan 60 orang Guru yang mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dalam praktek mengajar Hasil penelitian ini antara lain: a) 52 % responden menyatakan bahwa mereka belum mampu merancang teknik penilaian sikap, instrumen dan pedoman penskorannya; b) 86 % responden menyatakan bahwa mereka telah mampu merancang teknik penilaian, dan instrumen soalnya, namun 81,46% diantaranya hanya merancang instrumen soal tanpa disertai dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya, 87,34% tidak mencantumkan rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan, dan tidak seorangpun dari guru model yang merancang soal High Order Thinking (HOT) untuk mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian masalah; c) 52% responden mengalami kesulitan dalam merancang teknik penilaian keterampilan, menyusun instrumen dan rubrik penilaiannya; d) secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa pelaksanaan penilaian kurikulum 2013 di kelas dalam bentuk pembelajaran, guru-guru masih fokus pada pelaksanaan kegiatan penilaian pengetahuan dan sebagian kecil saja dari mereka yang melakukan kegiatan penilaian sikap dan keterampilan. e) untuk meminimalisir kesulitan guru dalam melaksanakan penilaian sikap dan keterampilan adalah guru hanya fokus melakukan penilaian sikap dan/atau keterampilan tertentu dalam satu kali tatap muka pembelajaran; f) pendampingan bagi guru-guru madrasah dalam Bimtek penilaian kurikulum 2013 dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaiannya merupakan salah satu alternatif solusi yang selalu ditunggu-tunggu dan diharapkan. Kata Kunci: Kesulitan Guru dan Solusinya, Penilaian Autentik Kurikulum 2013 Abstract This qualitative descriptive case study research used a qualitative approach to describe the difficulties faced by teachers in carrying out authentic assessments of the 2013 curriculum during learning activities and solutions that could be done to minimize these difficulties. The subjects of this study were 30 madrasah teachers participating in the Pedagogic Competency Improvement Training for MI Teachers from 2 batches of 2020, as many as 40 model teachers and 60 teachers who observed learning activities carried out by teachers in teaching practice.

Post on 26-Oct-2021

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Microsoft Word - 16-LE-Article Text-OK.docxp-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 39
ANALISIS KESULITAN GURU DALAM MELAKSANAKAN PENILAIAN AUTENTIK KURIKULUM 2013 DAN ALTERNATIF
SOLUSINYA
Purnamawati
Diterima: 11 September 2020 | Disetujui: 30 November 2020 | Dipublikasikan: 30 Desember 2020
Abstrak
Penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif ini, digunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013 pada saat kegiatan pembelajaran dan solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan tersebut. Yang menjadi subyek penelitian ini adalah guru-guru madrasah peserta Pelatihan Peningkatan Kompeteni Pedagogik Guru MI ( Bimtek ) dari 2 Angkatan tahun 2020 sebanyak 30 orang guru model dan 60 orang Guru yang mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dalam praktek mengajar Hasil penelitian ini antara lain: a) 52 % responden menyatakan bahwa mereka belum mampu merancang teknik penilaian sikap, instrumen dan pedoman penskorannya; b) 86 % responden menyatakan bahwa mereka telah mampu merancang teknik penilaian, dan instrumen soalnya, namun 81,46% diantaranya hanya merancang instrumen soal tanpa disertai dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya, 87,34% tidak mencantumkan rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan, dan tidak seorangpun dari guru model yang merancang soal High Order Thinking (HOT) untuk mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian masalah; c) 52% responden mengalami kesulitan dalam merancang teknik penilaian keterampilan, menyusun instrumen dan rubrik penilaiannya; d) secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa pelaksanaan penilaian kurikulum 2013 di kelas dalam bentuk pembelajaran, guru-guru masih fokus pada pelaksanaan kegiatan penilaian pengetahuan dan sebagian kecil saja dari mereka yang melakukan kegiatan penilaian sikap dan keterampilan. e) untuk meminimalisir kesulitan guru dalam melaksanakan penilaian sikap dan keterampilan adalah guru hanya fokus melakukan penilaian sikap dan/atau keterampilan tertentu dalam satu kali tatap muka pembelajaran; f) pendampingan bagi guru-guru madrasah dalam Bimtek penilaian kurikulum 2013 dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaiannya merupakan salah satu alternatif solusi yang selalu ditunggu-tunggu dan diharapkan. Kata Kunci: Kesulitan Guru dan Solusinya, Penilaian Autentik Kurikulum 2013
Abstract
This qualitative descriptive case study research used a qualitative approach to describe the difficulties faced by teachers in carrying out authentic assessments of the 2013 curriculum during learning activities and solutions that could be done to minimize these difficulties. The subjects of this study were 30 madrasah teachers participating in the Pedagogic Competency Improvement Training for MI Teachers from 2 batches of 2020, as many as 40 model teachers and 60 teachers who observed learning activities carried out by teachers in teaching practice.
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
40 Khurnia Eva Nilasari (Pembelajaran Bahasa Indonesia…)
The results of this study include: a) more than 50% of respondents stated that they were not able to design attitude assessment techniques, scoring instruments and guidelines; b) more than 85% of respondents stated that they had been able to design assessment techniques and problem instruments, but 82.36% of them only designed question instruments without being accompanied by answer and discussion keys and scoring guidelines, 88.24% did not include follow-up plans assessment in the form of remedial and enrichment programs, and none of the model teachers designed High Order Thinking (HOT) questions to develop students' competence, reasoning power, and creativity in problem solving; c) more than 50% of respondents have difficulty in designing skills assessment techniques, developing assessment instruments and rubrics; d) Overall it can be stated that the implementation of the 2013 curriculum in the classroom is in the form of learning, teachers are still focused on implementing knowledge assessment activities and only a small proportion of them carry out attitude and skills assessment activities. e) to minimize teacher difficulties in carrying out attitude and skill assessments, teachers only focus on assessing certain attitudes and / or skills in one face-to-face lesson; f) assistance for madrasa teachers in implementing the 2013 curriculum assessment, especially in carrying out learning activities and the assessment is one of the alternative solutions that have always been eagerly awaited and expected. Keywords: Teacher Difficulties and Solutions, Authentic Assessment of Curriculum 2013
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 41
PENDAHULUAN Kurikulum adalah seperangkat
rencana mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan tertentu (Susilo, 2007: 82-83). Kurikulum sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan untuk mewujudkan generasi yang handal, kreatif, inovatif, dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Jika dimisalkan sebuah tubuh, kurikulum sebagai jantungnya pendidikan merupakan salah satu komponen pembelajaran. Dengan adanya kurikulum, proses belajar dan pembelajaran akan berjalan secara terstruktur dan sistematis demi mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan kurikulum menjadi sangat penting sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, dan perubahan pada masyarakat. Upaya pengembangan dan penyempurnaan kurikulum dimaksudkan untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kompetitif, relevan, dan mutakhir mengikuti perkembangan zaman.
. Kurikulum 2013 dilandasi pemikiran tantangan masa depan abad ke 21 yang ditandai dengan abad ilmu pengetahuan, knowlwdge-based society dan kompetensi masa depan. Selain itu beberapa alasan perlunya pengembangan Kurikulum 2013 adalah: 1) Perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis input, proses dan output) 2) Kecenderungan banyak negara menambah jam pelajaran; dan 3) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di
Indonesia dengan negara lain relatif lebih singkat.
Pada kenyataannya dalam melaksanakan kurikulum pendidikan termasuk sistem penilaiannya, banyak guru yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun instrumen penilaian, mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel, serta malakukan pengolahan nilai yang dihasilkan dari kegiatan penilaian yang dilakukan guru menjadi nilai rapor. Apalagi jika penilaian yang dilakukan itu merupakan penilaian yang terintegrasi dari mulai instrumen penilaian sehari-hari yang digunakan oleh guru dan hasil penilaian dalam bentuk angka numerik tersebut selanjutnya langsung diolah secara aplikatif menjadi nilai rapor.
Penilaian hasil belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam proses pendidikan. Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran. Penyusunan perencanaan, pelaksanaan proses, dan penilaian merupakan rangkaian program pendidikan yang utuh, dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Penilaian hasil belajar peserta didik tidak selalu mudah untuk dilakukan secara bersama-sama dalam satu kali tatap muka yang mencakup ketiga aspek atau ranah sekaligus, meliputi ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan). Oleh karena itu, dalam
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
proses penilaian hasil belajar langkah yang pertama harus dilakukan adalah perumusan tujuan pembelajaran berikut dengan indikator-indikator ketercapaiannya yang memungkinkan untuk diamati dan diukur (observable and measurable). Berangkat dari rumusan tujuan pembelajaran berikut dengan indikator-indikator ketercapaiannya itu, maka disusunlah instrumen untuk mengamati dan mengukur hasil pembelajaran.
Dengan menggunakan instrumen penilaian, akan diperoleh data yang mencerminkan ketercapaian tujuan pembelajaran pada seorang peserta didik. Data ini selanjutnya harus diolah dan dimaknai sehingga menjadi informasi yang bermakna. Semua proses yang telah dilakukan itu pada akhirnya akan bermuara pada hasil belajar yang diwujudkan secara kuantitatif berupa nilai angka numerik yang selanjutnya dideskripsikan secara kualitatif pada aspek pengetahuan dan keterampilan, sedang pada aspek sikap spiritual dan sikap sosial hasil penilaian berupa pengkategorian dalam bentuk deskriptif kualitatif saja. Selain itu berdasarkan data hasil penilaian tersebut, guru dapat membuat keputusan mengenai posisi atau status setiap peserta didik, misalnya tuntas atau tidak tuntas, naik atau tidak naik kelas, lulus atau tidak dan sebagainya.
Seluruh proses penilaian hasil belajar tentu harus dilakukan dengan cermat, mulai dari penyusunan instrumen, pelaksanaan tes, pengolahan, sampai pada penetapan hasil akhir. Pada setiap tahapan diperlukan keterampilan khusus yang perlu dipelajari. Sehingga menggabungkan keseluruhan tahapan menjadi satu kesatuan tahapan penilaian juga memerlukan keterampilan guru, terutama dalam
menyusun instrumen yang terintegrasi dengan pengolahan nilainya untuk mendapatkan hasil akhir nilai peserta didik yang akurat dan cepat serta tidak menyulitkan guru-guru. Untuk itu diperlukan contoh-contoh model penilaian yang dapat mengakomodasi keperluan guru dan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan atau referensi oleh guru dalam melaksanakan penilaian pembelajaran di sekolah/madrasah.
Berdasarkan permasalahan sebagaimana tersebut di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian tentang analisis kesulitan guru madrasah dalam melaksanakan penilaian autentik kurikulum 2013 dan alternatif solusinya.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain: (1) Apa sajakah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013 pada saat kegiatan pembelajaran ? (2) Bagaimana bentuk solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013?
Berdasarkan rumusan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain (1) Mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013 pada saat kegiatan pembelajaran, (2) Mendeskripsikan solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013.
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 43
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik) Implementasi Kurikulum 2013 tahun 2016, dengan lokus MIN Kabupaten Solok,, MTsN Kota Padang Dari kedua madrasah tersebut, guru model yang melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang dibuatnya sebanyak 40 orang guru dalam 2 Angkatan Diklat dan banyaknya observer yang mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru model sebanyak 60 orang.
Dalam penelitian ini, pendekatan kuantitatif juga digunakan khususnya untuk mengetahui prosentase guru yang melakukan penilaian di masing-masing aspek, baik sikap, pengetahuan maupun keterampilan. Selanjutnya berdasarkan hasil tersebut, peneliti menggali data- data yang bersifat informatif mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik dan tanggapan guru terhadap solusi yang ditawarkan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan tersebut. Penggabungan kedua pendekatan ini didasarkan pada pendapat Byrman (dalam Moeleong, 2009), yaitu ”Quantitative work as a facilitator of qualitative work.”. berdasarkan pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa metode kuantitatif tidak harus dipakai secara penuh sampai pada analisis untuk menguji hipotesis, tetapi dapat dipakai pada sebagian kegiatan penelitian dan selanjutnya dimaknai secara kualitatif, untuk selanjutnya peneliti menarik kesimpulan
hasil penelitian berdasarkan data-data yang terkumpul. TEMUAN DAN PEMBAHASAN 1. Temuan
hendak diukur” pada diri peserta
didik. Salah satu prinsip penilaian pembelajaran yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan peserta didik. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar peserta didik yang diajarnya. Selain itu peserta didik yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.
Penilaian pembelajaran merupakan suatu kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah kompetensi dasar.
Menurut Griffin dan Nix (1991) (dalam Muslich, 2011: 6), penilaian merupakan suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karekteristik seseorang atau sesuatu. Pengertian penialian berhubungan dengan setiap bagian dari proses pendidikan, bukan hanya keberhasilan belajar saja, tetapi mencakup semua proses pembelajaran.
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
Oleh karena itu, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti untuk menunjukkan pencapaian belajar
Jadi, penilaian pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan. 1. Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah penilaian terhadap kecenderungan perilaku peserta didik sebagai hasil pendidikan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian dan membina perilaku serta budi pekerti peserta didik sesuai butir-butir sikap dalam Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti Sikap Spiritual (KI-1) dan Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2). Penilaian sikap spiritual dan sikap sosial dilakukan secara berkelanjutan oleh pendidik mata pelajaran, guru
Bimbingan Konseling (BK), dan wali kelas dengan menggunakan observasi dan informasi lain yang valid dan relevan dari berbagai sumber. Penilaian sikap merupakan bagian dari pembinaan dan penanaman/pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik yang menjadi tugas dari setiap pendidik. Penanaman sikap diintegrasikan pada setiap pembelajaran KD dari KI-3 dan KI- 4. Hasil penilaian sikap selama periode satu semester ditulis dalam bentuk deskripsi yang menggambarkan perilaku peserta didik.
Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas, melalui
observasi yang dicatat dalam jurnal. Teknik penilaian sikap dijelaskan pada skema berikut,
Berikut penjelasan Gambar 2.1. a. Observasi
Observasi dalam penilaian sikap peserta didik merupakan teknik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku. Asumsinya setiap peserta didik pada dasarnya berperilaku baik sehingga yang perlu dicatat hanya perilaku yang sangat baik (positif) atau kurang baik (negatif) yang berkaitan dengan indikator sikap spiritual dan sikap sosial. Catatan hal-hal positif dan menonjol digunakan untuk menguatkan perilaku positif, sedangkan perilaku negatif digunakan untuk pembinaan. Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 45
lembar observasi atau jurnal. Hasil observasi dicatat dalam jurnal yang dibuat selama satu semester oleh guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas. Jurnal memuat catatan sikap atau perilaku peserta didik yang sangat baik atau kurang baik, dilengkapi dengan waktu terjadinya perilaku tersebut, dan butir-butir sikap. Perilaku sangat baik atau kurang baik yang dicatat dalam jurnal tidak terbatas pada butir-butir sikap (perilaku) yang hendak ditumbuhkan melalui pembelajaran yang saat itu sedang berlangsung sebagaimana dirancang dalam RPP, tetapi dapat mencakup butir-butir sikap lainnya yang ditanamkan dalam semester itu, jika butir-butir sikap tersebut muncul/ditunjukkan oleh peserta didik melalui perilakunya. Perilaku peserta didik yang tidak menonjol (sangat baik atau kurang baik) tidak perlu dicatat dan dianggap peserta didik tersebut menunjukkan perilaku baik atau sesuai dengan norma yang diharapkan. Jika seorang peserta didik menunjukkan perilaku yang kurang baik, pendidik harus segera menindaklanjuti dengan melakukan pendekatan dan pembinaan, secara bertahap peserta didik tersebut dapat menyadari dan memperbaiki sendiri perilakunya sehingga menjadi lebih baik. Berdasarkan catatan tersebut pendidik membuat deskripsi penilaian sikap peserta didik selama satu semester. b. Penilaian Diri
Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam berperilaku. Selain itu penilaian diri juga dapat digunakan untuk membentuk sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. Hasil penilaian diri peserta didik dapat digunakan sebagai data konfirmasi.
Penilaian diri dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian peserta didik, antara lain :(1) dapat menumbuhkan rasa percaya diri, karena diberi kepercayaan untuk menilai diri sendiri, (2) peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan diri, karena ketika melakukan penilaian harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, (3) dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian, (4) membentuk sikap terhadap mata pelajaran/pengetahuan.
Instrumen yang digunakan untuk penilaian diri berupa lembar penilaian diri yang
dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna ganda, dengan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik, dan menggunakan format sederhana yang mudah diisi peserta didik. Lembar penilaian diri dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata/sebenarnya, bermakna, dan mengarahkan peserta didik mengidentifikasi kekuatan atau kelemahannya. Hal ini untuk menghilangkan kecenderungan peserta didik menilai dirinya secara subjektif.
Penilaian diri oleh peserta didik dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. (1) Menjelaskan kepada peserta didik
tujuan penilaian diri. (2) Menentukan indikator yang akan
dinilai. (3) Menentukan kriteria penilaian yang
akan digunakan. (4) Merumuskan format penilaian,
berupa daftar cek (checklist) atau skala penilaian (rating scale), atau
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
46 Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…)
dalam bentuk esai untuk mendorong peserta didik mengenali diri dan potensinya.
Penilain diri tidak hanya digunakan untuk menilai sikap tetapi juga dapat digunakan untuk menilai sikap terhadap pengetahuan dan keterampilan serta kesulitan belajar peserta didik. c. Penilaian Antarteman
Penilaian antarteman adalah penilaian dengan cara peserta didik saling menilai perilaku temannya. Penilaian antarteman dapat mendorong objektifitas peserta didik, sikap empati, mengapresiasi keragaman/perbedaan, dan refleksi diri peserta didik.
Sebagaimana penilaian diri, hasil penilaian antarteman dapat digunakan sebagai data konfirmasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarteman. Kriteria penyusunan instrumen penilaian antarteman sebagai berikut, (1) Sesuai dengan indikator yang akan diukur, (2) Indikator dapat diukur melalui pengamatan peserta didik, (3) Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda, (4) Menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik, (5) Menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik, (6) Indikator menunjukkan sikap/perilaku peserta didik dalam situasi yang nyata atau sebenarnya dan dapat diukur.
Penilaian antarteman paling cocok dilakukan pada saat peserta didik
melakukan kegiatan kelompok, misalnya setiap peserta didik diminta mengamati/menilai dua orang temannya, dan dia juga dinilai oleh dua orang teman lainnya dalam kelompoknya, sebagaimana diagram pada gambar berikut,
Diagram pada Gambar 2.2 di atas menggambarkan aktivitas saling menilai sikap/perilaku antarteman. • Peserta didik A mengamati dan
menilai B dan E. A juga dinilai oleh B dan E
• Peserta didik B mengamati dan menilai A dan C. B juga dinilai oleh A dan C
• Peserta didik C mengamati dan menilai B dan D. C juga dinilai oleh B dan D
• Peserta didik D mengamati dan menilai C dan E. D juga dinilai oleh C dan E
• Peserta didik E mengamati dan menilai D dan A. E juga dinilai oleh D dan A Pendidik dapat berkreasi membuat
sendiri pernyataan atau pertanyaan dengan memperhatikan kriteria instrumen penilaian antarteman. Lembar penilaian diri dan penilaian antarteman yang telah diisi dikumpulkan kepada pendidik, selanjutnya dipilah dan direkapitulasi sebagai bahan tindak lanjut. Pendidik dapat menganalisis jurnal atau data/informasi hasil observasi penilaian sikap dengan data/informasi hasil penilaian diri dan penilaian antarteman sebagai bahan pembinaan. Hasil analisis dinyatakan dalam deskripsi sikap spiritual dan sikap sosial yang perlu segera ditindaklanjuti. Peserta didik yang menunjukkan banyak perilaku positif diberi apresiasi/pujian dan peserta didik yang menunjukkan banyak perilaku negatif diberi motivasi/ pembinaan sehingga peserta didik
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 47
tersebut dapat membiasakan diri berperilaku baik (positif). 2. Penilaian Pengetahuan
Penilaian pengetahuan penilaian untuk mengukur kemampuan peserta didik berupa pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, serta kecakapan berpikir tingkat rendah sampai tinggi, berkaitan Kompetensi Dasar pada KI-3. Penilaian
pengetahuan dilakukan dengan berbagai teknik penilaian. Pendidik menetapkan teknik penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensi yang akan dinilai. Penilaian dimulai dengan saat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada silabus.
Penilaian pengetahuan, selain untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, juga untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostic). Oleh karena itu, pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik merupakan hal yang sangat penting, sehingga hasil penilaian dapat segera digunakan untuk perbaikan mutu pembelajaran. Ketuntasan belajar untuk pengetahuan ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan batas standar minimal nilai Ujian Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara bertahap satuan pendidikan terus meningkatkan kriteria ketuntasan belajar dengan mempertimbangkan potensi dan
karakteristik masing-masing satuan pendidikan sebagai bentuk peningkatan kualitas hasil belajar. Teknik Penilaian Pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Namun tidak menutup kemungkinan digunakan teknik lain yang sesuai, misalnya portofolio dan observasi. Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada gambar berikut, Berikut penjelasan Gambar 2.3 a. Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta tes. Tes tertulis menuntut respons dari peserta tes yang dapat dijadikan sebagai representasi dari kemampuan yang dimiliki. Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Pengembangan instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah sebagai berikut, (1) Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan, diagnostik, formatif, atau sumatif, (2) Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai acuan menulis soal. Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang kriteria soal yang akan ditulis, meliputi KD yang akan diukur, materi, indikator soal, bentuk soal, dan nomor soal. Dengan adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarahsesuai dengan tujuan tes dan proporsi soal per KD atau materi yang hendak diukur lebih tepat, (3) Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan soal, (4) Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan. Pada soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
jawaban singkat disediakan kunci jawaban karena jawaban dapat diskor dengan objektif. Sedangkan untuk soal uraian disediakan pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban dan rubrik dengan rentang skor, (5) Melakukan analisis kualitatif (telaah soal) sebelum soal diujikan. b. Tes Lisan
Tes lisan merupakan pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. Jawaban peserta didik dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf. Tes lisan menumbuhkan sikap peserta didik untuk berani berpendapat. Rambu- rambu pelaksanaan tes lisan sebagai berikut, (1) Tes lisan dapat digunakan untuk mengambil nilai (assessment of learning) dan dapat juga digunakan sebagai fungsi diagnostik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap kompetensi dan materi pembelajaran (assessment for learning), (2) Pertanyaan harus sesuai dengan tingkat kompetensi dan lingkup materi pada kompetensi dasar yang dinilai, (3) Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mengonstruksi sendiri, (4) Pertanyaan disusun dari yang sederhana ke yang lebih komplek. c. Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur dan/atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan (assessment of learning) dapat dilakukan setelah proses pembelajaran sedangkan penugasan yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan (assessment for learning) diberikan sebelum dan/atau selama proses pembelajaran. Penugasan dapat
berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Penugasan lebih ditekankan pada pemecahan masalah dan tugas produktif lainnya.
Rambu-rambu penugasan, (1) Tugas mengarah pada pencapaian indikator hasil belajar, (2) Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik, selama proses pembelajaran atau merupakan bagian dari pembelajaran mandiri, (3) Pemberian tugas disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik, (4) Materi penugasan harus sesuai dengan cakupan kurikulum, (5) Penugasan ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menunjukkan kompetensi individualnya meskipun tugas diberikan secara kelompok, (6) Pada tugas kelompok, perlu dijelaskan rincian tugas setiap anggota kelompok, (7) Tampilan kualitas hasil tugas yang diharapkan disampaikan secara jelas, (8) Penugasan harus mencantumkan rentang waktu pengerjaan tugas. d. Portofolio
Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang bersifat reflektif-integratif yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode tertentu. Portofolio merupakan kumpulan sampel pekerjaan terbaik dari KD pada KI-3, terutama pekerjaan-pekerjaan dari tugas-tugas dan ulangan harian tertulis yang diberikan kepada siswa Ada beberapa tipe portofolio antara lain portofolio dokumentasi, portofolio proses, dan portofolio pameran. Guru dapat memilih tipe portofolio yang sesuai dengan tujuannya.
Portofolio setiap siswa disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 49
tanggal pengumpulan oleh guru. Portofolio dapat disimpan dalam bentuk cetakan dan/atau elektronik. Pada akhir suatu semester kumpulan sampel pekerjaan tersebut digunakan sebagai sebagian bahan untuk mendeskripsikan pencapaian pengetahuan secara deskriptif. Portofolio pengetahuan tidak diskor lagi dengan angka.
Berikut ini merupakan ketentuan dalam penilaian portofolio pengetahuan, (1) Pekerjaan asli siswa; (2) Pekerjaan yang diportofoliokan telah disepakati oleh siswa dan guru; (3) Guru menjaga kerahasiaan portofolio; (4) Guru dan siswa mempunyai rasa memiliki terhadap dokumen portofolio; (5) Pekerjaan yang dikumpulkan sesuai dengan KD dari KI-3, pekerjaan terbaik dari KD tersebut (bila ada) dimasukkan ke dalam portofolio. 3. Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan adalah penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4. Penilaian keterampilan menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sesungguhnya (real life). Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antara lain penilaian kinerja, penilaian proyek, dan penilaian portofolio. Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dapat dipilih sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4. Teknik Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian kinerja, proyek, dan portofolio. Teknik penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4 pada mata pelajaran yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Skema penilaian keterampilan dapat dilihat pada gambar berikut,
Berikut disajikan uraian singkat
a. Penilaian Kinerja Penilaian kinerja adalah penilaian
untuk mengukur capaian pembelajaran yang
berupa keterampilan proses dan/atau hasil (produk). Dengan demikian, aspek yang dinilai dalam penilaian kinerja adalah kualitas proses mengerjakan/melakukan suatu tugas atau kulaitas produknya atau kedua- duanya. Contoh keterampilan proses adalah keterampilan melakukan tugas/tindakan dengan menggunakan alat dan/atau bahan dengan prosedur kerja kerja tertentu, sementara produk adalah sesuatu (bisanya barang) yang dihasilkan dari penyelesaian sebuah tugas.
Contoh penilaian kinerja yang menekankan aspek proses adalah berpidato, membaca karya sastra, menggunakan peralatan laboratorium
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
sesuai keperluan, memainkan alat musik, bermain bola, bermain tenis, berenang, koreografi, dan dansa. Contoh penilaian kinerja yang mengutamakan aspek produk adalah membuat gambar grafik, menyusun karangan, dan menyulam. Contoh penilaian kinerja yang mempertimbangkan baik proses maupun produk adalah memasak nasi goreng dan memanggang roti.
Langkah-langkah umum penilaian kinerja adalah (a) menyusun kisi-kisi; (b) mengembangkan/menyusun tugas yang dilengkapi dengan langkah- langkah,bahan, dan alat; (c) menyusun rubrik penskoran dengan memperhatikan aspek-aspek yang perlu dinilai; (d) melaksanakan penilaian dengan mengamati siswa selama proses penyelesaian tugas dan/atau menilai produk akhirnya berdasarkan rubrik; (e) mengolah hasil penilaian dan melakukan tindak lanjut.
Guru dapat menetapkan bobot penskoran yang berbeda-beda antara aspek satu dan lainnya yang dinilai dengan memperhatikan karakteristik KD atau keterampilan yang dinilai. b. Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuannya melalui penyelesaian suatu tugas dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat dilakukan untuk mengukur satu atau beberapa KD dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Tugas tersebut berupa rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian data, pengolahan dan penyajian data, serta pelaporan. Pada penilaian proyek setidaknya ada 4 (empat) hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu, 1) Pengelolaan
Kemampuan siswa dalam memilih topik, mencari informasi, dan mengelola waktu pengumpulan data, serta penulisan laporan. 2) Relevansi
Topik, data, dan produk sesuai dengan KD. 3) Keaslian
Produk (misalnya laporan) yang dihasilkan siswa merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek siswa. 4) Inovasi dan kreativitas
Hasil proyek siswa terdapat unsur- unsur kebaruan dan menemukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. c. Penilaian Portofolio
Seperti pada penilaian pengetahuan, portofolio untuk penilaian keterampilan merupakan kumpulan sampel karya terbaik dari KD pada KI-4. Pada akhir suatu semester kumpulan sampel karya tersebut digunakan sebagai sebagian bahan untuk mendeskripsikan pencapaian keterampilan secara deskriptif.
Berikut adalah contoh ketentuan dalam penilaian keterampilan dengan portofolio, (1) Karya asli siswa; (2) Karya yang dimasukkan dalam portofolio disepakati oleh siswa dan guru; (3) Guru menjaga kerahasiaan portofolio; (4) Guru dan siswa mempunyai rasa memiliki terhadap dokumen portofolio; (5) Karya yang dikumpulkan sesuai dengan KD dari KI-4, karya terbaik dari KD tersebut (bila ada) dimasukkan ke dalam portofolio.
B. Pengolahan Hasil Penilaian 1. Nilai Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Langkah-langkah untuk membuat deskripsi nilai/perkembangan sikap selama satu semester: (a) Wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 51
masing-masing mengelompokkan (menandai) catatan-catatan sikap jurnal yang dibuatnya ke dalam sikap spiritual dan sikap sosial (apabila pada jurnal belum ada kolom butir nilai), (b) Wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK masing-masing membuat rumusan deskripsi singkat sikap spiritual dan sikap sosial berdasarkan catatan-catatan jurnal untuk setiap siswa, (c) Wali kelas mengumpulkan deskripsi singkat sikap dari guru mata pelajaran dan guru BK.
Dengan memperhatikan deskripsi singkat sikap spiritual dan sosial dari guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas yang bersangkutan, wali kelas menyimpulkan (merumuskan deskripsi) capaian sikap spiritual dan sosial setiap siswa.
Berikut adalah rambu-rambu rumusan deskripsi perkembangan sikap: (a) Deskripsi sikap menggunakan kalimat yang bersifat memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ...tetapi masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu bimbingan dalam hal ..., (b) Deskripsi sikap menyebutkan perkembangan sikap/perilaku siswa
yang sangat baik dan/atau baik dan yang mulai/sedang berkembang, (c) Apabila siswa tidak ada catatan apapun dalam jurnal, sikap siswa tersebut diasumsikan BAIK, (d) dengan ketentuan bahwa sikap dikembangkan selama satu
semester, deskripsi nilai/perkembangan sikap siswa didasarkan pada sikap siswa pada masa akhir semester. Oleh karena itu, sebelum deskripsi sikap akhir semester dirumuskan, guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas harus memeriksa jurnal secara keseluruhan hingga akhir semester untuk melihat apakah telah ada catatan yang menunjukkan bahwa sikap siswa tersebut telah menjadi sangat baik, baik, atau mulai berkembang, (e) Apabila siswa memiliki catatan sikap KURANG baik dalam jurnal dan siswa tersebut belum menunjukkan adanya perkembangan positif, deskripsi sikap siswa tersebut dirapatkan dalam rapat dewan guru pada akhir semester.
Berikut adalah contoh rumusan deskripsi capaian sikap spiritual dan sosial.
Sikap spiritual: Selalu bersyukur, selalu berdoa sebelum melakukan kegiatan,dan toleran pada pemeluk agama yang berbeda; ketaatan beribadah mulai berkembang.
Sikap sosial: Sangat santun, peduli, dan percaya diri; kejujuran, kedisiplinan, dan tanggungjawab meningkat 2. Nilai Pengetahuan
Nilai pengetahuan diperoleh dari hasil penilaian harian, penilaian tengah semester, dan penilaian akhir semester yang dilakukan dengan beberapa teknik penilaian. Penulisan capaian pengetahuan pada rapor menggunakan angka pada skala 0 – 100 dan deskripsi.
Penilaian pengetahuan yang dilakukan dalam satu semester dapat digambarkan dalam skema berikut:
Hasil Penilaian Harian (HPH) Hasil Penilaian Harian merupakan
nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil penilaian harian melalui tes tertulis dan/atau penugasan untuk setiap KD.
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
52 Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…)
Dalam perhitungan nilai rata-rata dapat diberikan pembobotan untuk nilai tes tertulis dan penugasan misalnya 60% untuk bobot tes tertulis dan 40% untuk penugasan.
Penilaian harian dapat dilakukan lebih dari satu kali untuk KD yang gemuk (cakupan materi yang luas) sehingga penilaian harian tidak perlu menunggu selesainya pembelajaran KD tersebut. Materi dalam suatu penilaian harian untuk KD gemuk mencakup sebagian dari keseluruhan materi yang dicakup oleh KD tersebut. Bagi KD dengan cakupan materi sedikit, penilaian harian dapat dilakukan setelah pembelajaran lebih dari satu KD.
b. Hasil Penilaian Tengah Semester (HPTS) nilai yang diperoleh dari penilaian tengah semester yang terdiri atas beberapa kompetensi dasar.
c. Hasil Penilaian Akhir Semester (HPAS) merupakan nilai yang diperoleh dari penilaian akhir semester yang mencakup semua kompetensi dasar dalam satu semester.
d. Hasil Penilaian Akhir (HPA) merupakan hasil pengolahan dari HPH, HPTS, HPAS dengan memperhitungkan bobot masing-masing yang ditetapkan oleh satuan pendidikan. Hasil penilaian akhir (HPA) berupa angka tersebut selanjutnya dibulatkan dan diberi predikat dengan ketentuan:
Sangat Baik (A) : 86-100 Baik (B) : 71-85 Cukup (C) : 56-70 Kurang (D) : ≤ 55 Selain nilai dalam bentuk angka dan
predikat, dalam rapor dituliskan deskripsi capaian pengetahuan untuk setiap mata pelajaran. Berikut adalah rambu-rambu rumusan deskripsi capaian pengetahuan dalam rapor.
a. Deskripsi pengetahuan menggunakan kalimat yang bersifat
memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ... tetapi masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu bimbingan dalam hal ....
b. Deskripsi berisi beberapa pengetahuan yang sangat baik dan/atau baik dikuasai oleh siswa dan yang penguasaannya belum optimal.
c. Deskripsi capaian pengetahuan didasarkan pada bukti-bukti pekerjaan siswa yang didokumentasikan dalam portofolio pengetahuan. Apabila KD tertentu tidak memiliki pekerjaan yang dimasukkan ke dalam portofolio, deskripsi KD tersebut didasarkan pada skor angka yang dicapai.
3. Nilai Keterampilan Nilai keterampilan diperoleh dari
hasil penilaian kinerja (proses dan produk), proyek, dan portofolio. Hasil penilaian dengan teknik kinerja dan proyek dirata-rata untuk memperoleh nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran. Seperti pada
pengetahuan, penulisan capaian keterampilan pada rapor menggunakan angka pada skala 0 – 100 dan deskripsi.
Penilaian keterampilan dalam satu semester dapat digambarkan dengan skema berikut: Keterangan: Kin = Kinerja Pro = Proyek Por = Portofolio
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 53
Nilai akhir semester diperoleh berdasarkan rata-rata skor akhir keseluruhan KD keterampilan yang dibulatkan ke bilangan bulat terdekat, selanjutnya diberi predikat dengan ketentuan: Sangat Baik (A) : 86-100 Baik (B) : 71-85 Cukup (C) : 56-70 Kurang (D) : ≤ 55
Selain nilai dalam bentuk angka dan predikat, dalam rapor dituliskan deskripsi capaian keterampilan untuk setiap mata pelajaran. Berikut adalah rambu-rambu rumusan deskripsi capaian keterampilan.
(1) Deskripsi keterampilan menggunakan kalimat yang bersifat memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ... tetapi masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu peningkatan dalam hal ...., (2) Deskripsi berisi beberapa keterampilan yang sangat baik dan/atau baik dikuasai oleh siswa dan yang penguasaannya mulai meningkat, (3) Deskripsi capaian keterampilan didasarkan pada bukti-bukti karya siswa yang didokumentasikan dalam portofolio keterampilan. Apabila KD tertentu tidak memiliki karya yang dimasukkan ke dalam portofolio, deskripsi KD tersebut didasarkan pada skor angka yang dicapai. Portofolio tidak dinilai (lagi) dalam bentuk angka.Penilaian Pembelajaran merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan dapat “mengukur apa yang hendak diukur” pada diri peserta didik. Salah satu prinsip penilaian pembelajaran yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan peserta didik.
Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar peserta didik yang diajarnya. Selain itu peserta didik yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.
Proses analisis data seperti perhitungan statistik dan proses pengujian hipotesis tidak perlu disajikan. Hanya hasil analisis dan hasil pengujian hipotesis saja yang perlu dilaporkan.
Tabel dan grafik dapat digunakan untuk memperjelas penyajian hasil penelitian secara verbal. Tabel dan grafik harus diberi komentar atau dibahas. Untuk penelitian kualitatif, bagian hasil memuat bagian-bagian rinci dalam bentuk sub topik-sub topik yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian dan kategori-kategori.
Temuan berupa kenyataan di lapangan diintegrasikan/ dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori yang sudah ada. Untuk keperluan ini harus ada rujukan. Dalam memunculkan teori- teori baru, teori-teori lama bisa dikonfirmasi atau ditolak, sebagian mungkin perlu memodifikasi teori dari teori lama. 2. Pembahasan 1.Hasil Observasi dan Analisis terhadap Perangkat Pembelajaran.
Perangkat pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dokumen Rencana Program Pembelajaran (RPP). Observasi dan analisis terhadap 17 RPP yang dibuat oleh masing-masing guru model, difokuskan pada sub komponen penilaian yang terdiri dari: teknik penilaian, instrumen penilaian dan
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
pedoman penskorannya, serta kegiatan remidi dan pengayaan.
Berdasarkan hasil observasi dan analisis terhadap 17 RPP yang yang dibuat oleh masing-masing guru model, didapat: a.Rencana Penilaian pada Aspek Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
1) Terdapat 6 dari 17 atau 35,29% guru model yang menyusun RPP telah dapat menyusun sikap spiritual dan sikap sosial yang akan dinilai serta teknik yang akan digunakan sesuai dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya.
2) Terdapat 8 dari 17 atau 47,06% guru model yang menyusun RPP telah dapat menyusun sikap spiritual dan sikap sosial yang akan dinilai sesuai dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya, namun tidak secara jelas mencantumkan teknik penilaian yang akan digunakannya.
3) Terdapat 3 dari 17 atau 17,64% guru model yang menyusun RPP tidak menyusun sikap spiritual dan sikap sosial yang akan dinilai sesuai dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya, dan tidak pula secara jelas mencantumkan teknik penilaian yang akan digunakannya.
4) Terdapat 5 dari 17 atau 29,41% guru model yang menyusun RPP telah menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskoran sesuai dengan sikap yang akan dinilai dan teknik yang akan digunakannya.
5) 12 dari 17 atau 70,59% terdapat kesalahan dan ketidaksesuaian instrumen penilaian dan pedoman penskoran serta teknik penilaian yang digunakan. Bahkan terkesan bahwa instrumen penilaian dan pedoman penskoran serta teknik penilaian yang
digunakan dalam RPP ini yang penting ada atau copy-paste dari RPP lain tanpa dimodifikasi dan disesuaikan dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya.
Secara keseluruhan dapat dianalisis bahwa lebih dari 50% responden guru model menyatakan bahwa mereka belum mampu merancang teknik penilaian, instrumen dan pedoman penskoran sesuai dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya. b.Rencana Penilaian pada Aspek Pengetahuan 1) Terdapat 15 dari 17 atau 88,23% guru model yang menyusun RPP telah dapat menyusun soal sesuai dengan indikator KD di KI-3, namun tidak mencantumkan secara spesifik teknik penilaian pengetahuan yang digunakan. Umumnya, para guru model hanya merancang soal-soal yang sesuai dengan materi dan indikator KD, sedang teknik penilaian pengetahuannya tidak dinyatakan secara jelas, baik teknik tes tulis, tes lisan dan/ atau penugasan. 2)Terdapat 100% guru model dalam merancang soal, menerapkan penggunaan soal-soal rutin yang menguji pengetahuan, pemahaman dengan sedikit penerapan konsep. Tidak ada diantara guru model yang merancang soal High Order Thinking (HOT) untuk mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian masalah. 3)Terdapat 3 dari 17 atau 17, 64% guru model yang merancang instrumen soal berikut dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya. Selebihnya, yaitu 14 dari 17 atau 82,36% guru model hanya merancang instrumen soal tanpa disertai
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 55
dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya. 4)Hanya 2 dari 17 atau 11,76% guru model yang menyusun RPP telah menyusun rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan. Selebihnya, yaitu 15 dari 17 atau 88,24% tidak mencantumkan rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan.
Secara keseluruhan dapat dianalisis bahwa lebih dari 85% responden guru model menyatakan bahwa mereka telah mampu merancang teknik penilaian, dan instrumen soalnya sesuai dengan indikator-indikator KD di KI-3, namun 82,36% diantaranya hanya merancang instrumen soal tanpa disertai dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya, 88,24% tidak mencantumkan rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan, dan tidak seorangpun dari guru model yang merancang soal High Order Thinking (HOT) untuk mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian masalah. c. Rencana Penilaian pada Aspek Keterampilan 1) Terdapat 7 dari 17 atau 41,18% guru model yang menyusun RPP telah merancang teknik penilaian keterampilan, menyusun instrumen dan rubrik penilaiannya sesuai dengan indikator KD di KI-4. 2) Terdapat 10 dari 17 atau 58,82% guru model yang menyusun RPP tidak tepat dalam merancang teknik penilaian keterampilan, terdapat ketidaksesuaian antara instrumen dan rubrik penilaian yang digunakan. Bahkan 5 dari 17 atau 29,41% guru model memasukkan sikap berani, percaya diri, kerja sama, dan keaktifan dalam kriteria aspek yang
dinilai pada teknik penilaian kinerja proses keterampilan peserta didik.
Secara keseluruhan dapat dianalisis bahwa lebih dari 50% responden guru model yang menyusun RPP mengalami kesulitan dalam merancang teknik penilaian keterampilan, menyusun instrumen dan rubrik penilaian yang sesuai dengan indikator KD di KI-4 termasuk pula kriteria aspek yang dinilai pada teknik penilaian kinerja proses keterampilan peserta didik . 2.Hasil Observasi terhadap Kegiatan Pembelajaran.
Observasi terhadap kegiatan pembelajaran dilakukan oleh para observer. Di masing-masing madrasah, terdapat 11 orang observer yang mengamati jalannya pembelajaran. Guru model melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan penilaian autentik sebagaimana diamanatkan dalam Kurikulum 2013, dan jalannya pembelajaran tersebut diamati oleh para observer. Dengan rincian antara lain sebagai berikut:
a) Madrasah Ibtidaiyah Negeri Curahjeru Situbondo terdapat 6 orang guru model, pembelajaranya diamati oleh 11 orang observer meliputi 10 orang observer berasal dari guru madrasah dan seorang observer lagi yaitu peneliti.
b)Madrasah Tsanawiyah Negeri Arjasa Jember terdapat 6 orang guru model, pembelajaranya diamati oleh 11 orang observer meliputi 10 orang observer berasal dari guru madrasah dan seorang observer lagi yaitu peneliti. c)Madrasah Tsanawiyah Negeri Krian Sidoarjo terdapat 5 orang guru model, pembelajaranya diamati oleh 11 orang observer meliputi 10 orang observer
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
berasal dari guru madrasah dan seorang observer lagi yaitu peneliti.
Observasi dilakukan pada semua aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru model, mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Hasil pengamatan dicatat dalam lembar pengamatan praktik pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan lembar pengamatan itulah, selanjutnya peneliti melakukan analisis terutama berkaitan dengan implementasi penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan. Berikut ini merupakan hasil analisis tersebut:
1) Sebanyak 9 dari 33 observer atau 27,3% menyatakan bahwa guru model melaksanakan penilaian sikap, baik sikap spiritual maupun sikap sosial. Atau dengan kata lain terdapat 24 dari 33 observer atau 72,7% menyatakan bahwa guru model tidak melaksanakan penilaian sikap selama kegiatan pembelajaran.
2) Sebanyak 27 dari 33 observer atau 81,8% menyatakan bahwa guru model melaksanakan penilaian pengetahuan dalam bentuk pemberian soal yang harus dikerjakan siswa. Atau dengan kata lain terdapat 6 dari 33 observer atau 18,2% menyatakan bahwa guru model tidak melaksanakan penilaian pengetahuan selama kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, peneliti secara spesifik juga melakukan pengamatan terhadap aktivitas penilaian pengetahuan yang dilakukan oleh guru model, dalam bentuk ada atau tidaknya penguatan dan umpan balik pembahasan dari soal yang diberikan. Dari 17 orang guru model hanya terdapat 2 orang guru model atau 11,8% yang melakukan pembahasan dari soal yang diberikan kepada peserta didiknya pada saat pembelajaran hari itu juga.
3) Sebanyak 12 dari 33 observer atau 36,4% menyatakan bahwa guru model melaksanakan penilaian keterampilan. Atau dengan kata lain terdapat 21 dari 33 observer atau 63,6% menyatakan bahwa guru model tidak melaksanakan penilaian keterampilan selama kegiatan pembelajaran.
Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa implementasi kurikulum 2013 di kelas dalam bentuk pembelajaran, guru-guru masih fokus pada pelaksanaan kegiatan penilaian pengetahuan dan sebagian kecil saja dari mereka yang melakukan kegiatan penilaian sikap dan keterampilan. Hal ini terbukti dengan data hasil penelitian yaitu: 1) 81,8% guru-guru melakukan kegiatan penilaian pengetahuan; 2) 27,3% guru-guru melakukan kegiatan penilaian sikap; dan 3) 36,4% guru-guru melakukan kegiatan penilaian keterampilan selama proses pembelajaran berlangsung.
3. Faktor Penyebab dan Solusinya Berdasarkan hasil penelitian di atas,
dapat dinyatakan bahwa lebih dari 50% responden guru belum dapat merancang dan melaksanakan penilaian dengan baik terutama penilaian sikap dan keterampilan peserta didik. Untuk mendapatkan data lebih lanjut, peneliti melakukan wawancara terbuka untuk mendapatkan data tentang faktor penyebab kesulitan guru madrasah dalam melaksanakan penilaian autentik kurikulum 2013. Wawancara ini juga bermaksud untuk mendapatkan data alternatif tentang solusi yang diharapkan oleh guru untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013. Berikut ini merupakan deskripsi hasil wawancara tersebut:
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 57
a) Kesulitan yang dihadapi guru madrasah dalam merancang penilaian sikap dalam RPP adalah merumuskan indikator penilaian, menyusun instrumen penilaian sikap sesuai dengan berbagai macam teknik penilaiannya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang penilaian autentik kurikulum 2013. Perubahan peraturan menteri berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013 khususnya standar proses dan standar penilaian juga membuat guru-guru madrasah menjadi semakin bingung dalam menyusun rencana pembelajaran dan penilaian.
b) Guru-guru madrasah tidak melaksanakan penilaian sikap pada saat kegiatan pembelajaran disebabkan karena mereka tidak terbiasa melaksanakannya, lebih berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran dan kurangnya alokasi waktu yang tersedia untuk melaksanakan penilaian sikap. Jumlah peserta didik yang harus dinilai dalam satu kali tatap muka di setiap kelas dan banyaknya aspek sikap yang dinilai juga menjadi kendala dalam melakukan penilaian sikap peserta didik pada saat pembelajaran. Untuk meminimalisir kesulitan tersebut, guru hanya fokus melakukan penilaian sikap tertentu dalam satu kali tatap muka pembelajaran. Solusi ini dirasakan lebih realistis dapat dilaksanakan guru ketika melaksanakan penilaian sikap.
c) Dalam merancang dan melaksanakan penilaian pengetahuan, kesulitan yang dihadapi guru terutama dalam merumuskan soal yang sesuai dengan indikator, serta dalam menentukan pedoman penskoran pada soal-soal uraian.
d) Kesulitan yang dihadapi guru madrasah dalam merancang penilaian keterampilan terutama dalam
merumuskan aspek-aspek yang dinilai dalam rubrik penilaian keterampilan sesuai dengan teknik penilaian yang akan digunakan. Guru-guru juga cenderung memasukkan aspek-aspek sikap dalam rubrik penilaian keterampilan. Mereka belum sepenuhnya memahami bagaimana menyusun instrumen dan rubrik penilaian keterampilan.
e) Penilaian keterampilan pada saat kegiatan pembelajaran juga tidak dilaksanakan oleh guru-guru madrasah disebabkan karena mereka lebih berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran dan kurangnya alokasi waktu yang tersedia untuk melaksanakan penilaian keterampilan. Jumlah peserta didik yang harus dinilai dalam satu kali tatap muka di setiap kelas juga menjadi kendala dalam melakukan penilaian keterampilan peserta didik pada saat pembelajaran. Banyak diantara guru yang kurang percaya diri dalam melaksanakan penilaian keterampilan, terutama jika penilaian keterampilan itu dilakukan ketika siswa dalam kelompok.
f) Secara umum, pola pendampingan bagi guru-guru madrasah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 terutama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaiannya merupakan salah satu alternatif solusi yang selalu ditunggu- tunggu dan diharapkan. Pelaksanaan kegiatan DDTK pendampingan kurikulum 2013 dirasakan sangat membantu guru-guru dalam menjawab keraguan dan kesulitan guru dalam merancang dan melaksanakan penilaian autentik.
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
PENUTUP 1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1. Deskripsi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru-guru madrasah dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013, antara lain sebagai berikut:
a) Dalam merancang penilaian sikap: lebih dari 50% responden guru model menyatakan bahwa mereka belum mampu merancang teknik penilaian sikap, instrumen dan pedoman penskoran sesuai dengan indikator KD di KI-1 dan KI-2 dan/atau degree pada tujuan pembelajarannya.
b) Dalam merancang penilaian pengetahuan: lebih dari 85% responden guru model menyatakan bahwa mereka telah mampu merancang teknik penilaian, dan instrumen soalnya sesuai dengan indikator-indikator KD di KI-3, namun 82,36% diantaranya hanya merancang instrumen soal tanpa disertai dengan kunci jawaban dan pembahasan serta pedoman penskorannya, 88,24% tidak mencantumkan rencana tindak lanjut penilaian dalam bentuk program remidi dan pengayaan, dan tidak seorangpun dari guru model yang merancang soal High Order Thinking (HOT) untuk mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian masalah.
c) Dalam merancang penilaian keterampilan: lebih dari 50% responden guru model yang menyusun RPP mengalami kesulitan dalam merancang teknik penilaian keterampilan, menyusun instrumen dan rubrik penilaian yang sesuai dengan indikator KD di KI-4 termasuk pula kriteria aspek
yang dinilai pada teknik penilaian kinerja proses keterampilan peserta didik .
d) Dalam mengimplementasikan penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan: Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa implementasi kurikulum 2013 di kelas dalam bentuk pembelajaran, guru-guru masih fokus pada pelaksanaan kegiatan penilaian pengetahuan dan sebagian kecil saja dari mereka yang melakukan kegiatan penilaian sikap dan keterampilan. Hal ini terbukti dengan data hasil penelitian yaitu: 1) 81,8% guru-guru melakukan kegiatan penilaian pengetahuan; 2) 27,3% guru-guru melakukan kegiatan penilaian sikap; dan 3) 36,4% guru-guru melakukan kegiatan penilaian keterampilan selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Deskripsi solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013
a) Untuk meminimalisir kesulitan guru dalam melaksanakan penilaian sikap spiritual dan sikap sosial adalah guru hanya fokus melakukan penilaian sikap-sikap tertentu dalam satu kali tatap muka pembelajaran. Solusi ini dirasakan lebih realistis dapat dilaksanakan guru ketika melaksanakan penilaian sikap.
b) Pola pendampingan bagi guru- guru madrasah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 terutama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaiannya merupakan salah satu alternatif solusi yang selalu ditunggu-tunggu dan diharapkan. Pelaksanaan kegiatan DDTK pendampingan kurikulum 2013 dirasakan sangat membantu guru-guru dalam menjawab keraguan dan
p-ISSN 2548-1517
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…) 59
kesulitan guru dalam merancang dan melaksanakan penilaian autentik. 2. Rekomendasi
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyusun beberapa rekomendasi hasil penelitian antara lain sebagai berikut:
1) Bagi guru-guru madrasah: penelitian ini diharapkan menjadi salah satu referensi untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan penilaian autentik kurikulum 2013 dan alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian autentik kurikulum 2013.
2) Bagi Widyaiswara dan Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya: penelitian ini diharapkan menjadi salah satu acuan dalam penyusunan program kediklatan di tahun-tahun yang akan datang. Bahwa program-program kediklatan dalam bentuk pendampingan bagi guru-guru madrasah terutama
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaiannya merupakan salah satu program kediklatan yang selalu ditunggu-tunggu dan diharapkan untuk meminimalisir keraguan dan kesulitan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dan penilaian autentik.
3) Bagi Pemerintah atau Pengambil Kebijakan: penelitian ini diharapkan menjadi salah satu referensi dalam menyusun peraturan berkaitan dengan ketatalaksanaan di bidang pendidikan, sebab perubahan peraturan menteri berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013 khususnya standar proses dan standar penilaian membuat guru-guru menjadi semakin bingung dalam menyusun rencana pembelajaran dan penilaian serta pelaksanaannya di depan kelas.
4) Bagi Peneliti yang lain: hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi dalam melakukan penelitian pendidikan yang lain.
Lentera: Jurnal Diklat Keagamaan Padang Vol. 5, No. 1, Desember 2020
p-ISSN 2548-1517
60 Purnamawati (Analisis Kesulitan Guru…)
DAFTAR PUSTAKA De Porter, B., & Mike, H. (1992). Quantum Learning. Membiasakan Belajar Nyaman dan
Menyenangkan. (A. Abdurrahman, Penerj.) Bandung: Perbit Kaifa.
Horshit. (2014). Evaluation of Training and Development: An Analysis of Various Model. Journal of Bussiness and Management, 5(2), 16-17. doi:https://doi.org/10.9790/487X-0521622
Latifah, F. A., Samsudi, & Masrukan. (2014). Model Supervisi Akademik Kelompok Berbasis Think Talk Write Untuk Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Karya Tulis Ilmiah. Educational Management, 3(1). Diambil kembali dari https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eduman/article/view/4357
Marwan, A. (2017). Membangun Gerakan Literasi. Dipetik September 7, 2019, dari http://harian.analisadaily.com/opini/news/membangun- gerakanliterasi/339316/2017/04/11
Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. (2018). Dokumen II Kurikulum Diklat Teknis Substantif Pendidikan. Jakarta: Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan.
Sugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.