siklus hidrologi

33
Siklus Hidrologi: adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi , presipitasi , evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda: Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori- pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut. Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen- komponen siklus hidrologi yang membentuk sisten Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya. 1

Upload: ocie-hady-lesmana

Post on 10-Aug-2015

209 views

Category:

Documents


7 download

DESCRIPTION

hidrologi

TRANSCRIPT

Page 1: Siklus Hidrologi

Siklus Hidrologi:adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. 

Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.

Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.

Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sisten Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.

1

Page 2: Siklus Hidrologi

PERKOLASIBeberapa presipitasi dan salju cair bergerak ke lapisan bawah tanah, mengalir secara infiltrasi atau perkolasi melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan sehingga mencapai muka air tanah (water table) yang kemudian menjadi air bawah tanah.

MUKA AIR TANAH (MAT)

Muka air tanah merupakan tingkat yang dapat dicapai oleh air pada sumur terbuka.

AIR PERMUKAAN = SUNGAI + DANAU

Setiap tetes air hujan yang jatuh ke tanah merupakan pukulan-pukulan kecil ke tanah. Pukulan air ini memecahkan tanah yang lunak sampai batu yang keras. Partikel pecahan ini kemudian mengalir menjadi lumpur, dan lumpur ini menutupi pori-pori tanah sehingga menghalangi air hujan yang akan meresap ke dalam tanah. Dengan demikian maka semakin banyak air yang mengalir di permukaan tanah.Aliran permukaan ini kemudian membawa serta batu-batu dan bongkahan lainnya, yang akan semakin memperkuat gerusan pada tanah. Goresan akibat gerusan air dan partikel lainnya ke tanah akan semakin membesar. Goresan ini kemudian menjadi alur-alur kecil, kemudian membentuk parit kecil, dan akhirnya berkumpul menjadi anak sungai. Anak-anak sungai ini kemudian berkumpul menjadi satu membentuk sungai.Pada tempat-tempat yang letaknya lebih rendah, air berkumpul dan tergenang membentuk danau.

 KONDENSASI (PENGEMBUNAN)

Ketika uap air mengembang, mendingin dan kemudian berkondensasi, biasanya pada partikel-partikel debu kecil di udara. Ketika kondensasi terjadi dapat berubah menjadi cair kembali atau langsung berubah menjadi padat (es, salju, hujan batu (hail)). Partikel-partikel air ini kemudian berkumpul dan membentuk awan.

2

Page 3: Siklus Hidrologi

TRANSPIRASI (PENGUAPAN DARI TANAMAN)

Uap air juga dikeluarkan dari daun-daun tanaman melalui sebuah proses yang dinamakan transpirasi. Setiap hari tanaman yang tumbuh secara aktif melepaskan uap air 5 sampai 10 kali sebanyak air yang dapat ditahan.

EVAPORASI (PENGUAPAN)

Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir.

Air Bawah Tanah (ground water)

Lebih dari 98 persen dari semua air di daratan tersembunyi di bawah permukaan tanah dalam pori-pori batuan dan bahan-bahan butiran. Dua persen sisanya terlihat sebagai air di sungai, danau dan reservoir. Setengah dari dua persen ini disimpan di reservoir buatan. Sembilan puluh delapan  persen dari air di bawah permukaan disebut air tanah dan digambarkan sebagai air yang terdapat pada bahan yang jenuh di bawah muka air tanah. Dua persen sisanya adalah kelembaban tanah.

SUNGAI (RIVER)

Air hujan yang jatuh ke bumi, sebagian menguap kembali menjadi air di udara, sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir di permukaan. Aliran air di permukaan ini kemudian akan berkumpul mengalir ke tempat yang lebih rendah dan membentuk sungai yang kemudian menalir ke laut.

  Pada tahun  1880 an seorang geologist berkebangssan Amerika, William Davis Morris, berpendapat bahwa sungai dan lembahnya ibarat organisme hidup. Sungai berubah dari waktu ke waktu, mengalami masa muda, dewasa, dan masa tua. Menurut Davis, siklus kehidupan sungai dimulai ketika tanah baru muncul di atas permukaan laut. Hujan kemudian mengikisnya dan

3

Page 4: Siklus Hidrologi

membuat parit, kemudian parit-parit itu bertemu sesamanya dan membentuk sungai. Danau menampung air pada daerah yang cekung, tapi kemudian hilang sebagai sebagai sungai dangkal. Kemudian memperdalam salurannya dan mengiris ke dasarnya membentuk sisi yang curam, lembah bentuk V. Anak-anak sungai kemudian tumbuh dari sungai utamanya seperti cabang tumbuh dari pohon. Semakin tuan sungai, lembahnya semakin dlam dan anak-anak sungainya semakin panjang. Gambar perubahan penampang sungai dibawah ini menunjukkan umur sungai.

Sungai masih bayi. Sempit dan curam

Sungai muda. Anak sungainya bertambah

Sungai tua. Daerah alirannya semakin melebar dan berkelok

Sungai sudah tua sekali.

Air tanah merupakan air hujan yang meresap ke dalam tanah dan mencapai lapisan yang jenuh air. Air tanah terdapat dalam ruang antar butiran batuan ataupun pada rekahan batuan. Ruang antara butir, rongga batuan serta rekahan pada batuan merupakan tempat untuk menyimpan dan mengalirkan air tanah.

Daerah Penyebaran Air Tanah di Indonesia

No Propinsi Daerah Penyebaran Air Tanah

1 D.I Aceh Banda Aceh, Tanah Pasir-Pantolanbu, Lhokseumawe-Langsa, Padang Tiji

2 Sumatera Utara Medan-Tanjung Balai, Padang Sidempuan

3 Sumatera Barat Solok, Padang, Bukit Tinngi, Painan

4 Bengkulu Cekungan Dataran Pantai Manna, Dataran Tinngi Curug

5 Riau Lembah Saiak, Rokan dan Kampar

6 Jambi Lembah Batanghari

7 Sumatera Selatan Lembah Musi

8 Lampung Teluk Betung-G. Sugih, Rumbia

9 Jawa Barat Bandung, Garut, Cilegon, Serang, Tangerang, Kerawang, Indramayu

10 DKI. Jakarta Jakarta, Bogor, Bekasi

11 DI. Yogyakarta Bantul, Sleman, Wonosari, Playen

12 Jawa Tengah Purwokerto, Solo - Sragen, Pemali Comal, Kendal , Semarang, Demak - Pati, Cilacap, Kebumen, Purworejo

4

Page 5: Siklus Hidrologi

13 Jawa Timur Ponorogo - Madiun, Kediri - Nganjuk, Bondowoso, Lumajang - Jember, Probolinggo - Paiton, Situbondo - Asambagus, Banyuwangi, Jombang - Mojokerto

14 Bali Denpasar, Nusa Penida, Kubu, Kubu Tambahan, Air Sanih

15 NTB Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Selatan, Mataram, Bima, Dompu, Keli - Sape, Pelaperado, Kempo, Soriutu, Tente, Alas, Taliwang Area, Sumbawa Besar, Lunyak Pain

16 NTT Atambua, Sekon, Mena, Haeto, Ponu, Futuoni, Naikin, Kupang, Oesao, Pariti, Aroki, Besikama, Bena, Batugamping Waingapu / Waikabukak, Rote, Sikka

17 Timor Timur Baukau, Lospalos, Manatuto, Same - Vikeke, Suai

18 Kalimantan Barat

Melawai ( Pontianak, Singkawang, Sambas, Ketapang ), Embaluh

19 Kalimantan Selatan

Banjar Baru - Martapura, Rantau - Barabai

20 Kalimantan Timur

Mahakam, Berau, Sembakung

21 Kalimantan Tengah

Palangka Raya

22 Sulawesi Utara Dumoga, Menado, Kotamubago, Tondano, Limboto - Gorontalo, Bolaang Mangandow

23 Sulawesi Tengah Marawola, Palu, Kasimbar, Ampibabo, Taweli, Tawale, Beka, Peneki, Surumana, Paduloyo, Kalosa,Sausu

24 Sulawesi Selatan Sindrap, Bulukumba, Dataran Meloso, Wajo, Barru, Jeneponto, Goa, Mauju

25Sulawesi Tenggara

Tinanggea, S. Laolo - S. Lalindu, Kolaka - Watubangga, Towari - Bupinang, P. Muna, P. Buton

26 Maluku Labuhan, Akelamo, Kau, Tilai, Morotai, Dodagan

27 Irian Jaya Merauke, Triku - Tarekaku, Wareru, Membramo, Wamena, Mosool, Waigeo

Pemanfaatan Air Tanah Memanfaakan lahan lebih efektif Meningkatkan pendapatan dan nilai ekonomis lahan Menambah Pengetahuan dan kemampuan berorganisasi Meningkatkan kerjasama antar petani Menghargai nilai air

Permasalahan Pokok

5

Page 6: Siklus Hidrologi

Air tanah mempunyai keterbatasan, baik dalam jumlah, penyebaran maupun mutu yang akan mempengaruhi pemanfaatannya.Meskipun air tanah secara alamiah dapat diperbaharui dan berkesinambungan, namun pemanfaatannya harus didasarkan pada keseimbangan lingkungan ( environmental balance ) serta kelestarian sumber air tanah itu sendiri (conservasional groundwater).

Kesimpulan :

Mengingat peran air tanah semakin penting dan pemanfaatannya semakin besar pula, maka dimasa mendatang pengambilan air tanah harus didasarkan pada suatu konsep pengembangan yang terpadu, meliputi :

Penelitian data potensi Keterkaitan dengan air permukaan di dalam wilayah sungai Rencana pemanfaatan sumber (air tanah dan air permukaan) secara optimal Pengembangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan

Saran Penting :

Untuk mencapai konsep pengembangan terpadu, perlu di tangani secara terpusat dan terpadu dengan bantuan komputer (database dan sistem informasi geografi/gis), serta mekanisme pengawasan dan pengendalian yang terpadu.

Sumber : Pengembangan Air Tanah sebagai Subsistem Pengelolaan SDA, April 1994, Ditjen. Pengairan, PUHTML : AS

Data/informasi penting lainnya seperti :

Perkiraan sumber air tanah tiap propinsi di Indonesia Ringkasan penyebaran air tanah Hasil pelaksanaan pengembangan air tanah selama PJPT - I Pendanaan selama PJPT - I Program pengembangan air tanah selama PJPT - II (Pelita VI - X) Rencana pengembangan lima tahun (Repelita VI) Proyek Pengembangan air tanah tiap Propinsi Rancang bangun sumur dan sistem distribusi

6

Page 7: Siklus Hidrologi

Perkiraan Jumlah Air di Dunia

Air dalam Fase Siklus Hidrologi Km3 Persen

Air di daratan 37800 2,8

Danau air tawar 125 0,009

Danau air asin dan laut daratan 104 0,008

Sungai 1,25 0,0001

Kelembaban tanah dan air vadose 67 0,005

Air tanah sampai kedalaman 4000 m 8350 0,61

Es dan glaciers 29200 2,14

Air di Atmosfir 13 0,001

Air di Lautan 1.320.000 97,3

7

Page 8: Siklus Hidrologi

Total Air di Dunia 1.360.000 100

Sumber : US Geological Survey, 1967

8

Page 9: Siklus Hidrologi

Standar Kualitas Air di Perairan Umum

( Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990 )

No Parameter Satuan

Kadar Maksimum

Golongan A Golongan B Golongan C Golongan D

FISIKA       

1 Bau- - - - -

2 Jumlah zat padat terlarut Mg/L 1000 1000 1000 1000

3 Kekeruhan Skala NTU 5      

4 Rasa -        

5 Warna Skala TCU 15      

6 Suhu oC Suhu udara      

7 Daya Hantar Listrik Umhos/cm       2250

             

KIMIA anorganik       

1 Air raksa Mg/lt 0.001 0.001 0.002 0.005

2 Aluminium Mg/lt 0.2 -    

3 Arsen Mg/lt 0.005 0.05 1 1

4 Barium Mg/lt 1 1    

5 Besi Mg/lt 0.3 5    

6 Florida Mg/lt 0.5 1.5 1.5  

7 Kadmium Mg/lt 0.005 0.01 0.01 0.01

8 Kesadahan CaCO3 Mg/lt 500      

9 Klorida Mg/lt 250 600 0.003  

10 Kromium valensi 6 Mg/lt 0.005 0.05 0.05 1

11 Mangan Mg/lt 0.1 0.5   2

12 Natriun Mg/lt 200     60

13 Nitrat sebagai N Mg/lt 10 10    

14 Nitrit sebagai N Mg/lt 1.0 1 0.06  

15 Perak Mg/lt 0.05      

16 .pH   6.5 - 8.5 5 - 9 6 – 9 5 – 9

17 Selenium Mg/lt 0.01 0.01 0.05 0.05

18 Seng Mg/lt 5 5 0.02 2

19 Sianida Mg/lt 0.1 0.1 0.02  

20 Sulfat Mg/lt 400 400    

9

Page 10: Siklus Hidrologi

21 Sulfida sebagao H2S Mg/lt 0.05 0.1 0.002  

22 Tembaga Mg/lt 1.0 1 0.02 0.1

23 Timbal Mg/lt 0.05 0.01 0.03 1

24 Oksigen terlarut (DO) Mg/lt - >=6 >3  

25 Nikel Mg/lt -     0.5

26 SAR (Sodium Absortion Ratio) Mg/lt -     1.5 – 2.5

             

Kimia Organik       

1 Aldrin dan dieldrin Mg/lt 0.0007 0.017    

2 Benzona Mg/lt 0.01      

3 Benzo (a) Pyrene Mg/lt 0.00001      

4 Chlordane (total isomer) Mg/lt 0.0003      

5 Chlordane Mg/lt 0.03 0.003    

6 2,4 D Mg/lt 0.10      

7 DDT Mg/lt 0.03 0.042 0.002  

8 Detergent Mg/lt 0.5      

9 1,2 Dichloroethane Mg/lt 0.01      

10 1,1 Dichloroethane Mg/lt 0.0003      

11 Heptachlor heptachlor epoxide Mg/lt 0.003 0.018    

12 Hexachlorobenzene Mg/lt 0.00001      

13 Lindane Mg/lt 0.004 0.056    

14 Metoxychlor Mg/lt 0.03 0.035    

15 Pentachlorophenol Mg/lt 0.01      

16 Pestisida total Mg/lt 0.1      

17 2,4,6 Trichlorophenol Mg/lt 0.01      

18 Zat Organik (KMnO4) Mg/lt 10      

19 Endrin Mg/lt - 0.001 0.004  

20 Fenol Mg/lt - 0.002 0.001  

21 Karbon kloroform ekstrak Mg/lt - 0.05    

22 Minyak dan lemak Mg/lt - Nihil 1  

23 Organofosfat dan carbanat Mg/lt - 0.1 0.1  

24 PCD Mg/lt - Nihil    

25 Senyawa aktif biru metilen Mg/lt - 0.5 0.2  

26 Toxaphene Mg/lt - 0.005    

27 BHC Mg/lt -   0.21  

             

Mikrobiologik       

1 Koliform tinja Jml/100ml 0 2000    

2 Total koliform Jml/100ml 3 10000    

10

Page 11: Siklus Hidrologi

             

Radioaktivitas       

1 Gross Alpha activity Bq/L 0.1 0.1 0.1 0.1

2 Gross Beta activity Bq/L 1.0 1.0 1.0 1.0

Golongan A : air untuk air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu

Golongan B : air yang dipakai sebagai bahan baku air minum melalui suatu pengolahan

Golongan C : air untuk perikanan dan peternakan

Golongan D : air untuk pertanian dan usaha perkotaan, industri dan PLTA.

Kualitas Lahan di Daerah Rawa Pasang Surut (Hidrologi dan Tanah)

Tabel ini mencakup kualitas lahan hidrologis dan karakteristik tanah yang

mempunyai pengaruh penting terhadap desain dan potensi yang dimilikinya.

Kualitas lahan juga dipengaruhi oleh proses dinamis, tidak kurang

karena perubahan pada layout saluran dan desainnya, peningkatan

saluran dan bangunan-bangunannya, atau oleh perubahan lingkungan,

seperti misalnya lenyapnya dome gambut. Diharapkan tabel ini akan

menyumbangkan pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan-kebutuhan

yang diperlukan dan pengaruh yang diharapkan dari peningkatan proyek rawa

pasang surut. Tabel ini hendaknya digunakan untuk kegiatan survey

inventarisasi dan investigasi serta desain, baik pada tingkat mikro maupun

tingkat makro.

Satuan Lahan di daerah rawa pasang surut merupakan

kombinasi dari dua kualitas lahan hidrologis dengan satu kualitas tipe

luapan lahan, satu kualitas drainabilitas lahan dan satu kualitas tipe

tanah. Pengalaman yang ada sejauh ini sangat kurang untuk

menentukan satuan lahan berdasarkan atas kualitas lahan seperti

digambarkan pada tabel di bawah ini. Dari pengalaman dapat

dipelajari kombinasi yang paling relevan dari kualitas lahan.  

11

Page 12: Siklus Hidrologi

Pembatasan dari kualitas berdasarkan panjang saluran sampai

sungai seperti di kemukakan pada tabel di bawah ini bersifat arbriter.

Kesemuanya tergantung kepada desain dan layout dari sistem serta sangat

dipengaruhi oleh kisaran pasang surut di sungai terdekat. Pembuatan model

komputer dari masing-masing sistem saluran akan sangat memungkinkan dan

dianjurkan untuk digunakan dalam menentukan batas-batas dari masing-

masing kualitas lahan hidrologi. Berdasarkan alasan praktis pembatasan

panjang saluran sampai sungai yang dikemukakan pada tabel di bawah ini

didasarkan atas pengalaman secara umum yang dijumpai di daerah rawa

pasang surut. Hendaknya dipahami bahwa untuk masing-masing areal dan

layout di suatu scheme mungkin saja berbeda dan pembatasannya bersifat

indikatif

Klasifikasi kualitas lahan mempertimbangkan kondisi lahan saat ini.

Pada kasus dimana masalah genangan dijumpai di lapangan, diasumsikan

bahwa kondisi saat ini ataupun tindakan-tindakan penyempurnaan yang

diharapkan dilakukan mampu mengatasi masalah banjir atau genangan di

lokasi.

Kualitas Lahan pada Hidrologi

Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai

sungai

Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

1.1  Acaman (bahaya) intrusi air asin

 

1.1.1   Areal dimana intrusi air asin di saluran berlangsung selama 3 – 6 bulan

Hanya berpotensi untuk tanam padi sekali setahun. Perlu diberikan perhatian ekstra untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Tanaman keras bisa saja merupakan pilihan yang lebih baik di areal dimana kedalaman efektif drainasenya memadai. Di areal dengan kisaran pasang surut yang kecil dianjurkan budidaya ikan/ udang.

 1.1.2   Areal dimana instrusi air asin di saluran berlangsung kurang dari 3 bulan.

Potensial untuk tanama padi dua kali setahun. Sebagian terbesar dari lahan pasang surut yang sudah direklamasi tergolong dalam klasifikasi ini. 

1.2  Areal dimana kisaran pasang surutnya < 30 cm dalam musim hujan di sungai/ saluran primer/

1.2.1     Areal dengan panjang kanal < 8 km sampai sungai pasang surut.

Areal semacam ini umumnya berbatasan dengan lebak (dataran banjir) dan biasanya memerlukan tanggul pengaman banjir. Pola tanaman harus

12

Page 13: Siklus Hidrologi

saluran sekunder yang terdekat; jarak dari lokasi sampai saluran < 1,5 km.

(jika jarak ke saluran primer/ sekunder > 1,5 km kawasan semacam ini tidak tergolonglahan pasang surut.)

 

Kisaran pasang surut yang kecil di saluran pada panjang kanal < 8 km sampai sungai menunjukkan bahwa daerah semacam ini sudah berada di luar jangkauan engaruh pasang surut sungai, mendekati kepada bagain dari bantaran banjir sungai.

disesuaikan dengan kondisi setempat. Perlu kehati-hatian terhadap tanah sulfat masam. Irigasi pompa sangat diperluka untuk lahan jenis ini. Aliran air satu arah di saluran dinilai penting.

1.2.1        Areal dengan panjang kanal > 8 km sampai sungai pasang surut.

Kisaran pasang surut yang kecil di sini biasanya menunjukkan daerah ini masih terjangkau oleh pasang surut muka air sungai, hanya masalahnya letaknya terlampau jauh dari sungai. Diperlukan tindakan  ekstra untuk pengaturan air di saluran.

 

Perlu perhatian khusus terhadap tanah sulfat masam. Apabila ada tanah sulfat masam maka perlu dijaga agar tanah tersebut dalam keadaan basah dimusim kemarau (lihat tipe luapan 2.2).

Irigasi pompa umunya sangat penting. Saluran primer utama perlu sejajar sungai dan dilengkapi dengan bangunan pengatur air searah.  

1.3   Areal dengan kisaran pasang surut > 30 cm selama musim hujan di sungai/ saluran primer/ saluran sekunder yang terdekat; jarak dari lokasi ke saluran < 1,5 km.

  1.3     Areal yang berbatasan

dengan jangkauan pasang surut sungai.

Bagian terbesar dari lahan rawa pasang surut berada di kawasan ini.

Kualitas HidrologisTIPE LUAPAN

Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai

sungai

Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

2.1  Irigasi pasang surut (pasut)

 

Tipe luapan pasut A/B.

Panjang kanal sampai sungai akan mempengaruhi potensi irigasi pasut dan tipe irigasi pasut.

 

 

 2.1.1   Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, tidak ada genangan/ luapan dalam.

Kawasan yang mudah dikelola saluran sistem terbuka baik untuk suplai air dan drainase. Kawasan ini biasanya dikuasai oleh petani lokal yang telah ada sejak awal.

 2.1.2   Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, genangan/ luapan dalam.

Tanggul untuk pengamanan banjir diperlukan. Diperlukan bangunan pengendali di tanggul.

 2.1.3        Kawasan dengan panjang kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut. 

Irigasi pasut tergantung kepada pengaruh kombinasi dari hujan, ukuran saluran

Perlu perhatian terhadap drainase yang berlebihan bilamana saluran diperbesar ataupun bila membuat sudetan ke sungai. Bangunan pengendali untuk mengatur muka air sangat diperlukan.

13

Page 14: Siklus Hidrologi

yang relatif kecil, tingginya pasut, dan elevasi tanah.

2.2 Surface flows from nearby peat forest/upland

 2.2   Aliran air permukaan bisa membasahi areal ini.

 Bahaya drainase berlebihan bilamana saluran diperbesar. Pengendalian aliran diperlukan dengan membangun tanggul dan bangunan pengendali.

 2.3  Tidak ada irigasi pasut.

Tipe luapan pasut C/ D.

 

 2.3    Areal ini tidak bisa dibasahi oleh aliran permukaan maupun oleh irigasi pasut.

 Biasanya diperlukan pencucian yang intensif melalui sistem pengelolaan air di tingkat lahan usaha tani untuk jenis tanah muck (organic) maupun pirit. Tidak ada saluran buntu dan aliran satu arah di saluran utama dianggap penting di tempat-tempat dimana panjang kanal ke sungai > 1,5 km.

 Drainabilitas Pengaruh Panjang Kanal sampai Sungai

 Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

3.1  Lahan tanpa potensi drainase yang mencukupi.

 

Kedalaman efektif drainase < 30 cm (setelah hilangnya lapisan tanah gambut)

 

 3.1.1  Panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Areal semacam ini biasanya dapat didrainase pada saat surut rendah.

 Tanaman padi biasanya bisa dibudidayakan. Perlu perhatian yang lebih besar untuk penyempurnaan banyaknya hubungan ke sungai terdekat guna meningkatkan potensi drainase. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di guludan (sorjan). 

 3.1.2        Panjang kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Pada kasus ini waktu yang tersedia untuk drainase pada saat surut rendah terlampau singkat untuk memungkinkan drainase yang memadai.

 Tidak dianjurkan untuk melakukan kegiatan pertanian di kawasan ini. Kawasan ini sebagian besar meliputi tanah gambut. Opsi yang berhubungan dengan kegiatan kehutanan dimana keperluan untuk drainase lahan bersifat minimum merupakan opsi yang dianjurkan.

3.2 Lahan dengan potensi drainase yang mencukupi

 Kedalaman efektif drainase > 30 cm (setelah hilangnya lapisan tanah gambut)

 

 

 3.2.1        Kedalaman efektif drainase 30 – 60 cm. Panjang Kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Selama periode surut rendah lebih banyak waktu yang tersedia untuk drainase dan potensi drainase setara dengan kualitas lahan 3.2.3

 Dapat direkomendasikan untuk tanaman keras maupun padi.

 3.2.1        Kedalama efektif drainase 30 – 60 cm. Panjang kanal > 1,5 km

 Direkomendasikan terutama untuk tanaman padi. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di

14

Page 15: Siklus Hidrologi

sampai sungai pasang surut.

Selama surut rendah waktu yang tersedia untuk drainase lebih singkat.

guludan (sorjan).

 3.2.3    Kedalaman efektif drainase > 60 cm.

Di kawasan semacam ini tidak pernah ada masalah drainase.

Dikebanyakan kasus tanaman keras merupakan alternatif terbaik. Di daerah yang drainasenya terhambat dengan sedimen marine tua (lihat 4.2.2) biasanya digunakan untuk budidaya tanaman padi.

Kedalaman efektif drainase adalah perbedaan antara rata-rata permukaan tanah dengan rata-rata muka air di saluran sekunder terdekat yang depengaruhi oleh gerakan pasang surut. Setelah upgrading/ rehabilitasi saluran dilakukan, maka kedalama efektif drainase akan semakin baik, dengan demikian berpengaruh terhadap kualitas lahan secara dinamis.

 4.1 Muck (Organik)/ Tanah Sulfat Masam

 4.1.1 Lahan potensial

  Keseimbangan yang ada antara oksidasi dan pencucian mencukupi untuk mempertahankan tanah menjadi masam. Sangat penting untuk mematangkan tanah dengan kepadatan rendah yang belum matang dengan menerapkan sistem pengaturan air dangkal. Untuk memacu proses  pematangan tanah jenis ini, maka selama musim kemarau air tanah harus diturunkan 60 cm di bawah permukaan tanah. Pada tanah yang sudah matang sangat mungkin penggunaan irigasi pompa dikombinasikan dengan traktor dan terciptanya “plough-layer” (tanah yang belum matang tidak bisa mempertahankan genangan air di atas lahan). 

 4.1.2 Lahan Sulfat Asam

 Potensi untuk pencucian dan penggelontoran pada kondisi saat ini tidak mencukupi: bisa kembali menjadi lahan potensial dengan menyempurnakan sistem pengaturan air dikombinasikan dengan pengolahan tanah dengan mekanisasi, serta menghubungkan dua saluran dan penggelontoran air satu arah.

4.2 Bukan Tanah Sulfat Masam

4.2.1 Sedimen Marine (laut) Muda

 

Sebagian besar jenis tanah ini berpotensi untuk ditanami padi atau kolam ikan.

4.2.2 Sedimen Marine Tua

Jenis tanah ini utamanya untuk budidaya tanaman padi. Pembajakan tanah secara dalam tidak dianjurkan karena bahaya tercampurnya lapisan atas tanah dengan tanah beracun (aluminium).

 4.3 Tanah Gambut

 4.3  Kedalaman efektif drainase

  Bisa untuk budidaya tanaman keras.

15

Page 16: Siklus Hidrologi

berkelanjutan (>30 cm) setelah subsider (penurunan tanah)

 4.4 Tanah dengan Kesuburan  Rendah “Whitish”

 4.4  Kondisi hidrologis bisa beargam

 Potensi untuk pertanian sangat rendah. Dengan semakin baiknya drainase, tanah jenis ini berpotensi untuk “Melaleuce Forestry”

 SUNGAI  

No. Judul Standar No. SNI / SK SNI Ruang Lingkup

1  Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai.

SNI 03-1724 - 1989

Tata cara ini digunakan dalam mendesain Bangunan disungai (bangunan pemanfaa-tan, konservasi dan silang) agar memenuhi persyaratan persyaratan hidrologi dan hidraulik, dan bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan keandalan bangunan di sungai dan sungainya sendiri.

2  Tata Cara Perencanaan Umum Krib di Sungai.  

SNI 03-2400-1991 Tata cara Ini digunakan untuk menang-gulangi kerusakan Sungai akibat arus dan dapat melestarikan bangunan di sungai.  

3  Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka.

SNI 03 - 2414 - 1991

Metode ini digunakan untuk menghitung debit sungai dan saluran terbuka yang tidak terpengaruh arus balik atau aliran lahar pada saat muka air rendah sampai tinggi, yang masih tertampung di dalam alur sungai atau saluran terbuka.

4

 Metode Perhitungan Debit Banjir.  

SNI 03 - 2415-1991 Metode ini digunakan dalam menentukan debit banjir rencana yang andal dan terpercaya dalam perencanaan bangunan air.

5 Metode Pemilihan Lokasi Pos Duga Air di Sungai.  

SNI 03 - 2526-1991   

Metode ini digunakan dalam pemilihan lokasi pos duga air di sungai yang tidak terpengaruh oleh aliran yang dapat mempengaruhi kecermatan hubungan antara tinggi muka air dan debit dengan memperhatikan jenis tipe dan ukuran bangunan pos duga air yang akan dipakai.

6  

Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Alat Ukur Arus Tipe Baling-Baling.

SNI 03-2819-1992 Metode ini digunakan untuk menentukan besarnya debit sungai/saluran terbuka dan lokasi yang tidak terpengaruh arus balik aliran lahar.  

7

Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Pelampung Permukaan.

SNI 03-2820-1992

Metode ini digunakan untuk menentukan besarnya debit sungai dan saluran terbuka yang tidak terpengaruh peninggian muka air langsung di lapangan.  

8

Metode Pembuatan Lengkung Debit dan Tabel Sungai/Saluran Terbuka dengan Analisa Grafis.

SNI 03-2822-1992

Metode ini digunakan untuk pembuatan lengkung debit sungai/saluran terbuka dengan analisis grafis untuk mendapatkan gambaran hubungan antara tinggi muka air dengan debit sungai / saluran terbuka.

9  Metode perhitungan tiang pancang beton pada krib di sungai.

SNI 03-2829-1992 Metode ini digunakan untuk mendesain tiang pancang beton pada krib di sungai yang aman dan berfungsi semestinya.

10  

Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai Dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning.

SNI 03-2830-1992

Metode ini digunakan untuk menghitung tinggi muka air sungai sepanjang daerah hitungan tertentu dengan cara pias ber-dasarkan rumus Manning

11 Metode Pemasangan Inkli-nometer.

SNI 03-3404-1994

Metode ini digunakan untuk melaksanakan pemasangan inklinometer secara benar di lapangan, sehingga akan diperoleh data yang teliti dari daerah yang ditinjau.

12

Metode Pengukuran Kecepatan Aliran pada Model Fisik dengan Alat Ukur Arus Tipe Baling-Baling.

SNI 03-3408-1994

Metode ini digunakan untuk menentukan kecepatan aliran pada model fisik dengan dasar tetap menggunakan alat ukur arus tipe baling-baling.

13 Metode Pengukuran Kecepatan Aliran Pada Model

SNI 03-3409-1994 Metode ini digunakan untuk menentukan kecepatan aliran pada model fisik dengan dasar

16

Page 17: Siklus Hidrologi

Fisik Dengan Tabung Pitot. tetap menggunakan tabung Pitot

14 Metode Pengukuran Pola Aliran Pada Model Fisik.

SNI 03-3410-1994 Metode ini digunakan untuk mengetahui pola aliran pada model fisik dengan menggunakan zat pena dan pelampung pada model fisik  

15 Metode Pengukuran Tinggi Muka Air Pada Model Fisik

SNI 03-3411-1994 Metode ini digunakan untuk mengetahui tinggi muka air pada model fisik

16 Metode Perhitungan Debit Sungai Harian

SNI 03-3412-1994

Metode ini digunakan untuk mengetahui besarnya debit sungai harian pada lokasi yang tidak terpengaruh oleh peninggian muka air atau aliran lahar.

17 Metode Pengukuran Debit Puncak Sungai dengan Cara Tidak Langsung.

SNI 03-3413-1994

Metode ini digunakan untuk mengetahui besarnya debit puncak sungai pada lokasi yang tidak terpengaruh oleh peninggian muka air atau aliran lahar.

18 Tata Cara Perencanaan Teknik Pelindung Tebing Sungai Dari Pasangan batu.

SNI 03-3441-1994

Tata cara ini digunakan untuk merencanakan pelindung tebing sungai dari pasangan batu agar tahan terhadap serangan arus dan hal-hal lain yang menyebabkan kerusakan tebing.

19

Tata cara perhitungan tinggi muka air sungai tampang ganda dengan cara pias berdasarkan rumus manning.

SNI 03-3444-1994 Tata cara ini digunakan dalam menghitung tinggi muka air sungai sepanjang daerah hitungan tertentu berdasarkan debit yang telah ditentukan.

20 Metode pembuatan model fisik sungai dengan dasar tetap.

SNI 03-3965-1995 Metode ini digunakan untuk pembuatan model fisik sungai berdasarkan data dan skala yang ditentukan.

21

Metode Perhitungan Debit Andal Air Sungai Dengan Analisis Lengkung Kekerapan.

SK SNI M-39-1993-03 Metode ini digunakan untuk meng-hitung besarnya laju sedimentasi waduk.

AIR TANAHNo. Judul Standar No. SNI / SK SNI Ruang Lingkup

1.

Metode Pemboran Air Tanah Dengan Alat Bor Putar Sistem Sirkulasi Langsung.

SNI 03-3969-1995 

Metode ini digunakan untuk melaksanakan pembuatan suatu lubang bor yang baik untuk mendapatkan air tanah dengan alat bor putar, sistem sirkulasi langsung  

2.Metode Eksplorasi Awal Air Tanah dengan Cara Geolistrik Wenner.

SNI 03 - 2528 - 1991   Metode ini digunakan dalam pengukuran tahanan jenis perlapisan batu atau tanah di bawah permukaan tanah dengan susunan elektroda Wenner. 

3.

Metode Pengujian Akifer Tertekan dengan Pemompaan Papadopulos Cooper.

SNI 03-2817-1992

Metode ini digunakan untuk menetapkan karakteristik hidrolik akifer serta pro-duktifitas suatu sumur, dengan memper-gunakan uji pemompaan Papadopulos-Cooper. 

4.Metode Eksplorasi Air Tanah dengan Geolistrik Susunan Schlumberger.  

SNI 03-2818-1992

 

Metode ini digunakan dalam pengu-kuran tahanan jenis pelapisan batu atau tanah di bawah permukaan tanah dengan susunan elektroda Schlumberger, khususnya untuk eksplorasi awal air tanah dengan geologi bawah permukaan dan menduga air tanahnya berdasarkan anomali tahapan jenis

5.Metode Pengukuran Tinggi Muka Air Tanah Bebas di Sumur.

SNI.03-3970-1995           Metode ini digunakan untuk memperoleh data tinggi muka air tanah bebas sesaat di sumur. 

6.Metode Pengujian untuk Penentuan Kapasitas Jenis dan Penaks

Pd M-21-1998-0   Metode ini untuk menentukan angka kapasitas jenis sumur uji dan menaksir angka transmisivitas pada sekitar tempat sumur uji tersebut.

7.

Metode Pengujian untuk Penentuan Transmisivitas Akuifer Tertekan dengan cara Pemulihan Theis.

Pd M-22-1998-03  

Metode ini membahas prosedur analitis untuk penentuan transmisivitas akuifer tertekan dengan cara pemulihan theis (dari data pemulihan muka air sebagai akibat pemompaan atau injeksi yang berlaju tetap).  

8.

Metode Pengujian untuk Penentuan Transmisivitas Akuifer Tertekan dengan Cara Uji Kolom Air.

Pd M-23-1998-03   Metode ini membahas penentuan transmisivitas akuifer tertekan akibat suatu perubahan muka air di dalam sumur secara tiba-tiba

9.Metode Pengujian Kolom Air di Lapangan untuk Penentuan  

Pd M-24-1998-03

Metode ini membahas prosedur lapangan untuk melakukan pengujian kolom air serta sifat hidraulik akuifer yang ada hubungannya dengan prosedur analitis  

10. Metode Pengujian Sifat Pd M-24-1998-03   Standar ini meliputi ketentuan, cara pengerjaan, dan

17

Page 18: Siklus Hidrologi

Hidraulik Akuifer dengan Cara Theisi

laporan. Penentuan sifat hidraulik yaitu transmisivitas T dan koefisien kandungan S dari akuifer tertekan tunggal, yang tersusun dari batuan atau media berbutir yang tak padu dan bersifat menerus, dengan cara analisis Jacob (yang merupakan modifikasi dari cara Theis) terhadap data uji pemompaan atau data uji penginjeksian di lapangan.

11.

Tata Cara Pemilihan Metode Uji Sifat Hidraulik Akuifer dengan Teknik Sumur  

Pd T-02-1998-03  

Tata cara ini meliputi ketentuan, cara pemilihan dan laporan. Pemilihan metode penentuan sifat hidraulik dari akuifer (yakni transmisivitas T dan koefisien kandungan S) dengan memakai data uji pemompaan dan data uji kolom air di lapangan.

Contoh-contoh Praktis

Perbaikan efisiensi irigasi. Dari sudut pandang penggunaan sumber daya air global, sangat penting untuk memperkenalkan cara-cara irigasi yang lebih efisien (misalnya, irigasi menetes yang banyak digunakan di Israel). Memperbaiki efisiensi irigasi bisa membebaskan air untuk bisa digunakan di daerah-daerah kota sekitar, seperti yang telah dilakukan di tempat-tempat tertentu di Amerika.

Di Imperial Valley di California, sedang dicobakan sebuah pendekatan inovatif untuk menemukan sumber daya air baru untuk memenuhi kebutuhan kota.

MWD (The Metropolitan Water District of Southern California) sedang membiayai tindakan-tindakan yang memperbaiki efisiensi sistem irigasi dengan menyediakan pengatur aliran air (reservoir) yang baru, memperbaiki kanal dan memasang lebih banyak monitor arus air. Sebagai imbalan, MWD bisa menggunakan 106.000 acre feet air (seluas 42.500 ha dengan kedalaman 1 kaki) yang bisa dihemat setiap tahun. (1 acre foot air sama dengan volume air seluas 0,4 hektar dan sedalam 0,3 meter). Demikian juga kota Casper di Wyoming, membayar petani untuk mengisi (dengan air) parit-parit irigasi mereka dan memasang peralatan irigasi yang bisa menghemat air. Sebagai gantinya, kota menerima air yang dihemat tersebut.

Aspek penting lainnya dari perbaikan efisiensi irigasi adalah pengakuan atas peranan kunci dari para "penerima keuntungan" dalam menciptakan struktur lembaga yang tepat. Sebelumnya, perbaikan irigasi hanya dianggap sebagai masalah teknik belaka; jika instalasi sudah terpasang dengan benar (sesuai dengan rancangan teknis departemen tingkat provinsi atau nasional), maka selanjutnya tinggal mengajari petani cara mengunakan persediaan air tambahan. Pendekatan semacam ini sudah tak bisa dipercayai lagi karena kegagalannya. Sekarang disadari bahwa dalam banyak kasus petani telah mengembangkan sendiri mekanisme untuk mengatur kanal pembagi, mengelola pembagian air, dan menyelesaikan perselisihan. Membangun berdasarkan pengaturan yang sudah ada jauh lebih mungkin untuk berhasil daripada mencoba memaksakan sistem baru dari luar.

Pendekatan tersebut telah diterapkan di Filipina sejak pertengahan 1970an, dan model tersebut telah diadaptasi untuk digunakan di negara-negara Asia lainnya, termasuk Srilanka, India, Indonesia, Thailand, Nepal dan Bangladesh. Ini model yang harus diterapkan lebih luas di bidang sanitasi dan penyediaan air kota karena sekarang sudah semakin disadari bahwa keberhasilan masyarakat sekitar kota tergantung pada pembicaraan yang tepat dengan masyarakat itu sendiri.

18

Page 19: Siklus Hidrologi

PENGOLAHAN LIMBAH YANG MENGHASILKAN: BUDIDAYA AIR

DENGAN RUMPUT BEBEK

Sistem yang menggunakan gulma air rumput, sebagaimana penyeimbang konvensional, bergantung pada serangkaian proses pengolahan untuk memperoleh luapan yang berkualitas tinggi. Setelah disaring (dan dibuang kerikilnya, jika perlu) limbah diolah awal secara sederhana (biasanya di kolam yang tidak dipakai untuk memproduksi rumput bebek) dan dialirkan ke kolam rumput bebek atau ke beberapa saluran dangkal yang berbelok-belok tempat gulma tumbuh yang ukurannya cukup fleksibel. Dari sana rumput bebek dipindah ke kolam ikan berukuran kecil sehingga mudah dikuras atau dipompa. Hasil dari budidaya yang intensif bisa sangat mengagumkan - sampai 20 ton ikan per acre per tahun. (1 acre sebanding dengan 0,4046 hektar). Hasil yang sedang saja (tiga sampai empat ton per acre per tahun) sudah bisa memberikan sumber protein dan pemasukan yang tidak kecil bagi masyarakat lokal. Di Bangladesh, hasil permulaan menunjukkan bahwa gulma bisa diproduksi lebih kurang 0,5 ton per acre per hari (berat basah) yang kemudian bisa menghasilkan 45 kg makanan kering berprotein tinggi, atau menopang produksi ikan sebesar kira-kira 58 kg per acre per hari.

Tebing-tebing di antara saluran kolam gulma bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang menghasilkan uang seperti pohon miju (lentil) atau pisang. Secara keseluruhan sistem tersebut bisa memberikan hasil yang besar. Rumput bebek juga bisa dikeringkan untuk makanan ayam. Di Peru, dengan mengganti sampai 40% makanan ayam dari toko dengan gulma rumput bebek, ayam petelur bisa terjaga produksi telurnya dan menghasilkan warna kuning telur lebih baik yang merupakan faktor jual yang penting. Namun, ini mungkin merupakan cara pemanfaatan rumput bebek yang kurang efisien, dan pengeringan gulma mungkin bisa menimbulkan masalah di banyak kelompok masyarakat dan cuaca.

 

Pada semua kasus, air yang keluar dari kolam telah diolah sepenuhnya dan cocok untuk dilepas menjadi sumber air atau irigasi. Pada kenyataannya, air tersebut seringkali lebih bersih daripada air "segar" di daerah tersebut.

Kemampuan gulma untuk bertahan di lingkungan yang buruk mengisyaratkan adanya manfaat potensial lainnya, meskipun ini belum diuji di lapangan. Misalnya, gulma bisa mengumpulkan sisa-sisa logam di limbah industri sehingga bisa menghasilkan air yang cocok untuk dilepaskan menjadi aliran air atau irigasi; dan mungkin pada saat yang sama bisa memberikan pemecahan ekonomis untuk memulihkan sumber-sumber daya berharga yang kalau tidak ditangani akan bisa mencemari lingkungan.

Demikian juga, oleh karena gulma tumbuh subur dalam air yang agak asin, maka rumput bebek potensial digunakan untuk mengolah air yang berkadar garam tinggi, membersihkan air tanah sebelum digunakan untuk irigasi atau air minum, membersihkan saluran drainase irigisi sebelum digunakan kembali, atau mungkin mengubah lahan irigasi yang terlantar yang telah menurun produksinya karena perembesan air garam menjadi sistim budidaya air atau rumput bebek yang bisa memberikan pemasukan uang yang tinggi.

19

Page 20: Siklus Hidrologi

Pilihan-pilihan yang lebih baik dalam proses industri. Kemungkinan untuk penghematan yang sangat besar dengan memerintahkan industri untuk menggunakan proses yang hemat air dan memanfaatkan daur ulang telah dikemukakan di depan. Pengawasan yang lebih ketat terhadap penyedotan air oleh industri (termasuk membebani industri dengan biaya yang realistis untuk penggunaan sumber-sumber daya ini) juga menghindari timbulnya masalah seperti yang dilaporkan ini: dihadapkan pada undang-undang yang mengharuskan limbah untuk mengandung lebih sedikit kosentrasi pencemar tertentu, industri-industri menemukan cara untuk menghemat dengan cara menambahkan air bersih pada limbah mereka supaya lebih encer dan bukannya berusaha untuk mengurangi jumlah kandungan pencemar.

Konservasi. Meskipun menyediakan air adalah industri yang menghasilkan dan menjual produk, pada umumnya industri ini kehilangan 1/3 dari produksinya sebelum sampai pada konsumen. Di beberapa kota, lebih dari separo air hilang. Kehilangan yang tinggi ini membuat sulit atau tidak mungkin menciptakan kondisi penyediaan air yang memuaskan karena menyediakan lebih banyak air atau menambah tekanan pada sistem yang bobrok hanya menyebabkan luapan dan kebocoran yang lebih besar.

Program konservasi biasanya harus terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk saling melengkapi. Di beberapa negara berkembang, dengan sistem lama yang kondisinya menyedihkan, prioritas pertama harus ditujukan pada pengurangan air yang terbuang.

Hal ini biasanya merupakan prasyarat untuk menciptakan kondisi penyediaan air yang lebih baik, dan sampai kondisi ini mulai membaik konsumen sering enggan untuk turut serta dalam bagian-bagian lain program ini.

Kampanye pengurangan UFW biasanya tidak mahal dibandingkan dengan biaya untuk menyelamatkan air. Kampanye ini memiliki periode pembayaran kembali yang pendek bahkan pada tingkat tarif sekarang ini, dan akan lebih menarik lagi jika dibandingkan dengan biaya mencari sumber air baru.

Di negara-negara berkembang yang layanan penyediaan airnya mungkin secara bergilir manfaat penting dari pengurangan UFW ini adalah bahwa hal ini memungkinkan pemulihan layanan 24 jam. Hal ini juga memiliki dampak kesehatan langsung dan menghindarkan polusi air minum yang disebabkan oleh kebocoran saluran limbah yang masuk ke pipa-pipa pada saat pipa-pipa tersebut tidak penuh. Air juga bisa dihemat sebab masyarakat tidak merasa harus mengisi setiap wadah di rumah mereka pada jam-jam penyediaan untuk berjaga-jaga kalau saat aliran air berikutnya mungkin tertunda atau hilang. Meteran juga bisa digunakan dan lebih awet. Dalam kondisi bergilir meteran bisa menjadi sangat tidak akurat karena adanya udara mampat yang melewati pipa pada saat pipa terisi lagi. Selain itu pipa pun bisa rusak karena kekeringan. Pengawasan sistem dan deteksi kebocoran yang ajeg juga jauh lebih sederhana begitu sistem itu diisi air dan sistem ini tidak membutuhkan peralatan yang canggih.

Langkah kedua ialah mengharuskan digunakannya peralatan yang menggunakan air dengan desain yang lebih efisien. Desain yang lama menggunakan lebih banyak air.

20

Page 21: Siklus Hidrologi

Toilet, pancuran, dan kran hemat air buatan lokal harus merupakan satu-satunya yang tersedia di pasaran, dan insentif sebaiknya diberikan kepada mereka yang memodifikasi barang-barang desain lama supaya bisa digunakan lagi.

Sebelum ini, Amerika Serikat tertinggal dalam hal konservasi dibandingkan Eropa. Tapi sekarang Amerika sedang meluncurkan program-program semacam itu dalam jumlah besar dengan hasil yang mengagumkan. Sebagai contoh, di tahun 1988, San Simeon, California, memulai program modifikasi barang-barang desain lama untuk membuat toilet volume rendah (low-volume flush toilet/LVFT) dan ujung pancuran hemat air. Dimulai dari tempat-tempat yang banyak menggunakan air, misalnya sekolah, hotel, rumah sakit, dan pom bensin, ternyata volume air mubazir yang bisa dihemat mencapai 25%. Perluasan program ini ke daerah pemukiman dan pembatasan penggunaan air untuk menyiram tanaman di musim panas mengurangi penggunaan air secara keseluruhan dan air yang terbuang hingga 50%. Akibat lain ialah pulihnya jaringan sumber air tanah yang sebelumnya terkuras habis. Yang paling hebat adalah berkurangnya ongkos pemanasan air dengan sendirinya cukup untuk membiayai semua program.

Demikian juga, sebuah studi pilot yang meneliti contoh-contoh rumah tangga, tempat usaha dan tempat umum di kota Meksiko menemukan bahwa melengkapi tempat-tempat tersebut dengan toilet dan ujung pancuran yang hemat air bisa mengurangi pemakaian air hingga separo. Selain itu, sistem penyaluran air juga diperbaiki dan program modifikasi barang-barang desain lama juga dilancarkan.

Di beberapa negara berkembang, kondisi penyediaan air sangat tidak menentu sehingga pembicaraan tentang peralatan hemat air menjadi tampak lucu. Namun, bahkan dalam kondisi demikian air yang terbuang masih bisa banyak. Rumah-rumah orang kaya menggunakan peralatan boros air, dan orang-orang miskin mencuci di bawah kran yang mengalir terus. Dalam kondisi demikian peralatan hemat air akan bermanfaat karena yang kaya akan menggunakan lebih sedikit air sementara standar yang mereka inginkan tetap terjaga; yang miskin akan bisa berbuat lebih banyak dengan persediaan yang terbatas.

Unsur ketiga program konservasi air ialah tarif yang dirancang dengan tepat. Pada prinsipnya ongkos air harus naik sesuai dengan meningkatnya jumlah pemakaian air, sehingga untuk keperluan pokok air tersedia dengan harga yang terjangkau, tetapi jumlah yang lebih besar (yang digunakan untuk kemewahan, seperti menyiram kebun, mencuci mobil, dan mengisi kolam renang) secara progresif harganya naik.

Seringkali pungutan air tidak didasarkan pada pemakaian yang sebenarnya, atau kalau didasarkan pada meteran biasanya dengan memakai tingkatan tetap atau mendatar (flat unit rate) atau bahkan menurun yang tidak merangsang konservasi. Namun selain hal itu, ada masalah-masalah serius lainnya yang juga harus dipecahkan, seperti bagaimana menyediakan layanan yang terjangkau untuk orang tak mampu (di mana banyak orang menggunakan satu saluran air bersama-sama sehingga timbul kesan yang keliru bahwa air dipakai secara berlebihan), atau bagaimana menjalankan program meteran yang akurat. Tetapi, masalah-masalah tersebut bisa diatasi.

Pendidikan dan peran serta konsumen adalah unsur keempat program konservasi

21

Page 22: Siklus Hidrologi

yang sangat penting. Penggunaan air adalah jumlah keseluruhan dari berbagai kegiatan harian. Jadi mengubah sikap perilaku sangatlah penting terutama di tempat yang kondisi penyediaan airnya buruk atau peningkatan tarif airnya sedang diusulkan.

Teknologi Pengolahan Air. Banyak negara berkembang tidak memiliki sumber keuangan dan personil untuk memasang dan mengoperasikan sistem pengolahan air yang rumit. Bahkan, negara-negara maju pun membutuhkan teknologi yang sederhana dan tahan lama untuk daerah-daerah yang belum begitu maju. Sekarang ada kecenderungan ke arah penggunaan teknologi yang jauh lebih sederhana dan bukannya penggunaan sistem penyaringan rumit yang menggunakan berbagai bahan filter dan kontrol otomatis. Sebagai contoh adalah filter "laju menurun" (declining rate). Dalam filter itu air yang masuk dibagi merata di antara filter-filter dan tiap filter dicuci pada saat air di dalamnya mulai menggenang yang menandakan adanya sumbatan karena pasir atau bahan-bahan filter lainnya. Cara sederhana lainnya ialah dengan menggunakan `pasir lambat' (slow sand) yang awalnya diperkenalkan satu abad yang lalu di Eropa. Filter ini memiliki tingkat penyaringan yang rendah, tapi hampir tanpa bagian-bagian yang bergerak. Penjernihan biologisnya terjadi pada lapisan material yang terperangkap pada permukaan pasir. Dan ini dibersihkan kalau material itu mulai menyumbat filter.

Standar Pasokan Air. Tata cara di banyak negara berkembang diwarisi dari administrasi pemerintah kolonial sebelumnya. Walaupun secara teknis bagus, aturan ini cenderung terasa berlebihan karena awalnya dirancang untuk diterapkan pada kondisi yang berbeda. Peninjauan kritis tentang standar yang ada sekarang akan menunjukkan bahwa lebih banyak lagi orang yang bisa dilayani dengan anggaran yang secara keseluruhan sama.

Sekarang tersedia program-program komputer yang mempermudah perancang untuk mengkaji efek penetapan parameter yang lebih tepat terhadap masyarakat yang dilayani daripada mengadopsi kriteria yang diimpor. Program-program semacam itu sekarang diterapkan sebagai sesuatu yang rutin di sejumlah negara (India, Filipina, Indonesia, Cina, Burma, Srinlanka, Thailand, dan Pakistan). Program ini memungkinkan perencana untuk merancang jaringan distribusi hemat biaya yang bisa dijalankan hanya dengan biaya separuh biaya jaringan konvensional.

Sebuah studi kasus di Filipina, mungkin merupakan sesuatu yang khas dari 40 sistem yang diperbaiki oleh Administrasi Perusahaan Air Minum Lokal dengan dukungan Bank Dunia. Dilaporkan bahwa modifikasi barang-barang rancangan lama menghasilkan turunnya biaya per kapita dari $45 ke $25. Ini adalah penghematan sekitar 45%. Penghematan ini berasal dari penggunaan pipa berpenampang lebih kecil untuk aliran yang kecil, penurunan ketentuan tekanan minimum untuk gedung satu tingkat, dan dirancangnya kemungkin pelayanan campuran daripada mengasumsikan bahwa setiap orang akan mampu membiayai saluran mereka sendiri.

Peranan Masyarakat. Tegucigalpa, Honduras, adalah contoh khas dari banyak kasus keterlibatan komunitas yang lebih besar, yang sudah waktunya untuk diakui selama dekade ini sebagai unsur penting untuk ketahanan jangka panjang. Di daerah kota, pendekatan-pendekatan serupa dalam rencana perbaikan kota telah

22

Page 23: Siklus Hidrologi

menghasilkan keterlibatan LSM dan kelompok-kelompok masyarakat. Penerapan pendekatan tersebut pada sanitasi dan penyediaan air telah membuahkan beragam rancangan berskala besar atau eceran untuk penyediaan air bagi masyarakat pemukim liar dan konsep menyeluruh tentang keterlibatan kelompok masyarakat dalam perencanaan dan konstruksi serta pengoperasian sistem air dan buangan.

Secara khusus, "tuntutan efektif" (effective demand) sebaiknya digunakan untuk menentukan tingkat layanan. Ini berarti bahwa masyarakat ditawari berbagai tingkat layanan dan bisa mendapatkan air sebanyak kemampuan membayarnya. Idealnya, hal ini bisa memungkinkan semua biaya layanan terbayar oleh mereka yang mendapat layanan , kecuali kalau ada keadaan sosial yang menuntut diberikannya subsidi.

Dan tentu saja, masyarakat bisa memilih pemecahan yang oleh perencana semula diperkirakan tidak akan populer. Di Filipina, penyediaan air yang bisa dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya dirancang akan diberikan melalui kran umum, meskipun sebenarnya air yang terbuang akan lebih sedikit seandainya orang-orang tersebut memiliki saluran sendiri. Namun, ternyata mereka justru lebih suka membayar semua biaya sambungan untuk saluran pribadi dan tidak bersedia untuk kran umum. Serupa dengan hal tersebut, di Cochabamba, Bolivia, para insinyur menemukan bahwa orang bersedia membayar lebih mahal untuk sambungan di halaman mereka daripada membayar untuk kran umum. Namun, dengan pelayanan yang sudah diperbaiki ini pun, mereka masih membayar 86% lebih rendah daripada seandainya mereka membayar ke pedagang keliling.

Contoh lain adalah masyarakat di Kumasi, Ghana. Kepada masyarakat ini diajukan pertanyaan: "Jika WC (yang dihubungkan ke sistem saluran pembuangan kotoran) dan lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi (Kumasi Ventilated Improved Pit latrine/KVIP) membutuhkan biaya yang sama tiap bulan, maka manakah yang akan Anda pilih? Para perencana memperkirakan bahwa jika biayanya sama, mereka akan memilih WC. Tapi, ternyata hanya 54% yang memilih WC, sedangkan 45% memilih KVIP karena KVIP tidak menggunakan air sehingga akan tetap berfungsi seandainya sistem air rusak. Selain itu KVIP juga lebih sederhana namun lebih sulit untuk disalahgunakan. Penelitian seperti ini memiliki pengaruh penting terhadap perancangan proyek sanitasi.

Rancangan Tarif yang Lebih Baik dan Mekanisme Pemulihan Biaya

Perusahaan-perusahaan air sering menggunakan biaya rata-rata atau biaya 'historis' sebagai dasar penentuan tarif air. Akibatnya, tarif yang mereka tentukan terlalu rendah karena dua hal. Yang pertama jelas: karena inflasi biaya sebenarnya telah meningkat sejak sistem dibangun. Sebab kedua yang agak rumit adalah: karena konsumsi air yang meningkat memaksa perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi airnya, maka perusahaan harus mengembangkan sumber-sumber baru, dan tiap-tiap sumber itu secara progresif makin mahal dibandingkan sumber-sumber daya yang telah ada. Memang terpaksa demikian, kalau pemecahan yang makan biaya paling sedikit dipilih pada saat sumber-sumber itu sedang direncanakan. Dengan demikian perusahaan itu dihadapkan pada biaya marjinal dalam jangka panjang yang terus meningkat yang perlu dimasukkan ke dalam tarif supaya hal ini bisa mengurangi konsumsi berlebihan dan supaya bisa menunda kebutuhan untuk

23

Page 24: Siklus Hidrologi

mengembangkan penyediaan tambahan yang baru dan mahal.

Besarnya kenaikan tarif mungkin akan mengagetkan para perencana. Penelitian Bank Dunia menemukan bahwa dalam hitungan yang sebenarnya (dengan nilai dolar tetap) biaya air per kubik meter untuk proyek yang disetujui pada tahun 1975 - 1981 besarnya tiga kali lipat proyek disetujui pada tahun 1966 - 1971. Mengulangi proyek di daerah perkotaan yang sama menunjukkan kecenderungan meningkatnya biaya perkubik meter lebih dari 200% antara proyek yang pertama dan kedua.

Pada tahun-tahun belakangan ini sudah ada kemajuan dalam pengubahan tarif yang mencerminkan biaya penyediaan air yang sesungguhnya tetapi yang juga tetap mempunyai tujuan sosial. Tarif-tarif ini menggunakan pembiayaan marjinal untuk mencerminkan biaya sumber daya yang sebenarnya, yang akan meningkat begitu konsumsi meningkat supaya orang tidak terangsang untuk boros air. Sementara itu ada juga tarif tingkat 'pertolongan' yang membantu orang-orang miskin supaya dapat menjangkau konsumsi minimum yang pokok.

Tarif seperti itu pada akhirnya harus memungkinkan perusahaan air untuk secara finansial bisa mencukupi dirinya sendiri, beroperasi dan merawat sistem-sistem mereka tanpa tergantung pada subsidi dari luar.

Penggunaan 'tuntutan efektif' dan kesadaran bahwa sistem yang berakar pada masyarakat memiliki kemungkinan lebih bagus untuk diterima dan dengan demikian juga meningkatkan pemulihan biaya telah membawa perubahan pula pada cara penagihan.

Di sebuah daerah miskin di Honduras, di musim kering air didapat dari sungai atau dari pedagang keliling tradisional dengan biaya 50 sen untuk 10 l air. Dengan mendirikan koperasi air dan membeli air dalam jumlah besar dari pemerintah kota, harga air dari kios sekitar turun menjadi 10 sen untuk 10 l air. Dua kepala rumah tangga perempuan yang mengelola kios dibayar dari uang yang masuk. Setiap tiga bulan sekali pengelola kios diganti, dengan demikian kesempatan mendapat kerja dapat dinikmati oleh beberapa keluarga.

Di sistem lain di Afrika yang juga dikelola masyarakat, pemakai membeli tanda dari plastik, dan setiap tanda plastik itu bisa ditukar dengan 25 l unit air di toko-toko sekitar kios. Tarif itu sama dengan tiga kali lipat jumlah yang dibayar perkumpulan tersebut ke bagian penyediaan air di kota. Kelebihan tersebut kemudian dipakai untuk membiayai pengoperasian dan perawatan, membayar kembali pinjaman untuk membangun, dan menambah jumlah kios. Proyek ini telah menghasilkan 20 pekerjaan penuh waktu dan mengurangi biaya air sebesar faktor 3 hingga 7 dibandingkan dengan kalau membeli dari pedagang keliling tradisional.

24