bab 2 tinjauan pustaka 2.1. batubara - …repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/46369/4/chapter...

15
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Batubara Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C. H. O, N, S, P. hal ini mudah dimengerti, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan (coalification). Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, dengan komposisi utama terdiri dari sellulosa. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai proses pembatubaraan atau coalification. Faktor fisika dan kimia yang ada di alam akan mengubah sellulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina, atau antrasit. Reaksi pembentukan batubara dapat diperlihatkan sebagai berikut : Gambar 2.1. Rumus bangun batubara 5(C 6 H 10 O 5 ) C 20 H 22 O 4 + 3CH 4 + 8H 2 O + 6CO 2 + CO Sellulosa lignit gas metan Batubara merupakan terminologi masyarakat yang dipergunakan untuk menyebut semua sisa tumbuhan yang telah menjadi fosil, bersifat padat, berwarna Universitas Sumatera Utara

Upload: vudang

Post on 24-May-2018

230 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Batubara

Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan

tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C. H. O, N, S,

P. hal ini mudah dimengerti, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang

telah mengalami proses pembatubaraan (coalification).

Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, dengan komposisi

utama terdiri dari sellulosa. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai proses

pembatubaraan atau coalification. Faktor fisika dan kimia yang ada di alam akan

mengubah sellulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina, atau antrasit. Reaksi

pembentukan batubara dapat diperlihatkan sebagai berikut :

Gambar 2.1. Rumus bangun batubara

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Sellulosa lignit gas metan

Batubara merupakan terminologi masyarakat yang dipergunakan untuk

menyebut semua sisa tumbuhan yang telah menjadi fosil, bersifat padat, berwarna

Universitas Sumatera Utara

gelap, dan dapat dibakar.Apabila batubara tersebut mudah dibakar dan menghasilkan

kalori tinggi, disebut batubara, tetapi apabila batubara tersebut tidak mudah dibakar

dan menghasilkan kalori rendah disebut sebagai batubara muda. (Sukandarrumidi,

2006)

Batubara adalah bahan bakar padat yang paling penting. Konsumsi dunia

mencapai sekitar 4x109 t/tahun, 7x108 t/tahun di antaranya dikonsumsi di Amerika

Serikat. Cadangan yang diketahui ada di AS diperkirakan cukup untuk pemakaian 200

tahun dengan laju konsumsi saat ini, tetapi sebagian besar adalah batubara berkadar

belerang tinggi yang dapat menimbulkan pencemaran udara yang serius. (Austin, G.

1996)

Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sumber daya alam tebesar di

dunia.Salah satu potensi kekayaan alam yang dihasilkan Indonesia adalah

batubara.Potensi sumber daya batubara Indonesia cukup besar yaitu 61,366 miliar ton

yang tersebar di 19 daerah provinsi termasuk provinsi Sumatera Selatan. Dari potensi

tersebut jumlah yang paling banyak adalah batubara jenis kalori sedang sebesar

37,69467 milyar ton, batubara jenis kalori rendah sebesar 14,94962 milyar ton dan

selebihnya batubara dengan nilai kalori tinggi dan sangat tinggi (Indonesia Energy,

2006). Oleh karena itu Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara

terbesar, memilikipotensi dalam pengembangan batubara (Chrisman, A. 2008).

Sejarah pertambangan batubara di Indonesia dimulai tahun 1849 di daerah

Pengaran, Kalimantan Timur.Di Sumatera kegiatan penambangan batubara secara

besar-besaran dimulai tahun 1880, di daerah Sungai Durian Sumatera Barat.Usaha ini

kurang berhasil, karena mengalami kesulitan dalam pengangkutan hasl

penambangan.Pada tahun 1868, ditemukan keberadaan batubara di daerah Ombilin,

selanjutnya pada tahun 1868-1873 dilakukan penelitian seksama, dan akhirnya pada

tahun 1892 dibuka penambangan batubara di Ombilin, dikenal sebagai Tambang

Batubara Ombilin. Penelitian tentang batubara dilakukan pula di Bukit Asam pada

tahun 1915-1918, dan pada tahun 1919 dibuka Tambang Batubara Bukit Asam.

(Sukandarrumidi, 2006)

Universitas Sumatera Utara

Kegiatan pertambangan batubara di Indonesia saat ini menunjukkan

peningkatan yang sangat pesat. PT Tambang Batubara Bukit Asam sebagai satu-

satunya BUMN di bidang batubara telah tumbuh menjadi perusahaan berskala besar

dengan produksi 7 juta ton pertahun berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun

1968 yang dikenal sebagai Unit II.

Demikian juga Kerja Sama Operasional (KSO) yang sebagian besar dari

produksi Penanaman Modal Asing (PMA) telah menunjukkan keberhasilan

produksinya sampai pada tingkat dua kali lebih besar daripada PT Bukit

Asam.(Sukandarrumidi, 1995).

2.1.1 Klasifikasi batubara

Batubara diklasifikasikan menurut sifat pembakarannya, menjadi antrasit, bitumen,

subbitumin, dan lignit.Setiap jenis mempunyai subbagian lagi.Antrasit merupakan

bahan bakar rumah tangga yang sangat berguna, karena pembakarannya besar, tetapi

cadangannya sudah mulai habis.Batubara bitumen terutama digunakan dalam

pembakaran yang menghasilkan energi atau karbonisasi untuk pembuatan kokas, ter,

bahan kimia batubara, dan gas pabrik kokas (Austin, 1996).

Penggolongan tersebut menekankan pada kandungan relatif antara unsur C dan

H2O.Kandungan air dalam batubara, dikenal sebagai sifat lengas (moisture).Dalam

usaha untuk mempermudah pengenalan jenis batubara, berikut ditunjukkan sifat-sifat

batubara untuk masing-masing jenis setelah tabel 2.1.sebagai berikut.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Komposisi elemen dari berbagai tipe batubara

Komposisi Elemen dari Beberapa Tipe Batubara

Jenis Batubara Persentase Massa

% C % H % O % H2O % Volatile Matter

Lignit 60-70 5-6 20-30 50-70 45-55

Subbituminous 75-80 5-6 15-20 25-30 40-45

Bituminous 80-90 4-5 10-15 5-10 20-40

Antrasit 90-95 2-3 2-3 2-5 5-7

a. Sifat batubara jenis antrasit :

─ Warna hitam sangat mengkilat, kompak

─ Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi

─ Kandungan air sangat sedikit

─ Kandungan abu sangat sedikit

─ Kandungan sulfur sangat sedikit

Gambar 2.2. Antrasit

b. Sifat batubara jenis bitumen/subbitumin :

─ Warna hitam mengkilat, kurang kompak

─ Nilai kalor tinggi, kandungan karbn relatif tinggi

─ Kandungan air sedikit

─ Kandungan abu sedikit

─ Kandungan sulfur sedikit

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.3. Bitumen dan Subbitumin

c. Sifat batubara jenis lignit :

─ Warna hitam, sangat rapuhvx

─ Nilai kalor rendah kandungan karbon sedikit

─ Kandungan air tinggi

─ Kandungan abu dan sulfur banyak

Gambar 2.4. Lignit

(Sukandarrumidi, 1995)

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Pemanfaatan Batubara

Pemakaian batubara di Indonesia terutama ditujukan untuk Pembangkit Listrik

dan Pabrik Semen. Batubara dapat pula dipergunakan tidak sebagai bahan bakar, tetapi

dipergunakan sebagai reduktor pada proses peleburan timah, industri fero-nikel,

industri besi dan baja, sebagai bahan pemurnian pada industri kimia (dalam bentuk

karbon aktif), sebagai bahan pembuatan kalsium karbida (dalam bentuk kokas atau

semikokas). (Sukandarrumidi, 2006).

Batubara merupakan batuan sedimentasi berwarna hitam atau hitam kecoklat-

coklatan yang mudah terbakar dan terbentuk dari batuan endapan organik yang terdiri

dari karbon hidrogen, oksigen, dan unsur-unsur lain. Oleh karena itu batubara

digunakan sebagai bahan dasar pembuatan karbon aktif.Disamping karena memiliki

unsur karbon yang cukup besar, pembuatan karbon aktif dari bahan dasar batubara

juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari batubara tersebut (Chrisman, 2008).

2.1.3 Arang Aktif Batubara

Arang aktif merupakan senyawa karbon amorf, yang dapat dihasilkan dari

bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara

khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan arang aktif

berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubugan dengan struktur pori internal

yang menyebabkan arang aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Arang aktif dapat

mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif,

tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan.Daya serap arang

aktif sangat besar, yaitu 25-100% terhadap berat arang aktif.

Bahan baku yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun

mineral yang mengandung karbon dapat dibuat menjadi arang aktif, antara lain tulang,

kayu lunak, sekam, tongkol jagung, tempurung kelapa, ampas pembuatan kertas,

serbuk gergaji, kayu keras, dan batubara ( Tryana, 2003).

Beberapa penelitian menyatakan bahwa pembuatan arang aktif dilakukan

dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembentukan arang aktif bersifat amort porous

pada suhu rendah. Tahap kedua adalah proses pengaktifan arang untuk menghilangkan

Universitas Sumatera Utara

hidrokarbon yang melapisi permukaan arang. Penelitian selanjutnya, pada kedua

proses tersebut terjadi tahap-tahap sebagai berikut :

1. Dehidrasi yaitu proses menghilangkan air

2. Karbonisasi yaitu proses penguraian selulosa organic menjadi unsur karbon,

serta mengeluarkan senyawa-senyawa non karbon

3. Aktifasi yaitu proses pembentukan dan peyusunan karbon sehingga pori-pori

menjadi lebih besar.

Pada prinsipnya arang aktif dapat dibuat dengan dua cara, yaitu cara kimia dan

cara fisika. Pada pembuatan arang aktif, mutu yang dihasilkan sangat tergantung dari

bahan baku yang digunakan, bahan pengaktif, suhu dan cara pengaktifannya.

1. Pembuatan Arang Aktif secara Kimia

Prinsipnya yaitu penyerapan arang dengan senyawa kimia sebelum dipanaskan.

Pada proses pengaktifan secara kimia, arang direndam dalam larutan pengaktifasi

selama 24 jam lalu ditiriskan dan dipanaskan pada suhu 600-900°C selama 1-2 jam.

Pada suhu tinggi ini bahan pengaktif akan masuk diantara sela-sela lapisan heksagonal

dan selanjutnya membuka permukaan yang tertutup. Dari hasil penelitian yang

membuat arang aktif dari batubara, lalu mengekstrak arang aktif tersebut dengan HCl

0,5 M menghasilkan arang aktif struktur mikroporinya lebih besar.

2. Pembuatan Arang Aktif secara Fisika

Prinsipnya adalah pemberian uap air atau gas CO2 kepada arang yang telah

dipanaskan.Arang aktif yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam tungku aktivasi

lalu dipanaskan pada suhu 800-1000°C.

Penelitian arang aktif telah membuktikan kemampuan sebagai adsorben

terhadap logam Hg, Pb, Cd, Ni, Cu dalam limbah cair industri radiator, pelapisan

nikel, dan pelapisan tembaga.kemampuan arang aktif sebagai penghilang logam

tersebut dipengaruhi oleh pH dan konsentrasi karbon. Kenaikan kadar karbon

menaikkan persen adsorpsi ion logam.

Universitas Sumatera Utara

Dalam proses penjernihan air, arang aktif selain mengadsorpsi logam-logam

seperti besi, tembaga, nikel, juga dapat menghilangkan bau warna, dan rasa yang

terdapat dalam larutan atau buangan air. Karena arang aktif lebih bersifat nonpolar,

maka komponen non polar dengan berat molekul tinggi ( 4 sampai 20 atom karbon)

yang terdapat dalam buangan air pabrik dan diadsorpsi oleh arang aktif.

Penggunaan karbon aktif terutama adalah untuk pemurnian larutan, ,misalnya

pembersihan larutan gula tebu, gula bit dan gula jagung, dan untuk menghilangkan

rasa dan bau air minuman, minyak nabati dan gemuk hewani, minuman alkohol, bahan

kimia, dan bahan obat-obatan (Austin, 1996).

2.2. Industri Benang Karet

Pabrik benang karetmerupakan industri yang mengelola bahan baku karet (lateks)

menjadi produk jadi. Pabrik ini mempunyai 3 (tiga) pabrik pengolahan, yaitu :

Rubber Article Factory (RAF)

Dipping Process Factory (DPF)

Rubber Thread Factory (RTF)

Pabrik – pabrik ini mempunyai sistem pengolahan yang berbeda. Bahan baku yang

digunakan DPF dan RTF adalah bahan baku lateks, sedangkan RAF menggunakan

bahan baku padat (karet yang telah dikeringkan).

Produk – produk yang dihasilkan ketiga pabrik tersebut adalah :

1. RAF menghasilkan artikel karet, pita karet, rubber cownmats, dock fender dan

conveyer belt.

2. DPF menghasilkan sarung tangan karet

3. RTF menghasilkan benang karet

Bahan baku untuk pembuatan benang karet adalah lateks DRC 60% (lateks

pekat hasil pemusingan) yang berasal dari pusat Pengolahan Karet (PPK).

Pada umumnya lateks yang dihasilkan dari kebun adalah high amoniak yang

kadarnya sekitar 0,55 – 0,75%, karena pada saat akan diangkut ke pabrik terlebih

dahulu ditambahkan amoniak dengan kadar tertentu. Sedangkan lateks yang dipakai di

Universitas Sumatera Utara

Rubber Thread Factory (RTF) adalah medium amoniak yang kadarnya 0,40 – 0,54%,

sebagai bahan pemantap ditambah larutan ammonium laurat 20% dosis 4 – 5 mL/L.

Lateks pekat inilah yang dipakai sebagai bahan baku dalam pembuatan benang karet.

Proses pembuatan karet menjadi benang karet dengan cara lateks pekat yang

masuk diperiksa di laboratorium kimia dan diuji kemudian lateksnya di simpan

ditempat penyimpanan lateks yang tersedia. Disamping itu bahan-bahan kimia yang

akan digunakan diperiksa dan diuji di laboratorium kimia, lalu disimpan di tempat

tersedia lalu ditimbang. Bahan kimia tersebut diproses menjadi pengemulsi kemudian

dimasukkan ke dalam tangki storage masing-masing, setelah itu ditimbang sesuai

dengan formulasi yang ditentukan. Kedua bahan tersebut dicampur ditangki inactive

membentuk compound, lalu ditambahkan zat activator yaitu ZDBC dan ZnO untuk

membentuk active compound. Active compound tersebut dimaturasi untuk proses

pematangan lalu dihomogenkan dengan mixer. Setelah homogen, compound diperiksa

dan didinginkan ke dalam cooling storage tank pada temperatur 13oC. Setelah

pendinginan active compound diperiksa kemudian dilewatkan ke dalam feeding sistem

yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara agar buih dan kotoran yang ada dapat

hilang. Compound active tersebut dialirkan ke dalam header dan diteruskan melalui

capillary dalam acid bath yang berfungsi untuk menggumpalkan agar berbentuk

benang. Kemudian dibilas dengan menggunakan air panas pada suhu 60 – 70oC pada

water bath kemudian dikeringkan dalam drying oven pada suhu 105 – 110oC, lalu

dilewatkan melalui talcum box agar tidak lengket. Air bilasan benang karet tersebut

dikeluarkan melalui pipa langsung dibuang ke kolam pengolahan limbah. Benang karet

tersebut dilewatkan melalui ribboning agar berbentuk pita-pita benang, lalu diperiksa

di laboratorium Fisika. Kemudian pita tersebut dikeringkan dengan proses vulkanisasi

dan didinginkan. Dan hasil akhirnya terbentuk pita benang karet yang akan di ekspor.

2.2.1. Proses Pembuatan Benang Karet

Sarung tangan karet dibuat dengan cara pembuatan dispersi pemvulkanisasi

dari lateks pekat dengan perlakuan komposisi jumlah bahan pengisi Titanium Oksida

dan tanin.Karakteristik sarung tangan karet harus sesuai dengan persyaratan mutu SNI

Universitas Sumatera Utara

16 – 2623 – 1992, meliputi tegangan putus 270,1 N/ mm2, perpanjangan putus 801 %,

modulus 1,2 N/ mm2, dan ketahanan sobek 680 N/ mm2 .

Adapun yang menjadi bahan – bahan dalam pengolahan lateks pekat menjadi

sarung tangan karet adalah lateks pekat dengan kadar karet kering 60% , dan sebagai

bahan anti koagulan adalah NH4OH, Belerang, Texapon 10%, KOH 10%, dan sebagai

zat akseerator adalah ZnO, ZDEC, dan bahan pengisi adalah Titan Oksida, Silikon,

dan Tanin.

2.2.2. Tahap – Tahap Pengolahan Lateks Pekat menjadi Sarung Tangan Karet

A. Pembuatan dispersi

1. Bahan – bahan akselerator tersebut dimasukkan dalam sebuah drum yang

didalamnya dilengkapi peluru – peluru, kemudian drum ditutup rapat dan

diletakkan dalam wadah yang berputar ( gilingan dispersi ) , Dan dibiarkan berputar

selama 24 jam.

2. Hasil dispersi dicampurkan kedalam lateks pekat, diaduk sampai merata dan

campuran disimpan selama 3 – 5 hari untuk diperam ( maturing ). Pemeraman

bertujuan agar campuran lebih homogen dan terjadi pemvulkanisasian.

3. Untuk mengetahui tahap vulkanisasi periksa campuran dengan memipet 10 ml

campuran dan tambahkan Chlorofom sambil diaduk 5 menit, dan gumpalan

diperiksa.

B. Persiapan Cetakan

1. Pencelupan dengan asam, untuk membersihkan cetakan ( acid washing dip )

2. Pembilasan cetakan ( Formers drying)

3. Pencelupan cetakan kedalam larutan koagulan ( Coagulan dip)

4. Pengeringan Cetakan ( Formers drying after coagulant dip)

Universitas Sumatera Utara

2.2.3. Sifat Kimia Air Limbah

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik

industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan

tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.

Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan

anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat

berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga

perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang

ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Kandungan Bahan kimia yang ada dalam limbah cair dapat merugikan

lingkungan melalui berbagai cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen

dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyediaan

air bersih. Hal yang lebih berbahaya adalah jika bahan organik yang terlarut bersifat

toksik.

Bahan kimia yang ada dalam limbah cair umumnya dapat diklasifikasikan

sebagai bahan organik (protein, karbohidrat, lemak, minyak, detergen atau surfaktan,

fenol) dan bahan anorganik (sulfur, logam berat, nitrogen, gas). Kandungan logam Zn

dalam air limbah terbawa dari penambahan ZnO dalam proses akselerator lateks pekat

dengan bahan anti koagulan dan bahan pengisi tanin, silikon,dan titan oksida,

sedangkan kandungan Fedalam air limbah dapat terkandung dalam air bekas pencucian

selama proses pengolahan lateks pekat menjadi sarung tangan karet. Air limbah sangat

berbahaya bagi kesehatan manusia karena air limbah tersebut dapat menjadi sumber

penyakit disentri, kolera, antraks, dan lain – lain. Air limbah juga dapat mengganggu

kenyamanan baik dari estetika dan bau yang ditimbulkan.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Volume Penggunaan Air oleh Industri Sarung Tangan Karet

No Volume Air Debit Air (m3 / Hari)

1 Volume air baku produksi 300

2 Volume limbah awal/inlet 16,5

3 Volume limbah akhir/outlet 8,5

Tabel 2.3. Kandungan unsur Kimia yang terdapat pada limbah benang karet

No Nama Unsur/ Senyawa Lambang Unsur/Senyawa

1 Amoniak NH3

2 Fosfor P

3 Zinkum Zn

4 Titanium Ti

5 Silikat Si

6 Sulfur S

7 Besi Fe

8 Asetat CH3COO

2.2.4. Limbah Industri Karet

Pada proses pengolahan karet, dihasilkan air limbah yang mengandung

berbagai jenis bahan organik dan anorganik serta mikroba sehingga diperkirakan dapat

mengganggu ekosistem perairan. Kualitas dan kuantitas air limbah dari industri karet

ini sangat bergantung pada jenis aktivitas dan besar kecilnya industri. Pada umumnya

air limbah industri ini berasal dari :

1. Air hasil proses produksi

2. Air hasil pencucian alat-alat, mesin, wadah, dan lain – lain

3. Air hasil proses pemanasan dan pendinginan

4. Air hasil laboratorium pengendalian mutu

Universitas Sumatera Utara

Limbah industri yang dibuang tanpa diolah terlebih dahulu akan menimbulkan

pencemaran dan gangguan terhadap kesehatan manusia, keseimbangan lingkungan /

ekologi dan keindahan lingkungan.(Sugiharto,1987)

2.3. Zinkum (Zn)

2.3.1. Sifat- sifat logam zinkum

Zinkum dengan nomor atom 30 dan massa atom 65,38 dalam sistem periodik

unsur terletak pada periode 4 dan golongan IIB. Zinkum adalah logam yang putih

kebiruan, logam yang mudah ditempa dan liat pada suhu antara 110 – 150 oC. Zinkum

melebur pada suhu 410 oC dan mendidih pada 906 oC. Logamnya yang murni, melarut

lambat sekali dalam asam dan dalam alkali.( Vogel, 1979). Zinkum masuk ketatanan

lingkungan perairan melalui limbah industri, pengelasaan logam dan patri. Zinkum

merupakan unsur penting dalam banyak metaloenzim, obat luka. (Manahan, 1994).

2.3.2. Logam zinkum dalam kehidupan manusia

Tubuh yang normal membutuhkan 12 – 15 miligram zinkum setiap hari.

Kebanyakan orang mendapatkan zat tersebut secara alami melalui makanan atau

minuman yang dikonsumsi. Namun jika zat zinkum yang masuk ke dalam tubuh

berlebihan, maka dapat mengakibatkan keracunan Zinkum. Usus tertekan, muntah,

keram perut, diare dan mual berkepanjangan. Gejala tersebut jika tidak segera

ditangani dapat menyebabkan sakit kuning, kejang, demam dan tekanan darah rendah,

bahkan kematian.

Sedangkan (Eamens dkk, 1984 dan Darmono, 1995) menyatakan keracunan

zinkum dengan gejala – gejala : osteomalasea, kalkulirenalis, dan proteinuria.

Keracunan zinkum sering dijumpai bersamaan dengan keracunan kadmium secara

kronis.

2.4.Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

Teknik Analisis spektrofotometri termasuk salah satu teknik analisis

instrumental disamping teknik kromatografi dan elektrolisis kimia.Teknik tersebut

Universitas Sumatera Utara

memanfaatkan fenomena interaksi materi dengan gelombang elektromagnetik seperti

sinar-X, ultraviolet, cahaya tanpak dan inframerah. Fenomena interaksi bersifat

spesifik baik absorbsi maupun emisi. Interaksi tersebut menghasilkan signal-signal

yang disadap sebagai analisa kualitatif dan kuantitatif.

SSA adalah metoda analisis yang berdasarkan pada pengukuran radiasi cahaya

yang diserap atom bebas. Analisis menggunakan alat SSAini memiliki keuntungan dari

hasil analisisnya yang sangat peka, teliti dan cepat, pengerjaannya relatip sederhana

serta tidak perlu dilakukan pemisahan unsur logam dalam pelaksanaannya. (Walsh, A,

1995)

Analisis SSA yang didasarkan pada penyerapan energi radiasi dari sumber

nyala atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar. Komponen-komponen utama

yang menyusun SSA adalah sumber cahaya, atomizer, monokromator, detector, dan

penampilan data (Anderson,1987). Penggunaan SSA dalam menganalisa kandungan

logam-logam, dikarenakan dengan metode SSA unsur-unsur dengan energi eksitasi

rendah.

2.4.1 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom

Gambar 2.5. Sistematis Ringkas dari Alat Spektrofotometri Serapan Atom (Day, R.A.

Underwood, A.L., 1988)

Keterangan :

A. Sumber sinar lampu katoda berongga

Lampukatodaberonggamerupakansumber sinar yang memancarkan spektrum dari

unsur logam yang akandianalisa (setiap logammemiliki lampu khususuntuklogam

tersebut)

A B C D E F

Universitas Sumatera Utara

B. Chopper

Mengatur sinar yang dipancarkan

C. Tungku

Tempat pembakaran(untuk memecahkan larutan sampel pada tetesan halus dan

meleburkannya kedalam nyala untuk diatomkan).

D. Monokromator

Mendispersi sinar yang ditransmisikan oleh atom.

E. Detektor

Mengukur sinar yang ditranmisikan dan memberikan signal sebagai respon

terhadap sinar yang diterima.

F. Pencatat bacaan nilai absorbansi

Gunanya untuk membaca nilai absorbansi(Haris,1978).

Universitas Sumatera Utara