ijtihad sumber dan metodologi hukum islamfile.upi.edu/direktori/fpips/m_k_d_u... · metodologi...

Post on 28-Mar-2018

249 Views

Category:

Documents

6 Downloads

Preview:

Click to see full reader

TRANSCRIPT

IJTIHAD SUMBER DAN

METODOLOGI HUKUM ISLAM

Presented By :

Saepul Anwar, M.Ag.

Definisi Ijtihad

Etimologis : kesungguhan

Terminologis :

“Usaha mujtahid dengan segenap

kesungguhan dan kesanggupan untuk mendapatkan ketentuan hukum sesuatu masalah dengan menggunakan metodologi yang benar dari kedua sumber hukum al Quran dan al Sunnah.

Definisi Ijtihad

HR. Bukhari dan Muslim :

“ Jika seorang hakim menetapkan hukum,

lalu berijtihad dan benar ijtihadnya maka ia mendapatkan dua pahala; dan bila ia menetapkan hukum dengan ijtihad kemudian ijtihadnya itu salah, baginya mendapat satu pahala ”

Sumber Hukum Ijtihad

Ayat-Ayat al Quran

Hadis Rasul

Ijma para sahabat Nabi

Metodologi Ijtihad

Qiyas (Emapt Madzhab)

Istihsan (Imam Hanafi)

Mashalih Mursalah (Imam Maliki)

‘Urf (Adat Kebiasaan)

QIYAS

Qiyas adalah menetapkan suatu hukum “baru” yang belum ada nashnya dengan hukum yang “sudah ada” nashnya karena adanya persamaan „illat hukum (maksud

dan tujuan hukum) dari kedua peristiwa itu.

Contoh : Zakat Padi dan Hukum Melototi dan Menempeleng Orang Tua.

ISTIHSAN

Istihsan adalah meninggalkan Qiyas Jalli(qiyas nyata) untuk menjalankan Qiyas Khafi (qiyas samar-samar), atau meninggalkan hukum Kulli (hukum umum) untuk menjalankan hukum Istisna’i(pengecualian), disebabkan ada dalil logika yang membenarkannya.

Contoh : Praktek salam atas dasar kebutuhan dan kepercayaan.

MASHALIH AL-MURSALAH

Suatu Kemaslahatan yang tidak ditetapkan oleh syara’ dan tidak ada pula nash atau dalil syara’ baik yang memerintahkan

maupun melarang.

Contoh : Mendirikan Penjara karena fungsinya sangat baik bagi keamanan dan ketertiban masyarakat.

„URF (ADAT KEBIASAAN)

‘Urf merupakan kebiasaan masyarakat

baik berupa perkataan atau perbuatan yang baik, yang karenanya dapat dibenarkan oleh syara’.

Contoh : Jual beli di supermarket tanpa adanya Ijab-Qabul secara lisan dengan lafal yang jelas.

Perbedaan dalam Hasil Ijtihad

Lafal nash yang mengandung makna ganda. Contoh quru’ (Q.S.al Baqarah [2]:228) yang berarti haidh (Imam Hanafi) dan yang berarti thuhr „suci‟ (Imam Syafi‟i).

Lafal nash yang mempunyai makna hakiki dan majazi. Contoh yunfau (Q.S. al Maidah [5]:33) yang berarti diusir dari kampung halamannya (hakiki-kebanyakan ulama) dan penjara (majazi-Hanafiyah).

Perbedaan dalam Hasil Ijtihad

Lafal nash yang qath’i (benar secara mutlak) dan yang zhanni (penafsiran yang masih diperdebatkan)

Perbedaan dipengaruhi oleh kultur, kondisi, situasi, ruang, dan waktu.

Hasil Ijtihad di suatu waktu belum tentu cocok dengan waktu yang lain. Waktu antara dahulu dengan sekarang, malah dengan yang akan datang, adalah berbeda.

Tingkatan Pengamalan Syari‟ah

Taqlid (mengikuti pendapat ulama)

Ittiba’ (berusaha memahami proses ijtihadpara mujtahid)

Ijtihad.

top related