penanaman karakter bangsa berbasis kearifan …

12
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017 16 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI SEKOLAH Alhafizh Mahardika Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta [email protected] ABSTRAK Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memaparkan secara komprehensif pentingnya sekolah dalam mengembangkan kearifan lokal yang diinovasi untuk dikemas secara modern dengan tetap mempertahankan nilai-nilai lokalnya untuk menanamkan karakter bangsa pada generasi muda. Metode penulisan artikel menggunakan kepustakaan atau library research. Data yang digunakan dalam artikel ini bersumber dari buku, artikel ilmiah, jurnal, dan media masa online. Kemudian data yang diperoleh dikumpulkan dan diolah menggunakan teknik dokumentasi dan identifikasi wacana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter bangsa dapat dilakukan dengan mengadopsi nilai- nilai yang ada di dalam kearifan lokal seperti nilai religi, gotong royong, seni dan sastra, dan keterampilan lokal. Program sekolah berbasiskan pada kearifan lokal dalam pendidikan karakter berbasis budaya dengan program sekolah berbasis berbasis kearifan lokal, budaya sekolah berbasis kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa berbasis kearifan lokal diintegrasikan ke dalam mata pelajaran dan program pengembangan diri peserta didik. Dengan demikian rasa kebangsaan tergantung pada kebijakan yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menanamkan karakter bangsa kepada peserta didik. Kata kunci: karakter bangsa, kearifan lokal, sekolah. A. Pendahuluan Globalisasi berdampak sangat luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Globalisasi membawa kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang sangat pesat. Teknologi pada saat ini menciptakan gelombang informasi yang dapat diakses secara mudah, cepat, dan murah. Informasi yang berkembang menjadi sulit dibendung dan dikontrol. Oleh karena itu, anak muda pada saat ini disebut juga sebagai generasi Z. Generasi Z ialah anak-anak yang lahir di generasi internet atau dan sudah mulai mengalami ketergantungan terhadap internet. Generasi yang sudah mengenal internet dapat memengaruhi karakternya. Generasi Z memiliki keunggulan lebih peka terhadap pergaulan global, memiliki pikiran yang lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dalam dunia kerja, memiliki jiwa wirausaha, dan lebih ramah terhadap teknologi namun kekurangan generasi Z lebih individual. Dalam seharinya anak- anak menghabiskan waktu mengakses internet selama tiga sampai lima jam sehari sehingga memengaruhi karakter dan pola hidup mereka (Adam, 2017). Ketergantungan terhadap teknologi juga menimbulkan beberapa persoalan dalam kehidupan suatu bangsa. Penelitian yang dilakukan olah Cogan & Derricott (1998: 7) mengidentifikasi ada beberapa permasalahan global yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia. Budaya yang berasal dari bangsa lain dapat memengaruhi bangsa lainya melalui informasi yang begitu masif baik lewat media elektronik, cetak, televisi, dan media sosial akan semakin mempermudah dah terjadinya proses pertukaran budaya. Budaya asing yang

Upload: others

Post on 12-Nov-2021

12 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

Page 1: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

16 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL

DI SEKOLAH

Alhafizh Mahardika

Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta

[email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memaparkan secara komprehensif pentingnya sekolah

dalam mengembangkan kearifan lokal yang diinovasi untuk dikemas secara modern dengan tetap

mempertahankan nilai-nilai lokalnya untuk menanamkan karakter bangsa pada generasi muda.

Metode penulisan artikel menggunakan kepustakaan atau library research. Data yang digunakan

dalam artikel ini bersumber dari buku, artikel ilmiah, jurnal, dan media masa online. Kemudian data

yang diperoleh dikumpulkan dan diolah menggunakan teknik dokumentasi dan identifikasi wacana.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter bangsa dapat dilakukan dengan mengadopsi nilai-

nilai yang ada di dalam kearifan lokal seperti nilai religi, gotong royong, seni dan sastra, dan

keterampilan lokal. Program sekolah berbasiskan pada kearifan lokal dalam pendidikan karakter

berbasis budaya dengan program sekolah berbasis berbasis kearifan lokal, budaya sekolah berbasis

kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa berbasis kearifan lokal diintegrasikan ke dalam mata

pelajaran dan program pengembangan diri peserta didik. Dengan demikian rasa kebangsaan

tergantung pada kebijakan yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menanamkan karakter bangsa

kepada peserta didik.

Kata kunci: karakter bangsa, kearifan lokal, sekolah.

A. Pendahuluan

Globalisasi berdampak sangat luas

dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara. Globalisasi membawa

kemajuan teknologi dan informasi yang

berkembang sangat pesat. Teknologi pada

saat ini menciptakan gelombang informasi

yang dapat diakses secara mudah, cepat,

dan murah. Informasi yang berkembang

menjadi sulit dibendung dan dikontrol.

Oleh karena itu, anak muda pada saat ini

disebut juga sebagai generasi Z. Generasi

Z ialah anak-anak yang lahir di generasi

internet atau dan sudah mulai mengalami

ketergantungan terhadap internet.

Generasi yang sudah mengenal

internet dapat memengaruhi karakternya.

Generasi Z memiliki keunggulan lebih

peka terhadap pergaulan global, memiliki

pikiran yang lebih terbuka, lebih cepat

terjun ke dalam dunia kerja, memiliki jiwa

wirausaha, dan lebih ramah terhadap

teknologi namun kekurangan generasi Z

lebih individual. Dalam seharinya anak-

anak menghabiskan waktu mengakses

internet selama tiga sampai lima jam

sehari sehingga memengaruhi karakter

dan pola hidup mereka (Adam, 2017).

Ketergantungan terhadap teknologi

juga menimbulkan beberapa persoalan

dalam kehidupan suatu bangsa. Penelitian

yang dilakukan olah Cogan & Derricott

(1998: 7) mengidentifikasi ada beberapa

permasalahan global yang dihadapi oleh

negara-negara di seluruh dunia. Budaya

yang berasal dari bangsa lain dapat

memengaruhi bangsa lainya melalui

informasi yang begitu masif baik lewat

media elektronik, cetak, televisi, dan

media sosial akan semakin

mempermudah dah terjadinya proses

pertukaran budaya. Budaya asing yang

Page 2: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

17 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

masuk tanpa di penguatan budaya lokal

dan pemilahan dapat pengaruhi sikap dan

mental generasi muda.

Minat generasi muda terhadap

budayanya sendiri mulai bergeser

kekebudayan bangsa yang lebih maju.

Perubahan dari fesyen anak muda lebih

berminat berbelanja di mall, pusat belanja,

pasar dan membeli produk luar seperti

Adidas, Nike serta zara. Kuliner anak

muda sekarang juga lebih suka pada

makanan yang instan seperti di KFC &

McDonal. Bahkan dari segi hiburan

mereka juga lebih tertarik pada musik

modern (Adam, 2017).

Proses pencarian jati diri yang

dilakukan oleh anak muda akan

mengakibatkan mereka mudah

terpengaruh budaya asing. Anak-anak

yang tidak memiliki pemahaman yang kuat

mengenai nilai-nilai kearifan lokal akan

mudah terbawa arus negatif dari

globalisasi. Perilaku-perilaku menyimpang

yang dilakukan oleh anak muda seperti,

membentuk geng motor, terjebak dalam

pergaulan bebas, penggunaan minum-

minuman keras dan obat terlarang,

tawuran setiap tahunya mengalami

peningkatan (BPS, 2014). Cara

berinteraksi anak muda dengan orang tua,

interaksi murid terhadap guru sekarang

juga mengalami perubahan. Mereka

sudah kurang memerhatikan Tata krama

seperti, ketika berinteraksi. Hal tersebut

dipengaruhi oleh budaya sekularisme,

pragmatisme, dan hedonisme (Ruyadi,

2010).

Selain berpengaruh terhadap

perilaku generasi muda, perkembangan

pengetahuan dan teknologi menurut

Susanto berdampak pada perubahan

kehidupan dalam masyarakat seperti

terjadinya pergeseran nilai, budaya, serta

agama yang mulai mengadopsi nilai-nilai

dari bangsa lain yang tidak selalu sesuai

dengan jati diri bangsa Indonesia

sehingga menimbulkan berbagai

penyimpangan nilai dalam masyarakat

(Hidayati, 2008: 64). Persoalan-persoalan

yang terjadi dalam kehidupan bangsa

Indonesia saat ini mengindikasikan mulai

lunturnya karakter bangsa pada generasi

muda.

Permasalahan-permasalahan yang

dihadapi bangsa Indonesia dan lunturnya

karakter bangsa di antaranya disebabkan

oleh (1) disorientasi dan nilai-nilai

pancasila yang belum mampu dihayati

sebagai filosofi dan ideologi bangsa, (2)

terbatasnya perangkat kebijakan terpadu

dalam mewujudkan nilai-nilai dalam

Pancasila, (3) bergesernya nilai etika

dalam kehidupan bermasyarakat

berbangsa dan bernegara, (4)

memudarnya kesadaran masyarakat

terhadap nilai-nilai budaya bangsa, (5)

muncul ancaman disintegrasi bangsa, dan

(6) melemahnya kemandirian bangsa

(Desain Induk Pengembangan Karakter

Bangsa, 2010:2).

Perlu adanya penguatan dan

penanaman terhadap karakter bangsa

pada generasi muda. Nilai-nilai luhur yang

ada dalam kearifan lokal (local wisdom)

dapat memperkuat jati diri bangsa dan

menanamkan kecintaan terhadap bangsa

serta negara. Hal itu disebabkan kearifan

lokal diambil dari nilai-nilai luhur yang ada

di dalam masyarakat itu sendiri. Seperti

yang diungkapkan oleh Geertz (1973)

bahwa kearifan lokal merupakan unsur

budaya tradisional yang berakar pada

kehidupan masyarakat dan terkait dengan

sumber daya manusia, sumber budaya,

ekonomi, keamanan dan hukum. Lebih

lanjut Geertz berpandangan bahwa

kearifan lokal dapat dilihat sebagai tradisi

yang berhubungan dengan kegiatan

bertani, peternakan, pembangunan rumah

dll.

Rasa kecintaan terhadap budaya

bangsa dapat memicu timbulnya jiwa

nasionalisme pada masyarakat Indonesia.

Hal tersebut dapat dilihat pada kasus

pengklaiman budaya Indonesia oleh pihak

Malaysia, misalnya Reog Ponorogo, batik,

Page 3: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

18 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

anklung, keris, dan lain-lainya yang

menggugah bangsa Indonesia untuk

mempertahankan budayanya. pendidikan

karakter yang berbasiskan pada kearifan

lokal dapat menguatkan agama, budaya,

identitas, dan peradaban yang

memperkokoh karakter bangsa generasi

muda untuk merevitalisasi ketahanan

bangsa.

Dalam desain Induk pengembangan

karakter bangsa tahun 2010-2025 karakter

bangsa dapat dibentuk melalui berbagai

ruang lingkup salah satunya adalah

lingkup satuan pendidikan yaitu sekolah.

Secara sederhana sekolah merupakan

tempat di mana peserta didik diberikan

ilmu pengetahuan dan mengasah

keterampilan sebagai bekal untuk

menjalani kehidupan dimasa mendatang

dalam proses pendidikan formal.

Berdasarkan ulasan di atas, maka

perlu pengakajian yang komprehensif

mengenai penanaman karakter bangsa

berbasis kearifan lokal di sekolah.

Sehingga, penulis dalam pembahasan

artikel ini akan memfokuskan kajian pada

penanaman karakter bangsa menjadi

beberapa topik bahasan di antaranya: Apa

nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom)

yang dapat membentuk karakter bangsa

kepada peserta didik di sekolah?

Bagaimana konsep penanaman karakter

bangsa berbasis kearifan lokal (local

wisdom) di sekolah?

B. Metode Penelitian

Dalam penulisan artikel ini

menggunakan metode deskriptif kualitatif

dengan pendekatan studi kepustakaan

atau library research. Riset kepustakaan

merupakan serangkaian kegiatan yang

dilakukan berkenaan dengan metode

pengumpulan data yang diambil dari

berbagai pustaka, kemudian dilanjutkan

dengan membaca dengan cermat dan

mencatat bahan-bahan yang relevan

dengan tema, serta mengolah bahan

penelitian tersebut (Zed, 2004:54).

Riset pustaka yang dilakukan untuk

mencari data dan informasi membatasi

pada literatur atau bahan-bahan seperti

buku, artikel, jurnal, surat kabar, laporan

badan penelitian, dan sumber kepustakan

lain yang relevan serta berhubungan

dengan karakter bangsa dan kearifan

lokal. Data atau informasi yang telah

diperoleh, selanjutnya akan dilakukan

penyusunan berdasarkan hasil studi

literatur yang sesuai dan dapat

dipertanggungjawabkan, Analisis data

dalam artikel terdiri dari dua tahap yaitu

proses reduksi data dan penyajian data.

Reduksi data dilakukan untuk

mempermudah penulis memilih data dari

literatur dengan valid, sedangkan

penyajian data dilakukan untuk penulis

memberikan simpulan dari hasil

pembahasan.

C. Hasil dan Pembahasan

1. Nilai-nilai kearifan lokal dalam

menanamkan karakter bangsa

Pembangunan karakter bangsa

harus direalisasikan dalam berbagai

bentuk aksi dengan skala nasional.

generasi muda yang memiliki karakter

bangsa akan menjadi modal berharga

dalam upaya pembangunan bangsa

yang berjati diri bangsa serta

memperkukuh persatuan dan kesatuan

dalam naungan NKRI. Pembangunan

karakter bangsa harus dilakukan

melalui pendekatan sistematik dan

integratif dengan berlandaskan

Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung

dalam Pancasila diambil dari budaya,

jiwa, dan kepribadian bangsa Indonesia

yang sangat majemuk. Penguatan

karakter bangsa Indonesia tidak dapat

dipisahkan dari budaya lokal yang ada

dalam masyarakatnya.

Kesalahan dalam menggunakan

memanfaatkan perkembangan sains

dan teknologi dapat menciptakan

pergeseran dan penumpukan nilai

(Armawi, 2010: 125). Hedonisme

Page 4: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

19 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

memberikan peran penting dalam

membentuk perilaku masyarakat yang

konsumtif sehingga, menciptakan

manusia modern dan gaya hidup

berdasarkan individualistik-materialistis.

Kegagalan manusia modern untuk

mengelola masalah yang timbul akibat

terjadi degradasi moral memaksa

mereka untuk menemukan

alternatif/solusinya. Solusi yang dapat

ditawarkan adalah untuk menggali

kembali nilai-nilai kearifan yang sudah

mulai terabaikan. kearifan lokal dapat

didefinisikan sebagai kearifan atau nilai

tinggi yang terdapat dalam kekayaan

budaya lokal.

Terdapat beberapa daerah yang

masih mempertahankan kearifan lokal

yang ada di daerahnya. Kebanyakan

masyarakat di daerah perdesaan yang

masih melestarikan nilai-nilai kearifan

lokal. Masyarakat menjunjung tinggi

rasa persaudaraan, kekeluargaan,

ringan tangan, semangat bergotong

royong, dan lain-lain. Berbeda ketika

membahas masyarakat perkotaan yang

telah terpengaruh oleh budaya asing

seperti individualisme dan hedonisme.

masyarakat perkotaan cenderung

mementingkan kehidupan pribadi

masing-masing, kurang peduli terhadap

orang lain, bertindak dengan melihat

untung rugi yang ia dapatkan, dan hal

ini merupakan salah satu ciri

masyarakat yang sudah terjangkit sifat

individualime dan materialisme. terjadi

perbedaan karakter masyarakat di desa

dan di perkotaan salah satu

penyebabnya ialah interaksi dengan

pertumbuhan teknologi dan informasi

yang begitu masif. masyarakat

perkotaan sudah dimanjakan dengan

adanya kemudahan yang diberikan

oleh teknologi dan melihat hidup orang

barat yang bebas, bergaya hidup

mewah, dan mengutamakan materi

dalam hidupnya.

Perlu adanya penanaman nilai-

nilai yang ada dalam kearifan

lokal/budaya lokal untuk menguatakan

karakter bangsa pada generasi muda.

Tylor mengungkapkan bahwa

kebudayaan ialah keseluruhan dari

aktivitas manusia, seperti kepercayaan,

pengetahuan, moral, seni, adat-istiadat,

hukum, dan kebiasaan-kebiasaan

lainya (Ratna, 2005: 5). Kearifan lokal

disetiap daerah masing-masing

memiliki ciri khas tersendiri. Namun

memiliki sama yaitu di dalamnya

memiliki nilai-nilai yang luhur dan baik

untuk mengatur kehidupan

masyarakatnya. Hal itu disebabkan

nila-nilai tersebut berasal dari dalam

masyarakat itu sendiri.

Kearifan lokal merupakan

berbagai bentuk kebijaksanaan yang

terdapat di wilayah tertentu dan

digunakan secara turun-temurun

sebagai salah satu sarana penunjang

untuk mewujudkan stabilitas sosial di

masyarakat (Ratna, 2014: 186).

Indonesia merupakan negara yang

sangat kaya. Kekayaanya tidak hanya

sebatas pada hasil alam saja, namun

juga pada ragam suku, agaman,

kepercayaan, bahasa, dan adat

istiadat. Menurut data PBS (2010)

terdapat 633 kelompok suku besar di

Indonesia namun jika dilakukan

perincian hingga sub sukunya dapat

mencapai ribuan jumlahnya.

Kearifan lokal di setiap daerah

memiliki ciri khas tersendiri baik dari

segi istilah maupun jenis dan

bentuknya. Namun pada hakikatnya

terdapat nilai-nilai yang sama yaitu

mengenai kebijaksanaan dalam

berinteraksi antar manusia. Menurut Hill

(2010: 648) berpendapat bahwa nilai

merupakan sesuatu yang tidak terbatas

pada keyakinan intelektual saja. Nilai

cenderung lebih berasal dari budaya

sebelumnya, pengkondisian,

temperamen bawaan dan impuls

Page 5: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

20 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

viseral. Nilai-nilai yang terkandung

dalam kearifan lokal di Wilayah

Indonesia untuk menanamkan karakter

bangsa diantaranya:

a. Nilai Religi

Pancasila sesungguhnya

merupakan rumusan yang

diciptakan oleh pendiri bangsa untuk

mengejawantahkan nilai-nilai

agama/religi dalam konteks sebagai

warga negara dalam hidup

berbangsa dan bernegara. Pendiri

bangsa sadar bahwa bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang

percaya dengan adanya Tuhan.

Nilai-nilai religi harus diwujudkan

oleh setiap warga negara dalam

konteks kehidupan berbangsa dan

bernegara.

Ciri khas dari local genius di

Indonesia sangat terkait dengan

sistem kepercayaan terhadap sang

pencipta Wasilah dkk (2009:51).

Pancasila merupakan dasar negara

dan pancangan hidup bangsa yang

setiap silanya bersal dari diri bangsa

Indonesia. Sila pertama dalam

Pancasila menggambarkan bahwa

masyarakat Indonesia tidak dapat

dipisahkan dari kepercayaan

terhadap tuhan. Banyak sekali nilai-

nilai religi di dalam kearifan lokal

setiap daerah di Indonesia.

Keberagaman agama dan

kepercayaan yang ada dalam

masyarakat Indonesia menjadikan

beraneka ragam nilai-nilai dan

kegiatan religi dalam budaya lokal

masyarakat.

Terdapat enam agama diakui

pemerintah Indonesia seperti,

agama Islam, Kristen Protestan,

Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong

Hu Cu. Sedangkan aliran

kepercayaan di Indonesia saati ini

belum dapat dipastikan namun,

jumlahnya sangat banyak disetiap

wilayah nusantara. Dalam

masyarakat Indonesia tedapat

berbagai bentuk kegiatan religi yang

dapat menyatukan masyarakat

misalnya seperti kegiatan upacara

ngaben di Bali, upacara “aruh

baharin” di Kalimantan Selatan

upacara adat “Katoba” di Sulawesi

Tenggara, pengajian, “genduri”,

“wiwitan” disawah, nasi tumpengan,

tradisi mimitu di Jawa dan masih

banyak lagi. Nilai-nilai yang

terkandung dalam acara adat

keagamaan disetiap daerah pada

intinya adalah wujud rasa syukur

kepada sang pencipta, tunduk dan

taat terhadap perintah tuhan,

mengagumi keagungan tuhan,

memupuk rasa kekeluargaan, dan

lain-lain.

Kegiatan keagamaan di

daerah hanya diajarkan oleh

masyarakat adat dan sangat jarang

sekolah yang mengajarkan kepada

peserta didik. Jika kegiatan

keagamaan di daerah tidak

diajarkan kepada peserta didik atau

generasi muda maka lambat laun

kearifan lokal dapat menjadi hilang

karena pasti terjadi pergantian

generasi.

b. Gotong Royong

Gotong royong secara

sederhana merupakan sikap saling

membantu atau tolong menolong

antar masyarakat. Kearifan lokal

disetiap daerah memiliki budaya

gotong royong namun dengan istilah

yang berbeda seperti goro

(Minangkabau), marimoi ngone

future (Ternate), pela gandong

(Ambon), gugur gunung

(Yogyakarta), sagilik sagaluk

sabayantakan (Bali), situlutulu

(Mandar), hoyak tabuik (Padang),

nyemplo (Banjramasin), paleo

(Samarinda) dan sebagainya.

Walaupun berbeda istilah dan

caranya nilai-nilai gotong royong

Page 6: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

21 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

disetiap daerah memiliki makna dan

semangat yang sama untuk saling

tolong menolong, menjalin

kebersamaan antar sesama

manusia.

Perbedaan istilah gotong

royong disetiap daerah memiliki arti

penting dalam mengikat emosi

wilayah tersebut dan secara

bersama-sama dapat menciptakan

stabilitas nasional (Ratna, 2014:

286). Di sekolah gotong royong

diajarkan secara kognitif atau

pengetahuan dan secara tersirat

dalam kegiatan-kegiatan disekolah

seperti piket, kerja bakti, kerja

kelompok dan lain sebagainya. Perlu

adanya perluasan makna gotong

royong dan praktik, sebaiknya

peserta didik diajarkan pengetahuan

lokal mengenai kegiatan gotong

royong misalnya, sejarahnya, nilai-

nilai yang terkandung, dan yang

terpenting praktiknya atau caranya.

Sekolah harus terlibat dan peduli

terhadap kearifan lokal yang ada di

wilayahnya. Pengetahuan dan

pengajaran yang diberikan

masyarakat adan lambat laun akan

mengalami perubahan generasi.

Banyak kearifan lokal yang hilang

ditelan zaman karena tidak adanya

proses regenerasi terhadap budaya

lokal. Pengajaran tidak harus

dilakukan oleh guru profesional atau

lulusan sarjana. Praktisi, seniman,

maupun ahli dapat memberikan

pengajaran terhadap peserta didik.

Belajar adalah merasakan,

sehingga peserta didik dapat

langsung merasakan manfaat dari

kegiatan yang telah mereka lakukan.

Pengajaran juga tidak harus

dilakukan dikelas, siswa harus

dilibatkan secara langsung di

lingkungan masyarakat.

Penggunaan teknologi dapat

memengaruhi pemikiran manusia

untuk berpikir secara pragmatis,

sehingga siswa kurang meminati

kearifan lokal sebab dianggap

perbuatan yang tidak bermanfaat

dan dianggap sebagai penghambat

kemajuan (Ratna, 2014: 287).

Sekolah harus menginovasikan nilai-

nilai gotong royong menjadi sesuatu

yang nyata manfaatnya terhadap

peserta didik dan tidak hanya

sebatas konseptual tanpa

kenyataan.

c. Nilai-nilai seni dan sastra lokal

Salah satu kearifan lokal yang

memiliki nilai-nilai luhur ialah sastra

lisan maupun tulisan. Salah satu

sastra yang ada di dalam

masyarakat Indonesia adalah

petuah atau nasehat dalam bahasa

daerah. Sastra lisan merupakan

bagian yang tak terpisahkan dari

kebudayaan Indonesia yang

tersebar di setiap wilayah dan harus

diwariskan kepada setiap generasi

agar tidak punah. Setiap kelompok

budaya dimasyarakat, memiliki

variasi dan keunikan yang berbeda-

beda, baik dalam bentuk perbuatan

maupun secara lisan maupun

tulisan.

Sastra yang berkembang

dalam masyarakat memberikan

nasehat dan tata cara manusia

melakukan interaksi dalam

kehidupannya. Di setiap daerah atau

suku di Indonesia banyak petuah-

petuah yang memiliki makna dan

nilai-nilai yang sangat luhur. Slogan

persatuan bangsa Indonesia

bhineka tunggal ika juga diambilkan

dari salah satu petuah Jawa. Tut

wuri handayani menjadi slogan

pendidikan di Indonesia juga

merupakan petuah dengan bahasa

Jawa yang diungkapkan oleh Ki

Hajardewantara. Banyak ungkapan

jawa yang masih digunakan dan

Page 7: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

22 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

diketahui jejaknya. Hal itu

dikarenakan sastra jawa banyak

dituliskan. Masih banyak petuah-

petuah yang dapat diajarkan kepada

peserta didik.

Disetiap daerah memiliki

petuah-petuah yang dihasilkan dari

budaya dan kehidupan

masyarakatnya. Misalnya, di Bugis

terdapat petuah yang berbunyi

”Resopa Temmanginngi Malomo

Nalettei Pammase Dewata" Hanya

dengan bekerja keras kita akan

mendapat rahmat Allah SWT,

petuah dari Minangkabau “Ingek di

rantiang ka mancucuak, Tahu

didahan ka maimpok” yang

bermakna perlunya sikap arif,

bijaksana, dan mempunyai

pandangan yang luas sehingga

dapat selalu hati-hati dalam

bertindak, petuah dari papua “Kele

Wawunia kele, ae, ao, baa. Niare

Waw­nia niare, ae, ao, haa” yang

memiliki makna manusia harus

menjaga kelestarian lingkungan

untuk menjaganya agar tetap lestari,

petuah dari Dayak “Dia tau pisang

handue mamua” (Pisang tak bisa

berbuah dua kali) yang bermakna

kedewasaan dan kekuatan tak bisa

kembali ke awal, dan lain-lain.

Perlu adanya kepedulian

daerah untuk melestarikan budaya

lokalnya. masalah utamanya

generasi muda sudah mulai tidak

mengetahui dan memahami petuah

yang ada di daerahnya. Lebih

memprihatinkan bahwa generasi

muda sudah tidak mengetahui

bahasa ibu dan ayahnya. Sekolah

harus menjadi sarana pembentuk

karakter bangsa dalam setiap lini

kehidupan masyarakat salah

satunya mengajarkan dan mendidik

peserta didik untuk mengenal,

mengerti, memahami,

menggunakan, dan melestarikan

budayanya sendiri. Masuknya

budaya asing termasuk bahasa dan

sastra berpengaruh besar terhadap

perkembangan dan minat para

generasi Z sekarang ini yang sangat

terbuka dengan teknologi dan

informasi. Budaya asing terkadang

tidak sesuai dengan kepribadian dan

budaya lokal bahkan dapat

merusaknya. Dengan penanaman

nilai-nilai kearifan lokal yang

terdapat dalam petuah-petuah

daerah dapat dijadikan sebagai

benteng pertahanan terhadap

budaya asing yang tidak baik.

d. Nilai keterampilan lokal

Setiap wilayah di Indonesia

memiliki kearifan lokal dengan ciri

khas tersendiri yang membedakan

dengan daerah lainya. Kearifan lokal

dapat berupa pertanian, kerajinan

tangan, pengobatan herbal,

pengelolaan sumber daya alam,

perdagangan, seni budaya, bahasa

daerah, philosophi, agama dan

budaya serta makanan tradisional

(Sungri dalam Wagiran, 2011).

Dalam artikel ini yang akan

disoroti ialah kearifan lokal dalam

bentuk pertanian dan kerajinan.

Kearifan lokal tersebut pada masa

sekarang perlu mendapatkan

perhatian serius karena dapat

meningkatkan kesejahteraan

masyarakat, kecintaan terhadap

budaya lokal, dan menanamkan

karakter bangsa. Pelestarian dan

pemberdayaan kearifan lokal dapat

menumbuhkan perekonomian

masyarakat. Dengan teknologi dan

informasi yang semakin maju dapat

memudahkan dalam promosi dan

pemasaranya dengan memberikan

sedikit inovasi pada kearifan lokal

yang ada seperti kerajinan tangan

maupun bentuk lainya. Industri

kreatif sudah mulai berkembang

Page 8: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

23 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

dibeberapa daerah di Indonesia dan

terbukti mampu merambah pasar

internasional. Di daerah Jepara

sangat terkenal dengan ukiran kayu

yang menghasilkan berbagai macam

furniture yang diminati pasar

domestik maupun mancanegara.

Daerah lainya yang berpegang

teguh pada nilai-nilai kearifan lokal

dan menjadi tujuan wisata dunia

adalah Bali dan Yogyakarta. Setiap

wilayah di Indonesia memiliki

potensi yang sama jika semua pihak

berkerja sama dalam melestarikan

kearifan lokal di wilayahnya.

Adanya industrialisasi

mengakibatkan kearifan lokal dalam

bidang pertanian menjadi kurang

diminati oleh generasi muda. Data

dari Kementerian Desa,

Pembangunan Daerah Tertinggal

dan Transmigrasi pada saat ini

persentase penduduk di pedesaan

berjumlah 50,2 persen dari

keseluruhan total penduduk

Indonesia. Namun pada tahun 2025

mendatang diproyeksikan akan

turun menjadi 33,4 persen. Hal

tersebut menurut Angelina Ika

Rahutami Peneliti dan Dosen

Fakultas Ekonomi Unika

Soegijapranata pada saat

diwawancarai CNN Indonesia,

mengutarakan bahwa kondisi

tersebut dapat menimbulkan

masalah pada sektor pertanian

Indonesia, nantinya sektor pertanian

hanya akan diisi pekerja orang-

orang tua. Kondisi tersebut dapat

menyulitkan terjadinya inovasi

teknologi di sektor pertanian.

Sekolah dapat dijadikan

tempat untuk menanamkan

ketertarikan dan kecintaan terhadap

kearifan lokal dalam bidang

pertanian dan kerajinan. Setiap

daerah memiliki karakteristik dan

potensi pertanian yang berbeda-

beda. Ketika generasi muda

merasakan manfaat dari kearifan

lokal di daerahnya maka akan

muncul ketertarikan dalam dirinya.

Perlu adanya upaya untuk

meningkatkan keterampilan dalam

mengolah kearifan lokal dalam

bidang pertanian dan kerajinan

dalam rangka melestarikan serta

medayagunakanya. Nilai-nilai yang

terdapat dalam kearifan lokal

pertanian dan kerajinan di

antaranya, keuletan, kesabaran,

kreatifitas, kesungguhan, dan

tanggung jawab.

2. Konsep penanaman karakter bangsa

berbasis kearifan lokal di sekolah

Strategi yang digunakan sebagai

suatu cara untuk memperoleh

kesuksesan dan keberhasilan dalam

mencapai pembantukan karakter

bangsa. Program sekolah yang dapat

dilakukan untuk menanamkan karakter

bangsa berbasis kearifan lokal yaitu

dengan

a. Program sekolah berbasis kearifan

lokal

Sekolah dapat membuat

program yang berbasiskan pada

seni dan budaya lokal yang ada

misalnya ukiran kayu/bambu,

membatik dan program berbahasa

daerah pada satu waktu. Dengan

program sekolah yang berbasis

pada seni dan budaya nilai karakter

bangsa dapat diperoleh siswa baik

secara sadar maupun tidak.

Program yang dilakukan secara

terus menerus akan berdampak

pada karakter siswa dalam

mengenal dan mencintai kearifan

lokal yang ada di lingkunganya.

b. Budaya sekolah

Budaya sekolah ialah nilai-

nilai, tradisi, prinsip, dan kebiasaan

Page 9: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

24 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

yang terbentuk dalam kegiatan yang

berlangsung dan dikembangkan di

sekolah serta dilaksanakan oleh

seluruh warga sekolah sehingga

akan mendorong munculnya sikap

dan perilaku warga sekolah

(Zambroni, 2011: 111). Pendidikan

kearifan lokal dan pendidikan

karakter bangsa harus menjadi

unsur yang ada dalam budaya

sekolah. kearifan lokal dapat

dikembangkan menjadi 3 unsur

budaya sekolah yaitu budaya

akademik, kultur sosial budaya lokal

dan kultur demokratis dalam

mewujudkan pendidikan karakter

bangsa berbasis kearifan lokal.

Tabel 1. Contoh budaya sekolah

berbasis kearifan lokal

Budaya

Sekolah

Kegiatan Karakter

Kultur

Akademik

Prestasi

siswa

dalam

perlombaan

kebudayaan

Integritas dan

Nasionalisme

kultur sosial

budaya

lokal lokal

Penerapan

petuah

daerah

dalam

berinteraksi,

pemakaian

pakaian dan

penggunaa

n bahasa

daerah

dalam satu

waktu

Gotong

royong,

nasionalisme

, integritas

Kultur

demokrasi

Siswa

diajarkan

bebas

mengeluark

an

pendapat

Nasionalisme

(cinta tanah

air, tanggung

jawab.

yang

bertanggun

g jawab,

mewujudka

n

budaya

cinta

tanah air

dengan

mengajarka

n,

menyanyika

n, dan

mendengar

kan

lagu

nasional

dan lagu

daerah

c. Kearifan lokal diintegrasikan ke

dalam mata pelajaran

Pendidikan karakter berbasis

kearifan lokal dapat diintegrasikan

dalam setiap mata pelajaran yang

diajarkan kepada peserta didik untuk

menanamkan pendidikan karakter

bangsa yang berbasiskan pada

budaya lokal. Penanaman dan

pendidikan karakter di sekolah

menjadi tanggung jawab semua

komponen di dalam sekolah

termasuk semua guru mata

pelajaran. Pendidikan karakter

diintegrasikan ke dalam

pembelajaran dengan

mengembangkan nilai-nilai

pendidikan kearifan lokal dalam

setiap pokok bahasan dari setiap

mata pelajaran (Suroto Suroto,

2016). Nilai-nilai tersebut dapat

dicantumkan secara tersirat maupun

tersurat dalam silabus dan RPP. Hal

ini dilakukan dengan tujuan

pendidikan karakter berbasis

kearifan lokal warga sekolah

terutama bagi peserta didik untuk

Page 10: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

25 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

mencapai tujuan pembelajaran dan

tujuan membentuk karakter bangsa.

Tabel 2. Contoh pengintegrasian

kearifan lokal dalam setiap mata

pelajaran

Mata

pelajaran

Indikator/kegiatan

pembelajaran

Bahasa

Indonesia

Siswa dapat mengenali

dan memahami makna

petuah daerah dan

legenda-legenda yang

ada dalam lingkungan

budaya mereka

Matematika Siswa mampu

mengkalkulasi atau

mengidentifikasi jumlah

kearifan lokal yang

dapat dikembangkan

menjadi usaha

Bahasa

daerah

Siswa dapat memahami

dan menggunakan

bahasa daerahnya

PPKn Siswa dapat berperilaku

dan berperan dalam

memanfaatkan kearifan

lokal untuk kepentingan

bersama

Bahasa

Inggris

Siswa memahami

bahasa asing untuk

memasarkan/mengenal-

kan kearifan lokal ke

mancanegara.

Keterampilan

/mua-tan

lokal

Siswa dapat

mengetahui cara

pembuatan dan

menghasilkan produk

lokal hingga

memasarkanya

d. Program pengembangan diri peserta

didik di sekolah

Program pengembangan diri,

berbasis budaya lokal dapat

dilakukan melalui pengintegrasian

ke dalam kegiatan sehari-hari di

sekolah. kegiatan yang dilakukan

secara rutin dan berlangsung secara

terus menerus diharapkan dapat

menjadi keteladanan (modelling),

pembelajaran (teaching), penguatan

(reinforcing) dan pembiasaan

(habituating). Kegiatan-kegiatan

yang dilakukan oleh seluruh warga

sekolah meliputi kegiatan

pengkondisian, rutin, spontan, dan

keteladanan di sekolah sehingga

dapat menanamkan dan membentuk

karakter bangsa berbasis kearifan

lokal melalui pengembangan diri di

sekolah.

Tabel 3. Contoh pengembangan diri

Program

Pengemban

gan diri

Kegiatan Karakter

bangsa

Rutin

(dilakukan

seluruh

warga

sekolah)

Upacara hari

senin,

menyanyikan

lagu nasional

dan daerah

setiap memulai

pembelajaran

dan sebelum

pulang,

upacara adat

atau

pembelajaran

upacara adat.

Religi,

Nasionali

sme,

integritas,

gotong

royong

Spontan

(warga

sekolah)

Membudayakan

budaya 5 S

(senyum, sapa,

salam, sapa,

dan sopan)/

petuah lokal

mengenai tata

cara

berinteraksi.

Nasionali

sme,

integritas

Keteladana

n

(staff dan

guru)

Berpakaian

rapi,

berpakaian

adat,

datang tepat

waktu, bertutur

Integritas,

nasionalis

me

Page 11: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

26 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

kata sopan

baik,

menggunakan

produk lokal

Program

Pengemban

gan diri

Kegiatan Karakter

bangsa

Pengkondisi

an

(warga

sekolah)

Menjaga

lingkungan agar

selalu bersih,

meletakan

slogan dan

banner pepatah

lokal mengenai

kebaikan,

menggunakan

bel

gamelan jika di

Jawa

sedangkan

daerah lain

menyesuaikan,

menggunakan

dan pakaian

motif-motif

batik lokal dan

tas/kerajinan

untuk warga

sekolahdi

setiap kelas.

Religi,

Religi,

Nasionali

sme,

integritas,

gotong

royong

D. Penutup

1. Simpulan

Berdasarkan pemaparan di atas

maka dalam artikel ini dapat diambil

simpulan bahwa:

a. Masyarakat disetiap wilayah

Indonesia memiliki potensi untuk

menanamkan karakter bangsa

kepada generasi muda dengan

mengadopsi nilai-nilai yang ada di

dalam kearifan lokal. Nilai-nilai lokal

tersebut secara umum disetiap

wilayah nusantara memiliki nilai

religi, nilai gotong royong, nilai seni

dan sastra lokal, serta nilai

keterampilan lokal. Istilah dan tata

cara disetiap daerah memiliki

perbedaan namun dari segi makna

terdapat kesamaan yaitu nilai-nilai

luhur yang sesuai dengan jati diri

bangsa Indonesia.

b. Penanaman karakter bangsa

berdasar kearifan lokal dapat

dilakukan di dalam sekolah dengan

pelaksanaan program berbasis

budaya lokal. Program sekolah

berbasis kearifan lokal yaitu program

sekolah berbasis berbasis kerajinan

dan budaya lokal, budaya sekolah

berbasis kearifan lokal, pendidikan

karakter bangsa berbasis kearifan

lokal diintegrasikan ke dalam mata

pelajaran dan program

pengembangan diri peserta didik.

2. Saran

a. Perlu adanya kebijakan pendidikan

nasional yang mengatur tentang

pendidikan berbasis kearifan lokal

secara jelas, tegas, dan kongkrit.

b. Pihak-pihak terkait harus

memperisiapkan pelaksanaan

program sekolah berbasis kearifan

lokal dalam menanamkan karakter

bangsa melalui budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, A. (2017). Selamat tinggal generasi

milenal, selamat datang generasi Z.

Retrived from Tirto Id https://tirto.id/

selamat-tinggal-generasi-milenial-

selamat- datang-generasi-z-cnzX

Armawi, A. (2010). Local wisdom: a solution to

surpass hedonism effect on environment

pollution. Jurnal of Geography. 42(2).

Badan Pusat Statistik. (2014). Statistik

Kriminal. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Cogan, J. J., Dericott. (1998). Citizenship

Education For The 21st Century: Setting

The Contexs. London: Kogan Page.

26

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

Page 12: PENANAMAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN …

Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 7, Nomor 2, Nopember 2017

27 Alhafizh Mahardika, Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah

Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of

Cultures. New York: Basic Books, Inc.,

Publishers.

Hidayati. (2008). Pentingnya Pendidikan Nilai

di Era Globalisasi. Dinamika Pendidikan,

2, Th. XV, 63-75.

Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Desai

Induk Pengembangan Karakter Bangsa

Tahun 2010-2025. Jakarta:

Kemendiknas.

Ratna, N, K. (2005). Sastra dan Cultural

Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

_________. (2014). Peranan Karya Sastra,

Seni, dan Budaya dalam Pendidikan

Karakter. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sari, E, V. (2017). Lahan Pertanian di

Indonesia Makin Tak Menarik Bagi

Pekerja. Semarang: CNN Indonesia.

Retrived from:

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/

20170330191343-92-203859/lahan-

pertanian-di-indonesia-makin-tak-

menarik-bagi-pekerja/

Ruyadi, Y. 2010. Model Pendidikan Karakter

Berbasis Kearifan Budaya Lokal

(Penelitian Terhadap Masyarakat Adat

Kampung Benda Kerep Cirebon Provinsi

Jawa Barat Untuk Pengembangan

Pendidikan Karakter Di Sekolah).

Proceedings of The 4th International

Conference on Teacher Education; Join

Conference UPI & UPSI Bandung,

Indonesia.

Suroto, S. (2016). KEPRIBADIAN PENGURUS

ORGANISASI KEMAHASISWAAN

DALAM MELAKSANAKAN PERAN DAN

TANGGUNG JAWABNYA SEBAGAI

BAGIAN DARI KOMPETENSI

KEWARGANEGARAAN. Pendidikan

Kewarganegaraan, 6(11).

Suroto, S. (2016). DINAMIKA KEGIATAN

ORGANISASI KEMAHASISWAAN

BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM

UPAYA MEMPERKUAT KARAKTER

UNGGUL GENERASI MUDA.

Pendidikan Kewarganegaraan, 6(2),

1040-1046.

Wagiran. 2011. Pengembangan Model

Pendidikan Kearifan Lokal Dalam

Mendukung Visi Pembangunan Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta 2020.

Jurnal Penelitian dan Pengembangan, 3,

3 (1): 1.

Wasilah, dkk. (2009). Etnopedagogis,

Bandung, Kiblat.

Zamroni. (2011), Dinamika Peningkatan Mutu.

Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian

Kepustakaan. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada.