98966236 referat demensia vaskuler

12
BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN DEMENSIA VASKULAR Disusun oleh: Ammar Abdurrahman Hasyim C111 08 302 Pembimbing: dr. Hamrullah Supervisor: dr. Audry Devy Wuysang, M.Si., Sp.S. BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

Upload: denny-selendra

Post on 19-Feb-2018

221 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 1/12

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

DEMENSIA VASKULAR

Disusun oleh:

Ammar Abdurrahman Hasyim C111 08 302

Pembimbing:

dr. Hamrullah

Supervisor:

dr. Audry Devy Wuysang, M.Si., Sp.S.

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

Page 2: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 2/12

I. PENDAHULUAN

Demensia merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada orang-orang

dengan usia lanjut. Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual

secara progresif yang menyebabkan kemunduran kognitif dan fungsional, sehingga

mengakibatkan gangguan fungsi sosial pekerjaan, dan aktivitas harian. Demensia vaskuler

merupakan suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindroma demensia

akibat iskemik, perdarahan, anoksik atau hipoksik otak dengan penurunan fungsi kognitif

mulai dari yang ringan sampai paling berat dan tidak harus dengan gangguan memori yang

menonjol.(4)

 

Demensia vaskular terdiri dari tiga subtipe yaitu :

1. Demensia vaskular pasca stroke yang mencakup demensia akibat infark lokal, demensia

multi-infark, dan stroke akibat perdarahan. Biasanya mempunyai korelasi waktu yang jelas

antara stroke dengan terjadinya demensia.

2. Demensia vaskular subkortikal, yang meliputi infark lakuner dan penyakit Binswanger

dengan kejadian Transient Ischemic Attack (TIA) atau stroke yang sering tidak terdeteksi

namun memiliki faktor resiko vaskular.

3. Demensia tipe campuran, yaitu demensia dengan patologi vaskuler dalam kombinasi

dengan demensia Alzheimer (AD).

Tipe demensia yang paling sering selain akibat penyakit Alzheimer adalah demensia

vaskular, yaitu demensia yang secara kausatif berhubungan dengan penyakit

serebrovaskular. Demensia vaskular berjumlah 15-30 persen dari semua kasus demensia.

Demensia vaskular paling sering ditemukan pada orang yang berusia antara 60-70 tahun dan

lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita. Hipertensi merupakan predisposisi

seseorang terhadap penyakit ini.(1,2,3,4,6)

 

Adapun pembagian demensia vaskular secara klinis adalah sebagai berikut :

1. Demensia vaskular pasca stroke

Untuk demensia karena adanya infark tertentu akan ditemukan lesi pada girus angularis,

thalamus, basal forebrain, daerah sekitar arteri serebri posterior, dan arteri serebri anterior.

Sedangkan untuk Multiple Infark Dementia (MID) akan didapatkan adanya perdarahan

intraserebral.

2. Demensia vaskular subkortikal

Page 3: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 3/12

Terdapat lesi iskemik pada substansia alba, infark lakuner subkortikal, infark non-lakuner

subkortikal.

3. Demensia vaskular tipe campuran penyakit Alzheimer dan penyakit serebrovaskular

II. ETIOLOGI

Penyebab demensia yang paling sering adalah penyakit Alzheimer, stroke, dan

 berbagai penyakit yang menyebabkan gangguan serebrovaskular. Penyebab timbulnya

 penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik karena penyakit

ini ditemukan banyak disebabkan atau dipengaruhi oleh beberapa kelainan gen tertentu. Pada

serangan stroke yang berturut-turut atau berulang akan menimbulkan demensia. Demensia

 juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau cardiac arrest. Penyebab lain

dari demensia adalah penyakit pick, parkinson, dan AIDS.(5)

 

Demensia vaskular diakibatkan oleh adanya penyakit pembuluh darah serebral.

Adanya infark tunggal di lokasi tertentu, episode hipotensi, leukoaraiosis, infark komplit,

dan perdarahan juga dapat menyebabkan timbulnya kelainan kognitif. Sindrom demensia

yang terjadi pada demensia vaskular merupakan konsekuensi dari lesi hipoksia, iskemia, atau

adanya perdarahan di otak.(6)

Studi tentang penyebab kematian pada pasien dengan demensia menunjukkan bahwa

gangguan sistem peredaran darah (misalnya, penyakit jantung iskemik) adalah penyebab

langsung kematian paling umum pada demensia vaskular, diikuti oleh penyakit sistem

 pernapasan (misalnya, pneumonia). Prevalensi demensia vaskular terjadi lebih tinggi pada

 pria dibandingkan pada wanita dan insidensi meningkat dengan usia.(3)

III. EPIDEMIOLOGI

Di negara-negara barat, demensia vaskular menduduki urutan kedua terbanyak

setelah penyakit Alzheimer. Tetapi karena demensia vaskular merupakan tipe demensia yang

terbanyak pada beberapa negara Asia dengan populasi penduduk yang besar maka demensia

vaskular merupakan tipe demensia yang terbanyak di dunia.

Prevalensi demensia vaskular bervariasi antar negara, tetapi prevalensi terbesar

ditemukan di negara-negara maju. Tingkat prevalensi demensia adalah 9 kali lebih tinggi

 pada pasien yang telah mengalami stroke. Satu tahun setelah stroke, 25% pasien masuk

Page 4: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 4/12

dengan onset baru dari demensia.(4) Di Kanada, insiden rate pada usia ≥ 65 tahun besarnya

2,52 per 1000 penduduk, sedangkan di Jepang prevalensi demensia vaskular besarnya

4,8%.(1,5)

The European Community Concerted Action on Epidemiology and Prevention of

 Dementia mendapatkan prevalensi berkisar dari 1,5/100 wanita usia 75-79 tahun di Inggris

hingga 16,3/100 laki-laki usia di atas 80 tahun di Italia.(6) 

Demensia vaskular merupakan demensia yang dapat dicegah sehingga mempunyai

 peranan yang besar dalam menurunkan angka kejadian demensia dan perbaikan kualitas

hidup orang-orang dengan usia lanjut.(2)

IV. FAKTOR RESIKO

Prevalensi demensia vaskular akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya

usia seseorang, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki. Sebuah penelitian di Swedia

menunjukkan resiko terjadinya demensia vaskular pada laki-laki sebesar 34,5% dan

 perempuan sebesar 19,4%.(1,4,7,18-21)

Selain itu, faktor yang harus ditelusuri adalah riwayat penyakit terdahulu. Dari

 penelitian penderita stroke didapatkan prevalensi demensia yang cukup tinggi. Dari evaluasi

252 penderita yang 3 bulan sebelumnya menderita stroke, didapatkan hasil bahwa 26,3%

dari mereka menderita demensia. Angka ini cukup signifikan karena sangat jauh dari

kelompok pembanding (kontrol) yaitu 3,2%. Pada pasien-pasien dengan Transient Ischemic Attack (TIA) didapatkan 23,5% menderita demensia, 23,5% menderita demensia borderline,

dan 53% tidak ditemukan gejala demensia.(22)

V. PATOGENESIS

Demensia vaskular, atau gangguan kognitif vaskular, adalah hasil akhir dari

kerusakan otak yang disebabkan oleh penyakit serebrovaskular. Adanya infark multiple,

infark lakunar, infark tunggal di daerah tertentu pada otak, sindrom Binswanger, angiopati

amiloid serebral, hipoperfusi, perdarahan, dan berbagai mekanisme lain menjadi patogenesis

timbulnya demensia vaskular.

1. Infark Multiple

Demensia multi infark merupakan akibat dari infark multipel dan bilateral.

Terdapat riwayat satu atau beberapa kali serangan stroke dengan gejala fokal seperti

Page 5: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 5/12

hemiparesis/hemiplegi, afasia, hemianopsia. Pseudobulbar palsy sering disertai disartria,

gangguan berjalan (small step gait), forced laughing/crying, refleks Babinski dan

inkontinensia. Computed tomography imaging (CT scan) otak menunjukkan hipodensitas

 bilateral disertai atrofi kortikal, kadang-kadang disertai dilatasi ventrikel.(6,7)

 

2. Infark Lakunar

Lakunar adalah infark kecil, diameter 2-15 mm, disebabkan kelainan pada  small

 penetrating arteries  di daerah diencephalon, batang otak dan sub kortikal akibat dari

hipertensi. Pada sepertiga kasus, infark lakunar bersifat asimptomatik. Apabila menimbulkan

gejala, dapat terjadi gangguan sensorik, transient ischaemic attackhemiparesis atau ataksia.

Bila jumlah lakunar bertambah maka akan timbul sindrom demensia, sering disertai

 pseudobulbar palsy. Pada derajat yang berat terjadi lacunar state. CT scan otak menunjukkan

hipodensitas multipel dengan ukuran kecil, dapat juga tidak tampak pada CT scan otak

karena ukurannya yang kecil atau terletak di daerah batang otak.  Magnetic resonance

imaging   (MRI) otak merupakan pemeriksaan penunjang yang lebih akurat untuk

menunjukkan adanya lakunar terutama di daerah batang otak (pons).(6,7,13)

 

3. Infark Tunggal di Daerah Strategis

Strategic single infarct dementia merupakan akibat lesi iskemik pada daerah kortikal

atau subkortikal yang mempunyai fungsi penting. Infark girus angularis menimbulkan gejala

afasia sensorik, aleksia, agrafia, gangguan memori, disorientasi spasial dan gangguan

konstruksi. Infark daerah distribusi arteri serebri posterior menimbulkan gejala amnesia

disertai agitasi, halusinasi visual, gangguan visual dan kebingungan. Infark daerah distribusi

arteri serebri anterior menimbulkan abulia, afasia motorik dan apraksia. Infark lobus

 parietalis menimbulkan gangguan kognitif dan tingkah laku yang disebabkan gangguan

 persepsi spasial. Infark pada daerah distribusi arteri paramedian thalamus menghasilkan

thalamic dementia.(6,7,13)

 

4. Sindrom Binswanger

Sindrom Binswanger menunjukkan demensia progresif dengan riwayat stroke,

hipertensi dan kadang-kadang diabetes melitus. Sering disertai gejala  pseudobulbar palsy,

kelainan piramidal, gangguan berjalan (gait) dan inkontinensia. Terdapat atrofi white matter ,

 pembesaran ventrikel dengan korteks serebral yang normal. Faktor risikonya adalah  small

Page 6: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 6/12

artery diseases  (hipertensi, angiopati amiloid), kegagalan autoregulasi aliran darah di otak

 pada usia lanjut, hipoperfusi periventrikel karena kegagalan jantung, aritmia dan

hipotensi.(6,7,13-15)

5. Angiopati Amiloid Serebral

Terdapat penimbunan amiloid pada tunika  media dan adventisia arteriola serebral. 

Insidensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Kadang-kadang terjadi demensia dengan

onset mendadak.(6,7)

 

6. Hipoperfusi

Demensia dapat terjadi akibat iskemia otak global karena henti jantung, hipotensi

 berat, hipoperfusi dengan/tanpa gejala oklusi karotis, kegagalan autoregulasi arteri serebral,

kegagalan fungsi pernafasan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan lesi vaskular di otak

yang multipel terutama di daerah white matter.(6,7)

 

7. Perdarahan

Demensia dapat terjadi karena lesi perdarahan seperti hematoma subdural kronik,

gejala sisa dari perdarahan sub arachnoid dan hematoma serebral. Hematoma multipel

 berhubungan dengan angiopati amiloid serebral idiopatik atau herediter.

8. Mekanisme LainMekanisme lain dapat mengakibatkan demensia termasuk kelainan pembuluh darah

inflamasi atau non inflamasi (poliartritis nodosa, limfomatoid granulomatosis, giant-cell

arteritis,

dan sebagainya).

VII. MANIFESTASI KLINIK  

Serangan demensia vaskular terjadi secara mendadak, dengan didahului oleh 

Transient Ischemic Attack (TIA) atau stroke, risiko terjadinya demensia vaskular 9 kali pada

tahun pertama setelah serangan dan semakin menurun menjadi 2 kali selama 25 tahun

kemudian. Adanya riwayat dari faktor risiko penyakit sebero vaskular harus disadari tentang

kemungkinan terjadinya demensia vaskular.(16)

 

Page 7: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 7/12

Gambaran klinik penderita demensia vaskular menunjukkan kombinasi dari gejala

fokal neurologik, kelainan neuropsikologik dan gejala neuropsikiatrik. Gejala fokal

neurologik dapat berupa gangguan motorik, gangguan sensorik, dan hemianopsia. Kelainan

neuropsikologik berupa gangguan memori disertai dua atau lebih kelainan kognitif lain

seperti atensi, bahasa, visuospasial dan fungsi eksekutif.

Gejala neuropsikiatrik sering terjadi pada demensia vaskular, dapat berupa perubahan

kepribadian (paling sering), depresi, mood labil, delusion, apati, abulia, tidak adanya

spontanitas. Depresi berat terjadi pada 25-50% pasien dan lebih dari 60% mengalami

sindrom depresi dengan gejala paling sering yaitu kesedihan, ansietas, retardasi psikomotor

atau keluhan somatik. Psikosis dengan ide-ide seperti waham terjadi pada ± 50%, termasuk

 pikiran curiga, sindrom Capgras. Waham paling sering terjadi pada lesi yang melibatkan

struktur temporoparietal.(17) 

VII. DIAGNOSIS

A. Kriteria Diagnostik

Diagnosis demensia vaskular ditegakkan melalui dua tahap, pertama menegakkan

diagnosis demensia itu sendiri, kedua mencari proses vaskular yang mendasari.(7)

 Terdapat

 beberapa kriteria diagnostik untuk menegakkan diagnosis demensia vaskular, yaitu:(5,12)

 

1.  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder  edisi ke empat (DSM-IV)

2. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III)

3.  International Classification of Diseases (ICD-10)

4. The state of California Alzheimer’  s Disease Diagnostic and Treatment Centers 

(ADDTC)

5.  National Institute of Neurological Disorders and Stroke and the Association

 Internationale pour la Recherche E t l’ enseignement en Neurosciences  (NINDS-

AIREN)

Diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV adalah menggunakan kriteria sebagai

 berikut.

a) Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan satu atau

lebih dari gangguan kognitif berikut ini:

Page 8: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 8/12

  1) Afasia (gangguan berbahasa)

2) Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas motorik, sementara

fungsi mototik normal).

3) Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda walaupun fungsi

sensoriknya normal).

4) Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan, daya abstraksi,

dan membuat urutan).

 b) Defisit kognitif pada kriteria a) yang menyebabkan gangguan fungsi sosial dan

okupasional yang jelas.

c) Tanda dan gejala neurologik fokal (refleks fisiologik meningkat, refleks patologik

 positif, paralisis pseudobulbar, gangguan langkah, kelumpuhan anggota gerak) atau

 bukti laboratorium dan radiologik yang membuktikan adanya gangguan peredaran darah

otak (GPOD), seperti infark multipleks yang melibatkan korteks dan subkorteks, yang

dapat menjelaskan kaitannya dengan munculnya gangguan.

d) Defisit yang ada tidak terjadi selama berlangsungnya delirium.

Dengan menggunakan kriteria diagnostik yang berbeda didapatkan prevalensi

demensia vaskular yang berbeda, dimana prevalensi tertinggi didapatkan bila menggunakan

kriteria DSM-IV dan terendah bila menggunakan kriteria NINDS-AIREN. Consortium of

Canadian Centers for Clinical Cognitive Research menyatakan bahwa tidak ada kriteria

diagnostik yang lebih baik dari berbagai kriteria yang ada.(12)

  DSM-IV mempunyai

sensitivitas yang tinggi tetapi spesifitasnya rendah. ADDTC penggunaanya lebih terbatas

 pada demensia vaskular jenis iskemik sedangkan NINDS-AIREN dapat digunakan untuk

semua mekanisme demensia vaskular (hipoksia, iskemik, atau perdarahan). Kriteria ADDTC

dan NINDS-AIREN mempunyai tiga tingkat kepastian ( probable, possible, definite),

memerlukan hubungan waktu antara stroke dan demensia serta bukti morfologi adanya

stroke.

B. Identifikasi Demensia Vaskular

Mengidentifikasi demensia vaskular tidak selalu mudah.  Looi et al.(2)

mendapatkan

 bahwa pasien demensia vaskular relatif memiliki memori verbal jangka panjang yang lebih

 baik tetapi fungsi eksekutif lobus frontal lebih buruk dibandingkan pasien dengan demensia

Page 9: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 9/12

Alzheimer. Dapat pula digunakan sistem skor misalnya skor iskemik Hachinski dan  skor

demensia oleh Loeb dan Gondolfo.(3)

  Diakui bahwa sistem skor ini belum memadai,

kemungkinan terjadinya kesalahan masih ada dan cara ini tidak dapat menentukan adanya

demensia campuran (vaskular dan Alzheimer).(3)

 

Skor Iskemik Hachinski Skor

Permulaan mendadak 2

Progresifnya bertahap 1

Perjalanan berfluktuasi 2

Malam hari bengong atau kacau 1

Kepribadian terpelihara 1

Depresi 1

Keluhan somatik 1

Inkontinesia emosional 1

Riwayat hipertensi 1

Riwayat stroke 2

Ada bukti aterosklerosis 1

Keluhan neurologik fokal 2

Tanda neurologik fokal 2

Penderita dengan DVa atau demensia multi infark mempunyai skor lebih dari 7,

sedang yang skornya kurang dari 4 mungkin menderita Alzheimer.

Skor Demensia oleh Loeb dan Gondolfo Skor

Mulanya mendadak 2

Permulaannya dengan riwayat stroke 1

Gejala fokal neurologik 2

Keluhan fokal 2

CT scan terdapat:

- Daerah hipodens tunggal

- Daerah hipodens multiple

2

3

Page 10: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 10/12

 

Bila skornya 0  –   2, kemungkinan menderita demensia karena penyakit Alzheimer,

 bila skornya 5 –  10 maka kemungkinan menderita demensia vaskular.

C. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan penunjang dilakukan untuk mendapatkan data yang dapat memberi nilai

tambah dalam menunjang diagnosis.

1. Pencitraan

Dengan adanya fasilitas pemeriksaan CT scan kepala atau MRI dapat dipastikan

adanya perdarahan atau infark (tunggal atau multipel) yang besar serta lokasinya. Juga dapat

disingkirkan kemungkinan gangguan struktur lain yang dapat memberikan gambaran mirip

dengan demensia vaskular, misalnya metastasis dari neoplasma.

Adapun gambaran yang didapatkan dari pemeriksaan CT scan dan MRI adalah sebagai

 berikut:

a. Tidak adanya lesi serebrovaskular pada CT scan atau MRI adalah bukti terhadap etiologi

vaskular.

 b. Gambaran CT scan atau MRI yang mendukung demensia vaskular adalah infark multiple

 bilateral yang terletak pada hemisfer yang dominan dan struktur limbik,  stroke lacunar

multipel  atau adanya lesi periventricula yang meluas sampai ke daerah substansia alba.

c. Pasien dengan mild cognitive impairment   (MCI) vaskular, yang merupakan stadium

 prodromal untuk demensia vaskular subkorteks, memiliki gambaran MRI yang berbeda

dari pasien dengan MCI amnestik, sebagai tahap prodromal untuk penyakit Alzheimer.

MCI vaskular menunjukkan lesi infark lacunar yang lebih luas, adanya leukoaraiosis,

atrofi yang minimal pada hippocampal dan  entorhinal cortikal , sedangkan untuk MCI

amnestik menunjukkan keadaan yang sebaliknya.

Menurut studi tahun 2000 oleh Nagata et al,(18)

  positron emission tomography (PET)

dapat digunakan untuk membedakan demensia vaskular dengan penyakit Alzheimer. Pada

 pasien dengan demensia vaskular terjadi hipoperfusi dan hipometabolisme pada lobus

frontal, sedangkan pada penyakit Alzheimer dapat ditemukan adanya hipoperfusi dan

hipometabolisme tanda parietotemporal.

Page 11: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 11/12

2. Laboratorium

Digunakan untuk menentukan penyebab atau faktor resiko yang mengakibatkan

timbulnya stroke dan demensia. Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan untuk

menyingkirkan diagnosis selain demensia. Pemeriksaan darah tepi, laju endap darah (LED),

kadar glukosa, glycosylated  Hb, tes serologi untuk sifilis, HIV, kolesterol, trigliserida, fungsi

tiroid, profil koagulasi, kadar asam urat, lupus antikoagulan, antibodi antikardiolipin dan

 pemeriksaan lain yang dianggap perlu.

3. Pemeriksaan Lainnya

Pemeriksaan yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi untuk kasus demensia

vaskular adalah echocardiography, pemeriksaan Doppler, potensial cetusan, arteriografi, dan

EEG.

VIII. PENATALAKSANAAN

Terapi untuk demensia vaskular ditujukan kepada penyebabnya, mengendalikan

faktor risiko (pencegahan sekunder) serta terapi untuk gejala neuropsikiatrik dengan

memperhatikan interaksi obat. Selain itu diperlukan terapi multimodalitas sesuai gangguan

kognitif dan gejala perilakunya.(1)

Banyak obat sudah diteliti untuk mengobati demensia vaskular, tetapi belum banyak

yang berhasil dan tidak satupun obat dapat direkomendasikan secara postif. Vasodilator

seperti hidergine mempunyai efek yang postif dan pemberian secara oral active

haemorheological agent seperti pentoxiylline mampu memperbaik fungsi kognitif penderita.

Pemberian acetylcholineesretarse inhibito seperti donepezil, rivastigmine and galantiamin

mampu meperbaiki fungsi kognitif penderita. Akhir-akhir ini sedang diteliti memantine

untuk pengobatan demensia vaskular. Efektifitas dari memantine terhadap demensia vaskuler

diteliti menggunakan rancangan randomised, double-blind, placebo controlled yang

mengikut sertakan 321 penderita di Perancis dan 579 penderita di Inggris. Hasil penelitianmenunjukkan perbaikan fungsi kognitif yang bermakna pada kelompok yang diberikan

memantine.(1,23)

 

Penelitian di Inggris yang meliputi 54 pusat studi melakukan penelitian untuk menilai

efektifitas dan keamanan dari memantine terhadap penderita demensia vaskular ringan dan

sedang. Rancangan penelitian double-blind, parallel, randomised menggunakan kontrol

Page 12: 98966236 Referat Demensia Vaskuler

7/23/2019 98966236 Referat Demensia Vaskuler

http://slidepdf.com/reader/full/98966236-referat-demensia-vaskuler 12/12

mengikut sertakan 579 penderita. Dosis memantine sebesar 20 mg diberikan setiap hari

selama 28 minggu. Hasil penelitian menunjukkan penderita yang diberikan memantine

menunjukkan perbaikan fungsi kognitif. Efek samping yang ditemukan adalah pusing dan

menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok pelakuan.

Ternyata memantine aman dan dapat diterima oleh penderita.(24,25)

 

IX. PENCEGAHAN

Demensia vaskular dapat dicegah dengan mengatasi penyakit yang merupakan faktor

resiko. Menurut Sachdev,  ada beberapa strategi pencegahan demensia vaskular yang dapat

dilakukan sebagai berikut:

1. Obati hipertensi secara optimal

2. Obati diabetes mellitus

3. Tanggulangi hiperlipidemia

4. Anjurkan pasien untuk berhenti merokok dan batasi alkohol

5. Beri antikoagulan bila ada atrial fibrilasi

6. Beri terapi antiagregasi trombosit pada yang beresiko tinggi

7. Lakukan carotid endarterectomy pada stenosis yang berat (>70%)

8. Gunakan diet untuk mengontrol diabetes, obesitas, dan hiperlipidemia

9. Anjurkan mengubah gaya hidup (misalnya: mengurangi kegemukan, olahraga,

mengurangi stres, dan mengurangi konsumsi garam)

10. Intervensi dini pada stroke dan TIA dengan obat neuroprotektif (misalnya:

 propentofylline, calcium antagonist, N-methyl-D-aspartate receptor antagonists,

antioxidants)

11. Sediakan rehabilitasi intensif setelah stroke