naskah publikasi baru - umseprints.ums.ac.id/24055/18/naskah_publikasi_baru.pdf · dan tuf dasit...

15
ANALISIS PENGELOLAAN LAHAN KRITIS DI KECAMATAN TAWANGSARI KABUPATEN SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH NASKAH PUBLIKASI Oleh : ALUN SUKOWATI PRIHANTORO NIM: E.100060011 Kepada FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

Upload: others

Post on 01-Nov-2020

8 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

1

ANALISIS PENGELOLAAN LAHAN KRITIS

DI KECAMATAN TAWANGSARI KABUPATEN SUKOHARJO

PROVINSI JAWA TENGAH

NASKAH PUBLIKASI

Oleh :

ALUN SUKOWATI PRIHANTORO

NIM: E.100060011

Kepada

FAKULTAS GEOGRAFI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

Page 2: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

2

HALAMAN PENGESAHAN

NASKAH PUBLIKASI

Page 3: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

1

ANALISIS PENGELOLAAN LAHAN KRITIS DI KECAMATAN TAWANGSARI KABUPATEN SUKOHARJO

PROVINSI JAWA TENGAH

Analysis Of Critical Land Management Of Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo Regency, Central Java Province

Alun Sukowati Prihantoro

Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Surakarta 57102

Telp. (0271) 717417 ext. 151-153, Fax (0271)715448 E-mail: [email protected]

ABSTRACT

The research conducted in Kecamatan Tawangsari of Sukoharjo Regency is

titled: "Analysis of Critical Land Management of Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo Regency, Central Java Province. Purposes of the research are: 1) to know factors with dominant effect in causing a critical land; (2) to know spread of critical land, and 3) to know alternative use of land and the land management that should be applied in future.

The method used in the research is survey one and secondary data analysis. The data comprises of primary and secondary data. Primary data consists of: effective land depth, slope and erosive level. Secondary data consists of soil texture and soil permeability. Sample is taken by using stratified sampling with strata of land unit. Data analysis method used in the research uses a level assigning.

Results of the research indicated that location of the research had: 1) dominant factor affecting on critical land is soil texture, slope and erosive level; 2) spread of land unit with mild criticality level is D3IIGrP, D3IILiP, D2IIILiP, FIIGrP and FIIAIP. Land unit with moderate criticality level is D2IIGrS, DlIVLiP, FlIGrS and FIIAIT, whereas land unit with severe criticality level is D31IGrT, D2IIIILiT and D1ILiT and 3) land unit with land capability class VI and it is in use should be managed by making bench-shaped terracing, planting vegetation with good root system and many branches and wide leaves (permanent vegetation). Management should be conducted by making bench-shaped terraces, more corridor vegetation consisting of annual trees planted in the direction of contour lines in slopes and, in addition, seasonal vegetation is rotated continuously.

Key words: Critical Land, stratified sampling PENDAHULUAN

Lahan merupakan sumberdaya yang sangat penting untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan dengan hati–hati dan harus sesuai dengan kemampuannya agar tidak mengurangi tataguna dan dayaguna lahan serta menurunkan produktivitas lahan. Untuk

memenuhi kebutuhan pokok, manusia akan cenderung memanfaatkan sumberdaya alam secara berlebihan, padahal ketersediaanya amat terbatas. Apabila kecenderungan tersebut dibiarkan terus berlangsung dikhawatirkan dalam waktu dekat akan terjadi kerusakan lahan atau tanah sebagai akibat tekanan penduduk atas

Page 4: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

2

lahan yang melebihi tingkat kemampuannya.

Lahan kritis adalah kondisi lahan yang terjadi karena tidak sesuainya kemampuan lahan dengan penggunaan lahannya, sehingga mengakibatkan kerusakan lahan secara fisik, khemis, maupun biologis Untuk menanggulangi adanya lahan kritis perlu dilakukan rehabilitasi lahan. Rehabilitasi lahan adalah usaha yang sungguh-sungguh dalam memulihkan kondisi lahan baik secara fisik, kimia maupun organik agar lahan kembali dapat produktif (Proyek Pendukung Kawasan Perbukitan Kritis,1993).

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Faktor apa (kemiringan lereng,

tingkat erosi, permeabilitas tanah, kedalaman efektif tanah dan tekstur tanah, penggunaan lahan) yang paling berpengaruh menyebabkan lahan kritis di daerah penelitian ?

2. Dimana penyebaran lahan kritis di daerah penelitian ?

3. Bagaimana alternatif penggunaan lahan dan pengelolaan lahan yang harus diterapkan di masa yang akan datang ?

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan : 1. Mengetahui faktor-faktor

(kemiringan lereng, tingkat erosi, permeabilitas tanah, kedalaman efektif tanah dan tekstur tanah, penggunaan lahan) yang paling berpengaruh menyebabkan lahan kritis di daerah penelitian.

2. Mengetahui penyebaran lahan kritis di daerah penelitian.

3. Mengetahui alternatif penggunaan lahan dan pengelolaan lahan yang

harus diterapkan di masa yang akan datang.

DESKRIPSI PENELITIAN

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan interpretasi peta topografi lembar Beji skala 1 : 60.000, daerah penelitian terletak antara 110° 55’21,4” BT - 110° 0’ 58,21” BT, serta 7° 50’ 53,95” LS - 7° 56’ 35,64” LS. Luas daerah penelitian adalah 3.998 ha ( Sumber: Monografi Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo Tahun 2008). Secara administrasi daerah penelitian berbatasan dengan:

- Sebelah utara : berbatasan dengan Kecamatan Sukoharjo

- Sebelah selatan : berbatasan dengan Kecamatan Bulu dan Weru

- Sebelah timur : berbatasan dengan Nguter

- Sebelah barat : berbatasan dengan Kabupaten Klaten

Iklim merupakan faktor yang dinamis dalam pengaruhnya terhadap perubahan-perubahan di atas permukaan bumi yang salah satunya adalah erosi. Iklim merupakan gabungan dari berbagai jenis kondisi cuaca sehari-hari yang terjadi dalam kurun waktu yang lama.

METODE PENELITIAN 1. Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari data fisik lahan yang meliputi: - kemiringan lereng, kedalaman efektif tanah, keadaan erosi, pH, drainase, banjir, muka air tanah, batu besar dan batu kecil. Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: - data curah hujan,

Page 5: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

3

- peta topografi skala 1 : 60.000, untuk mengetahui letak, luas dan batas, morfometri dan proses geomorfologi ,

- peta geologi skala 1 : 100.000, untuk mengetahui struktur dan jenis batuan, - peta tanah skala 1: 60.000, untuk mengetahui jenis dan persebaran tanah, - peta penggunaan skala 1 : 60.000,

untuk mengetahui bentuk penggunaan lahan di daerah penelitian.

2. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam

penelitian ini adalah survei dan analisa laboratorium. Metode pengambilan sampel menggunakan stratified sampling dengan strata satuan lahan dan analisa datanya dengan pengharkatan. 3. Teknik Penelitian

Teknik penelitian adalah penjabaran dari metode penelitian ke dalam tindakan-tindakan operasional untuk mencapai tujuan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi beberapa tahap, yaitu: 1. Tahap persiapan, meliputi:

• pengumpulan data dan informasi,

• melengkapi data peta penggunaan lahan, seperti orientasi penggunaan lahan, praktek-praktek pengelolaan lahan,

• pembuatan peta satuan lahan, untuk kepentingan identifikasi dan inventarisasi, yang dibuat dengan cara tumpangsusun antara peta bentuklahan, peta lereng, peta tanah dan peta penggunaan lahan.

2. Tahap Kerja Lapangan • pengukuran parameter-

parameter fisikal yang menguntungkan dan yang merugikan untuk penentuan kelas kemampuan lahan.

• Variabel yang menguntungkan adalah variabel-variabel yang mempunyai kontribusi nilai tinggi terhadap kemampuan lahan. Variabel-variabel yang menguntungkan tersebut antara lain:

3. Tahap Klasifikasi Data Dalam pengelompokan atau

klasifikasi ke dalam kelas-kelas kemampuan lahan dibagi menjadi dua kelompok variabel penting, yaitu variabel menguntungkan yang harkatnya bertanda (+) dan variabel merugikan yang harkatnya bertanda (-).

Tabel 1. Pengharkatan Variabel Kemampuan Lahan Variabel Harkat terendah Harkat tertinggi Lereng Erosi Tekstur tanah Permeabilitas Kedalaman efektif

-6 -3 1 1 1

0 0 3 3 5

Jumlah -6 11 Sumber : Hasil perhitungan

Range = 11 – (-6) = 17 Kelas Interval = Range : jumlah kelas = 17 : 8

= 2,125 maka kelas kemampuan lahannnya menjadi : Kelas 1 = 15 – 17 Kelas 2 = 12 – 14 Kelas 3 = 9 – 11

Page 6: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

4

Kelas 4 = 6 – 8 Kelas 5 = 3 – 5 Kelas 6 = 0 – 2 Kelas 7 = (-3) – (-1) Kelas 8 = (-6) – (-4)

Adapun untuk penilaian lahan kritis didasarkan pada pedoman yang dibuat oleh Tim Fakultas Geografi UGM seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Lahan Kritis Penggunaan lahan Kelas Kemampuan Lahan

I II III IV V VI VII VIII Hutan (H) O O O O O O O O Permukiman (P) O O A A B B D D Sawah (Sw) O O A B B B D D Tegalan (Tg) A A B B C C D D Kebun campuran (Kc) A A B B C C D D Tambak (Ta) C C C C C C C C

Sumber : Tim Fakultas Geografi UGM, (1988) 4. Tahap Analisis

Klasifikasi kemampuan dan tingkat kekritisan lahan dapat dikaitkan dengan kepentingan konservasi tanah, yaitu dalam memberikan alternatif penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahannya serta pemanfaatan metode dan teknik konservasi untuk alternatif perlakukan terhadap lahan. Hal tersebut dimaksudkan agar lahan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin tanpa mengurangi kelestariannya. Sitanala Arsyad

(1989) membuat hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan penggunaan lahan dan perlakuan terhadap lahan yang sesuai dengan kemampuannya, serta hubungan kemampuan lahan dengan tindakan pengelolaan lahan yang direkomendasikan pada masing-masing kelas kemampuan lahan. Analisi rekomendasi yang dapat diberikan untuk masing-masing lahan kritis menurut kelas kemampuan lahan di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Alternatif Penggunaan Lahan Menurut Kelas Kemampuan Lahan

Kondisi Lahan Kelas kemp.lhn

Alternatif penggunaan lahan Tingkat kekritisan lahan

Dapat digarap I II III IV

Pengelolaan sangat intensif s/d terbatasPengelolaan intensif s/d terbatas Pengolahan terbatas Penggembalaan (intensif s/d terbatas), pertanian hutan, hutan produksi, hutan lindung

Tidak kritis Kritis ringan Kritis ringan-sedang Kritis sedang

Tidak dapat digarap

V

VI

VII

VIII

Tanaman rumput, padang penggembalaan, hutan produksi dan hutan lindung Penggembalaan (intensif s/d terbatas), hutan produksi, hutan lindung Penggembalaan terbatas, hutan produksi, hutan lindung Hutan lindung/cagar alam, tempat rekreasi

Kritis sedang-berat Kritis berat Kritis sagat berat Kritis sangat berat

Sumber : Sitanala Arsyad (1989)

Page 7: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan interpretasi peta topografi lembar Beji 48/XLII-B skala 1 : 60.000 dan peta geologi lembar Surakarta dan Giritontro skala 1 : 100.000 serta cek lapangan daerah penelitian mempunyai dua bentuklahan asal yaitu bentuklahan asal denudasional dan bentuklahan asal fluvial. Bentuklahan asal denudasional ini dapat dirinci lagi menjadi tiga satuan bentuklahan yang lebih kecil, sedangkan bentuklahan asal fluvial hanya terdiri dari satu satuan bentuklahan saja. Adapun satuan-satuan bentuklahan dan karakteristiknya adalah sebagai berikut: 1. Satuan Bentuklahan Kaki

Perbukitan Denudasional Terkikis Ringan Berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D3).

Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng 3 - 8 %. Material yang menyusun satuan bentuklahan ini adalah lava dasit,

andesit dan tuf dasit. Proses geomorfologi yang bekerja di satuan bentuklahan ini adalah pelapukan dan erosi. Proses pelapukan yang berkembang adalah pelapukan fisik dan organik. Proses erosi yang berkembang adalah erosi lembar dan alur.

2. Satuan Bentuklahan Lereng

Perbukitan Denudasional Terkikis Sedang Berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D2)

Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi bergelombang dengan kemiringan lereng 8 - 15 %. Material yang menyusun satuan bentuklahan ini adalah lava dasit, andesit dan tuf dasit. Proses geomorfologi yang bekerja di satuan bentuklahan ini adalah pelapukan dan erosi. Proses pelapukan yang berkembang adalah pelapukan fisik dan organik. Proses erosi yang berkembang adalah erosi lembar, alur, dan parit.

Gambar 1. Satuan Bentuklahan Lereng Perbukitan Denudasional Terkikis

Sedang Berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D2)

Page 8: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

6

3. Satuan Bentuklahan Perbukitan Denudasional Terkikis Berat Berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D1)

Satuan bentuk lahan ini mempunyai topografi berbukit dengan kemiringan lereng 15 – 30 %. Material yang menyusun satuan bentuklahan ini adalah lava dasit, andesit dan tuf dasit. Proses geomorfologi yang bekerja di satuan bentuklahan ini adalah pelapukan dan erosi. Proses pelapukan yang berkembang adalah pelapukan fisik dan organik. Proses erosi yang

berkembang adalah erosi lembar, alur, parit dan sungai.

4. Dataran Aluvial (F1)

Bentuklahan ini mempunyai kemiringan lereng antara 0 - 3 % dengan relief datar. Proses geomorfologi yang terjadi adalah proses sedimentasi. Bentuklahan ini berbatuan lempung, lanau, pasir, krikil, karakal dan brangkal. Jenis tanah yang terbentuk adalah asosiasi gromusol dan aluvial. Penggunaan lahan yang ada pada bentuklahan ini adalah penggunaan lahan untuk sawah dan permukiman dan tegalan.

Tabel 4. Satuan Lahan Daerah Penelitian

Satuan bentuklahan Kemiringan lereng (%)

Tanah Penggunaan lahan

No Simbol

Satuan bentuklahan kaki perbukitan denudasional terkikis ringan berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D3)

3 - 8

Gromusol

Permukiman 1. D3IIGrP

Sawah 2. D3IIGrS

Tegalan 3. D3IIGrT

Litosol Permukiman 4. D3IILiP

Satuan bentuklahan lereng perbukitan denudasional terkikis sedang berbatuan (D2)

8 - 15 Litosol Permukiman 5. D2IIILiP

Tegalan 6. D2IIILiT

Satuan bentuklahan perbukitan denudasional terkikis berat berbatuan lava dasit, andesit dan tuf dasit (D1)

15 - 30 Litosol Permukiman 7. D1IVLiP

Tegalan 8. D1IVLiT

Satuan Bentuklahan

Dataran aluvial (F1)

0 -3

Gromusol Permukiman 9. F1IGrP

Sawah 10. F1IGrS

Aluvial Sawah 11. F1IAlS

Permukiman 12. F1IAlP

Tegalan 13. F1IAlT

Sumber: Data sekunder

Page 9: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

7

7

Page 10: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

8

8 8

Page 11: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

9

Faktor penyebab lahan kritis dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu faktor fisik dan faktor non fisik. A. Faktor fisik Faktor fisik yang berpengaruh terhadap lahan kritis antara lain: kemiringan lereng, tekstur tanah, permeabilitas tanah, kedalaman tanah efektif dan kenampakan erosi tanah. Pada daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1. 1. Kedalaman tanah efektif

Kedalaman tanah efektif daerah penelitian mmpunya kelas sangat dangkal hingga sedang dengan kedalaman 25 – 75 cm. Kedalaman efektif tanah yang mempunyai kelas sangat dangkal 25 – 27 terdapat di satuan lahan V1IVRLT dan V2III RLT. Satuan lahan yang mempunyai kelas kedalaman efektif tanah dangkal 30 – 60 cm terdapat di satuan lahan V1IVRLP, V1IVRLSm, V2IIIRLP, V2IIIRLSm dan V2IIIRT. Satuan lahan yang mempunyai kelas kedalaman efektif tanah sedang 75 cm terdapat di satuan lahan V1IVRLH dan V2IIIRP. Kedalaman tanah efektif yang mempunyai kelas sangat dangkal dan dangkal disebabkan karena tingkat erosi yang ada di satuan lahan tersebut mempunyai kelas sedang.

2. Tekstur tanah Tekstur tanah sangat berperan dalam

menentukan tingkat permeabilitas tanah maupun dalam resistensi terhadap erosi. Berdasarkan hasil analisa laboratorium diketahui bahwa tekstur tanah di daerah penelitian adalah lempung, lempung berdebu, geluh lempungan dan geluh. Tanah yang mempunyai tekstur lempung terdapat di satuan lahan D3IIGrP, D3IIGrS, D3IIGrT, F1IGrP dan F1IGrS. Satuan lahan yang mempunyai tekstur lempung

berdebu terdapat di satuan lahan D3IILiP, D2IIILiP dan D2IIILiT. Satuan lahan yang mempunyai tekstur geluh lempungan adalah D1IVLiP dan D1IVLiT, sedangkan yang mempunyai tekstur geluh adalah satuan lahan F1IAlS, F1IAlP dan F1IAlT.

3. Permeabilitas tanah Permeabilitas tanah di daerah penelitian berkisar dari lambat hingga sedang dengan besar 0,182 - 3,826 cm/jam. Satuan lahan yang mempunyai kelas permeabilitas lambat terdapat di D3IIGrP, D3IIGrS, D3IIGrT, D3IILiP dan F1IGrP. permeabilitas lambat di satuan lahan F1IGrS, sedangkan satuan lahan yang mempunyai permeabilitas lahan sedang adalah agak cepat di satuan lahan D2IIILiP, D2IIILiT, D1IVLiP, D1IVLiT, F1IAlS, F1IAlP dan F1IalT.

4. Kemiringan lereng Kemiringan lereng daerah penelitian berdasarkan hasil pengukuran di lapangan mempunyai kelas I hingga IV dengan berkisar dari 2 – 29 %. Satuan lahan yang mempunyai kelas kemiringan lereng I dengan kemiringan 8 – 15 % adalah F1IgrP, F1IgrS, F1IAlS, F1IAlP dan F1IAlT. Satuan lahan yang mempunyai kelas kemiringan lereng II terdapat di satuan lahan D3IIGrP, D3IIGrS, D3IIGrT. Satuan lahan yang mempunyai kemiringan lereng kelas III adalah D3IILiP, D2IIILiP dan D2IIILiT, sedangkan kelas IV adalah D1IVLiP dan D1IVLiT. Kemiringan lereng yang tinggi menyebabkan proses erosi berjalan intensif yang menyebabkan tanah banyak terangkut ke lereng bagian bawah. Dalam perkembangannya lahan pada lereng yang besar banyak kehilangan tanah permukaan atau lapisan tanah olah, sehingga menyebabkan lahan menjadi kritis.

Page 12: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

10

5. Kenampakan erosi Kenampakan erosi yang ada di daerah penelitian berkisar dari sangat ringan hingga sangat berat. Satuan lahan yang mempunyai tingkat erosi sangat ringan terdapat di satuan lahan D3IIGrS, F1IGrP, F1IGrS, F1IAlS, F1IAlP dan F1IAlT. Satuan lahan yang mempunyai tingkat erosi ringan terdapat di satuan lahan sedang terdapat di satuan lahan D3IIGrT,

D3IILiP, D2IIILiP dan D2IIILiT. Satuan lahan yang mempunyai tingkat erosi berat terdapat di satuan lahan D1IVLiP, sedangkan yang mempunyai tingkat erosi sangat berat terdapat di satuan lahan D1IVLiT. Adapun karakteristik faktor fisik yang berpengaruh terhadap lahan kritis dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Karakteritik Satuan Lahan Untuk Lahan Kritis

No

Satuan Lahan

Variabel Variabel yang menguntungkan Variabel yang merugikan

Kedln tanah efektif (cm)

Tekstur tanah Permeab. tanah

(cm/jam)

Kemiringan lereng (%)

Erosi

1 2 3 4 5 1. D3IIGrP 30 Lempung 0,291 8 Ringan 2. D3IIGrS 75 Lempung 0,387 8 Sangat Ringan3. D3IIGrT 27 Lempung 0,270 8 Sedang 4. D3IILiP 35 Lempung

berdebu 0,471 15 Sedang

5. D2IIILiP 40 Lempung berdebu

2,726 17 Sedang

6. D2IIILiT 30 Lempung berdebu

2,121 15 Sedang

7. D1IVLiP 25 Geluh lempungan

3,255 29 Berat

8. D1IVLiT 35 Geluh lempungan

3,826 28 Sangat Berat

9. F1IGrP 60 Lempung 0,182 3 Sangat Ringan10. F1IGrS 75 Lempung 0,720 2 Sangat Ringan11. F1IAlS 75 Geluh 3,742 2 Sangat Ringan12. F1IAlP 75 Geluh 3,792 3 Sangat Ringan13. F1IAlT 75 Geluh 3,871 2 Sangat Ringan

Sumber: Data primer.

Page 13: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

11

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian

diketahui bahwa: 1. Faktor fisik yang dominan yang

berpengaruh terhadap lahan kritis adalah tekstur tanah, kemiringan lereng dan tingkat erosi

2. Penyebaran satuan lahan kritis di daerah penelitian adalah tidak kritis sampai kritis sedang, satuan lahan yang tidak kritis adalah F1IGrS, F1IAlS. Satuan lahan yang kritis ringan adalah D3IIGrP, D3IIGrS, D3IILiP, D2IIILiP, D2IIILiT, F1IGrP, D1IVLiP, F1IAlT, F1IAlP. Kekritisan sedang D1IVLiT, D3IIGrT

3. Satuan lahan dengan kelas kemampuan lahan IV penggunaan lahan berupa tegalan mempunyai tingkat kekritisan sedang, perlu dicari cara untuk alternatif penggunaan lahannya maupun

pengelolaan lahannya. Penggunaan lahan berupa tegalan merupakan penggunaan lahan yang sangat besar manfaatnya. Hal ini disebakan tegalan merupakan lahan pertanian utama di daerah penelitian.

SARAN-SARAN 1. Satuan lahan yang mempunyai kelas

kekritisan sedang dengan penggunaan lahan berupa tegalan sebaiknya dilakukan alih fungsi lahan untuk hutan produksi dan pengelolaan lahan dengan teras bangku.

2. Satuan lahan yang mempunyai kelas kekritisan ringan hingga sedang dengan penggunaan lahan berupa permukiman dan tegalan sebaiknya dilakukan pengelolaan lahan dengan teras bangku.

Page 14: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

12

12

Page 15: NASKAH PUBLIKASI BARU - UMSeprints.ums.ac.id/24055/18/NASKAH_PUBLIKASI_BARU.pdf · dan tuf dasit (D3). Satuan bentuklahan ini mempunyai topografi berombak dengan kemiringan lereng

13

DAFTAR PUSTAKA

A.J. Pannekoek 1949 dalam Abdullah Ibrahim, 2009.

Ana Dwi Joni Argentina, 2009. Kemampuan Lahan di Kecamatan Musuk Kabupaten

Boyolali. Skripsi S1. Surakarta: Fakultas Geografi UMS.

Anonim,1993. Proyek Pendukung Kawasan Perbukitan Kritis. Yogyakarta: Proyek

Pendukung Kawasan Perbukitan Kritis.

Eko Hermanto, 2005. Elemen Iklim Daerah penelitian didasar dalam formula Dames

1955.

FAO,1976. A Framework For Land Evaluation. New York: Rome.

Ida Bagus Mantra, 1985. Demografi Kependudukan. Jakarta: LP3ES.

Isa Darma Wijaya, 1980. Klasifikasi Tanah Dasar Penelitian bagi Peneliti Tanah dan

Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Bandung: IPB.

Jamulya dan Woro Suratman, 1983. Pengantar Geografi Tanah, Diktat Kuliah.

Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.

Jamulyo dan Suratman Woro, 1993. Klasifikasi Tanah.

Monografi Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo Tahun 2010.

Muhammad Yusron, 2010. Analisis Erosi Tanah di Kecamatan Tawangsari Kabupaten

Sukoharjo. Skripsi S1. Surakarta: Fakultas Geografi UMS.

Norman Hudson, 1973. Soil Conservation. London: Basford Limited.

Santun Sitorus, 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung : Tarsito.

Sidik Nur Cahyo, 2008. Analisis Lahan Kritis di Kecamatan Musuk Kabupaten

Boyolali. Skripsi S1. Surakarta: Fakultas Geografi UMS.

Sitanala Arsyad, 1985. Pengawetan Tanah dan Air. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Soepraptoharjo, 1982. Suatu Cara Penelitian Kemampuan Lahan. Makalah Yogyakarta:

Fakultas Geografi UGM.

Sunardi, 1998. Dasar-Dasar Klasifikasi Bentuklahan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas

Geografi UGM.

Suprapto Dibyosaputro, 1995. Geomorfologi Dasar. Pegangan Kuliah. Yogyakarta:

Fakultas Geografi UGM

Tim Fakultas Geografi UGM, 1988. Inventarisasi Luas dan Tingkat Lahan Kritis Jawa

Tengah Bagian Utara. Laporan penelitian. Yogyakarta : Fakultas Geografi

UGM.