lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-s-adina dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

138
UNIVERSITAS INDONESIA BUDAYA POPULER SEBAGAI ALAT DIPLOMASI PUBLIK: ANALISA PERAN KOREAN WAVE DALAM DIPLOMASI PUBLIK KOREA PERIODE 2005-2010 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial pada Program Studi Hubungan Internasional ADINA DWIREZANTI 0706291155 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL DEPOK JANUARI 2012 Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Upload: vuongquynh

Post on 19-Apr-2019

230 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

Page 1: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

 

UNIVERSITAS INDONESIA

BUDAYA POPULER SEBAGAI ALAT DIPLOMASI PUBLIK: ANALISA PERAN KOREAN WAVE DALAM DIPLOMASI PUBLIK

KOREA PERIODE 2005-2010

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial pada Program Studi Hubungan Internasional

ADINA DWIREZANTI 0706291155

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

DEPOK JANUARI 2012

 

 

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 2: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

 

UNIVERSITAS INDONESIA

BUDAYA POPULER SEBAGAI ALAT DIPLOMASI PUBLIK: ANALISA PERAN KOREAN WAVE DALAM DIPLOMASI PUBLIK

KOREA PERIODE 2005-2010

SKRIPSI

ADINA DWIREZANTI 0706291155

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

DEPOK JANUARI 2012

 

 

 

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 3: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 4: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 5: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

iii

KATA PENGANTAR

Budaya popular saat ini telah menjadi sebuah fenomena baru dalam

hubungan intermasional. Fenomena ini telah menjadi sebuah fenomena yang

lintas batas dan keberadaannya sangatlah berhasil menarik perhatian masyarakat

internasional. Hal ini menjadi menarik minat dan memberikan inspirasi kepada

penulis untuk melalukan penelitian mengenai budaya popular ini, terutama

keberadaan budaya popular Korea atau yang dikenal dengan Korean Wave.

Korean Wave ini telah menjadi alat dalam aktivitas diplomasi publik yang

dilakukan oleh Korea sebagai cara Korea untuk berkomunikasi dengan

masyarakat internasional. Hal ini menunjukkan sebuah trend baru dan revolusi

baru dalam diplomasi publik. Dan hal inilah yang akan menjadi pembahasan

penulis dalam penelitian ini.

Korean Wave yang merupakan sebuah fenomena budaya popular ini

menjadi sebuah fenomena yang telah memberikan efek positif terhadap Korea.

Hal ini pun terus berlanjut dengan menjadikan Korean Wave sebagai bagian

dalam diplomasi publiknya. Hal inilah yang akhirnya menjadi minat penulis,

karena menilai penggunaan sebuah budaya popular sebagai alat dalam sebuah

diplomasi masih merupakan hal yang baru dan tidak umum untuk digunakan oleh

suatu negara. Oleh karena itu, penulis pun pada akhirnya memutuskan untuk

mengangkat topik tersebut sebagai topik dalam penelitian ini. Penulis melalui

penelitian ini, mencoba untuk membahas peran Korean Wave dalam diplomasi

publik Korea yang dilakukan melalui aktivitas pariwisata dan juga pertukaran

budaya periode 2005-2010.

Penulis berharap bahwa penelitian dalam skripsi dapat menjadi hal yang

bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Hubungan Internasional. Akan tetapi,

penulis pun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan, dan masih

terlalu jauh dari sebuah kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan

saran dan kritik dari pembaca untuk lebih memperkaya skripsi ini.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 6: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

iv

Depok, 12 Januari 2011

Adina Dwirezanti

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 7: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

v

UCAPAN TERIMAKASIH

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji Syukur diucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sampai dengan selesai. Penulis

berharap agar skripsi ini dapat menjadi bahan masukan dan penambah wawasan

bagi semua pihak, serta menjadi salah satu sudut pandang ilmiah mengenai isu

terkait, terutama untuk pihak-pihak yang akan melanjutkan penelitian serupa.

Penulis pun menyadari bahwa skripsi ini bukanlah sebuah skripsi yang sempurna.

Akan tetapi, penyelesaian skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan, saran,

bimbingan, dan ilmu dari berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini saya

ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada:  

1. Bantarto Bandoro, MA. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran di tengah kesibukannya

untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Terima

kasih atas kesabarannya dalam membimbing penulis secara perlahan-

perlahan agar terselesaikannya skripsi ini.

2. Andi Widjajanto, MA selaku Ketua Sidang dan Ketua Program S1

Departemen Ilmu Hubungan Internasional

3. Dosen-dosen HI, terutama dalam dosen-dosen dalam kluster Masyarakat

Transnasional yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada

penulis dan memperkaya pengetahuan penulis mengenai berbagai macam

isu dalam masyarakat trasnnasional.

4. Kedua orang tua penulis, Didik A. Gunawan dan F.A.Widyowati atas

kesabaran yang teramat sangat dalam mendidik dan membesarkan penulis.

Selalu tidak pernah lelah dan bosan mengingatkan penulis dan berupaya

untuk selalu mendukung segala kegiatan dan aktivitas penulis dimanapun

dan kapanpun. Skripsi ini pun tidak akan dapat selesai tanpa dukungan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 8: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

vi

dari orangtua penulis yang selalu ada memberikan penulis penerangan.

Terima kasih papa dan mama skripsi ini aku persembahkan untuk kalian.

5. Kakak dan adik penulis, Praditya Putra Nugraha dan A. Hayesega

Widiawan. Terima kasih untuk selalu menjadi teman bagi penulis selama

ini. Kalian merupakan the best brothers in the world!!!. Terima kasih

untuk selalu mendengarkan keluh kesah, omelan penulis dan bermain

bersama penulis.

6. Teman-teman SMA penulis, terutama kepada Ain, Jumie, Ay, Ayu dan

Atha sebagai teman-teman penulis yang selalu menghibur dan membuat

tertawa penulis di setiap pertemuan arisan. Terima kasih juga untuk

dukungannya untuk selalu membuat penulis sabar dalam menyelesaikan

skripsi ini.

7. Kepada teman-teman delegasi Indonesia di Ajou University periode Fall

2010, April, Tami, Ester, Kiki, dan Vanya. Segala pengalaman yang

penulis dapat bersama kalian merupakan hal-hal yang berarti dan tidak

tergantikan. Terutama untuk my lovely roomate April. Kamu mengajarkan

aku banyak hal selama kita di Korea, terimakasih untuk ilmu mengenai

kedewasaan dan keberanian yang kamu bagi ke aku. Terima kepada Ester

as my personal stylist while in Korea. Kalian semua 대박..!!!!!

8. Keluarga Agawon Korea yang telah menemani penulis selama di Korea

dan selalu membantu penulis disaat susah dan tetap berkomunikasi sampai

saat ini. Bang Mata, Teh Qonit, Teh Rini, Ayu, Bang Mike, Bang Tomi,

Bang Aldi, Teh Dina, Bang

9. Kepada Profesor Yooshik Gong sebagai pengajar dalam mata kuliah

Current Issues in Korean Society di Ajou University Korea, yang telah

memberikan banyak pengetahuan kepada penulis mengenai berbagai isu di

Korea dan memberikan inspirasi dalam topik skripsi ini.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 9: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

vii

10. Kepada Teman-teman apartmen penulis, Keumsong 306 Apathe members

Sophida Yodying, Sopio Mikadze, Benya Chongsajja yang telah menjadi

pendengar penulis sejak bertemu di Korea sampai saat ini. Saat-saat

berkumpul bersama, bersenang-senang, tertawa dan saling bercerita

tentang pengalaman dan kehidupan masing-masing tidak akan pernah

terlupakan. Terimakasih untuk dukungannya terhadap penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini. We’ll meet again soon...!!!!!!

11. Staf-staf Departemen Hubungan Intenasional atas bantuan selama penulis

menjadi masahasiwa Hubungan Intenrasional. Kepada mas Roni yang

selalu membantu penulis di UPDHI dan mas Andre yang sabar membantu

penulis dalam berbagai urusan administrasi HI

12. Semua teman-teman HI 2007yang telah menemai penulis selama 4 tahun

ini, Tangguh, Rifki, Yudha, Aji, Theo, Naufal, Zahro, Amri, Fauzan, Prili,

Joan, Andi Rosilala, Bajora, Frisca, Tabitha, Tasha, Resi, Dian, Irene,

Dhaba, Rindo, Teguh, Tri, Winda, Yandri, Dito.

13. Terima kasih ku yang tidak terhingga kepada teman-teman dekat ku

selama 4 tahun kuliah ini dan seterusnya: Muti Dewitari, teman sepaket

dari awal kuliah, cabut bareng, pulang bareng, kabur dari rapat bareng,

hang-out bareng. Terima kasih buat dukungannya selama ini dan selalu

menjadi pendengar yang terbaik. Rainintha Siahaan, teman seperjuangan

dalam menyelesaikan skripsi ini. Dari minum kopi, nyalon, lunch dan

dinner bareng, mencoba berbagai macam makanan agar semangat

menyelesaikan skripsi dan bantuan yang tak terhingga yang diberikan

kepada penulis terima kasih banyak. Zahro dengan panggilan kesayangan

Aro, teman belanja ku, tempat numpang tidur, istirahat, dan melakukan

hal-hal random lainnya, terima kaish. Aisyah Ilyas, teman ngopi bareng

ditengah-tengah kelas. Riris Adianti, Maria Firani Rosari, Hani Sulastri,

Ghita Yoshanti, Erika, Dyah Ayunico Ramadhani, Laras Larasati.

Gabriella Cynthia Andries teman penulis yang bersama-sama pergi Korea.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 10: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

viii

Ken Swari Maharani, selalu menjadi teman sekelas dari awal masuk kuliah

dengan sama-sama di kluster mastran.

14. Teman-teman HI 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2010 yang tidak

disebutkan namanya satu persatu.

  

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 11: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 12: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

ix Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama : Adina Dwirezanti

Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional

Judul :

“Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa Peran Korean

Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Periode 2005-2010”

Skripsi ini bertujuan untuk membahas mengenai keberadaan budaya popular dalam hal ini adalah Korean Wave sebagai bagian dalam diplomasi Publik Korea. Pembahasan mengenai topik ini dibatasi dalam periode 2005-2010, dimana tahun 2005 ini menjadi awal dari digunakannya Korean Wave sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi publik Korea. Pembahasan mengenai diplomasi publik melalui Korean Wave ini dibagi dalam dua aktivitas Korea, yaitu dalam bidang pariwisata dan program pertukaran dengan negara-negara lain. Penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan penjabaran secara deskriptif melalui penjabaran mengenai program-program yang dilaksanakan Korea dalam bidang pariwisata dan program pertukaran tersebut. Melalui analisa data-data aktivitas diplomasi dan signifikansi aktivitas diplomasi tersebut, penulis mendapat beberapa temuan mengenai peran Korean Wave dalam diplomasi publik Korea, yaitu meningkatkan citra Korea, Menarik minat kedatangan masyarakat asing, mendorong kemajuan bidang-bidang lain dari Korea, dan mendorong terjalinnya kerjasama antara Korea dengan negara-negara lainnya. Beberapa peran tersebut dapat tercapai dikarenakan tiga faktor yang ditemukan penulis sangat dominan dalam Korean Wave, yaitu komitmen pemerintah, kepopuleran dari Korean Wave itu sendiri, dan faktor informasi.

Kata Kunci: diplomasi publik, korean wave, pariwisata, program pertukaran.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 13: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

x Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name : Adina Dwirezanti

Study Program : International Relations

Title :

“Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa Peran Korean

Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Periode 2005-2010”

This research aims to explain about the existence of popular culture, in this case is Korean Wave as part of Korean public diplomacy. The explanation of this topic is will be limited in 2005-2010, which in 2005 was the beginning of Korean Wave as part of public diplomacy of Korea. The explanation of this public diplomacy through the Korean Wave is divided in two activities, tourism and exchange program with other countries. This research used qualitative research metods with descriptive explanation about the public diplomacy’s program that implemented in the field of tourism and Korean Exchange program. Through analysis of the data on the activity of diplomacy and the significance of the diplomacy activity, the author concludes that’s there are some roles that played by the Korean Wave in Korean public diplomacy, such as improving image of Korea, Attracting the arrival of foreign people to come to Korea, encourage the progress of other parts of Korea, and encourage the cooperation between Korea and the other country. Some of these roles can be achieved due to the three aspect that the author was found, such as the government’s commitment, the popularity of the Korean Wave itself, and information about Korean Wave itself.

Key Words: public diplomacy, korean wave, tourism, exchange program

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 14: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xi Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN PENYATAAN ORISINALITAS .............................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................................... ii

KATA PENGANTAR .................................................................................................... iii

UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................................... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................. ix

ABSTRAK ....................................................................................................................... x

ABSTRACT .................................................................................................................... xi

DAFTAR ISI .................................................................................................................. xii

Daftar Skema ................................................................................................................. xv

Daftar Gambar .............................................................................................................. xv

Daftar Tabel ................................................................................................................... xv

Daftar Grafik ................................................................................................................. xv

DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................. xvii

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xviii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

I.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Permasalahan ......................................................................................... 5

1.3 Kerangka Konsep ................................................................................................... 6

1.3.1 Diplomasi Publik .............................................................................................. 6

1.3.2 Diplomasi Kebudayaan ................................................................................... 11

1.3.3 Konsep Pop-Culture ....................................................................................... 13

1.4 Tinjauan Pustaka .................................................................................................. 15

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 15: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xii Universitas Indonesia

I.5 Asumsi Penelitian ................................................................................................. 22

I.6 Metode Penelitian ................................................................................................. 22

I.7 Tujuan dan Signifikansi Penelitian ....................................................................... 24

I.8 Rencana Pembabakan Skripsi ............................................................................... 25

BAB II KEBIJAKAN DAN AKTIVITAS DIPLOMASI PUBLIK KOREA SELATAN MELALUI KOREAN WAVE PERIODE 2005-2010 .............................. 27

II. 1 Definisi Fenomena Korean Wave dan Perkembangannya ................................... 27

II.2 Kebijakan Korea Dalam Diplomasi Budaya ......................................................... 31

II.3 Korean Wave dalam Diplomasi Budaya Korea .................................................... 35

II.3.1 Korean Wave Melalui Korean Tourism Organization (KTO) ....................... 35

II.3.1.1 Visit Gyeonggi-Korea 2005: Center of Korea Wave ............................. 36

II.3.1.2 Visit .Jeju Year 2006: Hawai of Korea ................................................... 38

II.3.1.3 Visit Gyeongbuk-Korea 2007.................................................................. 41

II.3.1.4 Visit Gwangju Jeonnam Korea Year 2008: Promote Korean Traditional Culture .............................................................................................. 43

II.3.1.5 2009 Visit Incheon Year: Incheon Sebagai Zona Ekonomi dan Tekhnologi ........................................................................................................... 45

II.3.1.6 Visit Korea 2010-2012: Promote Korea as a Whole .............................. 52

II.3.2 Korean Wave Melalui KOFICE ..................................................................... 60

II.3.2.1 KOFICE dalam Bidang Edukasi : Di Balik Kemajuan Korean Wave ..................................................................................................................... 61

II.3.2.2 KOFICE dalam Bidang Pertukaran Budaya Internasional : Pertukaran Budaya Sebagai Alat Komunikasi Korea .......................................... 64

II.4 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave ......................................... 68

II.4.1 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave dalam Pariwisata ...... 68

II.4.2 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave dalam Pertukaran Budaya ..................................................................................................................... 71

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 16: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xiii Universitas Indonesia

BAB III ANALISA PERAN DAN FAKTOR KOREAN WAVE DALAM DIPLOMASI PUBLIK KOREA .................................................................................. 78

III.1 Peran Korean Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Selatan ............................. 78

III.1.1 Menarik Minat Kedatangan Masyarakat Asing ............................................ 79

III.1.2 Meningkatkan Citra Korea Selatan di Mata Internasional ............................ 81

III.1.3 Aktivitas Diplomasi Publik Melalui Korean Wave Mendorong Kemajuan Bidang Lain Korea Selatan..................................................................... 85

III.1.4 Mendorong Terjalinnya Kerjasama Dengan Negara-Negara Lain................90

III.2 Faktor-Faktor di Balik Korean Wave .................................................................. 91

III.2.1 Faktor Komitmen Pemerintah dalam Korean Wave ..................................... 91

III.2.2 Faktor Kepopuleran Korean Wave .............................................................. 94

III.2.3 Faktor Informasi Mengenai Korean Wave....................................................98

III.3 Kesimpulan Peran dan Faktor Korean Wave Sebagai Diplomasi Publik Korea ......................................................................................................................... 100

BAB IV KESIMPULAN ............................................................................................. 103

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 109

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 17: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xiv Universitas Indonesia

Daftar Skema

Skema 2. 1 5 Tujuan Aktivitas MCST ............................................................................ 34

Daftar Gambar

Gambar 2. 1 Lambang Hallyu Expo 2006 ....................................................................... 40

Gambar 2. 2 Salah satu adegan dalam Boys Before Flowers yang memperlihatkan lokasi Lighthouse di Pulau Palmi .................................................................................... 47

Gambar 2. 3 Poster acara Incheon Pentaport Rock Festival ........................................... 48

Gambar 2. 4 Lambang Korean Wave Festival 2009 ....................................................... 51

Gambar 2. 5 Poster PIFF 2010 ........................................................................................ 57

Gambar 2. 6 Salah satu foto pada Hallyu Dream Concert .............................................. 58

Gambar 2. 7 Kontribusi Korean Wave dalam Pariwisata Korea ..................................... 71

Gambar 3. 1 Jumlah penonton video musik Korea dari Youtube ..................................97

Daftar Tabel

Tabel 2. 1 Resume Program Pariwisata Korea 2005-2010 ......................................................... 59

Tabel 2. 2 Asian Song Festival Periode 2005-2010 .................................................................... 67

Daftar Grafik

Grafik 2. 1 Peningkatan Jumlah wisatawan di Korea ..................................................... 70

Grafik 2. 2 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Thailand .................................... 72

Grafik 2. 3 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Vietnam .................................... 73

Grafik 2. 4 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Jepang ....................................... 74

Grafik 3.1 Pengaruh Korean Wave dalam Kemajuan Produk-Produk Korea.................88

Grafik 3.2 Presentase Pengaruh Korean Wave dalam Produk-Produk Korea.................88

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 18: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xv Universitas Indonesia

Grafik 3. 3 Grafik ekspor dan impor program TV Korea...............................................95

Grafik 3. 4 Pendapatan berdasarkan konten musik ......................................................... 96

 

Daftar Skema

Skema 3.1 Skema Temuan Penelitian...........................................................................102

 

 

 

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 19: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xvi Universitas Indonesia

DAFTAR SINGKATAN

MCST Ministry of Culture, Sport and Tourism

KTO Korean Tourism Organization

KOFICE Korean Foundation for International Cultural Exchange

CCTV China Centrak Television Station

DBSK Dong Bang Shin Ki/ South Korean boy band

SNSD So Nyeo Shi Dae/ Girls’ Generation/ South Korean Girl group

UNESCO United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

IAAF International Association of Athletics Federetaion

ITO Incheon Tourism Organization

PIFF Pusan International Film Festival

NHK Nippon Hoso Kyokai / Japan Broadcasting Corporation

H.O.T High-five Of Teenagers/ South Korean Boy band

NRG New Radiancy Group / South Korean boy band

Baby V.O.X Baby Voices of Xpression / South Korean girl group

FIFA Federation de Football Association 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 20: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

xvii Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Festival-festival yang diadakan KOFICE di Korean dan di luar

Korea periode 2005-2010

 

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 21: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

1

    Universitas Indonesia  

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Globalisasi sebagai sebuah fenomena saat ini menimbulkan semakin

banyak dan kompleksnya isu-isu baru dan permasalahan-permasalahan dalam

hubungan internasional. Berbagai macam isu seperti masalah lingkungan, masalah

masyarakat muncul ke permukaan dan menjadi sebuah isu baru dalam hubungan

internasional yang semakin berhubungan dan sudah mengenai istilah tanpa batas

(borderless). Selain permasalahan-permasalahan internasional yang harus

dihadapi oleh setiap negara, negara pada dasarnya memiliki kepentingan

nasionalnya sendiri. Kepentingan nasional tersebut terdiri dari unsur-unsur yang

membentuk kebutuhan dalam negaranya. Kepentingan nasional tersebut dapat

menjadi sebuah tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mengarahkan

para pembuat keputusan dari suatu negara dalam merumuskan kebijakan luar

negerinya. 1 Selain itu, globalisasi juga memberikan dua dampak. Pertama,

fenomena globalisasi berkaitan erat dengan munculnya masyarakat sipil global

(global civil society). Konsep masyarakat sipil global ini merupakan refleksi

realita sosial dimana berkembangnya ranah partisipasi sosial dan politik

supranasional dimana kelompok warga negara, gerakan sosial, dan individu

terikat dalam dialog, debat, konfrontasi, dan negosiasi satu sama lain dengan

berbagai aktor pemerintahan-internasional, nasional, dan lokal-serta dunia bisnis.2

Komunikasi menjadi penting dalam mencapai kepentingan nasional dan

juga menghadapi permasalahan-permasalahan internasional tersebut. Komunikasi

ini dapat dilakukan melalui konferensi pers, pertemuan politik, ataupun perjamuan

dengan para pejabat pemerintah, membuat berbagai pernyataan yang tidak hanya

ditujukan pada khalayak domestik, tetapi juga pada pemerintah maupun rakyat

                                                            1 Dr. Anak Agung Banyu Perwita dan Dr. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm 35. 2 Helmut Anheier, dkk., “Introducing Global Civil Society”, dalam Helmut Anheier, dkk., Global Civil Society 2001, (Oxford: Oxford University Press, 2001), hlm. 4.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 22: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Universitas Indonesia

 

negara lain.3 Komunikasi ini menjadi sebuah bagian dalam diplomasi. Melalui

diplomasi tersebut, negara-negara berusaha memperjuangkan kepentingannya

dilingkup internasional dan dihadapan negara-negara lain dalam mencapai tujuan

kepentingannya tersebut.

Diplomasi yang melibatkan peran negara-negara ini dijelaskan oleh

Hamilton dan Langhorne disebut dengan diplomasi tradisional. Diplomasi

tradisional ini dilakukan dengan proses regularisasi dan secara prosedural.4 Akan

tetapi, seperti yang dijelaskan di atas, dengan semakin kompleksnya permasalahan

dan semakin beragamnya kebutuhan nasional yang dimiliki oleh masing-masing

negara, hubungan internasional tidak lagi semata-mata dipandang sebagai

hubungan antar negara namun juga meliputi hubungan antar masyarakat

internasional. Dengan demikian, diplomasi tradisional atau yang dikenal dengan

istilah ‘first track diplomacy’ tentu saja tidak lagi menjadi cara yang efektif

dalam rangka menyampaikan pesan-pesan diplomasi terhadap suatu negara dalam

mencapai kepentingannya. Hal ini akhirnya menimbulkan cara-cara baru yang

dilakukan dalam aktivitas diplomasi tersebut, salah satunya adalah melalui

diplomasi publik. Diplomasi publik ini menjadi cara berdiplomasi yang tidak lagi

hanya melibatkan peran pemerintah dalam satu negara saja, tetapi juga melibatkan

peran dari aspek-aspek lainnya.5 Publik memegang peranan yang semakin vital

dalam menjalankan misi diplomasi sebuah negara terlebih pada situasi yang

semakin terintegrasi dengan beragam bidangnya yang sangat variatif. Diplomasi

publik didefinisikan sebagai upaya mencapai kepentingan nasional suatu negara

melalui understanding, informing, and influencing foreign audiences. Dengan

kata lain, jika proses diplomasi tradisional dikembangkan melalui

mekanisme government to government relations, maka diplomasi publik lebih

ditekankan pada government to people atau bahkan people to people relations.

                                                            3 K.J Holsti, Politik Internaisonal: Kerangka Analisa, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987), hlm.231 4 Brian White,”Dplomacy”, dalam John Baylis dan Steve Smith, The Globalization of World Politics, (New York: Oxford University Press, 2005)hlm, 389-390. 5 Stacy Michelle Glassgold, Public Diplomacy: The Evolution of Literature, diakses dari http://uscpublicdiplomacy.org/pdfs/Stacy_Literature.pdf, pada tanggal 18 April 2011, pada pukul 16: 19

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 23: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

3

    Universitas Indonesia  

Fenomena Korean Wave merupakan salah satu fenomena dalam era

globalisasi ini. Fenomena ini juga memberikan keuntungan tersendiri bagi Korea

sebagai negara yang memilikinya. Korea sendiri merupakan negara dengan

kemajuan tekhnologi dan ekonomi yang cukup signifikan, Korea telah mengalami

pertumbuhan dalan bidang ekonomi sejak masa industrialisasi yang dimulai dari

tahun 1960an. Pertumbuhan ekonomi tersebut telah mengubah struktur industri

Korea, dari industri ringan menjadi industri berat.6 Tidak hanya kemajuan dalam

bidang ekonomi dan tekhnologi saja, kemajuan Korea juga dialami dalam bidang

hiburan negaranya yang sangat disukai oleh masyarakat Korea dan masyarakat

negara-negara lainnya seperti Jepang, Cina, dan negara-negara Asia Tenggara

lainnya. Hal-hal yang berhubungan dengan Korea semakin digemari oleh

masyarakat-masyarakat di negara-negara tetangga seperti Jepang, Cina, dan

negara-negara di Asia Tenggara yang akhirnya disebut dengan Korean Wave.

Tidak hanya itu, Korean Wave tersebut bahkan mampu mengguncang negara

digdaya seperti Amerika. Hal ini diperlihatkan oleh banyaknya film-film Korea

yang sekarang ini juga diadaptasi oleh Amerika untuk dibuat versi ulangnya.

Salah satunya adalah The Lake House yang pada versi Hollywoodnya dibintangi

oleh Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Hal ini memperlihatkan bahwa Korean

Wave ini telah populer hingga hampir seluruh dunia, tidak hanya wilayah Asia.

Fenomena Korean Wave dimulai sejak sekitar tahun 1998, dimana China Central

Television Station (CCTV), salah satu saluran televisi di Cina menyiarkan drama

Korea yang berjudul What is Love All About. Hal ini terus berlanjut dan

menjadikan drama-drama Korea menjadi popular dan disukai oleh masyarakat,

tidak hanya di Cina tetapi juga di negara negara lainnya. 7 Sebutan lain dari

Korean Wave, yaitu Hallyu Wave merupakan salah satu sebutan yang diciptakan

oleh Cina dalam rangka menjelaskan kepopuleran drama-drama Korea di negara

tersebut pada pertengahan tahun 1999 oleh salah satu jurnalisnya. Seperti halnya

yang dijelaskan dalam penjelasan diplomasi publik oleh Mark Leonard bahwa

                                                            6 Kim Kyong-dong dan The Korean Herald, Social Change in Korea, (Paju, Korea: Jimoondang, 2008), hlm. 282. 7 Doobo Shim, Hybridity and the rise of Korean popular culture in Asia, diakses dari http://www2.fiu.edu/~surisc/Hybridity%20and%20the%20rise%20of%20Korean%20popular%20culture%20in%20Asia.pdf, pada tanggal 9 April 2011, 17:18

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 24: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Universitas Indonesia

 

salah satu tujuan diplomasi publik adalah meningkatkan hubungan dengan suatu

negara, yang dilihat dari lingkup pendidikan, tingkat kedatangan warga negara

lain ke negara tersebut yang didasarkan tujuan untuk berlibur maupun belajar.

Didasarkan sebagai industri ekspor Korea, Korean Wave dikembangkan

menjadi alat diplomasi publik Korea melalui kebijakan-kebijakan yang

dikeluarkan oleh pemerintah Korea. Hal ini dimulai dengan kebijakan pemerintah

Korea yang mendorong negaranya untuk mengekspor kebudayaan Korea ke

negara-negara lainnya. Keputusan pemerintah untuk membentuk Departemen

Industri Budaya dan Kementrian Olahraga dan Kebudayaan pada tahun 1994 serta

mengesahkan the motion picture promotion law pada tahun 1995 telah menjadi

pendorong utama dan pertama dalam mengekspor perfilman dan musik yang di

lengkapi dengan nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya ke negara-negara

lain. Hal ini terus berlanjut dengan adanya peningkatan alokasi dana dalam

mengembangkan perfilman dan musik, seperti yang dilakukan pada masa

pemerintahan Kim Dae Jung yang memang menyebut dirinya sebagai “President

of Culture”. Sejak masa pemerintahan Kim Dae Jung yang dimulai pada tahun

1998, Korea mengalokasikan dana sebesar 148,5 juta dolar Amerika dan

mengsahkan the basic law for the Culural Industry Promotion.8. Hal ini terus

berkembang dengan pengeluaran kebijakan-kebijakan pemerintah Korea secara

langsung yang menjelaskan Korean Wave sebagai alat diplomasinya.

Implementasi Korean Wave sebagai bagian dari diplomasi publik ini

dijalankan melalui berbagai macam program. Program-program tersebut

dijalankan baik dalam satu arah dan juga dua arah baik sendiri ataupun dengan

melibatkan negara-negara lain dalam program tersebut. Salah satu program

tersebut adalah Asian Song Festival dan juga All-Star Together yang diadakan

dengan tujuan untuk meningkatkan wisatawan asing datang ke Korea. Hal ini

seperti yang dijelaskan oleh Mark Leonard dalam tulisannya mengenai diplomasi

publik bahwa tujuan salah satu diplomasi publik dari suatu negara adalah

mendorong masyarakat negara lain untuk datang ke suatu negara baik itu untuk

                                                            8 Doobo Shim, Hybridity and the rise of Korean popular culture in Asia, diakses dari http://www2.fiu.edu/~surisc/Hybridity%20and%20the%20rise%20of%20Korean%20popular%20culture%20in%20Asia.pdf, pada tanggal 9 April 2011, pada pukul 17:18

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 25: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

5

    Universitas Indonesia  

berlibur, belajar, dan mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi barang-barang

dari suatu negara.

1.2 Rumusan Permasalahan

Korea pada dasarnya bukanlah merupakan negara pertama yang meng-

ekspor entertainya ke negara luar. Jepang yang juga merupakan bagian dari

negara-negara Asia Timur telah lebih dahulu melakukannya dengan meng-ekspor

bagian dari produksi hiburannya ke negara luar. Jepang seperti yang kita ketahui

memiliki produk animasi yang dikenal dengan manga yang sangat terkenal di

negaranya. Animasi ini tidak hanya disukai oleh kalangan anak-anak saja, tetapi

juga disukai oleh kalangan lainnya bahkan kalangan dewasa sekalipun. Hal ini

pada akhirnya membuat pemerintah Jepang menjadikan produk animasinya, yaitu

manga sebagai cara diplomasinya. Jepang meng-ekspor produk animasinya

tersebut ke negara-negara lainnya sebagai sebuah cara unutuk menarik masyarakat

internasional terhadap kebudayaan Jepang.9 Akan tetapi, hal ini dianggap tidaklah

sukses karena dianggap karakter animasi tersebut tidak sesuai dengan apa yang

digemari oleh masyarakat negara-negara lainnya terutama negara barat. Selain itu,

karakter animasi Jepang yang didominasi oleh bentuk mata yang besar justru

dianggap tidak mencerminkan kebudayaan Jepang serta kehidupan masyarakat

Jepang dan justru hanyalah sebagai tokoh animasi internasional.10 Pada akhirnya

diplomasi publik melalui animasi Jepang ini tidak dapat memberikan dampak

positif yang signifikan terhadap Jepang. Akan tetapi, Korea sebagai negara yang

juga memiliki budaya populer, yaitu Korean Wave juga menjadikannya sebagai

bagian dalam diplomasi publiknya. Sebagai negara yang mengalami pertumbuhan

ekonomi dalam dekade ini justru dianggap dapat memberikan efek positif

terhadap Korea.

                                                            9 A New Look at Cultural Diplomacy: A Call to Japan's Cultural Practitioners, diakses dari http://www.mofa.go.jp/announce/fm/aso/speech0604-2.html, pada tanggal 10 April 2011, pada pukul 20:22 10 Stefanie Layer, An Exploration of Japan’s Soft Power, diakses dari www.culturaldiplomacy.org/.../manga-and-anime-an-exploration-of-japans-soft-power.pdf, pada tanggal 15 April 2011, pada pukul 18:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 26: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Universitas Indonesia

 

Permasalahan yang terdapat dan dialami dalam diplomasi publik Jepang

membuat penulis untuk mencoba untuk menjawab pertanyaan permasalahan

dibawah ini. Bagaimana peran Korean Wave dalam diplomasi publik Korea

Selatan? Periode 2005-2010. Penulis mencoba untuk menjawab melalui analisa

terhadap program-program Korea, antara lain program pariwisata dalam negeri

Korea, dan juga program Korea ke luar dengan mengikutsertakan Korean Wave

didalamnya. Program-program tersebut dijalankan dengan dua cara. Pertama,

program dijalankan secara satu arah yang hanya menlibatkan Korea sebagai aktor

utama. Kedua program yang dijalankan secara dua arah, dimana aktor yang

terlibat tidak hanya Korea saja melainkan juga melibatkan negara-negara lainnya.

Periode 2005-2010 menjadi pembatasan masalah yang ditetapkan oleh penulis,

dikarenakan periode tahun 2005, menjadi tahun dimana pemerintah Korea mulai

menggunakan Korean Wave sebagai bagian dari diplomasi publiknya melalui

kebijakan diplomasi kebudayaan yang dijelaskan secara rinci dan jelas.

1.3 Kerangka Konsep

1.3.1 Diplomasi Publik

Dijelaskan oleh Sir Victor Wellesley, dalam Diplomacy in Fetters bahwa

diplomasi bukanlah merupakan kebijakan, tetapi lembaga untuk memberikan

pengaruh terhadap kebijakan tersebut. Namun diplomasi dan kebijakan keduanya

saling melengkapi karena seseorang tidak akan dapat bertindak tanpa kerjasama

satu sama lain. Diplomasi tidak dapat dipisahkan dari politik luar negeri, tetapi

keduanya bersama-sama merupakan kebijakan eksekutif, seperti kebijakan untuk

menetapkan strategi, diplomasi, dan taktik.11 Oleh karena itu, diplomasi itu sendiri

tujuannya adalah kepada kebijakan tersebut. Dijelaskan secara lebih lanjut,

diplomasi merupakan bagian dari kegiatan internasional yang saling berpengaruh,

berbelit-belit, dan sangat luas di mana pemerintah dan organisasi internasional

berusaha untuk meningkatkan tujuan-tujuannya melalui perwakilan diplomatik

ataupun melalui organ-organ lainnya.

                                                            11 Smith Simspson, dalam “Education in Diplomacy”, dikutip dari, Sumaryo Suryokusumo, Praktik Diplomasi, (Depok: Penerbit STIH “IBLAM”, 2004),hlm. 7-8

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 27: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

7

    Universitas Indonesia  

Diplomasi ini mengalami perkembangan, dimana tidak lagi hanya

didominasi oleh aktor-aktor negara. Terutama setelah terjadinya penyerangan

terhadap Amerika pada tanggal 11 September 2001, membuat salah satu bentuk

diplomasi, yaitu diplomasi publik banyak diperbicangkan sebagai cara dalam

melakukan diplomasi. Istilah diplomasi publik ini pertama kali diperkenalkan

pada tahun 1965 oleh Edmund Gullion dalam Fletcher School of Law and

Diplomacy di Tuffs University. Melalui diplomasi publik ini, opini publik dapat

berperan dalam rangka mendukung kebijakan negara. Tidak hanya itu, publik

dalam hal ini juga dapat membantu mempengaruhi opini masyarakat negara-

negara lainnya mengenai negaranya.12 Oleh karena itu, diplomasi publik tidak

hanya dapat memberikan gambaran yang positif mengenai satu negara, tetapi juga

dapat memberikan gambaran negatif mengenai satu negara karena bentuk

diplomasi ini menjadi melibatkan aspek-aspek lain dari suatu negara yang tidak

dapat lagi secara penuh dikontrol oleh negara. Salah satu alasan dari adanya

keterlibatan publik ini didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah dianggap tidak

selalu dapat menjawab berbagai tantangan dalam isu-isu diplomasi yang kini

semakin kompleks terlebih sifat khas yang melekat dari pemerintah adalah sangat

kaku (rigid). Dengan kata lain, jika proses diplomasi tradisional dikembangkan

melalui mekanisme government to government relations, maka diplomasi publik

lebih ditekankan pada government to people atau bahkan people to people

relations.

Diplomasi publik ini tidak lagi hanya dilakukan melalui pertemuan-

pertemuan formal ataupun wawancara dengan diplomat, tetapi dapat dilakukan

dengan berbagai cara dimana terdapat kesempatan untuk mempengaruhi opini

negara lain dan kebijakannya. Isu-isu yang menjadi pokok utama juga mengalami

perkembangan dengan melibatkan isu-isu ekonomi, sosial, kesejahteraan,

lingkungan dan sebagainya yang biasa disebut dengan low politics. Hal ini

menjadikan kepentingan suatu negara tidak lagi hanya terbatas dalam lingkup dan

tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga melibatkan aktor-aktor non-

                                                            12 Daniell S. Papp, Contemporary International Relations, Frameworks for Understanding, (United States of America: Allyn and Bacon, 1997), hlm. 442-443.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 28: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

Universitas Indonesia

 

negara. 13 Soft Power menjadi instrumen yang penting, dimana negara melalui

beberapa aktivitas melibatkan berbagai aktor dan organisasi-organisasi yang

memiliki akibat terhadap publik secara internasional, seperti melalui aktor-aktor,

galeri seni dan musik, kelompok media dan wartawan, masyarakat dan lembaga

swadaya masyarakat, pengusaha dan produksinya, politisi, partai, dan pakar

politik, akademisi, universitas-universitas, pemimpin agama, kelompok agama,

dan sebagainya.14 Beberapa tujuan dari diplomasi publik, yaitu:15

Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai suatu negara, dalam hal

ini membuat mereka memikirkannya, meningkatkan gambarkan

masyarakat tersebut, dan merubah pendapat mereka mengenai negara

tersebut.

Meningkatkan apresiasi masyarakat mengenai suatu negara, dalam hal ini

meningkatkan persepsi positif mereka, menyamakan opini mereka dengan

negara tersebut mengenai suatu isu.

Meningkatkan hubungan dengan suatu negara, dalam hal ini dalam

lingkup pendidikan, mendorong masyarakat negara lain untuk datang ke

suatu negara untuk berlibur, belajar, mendorong masyarakat untuk

mengkonsumsi barang-barang dari negara tersebut, dan sebagainya.

Mempengaruhi masyarakat, seperti untuk mendapatkan investasi dari

suatu perusahaan, ataupun memperlihatkan posisi kita atau mengajak para

aktor politik untuk menyesuaikan dengan diri kita atas dasar kerjasama.

Ke-empat tujuan-tujuan diplomasi publik di atas, pada dasarnya tidak lepas dari

salah satu tujuan diplomasi yang dijelaskan oleh Holsti. Dimana ia menjelaskan

bahwa salah satu tujuan pemerintah melakukan negosiasi diplomatik untuk

maksud-maksud propaganda; menggunakan konferensi tidak hanya untuk tujuan

membuat kesepakatan terhadap beberapa isu, tetapi lebih ditujukan untuk menarik                                                             13 John Baylis dan Steve Smith, The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, (United States of America: Oxford University Press, 2005), hlm. 192-193. 14 Josef Batora, Multistakeholder Public Diplomacy of Small and Medium-Sized States: Norway and Canada Compared, makalah yang dipresentasikan dalam International Conference on Multistakeholder Diplomacy, Mediterranean Diplomatic Academy, Malta, 11-13 Februari 2005, diakses dariwww.diplomacy.edu, pada tanggal 15 Mei 2011, pada pukul 12:13 15 Mark Leonard, Public Diplomacy, (London: The Foreign Policy Centre. 2002), hlm. 9-10

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 29: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

9

    Universitas Indonesia  

publik luar ke pihaknya yang dengan demikian, akan mengurangi posisi tawar

menawar ke lawan-lawannya 16 . Sumiko Mori, seorang jurnalis dari Fuji

Television Network, Jepang dalam tulisannya mengenai pop-culture diplomacy

menguti definisi diplomasi publik yang dijelaskan dalam dalam The University of

Southern California’s Center on Public Diplomacy, yaitu:17

The center studies the impact of private activities – from popular

culture to fashion to sports to news to the Internet – that inevitably, if

not purposefully, have an impact on foreign policy and national

security as well as on trade, tourism, and other national interests.…

To be effective, public diplomacy must be seen as a two-way street. It

involves not only shaping the message(s) that a country wishes to

present abroad, but also analyzing and understanding the ways that

the message is interpreted by diverse societies and developing the

tools of listening and conversation as well as the tools of persuasion.

Dalam kutipan di atas tersebut dijelaskan bahwa popular culture menjadi bagian

dari diplomasi publik. Pop culture atau yang juga disebut dengan popular culture

itu sendiri merupakan salah satu efek dari terjadinya fenomena globalisasi ini

adalah dalam aspek kebudayaan, salah satunya adanya dengan tumbuhnya pop

culture. Tulisannya tersebut berjudul Japan’s Public Diplomacy and Regional

Integration in East Asia: Using Japan’s Soft Power ditulis dalam program US-

Japan Relation di Universitas Harvard.18

Joseph S. Nye juga menjelaskan dalam tulisannya “Public Diplomacy and

Soft Power” akan betapa pentingnya diplomasi publik dalam hubungan

internasional sekarang ini. Soft power menjadi kemampuan untuk menarik

perhatian pihak lain untuk mendapatkan hasil yang diinginkan melalui sebuah

atraksi dan bukan dengan paksaan ataupan bayaran, dan dalam hal ini, diplomasi

publik dikategorikan sebagai sebagai alat dari soft power tersebut. Sebuah negara

akan mendapatkan hasil yang diinginkan dalam politik internasional apabila

                                                            16 K.J.Holsti, Politik Internasional: Kerangka Analisis, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987), hlm. 251. 17 Ibid. 18 Sumiko Mori, Japan’s Public Diplomacy and Regional Integration in East Asia: Using Japan’s Soft Power, diakses dari http://www.wcfia.harvard.edu/us-japan/research/pdf/06-10.mori.pdf, pada tanggal 18 Agustus 2011, pada pukul 22:10

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 30: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

10 

Universitas Indonesia

 

negara lain dapat mengikutinya, mengagumi nilai yang dimilikinya, menirunya,

ataupun memiliki keinginan untuk berada dalam tingkat sebuah kemakmuran dan

keterbukaan.19 Soft power dalam penjelasan Nye merupakan kemampuan untuk

membentuk persepsi pihak lain dan merupakan produk dari politik demokrasi

sehari-hari. Kemampuan tersebut cenderung terkait dengan aset-aset tidak

berwujud, seperti budaya yang dapat menarik pihak lain, pribadi yang menarik

dari sebuah negara, nilai-nilai politik dan lembaga, dan kebijakan yang dianggap

sah ataupun memiliki otoritas moral.

Perbedaan antara hasil tindakan dan sumber yang digunakan adalah hal

yang penting untuk memahami hubungan antara soft power dan diplomasi publik.

Dalam politik internasional, sumber daya-sumber daya yang menghasilkan soft

power sebagian besar berasal dari nilai-nilai organisasi atau negara dalam

mengekspresikan nilai-nilai kebubadayaannya, sebagai contoh dengan praktek-

praktek internal dan kebijakan serta bagaimana mengelolanya dalam berhubungan

dengan pihak lainnya. Dalam hal ini, diplomasi publik menjadi instrumen yang

digunakan pemerintah untuk menjalankan sumber-sumber tersebut untuk

berkomunikasi dan mengelola hubungan mereka dengan pihak lain. Diplomasi

publik tersebut juga menjadi instrumen bagi pemerintah untuk berkomunikasi dan

untuk menarik penonton dari negara lain, tidak hanya negaranya saja. Diplomasi

publik mencoba untuk menarik dengan memberikan fokus terhadap sumber

potensial tersebut melalui penyiaran, pemberian subsidi dalam ekspor, pertukaran,

dan sebagainya. Akan tetapi, apabila isi budaya, nilai-nilai dan kebijakan tersebut

tidak menarik, maka diplomasi publik tersebut tidak dapat menjadi atraktif dan

menghasilkan persuasi, dan justru dapat menghasilkan kebalikannya. Kebudayaan

sebagai alat diplomasi budaya dijelaskan oleh Nye merupakan seperangkat

kegiatan yang menciptakan makna bagi masyarakat, dan memiliki banyak

manifestasi. Biasanya hal ini akan dibedakan antara budaya tinggi seperti sastra,

                                                            19 Joseph S. Nye, Jr, Public Diplomacy and Soft Power, diakses dari http://ann.sagepub.com/content/616/1/94.full.pdf, pada tanggal 10 Agustus 2011, pada pukul 22:10 , hlm. 94

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 31: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

11

    Universitas Indonesia  

seni, dan pendidikan yang melayani elit masyarakat, dan budaya populer yang

berfokus kepada hiburan massa.20

Nye menilai bahwa sekarang ini informasi menjadi sebuah kekuatan

terutama dengan semakin besarnya populasi dunia yang mengakses informasi

tersebut. Akan tetapi, informasi itu sendiri tidaklah selalu memberikan hal yang

positif bagi satu pihak. Informasi juga dapat memberikan efek negatif. Selain itu,

editor dan juga cue-givers juga menjadi hal yang penting karena keberadaan

mereka dapat mempengaruhi posisi dan pandangan satu pihak. Dalam pandangan

mereka, kredibilitas menjadi hal yang penting. Oleh karena itu, sekarang ini,

negara tidak hanya memiliki kepentingan terhadap negara lain saja, tetapi juga

media, swasta, lembaga-lembaga swadaya, dan komunitas-komunitas lainnya.

Hal ini pada akhirnya membuat politik menjadi sebuah kontes dari kompetisi

kredibilitas. Oleh karena itu, tanpa adanya kredibilitas nasional, maka diplomasi

publik negara tersebut tidak akan menterjemahkan sumber-sumber budaya

menjadi sebuah soft power yang atraktif.

Diplomasi publik dapat efektif di saat terjadi listening dan talking diantara

pihak-pihak yang bersangkutan. Pada akhirnya soft power dapat dikatakan

berhasil ketika pihak lain mendapatkan hal yang sama dengan apa yang kita

keluarkan, dan hal ini membutuhkan pengertian dari bagaimana pihak lain

tersebut mendengarkan pesan kita dan menyerapnya.

1.3.2 Diplomasi Kebudayaan

Salah satu penulis yang menjelaskan mengenai diplomasi publik adalah

Tulus Warsito dan Wahyuni Kartikasari dalam tulisannya mengenai Diplomasi

Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang: Studi Kasus

Indonesia.21 Dalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa, diplomasi kebudayaan

adalah sebuah strategi negara-negara berkembang. Ia menjelaskan bahwa

diplomasi publik merupakan sebuah substansi politik luar negeri dalam

                                                            20 Ibid, hlm. 96 21 Tulus Warsito & Wahyuni Kartikasari, Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang : Studi Kasus Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2007), hlm .2

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 32: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

12 

Universitas Indonesia

 

pemanfaatannya bagi negara-negara sedang berkembang. Diplomasi kebudayaan

merupakan bagian atau salah satu jenis dari begitu banyak diplomasi lain, yang

diartikan sebagai usaha negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya

melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro seperti pendidikan, ilmu

pengetahuan, olahraga, dan kesenian, ataupun secara makro sesuai dengan ciri

khas yang utama, misalnya propaganda dan lain-lain, yang dalam pengetian

konvesionalnya dapat dianggap sebagai bukan politik, ekonomi, ataupun militer.

Aktor yang dapat melakukan kegiatan diplomasi kebudayaan ini tidak

hanya aktor pemerintah saja, tetap juga aktor non-pemerintah, individual maupun

kolektif, ataupun setiap warganegara. Oleh karena itu, hubungan diplomasi

kebudayaan antarbangsa bisa terjadi antar pemerintah-pemerintah, pemerintah-

swasta, swasta-swasta, pribadi-pribadi, pemerintah-pribadi, dan seterusnya.

Tujuan utama dari diplomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi pendapat

umum guna mendukung suatu kebijaksanaan politik luar negeri tertentu. Sasaran

diplomasi kebudayaan itu sendiri adalah pendapat umum, baik pada level nasional

maupun internasional.22

Melalui beberapa penjelasan definisi mengenai diplomasi publik tersebut,

terdapat beberapa jenis konsep diplomasi kebudayaan menurut tujuan, bentuk, dan

saranya. Dari segi bentuk, diplomasi kebudayaan dapat dilakukan melalui: 1.

Eksibisi. Eksibisi atau dapat disebut dengan pameran dilakukan untuk

menampilkan konsep-konsep atau karya kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi

maupun nilai-nilai sosial atau ideologi dari suatu bangsa kepada bangsa lain.

Eksibisi atau pameran ini merupakan bentuk diplomasi kebudayaan yang paling

konvensional karena dilakukan secara terbuka dan juga transparan. Eksibisi dapat

dilakukan di luar negeri maupun di dalam negeri, baik secara sendirian (satu

negara) maupun secara multinasioanl. Pameran atau eksibisi ini dapat dilakukan

melalui perdagangan, pariwisatam, pendidikan, dan sebagainya. 2. Propaganda.

Tidak jauh berbeda dengan eksibisi, propaganda merupakan penyebaran informasi,

baik mengenai kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun nilai-nilai sosial

                                                            22 Ibid, hlm. 4

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 33: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

13

    Universitas Indonesia  

ideologis suatu bangsa kepada bangsa lain. Akan tetapi, biasanya dilakukan secara

tidak langsung melalui media masa dan secara awam berkonotasi negatif, bahkan

terkadang dianggap subversif. Bentuk propaganda ini merupakan bentuk lasik

atau cikal-bakal dari diplomasi kebudayaan, karena nilai-nilai sosial ideologi

suatu bangsa yang dianggap sebagai nilai kebudayaan menjadi bahan pokok untuk

disampaikan kepada bangsa lain. 3. Kompetisi, yang lebih cenderung ke arah

pertandingan atau persaingan. 4. Penetrasi. Penetrasi yang merupakan perembesan,

dilakukan melalui bidang-bidang perdagangan, ideologi, dan militer. Dalam

perdagangan, bentuk yang paling dikenal adalah penyelundupan, dalam bidang

ideologi, penetrasi berarti propaganda. Sedangkan dalam bidang militer disebut

dengan penyelundupan. 5. Negosiasi. Bentuk diplomasi kebudayaan melalui

bentuk negosiasi ini lebih mencerminkan keinginan dari bangsa-bangsa yang

bersangkutan untuk saling memperkenalkan, mengakui, menghormati, dan

menghargai kebudayaan masing-masing bangsa tersebut, baik yang kemudian

dilaksanakan dalam bentuk yang lebih khas, seperti pertukaran budaya atau

pertukaran ahli maupun bentuk kerjasama makro yang lain. 6. Pertukaran ahli.23

Hal ini mencakup masalah kerjasama pertukaran kebudayaan secara luas, yakni

dari kerjasama beasiswa antar negara, sampai dengan pertukaran ahli dalam pola

bidang tertentu. Selain beberapa bentuk diatas, masih ada beberapa bentuk lain

yang dapat digunakan dalam diplomasi budaya, yaitu terorisme, embargo, dan

juga boikot.

Dari segi tujuan, diplomasi kebudayaan ini biasanya bertujuan untuk

mencari pengakuan, penyesuaian, bujukan, hegemoni atau subversi. Melalui

tujuan-tujuan tersebut, saran yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan

diplomasi tersebut adalah melalui pariwisata, olahraga, pendidikan, perdagangan,

dan juga kesenian.

1.3.3 Konsep Pop-Culture

Pop culture atau yang juga disebut dengan popular culture dan budaya

populer merupakan salah satu efek dari terjadinya fenomena globalisasi dalam

                                                            23 Ibid, hlm. 19-26

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 34: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

14 

Universitas Indonesia

 

aspek kebudayaan, salah satunya dengan tumbuhnya pop culture. Berbagai respon

negatif pada dasarnya sempat bermunculan, karena globalisasi dalam konteks ini

cenderung dianggap sebagai fenomena Amerikanisasi karena Amerika sebagai

produsen terbesar dari kebudayaan popularnya.24

Pop-culture ini terdiri dari film, musik, acara televisi, surat kabar,

makanan, pakaian, hal-hal yang berhubungan dengan dunia hiburan dan hal-hal

yang umum dan menjadi bagian dari masyarakat. Dijelaskan secara lebih lanjut

oleh salah satu sosiolog, Peter Berger bahwa pop culture membawa keyakinan

dan nilai-nilai yang sangat signifikan. Ia memberikan contoh dalam hal ini musik

rock.25 Daya tarik yang dimiliki oleh jenis musik ini pada dasarnya tidak hanya

karena musiknya yang keras, suaranya yang berirama dan dengan tarian yang

cenderung keras. Tetapi, jenis musik ini juga menggambarkan nilai-nilai budaya

seperti kebebasan berekspresi, spontanitas, dan juga pembebasan dari kehidupan

yang membosankan. Dijelaskan oleh Christopher Geist dan Jack Nachbar bahwa

terdapat empat dimensi yang dilibatkan dalam pop culture. Pertama, kepercayaan,

nilai, dan juga pergerakan dari populasi yang cukup besar dalam mengekspresikan

terhadap sesuatu hal. Kedua, buatan manusia dan menggambarkan masyarakat.

Ketiga, berbentuk seni. Keempat, dalam sebuah ritual ataupun acara.26 Ia pun

menjelaskan bahwa pop culture menjadi sebuah hal yang popular dikarenakan

kemampuan mereka dalam mengartikulasikan gambaran mengenai diri mereka,

sikap, aspirasi, ketakutan dan nilai dari masyarakat dimana produk kebudayaan

tersebut dipasarkan dan kesediaan mereka untuk memiliki ataupun menggunakan

produk-produk dari pop culture tersebut. Pop culture merupakan buatan manusia

dan bukan sebuah produksi industri kebudayaan. Akan tetapi, kebudayaan

menjadi salah satu sumber yang digunakan masyarakat untuk membentuk sebuah

pop culture itu sendiri. Oleh karena itu, hal ini membuat objek utama dari pop

                                                            24 Culture and Globalization, diakses dari http://www.globalization101.org/uploads/File/Culture/cultall2010.pdf, pada tanggal 19 April 2011, pada pukul 12:11 25 Ibid. 26 Stanley J. Grenz , (Pop) Culture:Playground of the Spirit or Diabolical Device?, dalam Cultural Encounters: A Journal for the Theology of Culture, diakses dari http://www.stanleyjgrenz.com/articles/(pop)culture.pdf, pada tanggal 20 April 2011, pada pukul 14:26

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 35: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

15

    Universitas Indonesia  

culture ini adalah masyarakat tanpa adanya pembedaan posisi sosial maupun level

mereka. Hal ini dikarenakan pop culture tidak hanya terdiri dari nilai budaya yang

permanen, tetapi telah disesuaikan dengan pemikiran dan kehidupan

masyarakatnya.

1.4 Tinjauan Pustaka

Isu Korean Wave pada dasarnya merupakan isu baru yang berkembang

saat ini. Akan tetapi, perkembangan yang sangat signifikan dari fenomena itu

sendiri telah membuat berbagai macam pembahasan mengenai perkembangan

Korean Wave. Berbagai macam tulisan mencoba menggambarkan efek dari

Korean Wave bagi Korea itu sendiri, bagi nilai-nilai budaya yang terkandung

dalam drama yang menjadi bagian dari Korean Wave, dan juga dampak Korean

Wave bagi hubungan antar Korea dengan negara lainnya. Beberapa diantaranya

akan dipaparkan secara singkat dan dapat menjadi data pendukung serta

perbandingan bagi penelitian ini. Melalui pemaparan dibawah ini, akan

memperlihatkan perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan

penelitian-penelitian sebelumnya.

Nilai-Nilai di Balik Korean Wave

Pada dasarnya perdebatan mengenai hal ini lebih kepada nilai-nilai sejarah

yang terkandung dalam Korean Wave yang akhirnya mendorong keberhasilannya

di dunia global. Salah satu tulisan yang membahasnnya adalah Cho Hae Jong

dalam Reading the “Korean Wave ”as a Sign of Global Shift.27 Dalam tulisannya

tersebut, ia melihat Korean Wave dari tiga perpektif, yaitu perspektif nasionalis,

neoliberalis, dan pos-kolonialis. Melalui perspektif pertama yaitu nasionalis ia

menilai bahwa dorongan untuk mengembangkan kebudayaan Korea merupakan

sebuah reaksi terhadap rasa nasionalisme terhadap negaranya. Hal ini didukung

dengan krisis ekonomi yang sempat melanda Korea pada tahun I997. Selain itu,

Cho Hae Jong juga menjelaskan rasa nasionalis ini juga timbul akibat rasa anti

Jepang dan juga anti Amerika pada masa kolonialisme. Hal ini pada akhirnya

didukung dengan nilai-nili budaya yang dipegang oleh Orang Korea, seperti                                                             27 Cho Hae Joang, Reading the, “Korean Wave” as a Sign of Global Shift, diakses dari www.ekoreajournal.net/free_pdf/4504/8CHJ.PDF, pada tanggal 2Mei 2011, pada pukul 11:22

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 36: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

16 

Universitas Indonesia

 

konfusianisme yang membuat drama-drama Korea lebih mudah diterima di

negara-negara lainnya.

Perpesktif kedua, yaitu neoliberal menggambarkan Korean Wave sebagai

sebuah orientasi pasar. Dimana dalam perkembangannya Korean Wave tidak lagi

hanya melibatkan drama, film, dan musik Korea saja, tetapi juga makanan, alat-

alat elektronik, dan juga make-up. Perspektif ketiga, adalah pos-kolonialisme.

Melalui perspektif ini, Korean Wave dilihat sebagai sebuah hasil dari proses

modernisasi, kapitalisme, dan juga homogenisasi kebudayaan global. Ia melihat

bahwa pada dasarnya perkembangan Korean Wave tidaklah lepas dari

perkembangan budaya dan nilai-nilai barat yang masuk ke Asia terutama Korea,

dan dilokalisasikan sesuai dengan kebudayaan Korea itu sendiri.

Salah satu tulisan lain, yaitu Introduction to Three Asian: South Korea,

Korea’s in Between oleh Jina E.Kim menjelaskan bahwa faktor-faktor sejarah

yang dialami oleh Korea merupakan sebuah faktor pendorong Korea untuk

mengembangkan nilai-nilai budaya yang dimiliki dalam sebuah drama dan film-

filmnya.28 Ia menjelaskan secara lebih lanjut bahwa posisi Korea yang selalui

berada di bawah Jepang dan Cina secara sejarah budaya, dimana kedua negara

tersebut memiliki karakteristik yang lebih signifikan dan lebih memiliki nilai jual

yang lebih tinggi menjadi salah satu hal yang mendorong Korea dalam

mengembangkan Korean pop culture  nya. Adanya globalisasi dan juga rasa

nasionalisme merupakan dua hal yang mengkonstruksikan kebijakan dan industri

Korea untuk menyamakan posisi dengan dua negara tetangganya, yaitu Cina dan

Jepang. Dalam tulisan yang berjudul Reading the “Korean Wave” as a Sign of

Global Shift dan dalam tulisan Introduction to Three Asian: South Korea, Korea’s

in Between tersebut menjelaskan mengenai pengaruh faktor-faktor sejarah yang

terjadi di Korea yang mendorong Korea untuk mengekspor budaya populernya ke

negara-negara luar. Kedua penulis ini menilai bahwa ekspor budaya populer

Korea ini tidak lepas dari faktor-faktor sejarah yang sempat memberikan efek

negatif terhadap Korea, seperti penjajahan yang dilakukan oleh Jepang, peran

Amerika di Korea, dan juga krisis ekonomi yang terjadi di Korea yang membuat                                                             28 Jine E. Kim, Introduction to Three Asias: South Korea, Korea’s In Between, diakses dari paradoxa.com/excerpts/Jina_Kim.pdf, pada tanggal 8 Mei 2011, pada pukul 18:45

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 37: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

17

    Universitas Indonesia  

kondisi Korea terpuruk. Kondisi negatif yang penah terjadi di Korea ini justru

memberikan dampak negatif terhadap Korea dengan menumbuhkan rasa

nasionalisme yang kuat dan berhasil mendorong budaya populernya ke negeri-

negeri orang dan sampai dikenal sebagai Korean Wave.

Dampak Korean Wave Bagi Korea

Salah satu tulisan yang membicarakan mengenai dampak Korean Wave

terhadap Korea adalah tulisan Jiyeon So yang berjudul Pop Culture as an

Instrument for Global Public Diplomacy: A Case Study of the Influences of the

Korean Wave on Asian Publics.29 Dalam tulisannya tersebut ia menilai bahwa

Korean Wave merupakan sebuah cara diplomasi yang dimiliki Korea berdasarkan

Konsep Soft Power (Nye, 2004) yang merujuk pada kemampuan untuk

menunjukkan dan menyebarkan aset yang dimiliki seperti kebudayaan, nilai

politik dan juga kebijakan. Soft Power tidak hanya kemampuan untuk mengajak

orang lain melalui sebuah argumentasi, tetapi juga kemampuan dalam

mempengaruhi ke arah sebuah persetujuan bersama. Nye juga menjelaskan bahwa

dengan adanya soft power tersebut, juga akan memfasilitasi organisasi-organisasi

non-pemerintah untuk terlibat dalam aksi diplomatik. Ia menggambarkan

bagaimana Korean Wave tersebut telah menjadi sebuah cara diplomasi yang

berhasil bagi Korea. Ia memperlihatkannya melalui 3 hal, yaitu aspek edukasi,

wisata, dan juga citra Korea itu sendiri. Dalam aspek edukasi, ia melihat bahwa

Korean Wave telah meningkatkan minat masyarakat luar untuk mempelajari

Korea, seperti salah satunya adalah Bahasa Korea. Salah satu contoh yang ia

berikan adalah yang terjadi di Jepang. Di Jepang, institusi-institusi pendidikan

yang menawarkan pendidikan Bahasa Korea mengalami peningkatan dari 142 di

                                                            29 Jiyeon So, Pop culture as an instrument for global public diplomacy:A case study of the influences of the Korean Wave on Asian publics, diakses dari http://www.allacademic.com/meta/p_mla_apa_research _citation/2/9/5/4/5/p295450_index.html, pada tanggal 19 April 2011, pada pukul 20:22

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 38: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

18 

Universitas Indonesia

 

tahun 1995 menjadi 335 di tahun 2004. Terutama, setelah ditayangkannya drama

Korea, Winter Sonata. Peningkatan dalam balajar bahasa Korea juga mendorong

mahasiswa asing datang ke Korea untuk belajar bahasa. Jumlah masyarakat asing

yang menjalani Test of Proficiency in Korean (TOPIK) pada tahun 2004

berjumlah 10.416, yang merupakan sebuah peningkatkan sebesar 38% dari tahun

sebelumnya. Bidang pendidikan ini menurut Jiyeon So menjadi sebuah langkah

pertama dalam memperdalam pemahaman suatu negara dengan sebuah proses

komunikasi budaya Korea.

Aspek kedua adalah wisata. Fenomena Korean Wave ini telah memberikan

peningkatan dalam wisatawan yang datang ke Korea sebesar 30% pada tahun

2000. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa berdasarkan tulisan dalam New York

Times, 80% wisatawan Taiwan datang ke Korea untuk melalukan wisata ke

tempat-tempat yang dijadikan tempat shooting untuk drama-drama Korea. Aspek

ketiga adalah meningkatkan citra negara. Melalui peningkatan wisatawan yang

datang ke Korea menggambarkan bagaimana citra Korea dimata masyarakat luar

telah mengalami peningkatan. Kepopuleran akan kebudayaan pop Korea telah

memberikan peningkatan citra Korea dimata masyarakat internasional. Hal ini

berdasarkan Korea Trade- Investment Promotion Agency (KOTRA) mengenai

citra Korea yang menjelaskan bahwa citra Korea telah mengalami peningkatan

dari 60,6% menkadi 67,3% pada tahun 2005, terutama peningkatan ini terjadi

dalam masyarakat Cina, dari 47,1% pada tahun 2004 menjadi 82,2% pada tahun

2005.

Tulisan lain yang menjelaskan mengenai hal ini adalah Sue Jin Lee, dalam

The Korean Wave: The Seoul of Asia. Ia menyebutkan dalam tulisannya bahwa

Korean Wave tersebut telah menyebar luas ke negara-negara di Asia, salah

satunya adalah di Cina. Salah satu kutipannya adalah, “Chinese people felt closer

to Korean Culture thanks to access to pop culture, even if they have never been to

the country” yang dikutip dari Korea Herald (Chen, 2006, hlm 3).30

Penulis melihat bahwa kedua penulis ini menggambarkan bagaimana

Korean Wave sebagai dapat menjadi sebuah alat diplomasi yang akan                                                             30 Sue Jin Lee, The Korean Wave: The Seoul of Asia, diakses dari www.elon.edu/docs/e-web/academics/communications/.../09SueJin.pd, pada tanggal 8 Mei 2011, pada pukul 11:55

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 39: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

19

    Universitas Indonesia  

memberikan efek positif terhadap Korea dilihat dari tiga hal, yaitu wisata, edukasi,

dan citra Korea dalam dunia internasional. Akan tetapi, tulisan ini hanyalah

menggambarkan fenomena Korean Wave saja dan tidak menggambarkan sebuah

aktivitas diplomasi yang dijalankan melalui kebijakan dan program-program

pemerintah. Tulisan tersebut hanyalah menjelaskan fenomena Korean Wave yang

dapat menjadi sebuah alat diplomasi yang dilihat melalui hasil-hasil yang

diberikan ole fenomena tersebut. Walaupun begitu, kedua tulisan ini dapat

menjadi sebuah gambaran positif dalam kemungkinan-kemungkinan akan sebuah

bentuk diplomasi publik yang baru yang dapat digunakan, yaitu melalui budaya

populer suatu negara.

Pop-Culture Diplomacy Dalam Hubungan antar Negara

Selain efek yang diterima oleh Korea melalui Korean Wave tersebut.

Beberapa penulis telah melakukan penelitian mengenai Korean Wave dalam

hubungan antar negara. Salah satu penulis, yaitu Chul Ho Cho dalam tulisannya

Korean Wave in Malaysia and Changes of the Korea-Malaysia Relations. Dalam

tulisannya tersebut, ia menggambarkan proses hubungan bilateral kedua negara

tersebut dimulai sejak belum adanya pengaruh Korean Wave sampai pada masa

Korean Wave telah memasuki Malaysia. Malaysia sebagai sebuah negara Islam

dan memiliki dengan multi etnis juga merupakan negara dimana masyarakatnya

juga menikmati kepopuleran Korean Wave tersebut. Chul Ho Choo menjelaskan

dalam tulisannya tersebut bahwa budaya populer Korea telah membuat hubungan

bilateral antara Malaysia-Korea tidak lagi hanya terbatas dalam lingkup negara

saja. Hal ini diperlihatkan melalui kerjasama antar dua negara tersebut yang telah

terjalin di luar lingkup pemerintahan. Salah satunya adalah pada Mei 2005,

dimana the Multimedia Development Corporation (MDC) Malaysia

menandatangani kesepekatan mengenai proyek budaya dengan Korea Culture &

Content Agency. Salah satu contoh lainnya adalah pada bulan dan tahun yang

sama, The Malaysian Communication and Multimedia Commision (MCMC) juga

melakukkan kesepakatan dalam kerjasama dibidang promosi penyiaran dengan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 40: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

20 

Universitas Indonesia

 

The Korean Broadcasting Commision.31Tidak hanya itu, didirikan juga sebuah

istitusi di Malaysia yang merupakan sebuah asosiasi dari para pengusaha Korea

dan Malaysia dalam rangka menjalin kerjasama dan persahabatan antar keduanya.

Tulisan ini menggambarkan peran fenomena Korean Wave sebagai sebuah

budaya populer yang berhasil mempengaruhi hubungan antara Malaysia dan

Korea. Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Malaysia jelas memiliki

kebudayaan dan nilai-nilai sosial yang berbeda dengan Korea. Akan tetapi,

keberadaan budaya populer Korea ini tetap dapat diterima dengan baik oleh

masyarakat Malaysia dan justru memberikan efek positif dalam hubungan

kerjasama kedua negara tersebut.

Tulisan lain yang menjelaskan mengenai penggunaan pop culture sebagai

sebuah cara diplomasi adalah tulisan Stefanie Layer yang berjudul An Explanation

of Japan’s Soft Power. Dalam tulisannya tersebut ia menjelaskan Jepang yang

menggunakan produk animasinya sebagai sebuah diplomasi dalam meningkatkan

opini masyarakat internasional terhadap Jepang. Selama ini Jepang dikenal

sebagai negara dengan tekhnologi tinggi yang identik dengan hard power. Jepang

juga dikenal dengan negara dengan orientasi ekonomi yang juga identik dengan

hard power. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1990an memberikan akibat

bagi Jepang dengan memotong alokasi dana dalam diplomasi publik dan

mengalokasikannya pada perbaikan ekonomi negara. Hal ini menurut penjelasan

Stefanie Layer memberikan dampak negatif terhadap Jepang dimata masyarakat

internasional.

Jepang akhirnya membuat keputusan untuk menggunakan soft power

sebagai cara diplomasinya. Seperti yang diketahui, Jepang memiliki produk

animasi yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jepang Animasi ini tidak

hanya disukai oleh kalangan anak-anak saja, tetapi juga disukai oleh kalangan

lainnya bahkan kalangan dewasa sekalipun. Hal ini pun pada akhirnya membuat

pemerintah Jepang menjadikan produk animasinya, yaitu manga sebagai cara

diplomasinya. Jepang mengekspor produk animasinya tersebut ke negara-negara

                                                            31 Chil Ho Cho, Korean Wave in Malaysia and Changes of the Korea-Malaysia Relations, diakses dari umrefjournal.um.edu.my/.../JPMM%202010_1%20Cho,%20Chul%20Ho.pdf, pada tanggal 8 Mei 2011, pada pukul 12:32

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 41: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

21

    Universitas Indonesia  

lainnya. Salah satu contoh yang digambarkan dalam tulisan tersebut adalah

diplomasi animasi Jepang di Jerman. Akan tetapi, hal ini dianggap tidaklah sukses

karena dianggap karakter animasi tersebut tidak sesuai dengan apa yang digemari

oleh masyarakat negara-negara lainnya terutama negara barat. Selain itu, karakter

animasi Jepang yang didominasi oleh bentuk mata yang besar justru dianggap

oleh masyarakat Jerman tidak mencerminkan kebudayaan Jepang serta kehidupan

masyarakat Jepang dan justru hanyalah sebagai tokoh animasi internasional.32

Tulisan Stefanie Layer ini pada dasarnya menggambarkan ketidakberhasilan

animasi Jepang yang dijadikan sebagai cara diplomasi. Tulisan mengenai aktivitas

diplomasi Jepang melalui animasinya ini pada dasarnya menunjukkan kebalikan

dari yang terjadi pada Korea. Sebagai negara yang menghasilkan budaya populer

terlebih dahulu dibandingkan dengan Korea, Jepang tidak dapat menyesuaikannya

dengan budaya-budaya negara lainnya, terutama adalah negara-negara barat.

Animasi Jepang yang identik dengan kartun animasi bermata besar ini justru tidak

dapat memperlihatkan sebagai sebuah produk Jepang dan hanyalah sebuah

animasi internasional. Walaupun karakter animasi Jepang ini dapat dikatakan

cukup populer dikenal di negara-negara lainnya, tetapi masyarakat negara-negara

tersebut hanyalah mengenai animasinya saja.

Beberapa karya ilmiah diatas telah menjelaskan mengenai perkembangan

Korean Wave, dampak Korean Wave bagi Korea dan juga dalam pengaruhnya ke

hubungan bilateral dengan negara lain maupun opini masyarakat internasional

mengenai diplomasi pop culture. Akan tetapi, tulisan-tulisan di atas belum

menjelaskan mengenai peran-peran yang bermain dalam perkembangan diplomasi

pop culture tersebut, dalam hal ini adalah Korean Wave. Dalam salah satu tulisan,

yaitu Pop Culture as an Instrument for Global Public Diplomacy: A Case Study of

the Influences of the Korean Wave on Asian Publics hanyalah menjelaskan

fenomena Korean Wave yang dapat menjadi sebuah alat diplomasi yang dilihat

melalui hasil-hasil yang diberikan ole fenomena tersebut. Akan tetapi, tulisan

tersebut tidaklah menjelaskan mengenai pemerintah Korea sebagai aktor negara

                                                            32 Stefanie Layer, An Exploration of Japan’s Soft Power, diakses dari www.culturaldiplomacy.org/.../manga-and-anime-an-exploration-of-japans-soft-power.pdf, pada tanggal 15 April 2011, pada pukul 18:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 42: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

22 

Universitas Indonesia

 

yang membuat kebijakan dalam melaksanakan dan menerapkan Korean Wave

sebagai sebuah alat diplomasi melalui kebijakan dan juga operasionalisasinya.

Padahal dalam sebuah bentuk diplomasi, kebijakan dan juga

operasionalisasi menjadi sebuah hal yang penting untuk menjelaskan secara benar

mengenai peran Korean Wave sebagai alat diplomasi publik. Tanpa adanya

kebijakan dan juga hasil, maka peran dari sebuah diplomasi publik tidak dapat

dikatakan secara jelas sebagai sebuah bagian dari diplomasi publik. Oleh karena

itu, dalam penelitian ini penulis berinisiatif untuk membuat sebuah penelitian

yang akan membahas mengenai peran Korean Wave sebagai sebuah bagian dari

diplomasi publik Korea melalui kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Korea

dan juga dalam operasionalisasinya dalam aktivitas diplomasi publik Korea.

I.5 Asumsi Penelitian

Permasalahan negara yang semakin kompleks, membuat diplomasi tidak

lagi hanya dapat dilakukan antar negara saja, tetapi juga aktor-aktor non-

negara

Budaya pop atau budaya populer dapat memberikan pengaruh terhadap

citra dari suatu negara yang memproduksinya melalui atraksi yang

menarik dari produk budaya pop itu sendiri.

Melalui asumsi pertama diatas, maka budaya pop atau budaya populer

dapat menjadi sebuah bagian dari diplomasi publik dari suatu negara

I.6 Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif33, yaitu peneliti sebagai

instrument utama untuk pengumpulan data dan pengolahan atau analisis data,

serta sangat memfokuskan perhatian pada proses dan arti dari suatu peristiwa

yang diteliti. Dalam pendekatan kualitatif, penelitian dapat dilakukan dalam tiga

tahapan utama, yaitu (1) Pengumpulan Data (Data Collective); (2) Pengolahan

                                                            33 John W. Creswell, Research Design: Qualitative and Quantittative Approaches, (Colifornia: Sage Publications, 1994), h. 145.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 43: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

23

    Universitas Indonesia  

Data (Data Analysis); dan (3) Laporan Penelitian (Report Writing).34 Penggunaan

metode kualitatif menjadi pilihan penulis dalam melakukan penelitian

dikarenakan penulis menilai fenomena ini merupakan fenomena baru yang

diangkat menjadi bagian dari pelaksanaan diplomasi. Selain itu, berdasarkan

penjelasan Neuman bahwa penelitian kualitatif cenderung lebih terbuka untuk

menggunakan variasi bukti dan pengungkapan isu-isu baru. Untuk itulah penulis

memilih metode kualitatif dalam penelitian mengingat pembahasan mengenai

kebudayaan pop atau kebudayaan popular itu sendiri masih terbatas dan tergolong

sebuah isu baru di dalam kajian ilmu Hubungan Internasional.

Pada tahap pengumpulan data, yang harus dilakukan adalah menetapkan

batasan parameter data yang dikoleksi. Ide dari penelitian kualitatif adalah dengan

sengaja menyeleksi informasi atau dokumen yang bisa secara baik menjawab

pertanyaan penelitian dengan mempertimbangkan empat parameter, yaitu: di

mana penelitian akan dilakukan (setting); siapa yang akan observasi atau

diwawancara (actors); apa yang akan diamati dari perbuatan aktor atau topik yang

ditanyakan dalam wawancara (events); dan perkembangan sifat dari peristiwa

yang dialami oleh aktor dalam setting tersebut (process).35 Pada tahap pengolahan

(analisa) data, informasi yang telah dikelompokkan menjadi kategori, memformat

informasi menajadi sebuah cerita, dan kemudian ditulis secara teks

kualitatif.36Jenis penelitian dapat dilihat berdasarkan: tujuan, manfaat, dimensi

waktu, dan teknik pengumpulan data. Berdasarkan tujuannya, penelitian ini

merupakan penelitian deskriptif, yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk

mendeskripsikan keadaan dan situasi secara sistematis, faktual, aktual dan akurat

mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antar fenomena yang diteliti.37

Berdasarkan manfaatnya, penelitian bersifat penelitian akademis/murni yang

bertujuan untuk memajukan pengetahuan dan kajian Ilmu Sosial dan serta tidak

memiliki manfaat praktis dalam jangka waktu dekat.38 Teknik pengumpulan data

                                                            34 Ibid, hal 148-161. 35 Ibid. hal. 148-149. 36 Ibid, hal, 153 37 W. Laurence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 3nd ed., (Boston: Allyn and Bacon, 1991), hal. 18-35. 38 Ibid, hlm 20

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 44: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

24 

Universitas Indonesia

 

yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi dan literatur,

dalam hal ini mengumpulkan informasi dari sumber-sumber seperti media cetak

atau elektronik. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua hal,

yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yang akan digunakan oleh

peneliti dalam penelitian ini adalah data yang didapatkan dari website-website

resmi Korea. Sedangkan data sekundernya akan didapatkan dari literature review

atas berbagai sumber-sumber seperti jurnal, koran, majalah, buku, maupun artikel

internet. Dokumen dalam hal ini juga mengacu pada teks atau apa saja yang

tertulis, tampak secara visual atau diucapkan melalui media komunikasi. 39

Selanjutnya tehnik pengidentifikasian data akan dilakukan dengan mereduksi

data-data yang dimiliki ke dalam pola ataupun kategori dan diinterpretasikan

dengan menggunakan skema tertentu. Pengorganisasian data tersebut ke dalam

kategori-kategori ini didasarkan pada tema, konsep, dan juga kemiripan sifat40.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyajian data dalam penelitian ini

akan berupa teks, uraian singkat, bagan, flowchart, dan sebagainya. Oleh karena

itu, penyajian datanya akan bersifat deskfriptif analitis dalam penelitian ini41.

Selanjutnya, penarikan kesimpulan dalam penelitian akan dilakukan dengan cara

menganalis kategori yang telah dibuat.

I.7 Tujuan dan Signifikansi Penelitian

Tujuan dari penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) menggambarkan

keberhasilan yang didapat Korea melalui aktivitas-aktivitas diplomasi yang

dilakukan melalui Korean Wave. 2) memberikan pandangan yang berbeda

terhadap bentuk diplomasi yang dapat dilakukan oleh suatu negara.

Penelitian ini memiliki beberapa signifikansi. Pertama, penelitian ini dapat

menjadi acuan ataupun gambaran terhadap pemerintah dalam menemukan solusi

yang tepat dalam mencapai kepentingan negaranya. Kedua, penelitian ini juga

dapat menjadi sebuah pemasukan baru bagi ilmu Hubungan Internasional,

                                                            39 Ibid, hlm. 219. 40 W. Lawrence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, (Boston: Allyn & Bacon, 2003), hlm 420-421. 41 Ibid.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 45: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

25

    Universitas Indonesia  

terutama kajian Masyarakat Transnasional. Hal ini juga dikarenakan bentuk

diplomasi yang selama ini masih sangat dominan adalah bentuk diplomasi

tradisional yang hanya diperankan oleh negara saja. Sedangkan Korea, sebagai

negara yang baru saja mengalami kemajuan yang sangat signifikan telah

menggunakan produksi hiburannya sebagai sebuah cara diplomasi negaranya.

I.8 Rencana Pembabakan Skripsi

Bab I: Pendahuluan

Dalam bab pendahuluan ini, terdiri dari latar belakang permasalahan, pertanyaan

permasalahan, kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian, sistematika

penelitian, serta tujuan dan signifikansi penelitian.

Bab II: Isi dan Pembahasan. Kebijakan dan Aktivitas Diplomasi Publik

Korea Selataan Melalui Korean Wave Periode 2005-2010

Bab kedua ini akan menjelaskan mengenai pengertian dari fenomena Korea Wave

itu sendiri baik dari awal mula dimulainya ekspor Korean Wave itu sendiri sampai

pada penyebaran dan peningkatan-peningkatan serta hasil positif yang didapatkan

Korea melalui Korean Wave ini. Selanjutnya, penulis akan menjelaskan mengenai

diplomasi kebudayaan Korea yang dijelaskan dalam kebijakan-kebijakan luar

negerinya dan dilanjutkan dengan program-program yang dikeluarkan Korea

dalam rangka menjalankan Korean Wave sebagai bagian dari diplomasi publik

Korea.

Bab III: Analisa Peran dan Fakor Korean Wave dalam Diplomasi Publik

Korea

Melalui penjelasan mengenai Korean Wave di bab sebelumnya, maka dalam bab

ini akan dibahas analisa penulis mengenai bagaimana posisi ataupun peran

Korean Wave dalam diplomasi tersebut.

BAB IV: Kesimpulan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 46: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

26 

Universitas Indonesia

 

Bab ini akan berisikan kesimpulan dari analisa yang dilakukan di Bab III, selain

itu bab ini juga akan berisikan saran-saran yang diharapkan dapat berguna bagi

perkembangan cara diplomasi dan bagi ilmu Hubungan Internasional.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 47: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

27

    Universitas Indonesia  

BAB II

KEBIJAKAN DAN AKTIVITAS DIPLOMASI PUBLIK KOREA SELATAN MELALUI KOREAN WAVE PERIODE 2005-2010

Pada bab II ini dibahas mengenai aktivitas diplomasi publik melalui

Korean Wave pada periode 2005 sampai periode 2010. Penjelasan dalam bab II

ini akan dilakukan dalam beberapa bagian. Pertama, bab ini akan diawali dengan

menjelaskan mengenai pengertian dari fenomena Korean Wave tersebut untuk

memberikan gambaran mengenai konsep dan perkembangan budaya populer

Korea tersebut. Kedua, akan dijelaskan kebijakan diplomasi publik Korea secara

umum yang merupakan dasar dalam aktivitas diplomasi publik Korea yang pada

akhinya akan semakin mengerucut pada Ministry of Culture, Sport and Tourism

(MCST) sebagai departemen yang bertanggung jawab dalam pengembangan

budaya Korea termasuk budaya populer Korea.

Melalui MCST tersebut, maka penjelasan selanjutnya mengenai aktivitas

diplomasi publik melalui Korean Wave ini akan dijelaskan dalam dua hal, yaitu

melalui bidang pariwisata dan juga melalui bidang pertukaran budaya sebagai

sebuah cara diplomasi yang dilakukan dengan dua arah. Kedua hal ini akan

dijelaskan melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh dua organisasi di bawah

MCST, yakni Korean Tourism Organization (KTO) dan juga Korean Foundation

for International Cultural Exchange (KOFICE). Selanjutnya, setelah selesai

penjabaran mengenai aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh kedua organisasi

tersebut, penulis akan melakukan analisa dari aktivitas-aktivitas tersebut melalui

kolaborasi data mengenai respon masyarakat internasional mengenai Korea

melalui Korean Wave tersebut.

II. 1 Definisi Fenomena Korean Wave dan Perkembangannya

Korean Wave merupakan fenomena budaya pop ataupun budaya populer

Korea yang mengalami penyebaran melalui media ke negara-negara lainnya.

Penyebaran ini dimulai dengan penyebaran drama-drama Korea yang selanjutnya

diikuti oleh musik, dan juga gaya hidup masyarakat Korea. Korean Wave ini pada

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 48: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

28 

Universitas Indonesia

 

akhirnya digunakan tidak hanya digunakan untuk menunjukkan kecintaan

terhadap budaya pop Korea saja, tetapi juga segala hal yang berhubungan degan

Korea. Istilah lain Korean Wave, yaitu Hallyu Wave(hanliu, 韓流) merupakan

istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh salah satu jurnalis Cina uintuk

menjelaskan kepopuleran budaya pop Korea di Cina pada tahun 1990an. 42

Fenomena Korean Wave ini dimulai pada saat Cina mulai menayangkan

drama Korea, yaitu What is Love All di salah satu stasiun TV Cina, China Central

Television Station (CCTV) pada sekitar tahun 1997. Drama pertama Korea yang

ditayangkan ini mendapatkan respon yang sangat baik, dan diputarkan kembali

pada tahun 1998 dan berada ditingkat tertinggi kedua dalam sejarah perfilman di

Cina. Setelah itu, pada tahun 1999, salah satu drama Korea lainnya ditayangkan di

Cina dan Taiwan, yaitu Stars in My Heart dan kembali menjadi drama terpopuler

di kedua negara tersebut. Sejak saat itu, drama Korea menjadi lebih terkenal dan

diikuti dengan disiarkan di negara-negara lainnya, seperti Hongkong, Taiwan,

Singapura, Vietnam, Jepang, Indonesia, Thailand, dan negara-negara lainnya.

Vietnam juga merupakan salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang

mengalami kepopuleran budaya populer Korea. Kepopuleran budaya populer

Korea atau Korean Wave di negara ini telah dimulai sejak tahun 1997 bersamaan

dengan Cina melalui drama Korea Feeling yang disiarkan di salah satu stasiun

televisi Vietnam, Ho Chi Minh City TV. Sejak saat ini fenomena kepopuleran

Korean Wave ini terus berkembang, dengan diikuti oleh kepopuleran musik dan

juga selebriti-selebriti Korea. Berbeda dengan Cina dan Vietnam, kepopuleran

Korean Wave di Jepang dimulai sejak tahun 2003 setelah drama Korea Winter

Sonata ditayangkan di stasiun televisi Jepang NHK April 2003 dan setelah itu

ditayangkan kembali pada Desember 2003, dan pada musim panas 2004. 43

Penayangan Winter Sonata inipun menjadi awal dari Korean Wave di Jepang, atau

                                                            42 Doobo Shim, Hybridity and the Rise of Korean Popular Culture in Asia, diakses dari http://www2.fiu.edu/~surisc/Hybridity%20and%20the%20rise%20of%20Korean%20popular%20culture%20in%20Asia.pdf, pada tanggal 20 Juli 2011, pada pukul 11:25, hlm. 28-30 43 Millie Creighton, Japanese Sur�ng the Korean Wave: Drama Tourism, Nationalism, and Gender via Ethnic Eroticisms, diakses dari http://www.uky.edu/Centers/Asia/SECAAS/Seras/2009/03_Creighton_2009.pdf, pada tanggal 22 Juli 2011, pada pukul 19:36, hlm. 12-13

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 49: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

29

    Universitas Indonesia  

yang biasa disebut dengan “Korea Boom” oleh masyarakat Jepang. Beberapa

artisnya menjadi artis utama yang terkenal di Jepang yang juga memberikan

pengaruh pada konsumsi produk Korea dan segala hal yang berhubungan dengan

Korea.44

Perkembangan Korean Wave ini tidak hanya didominasi oleh drama-

drama Korea saja, tetapi juga musik Korea itu sendiri. Di awali pada akhir tahun

1990an, salah satu stasiun televisi musik regional, V Channel, menayangkan

video musik musisi Korea yang pada akhirnya menjadi sangat populer di Asia.

Selain itu, salah satu grup musik Korea, yaitu H.O.T telah mulai terkenal di Cina

dan Taiwan pada tahun 1998. Kepopuleran grup musik H.O.T ini menjadi awal

dari mulai terkenalnya grup-grup musik Korea lainnya, seperti Ahn Jae-Wook

(Salah satu penyanyi dan pemain drama Korea di Stars in my heart), NRG dan

Shinhwa, Baby V.O.X yang juga telah mengadakan konser di Cina dan dihadiri

oleh lebih dari 30.000 penonton. Band H.O.T ini sangat populer sehingga

penjualan album mereka terus berlanjut bahkan sampai band tersebut bubar pada

pertengahan 2001. Pada tahun 2002 juga, salah satu penyanyi remaja Boa yang

merilis albumnya di tahun tersebut mencapai urutan teratas di Oricon Wekkly

Chart, salah satu urutan tangga lagu di Jepang yang setara dengan American

Billboard Charts. Lagu-lagu dan gerakan tari dan band-band Korea seperti

Wonder Girls, Girls’ Generation, Super Junior, Shinee, DBSK menjadi sangat

populer dinegara-negara lain, seperti Jepang, Cina, dan juga negara-negara Asia

Tenggara

Begitu juga dengan perfilman Korea, salah satu film Korea yakni Shiri

menjadi sebuah film yang sangat populer saat itu dan juga ditayangkan di negara-

negara Asia lainnya, seperti Hongkong, Jepang, Taiwan, dan Singapura.

Walaupun film ini juga mendapatkan banyak kritikan, tetapi film ini menjadi awal

dari masuknya film-film Korea di pasar internasional. Karena sejak saat itu, film-

film Korea menjadi flm-film yang juga mendominasi bioskop-bioskop di Asia.

Tidak hanya itu, kesuksesan perfilman Korea juga mulai memasuki pasar

                                                            44 Shim Doobo, Perkembangan Gelombang Korea, diakses dari http://kyotoreviewsea.org/KCMS/?p=251&lang=id, pada tanggal 28 Juli 2011, pada pukul 11:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 50: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

30 

Universitas Indonesia

 

Amerika dan Eropa, seperti salah satunya adalah perusahaan perfilman Amerika

Hollywood Studios telah membuat ulang film tersebut dalam versi mereka.

Kepopuleran tiga jenis budaya populer tersebut pada akhirnya juga

mendorong kepopuleran dari artis-artis yang juga berlaga baik dalam drama, film,

dan musik tersebut. Salah satunya adalah Ahn Jae-Wook yang merupakan artis

paling terkenal terutama di Cina pada tahun 2001. Kepopuleran artis-artis tersebut

pada akhirnya memberikan dampak terhadap konsumsi kebudayaan seperti

makanan, gaya berpakaian, riasan wajah yang sedang tren saat ini, termasuk juga

operasi plastik yang memang terkenal dan menjadi sebuah hal yang biasa dalam

masyarakat Korea. Seperti di sepanjang jalan Hanoi, Vietnam dan juga Beijing,

Cina menjadi sebuah hal yang biasa disaat terlihat para fans Korea menggunakan

banyak anting ditelinganya dan juga celana baggy yang merupakan jenis pakaian

yang sedang tren saat itu di Korea. Selain itu, salah satu fans artis Korea Lee

Young-ae, SongHae Gyo, Kim Hee Sun, dan Jeon Ji-Hyun di Taiwan dan Cina

bahkan sampai melakukan operasi plastik demi merubah muka mereka seperti

artis-artis tersebut. Pada dasarnya kepopuleran akan budaya Korea ini tidak saja

hanya digambarkan dan dipengaruhi oleh-oleh artis-artis tersebut, tetapi juga

dalam cerita-cerita dalam drama tersebut yang memang diperankan oleh artis-artis

tersebut.

Melalui penjabaran mengenai definisi Korean Wave di atas, dapat dilihat

bahwa fenomena Korean Wave ini pada akhirnya akan memberikan kemajuan

bagi Korea secara keseluruhan. Kesukaan terhadap drama Korea, musik dan juga

film Korea akan mendorong para penggemar tersebut untuk mulai menyukai hal-

hal lain dari Korea yang pada dasarnya mereka ketahui dari drama-drama tersebut.

Sebagai contoh adalah telepon genggam. Jenis telepon genggam yang digunakan

dalam satu drama Korea pada akhirnya juga akan menjadi perhatian para

penggemar yang akan membuat peningkatan dalam penjualan jenis telepon

genggam tersebut. Begitu juga dengan aspek-aspek Korea lainnya. Pada akhirnya

kepopuleran budaya populer Korea atau juga dengan Korean Wave ataupun

Hallyu menjadi budaya populer Korea yang tidak hanya berhubungan dengan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 51: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

31

    Universitas Indonesia  

drama, film, dan musik saja, tetapi juga makanan Korea, gaya berpakaian Korea,

dan sebagainya45.

II.2 Kebijakan Korea Dalam Diplomasi Budaya

Sejak tahun 2005, pemerintah Korea Selatan mulai membangun Korean

Wave sebagai bagian dari diplomasi publiknya. Seperti yang dijelaskan dalam

kebijakan luar negeri Korea pada tahun 2005 bahwa,“Moreover, building upon

the positive image from the “Korean Wave,” MOFAT has engaged in public

diplomacy, increasing cultural and promotional activities to further enhance the

national image as a leading country in the cultural field”46 Melalui penjelasan

tersebut, Korean Wave menjadi bagian dalam diplomasi kebudayaan Korea dalam

memperkenalkan Korea ke masyarakat internasional. Dijelaskan secara lebih

lanjut dalam principal Goals and Directions of Korean Cultural Diplomacy pada

tahun 2007, terdapat dua hal sasaran utama dari kebijakan diplomasi kebudayaan

ini, yaitu:47

1. Mendorong kerjasama dengan negara-negara lain melalui pertukaran

budaya

Mendukung berbagai program pertukaran budaya yang

dilaksanakan baik oleh pemerintah dan non-pemerintah yang akan

membuat fondasi yang kuat dalam kerjasama Korea dengan

negara-negara lainnya.

Dalam era globalisasi ini, program pertukaran budaya tidak akan

hanya membantu Korea dalam meningkatkan identitas kebudayaan

nasionalnya saja, tetapi juga akan membantu meningkatkan                                                             45 Kwanyong Kim, “Welcome Greeting”, diakses dari http://www.hallyudreamfestival.or.kr/intro/e_intro2.html, pada tanggal 25 Oktober 2011, pada pukul 16:50 46 “Promotion of Korean Culture Through the “Korean Wave”, dalam 2006 Diplomatic White Paper, diakses dari http://www.mofat.go.kr/english/political/whitepaper/index.jsp, pada tanggal 22 Oktober 2011, pada pukul 16:44 47 “Principal Goals and Directions of Korean Cultural Diplomacy and Related Policies”, diakses dari http://www.mofat.go.kr/english/help/include/newopenmofat.jsp?MOFATNAME=English&INDEXNAME=MOFAT_HOME&PK=298757KEY313&SEQNO=298757&PARTNAME=TYPE_ENGLISH, pada tanggal 17 November 2011, pada pukul 11:32

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 52: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

32 

Universitas Indonesia

 

kesadaran ataupun pengetahuan dan apresiasi dari masyarakat dari

budaya yang berbeda di seluruh dunia.

2. Memperkuat daya saing nasional melalui peningkatkan citra nasional

Keberadaan budaya yang telah menjadi salah satu kunci utama

dalam abad ke-21, efek ekonomi dari industri budaya dengan nilai

tambah yang diberikan dalam bisnis sekarang ini mulai dievaluasi

kembali. Upaya diplomatik dalam isu budaya ini pada akhirnya

akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan citra nasional

Korea di mata internasional yang nantinya akan memberikan

kontribusi untuk memperkuat daya saing keseluruhan dari seluruh

masyarakat internasional.

Melalui dua sasaran utama diplomasi budaya di atas, pemerintah Korea akan

melaksanakannya melalu beberapa strategi pelaksanaan, yaitu: melaksanakan

aktivitas promosi dan budaya secara komprehensif dan sistematis, mendirikan dan

mengembangkan strategi promosi dan budaya khusus disesuaikan dengan negara

ataupun daerahnya, memperkuat kemitraan dengan organisasi lokal serta

perusahaan Korea di luar negeri, memperluas program budaya berorientasi masa

depan, dan berpartisipasi aktif dalam organisasi internasional. Melalui kebijakan

tersebut, Korea berupaya mendorong film-film Korea dan juga drama Korea ke

negara-negara luar untuk mempenalkan budaya Korea. Seperti yang dijelaskan

dalam Diplomatic White Paper 2008, bahwa Kementrian Luar Negeri dan

Perdagangan Korea dalam memperkenalkan budaya Korea ke negara-negara luar

juga dengan mendorong diplomasi publik melalui penawaran stasiun televisi

negara-negara asing video-video dokumentasi yang menggambarkan Korea dan

juga kebudayaan Korea.48 Upaya pemerintah Korea dalam menggunakan Korean

Wave sebagai bagian dalam aktivitas diplomasinya ini pun terus dijelaskan dalam

Diplomatic White Paper yang dimulai dari tahun 2005 seperti yang telah

                                                            48 Supporting Overseas Screening of Korean Films and TV Dramas, dalam “2008 Diplomatic White Paper”, diakses dari http://www.mofat.go.kr/english/political/whitepaper/index.jsp, pada tanggal 22 Oktober 2011, pada pukul 19:08

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 53: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

33

    Universitas Indonesia  

dijelaskan di atas, tahun 2006, 2007, 2008, 2009, dan juga 2010. Pembahasan

mengenai Korean Wave tersebut selalu berada dalam penjelasan tersendiri,

dimana hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah Korea dalam mendorong

Korean Wave sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi publiknya.

Kementrian Kebudaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea (disebut dengan

MCST) merupakan agen pemerintah Korea yang bertanggung jawab dalam area

pariwisata, kebudayaan, dan juga olahraga. 49 Keberadaan kementrian ini juga

berperan dalam mendorong dalam memperkenalkan Korean Wave dan aspek

budaya serta olahraga Korea baik kedalam masyarakatnya domestik negaranya

dan juga dalam memperkenalkannya ke masyarakat internasional melalui

program-program yang diadakannya. Seperti yang dijelaskan oleh Mentri

Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata pada tahun 2006 bahwa,

“The ministry has set up public relations offices overseas called “Korea Plaza” to

strengthen the country's image through the globalization of hallyu, the boom of

Korean pop culture overseas. In particular, the government will support

exchanges of cultural contents with foreign countries away from unilateral or

export-oriented activities.”50

Pernyataan yang dikeluarkan ini secara jelas memperlihatkan upaya Korea dalam

mendorong Korean Wave sebagai bagian dari diplomasi budayanya untuk

mencapai tujuan diplomasinya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Dalam

hal ini MCST membangun hubungan bersama berbagai entitas lainnya, dengan 5

tujuan utama yang digambarkan dalam skema di bawah ini, yaitu:51

                                                            49 History, diakses dari http://www.mct.go.kr/english/aboutus/history.jsp, pada tanggal 1 November 2011, pada pukul 11:13 50 Hallyu is new growth engine in culture industry, diakses dari http://www.mct.go.kr/english/issue/issueView.jsp?pSeq=492, pada tanggal 3 November 2011, pada pukul 13:!4 51 Jessica Chen, A Study on Cultural Tourism and South Korean Government, diakses dari http://c030.wtuc.edu.tw/ezcatfiles/c030/img/img/743/282605760.pdf, pada tanggal 21 April 2011, pada pukul 19:39.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 54: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

34 

Universitas Indonesia

 

 

Skema 2. 1 5 Tujuan Aktivitas MCST

Sumber: http://c030.wtuc.edu.tw/ezcatfiles/c030/img/img/743/282605760.pdf

Kebijakan pemerintah dalam menggunakan Korean Wave sebagai bagian

dalam diplomasinya juga dijelaskan dalam kebijakan pariwisatanya. Dimana

dijelaskan pada tahun 2005, “Expansion of Korean Wave Fever, Diversification

of Korean Wave, and Boosting Visitation of Korea through Promotion of Korean

Wave Product” menjadi salah satu kebijakan Korea dalam bidang pariwisata.

Dijelaskan secara lebih lanjut bahwa peningkatan pariwisata Korea ini dilakukan

melalui beberapa hal, seperti membuat nama merek untuk pariwisata Korea dan

juga menggunakan “Dynamic Korean Wave Campaign” sebagai cara marketing

untuk meningkatkan wisatawan yang datang ke Korea. Melalui Dyanmic Korean

Wave Campaign ini, pemerintah Korea akan menggunakan aspek-aspek Korean

Wave seperti drama, film, musik, dan juga selebriti-selebriti Korea dalam berbagai

program pariwisata Korea untuk meningkatkan wisatawan asing yang datang ke

Korea.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 55: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

35

    Universitas Indonesia  

II.3 Korean Wave dalam Diplomasi Budaya Korea

Seperti yang telah dijelaskan diawal bab ini bahwa, terdapat dua organisasi

pemerintah Korea yang mendukung dan sangat berperan penting dalam

memperkenalkan Korean Wave baik itu ke masyarakat domestik negaranya dan

juga ke masyarakat internasional. Kedua organisasi ini berdiri dan bergerak di

bawah Kementrian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata (MCST) sebagai salah

satu cara unutk mencapai tujuan diplomasi kebudayaan Korea. Kedua organisai

tersebut adalah Korean Tourism Organization (KTO) dan Juga Korean

Foundation For International Cultural Exchange (KOFICE). Kedua organisasi ini

jelas menggunakan cara yang berbeda berdasarkan tujuan masing-masing

organisasi tersebut didirikan.

II.3.1 Korean Wave Melalui Korean Tourism Organization (KTO)

KTO merupakan organisasi yang didirikan berdasarkan undang-undang

Korea Selatan dan memiliki tugas untuk mempromosikan industri pariwisata

Korea. Organisasi didirikan pada tahun 1962 sebagai sebuah perusahaan investasi

pemerintah yang bertanggung jawab terhadap industri pariwisata Korea

berdasarkan International Tourism Corporation Act. Selain itu organisasi ini juga

dijalankan berdasarkan kebijakan atau aturan pemerintah, yaitu Tourism

Promotion Law yang dikeluarkan pada tahun 1961. Pada awalnya, organisasi ini

hanya fokus untuk mempromosikan Korea sebagai salah satu negara tujuan untuk

berwisata masyarakat asing. Akan tetapi, dimulai pada tahun 1980an,

mempromosikan pariwisata domestik menjadi salah satu tugas dari KTO. Visi

dari organisasi ini adalah untuk membuat paradigma baru dalam industri

pariwisita, dan menjadikan Korea sebagai tempat yang selalu diingat untuk

kembali lagi.

Pada intinya, organisasi ini dibentuk untuk mengembangkan urusan

budaya dan juga pariwisata melalui aktivitas promosi dalam menarik wisatawan,

melakukan penelitian dan pengembangan tekhnologi pariwisata untuk memelihara

industri pariwisata sebagai sebuah alat dari pertumbuhan ekonomi, melalui

kerjasama dengan pemerinah lokal dan industri budaya lainnya, dan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 56: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

36 

Universitas Indonesia

 

pengembangan penginapan dan konsultasi. Sejak 2005, dengan masuknya Korean

Wave sebagai bagian diplomasi publik Korea berdasarkan kebijakan luar negeri

Korea pada tahun 2005 dan tahun-tahun selanjutnya dalam 2006 Korean

Diplomatic White Paper. KTO sebagai salah satu organisasi yang bertanggung

jawab dalam bidang pariwisata juga menggunakan Korean Wave yuang dilibatkan

dalam program-programnya yang direncanakan dan dijalankan setiap tahunnya.

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai program-program pariwisata Korea

sejak tahun 2005-2010 dan beberapa penjelasan mengenai acara-acara dalam

program tahunan tersebut, serta posisi Korean Wave dalam program tahunan

tersebut yang dijelaskan dalam Visit Gyeonggi-Korea 2005, Visit Jeju Year 2006,

Visit Gyeingbuk-Korea 2007, Visit Gwangju Jeonnam Korea Year 2008, Visir

Incheon 2009, dan Visit Korea Year 2010-2012

II.3.1.1 Visit Gyeonggi-Korea 2005: Center of Korea Wave

Pada tahun 2005 ini, KTO meresmikan tahun 2005 tersebut sebagai “Visit

Gyeonggi-Korea Year 2005”. Sebagai salah satu provinsi di Korea, Gyeonggi

memiliki banyak objek pariwisata, dan memiliki nilai sejarah yang penting bagi

Korea. Hal ini merupakan salah satu alasan yang mendorong KTO untuk

menjadikan tahun 2005 tersebut sebagai “Visit Gyeonggi-Korea Year 2005”.

Selain itu, lebih dari setengah dari total jumlah penduduk Korea tinggal di

provinsi tersebut, dan setidaknya sekitar lima juta wisatawan mendatangi provinsi

ini melalui bandara Incheon yang memang berada di provinsi ini. Seperti yang

dijelaskan oleh Chung Dong-che, Mentri Kebudayaan dan Pariwisata Korea,

“Setting its sights on raking in 3.5 trillion won in tourism revenues and attracting

a target of 6.9 million tourists during the year, the Preparatory Office for Visit

Gyeonggi-Korea 2005 plans to carry out diverse and unique projects - 31 projects

in a total of five fields. The projects include 10 international festivals, to be held

during the tourism promotion period, and organization of the second Gyeonggi

Tour Exhibition, and the construction of the Goyang Tourism and Culture

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 57: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

37

    Universitas Indonesia  

Complex.In a ceremony marking the declaration of Visit Gyeonggi-Korea

2005”.52

Salah satu tujuan program ini adalah untuk menentukan identitas pariwisata

provinsi Gyeonggi dan sebagai sebuah batu loncatan untuk ekspansi industri.

Program Visit Gyeonggi-Korea 2005 ini menggunakan tema “Gyeonggi Province,

the Heart of Korea – Visit Gyeonggi Province and Taste Korea at a Glance”.

Berbagai acara dibuat dalam rangka menarik wisatawan asing ke Korea, seperti

mengunjungi DMZ gratis, serta berbagai jenis fetival seperti Puchon International

Fantastic Film Festival, World Ceramic Biennale Festival, dan World Peace

Festival. Selain untuk memperlihatkan kebudayaan tradisional Korea melalui

bangunan-bangunan sejarah yang bertempat di kawasan ini, kawasan Gyeonggi

ini juga merupakan kawasan yang sering digunakan sebagai lokasi pengambilan

gambar drama-drama Korea, seperti Daejang-geum, My Sassy Girl, King and the

Clown. Hwaseong Fortress yang merupakan salah satu tempat sejarah kerajaan

Korea merupakan tempat pengambilan gambar Daejang-geum, yang merupakan

drama Korea yang sangat populer di negara-negara lainnya.53 Melalui program -

Visit Gyeonggi-Korea 2005 ini pemerintah berupaya untuk mendorong dan

memperkenalkan tempat-tempat sejarah Korea melalui kepopuleran budaya pop

Korea, yaitu Korean Wave dengan mendorong objek-objek wisata tersebut

sebagai objek utama dalam berjalannya program tersebut.

Dalam program Visit Gyeonggi-Korea 2005 Jung Jun-Ho salah satu artis

Korea dipilih sebagai duta perwakilan masyarakat program tersebut. Jung Jun-Ho

merupakan salah satu selebriti terkenal dalam Korea Wave yang mewakili

industri perfilman Korea di Jepang.54 Ia menjadi duta kedua program tersebut

setelah Park Ji-eun (pemain olahraga golf) yang diresmikan pada tanggal 6 Januari

tahun 2005. Jung Jun-Ho merupakan salah satu selebriti yang terkenal di Jepang                                                             52 Korea Aims to Join Global Top 10 with 10 million Inbound Tourists, diakses dari 53 A Treasure of Tourist Attractions - Gyeonggi greets tourists with fascinating tour programs during 'Visit Gyeonggi-Korea 2005', diakses dari http://www.newsworld.co.kr/cont/0502/61.htm, pada tanggal 9 November 2011, pada pukul 23:57 54 Market the Tourism in Gyeonggi through Young Korean Wave Stars, diakses dari http://english.gg.go.kr/news/viewToday.jsp?seq=407&page=59&method=&query=, pada tanggal 10 November 2011, pada pukul 18:35

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 58: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

38 

Universitas Indonesia

 

melalui filmnya Honor of the Family yang ditayangkan di Jepang. Salah satu

kegiatan yang diikuti oleh Jung Jun-ho dalam mendukung berjalannya program ini

adalah berpartisipasi dalam acara Goyang Marathon yang diadakan di kota

Goyang, provinsi Gyeonggi ini pada tanggal 29 Mei 2005. 55 Acara Goyang

Marathon merupakan bagian dari pemerintah Gyeonggi dalam mempromosikan

pendirian Hallyuwood di kota tersebut. Pendirian Hallyuwood ini bertujuan untuk

mengumpulkan berbagai macam budaya populer dan jenis pariwisata lainnya

yang tersebar di seluruh provinsi Gyeonggi dalam satu poros, yaiu Hallyu atau

yang juga disebut sebagai Korean Wave. Tempat ini menyediakan berbagai

macam fasilitas, seperti fasilitas untuk merasakan dan mengalami pengalaman

mengenai Korean Wave yaitu hallyu boulevard, star village, permainan dunia

hallyu, dan berbagai macam acara lainnya. Taman bermain ini juga dilengkapi

dengan fasilitas-fasilitas pendukung Korean Wave, seperti lokasi pengambilan

gambar bagi drama-drama Korea dan juga akademi Hallyu. Selain itu, tentu saja

juga dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas pariwisata, seperti penginapan,

hotel, tempat makan, dan sebagainya.56

II.3.1.2 Visit .Jeju Year 2006: Hawai of Korea

Seteleh selesainya program Visit Gyeonggi-Korea 2005, tahun 2006

dicanangkan sebagai Visit Jeju Year. Jeju merupakan pulau yang terletak di

daerah selatan Korea, dan membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan

pesawat untuk pergi ke pulau tersebut dari kota Seoul, Busan, dan Gwangju.

Pulau ini juga disebut sebagai “Honeymoon Island of Korea”. Berbagai macam

acara diadakan pada tahun tersebut seperti Jeju Cherry Blossom Festival, Jeju-s

Royal Azaleas, acara pembuatan Kimchi yang merupakan makanan tradisional

Korea, Jungmin Beach Film Festival, Samyang Black Sand Festival, dan acara

yang bertemakan Korean Wave yang diadakan pada bulan Oktober dengan

                                                            55 Movie star Jung Jun-ho acts as the PR Ambassador for 2005, the Visit Gyeonggi-Korea Year, diakses dari http://english.gg.go.kr/board/viewToday.jsp?lm=01&seq=438&page=7&method=&query=, pada tanggal 11 November 2011, pada pukul 14:52. 56 Overview of Project, diakses dari http://www.h-wood.co.kr/en/work/work01.php, pada tanggal 11 November 2011, pada pukul 15:12

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 59: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

39

    Universitas Indonesia  

mengadakan konser yang bertajuk “Korean Stars”. 57 KTO mengadakan sesi

tandangan untuk para penggemar artis-artis Korean Wave terhadap para artisnya

yaitu dalam acara Korea-China-Japan Korea Fever Festival.

Peresmian program Visit Jeju Year 2006 ini dilaksanakan pada 10 Januari.

Acara peresmian ini juga melibatkan 20 penyanyi Korea untuk memeriahkan

acara tersebut. Selain itu, Go Du-Shim artis Korea dan 3 orang hiburaner lainnya

dipilih sebagai perwakilan untuk memperkenalkan dan mempromosikan program

tersebut. Dalam acara peresmian tersebut, Kim Tae-hwan gubernur provinsi Jeju

juga menjelaskan “the government will create a Hallyu Image Complex and

organize international event designed to publicide the tourist, leisure and well-

being aspects of the island” sebagai bagian dari Visit Jeju Project untuk semakin

menyebarluaskan dan mempromosiakan budaya populer Korea, Hallyu Wave atau

Korean Wave.58 Hal ini dijelaskan oleh Kim Chan, Direktut Umum Pariwisata,

Kementrian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata bahwa, “Celebrating the Visit

Jeju Year last year, Jeju developed such tourist products as Korean-Chinese-

Japanese hiburaners'golf competition and tour programs related to the opening

ceremony of the Hallyu Expo in Asia and the shooting of the movie 'Tae Wang Sa

Shin Gi'In other locations, tourist programs such as the Ulsan Summer Festival

and those related to Bigeum and Cheongsan Islands, known for shooting 'Waltz of

Spring'made their debuts.”59

Hallyu Expo ini merupakan sebuah pameran internasional bintang-bintang

Hallyu, acara-acara televisi dan film dan merupakan acara internasional pertama

dan terpanjang terkait dengan Hallyu Wave. Acara ini mulai dilaksanakan pada

tanggal 29 November 2006 dan akan terus berlanjut sampat tanggal 10 Maret

                                                            57 Ibid., 58 2006 proclaimed "Year to Visit Jeju", diakses dari http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=32&bno=601127404&seq=35, pada tanggal 13 November 2011, pada pukul 22:12 59 Transrip wawancara Kim Chan, dalam Keeping on Evolving Korean Wave, diakses dari http://www.newsworld.co.kr/cont/0703/32.htm, pada tanggal 11 November 2011, pada pukul 18:26

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 60: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

40 

Universitas Indonesia

 

2007, di Jeju Convention Center, Pulau Jeju.60 Gambar di bawah ini merupakan

simbol acara tersebut, dimana tulisan dalam bahasa Korea tersebut

menggambarkan kata Hallyu yang memang identik dengan budaya populer Korea,

Korean Wave.

 

Gambar 2. 1 Lambang Hallyu Expo 2006

Sumber: http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_2_1.jsp?cid=293296#Lang_Content_Layer

Selain itu, acara ini juga akan meliputi segala hal yang berhubungan

dengan drama, film, musik, permainan, dan juga selebriti yang telah memberikan

kontribusi dalam Hallyu Wave atau yang juga disebut dengan Korean Wave.

Acara ini akan memperlihatkan sejarah perkembangan budaya populer Korea

sejak pertama dimulai, dan juga prospek Hallyu Wave kedepannya. Dalam acara

ini juga terdapat konser-konser para penyanyi Korea dan pertemuan penggemar

dengan artis Korea.

Bae Yong-Jun, yang merupakan salah satu artis Korea yang terkenal

dengan dramanya Winter Sonata dipilih sebagai perwakilan dalam acara

tersebut. 61 Bae Yong-Jun merupakan salah satu artis Korea yang sangat

berpengaruh dalam perkembangan Korean Wave. 62 Selain Bae Yong-jun,

beberapa selebriti lainnya ikut berperan dalam acara ini seperti, Chae Yeon, SG

Wannabe, Lee Jeong-hyun, Super Junior, Dong Bang Shin Ki (DBSK),dan juga                                                             60 Seats to Hallyu Expo in Short Supply, diakses dari http://english.kbs.co.kr/entertainment/news/1425666_28572.html, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 22:10 61 Hallyu Expo in Asia, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_2_1.jsp?cid=293296, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 22:45 62 Millie Creighton, op. Cit, hlm. 16

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 61: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

41

    Universitas Indonesia  

artis-artis lainnya. Seven, salah satu penyanyi Korea yang saat itu baru akan

memulai karirnya dalam bidang perfilman juga dilibatkan dalam pertemuan

dengan para penggemar dalam sesi acara “Se7olution in The World”pada tanggal

21 Januari, Lee Jun-ki salah satu artis popular di Koreapun juga mengadakan sesi

pertemuan dengan penggemarnya dengan tema ”BISANG (飛上)” pada tanggal 27

Januari. Sesi pertemuan dengan para penggemarnya ini menjadi acara yang terus

diadakan selama program tersebut berlangsung dengan tema dan selebriti yang

berbeda disesuaikan dengan tema.63

II.3.1.3 Visit Gyeongbuk-Korea 2007

Pada tahun 2007 ini, KTO meresmikan tahun tersebut sebagai Visit

Gyeongbuk-Korea 2007 sebagai salah satu program pariwisata dalam

mempromosikan sejarah Korea. Melalui program ini, KTO juga mengadakan

berbagai acara seperti festival, perayaan, dan juga pameran budaya dunia. 64

Daerah Gyongbuk disebut juga dengan Gyeongsangbuk ini pada dasarnya mudah

diakses melalui ibukota Korea, Seoul. Gyeongbuk terletak di wilayah tenggara

Korea dan merupakan pusat daerah dari sejumlah atraksi budaya kuno, serta

beberapa diantaranya telah diresmikan sebagai warisan budaya dunia oleh

UNESCO. Budaya kono yang terdapat di daerah ini juga merupakan warisan

budaya dari Dinasti Silla, Kerajaan Misterius Gaya, dan juga budaya Dinasti

Joseon.

Selama sepanjang tahun tersebut, berbagai acara dan pertunjukan

dipersiapkan oleh Korea dengan tema yang berbeda, tetapi menyoroti dan fokus

terhadap berbagai era Korea. Pertunjukan-pertunjukan tersebut seperti diantaranya,

pertunjukan mengenai perjalanan Dinasti Silla, pertunjukan musik dan tari

tradisional di teater terbuka di penginapan Bomun, pertunjukan tari topeng Hahoe

di Andong, dan sebagainya. Selain itu, KTO juga menyiapkan program templey                                                             63 Hallyu Stars to Meet Fans in Cheju, diakses dari http://www.mykoreanstars.com/forums/showthread.php?t=145, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 19:56 64 KTO Toronto, Experience Gyeongsangbuk-do Province During “Visit Gyeongbuk-Korea 2007” Year!, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/OO/OO_EN_13_3_2.jsp?cid=347709#Lang_Content_Layer, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 14:07

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 62: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

42 

Universitas Indonesia

 

stays bagi para wisatawan yang berkeinginan untuk mengetahui lebih dalam

mengenai budaya Korea.65 KTO juga menyiapkan berbagai acara lain seperti,

fetival tari topeng, memperkenalkan minuman keras khas Korea, festival kue dan

festival lain yang berhubungan dengan budaya tradisi masyarakat, budaya, dan

juga pertanian Korea. Selama bulan Agustus-Oktober menjadi acara puncak

dalam program Visit Gyeongbuk Korea ini. Dimana, dalam periode 3 bulan ini,

KTO mengadakan pameran budaya internasional Gyeongju. Acara ini terdiri dari

beberapa hal seperti, pertunjukan dan pameran makanan, mode pakaian, film,

seminar, dan juga kebudayaan remaja internasional.

Pada program Visit Gyeongbuk-Korea 2007 ini, Ryu Siwon salah satu

selebriti Korea yang berasal dari daerah tersebut diresmikan sebagai perwakilan

ataupun duta dalam mempromosikan program Visit Gyeongbuk-Korea 2007

tersebut.Ryu Siwon sendiri berasal dari Andong yang merupakan salah satu kota

dari provinsi tersebut. Di Andong sendiri, terdapat Damyunjae, sebuah rumah tua

bersejarah yang memang merupakan rumah keluarga Siwon sendiri. Dan rumah

tua inipun menjadi semakin terkenal semenjak Ratu Elizabeth II, Ratu Inggris

berkunjung pada tahun 1999. Seperti yang dijelaskan sendiri oleh Ryu Siwon

dalam konferensi pers yang diadakan dalam peresmian program tersebut,

“I think it means something that I become the tourism ambassador of

Gyeongsangbukdo, the hometown of my father as well as myself.

Gyeongsangbukdo is very familiar to me as I spent a lot there with my family in

my childhood. And also it was another honored experience for me to have greeted

Queen Elizabeth II at my home several years ago. I always think having a

hometown is very important to everyone. And now I become the tourism

ambassador of my hometown and I am really grateful for that. I will do my best to

help attract more domestic and international tourists to Gyeongbukdo in this Visit

Gyeongbuk-Korea Year.”66

                                                            65 Ibid 66 Ryu Siwon Weekly: Vsit Gyeongbuk-Korea, diakses dari http://favosaurus.com/video/?v=9V5JX1Kc9u4, diakses dari 15 November 2011, pada oukul 11:45

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 63: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

43

    Universitas Indonesia  

Selain itu pada tanggal 27 Oktober tahun tersebut diadakan konser salah

satu penyanyi Korea yang juga merupakan pemimpin dalam Korean Wave, yaitu

Rain. Konser tersebut diadakan di kota Daegu, salah satu kota dalam provinsi

Gyeogbuk. Konser tersebut bertujuan sebagai ajang promosi program Visit

Gyeongbuk-Korea 2007 sekaligus merayakan ditetapkannya Daegu sebagai

penyelenggara International Association of Athletics Federetaion (IAAF) World

Championship pada tahun 2011. Gyeongju World Culture Expo menjadi ajang

dalam program Visit Gyeongbuk-Korea 2007 ini, yang diadakan pada bulan

Agustus-Oktober. Kota ini merupakan pusat sejarah dari kerajaan Silla yang

memimpin hampir keseluruhan Korea pada abat 7 sampai 9. Gyeongju Wold

Culture Expo ini terdiri dari beberapa acara, seperti Multimedia Show; Millenium

Light, pemutaran film Korea; Mud Warrior dan Cha-Cha, World Stage Art

Fesstivel, World B-boy Festival, International Children’s Play, World Fox

Nanjang Festival, Digital Animational History of Three Kingdom, Character

Fantasy World, Silla Royal Forest LOHAS Festival, Gyeongju Street Events, dan

acara pembukaan dan penutupan.67

II.3.1.4 Visit Gwangju Jeonnam Korea Year 2008: Promote Korean Traditional Culture

Tahun 2008, KTO meresmikan program 2008 Visit Gwangju Jeonnam

Korea sebagai program-program lanjutan dari program-program yang telah

diadakan ditahun-tahun sebelumnya. Provinsi Jeonnam ini merupakan provinsi

yang kaya akan adat dan tradisi rakyat Korea. Gwangju merupakan ibukota

provinsi Jeonnam, dan provinsi in terletak di bagian barat daya Korea tepat di

ujung selatan bersebrangan dengan Pulau Jeju.68 Wilayah Jeonnam ini terkenal

akan praktik-praktik budaya yang tetap dirawat dan dilestarikan, perkebunan

tehnya yang hijau dan subur, festival Kimchi yang diadakan setiap bulan

November, dan juga makanan khas wilayah serta makanan lautnya yang segar

                                                            67 Gyeongju Wolrd Culture Expo, diakses dari http://www.cultureexpo.or.kr/assets/download/file/?BjiJZoktQkSWf38Sucl3Bw, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul, 16:28 68 KTO Toronto, Experience Jeollanam-do Province During “2008 Visit Gwangju Jeonnam Korea” Year, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/OO/OO_EN_13_3_2.jsp?cid=496138, pada tangal 15 November 201, pada pukul 19:30

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 64: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

44 

Universitas Indonesia

 

dikarenakan wilayah ini langsung berbatasan dengan Laut Kuning. Selain itu,

wilayah ini juga terkenal dengan pemandangan alam yang indah dengan terdapat

gunung tertinggi kedua di Korea dan taman nasionalnya. Gwangju sendiri juga

terkenal dan merupakan awal dari kelahiran kebudayan-kebudayaan dan

pertunjukan-pertunjukan seni Korea. 69 Oleh karena itu, program 2008 Visit

Gwangju Jeonnam Korea menjadi ajang untuk memperkenalkan keunikan

wilayah tersebut ke masyarakat luas. Selain itu, pada tahun 2002 Gwangju

merupakan kota yang menjadi tuan rumah acara olahraga Piala Dunia. Dimana,

acara tersebut diadakan di Gwangju World Cup Stadium yang terletak di kota

tersebut.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai macam festival dan acara

dilaksanakan selama berjalannya program tersebut. Salah satunya adalah The

Yeongdeong “Moses’Miracle“Festival yang diadakan pada bulan Mei. 70 Pada

bulan Juli akan menjadi Muan White Lotus Festival.71 Lalu, juga diadakan Food

Culture Festival, pada tanggal 9 sampai 13 Oktober 2008. Pada bulan November,

festival lain juga diadakan, yaitu Gwangju Kimchi Festival.72 Selain itu ada juga

Gwangju Biennale  mulai dibuka pada 5 Oktober 2008, yang merupakan sebuah

pameran berskala global dan pelopor dalam seni kontemporer . Pameran ini

merupan dampak dan hasil dari pergerakan demokrasi yang terjadi di Korea pada

tahun 1980an.73

                                                            69 Explore Korea’s Treasures – Gwangju & Jeollanam-do, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_6.jsp?cid=641679, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 15:11 70 Jindo-gun, Jindo Yeingdeung Moses Miracle Parting of the Sea Festival, diakses dari http://www.festivals.com/Jindo+Yeongdeung+Moses+Miracle+Parting+of+the+Sea+Festival-South%20Korea-NA-Jindo-gun-PfxZ8VsrIU4%3D.aspx, pada tanggal 11 November 2011, pada pukul 22:!5 71 Focus on . . . Muan! White Lotus Festival (July 25 - July 29), diakses dari http://cdn.emarketingsg.com/emktg/korea/korea061308.htm, pada tanggal 15 November 2011, pada pukul 17:24 72 Gwangju Kimchi Festival, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_2_1.jsp?cid=293204, pada tanggal 15 November 2011, pada pukul 11:25 73 KTO London, Destination 2008 – Register and Win on Tour2korea.com, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/OO/OO_EN_13_2_2.jsp?cid=496136#Lang_Content_Layer, pada tanggal 14 November 2011, pada pukul 23:14

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 65: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

45

    Universitas Indonesia  

II.3.1.5 2009 Visit Incheon Year: Incheon Sebagai Zona Ekonomi dan Tekhnologi

Pada tahun 2009, pemerintah Korean meresmikan program 2009: Visit

Incheon Year sebagai program pariwisata seperti tahun-tahun sebelumnya. 74

Incheon merupakan salah satu kota metropolitan dan merupakan pelabuhan utama

di pesisir barat Korea. Bandar Udara Internasional juga bertempat di kota ini.

Selain itu, Incheon juga menjadi tuan rumah dari Piala Dunia FIFA yang diadakan

pada tahun 2002, dan juga merupakan salah satu kota penting dalam bidang

ekonomi. Program Visit Incheon Year sendiri telah mulai diperkenalkan dan

dipromosikan sejak Oktober 2008, dan dilakukan dibeberapa provinsi dan kota

utama seperti, Chincheon, Busan, Gwanju, Daejon, dan Seoul. Pemerintah

Incheon juga bekerjasama dengan para seniman Korea dan juga industri

pariwisata lainnya dalam mempromosikan program tersebut. Hal ini seperti yang

dijelakan oleh Ahn Sang-soo yang merupakan walikota pemerintah pusat Incheon

dalam wawancaranya dengan IT Times pada Februari 2009, yaitu;

“A wandeirng theatrical troup composed of Incheon artists and those of

local touring areas is chiefly aimed at publicizing Visit Incheon 2009 nationwide.

Those engaged in the tourism industry are also encouraged to take part in

overseas gatherings of the tourism industry as well as exhibitions and big fairs to

introduce Visit Incheon 2009.”75

Selain mempromosikannya kepada masyarakat dalam negeri, pemerintah lokal

Incheon juga mempromosikan program 2009: Visit Incheon Year tersebut ke

negara lainnya. Seperti yang dijelaskan oleh Choi Jae-ku, Presiden dari Incheon

Tourism Organization (ITO), yaitu;

                                                            74 2009: Visit Incheon Year, diakses dari http://kto.visitkorea.or.kr/enu/ek/ek_1_4_3.jsp?cid=641820, pada tanggal 15 November 2011, pada pukul 00:05 75 2009 Year to Visit Incheon, diakses dari http://www.koreaittimes.com/story/633/2009-year-visit-incheon, pada tanggal 15 November 2011, pada pukul 01:20

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 66: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

46 

Universitas Indonesia

 

“The ITO, working with Incheon City, dispatched a tourism promotion delegation

to Shandung and Liaoning provinces in China on Nov. 24, 2008 to attract tourists

from China in 2009,..”76

Seperti program-program di tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2009 ini

pemerintah Incheon juga menyiapkan berbagai macam pertunjukan, festival, dan

acara lainnya demi mendorong berjalannya program tersebut dengan baik. Pada

bulan Januari, pemerintah mengadakan Sunrise Celebration di Pulau Palmi

Incheon yang tepat diadakan pada tanggal 1 Januari setelah tahun baru. Perayaan

ini juga akan bersamaan dengan pembukaan Lighthouse Museum salah satu rumah

yang merupakan peninggalan dari masa perang tersebut. 77 Palmi Lighthouse

tersebut juga merupakan salah satu tempat pengambilan gambar salah satu drama

Korea yang terkenal, yaitu Boys Before Flowers. Secara lebih lanjut dijelaskan

oleh pihak komite KTO, bahwa lokasi film dan pengambilan gambar menjadi

salah satu cara dalam mempromosikan dan memberitahukan informasi terhadap

masyarakat luas mengenai Incheon. Gambar di bawah ini merupakan salah satu

adegan dalam serial drama Boys Before Flowers Boys Before Flowers yang

dilakukan di Palmi Lighthous.

                                                            76 Visit Incheon Year 2009: Incheon Tourism Organization goes all out to attract tourists to Incheon from both at home and abroad, diakses dari http://www.newsworld.co.kr/cont/article2009/0902-39.htm, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 12:56 77 Incheon Promises to Be a Magnet for Tourists,Offers exotic tourist spots and festivals year-round with upcoming '2009: Visit Incheon Year' and Global Fair & Festival 2009 Incheon, diakses dari http://www.newsworld.co.kr/cont/0812/76.htm, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 13:16

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 67: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

47

    Universitas Indonesia  

 

Gambar 2. 2 Salah satu adegan dalam Boys Before Flowers yang memperlihatkan lokasi Lighthouse di Pulau Palmi

Sumber: http://www.koreaittimes.com/story/1331/visit-korea-incheon-2009

Pada bulan Januari 2009 ini pemerintah Incheon juga mengadakan perayaan di

Pegunungan Mani, Pulau Gangwha untuk meresmikan Visit Incheon Year pada

tanggal 16 Januari. Perayaan tesebut diadakan di Samsan World Gymnastic

Complex, Incheon dengan dimeriahkan oleh penyanyi penyanyi terkenal Korea.

Pemerintah juga mengadakan festival lainnya seperti Mania Grand Festival,

Incheon Grand Flower Festival, Incheon Grand Sale, Incheon International Beer

Festival, dengan Incheon Food Culture Festivaldan  Incheon-China Day, serta

World City Expo 2009.78 Pada bulan Oktober, terdapat Incheon Soraepogu Inlet

Festival, Incheon International Crown Mimem Fetsival dan Incheon International

Fireworks Festival dan juga Chinatown Festival, serta Woelmido Culture Festival

dan sebagainya.

KTO juga menyiapkan acara Pentaport Rock Festival yang melibatkan 50

grup musik yang berasal baik dari Korea dan juga dari luar Korea untuk

berpartisipasi. Acara Incheon Pentaport Rock Festival menjadi acara yang cukup

besar dalam program Visit Incheon Year tersebut. 79 Acara ini diikuti oleh lebih

dari 60 band dan selebriti film Korea, Ryu Seong-beom menjadi pembawa acara

dalam acara tersebut. Acara ini juga meriahkan oleh artis-artis, dan penyanyi dari

luar negeri seperti The Desftones, the champion of hardcore rap dan Eskimo Joe,

                                                            78 Ibid 79 Kim Hee-sung, Two competing music festivals to rock this summer, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/FU/FU_EN_15.jsp?cid=768057, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 18:24

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 68: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

48 

Universitas Indonesia

 

Lenka yang berasal dari Australia, dan sebagainya. Acara ini juga dimeriahkan

oleh pemusik dari Korea sendiri seperti No Brain, Cocore, Guckkasten, Lolo’s

Mon Shiners, Black Skirts dan juga Galaxy Express yang juga telah memiliki

banyak penggemar. Acara ini menjadi acara internasional, dikarenakan

dilibatkanya para penyanyi yang berasal dari luar Korea. Acara Pentaport Rock

Festival pada dasarnya menjadi acara yang cukup besar dalam tahun tersebut dan

berhasil menarik minat para penonton dan penikmat musik selama 3 hari berturut-

turut. Gambar di bawah ini merupakan gambar poster acara tersebut yang

menggambarkan meriahnya musim panas pada acara tersebut dan

menggambarkan tempat acara tersebut yang memang diadakan pada lapangan

yang berada di kota Incheon tersebut.

   

Gambar 2. 3 Poster acara Incheon Pentaport Rock Festival

Sumber: http://english.visitkorea.or.kr/enu/FU/FU_EN_15.jsp?cid=768057#Lang_Content_Layer

Acara Incheon Pentaport Festival tersebut juga diadakan berbarengan

dengan acara festival lainnya dengan tema acara yang sama. Acara tersebut adalah

Jisan Valley Rock Festival 2009 yang diadakan pada tanggal yang sama dengan

acara Incheon Pentaport Festival. Acara ini juga diikuti oleh penyanyi-penyanyi

yang tidak hanya berasal dari dalam Korea saja, tetapi juga berasal dari luar Korea,

seperti Oasis, Patti Smith, band pop-punk Fall Out Boys, band Jimmy Eat World,

seorang penyanyi dan juga penulis lagu Korea Amerika Pricilla Ahn, dan

sebagainya. Korea, dalam hal ini juga diwakilkan dengan penampilan-penampilan

dari band-band indie, seperti Onnie Ibalgwan, Yohzo, Lee Han-choul dan juga

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 69: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

49

    Universitas Indonesia  

Vodka Rain. Akan tetapi, terdapat perbedaan acara ini dengan acara Incheon

Pentaport Festival. Dimana acara Jisan Valley Rock Festival ini menggunakan

tema penghijauan dengan menggunakan berbagai perlengkapan acara yang dapat

diperbarui ataupun didaur ulang. Pengadaan kedua acara yang diadakan dalam

program Visit Incheon Year ini menjadi acara yang diadakan untuk memeriahkan

musim panas di tahun tersebut. Selain itu, dengan mengadakan acara ini

pemerintah Korea juga bertujuan untuk menarik wisatawan dengan diundangnya

penyanyi-penyanyi yang tidak hanya berasal dari Korea saja, tetapi juga dari

negara-negara lain yang tentu saja menggunakan bahasa internasional dalam lagu-

lagunya yang akan mempermudah para pengunjung dan penonton yang datang ke

acara tersebut untuk lebih mengerti pertunjukannya.

KTO dalam tahun 2009 ini juga mengadakan acara besar lain yakni,

Global Fair & Festival 2009. Acara ini merupakan acara besar yang telah

dipersiapkan bahkan sebelum program tersebut berjalan. Acara ini dimulai pada 7

Agustus dan terus berajalan selama 80 hari sampai dengan Oktober dibeberapa

lokasi di Incheon, seperti the Songdo International City Third Construction Site,

Central Park, Tomorrow City, and Songdo Convensia. Beberapa hal yang terdapat

dalam acara ini adalah pameran, konferensi internasional, dan juga berbagai

macam festival seperti the Global Wine Festival, the World Robot Football

Contest, World Culture Street and the Multimedia Sho. Secara jumlah, acara ini

menyediakan 65 program.80 World Culture Street festival menjadi sebuah acara

yang menyenangkan ditengah-tengah acara bisnis dan pengembangan kota yang

diikuti oleh para wisatawan untuk mengetahui perbedaan sejarah dan budaya di

kota tersebut. Dalam acara ini, panitia juga menyiapkan acara Understand Korean

Culture dengan tinggal bersama dengan keluarga Korea bagi para wisatawan yang

berkeinginan secara lebih lanjut untuk mempelajari kebudayaan Korea.81

                                                            80 Staff, Visit Korea Incheon 2009, diakses dari http://www.koreaittimes.com/story/1331/visit-korea-incheon-2009, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 18:52 81 KTO Sydney, Incheon City, Korea Invites The World to Its Global Festival 2009, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/OO/OO_EN_13_4_2.jsp?cid=735387, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 19:26

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 70: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

50 

Universitas Indonesia

 

Pada dasanya, tujuan dari acara ini adalah untuk memperlihatkan

perkembangan dan juga prestasi kota Incheon. Dimana, kota ini berusaha sebagai

kota dengan ekonomi global pada tahun 2020, acara ini diadakan untuk

menunjukkan perkembangan di area ekonomi bebas di kota ini, yaitu di Sondo,

Yeongjon, dan Cheongna dan rencana pembanguanan urban area dengan

menggunakan teknologi yang mutakhir, hemat energi, dan ramah lingkungan.

Dengan menggabungkan konsep edukasi dan acara yang menyenangkan, acara

Global Fair & Festival ini menjadi acara yang memiliki target terhadap para

generasi muda untuk hidup mereka dimasa yang akan datang. Salah satu acara

lain yang juga merupakan bagian dari Global Fair & Festival ini adalah acara

festival B-boy yang merupakan sebuah acara kompetisi tari B-boy yang diadakan

pada tanggal 25-27 September 2009 dan diikuti oleh 15 negara lainnya.82

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pemerintah lokal lebih

menggunakan selebriti Korea sebagai duta dari program-program yang dijalankan,

ditahun Visit Incheon Year ini pemerintah Incheon benar-benar menggunakan

selebriti dalam sebuah program yang melibatkan masyarakat-masyarakat

internasional. Hal ini dijalankan melalui acara Hallyu Stars Promote the Spirit of

Korea in an Exciting Online Festival: Netizens from China, Japan, Singapore,

and Taiwan vote for their favorite Hallyu Star. Dimana acara ini diresmikan pada

tangga 7 Juli 2009 oleh KTO dengan bekerjasama dengan salah satu website

internasional Yahoo.Com. Selebriti-selebriti Korea menjalankan perannya dengan

mempromosikan 100 atraksi utama di Korea melalui website tersebut

(http://kr.promotion.yahoo.com/korea100sparkles). Melalui website tersebut,

selebriti-selebriti Korea yang terkenal melalui drama-drama dan film-film Korea

dan merupakan bagian dari Korean Wave menjelaskan mengenai makanan

kesukaan mereka, atraksi-atraksi yang terkenal di Korea dan para masyarakat luar

dapat melihatnya melalui video ataupun membaca artikel yang dijelaskan oleh

para selebriti Korea tersebut. Dimana, melalui program yang diberi nama

                                                            82 Thomas J Shon, R16 B-Boy Festival, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/OO/OO_EN_13_4_2.jsp?cid=790622, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 19:16

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 71: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

51

    Universitas Indonesia  

“Korea’s Bright Sparks” tersebut mengundang masyarakat dari Cina, Jepang,

Singapura, dan Taiwan untuk memilih selebriti Korea yang paling ingin ditemui

diantara 10 bintang Hallyu yang sebelumnya telah melewati pemilihan oleh KTO.

Selebriti-selebriti tersebut adalah Andy, Jang Seo-hee, Ji-sung, Jun Jin, Kim Jun,

Kwon Sang Woo, Lee Min Woo, Paek Eun Hye, Park Yong Ha, Yun Ha. Para

penggemar selebriti-selebriti tersebut memiliki kesempatan untuk bertemu dengan

selebriti-selebriti tersebut dalam acara “Sparkling Road Trip” yang diadakan

setelah acara tersebut. Acara tersebut berhasil menarik minat masyarakat

internasional, dimana sejumlah 800.000 orang yang berasal dari Cina, jepang,

Singapura, dan Taiwan.83

Program-program lain yang menjadi program penting ataupun menjadi

salah satu acara yang menarik banyak perhatian adalah Incheon Korean Wave

Concert 2009, yang merupakan bagian dari acara Incheon Korean Wave Festival

2010 seperti yang dapat dilihat dari gambar di bawah ini.

 

Gambar 2. 4 Lambang Korean Wave Festival 2009

Sumber: http://www.dkpopnews.net/2010/08/info-incheon-korean-wave-festival-2010.html

Acara ini diadakan pada tanggal 5 September 2009 di Incheon Munhak Main

Stadium. Pada awalnya acara ini dijadwalkan pada tanggal 22 Agustus, tetapi

diundur menjadi bulan September dikarenakan kematian mantan Presiden Korea

                                                            83 Meet 100 Korean Celebrities- Korea 100 Sparkles Online Festival, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/FU/FU_EN_15.jsp?cid=805332, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 19:50

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 72: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

52 

Universitas Indonesia

 

Kim Dae Jung.84 Acara ini pada dasarnya juga merupakan bagian dari Global Fair

& Festival Incheon 2009 yang telah dijelaskan sebelumnya dan juga merupakan

bagian dari Incheon Korean Wave Festival 2009. Acara ini menjadi acara konser

spesial K-Pop yang menunjukkan bersama-sama artis-artis Korea yang popular

pada saat itu. Pada acara konser Incheon Korean Wave Concert tersebut

dimeriahkann oleh SNSD, Super Junior, Shinee, Baek Jiyoung, KARA, FT Island,

Younha, 2PM, SS501, dan masih banyak lagi. Acara lain dalam rangkaian acara

Incheon Korean Wave Festival tersebut adalah Incheon Korean Star Wave 2009

yang dimulai dengan konser Lee Min Woo dan dlanjutkan dengan sesi tanda

tangan oleh SS501 dan juga diikuti oleh pertemuan dengan penggemar yang

berasal dari luar negeri. Berbeda dengan acara konser Incheon Korean Music

Wave yang diundur menjadi bulan September, acara Incheon Korea Wave Festival

ini tetap berjalan sesuai dengan jadwal awal, yaitu pada tanggal 15 Agustus.85

Acara Korean Wave Festival diadakan dengan tujuan untuk menarik pengunjung

dan wisatawan dari luar Korea yang memang mengenal Korea melalui drama-

drama dan lagu-lagu Korea atau yang dikenal dengan Korean Wave.

II.3.1.6 Visit Korea 2010-2012: Promote Korea as a Whole

Pada akhir tahun 2009 dimana akan berakhirnya program 2009:Visit

Incheon Year, Korea kembali meresmikan program untuk tahun berikutnya.

Dimana tidak seperti program-program dari tahun 2005-2009 yang fokus pada

kota dan provinsi, kali ini Korea meresmikan program yang mencakup

keseluruhan Korea yaitu Visit Korea Year 2010-2012. Program ini diresmikan

pada tanggal 11 November 2009 di Cheonggye Stream yang terletak di kota Seoul.

Program ini berjalan dengan tema yang berbeda setiap tahunnya. Dimulai dari

tahun 2010, “City & Style” menjadi tema utama, dengan fokusnya pada Seoul’s

World Design Capital dan Korean Wave di Asia Timur. Pada tahun 2011,

                                                            84 Coolsmurf, Stars Gather for Incheon Korean Wave Festival 2009, diakses dari http://www.allkpop.com/2009/08/stars_gather_for_incheon_korean_wave_festival_2009, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 22:10 85 Hying, Top Korean Stars performing for Incheon Korean Wave Festival 2009, diakses dari http://www.koreanclicks.com/korean-stars-news/top-korean-stars-performing-for-incheon-korean-wave-festival-2009. pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 22:39

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 73: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

53

    Universitas Indonesia  

“Nature & People” menjadi tema utama dengan fokusnya pada IAAF World

Championship in Athletics in Daegu dan green tourism. Pada tahun 2012, “Blue

Ocean” menjadi tema utama dengan fokusnya pada World Expo in Yeonso.86

Program yang berjalan selama tiga tahun ini akan berada dibawah slogan “Offer

the best of Korea with your smile”. 4 perwakilan dipilih untuk menjadi duta dalam

rangka mempromosikan berjalannya program ini. Duta-duta tersebut terdiri dari

Bae Yong Joon yang merupakan salah satu aktor yang terkenal melalui perannya

dalam Winter Sonata dan berperan penting dalam Korean Wave, Kim Yu-na yang

merupakan seorang skater yang terkenal dan menjadi bagian dalam perkembangan

olahraga Korea, Pororo yang merupakan karakter kartun yang terkenal, dan Girls’

Generation yang juga memiliki peran penting dalam perkembangan Korean Wave

dalam bidang musik.87  

Selain acara peresmian yang dilakukan pada November 2009, acara lain

diselenggarakan di beberapa negara lain demi mempromosikan program tersebut.

Salah satunya adalah diadakan di Jepang pada tanggal 30 September, di Tokyo

Dome. Acara tersebut merupakan acara peluncuran Visit Korea 2010-2012 yang

ditujukan terhadap masyarakat Jepang. Acara ini diadakan oleh KTO dan dihadiri

oleh salah satu duta program Visit Korea 2010-2012, yaitu Bae Yong-joon yang

merupakan selebriti dan aktor Korea yang terkenal di Jepang dikarenakan

dramanya Winter Sonata.88 Dalam acara tersebut, Bae Yong-joon menjelaskan

mengenai hal-hal menarik yang terdapat di Korea. Salah satu ajang promosi lain

juga dilakukan di Sanghai, Cina pada tanggal 24 November 2009. Para selebriti

Korea yang akan berpartisipasi tiba di Sanghai pada hari yang sama dan langsung

disambut oleh kerumunan penggemar. Para penyanyi tersebut termasuk

diantaranya adalah Wheesung, f(x), 2PM, 2AM, U-Kiss, 4Minute, dan juga Jang

Nara. Para penyanyi tersebut berpartisipasi dalam acara the Feel Korea K-Pop

                                                            86 “2010-2012 Visit Korea Year” Campaign, diakses dari http://brandingkorea.org/campaigns-archive/2010-2012-visit-korea-year/, pada tanggal 14 Oktober 2011, pada pukul 00:19 87 PR Ambassador for the Visit Korea Year, diakses dari http://english.visitkoreayear.com/english/vkcinfo/vkcinfo_03_04_01.asp, pada tanggal 13 Oktober 2011, pada pukul 19:5 88 Do Je-hae, 'Visit Korea' Campaign Launched in Japan, diakses dari http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2011/04/117_52780.html, pada tanggal 13 Oktober 2011, pada pukul 22:17

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 74: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

54 

Universitas Indonesia

 

Night and K-Fashion dalam rangka mempromosikan program Visit Korea 2010-

2012. 89 Acara ini berhasil menarik minat pengunjung sebanyak 8000 orang.

Pemerintah Korea berharap bahwa kekuatan para selebrit, penyanyi, aktor dan

aktris Korea dapat mendorong para wisatawan untuk datang ke Korea. Seperti

yang dijelaskan oleh Chung Dong-cheun (2010) eksekutif Korea Creative Content

Agency, bahwa;

“Although we have different nationalities and speak different languages, I could

feel how much they loved the music from the heated atmosphere at the concert,”

Berbagai macam acarapun telah dipersiapkan demi berjalannya program

Visit Korea 2010-2012 tersebut. Berbagai macam acara terebut tentu saja sesuai

dengan fokus utama Korea dalam tema-tema setiap tahun yang memang berbeda.

Beberapa acara utama tersebut adalah, Seoul Design Fair yang diadakan pada

tanggal 17 September sampai dengan 7 Oktober 2010. Lalu, IAAF World

Championship Daegu 2011 yang akan diadakan pada tahun 2011, Expo 2012

Yeosu Korea, yang akan diadakan di tahun 2010. Selain itu adalah Korean Wave

Fetsival yang diadakan pada September 2010 selama 7 hari di Gyeongju dan juga

provinsi Gyeongsangbuk, Haendae Piff Night yang diadakan pada Oktober 2011

di Kota Busan. Korea Food and Tourism Festival, dan juga Korea Grand Sale

yang diadakan pada November 2010 sampai dengan Februari 2011.90

Selain beberapa acara utama di atas, masih banyak acara lain yang juga

dilaksanakan oleh KTO. Seperti salah satunya adalah Inspiring Night in Korea

2010. Acara ini merupakan salah satu acara yang diadakan untuk merayakan

berjalannya program Visit Korea Year 2010-2012.91 Diselenggarakan di salah satu

tempat bersejarah Korea, yaitu Changdeokgung Palace acara ini juga bertujuan

untuk memberikan pengalaman dengan pertunjukan tradisional Korea, dan juga                                                             89 Lim Jae-un, Korean wave crashes upon Shanghai shores, diakses dari http://www.mct.go.kr/english/issue/issueView.jsp?pSeq=1426, pada tanggal 12 Oktober 2011, pada pukul 20:47 90 Visit Korea Year 2010-2012, diakses dari http://www.visitkorea.com.my/article/visit-korea-year-2010-2012, pada tanggal 19 November 2011, pada pukul 10:19 91 Inspiring Night in Korea 2010, diakses dari http://korean.visitkorea.or.kr/kor/nightinkorea/eng/p_02.html, pada tanggal 22 November 2011, pada pukul 18:28

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 75: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

55

    Universitas Indonesia  

misteri dibalik kebudayaan Korea. Acara ini juga bersamaan dengan peresmian

salah satu selebriti Korea, Choi Ji-woo sebagai duta kehormatan dalam

mempromosikan pariwisata Korea. Hal ini ditujukan untuk membantu berjalannya

program pariwisata dalam menarik minat masyarakat asing untuk datang ke Korea.

Dijelaskan oleh Choi Ji-woo (2010), bahwa;

"Korean people are often misunderstood by foreigners due to our reserved

demeanor or because of cultural differences," Choi said. "I will try my best to

show our warm hearts to foreigners and promote the country as a great travel

destination worth revisiting."92

Choi Ji-woo telah dipilih sebagai salah satu duta kehormatan dalam membantu

mempromosikan salah satu program kampanya Visit Korea Year 2010-2012, yaitu

“Smile Korea”. Hal ini dikarenakan perannya yang telah cukup signifikan dalam

membantu pariwisata Korea, seperti meningkatkan tingkat kualitas dan kuantitas

pariwisata Korea melalui drama yang ia perankan, yaitu Winter Sonata.93

Selain itu, terdapat juga acara Busan International Fireworks yang

diadakan di kota Busan pada tanggal 21 Oktober 2010. Festival ini termasuk

diantaranya adalah, pameran foto, konser K-Pop, dan juga kembang api.94 Acara

ini diadakan selama 3 hari sampai dengan tanggal 23 Oktober 2010 di area

Gwangandaegyo Bridge. Pertunjukan dari para Hallyu’s stars tersebut berada di

hari pertama. Dimana, pada hari pertama tersebut akan, Choi Ji-woo yang juga

merupakan duta pariwisata Busan akan membuka pameran foto, dilanjutkan

dengan acara tanda tangan dengan para penggemarnya. Setelah itu, acara tersebut

dilanjutkan dengan konser, yaitu Hallyu Star Concert yang melibatkan penyanyi-

penyanyi besar dan telah popular tidak hanya di Korea tetapi juga di negara-

negara lain di Asia, seperti Super Junior, Shinee, Boa, dan juga 2AM. Pada

                                                            92 Choi Ji-woo Named Honorary Tourism Supporter, diakses dari http://asiaenglish.visitkorea.or.kr/ena/HA/content/cms_view_1051113.jsp#Lang_Content_Layer, pada tanggal 18 November 2011, pada pukul 15:57 93 Hallyu Star Choi Ji-Woo, with Warm and Great Smile!- Actress Choi Ji-woo Has Been Chosen as an Honorary Ambassador for 2010-2012 Visit Korea Year, diakses dari http://english.visitkoreayear.com/english/community/community_01_01_01_view.asp?bidx=113&st=&sech=&page=5, pada tanggal 22 November 2011, pada pukul 18:14 94 Yoon Sojung, Loc.cit

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 76: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

56 

Universitas Indonesia

 

tanggal 22 Oktober akan menjadi Wolrd Fireworks Day yang akan

memperlihakan berbagai macam jenis kembang api yang dilakukan oleh para tim

pirotehnik yang berasal dari Cina, Italia, dan juga Italia.95 Pada tanggal 23 malam

hari Oktober menjadi hari utama dari festival ini, dimana akan terdapat sejumlah

80.000 kembang api dalam sebuah pertunjukan.

6th Pusan International Film Festival (PIFF) yang sekarang dikenal

dengan Busan International Film Festival seperti yang telah dijelaskan

sebelumnya juga merupakan bagian dari acara utama dalam Visit Korea Year

2010-2012 untuk tahun 2010. Acara Festival ini juga diadakan di Busan pada

tanggal 7 Oktober sampai dengan 15 Oktober 2010.96 Sebenarnya acara ini telah

menjadi acara tahunan yang sudah pernah diadakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Akan tetapi, dengan peresmian program Visit Korea Year 2010-2012 tersebut

dengan tema Korean Wave menjadi fokus utama dalam tahun 2010 acara ini

menjadi fokus acara dan acara besar dalam berjalannya program tersebut. Acara

ini telah menjadi besar dan global dengan diikuti oleh delegasi-delegasi seperti

sutradara, aktor dan aktris, dan juga produser yang berasal dari 60 negara yang

berbeda. Gambar di bawab ini merupakan poster acara 6th Pusan International

Film Festival yang menggunakan gambar abstrak untuk menggambarkan

keunikan-keunikan dari setiap film yang berpartisipasi dalam acara tersebut.

                                                            95 6th Busan International Fireworks Festival, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/FU/FU_EN_15.jsp?cid=1113472, pada tanggal 19 November 2011, pada pukul 12:15 96 Lights, Camera? Action! The finale of PIFF!, diakses dari http://visitkorea.com.my/article/lights-camera-action-the-finale-of-piff, pada tanggal 22 November 2011, pada pukul 18:18

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 77: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

57

    Universitas Indonesia  

 

Gambar 2. 5 Poster PIFF 2010

Sumber: http://www.biff.kr/eng/html/archive/arc_history15_01.asp

Pada acara festival tersebut para pengunjung berkesempatan untuk menonton

berbagai macam film yang berasal dari negara-negara yang berbeda.97 Selain itu,

para pengunjung juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para selebriti,

sutradara, dan juga para produser yang juga tidak hanya berasal dari Korea, tetapi

juga dari negara-negara lain yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

Seperti yang dijelaskan di atas, salah satu acara utama dalam tahun 2010

tersebut adalah Korea Wave Festival. Acara ini diadakan pada tanggal 10

September sampai dengan 12 September 2011 di Gyeongsangbuk, Gyeongju, dan

Hwang Sung Park. Dalam festival Korean Wave ini akan terdiri dari peragaan

busana Korea, Pertunjukan makanan dan juga drama Korea, dan juga konser K-

Pop. Acara pertama dalam festival ini yaitu, Hallyu Star Special Date terdapat

berbagai macam selebriti Korea akan hadir seperti Yoon Sang-Hyun, Kim Bum

dan juga Um Tae-ung. Ketiga selebriti ini juga merupakan duta dari Hallyu

Dream Festival tersebut. 98 Para selebriti-selebriti tersebut akan memberikan

pertunjukan seperti konser kecil dan juga bertemu langsung dengan para

                                                            97 Come and Enjoy the City of Festivals, Busan, diakses dari http://english.busan.go.kr/community/news/news_01.jsp?command=view&board_code=8&sn=1317&d_code=EA02004&page=0&nowBlock=0, pada tanggal 22 November 2011, pada pukul 22:34 98 HALLYU DREAM FESTIVAL concludes in great success!,diakses dari http://english.visitkoreayear.com/english/community/community_01_01_01_view.asp?bidx=137&st=&sech=&page=4, pada tanggal 20 November 2011, pada pukul 19:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 78: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

58 

Universitas Indonesia

 

penggemar. Pada acara kedua yaitu peragaan busana, semua model kelas atas dan

juga bintang Hallyu akan berpartisipasi dalam peragaan busanan “Lee Young

Hee”. Tentu saja peragaan busana tersebut yang berhubungan langsung dengan

Hallyu dimana acara tersebut dilengkapi dengan pertunjukan dari para Hallyu Star.

Acara terakhir dalam festival tersebut, yaitu Hallyu Dream Concert diisi oleh para

penyanyi terkenal Korea, sepertu Super Junior, 2PM, After School, Beast, 2AM,

2NE1, Seve, 4Minute, Miss A, Kara, Son Dam-bi, FT Island, Shinee, dan lain-lain.

Gambar di bawah ini merupakan gambar yang memperlihatkan Hallyu Dream

Concert yang berhasil menjadi sebuah acara utama pada tahun tersebut yang

menarik para wisatawan dari luar negeri.

 

Gambar 2. 6 Salah satu foto pada Hallyu Dream Concert

Sumber: http://english.visitkoreayear.com/english/community/community_01_01_01_view.asp?bidx=137&

st=&sech=&page=4#bodywrap

Kesemua para penyanyi tersebut merupakan aktor-aktor penting dalam

perkembangan Korean Wave keseluruh dunia, terutama negara-negara Asia.

Dalam festival Korean Wave tersebut juga terdapat pameran-pameran dan

pertunjukan-pertunjukan lainnya yang memberikan pengalaman mengenai

kebudayaan Korea terhadap para pengunjung. Seperti, acara “Reenactment of

Queen Seondeok” yang merupakan salah satu ratu dalam masa Dinasti Silla, dan

juga “Rice cake & Liquor Festival”. Kedua acara ini merupakan salah satu acara

yang diadakan dalam festival tersebut yang bertujuan untuk menunjukkan

kebudayaan tradisional Korea. Acara festival ini menjadi sebuah acara yang

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 79: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

59

    Universitas Indonesia  

sukses menggabungkan antra kebudayaan tradisional dan kebudayaan popular

Korea.99

Melalui penjelasan-penjelasan mengenai program-program pariwisata

Korea periode 2005-2010 di atas penulis akan meringkasnya dalam tabel di bawah

ini.

Tahun Nama Program Ringkasan Korean Wave dalam Program Pariwisata

2005 Visit Gyeonggi-Korea 2005

- Menggunakan berbagai lokasi pengambilan drama Korea di provinsi tersebut.

- Menggunakan selebriti Korea sebagai duta yang mempromosikan program pada tahun 2005.

2006 Visit Jeju Year 2006

- Mengadakan acara khusus mengenai Korean Wave

- Menggunakan selebriti Korea sebagai duta Menggunakan lokasi pengambilan drama

Korea di wilayah Pulau Jeju 

2007 Visit Gyeongbuk-Korea 2007

Menggunakan selebriti Korea untuk mempromosikan program pariwisata Korea

2008 Visit Gwangju-Jeonnam Korea Year 2008

Tahun ini menjadi tahun dimana pemerintah tidak menggunakan Korean Wave secara spesifik dalam menjalankan program Visit Gwangju-Jeonnam Korea Year 2008 tersebut

2009 Visit Incheon Year 2009

- Menggunakan lokasi pengambilam drama di wilayah Incheon

- Mengadakan acara dengan menggunakan selebriti Korea

- Mengadakan acara Korean Wave

2010 Visit Korea Year 2010-2012

- Pemilihan tema Korean Wave sebagai tema program pada tahun 2010

- Selebriti Korea sebagai duta untuk mempromosikan program pariwisata Korea

- Mengadakan acara-acara Korean Wave baik sebelum berjalannya prgogram dan selama berjalannya program

                                                            99 Hallyu Dream Festival 2010, diakses darihttp://visitkorea.com.my/article/hallyu-dream-festival-2010, pada tanggal 20 November 2011, pada pukul 20:39

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 80: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

60 

Universitas Indonesia

 

Tabel 2. 1 Resume Program Pariwisata Korea 2005-2010

Sumber: diolah oleh penulis

Dari penjelasan tabel di atas, dapat dilihat bahwa terdapat penurunan penggunaan

Korean Wave dalam program-program tersebut yang terjadi pada tahun 2007 dan

menjadi lebih signifikan di tahun 2008. Seperti yang telah dijelaskan di atas

bahwa dalam kedua tahun ini, terutama pada tahun 2008, budaya tradisional

Korea menjadi objek pariwisata yang sangat didorong kemajuannya. Penulis

menilai bahwa hal ini menjadi salah satu upaya pemerintah Korea dalam

mengembangkan budaya tradisional Korea yang telah dikenal melalui drama-

drama Korea. Pemerintah Korea dalam hal ini mencoba untuk mendorong

kepopuleran dari budaya tradisional Korea yang nantinya akan membuat

masyarakat asing lebih mengenal Korea melalui budaya tradisional Korea tersebut.

Kepopuleran Korean Wave ini dianggap sebagai sebuah peluang bagi Korea untuk

memajukan budaya tradisionalnya dengan meresmikan tahun 2007 dan terutama

tahun 2008 tersebut sebagai program pariwisata yang akan hanya difokuskan

terhadap budaya tradisional Korea. Akan tetapi, Pengadaaan beragam acara yang

melibatkan aspek-aspek Korean Wave ini menunjukkan keseriusan pemerintah

Korea dalam hal ini terutama MCST dan KTO dalam menjalankan aktivitas

diplomasi publiknya melalui Korean Wave.

II.3.2 Korean Wave Melalui KOFICE

Korea Foundation for International Culture Exchange (KOFICE)

merupakan badan organisasi selain KTO yang berdiri dibawah MCST. Organisasi

ini didirikan pada tanggal 4 bulan Juni pada tahun 2003 di kota Seoul.100 Sejak

didirikannya organisasi ini, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan

pengertian mengenai kebudayaan disetiap negara melalui pertukaran budaya dan

bertindak dalam pertukaran masyarakat untuk membuka jalannya sebuah

kerjasama dalam membentuk sebuah fondasi dalam pertukaran budaya dan juga                                                             100 Greetings, diakses dari http://english.kofice.or.kr/g100_introduction/g100_introduction_01.asp, pada tanggal 22 November 2011 pada pukul 23:16

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 81: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

61

    Universitas Indonesia  

kerjasama antar bangsa. Organisasi ini bekerja dalam dua fokus utama, yaitu

melakukan survei dan penelitian mengenai industri budaya, dan juga program

pertukaran budaya. Hal ini dilakukan dengan berbagai macam bentuk seperti

melakukan penelitian di beberapa negara mengenai tingkat kepopuleran budaya

Korea, melakukan publikasi mengenai Hallyu, melalui pengadaan forum-forum

dan seminar, dan juga melalui festival-festival musik yang akan dijelaskan secara

singkat dalam penjelesan selanjutnya.101

II.3.2.1 KOFICE dalam Bidang Edukasi : Di Balik Kemajuan Korean Wave

Dalam bidang Edukasi, KOFICE melakukan pengembangan terhadap

industri budaya Korea melalui 3 hal, yaitu konferensi mengenai drama televisi

Asia, Hallyu Forum, dan juga Asia Music Industri Leaders’ Forum. Hallyu Forum

merupakan salah satu aktivitas KOFICE dalam bidang edukasi yang telah dimulai

sejak tahun 2005. Hallyu Forum merupakan aktivitas pertama dan satu-satunya

yang diadakan oleh KOFICE dalam tahun 2005 tersebut. Pertemuan tersebut

diberi nama 2005 Global Culture Industry Forum yang diadakan pada tanggal 11

sampai dengan 12 Oktober 2005. Acara ini bertujuan untuk mencari solusi

terhadap masalah struktural ekonomi Korea dan membuat sebuah visi nasional

untuk menjadikan Korea sebagai salah satu top most country pada abad ke-21.102

Pada tahun 2006, Hallyu Forum ini kembali diadakan, tetapi kali ini acara forum

ini tidak diadakan di Korea melainkan di Vietnam. Acara Hallyu Forum tersebut

diadakan pada Februari 2006, dan juga dihadiri oleh selebriti-selebriti

Vietnam.103Pada tahun 2007, Hallyu Forum tersebut diadakan pada tanggal 16

Februari 2007 di John F. Kennedy School Harvard University, Amerika Serikat.

Forum ini bertajuk “Hallyu in Asia: A Dialogue” yang bertujuan untuk

mendiskusikan mengenai penyebaran budaya populer Korea dan juga efek yang

                                                            101 Vision, diakses dari http://english.kofice.or.kr/g100_introduction/g100_introduction_02_1.asp, pada tanggal 22 November 2011, pada pukul 23:17 102 2005 Global Culture Industry Forum, diakses dari http://english.kofice.or.kr/f60_academic/f60_academic_02_list.asp?strYear=2005, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 01:34 103 Sang Joon Ly, Chairman of Golden Bridge Finance Group, Establishes HanViet Fondation to Enhance Partnership between Korea and Vietnam, diakses dari http://www.hanvietfoundation.org/en/all/view.asp?dh_id=73&page=3&kind=news&search=&select=&keyword=&searchCategory=, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 15:15

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 82: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

62 

Universitas Indonesia

 

terjadi. Dalam forum tersebut, tidak hanya membicarakan mengenai budaya

populer itu saja, tetapi juga mendiskusikan mengenai Hallyu dalam Hubungan

Internasional dan juga dalam level politik. Seperti yang dijelaskan oleh Jason Lim

(2007) dalam wawancaranya dengan The Korea Times, bahwa;

“Hallyu is a representative example of how constructivism theory in international

relations is shaping up. It’s the formation of a mutual identity through sharing of

common, cultural norms.”104

Dijelaskan secara lebih lanjut bahwa fenomena Korean Wave yang sekarang ini

terjadi memberikan efek terhadap hubungan politik politik Korea Selatan, seperti

yang terjadi antara Korean dengan Jepang. Dimana, hubungan kedua negara ini

menjadi berjalan ke arah yang lebih positif. Acara Hallyu Forum pada tahun 2007

ini juga dihadiri oleh Park Jin Young yang juga merupakan produser musik,

penyanyi, dan juga pendiri dari salah satu agensi musik Korea, JYP Hiburanmen

dan juga selebriti Korea.105 Pada forum ini juga dihadiri oleh akademisi-akademisi

dari Universitas Harvard dan juga dari beberapa akademisi dari universitas lain di

Amerika Serikat, yang ahli dalam bidangnya masig-masing seperti literatr Cina,

Jepang, dan sebagainya. Acara ini terus diadakan pada tahun 2008 dengan tema

“Korean Wave, Looking for Blue Ocean” yang bertujuan untuk melihat situasi

Korean Wave saat itu dan juga prospek perkembangannya ke depan.106 Pada tahun

2009, KOFICE memperluas aktivitasnya dengan mengadakan mengadakan 3

forum yang membahas mengenai perkembangan dan pengembangan budaya

Korea. Forum yang pertama adalah 2009 Hallyu Seminar, forum kedua adalah

The Workshop for Foreign Cultural Attahes and Officials Residing in, dan forum

ketiga adalah 2009 Global Culture Industry Forum. Begitu juga dengan tahun

2010, KOFICE kembali mengadakan seminar dan juga forum-forum seperti                                                             104 104 Cathy Rose A. Garcia, Hallyu Forum to Be Held at Harvard, diakses dari http://www.hancinema.net/hallyu-forum-to-be-held-at-harvard-8518.html, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 15:56 105 Hallyu To Be Sibject of Harvard Forum, and more, diakses dari http://www.hancinema.net/talk-of-the-townhallyu-to-be-subject-of-harvard-forum-and-more-8627.html, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 15:54 106 The Windos to the future of the Korean Wave 2008 Korean Wave Forum, diakses dari http://www.kofice.or.kr/n_webzine/200810/eng/02_activities.asp, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 17:05

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 83: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

63

    Universitas Indonesia  

tahun-tahun sebelumnya. Sama dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2010 ini

KOFICE juga mengadakan 3 kali seminar atau forum, yaitu 2010 Hallyu Forum,

2010 Hallyu Seminar, dan 2010 Hallyu Seminar. Ketiga seminar tersebut tidak

berbeda dengan forum dan seminar-seminar sebelumnya, yaitu membahas

mengenai kondisi Korean Wave dan juga prospek serta rencana pengembangan

Korean Wave demi memperluas jangkauan efek kebudayaan popular tersebut ke

negara-negara dan kawasan lainnya.

Aktivitas edukasi lainnya yang dilakukan oleh KOFICE adalah melalui

konferensi drama televisi, yaitu TV Drama Conference of Asia yang mulai

dilaksanakan pada tahun 2006 dan terus dilakukan setiap tahunnya. Pada

konferensi pertama yang dilaksanakan pada tahun 2006 diikuti oleh sekitar 70

penulis skenario yang berasal dari Korea, Cina, Jepang, Taiwan, Hongkong, dan

juga Kim Eunhee yang merupakan penulis skenario Winter Sonata.107 Tujuan dari

konferensi ini pada dasarnya adalah untuk mendiskusikan mengenai kondisi

drama di setiap negara, menganalisa setiap perbedaan dan persamaan dari setiap

drama dan menemukan solusi-solusi yang dibutuhkan untuk mengembangkan

kualitas dari drama-drama tersebut. Keberhasilan dalam pengadaan konferensi

pada tahun 2006 ini akhirnya mendorong untuk pengadaan ditahun-tahun

berikutnya, seperti tahun 2007 di Shanghai, 2008 di Jepang (mulai melibatkan

negara-negara Asia Tenggara), 2009 di Korea, dan juga diadakan pada tahun 2010.

Selain konferensi dan juga Hallyu Forum di atas, KOFICE juga

melakukan aktivitas lain dibidang pendidikan, yaitu Asia Music Industry Leaders

Forum 2006.108 Dimana, tahun 2006 ini, merupakan tahun pertama bagi KOFICE

dalam mengadakan forum dibidang musik ini. Tujuan diadakannya forum ini

adalah untuk mengetahui kondisi industri musik saat itu dan juga rencana-rencana

pengembangan dan juga kerjasama bagi para orang-orang dalam industri musik di

negara-negara di Asia. Acara ini pertama kali diadakan paa tanggal 22 September

                                                            107 The ist TV Drama Writers Conference of East Asia, diakses dari http://english.kofice.or.kr/f60_academic/f60_academic_01_list.asp?strYear=2006, pada tanggal 23 November 2011, pada pukul 01:36 108 Asia Music Industry Leaders Forum, diakses dari http://english.kofice.or.kr/f60_academic/f60_academic_03_list.asp?strYear=2006, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 15:49

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 84: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

64 

Universitas Indonesia

 

2006 di Korea dan dihadiri oleh perwakilan-perwakilan dari negara-negara lain

seperti Jepang dan juga Filipina. Acara ini juga terus dilaksanakan di tahun 2008,

2009, dan juga di tahun 2010.

II.3.2.2 KOFICE dalam Bidang Pertukaran Budaya Internasional : Pertukaran Budaya Sebagai Alat Komunikasi Korea

Seperti yang telah dijelaskan diawal mengenai aktivitas-aktivitas dasar

KOFICE, mendorong terlaksananya pertukaran budaya menjadi salah satu

aktivitas utama organisasi ini. Hal ini dilakukan salah satunya adalah untuk

mendorong penyebaran budaya populer Korea ke negara-negara seperti Jepang,

Cina, Asia Tenggara, dan juga Asia Tengah. Hal ini dilakukan KOFICE dengan

beberapa cara, seperti pengadaan festival-festival baik di Korea dan juga di

negara-negara lain Asia, pertukaran opini yang dilakukan oleh para ahli media dan

budaya untuk memperoleh pengertian yang sama mengenai budaya Korea dan

juga untuk mendorong pertukaran budaya antar bangsa, dan juga melalui

penyiaran domestik konten-konten budaya populer Korea di negara-negara lain,

seperti melalui drama dan juga fim-film Korea.

Pertukaran budaya melalui konten-konten visual, yaitu World Visual

Content Exchange merupakan salah satu hal yang dilakukan oleh KOFICE dalam

mendorong adanya pertukaran budaya antar bangsa. Hal ini dikarenakan,

penyiaran merupakan salah satu cara yang efisien dalam memperlihatkan suatu

budaya satu negara ke negara lainnya. Melalui penyiaran secara visual, budaya

dapat dinikmati dengan mudah melalui cerita ataupun percakapan yang terdapat

dalam konten visual tersebut. Hal ini dilakukan melalui drama, dokumentasi, dan

juga film yang di kirim ke negara-negara luar melalui KOFICE.109 Akan tetapi,

aktivitas ini tidak hanya berjalan satu arah saja, dimana negara-negara lain juga

melakukan hal yang sama. Beberapa konten visual tersebut seperti, drama Korea

Briliant Legacy yang diproduksi pada tahun 2009 telah dikirim ke 53 negara di

Afrika, 3 negara di Asia Tengah, 12 negara di kawasan Oseania, 11 negara di                                                             109 World Visual Content Exchange: Introduction, diakses dari http://english.kofice.or.kr/e50_exchange/e50_exchange_02_1.asp, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 16:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 85: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

65

    Universitas Indonesia  

kawasan Amerika, Malta, dan juga Guyana. Selain itu drama Korea Coffee Prince

produksi tahun 2007 juga telah disiarkan di Zimbabwe dan Tanzania dan masih

banyak drama lainnya. Drama Korea yang menjadi pendorong awal Korean Wave,

yaitu Jewel in the Palace atau dalam bahasa Koreanya Dae Jang Gum juga telah

disiarkan di negara-negara seperti Zimbabwe, Zambia, Malawi, Tanzania,

Ethiopia, Uzbekistan, dan juga Afghanistan. Selain drama-drama tersebut,

KOFICE juga melibatkan serial-serial kartun sepert GO!GO! Giggles, Math Fun

With Ria, Tell me Tell me Ping & Pong, dan juga film dokumentasi The Sun

(태양의 신비). 110 Selain pihak Korea yang telah mengirimkan konten-konten

visual, beberapa negara lain juga melakukan hal sama seperti Taiwan yang

mengirimkan 7 konten visualnya yang terdiri dari drama dan film , Jepang yang

telah mengirimkan sebanyak 19 konten, termasuk diantaranya drama dan juga

dokumentasi. Dan beberapa negara lain seperti Indonesia, Jordan, Cina,

Hongkong, Thailand, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.111

Selain itu, KOFICE juga mengundang media-media dari negara-negara

lain untuk memperkenalkan budaya Korea yang pada akhirnya akan menjadi

berita di negara mereka masing-masing. Hal ini telah dilakukan sejak tahun 2006,

dimana KOFICE mengundang beberapa media yang berasal dari Taiwan,

Singapura, Sanghai, Beijing, Hongkong, Irak, Qatar, Jordan, dan juga Iran. Para

perwakilan media tersebut melihat berbagai pertunjukan budaya Korea dan juga

festival-festival di Korea untuk diberitakan di negara mereka. Sebagai contoh

pada tahun 2006 ini, para reporter tersebut juga melakukan wawancara dengan

Byunghoon Lee yang yang memproduksi serial drama Korea Dae Jang Geum.112

Acara ini menjadi acara yang terus dilaksanakan oleh KOFICE setiap tahunnya

melalui program acara Press/Cultural Opinion Leaders Exchange. KOFICE

                                                            110 World Visual Content Exchange: Korean Contents Distributed in Foreign Parts, diakses dari http://english.kofice.or.kr/e50_exchange/e50_exchange_03_1.asp, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 16:58 111 World Visual Content Exchange: Foreign Contents distributed in Korea, diakses dari http://english.kofice.or.kr/e50_exchange/e50_exchange_02_2_1.asp, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 16:59 112 Chinese-speaking reporters completed their visit and reporting of Korean culture industry, diakses dari http://www.kofice.or.kr/n_webzine/200610/activities_e.asp, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 22:22

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 86: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

66 

Universitas Indonesia

 

dalam program ini tidak hanya mengundang reporter-reporter yang berasal dari

media-media besar saja, tetapi juga mengundang mahasiswa-mahasiwa universitas

yang memang aktif dalam bidang jurnalistik. Seperti yang dilakukan pada

Agustus 2010, dimana beberapa jurnalis yang berasal dari universitas-universitas

di Cina datang ke Korea atas undangan KOFICE. Para Jurnalis yang juga

merupakan mahasiswa yang berasal dari universitas-universitas yang berbeda di

Cina dan datang ke Korea melalui proses seleksi. Selama di Korea, mereka

merasakan langsung budaya-budaya Korea dan menghadiri berbagai macam

festival seperti Korean Wave Festival.113

Selain melibatkan para ahli dalam bidang budaya dan budaya populer

Korea yang melibatkan para pengusaha, perwakilan-perwakilan negara, dan juga

media, KOFICE juga melibatkan aktor-aktor non-negara lain yaitu masyarakat

sebagai aktor yang dapat memberikan pengaruh terhadap opini budaya Korea. Hal

ini juga dilakukan KOFICE melalui pengadaan festival-festival yang diadakan

tidak hanya di Korea, tetapi juga di negara-negara lain bekerjasama dengan negara

tersebut. Salah satu festival besar yang diadakan oleh KOFICE di Korea adalah

melalui Asian Song Festival. Acara ini merupakan acara festival musik dan telah

mulai diadakan sejak tahun 2004 dan terus dilaksanakan setiap tahunnya. Acara

ini bertujuan untuk meningkatkan acara festival negara-negara di Asia dan juga

sebagai sebuah alat komunikasi oleh masyarakat Asia. 114 Dalam festival ini,

KOFICE tidak hanya melibatkan penyanyi-penyanyi dari Korea saja, tetapi juga

melibatkan penyanyi-penyanyi dari negara-negara Asia lainnya. Indonesia pernah

ikut berpartisipasi dalam festival tersebut pada tahun 2009 dan 2010, dimana

Indonesia diwakili oleh Agnes Monica Pada tahun 2010 ini, Jackie Chan dipilih

sebagai ketua kehormatan bersama dengan Lee Min Ho yang merupakan selebriti

Korea yang populer melalui drama yang dibintanginya Boys Before Flower.

                                                            113 University Newspaper Journalists from China, diakses dari http://english.kofice.or.kr/e50_exchange/e50_exchange_03_view.asp?seq=133, pada tanggal 24 November 2011, pada pukul 22:33 114 Top Stars of 9 Asian Countries Perform in Bit-Go-Eul, Gwang Ju, diakses dari http://www.kofice.or.kr/n_webzine/200610/activities_e.asp, pada tanggal 25 November 2011, pada pukul 2:05

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 87: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

67

    Universitas Indonesia  

Penjelasan secara ringkas mengenai Asian Song Festival dari mulai tahun 2005

sampai tahun 2010 tersebut dapat dilihat melalui tabel di bawah ini

Tanggal dan Lokasi Negara-negara yang Berpartisipasi Perkiraan Pengunjung

22 November 2005 di Sajik Stadium, Busan

Korea, Jepang, Cina, Taiwan, Hongkong, Thailand, Vietnam

6000 orang

22 September 2006 di World Cup Stadium, Gwangju

Korea, Jepang, Cina, Taiwan, Hongkong, Thailand, Vietnam, Singapura, Filipina, Mongolia

25.000 orang

22 September 2007 di Seoul World Cup Stadium, Seoul

Korea, Jepang, Taiwan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia 50.000 orang

3-5 Oktober 2008, di Seoul World Cup

Stadium

Korea, Jepang, Taiwan, Cina, Mongolian, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Indonesia

50.000 orang

19 September 2009, di Seoul Worldcup

Stadium

Korea, Cina, Taiwan, Hongkong, Jepang, Thailand, Indonesia, Vietnam, Ukraina,

40.000 orang

22 Oktober 2010, di Seoul Olympic Stadium, Jamsil

Korea, Jepang, Taiwan, Cina, Malaysia, Thailand

50.000 orang

Tabel 2. 2 Asian Song Festival Periode 2005-2010

Sumber: http://www.kofice.or.kr

KOFICE juga bekerjasama dengan negara-negara Asia lain dengan

mengadakan berbagai macam festival untuk mendorong adanya pertukaran

budaya antar negara tersebut. Festival ini tidak hanya terdiri dari satu jenis fetival,

tetapi beragam festival seperti festival musik tradisional dan juga modern, festival

film, peragaan busana, dan sebagainya. Pengadaan berbagai macam festival ini

dilakukan mulai tahun 2006-2010 di negara-negara luar Korea, seperti Vietnam,

Hongkong, Singapura, Thailand, Mongolia, Jepang, dan juga Taiwan. Bentuk

acara inipun bermacam, seperti festival musik, film, peragaan busana, dan

sebagainya yang dapat dilihat secara lebih terperinci dalam bagian lampiran.

Sebagai contoh adalah yang dilakukan pada tahun 2006, dimana KOFICE

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 88: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

68 

Universitas Indonesia

 

bekerjasama dengan pemerintah Vietnam mengadakan festival film di Vietnam,

yaitu Korean Film Festival yang diadakan dengan tujuan memperkenalkan film-

film Korea kepada masyarakat Vietnam.

II.4 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave

Dalam penjelasan mengenai aktivitas diplomasi publik melalui Korean

Wave ini, akan dianalisa signifikansi Korean Wave tersebut dalam diplomasi

budaya Korea yang merupakan bagian dari diplomasi publik. Penjelasan ini akan

dibagi ke dalam dua bagian seperti di atas, yaitu dari aspek pariwisata dan juga

pertukaran budaya. Selanjutnya, akan dilihat bagaimana Korean Wave ini dalam

mempengaruhi kondisi pariwisata Korea dan pengaruh Korean Wave dalam

peningkatan opini masyarakat internasional melalui analisa data.

II.4.1 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave dalam Pariwisata

Budaya populer Korea atau yang disebut dengan Korean Wave digunakan

pemerintah Korea dalam hal ini KTO untuk menarik para wisatawan datang ke

Korea. Korean Wave ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang

hendak datang Ke Korea. Keberadaan Korean Wave dalam diplomasi publik

dalam bidang pariwisata ini dapat dilihat dari digunakannya aspek-aspek dari

Korean Wave ini seperti, lokasi pengambilan drama, musik K-Pop, dan juga

penglibatan selebriti-selebriti Korea dalam program-program pariwisata Korea.

Dimulai dari tahun 2005 Korea mengeluarkan program Visit Gyeonggi-Korea

2005, Korea menggunakan lokasi pengambilan gambar drama Korea Dae Jang

Gum sebagai salah satu tempat pariwisata yang dipromosikan melalui program ini.

Selebriti juga digunakan sebagai cara dalam mempromosikan program pariwisata

tersebut. Hal ini dikarenakan kepopuleran dari drama-drama Korea, pada akhirnya

akan diikuti oleh kepopuleran dari artis-artis dan selebriti-selebrti yang berperan

dalam drama, dan juga film-film tersebut. Sebagai contoh, seperti pada program

2005 ini juga pemerintah Korea menjadikan Jung Jun-Ho sebagai salah satu duta

kehormatan program Visit Gyeonggi-Korea 2005 karena kepopulerannya dalam

serial drama Korea Honor of the Family. Selanjutnya, pemerintah semakin giat

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 89: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

69

    Universitas Indonesia  

dalam menjadikan Korean Wave sebagai alat diplomasinya dalam bidang

pariwisata untuk menarik perhatian wisatawan agar datang ke Korea.

Pada tahun 2006 ini, penggunaan Korean Wave sebagai alat dalam

diplomasi publik Korea untuk menarik wisatawan asing berhasil meningkatkan

jumlah wisatawan asing yang datang ke Pulau Jeju pada tahun 2006 tersebut.

Dimana pada tahun 2006 ini wisatawan asing yang datang ke Korea mengalami

peningkatan sebesar 20,23% dari tahun sebelumnya. Jumlah wisatawan yang

datang ke pulau tersebut sampai pada tanggal 11 September 2006 telah berjumlah

lebih dari 300.000 wisatawan, dimana pada tahun 2005 jumlah wisatawan yang

datang ke Pulau Jeju berjumlah 250.810 wisawatawan. Peningkatan wisatawan

yang datang ke Pulau Jeju ini didominasi oleh para wisatawan dari Jepang yang

memberikan kontribusi sebesar 39%, diikuti dengan Cina, Taiwan, dan

Amerika.115 Fenomena Korean Wave ini dianggap menjadi hal yang memberikan

kontribusi terhadap adanya peningkatan jumlah wisatawan tersebut. Jumlah

wisatawan yang datang ke Korea secara keseluruhan un mengalami peningkatan

4,5% dari tahun sebelumnya dan berhasil mencapai lebih dari 5 juta wisatawan. 116 Peningkatan tingkat wisawatan ini juga terdapat dalam tingkat kedatangan

secara umum, yaitu keseluruhan Korea. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2010 ,

tingkat wisatawan Korea selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Peningkatan ini tidak hanya berlaku bagi Pulau Jeju, tetapi juga Korea secara

umum, dikarenakan Pulau Jeju bukanlah satu-satunya lokasi yang

mengembangkan Korean Wave alat diplomasi dalam pariwisatanya. Secara umum,

sejak tahun 2005 sampai tahun 2010 jumlah wisatawan yang datang ke Korea

selalui bertambah. Hal ini bisa dilihat dari kenaikan grafik di bawah, dimana pada

tahun 2005 jumlah pengunjung di Korea mencapai total sebesar 6.022.752 orang

                                                            115 Kukinews, Foreign tourists to Jeju exceeds 300,000, diakses dari http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=30&bno=609140612&seq=58, pada tanggal 10 November 2011, pada pukul 20:04 116 Kukinewa, Jeju Tourists to Pass 5 Million on Dec.7, diakses dari http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=28&bno=612051460&seq=80, pada tanggal 25 November 2011, pada pukul 17:43

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 90: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

70 

Universitas Indonesia

 

dan terus mengalami peningkatan hingga mendekati angka 9.000.0000, yaitu

8.800.000 orang di tahun 2010.117

0

1.000.000

2.000.000

3.000.000

4.000.000

5.000.000

6.000.000

7.000.000

8.000.000

9.000.000

2005 2006 2007 2008 2009 2010

3‐D Column 2

 

Grafik 2. 1 Peningkatan Jumlah wisatawan di Korea

Sumber: diolah oleh penulis

Kontribusi Korean Wave dalam meningkatkan jumlah wisatawan ini

kurang lebih sebesar 10%. Akan tetapi kontribusi Korean Wave yang 10% ini juga

memberikan kontribusi pada peningkatan aspek-aspek pariwisata lainnya, seperti

budaya tradisional Korea, makanan Korea, dan juga gaya busana Korea yang

sebagian besar diperlihatkan dalam drama-drama Korea yang merupakan bagian

dalam fenomena Korean Wave. Hal ini dapat dilihat dari dari gambar dibawah ini

yang memperlihatkan persentase kontribusi Korean Wave terhadap pariwisata

Korea. Tabel di bawah ini merupakan tabel yang menjelaskan jumlah wisatawan

yang datang ke Korea dengan didasari oleh Korean Wave.

 

Gambar 2. 7 Kontribusi Korean Wave dalam Pariwisata Korea

                                                            117 Departures and Arrivals of Tourist/Analysis of Tourism Income and Spending in December 2010, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/bs/tour_investment_support/pds/content/cms_view_1245432.jsp?gotoPage=3&item=title&keyword=, pada tanggal 4 Oktober 2011, pada pukul 17:23

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 91: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

71

    Universitas Indonesia  

Sumber: Korean Tourism Organization

Oleh karena itu, penglibatan Korean Wave dalam diplomasi Korea memberikan

efek yang positif dalam meningkatan citra Korea melalui tingkat kedatangan

wisatawan yang semakin meningkat. Penggunaan lokasi-lokasi drama Korea,

menggunakan artis-artis Korea sebagai duta kehormatan yang mempromosikan

program pariwisata, dan melalui konser-konser serta festival-festival Korean

Wave menjadi cara tersendiri yang memberikan pengaruh terhadap aspek-aspek

pariwisata lainnya dan memberikan dampak positif terhadap Korea.

II.4.2 Signifikansi Diplomasi Publik Melalui Korean Wave dalam Pertukaran Budaya

Aktivitas KOFICE dalam mengembangkan dan memperluas budaya

populer Korea sangat terlihat melaui aktivitas-aktivitas yang dilakukannya,

terutama melalui acara-acara festival yang dilakukan dengan KOFICE sebagai

perwakilan dari Korea dengan negara-negara lainnya. Aktivitas-aktivitas KOFICE

tersebut, seperti mendorong pemutaran drama-drama Korea di negara-negara

lainnya, pengadaan festival dan juga forum memberikan efek yang positif

terhadap Korea. Aktivitas KOFICE melalui forum-forum dan juga konferensi

lebih digunakan untuk mencapai pemahaman mengenai budaya populer dalam hal

ini terutama budaya populer Korea di tingkat aktivis, pengusaha, dan perwakilan-

perwakilan negara. Korean Wave dalam forum-forum dan konferensi-konferensi

ini sangat terlihat melalui topik pembicaaraan dalam forum tersebut. Pengadaan

Konferensi dan forum ini dibagi dalam beberapa fokus seperti, Korean Wave

secara umum, musik dan juga drama.

Penggunaan pertukaran- pertukaran konten budaya dengan menggunakan

drama, dokumentasi, film, musik, dan segala hal yang berhubungan dengan

budaya populer Korea akan memberikan efek secara langsung terhadap

masyarakat internasional. Melalui pertukaran konten budaya populer tersebut,

masyarakat asing dapat dengan langsung merasakan konten budaya populer

tersebut yang pada akhirnya akan memberikan efek pada opini dan pandangan

mereka terhadap negara yang bersangkutan. Seperti yang dapat dilihat dari hasil

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 92: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

72 

Universitas Indonesia

 

penelitian yang dilakukan KOFICE pada Desember 2010, bahwa penggunaan

konten-konten Korean Wave seperti musik dan juga drama memberikan efek

langsung terhadap peningkatan citra Korea di mata mereka. Hal ini seperti yang

terdapat di Thailand. Dimana, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap

4.200 masyarakat Thailand. Hasil penelitian tersebut digambarkan dalam sebuah

grafik yang penulis perlihatkan di bawah ini. Grafik tersebut merupakan

merupakan gambaran pengaruh drama dan musik dalam peningkatan citra Korea

dan keinginan masyarakat internasional untuk datang ke Korea.

 

Grafik 2. 2 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Thailand

Sumber: http://webzine.kofice.or.kr/201105/eng/sub_04_01.asp

Grafik di atas menunjukkan drama dan juga musik Korea sebagai salah satu hal

yang sangat mempengaruhi intensitas masyarakat Thailand untuk melakukan

kunjungan ke Korea. Selain itu, drama dan juga musik Korea juga mempengaruhi

citra Korea dalam masyarakat Thailand dilihat dari ketertarikan untuk mengetahui

Korea secara lebih dalam. Oleh karena itu, aktivitas-aktivitas KOFICE melalui

festival musik, pendistribusian film dan drama-drama Korea menjadi aktivitas

yang mendorong peningkatan citra dan intensi masyarakat asing terhadap budaya

Korea dan Korea itu sendiri. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam penjelasan

mengenai fenomena Korean Wave bahwa ketertarikan terhadap budaya populer

Korea pada akhirnya akan memberikan efek terhadap pandangan terhadap negara

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 93: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

73

    Universitas Indonesia  

Korea itu sendiri. Pengadaan berbagai macam acara di Thailand telah menjadi

sebuah aktivitas tahunan yang dilakukan KOFICE.

Selain Thailand, Vietnam juga merupakan salah satu negara yang menjadi

tujuan KOFICE dalam melakukan aktivitas-aktivitas penyebaran budaya populer

Korea. Seperti yang dijelaskan dalam tabel aktivitas KOFICE sebelumnya,

KOFICE telah melakukan berbagai macam aktivitas, dimulai dari festival film,

musik, dan juga dalam gaya busana. Selain itu, perwakilan Vietnam juga pernah

mengikuti salah satu forum yang berhubungan dengan Korean Wave yang

diadakan oleh KOFICE. Beberapa aktivitas ini juga memberikan efek tidak

langung terhadap citra penilaian masyarakat Vietnam kepada Korea. Seperti yang

dapat dilihat dari hasil penelitian yang juga dilakukan oleh KOFICE. Dimana

melalui gambar grafik tersebut dalam dilihat bahwa musik K-Pop, film, dan juga

drama Korea memberikan pengaruh terhadap keinginan masyarakat Vietnam

untuk mengunjungi Korea dan juga merubah citra Korea di mata masyarakat

Vietnam.

 

Grafik 2. 3 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Vietnam

Sumber: http://webzine.kofice.or.kr/201106/eng/sub_04_01.asp,

Hal ini juga berlaku di negara-negara lainnya, seperti Jepang. Sebagai

negara yang pernah meng-invasi Korea, Masyarakat Jepang memiliki pandangan

tersendiri terhadap Korea. Masyarakat Jepang lebih menganggap dirinya lebih

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 94: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

74 

Universitas Indonesia

 

tinggi dibandingkan Korea. Akan tetapi, budaya populer Korea ini berhasil

mengubah pandangan tersebut dan membuat masyarakat Jepang menganggap

Korea sebagai negara yang tidak jauh berbeda dengan Jepang. KOFICE dalam hal

ini sangat berperan melalui aktivitasnnya dalam meningkatkan hubungan kedua

negara ini. Seperti yang telah dijelaskan dalam tabel aktivitas KOFICE, setiap

tahunnya KOFICE selalui mengadakan berbagai macam acara bersama dengan

Jepang sebagai sebuah ajang pertukaran budaya kedua negara dan melibatkan

hubungan kedua negara tersebut melalui konten-konten budaya populer Korea.

Hal ini seperti yang terjadi di Thailand dan juga Vietnam, juga memberikan

pengaruh positif terhadap penilaian masyarakat Jepang mengenai Korea.

Pengadaan acara-acara yang dilkukan oleh KOFICE semakin meningkatkan

pengetahuan masyarakat Jepang terhadap budaya populer Korea dan

meningkatkan keinginan masyarakat Jepang untuk mengunjugi Korea.

Kepopuleran Korean Wave di Jepang ini tidak hanya drama Korea saja, tetapi

juga musik, film, dan berbagai produk yang berhubungan Korea seperti kosmetik.

Grafik di bawah ini menggambarkan bagaimana perubahan tentang Korea dimata

masyarakat Jepang dan juga keinginan masyarakat Jepang untuk mengunjungi

Korea dipengaruhi oleh musik K-Pop, film, dan juga drama Korea.

  

Grafik 2. 4 Grafik Korean Wave dalam citra Korea di Jepang

Sumber: http://webzine.kofice.or.kr/201107/eng/sub_04_01.asp

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 95: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

75

    Universitas Indonesia  

Selain itu, setiap forum yang diadakan oleh KOFICE selalu melibatkan Jepang

sebagai salah satu lawan diskusi dalam mengembangakn Korean Wave ini dan

juga bersama-sama mendorong kemajuan budaya populer negara-negara lainnya.

KOFICE dalam hal ini menjadikan Korean Wave sebagai topik utama sebagai

sebuah negara yang memiliki kepopuleran akan budaya populernya untuk juga

membantu mendorong konten-konten budaya populer negara-negara Asia lainnya.

Beberapa negara di atas ini memperlihatkan bagaimana opini masyarakat

internasional, terutama masyarakat Asia mengenai Korean Wave. Seperti

penjelasan-penjelasan sebelumnya, KOFICE sebagai organisasi yang fokus dalam

pengembangan budaya terutama budaya populer Korea berhasil mempertahankan

dan meningkatkan citra Korea di mata masyarakat internasional. Oleh karena itu

dengan pengadaan festival-festival musik, film dan segala konten budaya populer

Korea dapat menjadi sebuah cara yang dapat memberikan efek positif terhadap

citra Korea. Hal ini dikarenakan, melalui pengadaaan festival-festival tersebut

sama saja dengan upaya Korea dalam memperkenalkan secara lebih dalam

mengenai budaya populer Korea, yaitu Korean Wave kepada masyarakat

internasional. Hal ini juga berlaku terhadap pendistribusian ataupun pertukaran

konten visual antara Korea dan negara-negara lainnya, dimana pertukaran konten

tersebut akan menjadi efek positif bagi Korea dalam memperkenalkan budaya

populer Korea melalui film, drama dan juga dokumentasi ke negara-negara lain

tetapi juga memberikan kesempatan terhadap negara-negara lain untuk juga

memperkenalkan budaya mereka ke Korea. Selain itu, dengan pengadaan berbagai

macam aktivitas di negara-negara lain, KOFICE juga melakukan promosi

terhadap masyarakat di negara-negara tersebut mengenai budaya populer Korea

yang akan menarik perhatian masyarakat setempat. Begitu juga dengan aktivitas

KOFICE untuk mengundang para jurnalis dari negara-negara asing tersebut.

Karena, dengan berita-berita artikel yang dibuat oleh para jurnalis tersebut

mengenani Korea, akan mempengaruhi citra Korea di mata internasional. Semakin

banyak artikel yang diterbitkan mengenai budaya populer Korea dan budaya

Korea di berbagai macam media, akan memperlihatkan kepopuleran Korea di

mata internasional. Hal inilah yang akhirnya dicapai oleh Korea. Aktivitas

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 96: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

76 

Universitas Indonesia

 

mengundang para jurnalis asing ke Korea untuk memperkenalkan berbagai

macam budaya dan aktivitas Korea, terutama Korea Wave telah membuat banyak

media-media asing yang menerbitkan berbagai macam artikel mengenai Korea.

Hal ini pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat

asing untuk berkunjung ke Korea untuk mengenal lebih dalam mengenai Korea.118

Penggunaan selebriti-selebrit Korea, lokasi pengambilan gambar drama-

drama Korea, dan berbagai acara yang berhubungan dengan Korean Wave

menjadi sebuah alat bagi Korea untuk memperkenalkan Korea ke masyarakat

asing melalui pengadaan berbagai aktivitas yang melibatkan negara-negara lain.

Melalui aktivitas yang dilakukan KOFICE tersebut, secara tidak langsung Korea

memperkenalkan budaya populer Korea yang dilakukan melalui seminar-seminar

dan juga berbagai macam festival. Pada dasarnya hal ini tidak hanya akan

memberikan pengetahuan mengenai budaya populer Korea saja, tetapi juga aspek-

aspek lain dari Korea. Seperti pengadaan seminar yang dilakukan oleh KOFICE.

Acara seminar ini tidak hanya menunjukkan kepopuleran dari Korean Wave saja,

tetapi juga menunjukkan hal-hal dibalik Korean Wave, seperti tekhnologi Korea

dalam upaya pengembangan Korean Wave. Hal ini juga akan menunjukkan proses

bekerja masyarakat Korea dalam upaya mendorong budaya populer tersebut baik

dalam segi drama dan juga musik. Hal ini pada akhirnya akan membuat

masyarakat asing akan mengenal Korea secara luas dan tidak hanya dalam lingkup

Korean Wave saja. Seperti yang dijelaskan oleh Mark Leonard dalam tulisannya

mengenai diplomasi publik, bahwa sebuah aktivitas diplomasi sebaiknya berjalan

dua arah. Aktivitas diolomasi melalui KOFICE ini menurut penulis merupakan

aktivitas diplomasi yang berhasil menjalan kan komunikasi antar negara yang

tidak hanya dilakukan sepihak tetapi juga melibatkan dua pihak yang

bersangkutan. Komunikasi yang terjadi dengan menggunakan Korean Wave

menjadi sebuah aktivitas diplomasi yang berjalan dua arah dari Korea ke negara-

negara lain, dan juga dari negara-negara lain ke Korea.

                                                            118 Korean National Tourism Organization, Tourism Marketing With Korean Wave, diakses dari http://visitkorea.or.kr/enu/asis/images/Korean_Wave_Eng.wmv, pada tanggal 2 Desember 2011, pada pukul 15:50

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 97: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

77

    Universitas Indonesia  

Selain untuk memperkenalkan Korea ke masyarakat asing, penggunaan

Korean Wave dalam diplomasi publik Korea ini menjadi daya tarik tersendiri bagi

Korea untuk menarik masyarakat asing untuk datang ke Korea dan mempelajari

lebih banyak mengenai Korea. Seperti yang dijelaskan oleh Arthur Asa Berger

dalam tulisannya mengenai pariwisata dan budaya populer, dimana ia

menjelaskasn bahwa pada saat orang melakukan wisata, biasanya para wisatawan

tersebut akan lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan hal-hal yang

berhubungan dengan budaya populer dan hal-hal yang berhubungan dengan

kehidupan mereka sehari-hari.119 Mengunjungi hal-hal yang berhubungan budaya

tradisional ataupun keunikan dari suatu negara tetap menjadi hal yang akan

dilakukan, tetapi menghabiskan waktu dalam mengunjungi dan melakukan hal-hal

yang berhubungan dengan budaya populer, seperti belanja pakaian dari negara

tersebut, melihat-lihat, mengunjungi tempat wisata yang terkenal dan menarik,

dan mencoba berbagai hiburan yang populer akan menjadi hal yang lebih menarik

oleh para wisatawan. Oleh karena itu, penggunaan budaya populer Korea atau

Korean Wave sebagai salah satu alat dalam diplomasi publik Korea melalui

pariwisata akan menarik minat lebih para wisatawan untuk datang ke Korea.

Berbagai aktivitas diplomasi melalui Korean Wave ini menunjukkan komitmen

dan keseriusan pemerintah dalam menggunakan Korean Wave sebagai bagian

dalam diplomasi publiknya.Hal ini juga memperlihatkan komitmen pemerintah

Korea akan pentingnya penggunaan soft power dalam upaya mendorong negara

untuk lebih maju ataupun untuk melangsungkan hubungan diplomatik dan

persahabatan dengan negara-negara lain.

                                                            119 Arthur Asa Berger, Tourism and Popular Culture, diakses dari http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=arthur%20asa%20berger%2C%20tourism%20and%20popular%20culture&source=web&cd=1&ved=0CCEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fculturestudies.pbworks.com%2Ff%2Ftourism%2Band%2Bpopularculture.doc&ei=9n3sTsbLDIrIrQeq5MWNCQ&usg=AFQjCNGCvqOUkmeFHrKEKs2pM8HdeyYGDA , pada tanggal 17 Desember 2011, pada pukul 22:17

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 98: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

78 

Universitas Indonesia

 

BAB III

ANALISA PERAN DAN FAKTOR KOREAN WAVE DALAM DIPLOMASI PUBLIK KOREA

III.1 Peran Korean Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Selatan

Korean Wave sebagai sebuah fenomena penyebaran budaya populer Korea

telah menjadi bagian dalam berbagai aktivitas diplomasi publik Korea. Korean

Wave yang merupakan sebuah budaya populer telah menjadi bagian dalam

diplomasi publik yang diberi nama diplomasi budaya. Diplomasi budaya ini pada

dasarnya tidak hanya menyangkut budaya populer saja, tetapi juga aspek lain dari

Korea, seperti budaya tradisional. Selain diplomasi budaya, Korea juga

menggunakan diplomasi olahraga yang juga selalu dijelaskan dalam buku putih

kebijakan luar negeri Korea dalam bagian diplomasi budaya.

Seperti yang dijelaskan oleh Mark Leonard dalam bukunya mengenai

diplomasi publik, pariwisata dapat menjadi sebuah tujuan dari dilakukannya

diplomasi publik dalam rangka meningkatkan hubungan dengan negara-negara

lainnya. Mempengaruhi masyarakat juga merupakan tujuan lain dari sebuah

aktivitas diplomasi publik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan apreasi

masyarakat asing terhadap suatu negara. Selain itu, kebijakan suatu negara dapat

dipengaruhi oleh opini publik yang merupakan akibat dari aktivitas diplomasi

publik. Diplomasi publik ini pada akhirnya dapat memberikan dampak positif

dalam memberikan gambaran positif mengenai negara tersebut, tetapi juga dapat

memberikan gambaran negatif suatu negara. Penggunaan budaya populer dapat

menjadi sebuah low politic dalam sebuah aktivitas diplomasi.

Berbagai aktivitas diplomasi dilakukan Korea dengan melibatkan Korean

Wave, dalam hal ini melalui aspek pariwisata dan juga pertukaran dengan negara-

negara lain. Dalam aspek pariwisata, pemerintah aktivitas diplomasi melalui

Korean Wave ini dilakukan dalam berbagai aktivitas, seperti menggunakan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 99: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

79

    Universitas Indonesia  

selebriti Korean Wave sebagai duta yang mempromosikan program Korea,

mengadakan pameran Korean Wave, mengadakan konser dan berbagai macam

aktivitas lainnya. Sedangkan dalam aspek pertukaran dengan negara-negara lain,

penggunaan Korean Wave sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi dilakukan

dengan menjadikan Korean Wave sebagai topik utama dalam forum-forum dan

juga seminar. Selain itu aktivitas Korean Wave sebagai diplomasi publik ini juga

dilakukan dengan pendistribusian konten-konten visual Korea, dan juga

pengadaan festival-festival seperti konser, pemutaran film-film Korea, peragaan

busana, dan juga pengadaan konser dalam berbagai jenis pameran yang diadakan

oleh Korea bekerja sama dengan negara-negara tersebut. Berbagai macam

aktivitas ini telah memberikan kontribusi bagi Korea. Oleh karena itu dalam bab

III ini, selanjutnya penulis akan menjelaskan peran-peran Korean Wave sebagai

bagian dari diplomasi publik di Korea yang dibagi ke dalam tiga hal. Yaitu,

meningkatkan citra positif Korea, mendukung kemajuan bidang-bidang lain dari

Korea, dan juga menarik minat masyarakat asing untuk datang ke Korea.

III.1.1 Menarik Minat Kedatangan Masyarakat Asing

Penggunaan Korean Wave sebagai alat dalam diplomasi publik Korea

yang dikemas dalam diplomasi budaya Korea seperti yang dijelaskan dalam bab II

dilakukan melalui kegiatan pariwisata dan juga pertukaran dengan negara-negara

lain. Melalui berbagai macam kegiatan seperti penggunaan selebriti sebagai duta

kehormatan yang mempromosikan program, menjadikan lokasi pengambilan

gambar drama-drama Korea sebagai objek utama dalam pariwisata, dan berbagai

macam festival yang bertemakan Korean Wave tersebut serta berbagai macam

kegiatan yang juga diadakan di beberapa negara lainnya, dinilai penulis berhasil

untuk menarik minat kedatangan masyarakat asing ke Korea. Dalam bab II telah

dijelaskan bagaimana pengaruh aktivitas diplomasi melalui Korean Wave telah

memberikan peningkatan terhadap jumlah kedatangan wisatawan asing ke Korea.

Walaupun hanya sebesar kurang lebih 10%, hal ini tetap saja menggambarkan

bahwa Korean Wave telah berhasil dalam memberikan pengaruh terhadap minat

masyarakat asing untuk datang ke Korea. Selain itu, seperti yang dijelaskan dalam

bab II bahwa Korean Wave seperti drama-drama Korea dan juga musik-musik

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 100: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

80 

Universitas Indonesia

 

Korea sangatlah berperan dalam meningkatkan minat masyarakat asing untuk

datang ke Korea. Selain itu, dalam Korean Tourism 2005 Annual Report pun

dijelaskan bahwa, sejak tahun 2003 fenomena Korean Wave sendiri telah

memberikan dampak positif terhadap industri pariwisata Korea. Dan pada tahun

2005 pengaruh Korean Wave ini terus berlanjut dan memberikan kontribusi positif

dalam berbagai kegiatan marketing dan juga hubungan masyarakat serta membuat

Korea berhasil mencapai target pariwisata, yaitu pencapaian jumlah wisatawan

internasional sebanyak 6 juta orang.120 Oleh karena itu, aktivitas diplomasi publik

Korea melalui Korean Wave yang salah satunya dilakukan melalui aspek

pariwisata ini dapat dikatakan cukup memberikan pengaruh terhadap minat

masyarakat asing untuk datang ke Korea.

Selain untuk memperkenalkan Korea ke masyarakat asing melalui

berbagai macam aktivitas dalam diplomasi publik melalui Korean Wave tersebut,

penggunaan Korean Wave dalam diplomasi publik Korea ini menjadi daya tarik

tersendiri bagi Korea untuk menarik masyarakat asing datang ke Korea dan

mempelajari lebih banyak mengenai Korea. Hal ini pada dasarnya akan lebih

signifikan terhadap para penggemar budaya populer Korea tersebut. Dimana,

dengan menggunakan lokasi-lokasi drama sebagai simbol acara, menggunakan

para selebriti, pengadaan acara-acara yang berhubungan dengan Korean Wave ini

menjadi hal yang akan langsung menarik perhatian para penggemar Korean Wave

tersebut. Hal ini seperti yang telah dijelaskan dalam bab II bahwa budaya populer

memang selalu menjadi pusat dalam aktivitas pariwisata karena karakter budaya

populer yang cenderung berhubungan dengan kebudayaan masyarakat sehari-hari.

Dimana, budaya populer Korea atau Korean Wave yang terdiri dari film, drama,

musik, gaya berbusana ini berhubungan dengan hiburan dan hal-hal yang umum

serta menjadi bagian dari masyarakat sesuai dengan penjelasan mengenai budaya

populer yang telah dijelaskan dalam penjelasan konsep.

                                                            120 Ministry of Culture and Tourism, Korean Tourism 2005 Annual Report, diakses dari http://english.visitkorea.or.kr/enu/bs/tour_investment_support/pds/content/cms_view_348962.jsp?item=title&keyword=&gotoPage=9, pada tanggal 26 Oktober 2011, pada pukul 17:36, hlm. 13

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 101: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

81

    Universitas Indonesia  

Oleh karena itu, pengadaan berbagai macam aktivitas yang berhubungan

dengan Korean Wave dalam diplomasi publik Korea baik dengan mengadakan

kegiatan-kegiatan seperti konser, festival-festival, dan pertemuan dengan selebriti-

selebriti Korea menjadi kegiatan-kegiatan yang memiliki daya tarik tersendiri bagi

para wisatawan, terutama untuk para penggemar drama-drama dan juga musik K-

Pop Korea. Selain itu, pengadaan berbagai macam aktivitas KOFICE seperti

pengadaan seminar dan forum, penyebaran konten-konten budaya populer Korea

ke negara-negara lainnya, dan pengadaan berbagai macam festival di negara-

negara lainnya menjadi cara yang tepat untuk memperkenalkan Korean Wave ke

negara-negara asing yang pada akhinya berhasil untuk meningkatkan minat

masyarakat asing untuk datang ke Korea berdasarkan penelitian yang dilakukan

oleh KOFICE pada akhir tahun 2010 di beberapa negara di Asia.

III.1.2 Meningkatkan Citra Korea Selatan di Mata Internasional

Korean Wave sebagai sebuah bagian dalam diplomasi publik Korea

memberikan peran yang positif terhadap peningkatan citra Korea di mata

internasional. Aspek-aspek Korean Wave seperti, musik, film, dan juga drama-

drama yang diikuti oleh seleberiti dan aspek-aspek lainnya yang menjadi populer

dikarenakan ketiga hal tersebut digunakan dan dilibatkan dalam berbagai akivitas

diplomasi publik melalui Korean Wave dalam bidang pariwisata dan juga program

pertukaran memberikan efek yang positif terhadap Korea.

Hal ini salah satunya dilihat melalui peningkatan wisatawan yang datang

ke Korea dari periode 2005-2010. Melalui penggunaan aspek-aspek dari Korean

Wave dalam aktivitas diplomasi publik tersebut, seperti penggunaan lokasi drama,

menjadikan selebriti sebagai duta promotor program pariwisata, serta mengadakan

berbagai macam acara yang berhubungan dengan Korean Wave menjadi hal yang

menarik untuk para wisatawan asing. Peningkatan jumlah wisatawan yang datang

ke Korea tersebut menunjukkan citra positif Korea yang semakin meningkat

dengan semakin banyaknya wisatawan yang menjadikan Korea sebagai salah satu

tujuan untuk berlibur. Hal ini juga diperlihatkan dalam satu acara yang diadakan

di Korea pada tahun 2006 dalam aktivitas diplomsi publik melalui pariwisata,

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 102: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

82 

Universitas Indonesia

 

yaitu Hallyu Expo 2006 yang berhasil menarik pengunjung dari negara asing,

terutama Jepang dan Cina pada tahun tersebut dan membuat Pulau Jeju berhasil

meningkatkan jumlah wisatawan asing sebanyak 20,23% dari tahun sebelumnya.

Selain itu pengaruh penggunaan Korean Wave sebagai alat dalam

diplomasi publik ini juga ditunjukkan dengan semakin meningkatnya ketertarikan

masyarakat asing terhadap Korea. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang

dilakukan KOFICE dalam beberapa negara di Asia, seperti Jepang, Vietnam dan

juga Thailand yang telah dijelaskan dalam bab II yang memperlihatkan

ketertarikan masyarakatnya terhadap Korea yang dipengaruhi oleh konten-konten

budaya populer seperti drama, film, dan musik Korea. Hal ini menunjukkan

bahwa kedua organisasi Korea, yaitu KTO dan juga KOFICE dalam penggunaan

Korean Wave sebagai alat diplomasi publik Korea memberikan efek positif

terhadap citra Korea di mata masyarakat internasional.

Adanya peningkatan citra positif Korea salah satunya dapat dilihat dari

perubahan status pariwisata Korea. Hal ini berhubungan dengan Jepang, dimana

sampai pada tahun 1990-an orientasi pariwisata Jepang adalah negara-negara

seperti Amerika Serikat dan juga Eropa. Korea dikenal dengan “Kiseng” dalam

pariwisatanya. Pariwisata “Kiseng” ini menggambarkan Korea sebagai sex

tourism dimana perempuan Korea menggunakan baju tradisional Korea dan

menghibur para pengunjungnya.121 Bentuk pariwisata ini sangatlah erat dengan

rasialisasi dan seksualisasi dari perempuan Korea. Pembangunan Korea, baik dari

segi ekonomi dan budaya pada akhirnya merubah citra pariwisata Korea.

Terutama dengan terkenalnya Korean Wave dikalangan masyarakat Jepang

membuat wisawatan dari Jepang tidak lagi hanya didominasi oleh laki-laki, tetapi

lebih banyak didominasi oleh perempuan. Pengaruh budaya populer Korea atau

Korean Wave di Jepang ini terutama didominasi oleh drama-drama Korea dan

                                                            121 Eiko Hasegawa, Re-orienting Tourism: Japanese Tourism in Korea and Asian Cultural Integration, diakses dari http://www.ikorea.ac.kr/congress/upload/%EC%82%AC%ED%9A%8C2-2EikoHasegawa.pdf, pada tanggal 11 Oktober 2011, pada pukul 16:30

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 103: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

83

    Universitas Indonesia  

juga artis Korea. Kedua hal ini memberikan pengaruh dalam meningkatkan

intensi masyarakat Jepang untuk mengunjungi Korea dalam rangka berlibur.122

Selain itu, aktivitas diplomasi publik Korea melalui budaya populer ini

juga berhasil mengubah porsi wisatawan yang tidak lagi hanya didominasi oleh

laki-laki saja. Hal ini terutama dengan menjadikan berbagai macam aspek Korean

Wave dalam program pariwisata Korea sebagai bagian dalam diplomasi publik

Korea untuk menarik banyak wisatawan. Dengan digunakannya lokasi

pengambilan gambar Korea, serta mengadakan berbagai macam acara Korean

Wave seperti bertemu dengan artis Korea dan berbagai macam acara Korean Wave

sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi publik Korea berhasil mengubah

proporsi wisatawan yang sebelumnya hanya didominasi oleh laki-laki. Hal ini

juga diperkuat melalui salah satu hasil penelitian yang dilakukan mengenai

dampak budaya populer yang dijelaskan bahwa, dengan pengadaan acara yang

berhubungan dengan Korea Wave, terutama selebriti-selebriti Korea membangun

sebuah kebutuhan tersendiri dalam pariwisata dan merubah persepsi mengenai

Korea. Berdasarkan penelitian tersebut dikatakan bahwa keberadaan selebriti-

selebriti Korea menjadi sebuah instrumen tersendiri yang dapat membuat para

wisatawan menjadi lebih dekat terhadap kebudayaan Korea dan dapat mengenal

kebudayaa Korea lebih dalam.123 Hal ini karena, melalui drama-drama Korea dan

musik-musik Korea, para penggemar Korea menjadi menyukai selebriti-selebriti

Korea yang terdapat dalam drama dan juga musik tersebut. Para penggemar

tersebut pada akhirnya menjadi mengikuti kehidupan para selebriti Korea, seperti

makanan para selebriti tersebut, gaya hidup, dan juga kebudayaannya. Beberapa

faktor-faktor tersebut yang secara tidak langsung membuat masyarakat asing

                                                            122 Berdasarkan penelitian Kyung Hee University terhadap 85 masyarakat jepang yang tinggal di Jepang dan Ddi Korea. 123 Sojung Lee daN Billy Bai, A Qualitative Analysis of the Impact of Popular Culture on Destination Image: A Case Study of Korean Wave from Japanese Fans, diakses dari http://scholarworks.umass.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1477&context=refereed&sei-redir=1&referer=http%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2Furl%3Fsa%3Dt%26rct%3Dj%26q%3Drole%2520of%2520korean%2520wave%2520in%2520image%2520country%26source%3Dweb%26cd%3D9%26ved%3D0CGcQFjAI%26url%3Dhttp%253A%252F%252Fscholarworks.umass.edu%252Fcgi%252Fviewcontent.cgi%253Farticle%253D1477%2526context%253Drefereed%26ei%3DBxvfTs_ZHMforQeXxsDJCA%26usg%3DAFQjCNE5b0YYIOTTexitvqjP6YW3bPU6eg%26cad%3Drja#search=%22role%20korean%20wave%20image%20country%22, pada tanggal 7 Desember 2011, pada pukul 17:09

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 104: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

84 

Universitas Indonesia

 

mengenal kebudayaan-kebudayaan Korea. Oleh karena itu, melalui aktivitas

diplomasi publik melalui Korean Wave dengan penyebara konten Korea ke

negara-negara asing, seperti film dan juga drama-drama Korea menjadi sebuah

cara positif yang pada akhirnya membentuk citra positif mengenai Korea.

Aktivitas diplomasi melalui Korean Wave juga dilkakukan oleh KOFICE

melalui mengundang berbagai media yang berasal dari berbagai negara untuk

memperkenalkan Korea ke masyarakat luar, dan memperkenalkan budaya populer

Korea menjadi sebuah tujuan utama dalam mengundang para jurnalis dan media

tersebut. Memperkenalkan budaya populer ini menjadi tujuan utama dilihat dari

aktivitas KOFICE yang selalu memperkenalkan budaya populer tersebut melalui

mengundang para jurnalis tersebut ke Asian Song Festival dan pertunjukan musik

lainnya selama jurnalis tersebut berada di Korea. Kepopuleran Korean Wave ini

menjadi hal yang dominan dalam mengundang para jurnalis-jurnalis tersebut

untuk datang ke Korea dan memperkenalkan kebudayaan Korea secara lebih

dalam. Salah satu contohnya adalah pada tahun 2007 bulan Oktober KOFICE

mengundang jurnalis-jurnalis dari Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina,

Myanmar, dan juga Malaysia yang merupakan negara dengan kepopuleran budaya

populer Korea yang cukup signifikan untuk datang ke Korea selama satu minggu

dan mengunjungi berbagai macam acara, salah satunya adalah Busan

International Film Festival yang diharapkan dapat meningkatkan kepopuleran

Korean Wave di negara-negara tersebut.124

Berita-berita yang didapat oleh para jurnalis tersebut diterbitkan dalam

media-media di negara mereka masing-masing. Media-media ini menjelaskan

mengenai Korea baik dari segi film, drama, makanan, gaya busana, dan berbagai

gaya hidup Korea yang telah diperkenal KOFICE selama para jurnalis dan media-

media tersebut berada di Korea. Pada akhirnya hal ini mendorong munculnya

berbagai macam artikel mengenai Korea di berbagai macam media di negara-

                                                            124 Press Reporters from 7 Nations in Asia Visit South Korea to Report on the South Korean Cultural Industry, diakses dari http://www.kofice.or.kr/n_webzine/200710/eng/kofice_activities.html, pada tanggal 3 Desember 2011, pukul 19:56

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 105: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

85

    Universitas Indonesia  

negara tersebut. Selain itu, melalui pemberitaan media-media ini Korean Wave

menjadi sangat berperan sebagai sebuah alat diplomasi. Korean Wave menjadi

alasan pemerintah dalam mengadakan berbagai macam program yang

dilaksanakan di negara Korea, di laksanakan di negara-negara lain, ataupun

dilaksanakan di Korea dengan melibatkan negara-negara lain. Melalui berbagai

macam program tersebut, citra Korea menjadi semakin positif di mata negara-

negara lain melalui pemberitaan para media tersebut mengenai budaya Korea,

khususnya budaya populer Korea. Berbagai aktivitas diplomasi yang dilakukan

oleh Korea melalui Korean Wave ini juga berhasil meningkatkan citra positif

terhadap Korea yang sempat mengalami penurunan dikeranakan Perang Iraq,

SARS, dan juga kontroversi nuklir dengan negara Korea Utara pada tahun

2003.125 Ketiga isu tersebut merupakan permasalahan-permasalahan yang berhasil

menurunkan citra positif Korea Selatan dan juga mengurangi secara drastis jumlah

kedatangan masyarakat asing di Korea. Akan tetapi, keberadaan Korean Wave

sebagai alat dalam diplomasi publik Korea yang dikemas melalui diplomasi

budaya berhasil meningkatkan citra positif Korea yang salah satunya dapat dilihat

melalui peningkatan masyarakat asing yang berdatangan ke Korea dan juga

melalui pengaruh Korean Wave yang mampu memberikan opini positif terhadap

Korea.

III.1.3 Aktivitas Diplomasi Publik Melalui Korean Wave Mendorong Kemajuan Bidang Lain Korea Selatan

Seperti yang dijelaskan dalam bab II, Korean Wave pada dasarnya

merupakan sebuah budaya pop ataupun budaya populer Korea yang yang pada

awalnya hanyalah berhubungan dengan musik, drama Korea, dan juga film-film

Korea. Akan tetapi melalui kepopuleran drama-drama, musik, dan juga film

tersebut ketenaran budaya populer Korea ini menyebar dan tidak hanya mengenai

ketiga hal tersebut. Kepopuleran yang sebelumnya hanya didominasi oleh drama,

musik, dan juga film tersebut meluas menjadi kepopuleran akan selebriti-

                                                            125 Korean National Tourism Organization, Tourism Marketing With Korean Wave, diakses dari http://visitkorea.or.kr/enu/asis/images/Korean_Wave_Eng.wmv, pada tanggal 2 Desember 2011, pada pukul 15:50

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 106: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

86 

Universitas Indonesia

 

selebritinya, budaya tradisional Korea, produk-produk Korea, gaya hidup

masyarakatnya, dan segala hal yang berhubungan dengan Korea.

Aktivitas diplomasi pemerintah Korea melalui Korean Wave pada

akhirnya juga semakin memperkuat kemajuan dari aspek-aspek lain ataupun

bidang lain dari Korea. Seperti yang dijelaskan dalam bab II, setiap tahunnya

Korea membuat berbagai macam program yang mempromosikan provinsi-

provinsi dan juga kota-kota Korea, program ini berjalan setiap tahun dengan

mengadakan berbagai macam acara yang tidak hanya menyangkut dan

berhubungan dengan Korean Wave. Selain itu, Korea juga melibatkan selebriti-

selebriti yang terkenal melalui drama-drama, film, dan juga musik K-Pop tersebut

sebagai perwakilan-perwakilan Korea dalam memporomosikan programnya,

sebagai contoh keberadaan Rain dalam program Visit Gyeongbuk-Korea 2007.

Pada tahun tersebut, salah satu acara yang diadakan adalah konser Rain yang

bertujuan untuk mendorong berjalannya program tahun 2007 tersebut. Akan tetapi,

tujuan tersebut bukanlah tujuan satu-satunya. Tujuan lain dari dilakukannya

konser tersebut adalah sekaligus merayakan ditetapkannya kota Daegy sebagai

penyelenggaran International Association of Athletics Federation (IAAF) World

Championship yang diadakan pada tahun 2011. Hal ini pada akhirnya

menunjukkan kemajuan lain dari Korea, yang tidak hanya berhubungan dengan

budaya populer tetapi juga upaya pemerintah untuk mendorong kemajuan Korea

melalui budaya populer atau Korean Wave.

Contoh lain adalah pengadaan acara utama dengan menggunakan lokas-

lokasi pengambilan drama-drama Korea. Seperti pada tahun 2005 yang

merupakan tahun berjalannya program pariwisata Korea, yaitu “Visit Gyeonggi-

Korea Year 2005” merupakan program yang pada dasarnya bertujuan untuk

memperkenalkan kebudayaan tradisional Korea. Melalui tujuan ini, pemerintah

lokal sangat mendorong lokasi-lokasi pengambilan gambar drama-drama Korea,

sepertu Dae Jang-geum, My Sassy Girl, King and the Clown sebagai sebagai

tujuan utama berwisata. Salah satunya adalah Hwaseong Fortress yang

merupakan salah satu tempat sejarah kerajaan Korea dan merupakan lokasi

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 107: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

87

    Universitas Indonesia  

pengambilan gambar dari drama Korea Dae Jang-geum menjadi salah satu lokasi

pariwisata yang sangat dipromosikan pada tahun tersebut. Selain itu, dalam acara

yang menyangkut Korean Wave, seperti Hallyu Expo ataupun Hallyu Wave

Festival pemerintah setempat selalu menjadikan acara-acara tersebut untuk

memperkalkan budaya lain Korea seperti makanan Korea dan juga budaya

tradisional Korea. Hal ini juga dilakukan melalui penggunaa selebriti dalam

mempromosikannya, seperti yang dilakukan Ryu Siwon yang merupakan duta

kehormatan yang mempromosikan kebudayaan tradisional Korea pada tahun 2007

dalam program “Visit Gyeongbuk-Korea 2007”.

Oleh karena itu, penggunaan Korean Wave sebagai alat diplomasi publik

Korea ini pada akhirnya juga memajukan aspek-aspek lain ataupun bidang lain

dari Korea,seperti olahraga dan juga kebudayaan tradisional Korea. Selain itu

acara Korean Grand Sale yang juga diadakan Korea dalam setiap program

tahunannya mendorong peningkatkan penjualan terhadap produk-produk Korea,

seperti kosmetik dan pakaian-pakaian Korea yang dikenal melalui drama-drama

dan juga film-film Korea. Film-film dan drama-drama Korea yang juga

disebarkan melalui kegiatan yang dilakukan oleh KOFICE melalui penyebaran

konten drama dan juga festival film yang diadakan di negara-negara lain secara

tidak langsung akan mengenalkan produk-produk Korea. Hal ini diperkuat melalui

hasil penelitian yang dilakukan Korea International Trade Association (KITA)

pada tahun 2011, dimana dijelaskan bahwa Korean Wave memberikan efek positif

terhadap peningkatan konsumsi produk-produk Korea oleh masyarakat asing.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 1.173 masyarakat yang berasal dari Jepang,

Cina, Taiwan, Vietnam, dan masyarakat Korea. Berdasarkan penelitian tersebut,

lebih dari 80% koresponden menyatakan bahwa Korean Wave memberikan

pengaruh terhadap keinginan mereka untuk membeli produk-produk yang berasal

dari Korea. Di bawah ini merupakan grafik yang digunakan dalam hasil penelitian

tersebut. Melalui grafik tersebut dapat dilihat bahwa Korean Wave memberikan

pengaruh terhadap konsumsi produk-produk Korea.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 108: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

88 

Universitas Indonesia

 

Grafik 3. 1 Pengaruh Korean Wave dalam Kemajuan produk-produk Korea

Sumber: http://global.kita.net/_engapp/board_view.jsp?grp=S2&no=914&code=S2001

Secara lebih lanjut pun dijelaskan bahwa makanan, kosmetik, dan juga produk

pakaian merupakan produk-produk Korea yang peningkatannya sangat

dipengaruhi oleh Korean Wave  seperti yang digambarkan dalam grafik di bawah

ini.

 

Grafik 3. 2 Presentase pengaruh Korean Wave dalam produk-produk Korea

Sumber: http://global.kita.net/_engapp/board_view.jsp?grp=S2&no=914&code=S2001

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 109: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

89

    Universitas Indonesia  

Pemaparan di atas menggambarkan bagaimana produk-produk Korea serta

aspek-aspek lain dari Korea mengalami kemajuan dikarenakan aktivitas diplomasi

publik Korea melalui Korean Wave. Oleh karena itu aktivitas diplomasi Korea

melalui Korean Wave ini pada akhirnya dapat dikatakan berhasil mendorong

kemajuan bidang-bidang lain dari Korea termasuk produk-produk Korea. Seperti

yang dijelaskan dalam tulisan Shuling Huang dalam Nation Branding and

Transnational Consumption: Japan-mania and the Korean Wave in Taiwan

dijelaskan bahwa aktivitas pariwisata pada dasarnya dapat mendorong kemajuan

segala hal yang berhubungan degan Korea.126

Hal ini juga dipertegas melalui penelitian yang dilakukan oleh SAMSUNG.

Dimana, SAMSUNG Economic Research Institute menjelaskan bahwa ekspansi

dari Korean Wave terdiri dari empat tahap. Tahap pertama adalah ekspansi dari

budaya populer itu sendiri, termasuk diantaranya adalah program televisi Korea,

film, dan juga musik Korea. Tahap kedua, masyarakat mulai membeli produk-

produk yang berhubungan dengan budaya populer Korea, seperti album musik

dari serial drama Korea, aksesoris yang digunakan oleh artis dalam drama tersebut,

ataupun mulai mengikuti program-program wisata ke Korea yang berhubungan

dengan budaya populer Korea yang ada dalam drama tersebut. Tahap ketiga,

masyarakat mulai untuk membeli produk-produk Korea yang tidak hanya

merupakan bagian dari dalam drama tetapi secara langsung berhubungan dengan

budaya dan Korea itu sendiri, seperti produk elektronik dan juga kosmetik.

Dengan berjalannya ketiga tahap tersebut dalam masyarakat yang menyukai

Korea, maka masyarakat tersebut pada akhirnya akan membentuk sebuah

pandangan baru terhadap dan mengenai Korea. Selanjutnya, hal ini akan

memberikan kontribusi dalam peningkatan para wisawatawan yang datang ke

Korea.127 Oleh karena itu, penggunaan Korean Wave dalam diplomasi publik

                                                            126 Shuling Huang, Nation-branding and Transnational Consumption: Japan-mania and the Korean Wave in Taiwan, diakses dari http://dct.nctu.edu.tw/files/faculty_files/fct_18/ShulilngHuang_2011_Nation-brandingandTransnationalConsumption.pdf, pada tanggal 5 Desember 2011, pada pukul 11:25, hlm. 8. 127 Milim Kim, The Role of the Government in Cultural Industry: Some Observation from Korea’s Experience, diakses dari http://www.mediacom.keio.ac.jp/publication/pdf2011/10KIM.pdf, pada tanggal 1 Agustus 2011, pada pukul 22:53, hlm. 167

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 110: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

90 

Universitas Indonesia

 

Korea secara tidak langsung akan memberikan kemajuan terhadap aspek-aspek

dan produk-produk lain dari Korea. Penggunaan Korean Wave yang merupakan

budaya populer sebagai alat diplomasi publik tersebut selain dapat meningkatkan

citra Korea juga dapat meningkatkan komoditas Korea di mata internasional

termasuk juga aspek-aspek lain dari Korea.

III.1.4 Mendorong Terjalinnya Kerjasama Dengan Negara-Negara Lain

Dalam penjelasan mengenai aktivitas diplomasi publik melalui Korean

Wave yang telah dijelaskan dalam bab II, KOFICE dan KTO merupakan dua

organisasi yang memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas

tersebut sesuai dengan bagian-bagiannya. KTO menjadi organisasi yang memiliki

tanggung jawab dalam bidang pariwisata dengan menggunakan aspek-aspek yang

berhubungan dengan Korean Wave dalam program-program pariwisata yang

dijalankannya sebagai sebuah bentuk aktivitas diplomasi publik. KOFICE di lain

pihak, menjadi organisasi yang cenderung memiliki aktivitas ke arah luar, dalam

hal ini adalah mendorong penyebaran Korean Wave ke negara-negara lain di luar

Korea.

Seperti yang telah dijelaskan dalam bab II, KOFICE menjadi sebuah

organisasi dengan tanggung jawab untuk meningkatkan pandangan masyarakat di

negara asing mengenai budaya Korea melalui aktivitas-aktivitas pertukaran

budaya. Pertukaran budaya dilakukan demi berjalannya tujuan dasar aktivitas

diplomasi publik Korea, yaitu memberntuk sebuah kerjasama. Melalui aktivitas

diplomasi publik dengan menggunakan Korean Wave, KOFICE berupaya

membentuk fondasi dalam pertukaran budaya dan kerjasama antar bangsa. Hal ini

dilakukan baik dalam edukasi, seperti seminar dan juga forum dan juga dalam

bidang seni, seperti pengadaan acara berbagai macam festival. Dalam bab II pun

telah dijelaskan ringkasan mengenai aktivitas diplomasi publik melalui Korean

Wave yang dilakukan oleh KOFICE. Berbagai macam aktivitas KOFICE dalam

dua fokus kegiatan tersebut merupakan aktivitas-aktivitas yang melibatkan

keberadaan negara-negara lain. Salah satunya adalah dalam pengadaan seminar

dan juga forum mengenai Korean Wave. Dimana, dalam acara tersebut, KOFICE

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 111: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

91

    Universitas Indonesia  

bekerjasama dengan negara-negara lain seperti, Jepang, Cina, dan negara Asia

lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya itu, pengadaan

seminar dan juga forum tersebut juga dilaksanakan di negara-negara lain dengan

melibatkan negara yang bersangkutan sebagai tuan rumah yang akan mengadakan

acara seminar dan juga forum tersebut.

Penggunaan budaya populer sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi

Korea menjadi sebuah cara dalam meningkatkan hubungan Korea dengan negara-

negara lain. Dimana salah satunya, budaya populer telah berhasil menjadi sebuah

jembatan dalam hubungan antara Jepang dan Korea. Hal ini lebih lanjut dijelaskan

oleh KOFICE bahwa musik sebagai salah satu bagian dalam budaya populer dapat

menjadi sebuah penguhubung untuk menjadikan hubungan antara negara-negara

di Asia menjadi lebih dekat.128Oleh karena itu, aktivitas diplomasi publik melalui

Korean Wave ini menjadi aktivitas yang mendorong terjalinnya kerjasama Korea

dengan negara-negara lainnya.

III.2 Faktor-Faktor di Balik Korean Wave

Budaya populer Korea atau yang disebut dengan Korean Wave dipilih dan

digunakan dalam diplomasi publik Korea pada dasarnya dikarenakan akan

kepopulerannya yang berhasil meningkatkan Korea dalam bidang ekonomi pada

awalnya. Kepopuleran akan Korean Wave ini memberikan peluang terhadap

Korea untuk menunjukkan pada dunia sebagai negara yang mengalami kemajuan,

memiliki budaya yang unik dan menarik serta berbeda dengan negara lainnya.

Kepopuleran Korean Wave ini didorong oleh beberap hal, seperti peran

pemerintah dan juga kepopuleran budaya populer Korea tersebut atau Korean

Wave.

III.2.1 Faktor Komitmen Pemerintah dalam Korean Wave

Peran pemerintah Korea dalam meningkatkan dan menyebarkan budaya

populernya atau Korea Wave ke negara-negara luar sangatlah signifikan. Peran

                                                            128 Pop Music to Bridge Gap Among Asians, diakses dari http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/print_added.jsp?bno=609140607&sort_num=43, pada tanggal 14 Januari 2012, pada pukul 23:46

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 112: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

92 

Universitas Indonesia

 

pemerintah ini telah dimulai sejak pemerintah Korea belum menjadikan Korean

Wave sebagai bagian dalam diplomasi publiknya. Hal ini dilihat dari tahun 1998,

dimana Presiden Korea saat itu yaitu Kim Dae Jung menyatakan bahwa salah satu

tujuan pemerintahnya adalah untuk meningkatkan ekspor budaya Korea. Korea

harus bisa menjadi negara yang tidak hanya dapat mengekspor hasil industri

manufakturnya, tetapi juga memberikan sesuatu yang berbeda terhadap

masyarakat internasional yang dilakukan melalui aspek budaya. Dalam ini, drama

seri Korea menjadi salah satu komoditas unggulannya dalam pemasaran Hallyu ke

negara-negara lain. 129

Salah satu alasan yang mendorong pemerintah Korea untuk

mengembangkan ekspor budaya Korea ini adalah krisis ekonomi yang terjadi di

Asia pada tahun 1997 yang memberikan dampak terhadap industri budaya Korea

dan juga usaha-usaha Korea secara nasional. Alasan ini mendorong pemerintah

Korea untuk mengembangkan aspek softpower Korea terutama dalam bidang

budaya Korea. 130 Hal ini salah satunya dilakukan pemerintah Korea dengan

mendorong ekspor penyiaran konten-konten Korea, yaitu film dan drama ke

negara-negara luar. Salah satu aktivitas dalam mendorong ekspor tersebut

dilakukan pemerintah melalui membeli hak penyiaran drama-drama Korea dan

mendistribusikannya ke negara-negara lain tanpa mengedepankan biaya. Selain

untuk meningkatkan perekonomian Korea, hal ini juga dilakukan untuk

meningkatkan citra Korea dalam masyarakat internasional. 131

Pemerintah tidak hanya bekerja sendiri dalam mendorong ekspor konten-

konten budaya populer tersebut ke negara-negara lainnya. Pemerintah melibatkan

para pengusaha yang merupakan aktor swasta dalam mendorong perkembangan

industri perfilman Korea tersebut yang dilakukan berdasarkan Motion Picture

Promotion Law pada tahun 1995. Kebijakan yang disahkan pada tahun 1995                                                             129 Nesya Amellita, Kebudayaan Populer Korea: Hallyu dan Perkembangannya di Indonesia (Jakarta: Universitas Indonesia),hlm. 35-36 130 Tyas Huybrechts, The Korean Wave, diakses dari http://www.tyas.be/files/[KCS-leuven]paper-TyasHuybrechts-film010708.pdf, pada tanggal 6 April 2011, pada pukul 12:04 131 Shim Sungeun, Behind The Korean Broadcasting Boom, diakses dari http://www.nhk.or.jp/bunken/english/reports/pdf/08_no6_10.pdf, pada tanggal 4 Mei 2011, pada pukul 20:38, hlm. 213-215

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 113: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

93

    Universitas Indonesia  

tersebut berhasil menarik para pihak swasta, seperti Samsung, Daewoo, dan juga

Hyundai dalam mengembangkan perfilman Korea. Salah satunya adalah film yang

berhasil menjadi film yang sangat populer dan menjadi salah satu film yang

berhasil menyebarkan budaya populer Korea, yaitu film Shiri merupakan film

Korea yang diproduksi oleh Samsung Entertainment Group yang dimiliki oleh

Samsung. Film ini berhasil menarik pengunjung sebesar 8 juta penonton pada

tahun 2001.132

Komitmen pemerintah ini berlanjut dengan menjadikan Korean Wave

sebagai bagian dari diplomasi publiknya melalui kebijakan-kebijakan yang

dikeluarkannya dan mengimplemetasikannya dalam berbagai aktivitas. Peran

pemerintah dalam melaksanakan diplomasi publiknya ini dilakukan dengan

membentuk dua organisasi yang telah dijelaskan dalam bab II dengan tanggung

jawab yang berbeda. KTO dalam hal ini merupakan organisasi pemerintah yang

bertanggung jawab dalam aspek pengembangan pariwisata. Melalui KTO inilah

pemerintah mengadakan berbagai macam aktivitas dengan melibatkan Korean

Wave untuk dipromosikan ke masyarakat asing. Selain itu, pemerintah

menggandeng berbagai macam selebriti yang telah terkenal melalui drama-drama

Korea dan juga para penyanyi Korea untuk mempromosikan dan memperkenalkan

berbagai macam program tersebut ke masyarakat internasional. Terdapat istilah

baru yang dikenal baru-baru ini dalam menjelaskan cara kerja Korea tersebut,

yaitu Asian Values-Hollywood Styles, dimana dengan cerita-cerita yang dikemas

dalam drama-drama dan film Korea yang bernuansakan kehidupan Asia, tetapi

dipasarkan dengan memakai cara internasional yang mengedepankan penjualan

nama seorang bintang sejakigus menjual style yang mengusung kekhasan budaya

Korea.133 Selain KTO, pemerintah juga membentuk KOFICE yang bertanggung

jawab untuk mendorong aspek budaya-budaya populer Korea keluar dengan

program utama untuk melakukan pertukaran dengan negara-negara lain. Hal ini                                                             132 Doobo Shim, Preparing for the Post-Korean Wave Age, diakses dari http://www.kiseas.org/zboard/data/month_speaker/shim.doc&ei=G6vlTuqpNs_QrQeg-NGbCA&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CB4Q7gEwAA&prev=/search%3Fq%3DPreparing%2Bfor%2Bthe%2BPost-Korean%2BWave%2BAge%26hl%3Did%26biw%3D1280%26bih%3D668%26prmd%3Dimvns, pada tanggal 21 April 2011, pada pukul 19:42 133 Nesya Amellita, op. cit, hlm. 37

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 114: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

94 

Universitas Indonesia

 

dilakukan dengan mengadakan seminar-seminar ataupun forum-forum yang juga

mengundang partisipasi dari negara-negara lain seperti Jepang, Cina, Filipina,

Thailand dan negara-negara lainnya. KOFICE juga melakukan pendistribusian

konten-konten visual Korea seperti film, drama, dokumentasi, dan juga film-film

Korea ke negara-negara lain dan hal itu juga berjalan dua arah dari negara lain ke

Korea. Pengadaan festival-festival seperti Asian Song Festival yang diadakan di

Korea dan juga festival-festival lain yang diadakan di negara-negara lain juga

merupakan aktivitas yang dilakukan KOFICE. Berbagai macam kegiatan yang

diadakan oleh dua organisasi tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam

menggunakan Korean Wave baik dalam mengembangkan budayanya sebagai cara

ekspor negaranya dan juga dalam aktivitas diplomasi publiknya.

III.2.2 Faktor Kepopuleran Korean Wave

Keberhasilan Korean Wave dalam mendukung aktivitas diplomasi publik

Korea pada dasarnya didukung oleh kepopuleran Korean Wave tersebut terlebih

dahulu. Seperti yang dijelaskan dalam bab II, Korean Wave yang merupakan

fenomena budaya populer Korea merupakan sebuah budaya populer yang menjadi

sangat populer, terutama di negara-negara Asia. Kepopuleran budaya populer ini

dimulai dengan kepopuleran drama Korea, musik, dan juga film-film selanjutnya

diikuti dengan aspek-aspek lain Korea. Korean Wave ini pada dasarnya

merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kecintaan terhadap budaya

populer Korea yang diperkenalkan pertama kali di Cina pada tahun 1999.

Dimulai dengan penayangan drama Korea What is Love di Cina, budaya

populer Korea ini terus menyebar dan disukai oleh beragam masyarakat yang juga

berasal dari beragam negara. Penayangan drama Korea What is Love ini juga

diikuti dengan penayangan drama-drama Korea lainnya yang menjadi pemimpin

dalam fenomena Korean Wave tersebut. Gambar grafik di bawah ini

menggambarkan bagaimana program-program televisi Korea ini mengalami

peningkatan yang signifikan dan terus meningkat sejak tahun 2002 sampai tahun

2007 di dalam grafik tersebut. Hal ini memperlihatkan kepopuleran Korean Wave

yang juga semakin meningkat dengan semakin meningkatnya juga tingkat eskpor

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 115: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

95

    Universitas Indonesia  

program-program televisi yang termasuk diantaranya adalah drama dan juga film-

film Korea.

 

Grafik 3. 3 Grafik ekspor dan impor program TV Korea

Sumber: http://www.scribd.com/doc/64040042/The-Korean-Wave-A-New-Pop-Culture-Phenomenon

Gambar grafik di bawah ini menggambarkan bagaimana program-program

televisi Korea ini mengalami peningkatan yang signifikan dan terus meningkat

sejak tahun 2002 sampai tahun 2007 di dalam grafik tersebut. Hal ini

memperlihatkan kepopuleran Korean Wave yang juga semakin meningkat dengan

semakin meningkatnya juga tingkat eskpor program-program televisi yang

termasuk diantaranya adalah drama dan juga film-film Korea.

Dengan semakin populeranya program-program televisi seperti drama-

drama Korea, musik dan juga selebriti Korea semakin meningkat kepopulerannya.

Dimulai dengan grup musik Korea H.O.T yang terkenal di Cina dan Taiwan pada

tahun 1998, menjadi pemimpin dalam penyebaran Korean Wave dalam bidang

msik. Kepopuleran grup ini diikuti oleh penyanyi-penyanyi lain seperti Ahn Jae-

Wook, Shinhwa, Baby V.O.X, D dan yang lainnya. Musik Korea ini atau yang

disebut sebagai K-Pop muncul sebagai generasi berikutnya dari Korean Wave.

Pada perkembangan awalnya, Boa dan Rain menjadi ratu dan juga raja dalam

musik K-pop tersebut. Boa sendiri merupakan penyayi Korea yang lebih fokus

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 116: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

96 

Universitas Indonesia

 

dalam mempromosikan musiknya ke negara-negara seperti Jepang dan juga

Amerika Serikat. Boa merupakan penyayi Korea pertama yang berhasil terkenal di

Jepang dan merupakan satu-satunya penyayi yang bukan berasal dari Jepang yang

berhasil menjual albumnya lebih dari 1 juta kopi di Jepang. Sedangkan Rain

merupakan penyayi Korea yang juga merupakan seorang aktor, penari, model dan

juga seorang pengusaha. Rain merupakan salah satu penyanyi Korea yang berhasil

memasuki Hollywood dengan aktingnya dalam film Ninja Assassin pada tahun

2009 dan juga Speed Racer pada tahun 2008. Kepopuleran Korean Wave generasi

pertama yang lebih didominasi oleh drama-drama dan film-film Korea dilanjutkan

dengan Korean Wave generasi kedua yang juga didominasi oleh musik K-Pop.

Generasi kedua dari Korean Wave ini semakin menyebarkan perannya dalam

penyebaran budaya populer Korea dengan bergabungnya grup-grup musik Korea,

seperti Girls Generation, Super Junior, Kara, DBSK, dan grup musik Korea

lainnya yang berhasil meraih kepopulerannya tidak hanya di negara-negara Asia,

tetapi juga di kawasan lainnya di dunia.

 

Grafik 3. 4 Pendapatan berdasarkan konten musik

Sumber: http://seriquarterly.com/03/qt_Section_read.html?mncd=0303&pub=20110414&Falocs=03&dep=

3&pubseq=215

Generasi kedua Korean Wave menjadi fenomena budaya populer yang

terus meningkat kepopulerannya dengan menjadi salah satu penyumbang utama

pemasukan bagi Korea sejak pertengahan tahun 2003. Pada tahun 2008

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 117: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

97

    Universitas Indonesia  

pemasukan dari bernyayi dan menari tersebut telah berhasil memberikan

pemasukan terhadap Korea lebih dari $200 juta lebih besar dari pemasukan yang

didapat dari drama-drama Korea pada tahun-tahun awal kepopulerannya, yaitu

diawal tahun 2000-an. Kepopuleran musik K-pop ini juga dilihat dari angka

peningmat video musik yang dilihat dari Youtube  yang cukup tinggi. Masyarakat

yang melihat video-video musik dari salah satu website ini menunjukkan tidak

hanya berasal dari Korea, tetapi juga negara-negara lain seperti, kawasan Asia

Tenggara, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan juga Amerika. Asia memang

menjadi kawasan dengan penikmat video musi K-Pop yang paling tinggi, yaitu

sebesar 566.273.899 . Hal ini dikarenakan kawasan Asia ini merupakan kawasan

pertama yang mengalami fenomena penyebaran Korean Wave ini dibandingkan

dengan kawasan lainnya, seperti Amerika dan juga Eropa serta kawasan lainnya

seperti yang diperlihatkan dalam gambar 3.3 di bawah ini.

 

Gambar 3. 1 Jumlah penonton video musik Korea dari Youtube

Sumber: http://www.scribd.com/doc/64040042/The-Korean-Wave-A-New-Pop-Culture-Phenomenon

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 118: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

98 

Universitas Indonesia

 

Kepopuleran fenomena budaya populer Korea atau yang disebut sebagai

Korean Wave tersebut pada akhirnya mempermudah aktivitas diplomasi publik

Korea yang dilakukan melalui Korean Wave. Pemerintah dalam hal ini hanyalah

berupaya dalam menjaga kepopuleran tersebut melalui aktivitas diplomasinya dan

melebarkan pengaruh Korean Wave ke negara-negara di luar Asia yang memang

baru merasakan fenomena Korea Wave tersebut. Kepopuleran Korean Wave ini

pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang mendorong keberhasilan dari

diplomasi publik Korea tersebut. Kepopuleran akan Korean Wave ini mendorong

kepopuleran dari aspek-aspek lain dari Korea, seperti budaya tradisonal Korea dan

juga barang-barang produksi Korea. Kepopuleran akan budaya populer Korea

inilah yang pada akhirnya juga memberikan pengaruh terhadap Korea dalam

melakukan aktivitas diplomasi dengan menggunakan aspek-aspek soft power

Korea.

Kepopuleran selebriti-selebriti Korea dan juga penyayi Korea juga

menjadi faktor penting yang memberikan kemudahan bagi Korea dalam

melaksanakan diplomasi publiknya melalui Korean Wave. Seperti yang dijelaskan

dalam bab II, bahwa kepopuleran akan drama Korea akan mendorong kepopuleran

terhadap para pemain dalam drama tersebut, dalam hal ini adalah para selebriti

Korea. Para penggemar drama-drama tersebut pada akhirnya akan mengikuti

kebisaan dan gaya hidup para selebriti tersebut.

III.2.3 Faktor Informasi Mengenai Korean Wave

Dalam penjelasan Nye mengenai diplomasi publik, informasi menjadi

salah faktor penting yang dapat memberikan efek positif terhadap berjalannya

sebuah aktivitas diplomasi. Secara lebih lanjut dijelaskan oleh Nye bahwa

sekarang ini informasi menjadi sebuah kekuatan terutama dengan semakin

besarnya populasi dunia yang mengakses informasi tersebut. Akan tetapi,

informasi itu sendiri tidaklah selalu memberikan hal yang positif bagi satu pihak.

Informasi juga dapat memberikan efek negatif. Selain itu, editor dan juga cue-

givers juga menjadi hal yang penting karena keberadaan mereka dapat

mempengaruhi posisi dan pandangan satu pihak. Informasi dalam hal ini menjadi

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 119: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

99

    Universitas Indonesia  

penting dan berperan dalam mendorong citra negara di mata masyarakat

internasional.

Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong keberhasilan diplomasi

publik Korea melalui Korean Wave tersebut. Seperti yang telah dijelaskan dalam

aktivitas diplomasi publik dalam bidang pariwisata dan juga pertukaran budaya,

penyediaan informasi menjadi salah satu aktivitas yang sangat digunakan oleh

Korea dalam memperkenalkan negaranya ke masyarakat luar. Dalam bidang

pariwisata, pemerintah Korea juga selalu mengadakan berbagai macam acara yang

dilaksanakan di Korea dan juga beberapa negara di luar Korea untuk

mempromosikan program-program pariwisata Korea. Pengadaan berbagai macam

acara tersebut juga melibatkan aspek-aspek dari Korean Wave seperti para

penyayi Korea dan juga para selebriti Korea. Melalui keberadaan para penyayi

dan selebriti Korea tersebut, pemerintah Korea secara tidak langsung

memperkenalkan dan memberikan informasi kepada masyarakat luar mengenai

budaya populer mereka ataupun yang disebut dengan Korean Wave.

Akan tetapi, keberadaan informasi mengenai Korean Wave dalam

diplomasi publik Korea ini lebih banyak dalam aktivitas program pertukaran

dengan negara-negara lain, yang dilakukan oleh organisasi KOFICE. KOFICE

dalam salah satu aktivitas diplomasinya secara jelas mengundang berbagai macam

media dari negara-negara lain dan memperkenalkan budaya populer Korea, yakni

Korean Wave kepada media-media tersebut yang selanjutnya akan dipublikasikan

di negara mereka masing-masing. Hal ini memperlihatkan adanya penyediaan

informasi yang dilakukan oleh Korea dan menunjukkan pentingnya faktor

informasi dalam aktivitas diplomasi publik Korea. Selain itu, melalui aktivitas

diplomasi publik lainnya yaitu penyebaran konten visual, memperlihatkan

bagaimana pemerintah Korea mendorong penyebaran informasi mengenai Korean

Wave melalui konten-konten visual tersebut. Melalui penyebaran konten-konten

visual tersebut, masyarakat asing dapat secara langsung mengetahui mengenai

Korea dan budaya populer Korea tersebut.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 120: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

100 

Universitas Indonesia

 

Berbagai aktivitas yang dilakukan pemerintah Korea ini mendorong

penyebaran informasi mengenai Korean Wave dan Korea secara umum. Hal ini

pada akhirnya mendorong dampak positif terhadap Korea. Dimana, melalui

penyediaan dan penyebaran informasi yang dilakukan pemerintah Korea secara

terus-menerus akan membuat masyarakat internasional mengetahui lebih banyak

mengenai Korea dan medorong mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka

mengenai Korea juga. Selanjutnya, hal ini akan mendorong tingkat kedatangan

masyarakat asing ke Korea, mendorong citra Korea menjadi semakin positif, dan

memajukan Korea secara keseluruhan.

III.3 Kesimpulan Peran dan Faktor Korean Wave Sebagai Diplomasi Publik Korea

Melalui analisa diatas, maka dapat disimpulkan bahwa diplomasi publik

Korea melalui Korean Wave memiliki tiga faktor utama yang mendorong

keberhasilan dalam perannya, yaitu peran pemerintah, kedua adalah faktor

kepopuleran dari Korean Wave, dan faktor informasi mengenai Korean Wave itu

sendiri. Ketiga faktor inilah yang menjadi kunci utama dalam keberhasilan

berjalannya diplomasi publik Korea melalui Korean Wave dalam menarik minat

para masyarakat asing untuk datang ke Korea, meningkatkan citra positif Korea,

mendorong kemajuan aspek-aspek lain dari Korea, dan mendorong terjalinnya

kerjasama antara Korea dengan negara-negara lainnya. Seperti yang dijelaskan

oleh Mark Leonard bahwa tujuan dilaksanakannya diplomasi publik diantaranya

adalah, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai suatu negara,

meningkatkan apresiasi masyarakat suatu negara, meningkatkan hubungan dengan

suatu negara, dan mempengaruhi masyarakat. Dijelaskan secara lebih lanjut

bahwa beberapa hal di atas tersebut dapat dilakukan melalui understanding,

informing, dan juga influencing foreign audiences. Ke-tiga peran pertama dalam

diplomasi publik melalui Korean Wave¸yaitu menarik minat para masyarakat

asing, meningkatkan citra positif Korea, dan juga mendorong kemajuan aspek-

aspek lain dari Korea pada dasarnya menunjukkan keberhasilan Korea dalam

mencapai tujuan utama diplomasi publik melalui diplomasi budaya Korea yang

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 121: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

101

    Universitas Indonesia  

telah dijelaskan dalam bab II, yaitu memperkuat daya saing nasional melalui

peningkatan citra Korea. Selain itu, peran diplomasi publik melalui Korean Wave

yang ke-empat yaitu mendorong upaya kerjasama antara Korea dengan negara-

negara lain menunjukkan keberhasilan Korea dalam mencapai tujuan diplomasi

publik yang dijelaskan dalam diplomasi budaya, yaitu mendorong kerjasama

dengan negara-negara lain

Melalui peran-peran Korean Wave dalam diplomasi publik Korea, yaitu

menarik minat para masyarakat asing untuk datang ke Korea, meningkatkan citra

positif Korea, dan mendorong kemajuan aspek-aspek lain dari Korea pada

dasarnya telah sesuai dengan tujuan dari dasar dilaksanakannya diplomasi publik.

Dan hal ini dilakukan dengan berbagai aktivitas diplomasi seperti pariwisata dan

juga pertukaran budaya yang secara tidak langsung sesuai dengan beberapa

aktivitas yang dapat dilakukan dalam diplomasi publik, yaitu understanding,

informing, dan juga influencing foreign audiences. Akan tetapi, pemaparan pada

penjelasan di atas ini lebih banyak dijelaskan secara naratif. Oleh karena itu,

penulis akan menampilkan flowchart hasil temuan dari penelitian ini yang

merupakan pemaparan singkat dari seluruh hasil penelitian ini.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 122: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

102 

Universitas Indonesia

 

Diplomasi Publik Korea Melalui Korean Wave Periode 2005-2010

 

Skema 3.1SkemaTemuan Penelitian

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 123: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

103

    Universitas Indonesia  

BAB IV

KESIMPULAN

Isu-isu Hubungan Internasional sekarang ini telah menjadi sebuah

hubungan antar negara yang komplek dengan berbagai macam permasalahan dan

dinamika yang berbeda di setiap negara. Permasalahan keamanan dan juga

ekonomi tidak lagi menjadi masalah satu-satunya yang dihadapi oleh negara-

negara sekarang ini. Demokrasisasi di setiap negara menimbulkan dinamika dan

pada akhirnya mendorong setiap masyarakat di setiap negara memiliki

pemahaman mengenai politik serta mempunyai opini tentang negara lain.

Keadaan ini membuat isu masyarakat sipilpun ikut menjadi perhatian negara dan

pada akhirnya setiap negara berlomba memberikan penggambaran positif tentang

negara mereka di mata internasional yang sesuai dengan kepentingan nasional

negara masing-masing. Pemerintah sebagai salah satu unsur negara berupaya

melakukan berbagai komunikasi sebagai bagian dalam aktivitas diplomasi untuk

mencari mencapai kepentingan nasionalnya dan mendorong peningkatan citra

positif negara di mata internasional.

Meskipun demikian, aktivitas-aktivitas diplomasi tradisional yang hanya

melibatkan aktor-aktor negara saja tidaklah cukup dalam mencapai kepentingan

nasionalnya tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa dalam era

globalisasi saat ini telah menimbulkan keberadaan masyarakat sipil global yang

menunjukkan realita sosial berkembangnya partisipasi politik dan sosial yang

tidak saja berasal dari pemerintahan, tetapi juga dari ranah lain seperti, warga

negara, gerakan sosial, dan juga individu-individu lain yang juga bergerak secara

global. Hal ini menjadi sebuah gambaran baru yang memperlihatkan bahwa

aktivitas diplomasi saat ini tidaklah lagi cukup hanya dengan melibatkan peran

negara saja tetapi juga melibatkan publik dengan beragam bidangnya yang sangat

variatif.

Pada akhirnya pemerintah membutuhkan cara baru dalam melakukan

komunikasinya dengan negara-negara lain yang dilakukan dengan menggunakan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 124: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

104 

Universitas Indonesia

 

budaya populer negara tersebut. Budaya populer ini menjadi sebuah trend baru

yang mulai dikembangkan oleh negara-negara terutama negara-negara di Asia

dengan memadukan konsep barat dan timur dalam satu kesatuan. Dengan tetap

memegang pada konsep modern, budaya populer ini tidak sepenuhnya

melepaskan nilai negaranya masing-masing. Pada awalnya budaya populer ini

bukan merupakan bagian dalam aktivitas diplomasi suatu negara, Akan tetapi

kepopuleran yang cukup signifkan yang dapat dihasilkan oleh budaya populer ini

dalam menarik perhatian masyarakat asing pada akhirnya mendorong pemerintah

suatu negara untuk mengembangkan industri budaya populernya dan

menjadikannya bagian dalam aktivitas diplomasi dalam rangka berkomunikasi

dan memperkenalkan negaranya ke masyarakat luar.

Salah satu aktivitas diplomasi dengan menggunakan budaya populer

adalah keberadaan Korean Wave dalam aktivitas diplomasi Korea. Korean Wave

pada dasarnya merupakan fenomena budaya populer Korea yang telah berhasil

tersebar dan dikenal oleh masyarakat asing, terutama masyarakat-masyarakat

negara Asia. Keberhasilan Korean Wave ini digunakan pemerintah sebagai

peluang untuk meningkatkan citra positif Korea dengan menjadikan Korean Wave

dalam bagian aktivitas diplomasi publik. Korea mulai menggunakan Korean Wave

sebagai bagian dalam diplomasi publiknya melalui kebijakan-kebijakan yang

dikeluarkan sejak tahun 2005. Selain itu, hal ini diperjelas melalui aturan-aturan

aktivitas diplomasi publik yang dikeluarkan pada tahun 2007, sebagaimana

dijelaskan dalam principal Goals and Directions of Korean Cultural Diplomacy.

Melalui kebijakan tersebut pemerintah Korea mulai melaksanakan aktivitas

diplomasinya melalui Korean Wave, yang dilakukan berdasarkan beberapa

strategi pelaksanaan, yaitu aktivitas promosi dan budaya secara komprehensif dan

sistematis, mendirikan dan mengembangkan strategi promosi dan budaya khusus

disesuaikan dengan negara ataupun daerahnya, memperkuat kemitraan dengan

organisasi lokal serta perusahaan Korea di luar negeri, memperluas program

budaya berorientasi masa depan, dan berpartisipasi aktif dalam organisasi

internasional.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 125: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

105

    Universitas Indonesia  

Penulis memilih aktivitas diplomasi publik melalui Korean Wave yang

dilakukan oleh Korea melalui aspek pariwisata dan juga pertukaran budaya yang

dilakukan dengan negara lain pada periode 2005 sampai tahun 2010. Dengan

menggunakan Korean Wave ini pemerintah Korea mengadakan berbagai macam

acara baik di Korea dan juga di luar Korea. Aktivitas diplomasi ini menjadi lebih

beragam dan menarik, dimana dilakukan baik secara formal dan juga informal.

Secara formal, acara ini dilakukan dengan mengadakan seminar-seminar dan juga

forum-forum dengan mengundang berbagai pembicara profesional dari negara

yang berbeda dengan tujuan membicarakan mengenai fenomena Korean Wave 

dan upaya pengembangannya. Keterlibatan pembicara-pembicara dari negara lain

tersebut menggambarkan ketertarikan negara-negara lain dalam budaya populer

Korea, yakni Korean Wave. Keberhasilan Korea dalam menggunakan Korean

Wave sebagai bagian dalam diplomasi publiknya mendorong para pembicara dari

negara-negara lain untuk memahami lebih dalam mengenai budaya populer

tersebut dan mecoba kemungkinan untuk membentuk budaya populer di

negaranya berdasarkan Korean Wave tersebut. Selain itu, pemerintah Korea

mengundang berbagai media yang berasal dari negara-negara lain dan

memperkenalkan berbagai macam keunikan Korea termasuk Korean Wave.

Secara informal, Korea melakukan aktivitas diplomasi publiknya melalui

pengadaan berbagai macam festival yang dilakukan melalui dua organisasi Korea,

yaitu KTO dan KOFICE. Pengadaan berbagai macam festival ini menjadi sebuah

cara bagi Korea dalam menjalankan aktivitias diplomasinya dalam

memperkenalkan Korea pada umumnya dan Korean Wave pada khususnya.

Pengadaan acara festival ini dilakukan Korea dengan mengadakan Korean Wave

Festival, Hallyu Expo, menjadikan lokasi pengambilan drama Korea sebagai

objek wisata yang hampir selalu dilakukan disetiap program setiap tahunnya.

Selain pengadaan berbagai macam acara di Korea, aktivitas diplomasi publik

melalui Korean Wave ini juga dilakukan di negara-negara Asia lainnya, seperti

Jepang, Thailand, Vietnam, Cina, dan sebagainya. Bekerjasama dengan

pemerintah negara-negara tersebut, Korea mengadakan berbagai macam festival

seperti film, musik, dan juga peragaan busana yang melibatkan kedua belah pihak.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 126: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

106 

Universitas Indonesia

 

Hal ini menunjukkan upaya Korea untuk melakukan kerjasama-kerjasama dengan

negara-negara lain dalam bidang non-formal.

Pelaksanaan berbagai macam aktivitas diplomasi ini dikoordinir dengan

pembagian kerja yang baik, dimana dalam bidang pariwisata, pemerintah Korea

memberikan tanggung jawab kepada KTO. KTO dalam hal ini yang

merencanakan program tahunan wisata Korea, seperti Visit Gyeonggi-Korea 2005,

Visit Jeju Year 2006, Visit Gyeongbuk-Korea 2007, Visit Gwangju Jeonnam

Korea Year 2008, Visit Incheon Year 2009, Visit Korea 2010-2012. Melalui

program tahunan tersebut, KTO bekerjasama dengan pemerintah lokal daerah

mengadakan berbagai macam acara selama periode tahunan tersebut. Sedangkan,

dalam bidang pertukaran budaya KOFICE menjadi organisasi yang bertanggung

jawab. KOFICE dalam hal ini mengadakan berbagai macam kegiatan seperti

festival, forum dan seminar, serta penyebaran konten visual yang pada dasarnya

dilakukan bedasarkan tujuan awal diplomasi publik Korea, yaitu pertukaran

budaya dengan negara-negara lain.

Aktivitas-aktivitas diplomasi publik melalui Korean Wave ini telah

berhasil dijalankan dalam rangka mencapai dua tujuan utama Korea, yaitu

mendorong kerjasama dengan negara lain dan juga memperkuat daya saing

nasional melalui peningkatan citra nasional negara Korea. Hal ini disimpulkan

oleh penulis berdasarkan temuan penulis selama menyelesaikan penelitian,

dimana penulis mendapatkan empat hal. Pertama, penulis melihat bahwa aktivitas

diplomasi publik melalui Korean Wave ini berhasil menarik minat masyarakat

asing untuk datang ke Korea. Sesuai dengan peningkatan yang berkelanjutan

dalam jumlah masyarakat asing yang datang ke Korea sejak tahun 2005-2010.

Dalam penjelasan di bab III sebelumnya dijelaskan bahwa Korean Wave ini

berperan dalam meningkatkan jumlah kedatngan wisatawan sebesar kurang lebih

10%. Kedua, penulis menilai bahwa aktivitas diplomasi publik ini berhasil dalam

meningkatkan citra positif Korea di mata internasional. Pada dasarnya temuan

yang kedua ini merupakan lanjutan dari temuan pertama penulis. Karena, adanya

peningkatan akan jumlah masyarakat asing yang datang ke Korea menunjukkan

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 127: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

107

    Universitas Indonesia  

bahwa terdapat peningkatan dalam keingintahuan masyarakat asing mengenai

Korea. Terus meningkatnya masyarakat asing yang datang ke Korea, maka akan

semakin menunjukkan citra Korea yang semakin meningkat secara positif. Selain

itu, dalam bab II juga dijelaskan mengenai pengaruh Korean Wave dalam citra

Korea di mata internasional berdasarkan aktivitas yang dilakukan oleh KOFICE.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas diplomasi melalui Korean Wave

yang dilakukan oleh KOFICE ini berhasil meningkatkan citra positif Korea

berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh KOFICE. Ketiga, aktivitas

diplomasi ini berhasil mendorong kemajuan bidang-bidang lain dari Korea.

Aktivitas diplomasi publik melalui Korean Wave ini berhasil memajukan bidang

lain dari Korea seperti olahraga dan terutama kebudayaan tradisional Korea.

Didukung dengan pengadaan berbagai macam program lainnya, seperti Korean

Grand Sale yang juga diadakan Korea dalam setiap program tahunannya telah

mendorong peningkatkan penjualan terhadap produk-produk Korea, seperti

kosmetik dan pakaian-pakaian Korea yang dikenal melalui drama-drama dan juga

film-film Korea. Film-film dan drama-drama Korea yang juga disebarkan melalui

kegiatan yang dilakukan oleh KOFICE melalui penyebaran konten drama dan

juga festival film yang diadakan di negara-negara lain secara tidak langsung akan

mengenalkan produk-produk Korea. Dan yang keempat adalah, aktivitas

diplomasi publik melalui Korean Wave ini berhasil mendorong adanya kerjasama

antara Korea dengan negara-negara lainnya.

Penulis menilai bahwa keberhasilan ini pada dasarnya tidaklah lepas dari

beberapa faktor, yaitu kepopuleran dari Korean Wave itu sendiri, faktor informasi

mengenai Korean Wave, dan juga komitmen pemerintah. Komitmen pemerintah

dalam mengembangkan Korean Wave dalam aktivitas diplomasinya ini

mendukung keberhasilan aktivitas diplomasi publik melalui Korean Wave tersebut.

Pemerintah Korea dalam hal ini menyadari pentingnya soft power dalam aktivitas

diplomasinya. Oleh karena itu, pemerintah Korea sangat berkomitmen baik dalam

mengembangkan budaya populernya dan juga dalam pelaksanaan aktivitas

diplomasi Korea. Komitmen pemerintah ini juga diperlihatkan melalui kerjasama

dalam aktivitas diplomasi melalui Korean Wave tersebut yang tentu saja

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 128: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

108 

Universitas Indonesia

 

melibatkan pihak-pihak lain, terutama masyarakat sipil seperti selebriti yang

berperan besar dalam menarik perhatian masyarakat asing melalui penampilan-

penampilannya dalam drama, film, dan juga musik-musik mereka. Selain itu,

keberhasilan diplomasi publik melalui Korean Wave ini juga didukung oleh

kepopuleran dari fenomena budaya populer Korea itu sendiri. Seperti yang telah

dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya, bahwa fenomena Korean Wave ini telah

dimulai sejak akhir tahun 1990an. Kepopuleran Korean Wave yang telah lebih

dahulu ini pada akhirnya mempermudah segala aktivitas diplomasi melalui

Korean Wave ini selama periode 2005-2010 tersebut. Informasi juga menjadi

faktor yang terpenting dalam mendukung keberhasilan aktivitas diplomasi publik

melalui Korean Wave. Informasi mengenai budaya populer tersebut yang

disebarkan oleh pemerintah melalui berbagai macam aktivitas diplomasi menjadi

salah satu faktor yang mendorong keberhasilan aktivitas diplomasi publik melalui

Korean Wave tersebut.

Melalui penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya

populer dalam aktivitas diplomasi publik merupakan sebuah hal yang baru yang

berhasil menjalankan dasar dalam definisi diplomasi publik, yaitu komunikasi

antara government to people dan people to people. Selain itu, penggunaan Korean

Wave dalam diplomasi publik ini sesuai dengan tujuan dari diplomasi publik yang

dijelaskan oleh Mark Leonard, yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat

mengenai suatu negara, meningkatkan apresiasi masyarakat mengenai negara,

meningkatkan hubungan antara suatu negara dengan negara lainnya, dan juga

mempengaruhi masyarakat.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 129: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

109

    Universitas Indonesia  

DAFTAR PUSTAKA

I. BUKU

Banyu, Anak Agung dan Yanyan Mochamad Yani. 2006. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya)

Anheir, Helmut, dkk. 2001. Global Civil Society 2001, (Oxford: Oxford University Press)

Holsti, K.J. 1987. Politik Internaisonal: Kerangka Analisa, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya)

Baylis, John dan Steve Smith. 2005. The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, (New York: Oxford University Press)

Kyong-dong, Kim dan The Korean Herald. 2008. Social Change in Korea, (Paju, Korea: Jimoondang)

Suryokusumo, Sumaryo. 2004. Praktik Diplomasi, (Depok: Penerbit STIH “IBLAM”)

Papp, Daniel S. 1997. Contemporary International Relations, Frameworks for Understanding, (United States of America: Allyn and Bacon)

Leonard, Mark. 2002. Public Diplomacy, (London: The Foreign Policy Centre)

Warsito, Tulus dan Wahyuni Kartikasari. 2007. Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang : Studi Kasus Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Ombak)

Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantittative Approaches, (Colifornia: Sage Publications)

Neuman, W. Laurence. 1991. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 3nd ed., (Boston: Allyn and Bacon)

Huat, Chua Beng dan Koichi Iwabuchi (Ed). 2010. East Asian Pop Culture: Analysing the Korean Wave ( Hong kong: Hong Kong University Press)

Storey, John. 2010. Cultural Theory and Popular Culture Fifth Edition. (Londong: Prentice Hall)

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 130: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

110 

Universitas Indonesia

 

II. SKRIPSI

Amellita, Nesya. 2010. Kebudayaan Populer Korea: Hallyu dan Perkembangannya di Indonesia. (Jakarta: Universitas Indonesia.)

Nuran, Ainan. 2009. Analisa Peran Diplomasi Selebriti Oleh Bono Dalam Isu Pengentasan Kemiskinan Global, Studi Kasus: Peran Bono Dalam Kampanye Make Poverty History 2005-2007. (Jakarta: Universitas Indonesia)

III. KARYA LAIN DAN KARYA NONCETAK

Data Statistik Kedatangan Wisatawan Setiap tahun http://english.visitkorea.or.kr dan http://kto.visitkorea.or.kr

Penjelasan Mengenai Kebijakan pemerintah dalam Korean Wave http://www.mofat.go.kr. http://www.mct.go.kr

Aktivitas dalam bidang pariwisata http://english.visitkorea.or.kr, http://english.gg.go.kr, http://www.newsworld.co.kr

Aktivitas program pertukaran budaya http://www.kofice.or.kr

IV. JURNAL

Lee, Sue Jin. 2011. The Korean Wave: The Seoul of Asia.The Elon Journal of Undergraduate Research in Communication, Vol.2, Spring 2011, Nomor 1 www.elon.edu/docs/e-web/academics/communications/.../09SueJin.pdf

Shim, Doobo. 2006. Hybridity and the rise of Korean popular culture in Asia. Media Culture & Society January 2006, Vol. 28, Nomor 1 http://www2.fiu.edu/~surisc/Hybridity%20and%20the%20rise%20of%20Korean%20popular%20culture%20in%20Asia.pdf

Kim, Jine E. 2010. Introduction to Three Asias: South Korea, Korea’s In Between. Paradoxa, Nomor. 22 paradoxa.com/excerpts/Jina_Kim.pdf

Joang. Cho Hae. 2005. Reading the, “Korean Wave” as a Sign of Global Shift. Volume 45, Nomor. 4, Winter 2005. www.ekoreajournal.net/free_pdf/4504/8CHJ.PDF

Cho, Chul Ho. Korean Wave in Malaysia and Changes of the Korea-Malaysia Relations. Jurnal Pengajian Media Malaysia Jilid 12, Nomor 1.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 131: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

111

    Universitas Indonesia  

umrefjournal.um.edu.my/.../JPMM%202010_1%20Cho,%20Chul%20Ho.pdf

Creigton, Millie. 2009. Japanese Surfng the Korean Wave: Drama Tourism, Nationalism, and Gender via Ethnic Eroticisms. Southeast Review of Asian Studeis, Volume 31. http://www.uky.edu/Centers/Asia/SECAAS/Seras/2009/03_Creighton_2009.pdf

Kim, Milim. 2011. The Role of the Government in Cultural Industry: Some Observation from Korea’s Experience. Kelo Communication Review, Nomor. 33 http://www.mediacom.keio.ac.jp/publication/pdf2011/10KIM.pdf

Huang, Shuling. 2011. Nation-branding and Transnational Consumption: Japan-mania and the Korean Wave in Taiwan. Media, Culture & Society. Volume 33, Nomor 1. http://mcs.sagepub.com/content/33/1/3.full.pdf+html

Yasuko, Tashiro. 2008. Behind the Korean Broadcasting Boom. NHK Broadcasting Studies 2009 Nomor 6. http://www.nhk.or.jp/bunken/english/reports/pdf/08_no6_10.pdf

MCST. 2011. The Korean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Contemporary Korea Nomor 1. http://www.scribd.com/doc/64040042/The-Korean-Wave-A-New-Pop-Culture-Phenomenon

V. PUBLIKASI ELEKTRONIK

Glassgold, Stacy Michelle. 2004. Public Diplomacy: The Evolution of Literature. http://uscpublicdiplomacy.org/pdfs/Stacy_Literature.pdf

Layer, Stefanie. 2010. An Exploration of Japan’s Soft Power. www.culturaldiplomacy.org/.../manga-and-anime-an-exploration-of-japans-soft-power.pdf,

Mori, Sumiko. 2006. Japan’s Public Diplomacy and Regional Integration in East Asia: Using Japan’s Soft Power. http://www.wcfia.harvard.edu/us-japan/research/pdf/06-10.mori.pdf

So, Jiyeon. 2009. Pop culture as an instrument for global public diplomacy: A case study of the influences of the Korean Wave on Asian publics.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 132: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

112 

Universitas Indonesia

 

http://www.allacademic.com/meta/p_mla_apa_researchcitation/2/9/5/4/5/p295450_index.html

The Levin Institute. Culture and Globalization. http://www.globalization101.org/uploads/File/Culture/cultall2010.pdf

Grenz, Stanley J. 2004. (Pop) Culture:Playground of the Spirit or Diabolical Device?. http://www.stanleyjgrenz.com/articles/(pop)culture.pdf

Batora, Josef. Multistakeholder Public Diplomacy of Small and Medium-Sized States:Norway and Canada Compared. www.diplomacy.edu

Doobo, Shim. 2011. Perkembangan Gelombang Korea. 8 Januari

http://kyotoreviewsea.org/KCMS/?p=251&lang=id

Chen, Jessica. 2008. A Study on Cultural Tourism and South Korean Government. http://c030.wtuc.edu.tw/ezcatfiles/c030/img/img/743/282605760.pdf

Kim, Kwanyong. Hallyu Dream Festival. http://www.hallyudreamfestival.or.kr/intro/e_intro2.html

A New Look at Cultural Diplomacy: A Call to Japan's Cultural Practitioners. 28 April. http://www.mofa.go.jp/announce/fm/aso/speech0604-2.html

Seats to Hallyu Expo in Short Supply. 17 November. http://english.kbs.co.kr/entertainment/news/1425666_28572.html

Je-hae, Do. 2009. 'Visit Korea' Campaign Launched in Japan. 30 September. http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2011/04/117_52780.html

Gracia, Cathy Rose A. 2007. Hallyu Forum to Be Held at Harvard. 29

Januari. http://www.hancinema.net/hallyu-forum-to-be-held-at-harvard-8518.html

Staff. 2009. Visit Korea Incheon 2009. 9 Mei.

http://www.koreaittimes.com/story/1331/visit-korea-incheon-2009

Arirangnews. 2009. Falling for Korea, Sparkling Road Trip 한국체험기. 22 Desember. http://www.youtube.com/watch?v=2te0SS7odlk,

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 133: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

113

    Universitas Indonesia  

Coolsmurf. 2009. Stars Gather for Incheon Korean Wave Festival 2009. 31 Agustus. http://www.allkpop.com/2009/08/stars_gather_for_incheon_korean_wave_festival_2009,

Admin. 2007. Sang Joon Ly, Chairman of Golden Bridge Finance Group,

Establishes HanViet Fondation to Enhance Partnership between Korea and Vietnam. 27 Agustus. http://www.hanvietfoundation.org/en/all/view.asp?dh_id=73&page=3&kind=news&search=&select=&keyword=&searchCategory=,

Hying. 2009. Top Korean Stars performing for Incheon Korean Wave

Festival 2009. 20 Agustus. http://www.koreanclicks.com/korean-stars-news/top-korean-stars-performing-for-incheon-korean-wave-festival-2009.

Heesung, Kim. 2009. Dignitaries celebrate the Visit Korea Year 2010-2012.

24 November. http://www.korea.net/detail.do?guid=26379#content Hasegawa, Eiko. Re-orienting Tourism: Japanese Tourism in Korea and

Asian Cultural Integration. http://www.ikorea.ac.kr/congress/upload/%EC%82%AC%ED%9A%8C2-2EikoHasegawa.pdf,

Oh, Jean. 2010. Drama writers from Asia foster ties at conference. 30 Maret.

http://www.koreaherald.com/national/Detail.jsp?newsMLId=20090605000080

Berger, Arthur Asa. Tourism and Popular Culture.

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=arthur%20asa%20berger%2C%20tourism%20and%20popular%20culture&source=web&cd=1&ved=0CCEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fculturestudies.pbworks.com%2Ff%2Ftourism%2Band%2Bpopularculture.doc&ei=9n3sTsbLDIrIrQeq5MWNCQ&usg=AFQjCNGCvqOUkmeFHrKEKs2pM8HdeyYGDA

Overview of Project.

http://www.h-wood.co.kr/en/work/work01.php 2006 Proclaimed “Year to Visit Jeju”.1 Januari.

http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=32&bno=601127404&seq=35

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 134: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

114 

Universitas Indonesia

 

Hallyu Stars to Meet Fans in Cheju. 8 Januari. http://www.mykoreanstars.com/forums/showthread.php?t=145

Ryu Siwon Weekly: Visit Gyeongbuk-Korea.

http://favosaurus.com/video/?v=9V5JX1Kc9u4 Gun, Jindo. Jindoe Yeingdeung Moses Miracle Parting of the Sea Festival.

http://www.festivals.com/Jindo+Yeongdeung+Moses+Miracle+Parting+of+the+Sea+Festival-South%20Korea-NA-Jindo-gun-PfxZ8VsrIU4%3D.aspx

Focus on . . . Muan! White Lotus Festival (July 25 - July 29).

http://cdn.emarketingsg.com/emktg/korea/korea061308.htm 2009 Year to Visit Incheon. 13 Februari.

http://www.koreaittimes.com/story/633/2009-year-visit-incheon Lawlietta. 2009. Incheon Korean Wave Festival 2009 Wrap-up. 12 September.

http://www.allkpop.com/2009/09/incheon_korean_wave_festival_tonight “2010-2012 Visit Korea Year” Campaign.

http://brandingkorea.org/campaigns-archive/2010-2012-visit-korea-year/

Jae-un, Lim. 2009. Korean wave crashes upon Shanghai shores. 30 Desember. http://www.mct.go.kr/english/issue/issueView.jsp?pSeq=1426

Busan International Fireworks Festival. 30 September.

http://koreabridge.net/event/busan-international-fireworks-festival-october-2010

Hallyu To Be Subject of Harvard Forum, and More. 2 Juni

http://www.hancinema.net/talk-of-the-townhallyu-to-be-subject-of-harvard-forum-and-more-8627.html

Kukinewa. 2006. Foreign Tourists To Jeju Exceeds. 14 September.

http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=30&bno=609140612&seq=58

Kukinewa. 2006. Jjeu Tourists to Pass 5 Million on Dec.7. 5 Desember.

http://www.investkorea.org/InvestKoreaWar/work/reg/eng/ne/index.jsp?l_

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 135: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

115

    Universitas Indonesia  

unit=90202&m_unit=90308&code=11405&no=608300004&page=28&bno=612051460&seq=80

Hasegawa, Eiko. Re-orienting Tourism: Japanese Tourism in Korea and

Asian Cultural Integration. http://www.ikorea.ac.kr/congress/upload/%EC%82%AC%ED%9A%8C2-2EikoHasegawa.pdf

Lee, Sojung dan Billy Bai. 2010. A Qualitative Analysis of the Impact of

Popular Culture on Destination Image: A Case Study of Korean Wave from Japanese Fans. 30 Juli. http://scholarworks.umass.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1477&context=refereed&sei-redir=1&referer=http%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2Furl%3Fsa%3Dt%26rct%3Dj%26q%3Drole%2520of%2520korean%2520wave%2520in%2520image%2520country%26source%3Dweb%26cd%3D9%26ved%3D0CGcQFjAI%26url%3Dhttp%253A%252F%252Fscholarworks.umass.edu%252Fcgi%252Fviewcontent.cgi%253Farticle%253D1477%2526context%253Drefereed%26ei%3DBxvfTs_ZHMforQeXxsDJCA%26usg%3DAFQjCNE5b0YYIOTTexitvqjP6YW3bPU6eg%26cad%3Drja#search=%22role%20korean%20wave%20image%20country%22

Korean National Tourism Organization. Tourism Marketing With Korean

Wave. http://visitkorea.or.kr/enu/asis/images/Korean_Wave_Eng.wmv Huybrechts, Tyas. The Korean Wave. dari

http://www.tyas.be/files/[KCS-leuven]paper-TyasHuybrechts-film010708.pdf

Shim, Doobo. Preparing for the Post-Korean Wave.

http://www.kiseas.org/zboard/data/month_speaker/shim.doc Gyeongju World Culture Expo.

http://www.cultureexpo.or.kr/assets/download/file/?BjiJZoktQkSWf38Sucl3Bw

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 136: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

     

LAMPIRAN

Fetival-festival yang diadakan KOFICE di Korea dan di luar Korea Periode 2005-2010

Diambil dari: http://www.kofice.or.kr/n_webzine/200701/activities_e.asp

Tahun Tanggal Lokasi Festival

Nama Festival Keterangan

2006 8-17 Desember Vietnam

Korean Film Festival in Vietnam

Merupakan acara yang bertujuan untuk memperkenalkan film-film Korea

2006 17 Desember

Hongkong Cultural Center

Outdoors Stage,

Hongkong

Asia Ethnic Cultural Performances 2006 ‘Dynamic Korea - We Love HongKong’

Sebuah acara percampuran dengan musik tradisional dan juga modern antara Korea dan Hongkong, pertunjukan taro B-boy, dan juga pertunjukan musik Hallyu

2006 1 Desember

Haeorem National Theatre

String Sound of Asia

Pertunjukan musik tradisional antara Jepang, Korea dan Cina.

2007 23-24 Februari Singapura

2007 Singapore Chingay Parade

Pertunjukan parade antara Korea dengan Singapura

2007 31 Mei – 3 Juni

National Convention Center of

Hanoi, Vietnam

Dynamic Korea Film Festival in Commemoration of the 15th Anniversary of Korea-Vietnam Friendship Treaty

Pertunjukan film-film Korea seperti, 200 Pounds Beauty, Radio Star, Little Brother, The Host, I’m A Cyborg, But That’s Ok, dan King and The Clown

2007 16-18 Maret

Specially-prepared outdoor stage,

Pattaya of Thailand

Pattaya International Music Festival

Pertunjukan musik kedua antara kedua negara yang melibatkan penyayi dari Korea dan juga Thailand

2007 19 Mei Ulaanbaata, Mongolia

Korea-Mongolia’s Friendship Big Concert

Pertunjukan musik yang diadakan untuk menyebarkan musik popular antara kedua negara dalam rangka meningkatkan pertukaran budaya popular.

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 137: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

     

2007 30 November

CC Lemon Hall, Jepang

Korea-Japan Pop Festival 2007

Merupakan pertunjukan pertukaran budaya antara Korea dengan Jepang melalui musik.

2007 5 Januari Taiwan

Korea-Taiwan Cultural Exchange - Music in Harmony

Pertunjukan musik antara Taiwan dengan Korea

2007 18 Januari JW Marriot

Hotel Millennium

Hall

2007 Asia Model Festival Awards

Sebuah acara yang bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk para model untuk menunjukkan keahlian mereka.

2008 11-12 Desember Jepang

2008 Korea-Japan Pop Festival

Acara fetival yang ditujukan untuk semakin memperdalam hubungan persahabatan kedua negara melalui budaya popular.

2009 24-26 November

Sanghai, Cina

Shanghai of China, Korean Pop Music Showcase & Fashion Show

K-Pop night dan juga K-Fashion merupaka sebuah acara festival yang bertujuan untuk memperluas pertukaran budaya dan pariwisata antara kedua negara dan juga untuk meningkat komunikasi antara kedua belah pihak.

2009 22 Oktober

Viet-Xo Palace, Vietnam

Korea-Vietnam Cultural Exchange Event

Konser musik antara kedua negara untuk memperkuat hubungan pertemanan antar kedua negara tersebut.

2009 17 September

Bangkok

Korea-Thailand Friendship Concert

Merupakan acara festival dalam rangka merayakan “The 2nd Thailand Entertainment Expo 2009”

2009 17 Juli Mongolia

2009 Korea-Mongol Culture Festival Big Concert

Bertujuan meningkatkan pertukaran antara masyarakat sipil.

2009 20-22 Maret Thailand

Pattaya International Music Festival 2009

Konser musik Pop, tari, hip-hop, dan sebagainya. Acara konser ini tidak hanya melibatkan Korea dan juga Thailand, tetapi juga melibatkan penyayi-penyanyi dari negara lain seperti Jepang, Cina, Australia, Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan juga Laos

2009 15 Januari Korea 2009 Asia Model Festival Awards

Merupakan salah satu acara konten Hallyu yang berrtujuan untuk membangun industri model

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012

Page 138: lontar.ui.ac.idlontar.ui.ac.id/file?file=digital/20285083-S-Adina Dwirezanti.pdflontar.ui.ac.id

     

domestik, meningkatkan kesempatan perluasan pasar, dan menyatukan model-model di seluruh Asia

2010 5-7 Februari Jepang

Sapporo Snow Festival & K-POP Festival

Pertunjukan kolaborasi antar dua negara, yaitu Jepang dan Korea

2009 24 Oktober Thailand

Thai-Korea’s Friends Concert

Pertunjukan musik antar kedua negara dan menjadi sebuah perayaan dalam acara Korea Entertainment Expo yang diadakan di Thailand.

2009 15 Januari Olympic Hall, Korea

2010 Asia Model Festival Awards

Merupakan sebuah bentuk acara penghargaan terhadap para model kelas atas yang menjadi perwakilan dari setiap negara di Asia

2010 19-21 Maret Thailand

2010 Pattaya International Music Festival

Merupakan festival musik yang melibatkan negara-negara di Asia Tenggara

2010 2 Oktober Jepang

2010 Korea Japan Festival

Festival antara Jepang dan Korea dalam meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara melalui pertukaran budaya popular kedua negara tersebut.

 

Budaya populer ..., Adina Dwirezanti, FISIP UI, 2012