faktor faktor yang mempengaruhi buang air besar ... i_v.pdf · pdf file faktor –...

Click here to load reader

Post on 28-Jul-2020

4 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BUANG AIR

    BESAR SEMBARANGAN PADA MASYARAKAT DI DESA

    PANTON BAYAM KECAMATAN BEUTONG

    KABUPATEN NAGAN RAYA

    SKRIPSI

    SABDAN HUSAINI

    09C10104007

    PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH

    2014

  • FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BUANG AIR

    BESAR SEMBARANGAN PADA MASYARAKAT DI DESA

    PANTON BAYAM KECAMATAN BEUTONG

    KABUPATEN NAGAN RAYA

    SKRIPSI

    SABDAN HUSAINI

    09C10104007

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

    Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

    Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar

    PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH

    2014

  • ii

    ABSTRAK

    Sabdan Husaini. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Buang Air Besar

    Sembarangan Pada Masyarakat Di Desa Panton Bayam Kecamatan Beutong

    Kabupaten Nagan Raya Tahun 2014. Di bawah bimbingan Marniati, SKM,

    M.Kes dan Maiza Duana, SKM.

    Menurut World Health Organization (WHO) bahwa salah satu negara yang

    masih banyak melakukan buang air besar sembarangan (BABs) yaitu Indonesia.

    Indonesia menduduki peringkat tiga di dunia, sekitar 78 juta penduduk Indonesia

    masih melakukan praktek/ BABs. Desa Panton Bayam merupakan salah satu

    perkampungan yang terletak di Kecamatan Beutong Berdasarkan data yang di

    peroleh dari desa semua masyarakat desa Panton Bayam melakukan buang air

    besar yaitu di sungai, parit, semak-samak maupun di tempat lainnya.

    Tujuan penelitian in untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

    BABs pada masyarakat di Desa Panton Bayam Kecamatan Beutong. Jenis

    penelitian ini kuantitatif yang bersifat analitik dengan desain penelitian cross

    sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang

    bertempat tinggal di Desa Panton Bayam Kecamatan Beutong yang berjumlah

    359 responden, pengambilan sampel adalah dengan mengunakan teknik cluster

    sample yang berjumlah 78 responden, dapat dianalisis dengan univariat dan

    bivariat dengan uji chi square dan melihat nilai Odds Rasio (OR).

    Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang

    bermakna antara pengetahuan dengan buang air besar sembarangan (P.Value

    0,022 < α=0,05) dengan OR = 4,235. Sedangkan sikap didapat bahwa ada

    hubungan yang bermakna antara sikap dengan buang air besar sembarangan

    dengan nilai (P.Value 0,030 < α=0,05) dengan OR = 6,714. tindakan yaitu

    terdapat hubungan antara tindakan dengan buang air besar sembarangan dengan

    nilai (P.Value 0,025 < α=0,05). dengan OR = 16,36 Sedangkan sarana yaitu

    terdapat tidak hubungan yang bermakna antara sarana dengan buang air besar

    sembarangan (P.Value 0,078 > α=0,05) dengan OR = 0,750.

    Disarankan bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang

    cara buang air besar, sikap dan tindakan untuk tidak BABs.

    Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Buang Air Besar Sembarangan

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Menurut World Health Organization (WHO) bahwan salah satu negara

    yang masih banyak melakukan Buang air besar sembarangan (BABs) yaitu

    Indonesia. Indonesia menduduki peringkat tiga di dunia untuk penduduk yang

    melakukan buang air besar sembarangan (BABs) setelah Cina dan India. Bahkan

    menurut data WHO, sekitar 78 juta penduduk Indonesia masih melakukan

    praktek Buang air besar (BAB) di sembarang (WHO, 2013).

    Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan

    Nasional. Pembangunan kesehatan di selenggarakan dengan memberikan prioritas

    kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit di samping

    penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Pembangunan kesehatan bertujuan

    meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

    penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Derajat

    kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, perilaku dan

    keturunan. Lingkungan merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap

    kesehatan individu dan masyarakat. Keadaan lingkungan yang tidak memenuhi

    persyaratan kesehatan dan perilaku masyarakat dapat merugikan kesehatan baik

    masyarakat di pedesaan maupun perkotaan yang di sebabkan karena kurangnya

    pengetahuan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan, ekonomi, maupun

    teknologi. Kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan tersebut

  • 2

    adalah penyediaan air bersih, penyediaan jamban keluarga, kondisi rumah dan

    kondisi lingkungan pemukiman (Depkes RI, 2005).

    Buang air besar (BAB) sembarangan merupakan suatu tindakan yang

    kurang baik bagi setiap orang, dimana hal tersebut bisa merugikan diri sendiri,

    baik dari segi kesehatan maupun situasi lingkungan tempat tinggal sekitarnya

    (Zulfandi, 2009).

    Buang air besar sembarangan (BABs) adalah salah satu penyebab utama

    lingkungan kesehatan tidak sehat, salah satu akan terjangkit penyakit diare, gatal-

    gatal, typhus muntah berak, disentri, cacingan dan berbagai jenis penyakit lainnya.

    Hal ini di karenakan oleh perilaku masyarakat seperti yaitu setelah buang air besar

    biasanya tidak cuci tangan, atau dihinggapi lalat yang akhirnya ke makanan

    (Asnawi, 2010).

    Berdasarkan data dari Bappenas RI mengatakan, sampai tahun 2013

    kurang lebih ada 42 juta masyarakat Indonesia yang masih buang air besar

    sembarangan (BABs). Jumlah tersebut tersebesar di seluruh Indonesia. Berbagai

    hal menjadi penyebab kebiasaan ini masih dilakukan, mulai dari tidak punya toilet

    hingga tidak terbiasa menggunakan kamar kecil. Hal ini bisa berakibat terhadap

    dampat lingkungan dan sanitasi lingkungan tidak baik (Bappenas RI, 2013).

    Salah satu masalah sanitasi dan air bersih adalah, masih banyaknya orang-

    orang yang buang air besar sembarangan (BABs) di sungai. Padahal, perilaku

    tidak sehat ini, bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan dan risiko

    penyakit. Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan,

    Drh. Wilfried H. Purba mengatakan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar

  • 3

    (Riskesdas) tahun 2012, sebanyak 39-40 juta orang yang buang air besar

    sembarangan, itu termasuk orang yang mempunyai jamban seperti WC, namun

    masih membuang kotorannya ke sungai. Padahal menurutnya, seharusnya

    masyarakat membuat septiktank, jadi tidak membuang kotorannya ke sungai.

    Dampak penyakit yang paling sering terjadi akibat buang air besar sembarangan

    ke sungai adalah Escherichia col. Itu merupakan penyakit yang membuat orang

    terkena diare. Setelah itu bisa menjadi dehidrasi, lalu karena kondisi tubuh turun

    maka masuklah penyakit-penyakit lain ( Depkes RI, 2012 )

    Berdasarkan penetapan untuk pencapaian terwujudnya sanitasi dasar

    (jamban) dalam Millennium Development Goals (MDGs) yaitu mencapai 100%

    pada tahun 2015, sanitasi merupakan peringkat ke 7 dalam Millennium

    Development Goals (MDGs). Penetapan ini untuk mendorong masyarakat, demi

    terwujudnya program dan peningkatan kepedulian masyarakat untuk memiliki

    jamban dan penggunaan jamban (Depkes, RI, 2013).

    Sementara menurut penelitian yang dilakukan oleh (Mutmainna, 2009)

    Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu bahan

    buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan

    sebagai media bibit penyakit, seperti: diare, typhus muntaber, disentri, cacingan

    dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada

    sumber air dan bau busuk serta estetika. Menurut data Survei Sosial Ekonomi

    Nasional (Susenas) (2013), sebagian masyarakat yang tidak memiliki fasilitas

    pembuangan tinja melakukan buang air besar (BAB) di kolam/sawah (0,15%),

    sungai (8,55%), lubang tanah (3,34%), tanah lapang/kebun (38,87%), dan lainnya

  • 4

    (0,34%). Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa kondisi sanitasi

    khususnya terkait perilaku masyarakat Kecamatan Tabongo Kabupaten

    Gorongtalo dalam buang air besar sembarangan (BABs) masih rendah, sehingga

    perlu di tingkatkan untuk mencapai target pemerintah pusat terkait sanitasi dalam

    RPJMN (Rencana Pembanguanan Jangka Menengah Nasional)

    Sanitasi lingkungan di Indonesia pada umumnya dan Propinsi Aceh pada

    khususnya masih belum mencapai kondisi sanitasi yang memadai. Kebutuhan

    sanitasi dasar belum tercapai seperti pembangunan tempat pembuangan kotoran

    manusia. Fasilitas pembuangan tinja/pembuangan kotoran manusia yang

    memenuhi syarat kesehatan berpengaruh besar terhadap kesehatan lingkungan.

    Berdasarkan data yang di peroleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Aceh bahwa

    tahun 2013 menunjukkan 36,83% masyarakat aceh yang BAB di rumah sendiri,

    dan sebanyak 12,90% untuk bersama dan sebanyak 6,98% yang umum. Jadi

    masih ada 43,29% tidak memiliki fasilitas