politik keadilan

21
INTEGRASI POLITIK DAN AGAMA DALAM ISLAM PENDAHULUAN Ditulis setelah penulisan makalah selesai PEMBAHASAN 1. Negara dan konstitusi 1 . Ketika membahas masalah literatur tentang negara, politik pada umumnya kita selalu berorientasi dan merujuk kepada literature Yunani dan Barat 2 . Padahal dalam tradisi islam sendiri terdapat konsep negara yang bahkan telah memenuhi kriteria syarat terbentuknya negara modern. Dalam khazanah Islam diskursus negara diderivasi dari beberapa kalimat. Negara atau bangsa dalam bahasa Arab disebut Qawmiyyah, dari qaum yang berarti kinsfolk (karib kerabat), race (ras), people (orang sebagai kelompok) dan nation (bangsa) 3 . Juga diambil dari kata Daulat atau (dawlah) yang artinya Negara atau pemerintahan 4 . Kemudian secara khusus gagasan Islam mengenai komunitas diambil dari terminologi “ummah” yaitu masyarakat atau bangsa, yang konsep dasarnya adalah Islam. yang artinya bahwa suatu komunitas yang tunduk kepada tuhan dan masuk dalam kesepakatan damai. konsep ini menggambarkan hubungan yang fundamental antara manusia dengan tuhan, serta Kesatuan agama dan 1 Sri Soemantri Martosoewignyo menyamakan arti konstitusi dengan undang-undang dasar. Berbeda dengan L.J. Vanapeldoorn mengatakan bahwa konstitusi lebih luas daripada undang-undang dasar. Cakupannya tidak hanya undang-undang dasar yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Lihat Abdul Muin sAlim. Op.Cit. hlm 48 2 Muhammad Alim, Asas-Asas Negara Hukum Modern Dalam Islam, 2010, (Yokyakarta: LKIS),hlm.1 3 Rifyat ka’bah, Politik dan Hukum Dalam al-Qur’an, 2005, (Jakarta: Khairul Bayan) hlm, 39. 4 Ibid hlm 50.

Upload: daud-sukoco

Post on 02-Jul-2015

180 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: politik keadilan

INTEGRASI POLITIK DAN AGAMA DALAM ISLAM

PENDAHULUAN

Ditulis setelah penulisan makalah selesai

PEMBAHASAN

1. Negara dan konstitusi1.

Ketika membahas masalah literatur tentang negara, politik pada umumnya kita selalu berorientasi dan merujuk kepada literature Yunani dan Barat2. Padahal dalam tradisi islam sendiri terdapat konsep negara yang bahkan telah memenuhi kriteria syarat terbentuknya negara modern.

Dalam khazanah Islam diskursus negara diderivasi dari beberapa kalimat. Negara atau bangsa dalam bahasa Arab disebut Qawmiyyah, dari qaum yang berarti kinsfolk (karib kerabat), race (ras), people (orang sebagai kelompok) dan nation (bangsa)3. Juga diambil dari kata Daulat atau (dawlah) yang artinya Negara atau pemerintahan4. Kemudian secara khusus gagasan Islam mengenai komunitas diambil dari terminologi “ummah” yaitu masyarakat atau bangsa, yang konsep dasarnya adalah Islam. yang artinya bahwa suatu komunitas yang tunduk kepada tuhan dan masuk dalam kesepakatan damai. konsep ini menggambarkan hubungan yang fundamental antara manusia dengan tuhan, serta Kesatuan agama dan kekuasaan5. Jadi Negara adalah sekelompok masyarakat yang mengikat diri dalam satu kesatuan.

Sedikitnya terdapat tiga syarat suatu komunitas bisa terbentuknya negara. Pertama, apabila terdapat wilayah teritorial. Kedua, adanya pemerintah yang mengatur dan di taati. Dan yang ketiga adalah adanya alat kekuasaan serta rakyat6. Negara adalah suatu bangunan masyarakat yang, mengakui satu undang-undang, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan sistem yang satu, dan diantara masyarakat yang baru itu terdapat ikatan ras, bahasa dan agama yang kuat, serta adanya perasaan solidaritas secara umum7. Jadi Negara sebuah institusi politik

1 Sri Soemantri Martosoewignyo menyamakan arti konstitusi dengan undang-undang dasar. Berbeda dengan L.J. Vanapeldoorn mengatakan bahwa konstitusi lebih luas daripada undang-undang dasar. Cakupannya tidak hanya undang-undang dasar yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Lihat Abdul Muin sAlim. Op.Cit. hlm 48

2 Muhammad Alim, Asas-Asas Negara Hukum Modern Dalam Islam,2010, (Yokyakarta: LKIS),hlm.1

3 Rifyat ka’bah, Politik dan Hukum Dalam al-Qur’an, 2005, (Jakarta: Khairul Bayan) hlm, 39.

4 Ibid hlm 50.5 Antony Black,pemikiran Politik Islam, 2001(Jakarta: Serambi), hlm 44.6 Iman Toto K Raharjo dan Soko Sudarso, Bung Karno Masalah Pertahanan dan

Keamanan,2010,(Jakarta: Gramedia Widia Sarana), hlm 162. 7 M.Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam, 2001,(Jakarta: Gema Insani Press), hlm 6.

Page 2: politik keadilan

yang mana didalamnya terdapat unsur rakyat, pemerintah, wilayah dan Undang-Undang.

Negara selalu terkait erat dengan konstitusi. Istilah konstitusi berasal dari bahasa Perancis,”constituer” yang berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara8. Dalam bahasa latin merupakan gabungan dari dua kata “constitution” yang berarti menetapkan sesuatu secara bersama-sama, dan bentuk jamak dari “constitutiones” yang berarti segala sesuatu yang telah ditetapkan. Jadi suatu komunitas masyarakat bisa dikatakan menjadi sebuah negara apabila didalamnya sudah terdapat wilayah, rakyat, pemerintah dan konstitusi.

Terdapat beberapa fungsi pokok konstitusi. Ia merupakan hukum dasar dan menjadi norma sekaligus sebagai sumber hukum. Kemudian memuat pengorganisasian jabatan-jabatan kenegaraan, lembaga-lembaga yang memerintah dan tujuan yang hendak dicapai. juga berfungsi sebagai dasar struktural bagi system politik serta dasar keabsahan kekuasaan9. Jadi konstitusi merupakan seperangkat landasan hukum, aturan lembaga politik serta bentuk legitimasi kekuasaan.

Maka untuk lebih jelasnya perlu melihat sekilas potret sejarah bagaimana pengejewetahan negara dan konstitusi dalam Islam. Muhammad SAW adalah merupakan agent of chance konstelasi politik di Yasrif (Madinah). Pertama kali yang dilakukannya adalah menghilangkan sekat-sekat primordial dan sektarian dengan semangat ukhuwwah Islamiyyah. yaitu suatu spirit persaudaraan dengan prinsip keislaman, pola keislaman serta nafas keislaman. dengan demikian persatuan dan kesatuan yang merupakan salah satu simbol kekuatan dan peradaban bisa terjalin erat.

Setelah terjalinnya persatuan Muhammad SAW bermusyawarah dengan berbagai kelompok elemen masyarakat untuk merumuskan constitution of medina “Piagam Madinah”. Proses ini merupakan serangkaian dari “bai’at al –aqabah kedua atau bai’at al –Aqabah kubra. Pada awal perumusannya terjadi dialog dari salah seorang dari Yasrif bertanya kepada nabi:

“Rasulullah, kami dengan orang-orang itu, yakni orang-orang Islam, terikat oleh perjanjian, yang sudah akan kami putuskan, tetapi apa jadinya kalau kami lakukan itu lalu kelak Tuhan memberiiikan kemenangan pada tuan, lalu tuan akan kembali kepada masyarakat tuan dan meninggalkan kami. Sambil tersenyum Muhammad Saw menjawab, ”tidak. Darah (kalian) ialah darah(ku). Kehormatan (kalian) adalah kehoratanku, aku bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dari diriku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengannya10”.

Isi dari kesepakatan itu menunjukkan perlindungan, serta telah merambah wilayah politik, karena menyangkut perlindungan diantara kedua belah pihak. Ikrar ini menjadi fakta contrac sosial/persekutuan, yang dengan demikian kaum muslimin dapat mempertahankan diri.11

8 Muhammad Alim.Op.cit. hlm 61.9 Abdul Muin Salim. Op.cit. hal 48.10 Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,2003(Jakarta: Lentera Antar

Nusa),hlm 171.11 Muhammad Ali, Op.cit. hlm 74.

Page 3: politik keadilan

Kemudian ada dua hal penting yang dilakukan oleh rasulullah di Yasrif (kemudian menjadi Madinah). pertama adalah membangun masjid Quba” yang mana fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai wadah untuk mewujudkan masyarakat yang egaliter dengan menghilangkan sekat-sekat suku, ras dan lainnya. kedua, menyatukan persaudaraan yang menurut haekal, persaudaraan adalah dasar peradaban Islam12.

Diantara klausal piagam Madinah adalah “memperoleh pertolongan dan persamaan tanpa penganiayaan dan tidak menolong musuh mereka” (pasal 16), saling bahu membahu dalam perang yang dilakukan bersama kaum muhajirin dan anshor (pasal 18), bersama-sama menanggung biaya perang.(pasal 24), hak-hak dan kewajibanyang sama juga diberlakukan terhadap kaum Islam. (pasal 26)13.

Secara keseluruhan constitution of medina (piagam Madinah) setidak-tidaknya terdapat lima makna utama yaitu, pertama, penempatan nama Allah di posisi teratas, kedua, adanya kesepakatan dalam perjanjian (sosial contract), ketiga, kemajemukan peserta, keempat, keanggotaan terbuka (open memberiiship), dan kelima, adanya kesatuan dalam kebhinekaan (unity in diversity)14.

Negara Madinah secara konstitusional di deklarasikan pada hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-14 kenabian atau tahun pertama Hijrah (bertepatan dengan 27 September 622 M) di masjid Quba’15. Secara historis the constitution of medina (piagam Madinah) merupakan sebagai manifesto politik pertama yang tertulis (written constuitution) di dunia sebagai sebuah konstitusi16.

Dengan demikian Muhammad SAW berhasil membangun komunitas dengan wadah “ummat”, di (Yasrif) Madinah. Juga menurut pandang politik modern telah memenuhi kriteria dan syarat sebuah negara dalam yang ditandai dengan lahirnya “piagam Madinah”. Jadi negara dalam tradisi Islam tidak hanya sebatas dalam law in the books, tetapi betul-betul telah dilaksanakan dalam law in action.

2. Politik Islam (as-siyasah as-syar’iyyah)

Diskursus as-siyasah as-syar’iyyah merupakan pembahasan yang masih masih terus berkembang. Karena ia senantiasa terlibat dalam pergulatan sosial dan pergumulan budaya maka kajian ini lebih bersifat kontektual, bergantung perbedaan tempat dan waktu. Meskipun demikian syari’ah tidak serta merta menjadi relatif karena memiliki kemutlakan yang tidak akan pernah berubah dalam mewujudkan keadilan, rahmat, kemaslahatan dan hikmah17.

Maka sebelum masuk pada pokok pembahasan, terlebih dahulu sampaikan beberapa definisi politik Islam. secara bahasa politik Islam diambil dari kalimat

12 Muhammad Husain Haekal, Op.cit. hlm 181.13 Muhammad Alim, Op.cit. hlm 79.14 Ibid, hlm 81.15 Masjid Quba’ adalah masjid pertama di bangun setelah kenabian Muhammad Saw.

Masjid in di bangun bukan hanya semata-mata untuk ibadah, melainkan sebagai pusat pemersatu umat Islam dan menghilangkan sekat ras, suku dan golongan.

16 Muhammad Ali hlm 77. 17 H.A. Djazuli. Op.Cit. hlm. 1.

Page 4: politik keadilan

sya-sya, yasyu-su syiya-syatan adalah mengatur, mengendalikan, mengurus atau membuat keputusan18. Berkaitan dengan ini as-siyasah diambil dari sebuah hadith: " األنبياء تسوسهم إسرئيل بنوا yang artinya: Bani Isra’il dikendalikan oleh nabi-nabi "كانتmereka19. juga as-siyasah bisa berarti memimpin sesuatu dengan cara membawa kemaslahatan. Jadi politik adalah pengendalian dan pengaturan dalam mencapai tujuan.

Adapun secara istilah politik menurut ibnu Taimiyah adalah berkaitan dengan pemegang kekuasaan , yang berkewajiban menyampaikan amanat kepada yang berhak. Dan berhubungan dengan rakyat. Ibnu Aqil sebagaimana dikutip Ibn al-Qayyim menyatakan: politik adalah segala perbuatan yang membawa manusia kepada lebih dekat kepada kemaslahatan dari kemafsadatan, sekalipun rasul tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah SWT tidak menentukannya20. berkenaan dengan kekuasaan dan administrasi dalam masyarakat sipil. Sementara dalam Ensiklopedi “Al-Ulum As-Siyasah” dikatakan bahwa politik Islam adalah segala aktifitas manusia yang berkaitan dengan penyelesaian berbagai konflik dan menciptakan keamanan bagi masyarakat21. Jadi politik Islam adalah keharusan menjalankan amanah bagi pemegang kekuasaan/pemerintah, dalam mengatur/ mengeluarkan kebijakan umum (public policies), mengendalikan dan mengambil keputusan (decision making) untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan.

Adapun yang menjadi batasan obyek kajiannya. politik Islam mencakup hubungan antara pemerintah/penguasa dengan rakyatnya yang diatur melalui formulasi undang-undang (syari’ah)22. Pengaturan hubungan sesama warga negara, juga warga negara dengan lembaga negara dan mekanisme hubungan sesama lembaga negara23. Jadi politik Islam kajiannya seputar komunikasi antar sesama lembaga pemerintah dan rakyat.

Mengenai istilah Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan politik dalam terminologi al-Qur’an diketahui dalam tiga istilah. Pertama, sulthan24 secara harfiyyah berarti “kekuatan dan paksaan” adapun secara istilah adalah kemampuan fisik untuk melaksanakan pengaruh dan atau memaksa terhadap orang lain. Kedua, mulk secara harfiyyah berarti “ keabsahan dan kemampuan” kemudian secara istilah adalah kekuasaan sebagai obyek hak (pemilikan)25. Ketiga, hukm26 yang berarti memberii kekang, dan mencegah seseorang dari yang diingininya27. Juga Ibn Manzhur memberiikan arti ilmu dan pengetahuan dan memutuskan dengan adil28. Dikatakan demikian, karena pengetahuan dan

18 H.A. Djazuli, Fiqih Siyasah, 2003, (Bandung: Kencana), hlm 25. 19 H.R. Muslim.20 H.A. Djazuli. Op.Cit. hlm. 2721 Yusuf Qardhawi, Meluruskan dikotomi Agama dan Politik, 2008 (Jakarta: Pustaka al-

kautsar), hlm 19.22 Yususf Qardhawi, Legalitas Politik Dinamika Perspektif Nash dan Asy-Syari’ah, 2008,

(Bandung: Pustaka Setia), hlm. 29.23 H.A. Djazuli, op.cit, hlm 29.24 Q.S. An-Nisa’, 4: 90, Q.S. Al-Hasyr, 59: 6, Q.S. Al-Isra’ 17:33.25 Abdul Muin SAlim. Op.cit. hal. 92.26 Q.S. Al-Qalam,68: 36-38, dan 48. Q.S. Al-Maidah, 5: 50, dan 95.27 Ibid. hal. 160.28 Begitu juga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mengetahui

keadilan dan kezaliman kecuali dengan ilmu. Lihat, Ibnu Taimiyah, Tugas Negara Menurut Islam,

Page 5: politik keadilan

keputusan yang adil mempunyai kemampuan mencegah seseorang berbuat kerusakan. Jadi pemerintah selaku pemangku kekuasaan politik memiliki wewenang dan otoritas secara de jure dan de facto untuk mengatur dan menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkar.

Dari pembahasan ini tampak jelas korelasi antara agama dan politik berjalin berkelindan. Ini berbeda dengan pandangan pemikir Arab kontemporer Muhammad Abed al-Jabiri. Ia menyatakan bahwa politik dan agama adalah sesuatu yang berbeda dengan mengatakan:

“Adalah memisahkan agama dan politik dalam arti menghindari fungsionalisasi agama untuk tujuan-tujuan politik dengan pertimbangan bahwa agama adalah mutlak dan permanen sedangkan politik bersifat relatif dan berubah: politik digerakkan oleh kepentingan individu dan kelompok sedangkan agama harus dipisahkan dalam hal ini, jika tidak agama akan kehilangan substansi dan ruhnya29.

Ia juga menambahkan bahwa substansi agama adalah mempersatukan, sedangkan politik adalah mengelompokkan. Karena jika agama dan politik menjadi satu ikatan akan membawa dampak negatife. Misalnya ketika terjadi pertikaian dan peperangan yang mendorong sektarianisme secara otomatis akan membawa bakteri perselisihan kedalam ranah agama30. Jadi syari’ah atau agama akan terkontaminasi jika masuk keranah politik. Hal ini tentu berseberangan dengan pendapat jumhur ulama’ bahwa politik merupakan bagian dari agama.

Diakui memang Islam sebagai agama universal secara mantuq tidak disebutkan “as-siyasah as-syar’iyyah” tetapi secara mafhum dapat diketahui bahwa teks Al-Qur’an membicarakan banyak mengenai bidang kehidupan sosial, ekonomi juga politik31. Artinya agama tidak hanya sedar ritual keagamaan saja tetapi juga mengatur seluruh dimensi kehidupan.

Juga Ibnu Aqil berkata” bahwa politik adalah perbuatan manusia yang lebih dekat pada kebaikan dan jauh dari kerusakan, meskipun perbuatan tersebut belum dilakukan oleh rasul dan tidak ada pula wahyu yang menjelaskannya32. Lebih tegas lagi komentar Ibn al-Qayyim:

“Politik syar’I adalah kebenaran yang sesuai dengan realitas, sementara mereka menyangka bahwa politik itu tidak mengandung kaidah-kaidah syari’at. Demi Allah SWT. Sesungguhnya politik itu tidak bertentangan dengan risalah yang dibawa rasulullah SAW…”33.

Jadi politik dan agama/ syari’ah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, memang politik dan agama adalah sesuatu yang berbeda tetapi tidak berarti harus berpisah atau dipisahkan, demikian halnya jasad dan ruh adalah sesuatu yang berbeda tetapi harus menyatu dalam jasad seseorang maka itu dinamakan manusia. Begitu pula agama dan politik merupakan satu kesatuan

2004, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 18129Muhammad Abed Al-Jabiri, Agama, Negara dan Penerapan Syari’ah,

2001(Yokyakarta: Fajar pustaka) hlm 112.30 Ibid hlm 113.31 Hamid Fahmy Zarkasyi, Identitas dan Problem Politik Islam, “ Islamia: Jurnal

Pemikiran dan Peradaban Islam”Vo. 2, No. 2 ( (Jakarta: INSIST, 2009)hlm, 532 Yususf Qardhawi, LegAlitas Politik Dinamika Perspektif Nash dan Asy-Syari’ah, 2008,

(Bandung: Pustaka Setia)hlm, 61.33 Ibid hlm 63.

Page 6: politik keadilan

yang utuh dalam bentuk formulasi syari’at (hukum Islam) itu sendiri menjadi sistem Politik Islam (as-siyasah as-syar’iyyah).

Adapun landasan normatif dalam menjalankan politik bisa berkaca kepada pelaku Sejarah politik/politikus masa lampau yang tertuang dalam kisah-kisah Al-Qur’an. Misalnya: Pemberian kerajaan yang besar kepada keluarga ibrahim34, pengangkatan Thalut sebagi raja35, pemberian hikmah dan kerajaan kepada Daud36, anugerah kerajaan kepada Dzulqarnain dan memperoleh jalan untuk mencapai segala sesuatu37, ratu Balqis sebagai raja yang adil dan egaliter38, anugerah berupa kepemimpinan orang-orang mesir yang tertindas39. Juga ada contoh perilaku politik yang tercela. Misalnya Celaan kepada raja yang dzalim, Fir’aun seorang pemimpin yang tiran dan memecah belah umat40. Dengan demikian teks (al-Qur’an dan Hadith) dalam memberiikan petujuk dan landasan berpolitik tidak hanya sebatas sedeteran teori-teori, tetapi juga memberiikan gambaran masa lalu sebagi ibrah berupa sejarah yang otentisitas dan kevaliditasannya laraibafiih (tidak diragukan sama sekali).

Maka pengejewetahan politik Islam adalah upaya menjalankan amanah41yang diembannya. Berupa mewujudkan tujuan politik yang hendak dicapai oleh seluruh rakyat yang terangkum dalam ideologi42 Negara. Diantaranya adalah memelihara ketertiban sosial dan keamanan negara secara institusional. Dalam hal ini berkaitan erat dengan lembaga peradilan yang menjalankan fungsi yudisial dan lembaga al-hisbat43. Kemudian dibidang pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mentransformasikan aturan-aturan, ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama melalui system pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian diharapkan terciptanya kesatuan sikap, cara berfikir, cara bermasyarakat. Sehingga terbina kehidupan bersama dalam suasana persaudaraan dan solidaritas sosial yang tinggi serta masyarakat yang unggul44. Selain itu juga menciptakan kesejahteraan social dengan cara mendorong peningkatan produksi dan membangun sarana dan prasarana produksi, juga

34 QS.An-Nisa, 4: 54.35 QS.Al-Baqarah, 2: 247.36 QS.Al- Baqarah, 2: 251.37 QS.Al- Kahfi,: 84.38 QS.An- Naml, 27: 251.39 QS.Al- Qashas, 28: 4.40 QS.Al- Qashas, 4: 441 Amanah menurut Thanthawi Jauhari (1287- 1359 H), adalah segala yang dipercayakan

orang berupa perkataan, perbuatan, harta, pengetahuan, atau segala nikmat yang ada pada manusia yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Sementara Al-Maraghi membedakan amanah menjadi tiga. Pertama, tanggungjawab manusia kepada Allah. Kedua, tanggungjawab menusia kepada sesamanya. Dan yang ketiga, tanggungjawab manusia kepada dirinya sendiri.

42 Tentang ideology ini Dalier Noer menjelaskan sebagai “ cita-cita yang dalam dan luas yang bersifat jangka panjang, malah dalam hal-hal dasar diyakini bersifat universal”. Jadi seluruh cita-cita masyarakat terangkum dalam sebuah ideology (ajaran-ajaran agama atau filsafat atau ajaran filsafat dan pemikiran manusia, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama) bangsa sebagai haluan dalam berpolitik. Maka dalam politik Islam peran agama menjadi titik sentral dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan Negara.

43 Al-hisbat adalah institusi yang menangani kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang memiliki kekuasaan memerintahkan warga masyarakat agar melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan memcegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama

44 Ibid hlm. 207.

Page 7: politik keadilan

diperlukannya institusi penangan zakat, dimana zakat tidak hanya sebatas ibadah sosial, tetapi juga dalam konteks politik dan ekonomi pembangunan sebagai indikator keberhasilan produksi dan pendapatan masyarakat, juga upaya untuk menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dan miskin. Maka meningkatkan mutu pendidikan, menjaga stabilitas nasional dan menciptakan kesejahteraan social merupakan cita-cita pokok yang mesti dilaksanakan. Akan tetapi ketiga-tiganya akan menjadi konsep yang kosong dan tidak memiliki substansi jika tidak dibarengi dengan keadilan yang merupakan kaedah pokok dari maqashid asy-syari’ah45. Dan tema ini akan dikaji dalam pembahasan selanjutnya.

Dengan demikian politik Islam merupakan salah satu bentuk pengaturan, pengendalian dan pengarahan kehidupan umat, terkait dengan keharusan moral dan politis untuk senantiasa mewujudkan keadilan, rahmat dan kemaslahatan yang berasaskan rambu-rambu syari’ah.

3. Keadilan Dalam Politik Islam.

a) Makna Keadilan

Terdapat beberapa pengertian Keadilan. Yaitu suatu kalimat dari asal kata “adl” yang di ambil dari bahasa Arab yang berarti lurus, tidak berat sebelah, kepatuhan dan kandungan yang sama46. Dalam kamus bahasa arab Adil pada mulanya berarti “sama” , yang sering dikaitkan dalam hal-hal yang sifatnya immaterial. Adapun dalam kamus bahasa Indonesia kata “adil” memiliki arti tidak berat sebelah, berpihak pada kebenaran dan berbuat yang sepatutnya47. Jadi perbuatan yang berpihak pada kebenaran serta tidak sewenang-wenang dalam melakukan tindakan.

Berbeda dengan pengertian keadilan dalam perspektif barat yang cenderung lebih subyektif. Hobbes mengemukakan bahwa keadilan adalah perjanjian yang dibuat kemudian di ingkari, itulah ketidakadilan. Demikian Nietshe memahami keadilan sebagai kebenaran yang diakui kuat, Hume menyatakan keadilan adalah” suatu kebaikan palsu. Stoa berpendapat bahwa keadialan adalah”, menyamakan semua orang. Hal senada juga diungkapkan Plato bahwa keadilan adalah, ”mensejajarkan semua orang”. Sementara Dewey mendefinisikan bahwa keadilan adalah: “kebaikan biasanya dianggap kebaikan yang tidak dapat berubah, bahkan persaingan adalah wajar dan adil dalam kapitalisme kompetitif individualistik48. Dari berbagai pernyataan tersebut diatas terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Hal ini disebabkan karena tidak adanya tolak ukur/standar sebagai landasannya. seperti di katakan Friedman bahwa “adalah kegagalan kegagalan dalam menentukan standar keadilan yang mutlak kecuali dengan dasar-dasar agama”.

Sementara dalam tradisi Islam meskipun terdapat beragam makna akan tetapi tetap terdapat benang merah yang menyatukan. Seperti di ungkapkan dalam

45 Umar Chepra, Islam dan Tantangan Ekonomi, 2000, (Jakarta: Gema Insani Press), hlm. 211.46 Rifyal Ka’bah, Op.Cit. hlm 82. Dhiauddin Rais, op.cit., hlm 268.47 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 2007(Bandung: Mizan), hlm. 148. 48 Muslehuddin, Op.cit. hlm 79.

Page 8: politik keadilan

al-Qur’an terdapat tiga kata yang memiliki makna sepadan dengan keadilan yaitu al-‘adl49, yang berarti “sama” memberiikan kesan adanya memberiikan kesan adanya dua pihak atau lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi satu persamaan.. kemudian al-qisth50, yang artinya adalah “bagian” (yang wajar dan patut) atau “equity” kewajaran), dan “justice”(keadilan)51. Dalam kalimat ini bisa saja hanya berlaku untuk satu pihak saja, misalnya berbuat adil pada dirinya sendiri52. Juga dari kalimat al-mizan53, yang mengandung makna “alat untuk menimbang”54, juga bisa berarti “ keadilan” yaitu suatu alat untuk menimbang makna. Jadi keadilan dalam islam tidak hanya kepada lain pihak tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Makna keadilan yang memiliki arti “sama” .yang dalam pandangan Aristoteles adalah keadilan numeric. Yaitu perlakuan yang sama atau tidak membedakan antara yang satu dengan yang lain55. kesamaan yang menyangkut persamaan hak, perlindungan atas kekerasan, kesempatan dalam pendidikan peluang mendapatkan kekuasaan , memperoleh pendapatan dan kemakmuran56. Juga persamaan dalam hak, kedudukan dalam proses dimuka hokum57 tanpa memandang ras, kelompok, kedudukan/jabatan58, kerabat, kaya atau miskin, orang yang disukai atau dibenci hatta terhadap musuh sekalipun59.

Kemudian keadilan yang memiliki arti “seimbang” atau proporsional. Yaitu memberii tiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuannya, prestasinya60. keseimbangan ekosistem, dan dalam bahasa hokum alam adalah sifat kenetralan. Bahwa langit dan bumi ditegakkan atas keadilan (perimbangan). Bila salah satu sistemnya tidak berdasarkan keadilan, maka seluruh system jagat raya akan terganggu. Juga dalam arti pembalasan yang seimbang dimana satu keburukan dibalas dengan keburukan yang sama61. Juga keseimbangan tidak harus dalam kadar yang sama besar. Dalam al-Qur’an allah memberi petunjuk yang membedakan antara wanita dan laki-laki dalam hal

49 Q.S. an-Nahl, 16: 90.50 Q.S. al-A’raf, 7: 29.51 Rifyal Ka’bah, Op.Cit. hlm 83.52 Q.S. an-Nisa’. 04: 135.53 Q.S. ar-Rahman, 55: 7-8.54 Muhammad Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an. Op.Cit. 14955 Ibid hal 152.56 http://www.badilag.net/data/artikel/wacana hukum islam/ahmad zaenal fanani, teori keadilan perspektif

filsafat hukum islam.pdf. hlm 3.

57 Dhiauddin Rais, op.cit., hlm 269.58 Rasulullah memberikan contoh tentang keadilan, ketika Usamah bin Zaid datang untuk meminta syafaat bagi seorang wanita Makzumiyah yang kedapatan melakukan pencurian, yang ketika itu beliau hendak menjatuhkan hukuman potong tangan kepada wanita tersebut. Maka beliau bertanya: َق�ْة� ر� س� ُم�َح�َّم�ٍد� �ت� !ن ب َف�اِد!ُم�ْة� ��َّن َأ �و� َل اَلله �م� واْي اُم�ْة! س�

� َأ �ا ْي اَلله �َح�ٍد�و�ِد! ُم!ن َح�ٍد+ َف!ى َف�ُع� �ْش� َأ) ُمسلم ) رواه �ٍد�َه�ا ْي �َق�َط�ْع�ت� -Patutkah engkau meminta syafaat dalam salah satu dari hukuman “ .َلhukuman yang ditetapkan oleh Allah wahai Usamah? Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, tentu akan kupotong tangannya”. (H.R. Muslim) 59 Q.S. al-Maidah, 4: 8.60 Ahmad Zaenal Fanani. op.cit,. hlm 3.61 Rifyal Ka’bah, Op.Cit. hlm, Q.S. Asy-Syura, 62:40

Page 9: politik keadilan

warisan dan persaksian. Hal ini bila ditinjau dari sudut pandang keadilan bisa dipahami dari sudut pandang keseimbangan, bukan persamaan62.---

b) Perintah dan Kewajiban Menegakkan keadilan

Juga yang terpenting adalah keadilan terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu pada setiap pemiliknya. Yaitu memberi pihak lain haknya melalui jalan terdekat artinya tidak mempersulit dalam urusan birokrasi. Lawannya adalah kedzoliman/ khianat, dalam arti pelanggaran pelanggaran terhadap pihak-pihak lain, juga telah menyia-nyiakan amanat yang telah diberikan kepadanya. Pengertian keadilan seperti ini yang akan melahirkan keadilan social63. Jadi pemenuhan hak individu masyarakat dan terciptanya keadilan social bisa terwujud syari’ah sebagai acuannya yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keadilan yang merupakan mahkota hokum menjadi sebuah keniscayaan untuk senantiasa ditegakkan oleh pemerintah. Secara eksplisit al-Qur’an menyatakan:

Ath- Thabari menafsirkan tersebut bahwa:

” Allah SWT menyerukan kepada orang yang mengurus kekuasaan kaum muslimin dengan melaksanakan amanat kepada yang diberi tanggungjawab tersebut dari kewajiban dan dan hak-haknya. Dan yang diamanatkan mereka kepada pemimpin untuk mengurusi segala permasalahan, melalui penegakan keadilan diantara mereka dalam segala permasalahan…”.

Ia juga menerangkan makna keadilan dengan menyatakan “itulah hokum dari tuhan yang diturunkan dalam al-Qur’an dan diterangkan oleh rasulnya, janganlah kalian melewati batas hingga dapat menganiayanya64. Al-Baidhawi juga mengatakan:” hendaknya kamu sekalian memerintah dengan dengan obyektif dan kesamaan derajat, tidak membedakan diantara mereka. Ar-Razi dalam tafsirnya mafatihul ghaib juga berkata ”para ulama’ telah sepakat bahwa para pemegang kekuasaan diharuskan memerintah dengan adil65, yang didukung dengan beberapa ayat al-Qur’an lainnya”66. Juga terdapat dalam surat al-Maidah ayat 105, terdapat kata “amanah” yang menurut ar-Razi, terdiri atas segala bentuk yang harus dilaksanakan seseorang, dimana yang paling utama adalah keadilan, fakta keadilah mutlak diketahui hanya oleh Allah67. Lawan dari keadilan adalah dzulm misalnya masalah pelanggaran68, Jadi keadilan adalah kebaikan yang tidak mengandung pelanggaran, kekejaman, kesalahan maupun dosa69. Ayat-ayat tersebut menunjuk kepada watak moral yang universal dan obyektif yang

62 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Op.Cit. hlm 154.63 Ibid hlm, 155. 64 Muhammad bin Jarir bin ath-Thabari, At-Tafsiruk kabir juz 5, (Mesir: ----65 Fakhruddin ar-Razi, Mafaatih al-Ghaib-----------66 Q.S. an-Nisa’, 4: 58, Q.S. an-Nahl, 16: 90, Q.S. al-Anam, 5: 152, dan Q.S. Shaad, 38: 26.

67 Q.S. 2: 21668 Q.S. 2: 59, Q.S, 42:4169 Ibid, hlm 80-81.

Page 10: politik keadilan

membuat semua manusia diperlakukan secara sama dan sama-sama bertanggung jawab kepada Allah. membangkitkan keadilan obyektif universal yang mendarah daging dalam jiwa manusia70.

c) Keadilan Dalam Perjanjian (contrack social)

Jika ditinjau dari aspek sosio-politik keadilan juga akan mendorong terciptanya stabilitas nasional dan laju pertumbuhan ekonomi. Karena jika hak-hak individu terjaga dan bebas dari tindakan pungli (pungutan liar) rakyat akan merasa aman dan tentram, meningkatkan etos kerja mereka dan mempercepat laju pembangunan71. Apabila rakyat terus meningkatkan produksi dan pendapatan hal ini akan meningkatkan juga pendapatan perkapita negara sehingga pembangunan sarana dan prasarana dapat terus ditingkatkan.

Sebaliknya pemegang kekuasaan politik melakukan kezaliman terhadap harta rakyat, atau penghinaan terhadap hak-hak individu. Yang terjadi adalah terjadinya banyak kejahatan dan kriminalitas akibat dari ketimpangan sosial. juga lesunya pertumbuhan ekonomi, rakyat malas bekerja yang diikuti dengan menurunnya tingkat produksi, karena mereka terkena krisis kepercayaan. Kemudian terjadilah krisis ekonomi yang akan menghambat pembangunan dan melemahkan negara.

Ibn Khaldun dalam muqadimah dalam salah satu babnya menjelaskan tentang “kezaliman merusak pembangunan”. Ia mengatakan bahwa:” Kezaliman terhadap masyarakat dalam perekonomiannya akan menghilangkan harapan untuk berusaha dan mendapatkan hasil usahanya.

karena mereka memandang tujuan dan nasib usahanya berada ditangan pemerintah. Adanya kecenderungan untuk berlaku lalim akan menghasilka sebuah pengekangan terhadap usaha untuk mendapatkan apa yang dikerjakannya... pembangunan, pengembangn negara, perluasan pasar tergantung pada pekerjaan.

Disini syari’ah menduduki peran sentral sebagai barometer untuk menimbang semua persoalan moral, semua masalah tingkah laku yang baik maupun yang buruk. Ia merupakan keadilan yang murni, mendetail dan netral, tidak timpang karena kasih sayang dan cinta. Dilain pihak akal dengan berbagai variasinya memberiikan definisi dan bentuk yang bertentangan kepada keadilan karena gagalnya mencapai keadilan itu sendiri, tetapi wahyu dengan standar keadilannya yang mutlak tidak hanya mencapai tetapi juga merupakan sumber yang abadi bagi keadilan.

Maka keadilan mutlak hanya milik allah SWT yang diwujudkan dalam syari’ah72. Ia menyatukan hukum sebagai “adanya” dengan hukum sebagai ”seharusnya”. Artinya hukum tidak memihak (tidak pandang bulu) dan adanya keharusan untuk menegakkan supremasi hukum. Jadi stabilitas dalam hukum. Antara adanya hukum dan pelaksanaannya adalah menggambarkan tujuan tertinggi hukum yang tidak lain kecuali adalah keadilan73.

70 Ahmad Zaenal Fanani. op.cit,. hlm 8.71 Dhiauddin Rais, op.cit., hlm 269

72 Q.S.2:17, Q.S. 16:90, Q.S.5: 973 Ibid, hlm 79.

Page 11: politik keadilan

Keadilan akan menjadi sesuatu yang baku dan tetap jika telah diformulasikan dalam bentuk seperangkat kepastian hukum. Dengan demikian setiap langkah dan kebijakan yang diambil baik sementara berjalan atau akan dilaksanakan oleh pemerintah berdasarkan juklak dan juknis hokum. Demikian juga masyarakat yang dilindungi oleh hokum itu harus berbuat sesuai berbuat sesuai dengan aturan yang jelas sehingga bisa mempedomi dan melaksanakan hokum itu tanpa keragu-raguan74.

Kemudian dalam merumuskan hokum Ibn Taimiyah menjadikan ijma’75 sebagai dasar hokum. Sebagai mana rasulullah SAW Akan tetapi tidak semua persoalan bisa diputuskan melalui konsultasi/musyawarah. Menyangkut masalah ketatanegaraan, Islam tidak mengaturnya sebagai ajaran qat’I , tetapi al-Qur’an dan hadith hanya menjelaskan prinsip-prinsip dasar dalam bernegara. Dengan demikian peran ijtihad menjadi sangat dominan merumuskan dan menetapkan hokum76.

Mengenai pelaku/perumus hokum menurut Ibn Taimiyah tidak cukup hanya dilakukan oleh ahl al-hall wa al-‘aqd77, tetapi dilaksanakan oleh ahl al-syaukah. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kudrah (kekuatan) dan sultan (kekuasaan) didalam masyarakat, yang tanpa memandang profesi dan kedudukan, mereka adalah orang-orang yang ditaati dan dihormati masyarakat78. Jadi Ibn taimiyah menghendaki dalam perumusan hokum tidak hanya dengan menggunakan mekanisme yang benar, yaitu dengan prinsip musyawarah/konsultasi, tetapi juga harus dilakukan oleh orang-orang yang berkwalitas dibidangnya dan merepresentasikan perwakilan yang sesungguhnya79.----

Konkretnya ahl al-syaukah adalah terdiri dari ulama’dan umara’. Ulama disini adalah seorang yang karena ilmu pengetahuan dan pendidikannya mampu menterjemahkan syari’ah secara tepat. Juga selain ahli dibidang fiqih (hokum islam) tetapi juga mencakup keahlian di bidang lainnya. Sedangkan umara’ adalah para tokoh yang memiliki wilayah (otoritas) dalam masyarakat. Yang bertugas selain memberikan legitimasi kepada pemerintah, juga menjalankan fungsi check and balance jalannya roda pemerintahan. ---

Dalam kaitannya perumusan hokum, ada perbedaan antara musyawarah dan demokrasi. dalam demokrasi Barat yang landasan filosofinya adalah kedaulatan rakyat. Kekuasaan mutlak legislasi derada ditangan rakyat. Pembuatan undang-undang merupakan hak prprerogatif mereka yang harus sejalan dengan kehendak rakyat. Bila sebuah undang-undang diinginknmayooritas rakyat , maka 74 Muhammad Alim. Op.cit,. hlm 321.75 Ijma’ menurut Ibn Taimiyah adalah suatu proses yang mendorong ulama’ untuk bermusyawarah dalam rangka menghasilkan sebuah kesepakatan atau aturan yang bulat.

76 Shobahussurur, Proses Pengambilan Keputusan Menurut Ibn Taimiyah, “ Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam”, Vol 6 No 1(ISID, April 2010) hal 69.

77 Alasan ibn Taimiyah tidak menggunakan ahl al-hall wa al-‘aqd yaitu para pemegang kekuatan tertinggi untuk mengikat dan melepaskan. menurut Ibn Taimiyah lebih bersifat elastic dan dan hanya terdiri dari para ulama’ yang terbatas yang tidak mewakili umat. Maka soluinya adalah merumuskan satu lembaga yang lebih spesifik yaitu ahl-syawkah. 78 Ibid, hlm, 6579 Ibid, hlm, 69.

Page 12: politik keadilan

harus segera disahkan, meskipun berbenturan dengan tinjauan moral dan agama. Hal ini tentu berdeda dengan konsep syura dalam Islam yang mana pijakannya tidak dsekedar memperhatikan keinginan dan keputusan mayoritas umat akan tetapi terlebih dahulu memperhatikan pedoman syara’ sebagai batu uji terakhir apakah bertentsangan atau tidak80. Dengan demikian musyawarah hanya berada dalam dalam kawasan “yang tidak dibicarakan oleh wahyu”.

Dalam al-Qur’an terdapat dua ayat yang menyerukan untuk senantiasa bermusyawarah dalam berbagai urusan. Pertama, terdapat dalam surah ali-Imron/3: 159, dalam ayat ini Allah termaktub perintah keharusan bermusyawarah dengan lemahlembut dan mengembangkan iklim dialog yang tidak sebatas antar umat islam, tetapi juga dianjurkan dengan orang-orang diluar umat islam. Hal ini menurut Abdullah Yusuf Ali menunjukkan bahwa islam adalah a mercy to all creation (rahmat bagi seluruh alam). Kedua, Q.S Asyura/42: 38, menyatakan bahwa musyawarah adalah salah satu tanda orang yang beriman. Prinsip ini sudah sepenuhnya dilaksanakan oleh Rasulullah dan sahabat dalam hehidupan individu dan masyarakat. Juga musyawarah menjadi salah satu prinsip dasar dalam kehidupan bernegara, yang merupakan cara ideal agar dapat menghasilkan keputusan yang adil81.---

Sejalan dengan ini untuk mewujudkan keadilan dan kemaslahatan tanggung jawab tidak hanya tertumpu pada pemerintah/pemegang kekuasaan saja, tetapi juga berlaku bagi seluruh rakyat. Seperti dinyatakan Ibn taimiyah:

“kami tidak menerima bahwa tanggung jawab memelihara syari’ah hanya dibebankan kepada seorang imam. Sesungguhya umat secara keseluruhan yang bertanggungjawab memelihara syari’ah, syariah yang dipelihara seluruh umat akan lebih baik daripada hanya dibebankan pemeliharannya kepada satu orang pemimpin”.

---

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa pemerintah dan penguasa merupakan unsure yang saling terkait sebagai sebuah satu kesatuan organis. Maka hasil perumusan kebijakan yang telah ditetapkan merupakan keputusan hokum yang harus ditaati oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena hal ini sesuai dengan sabda nabi bahwa umat ini tidak akan bersepakat dalam kesesatan.----

Maka ketika ijma’ sudah ditetapkan dan menjadi formulasi hokum mesti dilaksanakan. karena merupakan tujuan tertinggi hokum islam terwujudnya adalah keadilan. al-Syatibi Dalam kitabnya al-Muwafaqat pembahasannya mengenai maqasid al-syari'ah. Ia secara tegas mengatakan bahwa tujuan utama Allah menetapkan hukum-hukum-Nya adalah untuk terwujudnya maslahat hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat82. Demikian juga pembicaraan hukum tidak tidak hanya sebatas wujudnya sebagai suatu bangunan yang formal, tetapi merupakan sebagai ekspresi dari cita-cita keadilan masyarakat83.

PENUTUP

80 Ibid, hlm, 70.81 Ibid, hlm, 7282 Ahmad Zaenal Fanani, op.cit., hlm 12.83 Muhammad Alim, op. cit., hlm 316.

Page 13: politik keadilan
Page 14: politik keadilan

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jabiri, Muhammad Abed. 2001. Agama, Negara dan Penerapan Syari’ah.

Yokyakarta: Fajar pustaka.

Armas, Adnin. 2003. Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal.

Jakarta: Gema Insani Press.

Az-Zuhaili, Wahbah. 2005. Kebebasan Dalam Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Black,Antony. 2001. pemikiran Politik Islam. Jakarta: Serambi.

H.A. Djazuli. 2003. Fiqih Siyasah. Bandung: Kencana.

Haekal,Muhammad Husain. 2003. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Lentera

Antar Nusa.

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat. Jakarta: Gema Insani Press.

Imarah, Muhammad. 1998. Islam Versus Barat. Jakarta: Rabbani Press.

K Raharjo, Iman Toto dan Soko Sudarso. 2010. Bung Karno Masalah Pertahanan

dan Keamanan. Jakarta: Gramedia Widia Sarana.

Ka’bah, Rifyat. 2005. Politik dan Hukum Dalam al-Qur’an. Jakarta: Khairul

Bayan.

Muhammad, Ali Abdul Mu’ti. 2010. Filsafat Politik Antara Barat dan Islam.

Bandung: Pustaka Setia.

Muslehuddin, 1991. Filsafat hukum Islam dan Pemikiran Orientalis. Yokyakarta:

Tiara Wacana.

An-Nabhani, Taqiyuddin. 1996. Sistem Pemerintahan Islam. Bangil: Penerbit Al-

Izzah.

Qardhawi, Yusuf. 2008. Meluruskan Dikotomi Agama dan Politik. Jakarta:

Pustaka al-kautsar.

______________. 2008. Legalitas Politik Dinamika Perspektif Nash dan Asy-

Syari’ah. Bandung: Pustaka Setia.

Shihab, Muhammad Quraish. 2007. wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Page 15: politik keadilan

Rais, M.Dhiauddin. 2001. Teori Politik Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Sa’fan, Kamil. 2009. Kontroversi Khilafah dan Negara Islam. Jakarta: Penerbit

Erlangga.

Abdul Salim, Mu’in. 1994. Fiqih Siyasah konsepsi kekuasaan Politik Dalam Al-

Qur’an. Jakarta: Rajawali Press.

Salim, M. Arskal. 1998. Etika Intervensi Negara Perspektif Etika Politik Ibnu

Taimiyyah. Jakarta: Logos.

Thomas, Linda dan Shan Waring. 2007. Bahasa Masyarakat dan Kekuasaan.

Yokyakarta: Pustaka Pelajar.