A. Judul : Pengaruh

Download A. Judul : Pengaruh

Post on 18-Jun-2015

554 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>1</p> <p>A. JUDUL : PENGARUH</p> <p>KESEHATAN</p> <p>MENTAL</p> <p>TERHADAP</p> <p>HUBUNGAN SOSIAL SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 TOROH KABUPATEN GROBOGAN</p> <p>B.</p> <p>Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan</p> <p>untuk membina anak-anak ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan di kemudian hari. Bagi remaja pendidikan jalur sekolah yang diikutinya adalah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Di mata remaja sekolah dipandang sebagai lembaga yang cukup berpengaruh terhadap terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka di kemudian hari. Proses pembelajaran siswa disekolah, sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang baik dan lingkungan yang harmonis, akan dapat meningkatkan minat dan semangat siswa dalam proses pembelajaran. Kondisi dan lingkungan sekolah yang harmonis akan dapat membentuk kualitas mental siswa yang baik pula. Agar dapat menimbulkan kondisi dan lingkungan sekolah yang baik dan harmonis maka harus tercipta suatu hubungan sosial yang baik disekolah. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terciptanya kondisi dan lingkungan yang baik dan harmonis di sekolah, namun pada penelitian ini lebih difokuskan pada keterkaitan antara hubungan sosial siswa</p> <p>1</p> <p>2</p> <p>dengankesehatan mental siswa. Siswa yang memiliki gangguan kesehatan mental tentunya akan berdampak pada hubungan sosial mereka di sekolah . untuk itu pada penelitian ini akan dilakukan penelitian pada SMP N 3 TOROH kelas VIII tahun ajaran 2009/2010 dalam mengukur keterkaitan antara kesehatan mental dengan hubungan sosial siswa. Dalam mempelajari kesehatan mental tak lepas dari pengetahuan kepribadian. Kenyataan di lapangan atau di lingkungan sekolah kurang terkontrol maka kepribadiannya juga agak berantakan. Pada umumnya siswa yang mengalami gangguan dalam kesehatan mental karena kondisi keluarga siswa tersebut kurang perhatian sehingga siswa gampang emosi, tidak konsentrasi dalam kegiatan belajar mengajar, dalam penampilan siswa urakan dan tidak rapi dalam berpakaian. Mental juga merupakan sisi kejiwaan mental berupa nonfisik. Seseorang yang memiliki gangguan mental, seperti yang dikemukakan Notosoedirdjo dan Latipun (2005: 8) dapat dikenali dengan memahami gejalanya sebagai contoh adalah pada orang yang menderita depresi, gangguan kecemasan, kepribadian dan sering emosi. Gangguan mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal yang juga dianggap sama dengan sakit mental, sakit jiwa, namun demikian kita menyadari bahwa gangguan mental itu diakui adanya di masyarakat. Sekolah merupakan masyarakat yang lebih besar dari keluarga. Sekolah bukan hanya sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga berusaha memberikan pendidikan sesuai dengan perkembangan, berusaha agar anak</p> <p>3</p> <p>didik mengembangkan potensinya secara puas dan senang serta mempunyai pribadi yang integral. Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa, namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa. Seperti yang dikemukakan Latipun (2002: 16) ilmu pendidikan mempelajari perubahan perilaku manusia secara lebih normatif selain mempelajari materi yang diberikan, juga strategi yang harus ditempuh agar perubahan perilaku itu lebih efektif. Ilmu pendidikan tentunya memberikan kontribusi bagi bidang kesehatan mental, khususnya dalam pengembangan intervensi-intervensi kepada masyarakat, prinsip-prinsip pendidikan</p> <p>dimanfaatkan untuk peningkatan kesehatan masyarakat. Notosoedirdjo dan Latipun (2005: 24) mendefinisikan kesehatan mental adalah: a) Sehat mental karena tidak mengalami gangguan mental, b) Sehat mental jika tidak sakit akibatnya adanya stressor, c) Sehat mental jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, d) Sehat mental karena tumbuh dan berkembang secara positif.</p> <p>4</p> <p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah penyesuaian manusia dalam hidupnya, dengan berperilaku secara wajar dan mampu beriteraksi dengan baik, dilingkungan sekolah, lingkungan keluarga , dan di lingkungan masyarakat . Notosoedirdjo dan Latipun mengemukakan (2005: 42) gangguan belajar meliputi: a) Gangguan belajar, b) Gangguan matematika, c) Gangguan mengekspresikan tulisan / menulis. Kunci pokok utama memperoleh ukuran dan data hubungan sosial siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (petunjuk adanya hubungan sosial tertentu) dikaitkan dengan jenis hubungan sosial yang hendak diungkapkan atau diukur. Bertitik tolak uraian singkat di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Hubungan Sosial Siswa Kelas VIII SMP N 3 Toroh Tahun Pelajaran 2009 / 2010. C. Identifikasi Masalah Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah dipaparkan pada awal tersebut, maka peneliti berusaha mengungkapkan masalah-masalah yang kemungkinan masih terjadi di lingkungan sekolah dan berkaitan dengan variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Masih banyak siswa yang mengalami hambatan</p> <p>dalam emosi dan perilaku 2. Masih banyak siswa yang kurang mampu</p> <p>berinteraksi dengan lingkungan bermain dikelasnya.</p> <p>5</p> <p>3. dengan temannya. D.</p> <p>Masih ada beberapa siswa yang enggan bergaul</p> <p>Pembatasan Masalah Karena keterbatasan waktu, biaya dan referensi yang dimiliki peneliti,</p> <p>maka dalam penelitian ini penulis batasi pada Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Hubungan Sosial Siswa Kelas VIII SMP N 3 Toroh Tahun Pelajaran 2009 / 2010. E. Perumusan Masalah Atas dasar identifikasi masalah di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Toroh? 2. 3. Bagaimana kondisi hubungan sosial siswa-siswi SMP N 3 Toroh? Adakah pengaruh antara kesehatan mental dengan hubungan Bagaimana kondisi kesehatan mental siswa-siswi SMP N 3</p> <p>sosial siswa-siswi SMP N 3 Toroh tahun ajaran 2009 / 2010. F. Tujuan Penelitian Atas dasar perumusan dan batasan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui kondisi kesehatan mental siswa-siswi SMP N 3 Toroh. 2. Untuk mengetahui kondisi Hubungan sosial siswa-siswi SMP N 3 Toroh. 3. Untuk mengetahui pengaruh antara kesehatan mental dengan hubungan sosial siswa SMP N 3 Toroh.</p> <p>6</p> <p>G. 1.</p> <p>Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat yang hendak diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan masukan kepada semua pihak ( sekolah, masyarakat, dan pemerintah) untuk lebih berperan serta secara aktif dalam membimbing dan membina generasi muda dalam rangka memajukan pendidikan bangsa dan negara. 2. a. Manfaat Praktis Bagi Guru Kelas</p> <p>Untuk memberi bekal dan menambah pemahaman pengetahuan dan wawasan guru kelas dalam berinteraksi dengan muridnya. b. Bagi Siswa</p> <p>Agar siswa dapat berinteraksi dengan lingkungan belajar dan mengajar, sesuai dengan potensi dan kemampuan yang ada. c. Bagi Peneliti</p> <p>Sebagai dasar pengembangan pengetahuan dan sebagai dasar berpijak penelitian lebih lanjut dan sebagai pembanding penelitian lain. H. LANDASAN TEORI</p> <p>1. Pengertian Kesehatan Mental Sehat menurut World Health Organization (WHO) seperti yang dituliskan Notosoedirdjo dan Latipun (2005 : 3) merupakan keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan atau cacat. Artinya, orang yang tidak sakit belum</p> <p>7</p> <p>tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan sempurna baik fisik, mental maupun social. Menurut Zakiyah Darajat (2001 : 4) kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala gejala penyakit jiwa (psychose). Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan masyarakat serta lingkungan pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk</p> <p>mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan gangguan dan penyakitpenyakit jiwa, terwujudnya keharmonisan yang sungguh sungguh antara fungsi fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem problem biasa yang terjadi dan merasakan kebahagiaan dan percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri. Banyak pengertian tentang kesehatan mental , menurut</p> <p>Notosoedirdjo dan Latipun (2005 : 33) sehat mental merupakan terbebasnya dari gangguan dan sakit mental. Pengertian lainnya lebih menekankan pada kemampuan individual dalam merespon lingkungan. Selain itu juga ada yang menekankan pada pertumbuhan dan perkembangan yang positif. Mental merupakan sisi kejiwaan manusia berupa non fisik. Seseorang yang memiliki gangguan mental, seperti yang Notosoedirdjo dan Latipun (2005 : 8) dapat dikenali dengan memahami gejalanya.</p> <p>8</p> <p>Sebagai contoh adalah pada orang yang menderita depresi, gangguan kecemasan, kepribadian dan sebagainya. Notosoedirdjo dan Latipun (2005 : 33) menekankan prinsip dasar dalam kesehatan mental, yaitu : (1)Kesehatan mental itu lebih dari tiadanya perilaku abnormal, (2) Kesehatan mental itu konsep yang ideal, dan (3) Kesehatan mental sebagai bagian dari karakteristik kualitas hidup. Gangguan mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal yang juga dianggap sama dengan sakit mental, dan sakit jiwa. Namun demikian kita menyadari bahwa gangguan mental itu diakui adanya di masyarakat. Sama halnya dengan yang terjadi pada gangguan fisik, gangguan mental ini pada dasarnya juga terdapat di semua masyarakat. Allport, dan Duane Schultz (1991 : 19) mental juga terdapat dalam kepribadian kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma trauma dan konflik masa kanak kanak. Orang orang yang neurotis terikat atau, terjalin erat pada pengalaman pengalaman masa kanak kanak, tetapi orang yang sehat bebas dari paksaan masa lampau. Sehat mengandung pengertian keadaan secara biopsikosisal, lebih dari sekedar terbatas dari penyakit/kecacatan. Sedangkan sakit juga mengandung makna biopsikosisal. Yang meliputi konsep disease (berdimensi sosiologis). Di samping itu factor subyektif dan kultural juga menentukan konsep sehat dan sakit Latipun dan Moeljono (2005 : 11). Federasi kesehatan mental dunia (World Federation for Mentall Health) pada saat kongres kesehatan mental di London, 1984 merumuskan</p> <p>9</p> <p>pengertian kesehatan sebagai berikut : a) Kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional, sepanjang hal ini sesuai dengan keadaan orang lain, dan b) Sebuah masyarakat yang baik adalah masyarakat yang memperoleh perkembangan ini pada anggota masyarakat selain pada saat yang sama menjamin dirinya berkembang dan toleran terhadap masyarakat yang lain (Latipun dan Moeljono, 2005 : 26). Sedangkan menurut Gladstone (1994 : 8) kesehatan mental adalah kemampuan seseorang untuk dapat memperkembangkan dirinya sesuai tuntutan realitas sekitarnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah suatu kondisi dari seseorang maupun kelompok baik secara fisik atau jiwa dalam mengembangkan dan memanfaatkan fungsi dan potensi diri terhadap diri sendiri masyarakat maupun lingkungan. 2. Ciri ciri Mental yang Sehat Berkenaan dengan pribadi yang normal dan mental yang sehat, Kartono dalam Yusak Burhanudin (1993 : 13), yaitu a) Memiliki rasa aman (sense of security) yang tepat, mampu berhubungan dengan orang lain dalam bidang kerja, pergaulan dan dalam lingkungan keluarga, b) Memiliki penilaian (self evaluation) dan wawasan diri yang rasional dengan harga diri yang tidak berlebihan, memiliki kesehatan secara moral dan tidak dihinggapi rasa bersalah, selain itu juga dapat menilai perilaku orang lain yang asosial dan tidak manusiawi sebagai gejala perilaku yang</p> <p>10</p> <p>menyimpang, c) Mempunyai spontanitas dan emosional yang tepat dan mampu menjalin relasi yang erat, kuat dan lama seperti sebuah persahabatan, komunikasi sosial dan menguasai diri sendiri, d) Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien, tanda ada fantasi angan dan angan angan yang berlebihan. Pandangan hidupnya realitas dan cukup luas. Sanggup menerima segala cobaan hidup, kejutan kejutan mental, serta nasib buruk lainnya dengan besar hati. Memiliki kontak yang riil dan efisien dengan diri sendiri, dan mudah melakukan adaptasi atau mengasimilasikan diri jika lingkungan sosial atau dunia luar memang tidak bisa diubah oleh dirinya, e) Memiliki dorongan dan nafsu nafsu jasmaniah yang sehat dan mampu memuaskannya dengan cara yang sehat. Namun tidak diperbudak oleh nafsunya sendiri, f) Mempunyai pengetahuan yang cukup dengan memiliki motif hidup yang sehat dan keadaan tinggi. Dapat membatasi ambisi ambisi dalam batas kenormalan. Juga patuh terhadap pantangan pantangan pribadi dan yang bersifat sosial, g) Memiliki tujuan hidup yang tepat, sehingga dapat dicapai dengan kemampuan sendiri serta memiliki keuletan dalam mengejar tujuan hidupnya agar bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat pada umumnya, h) Memiliki kemampuan belajar dari pengalaman hidup dalam mengolah dan menerima pengalamannya dengan sikap yang dihadapi untuk mencapai kesuksesan, i) Memiliki kesanggupan untuk mengekang tuntutan tuntutan dan kebutuhan kebutuhan hidup dari kelompok, dan j) Memiliki emansipasi yang sehat terhadap kelompok</p> <p>11</p> <p>dan kebudayaan bangsanya dan terhadap perubahan perubahan jasmani dan rohaniah. 3. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental a.Otonomi fungsional Otonomi fungsional adalah pengalaman kenyataan yang sangat mencekam jiwa, punya arti dinamis yang sangat besar dan menjadi kekuatan otonom, yang pada akhirnya secara fungsional menjadi terlepas dari pengalaman pengalaman hidup sebelumnya. Pada peristiwa otonomi fungsional terjadi satu trauma trauma atau kejadian traumatis adalah luka jiwa yang dialami seseorang, disebabkan oleh suatu pengalaman yang sangat menyedihakn atau melukai jiwanya. Sehingga karena pengalaman tersebut hidupnya sejak saat kejadian itu berubah secara radikal yaitu : mendapatkan satu insight baru, serta mengalami proses pendidikan atau makin menurunnya niveau kehidupan. Contoh seorang yang mengalami proses kenaikan atau menurunnya niveau kehidupan = seorang siswa yang mempunyai keterlambatan berhitung setelah siswa tersebut berusaha atau belajar di rumah dan dia memasuki les berhitung jadi siswa mengalami penaikan niveau kehidupan. b. Pertumbuhan bentuk pemuasan kebutuhan Cara pemenuhan kebutuhan itu ditampilkan dalam bentuk bentuk kebiasaan dan perbuatan perbuatan otomatis, yang diberi model atau pola oleh kebudayaan seseorang, lambat laun akan timbu...</p>

Recommended

View more >