alan prama irvandi 20310490 -...

9
Bandung International Convention Centre Alan Prama Irvandi 20310490

Upload: lyphuc

Post on 12-Mar-2019

217 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

Bandung International Convention Centre

Alan Prama Irvandi

20310490

Page 2: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB I

• 1. PENDAHULUAN

• Kota Bandung dibentuk sebagai daerah otonom pada tanggal 1 April 1906, dan luas wilayah 1.922 Ha. Terletak di daerah Dayeuhkolot pada tepi Sungai Citarum. Pemerintah Kolonial Belanda kemudian memindahkan Kota Bandung ke Alun-alun yang terletak pada jalur jalan regional yang menghubungkan poros Utara-Selatan (ke arah daerah perkebunan) dan poros Barat-Timur (ke arah pusat-pusat pemerintahan, terutama Jakarta). Aktivitas kota, pada saat itu, adalah perdagangan, di sekitar alun-alun dan Jalan Jenderal Sudirman. Kegiatan pemerintahan terdapat di dua tempat yaitu di dekat alun-alun untuk pemerintahan Kabupaten dan di sekitar Jalan Merdeka untuk pemerintahan Kotamadya. Daerah terbangun adalah seluas ± 240 Ha.

• Sesuai dengan hal tersebut maka sudah seharusnya kota Bandung didukung oleh sarana dan prasarana bangunan yang baik dan memadai, maka dalam perencanaan dan pembangunanya perlu di tata dalam satu kesatuan yang terpadu, agar terciptanya keterpaduan antara pengguna bangunan dengan baik, maka perlu adanya pembangunan Auditorium atau Convention Centre pada daerah daerah yang letaknya strategis.

• Pada tahun 1917, wilayah Kota Bandung diperluas menjadi 2.871 Ha. Sejak itu, aktivitas baru berkembang di bagian Utara Kota, antaranya sarana Stasiun Kereta Api, Industri Kina dan Kompleks Militer (Jalan Sumatera dan Jalan Gandapura). Pada tahap ini, sebelah Utara kota lebih pesat perkembangannya. Berturut-turut selama tiga tahun diadakan perluasan, masing-masirg pada pada tahun 1942 diperluas menjadi 3.876 Ha, pada tahun 1943 diperluas menjadi 4.117 Ha, dan pada tahun 1945 diperluas menjadi 5.413 Ha. Zaman negara Pasundan, tahun1949, Kota Bandung diperluas menjadi 8.098 Ha. Tahun 1987 Kota Bandung dimekarkan lagi menjadi 16.729,650 Ha. Pada saat sekarang, perkembangan fisik cenderung mengikuti jalur jalan terutama ke arah Timur, Barat kemudian ke arah Selatan, dan terbatas ke arah Utara. Perkembangan fisik ke arah Timur sampai Ujungberung, Gedebage; ke arah Barat sampai Cimahi, ke arah selatan sampai Buahbatu dan Kopo Sayati. Ke arah Utara mencakup sepanjang Jalan Setiabudhi, Setrasari dan Sarijadi.

• Secara geografis Kotamadya Bandung terletak pada 107° Bujur Timur dan Lintang Selatan, terletak pada dataran tinggi Bandung dalam wilayah administratif Propinsi Jawa Barat, dikelilingi oleh kota-kota kecil, yaitu : Kota Padalarang dan Cimahi di sebalah Barat; Kota Lembang dan Cisarua di sebalah Utara; Kota Cileunyi di sebelah Timur; Kota Dayeuhkolot dan Soreang di sebelah selatan. Semua kota-kota kecil tersebut terletak dalam wilayah administratif Bandung.

• Daerah datar terletak pada bagian Selatan, dan daerah yang berbukit terletak bagian Utara, dengan arah kemiringan ke Selatan. Ketinggian Kotamadya Bnadung berkisar antara 675-1.225 m. Titik ketinggian tertinggi terletak di Bandung Utara, 23 dan terendah terletak di bandung Selatan. Pada bagian Tengah, rata-rata ketinggiannya adalah 750 m. Wilayah di sekeliling Kotamadya Bandung yang merupakan daerah relatif datar adalah Gedebage, Tegallega, Karees, dan Buah Batu, dengan ketinggian berkisar antara 660 m sampai 670 m. Daerah landai sampai miring adalah wilayah Bojonegara, Cibeureum dan Ujungberung (660-1.100 m) merupakan daerah yang berbukit-bukit.

Page 3: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB II

• 2. DESKRIPSI PROYEK

• 2.1 Deskripsi Proyek Tugas Akhir

• Lokasi : Kota Bandung

• Luas Lahan : 5 Ha

• Peraturan KLB/KDB :

• Luas Bangunan : 1 Ha

• Tinggi Bangunan :

• Pemilik :

• Sumber Dana :

• Kelengkapan Fasilitas :

• 2.2 Convention Centre

• 1. Pengertian Convention :

• a. Pertemuan sekelompok orang yang secara bersama-sama bertukar pikiran,pengalaman dan informasi melalui pembicaraan terbuka,saling siap untuk mendengar serta mempelajari, mendiskusikan kemudian menyimpulkan topik-topik yang dibahas dalam pertemuan dimaksud. Kelompok ini bisa terdiri dari 10 orang atau lebih.

• b. Kongres, konferensi, atau konvensi merupakan suatu kegiatan berupa pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan, dan sebagainya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.

• 2. Pengertian Centre :

• a. Centre is place for a partycular activity. (Menempatkan fasilitas tertentu).

• b. Pusat, sentral, bagian yang paling penting dari sebuah kegiatan atau organisasi.

• c. Tempat aktivitas utama, dari kepentingan khusus yang dikontralisasikan.

• d. Suatu tempat dimana aktivitas atau fungsi menarik terkumpul dan terkonsentrasi.

Page 4: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB III

• 3.ELABORASI TEMA

• 3.1 Pengertian Tema

• Gedung pertemuan atau yang saat ini atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Convention Centre adalah tempat berkumpulnya sekelompok orang untuk membahas suatu masalah atau bertukar informasi yang diakhiri dengan adanya kesimpulan atau bertukar informasi yang di akhiri dengan adanya kesimpulan atau kesepakatan dari hasil pertemuan tersebut. Beberapa kegiatan yang berlangsung dalam gedung pertemuan seperti rapat, seminar, simposium, loka karya, konferensi, workshop,pameran dan seni pertunjukan. Oleh karena itu, sebuah gedung pertemuan harus dilengkapi ruang ruang untuk mendukung kegiatan tersebut seperti exhibition hall, convention hall, meeting room, dan ballroom.

• Gedung pertemuan yang memiliki skala internasional dilihat dari peserta/pengunjung gedung pertemuan tersebut yang berasal tidak hanya dari lokal atau luar daerah tapi juga berasal dari luar negeri. Bandung menjadi pilihan lokasi dengan pertimbangan beberapa fakta seperti banyaknya turis asing yang menjadikan kota Bandung sebagai tujuan wisata, adanya penerbangan dari luar negeri yang langsung menuju ke Bandung seperti Singapura, dan Malaysia, tersedianya hotel untuk menginap, pusat perbelanjaan dan prasarana jalan yang baik.

• Konsep International Convention Centre ini menitik beratkan pada kesinambungan aliran pergerakan pengguna, baik secara makro maupun mikro. Kesinambungan juga tidak pada sirkulasinya. Keberlanjutan secara visual juga direncanakan untuk memberikan pengalaman visual ruang yang menarik bagi pengunjung. Pada proyek tugas akhir yang berjudul Bandung International Convention Centre ini maka saya mengambil tema yaitu Monumental Architecture yaitu arsitektur monumental mengadopsi berbagai perkembangan arsitektur dari zaman yunani sampai dengan sekarang. Dengan demikian arsitektur monumental memiliki ruang lingkup yang cukup luas, sehingga perkembangannya selalu mengikuti perkembangan zaman.

• Latar belakang tema Monumental Architecture adalah karena Arsitektur monumental memberikan suatu citra atau identitas yang mencerminkan suatu keadaan atau suatu gagasan dari keinginan si perancang dalam menuangkan gagasan atau ide. Arsitektur monumental memiliki bentukan yang khas. biasanya Monumental Architecture menggunakan bentuk bentuk geometris.

Page 5: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB IV

• 4.ANALISIS

• 4.1 Analisis Fungsional

• Analisis fungsional yang terjadi berdasarkan penjelasan di Bab 2, yang telah di jabarkan dengan pemecahan kembali, dari kegiatan, pengguna dan kebutuhan ruang yang ada.

• 4.2 Analisis Site

• 1. Data Fisik dan Peraturan Bangunan Site

• Lokasi : Jl. Cisaranten Kidul, Kecamatan Gede Bage, Kota Bandung

• Peruntukan : Perdaganan, Bisnis, Pariwisata, Pusat Perkotaan

• Luas : 5Ha

• KDB : 70%

• Total KDB : -

• KLB : 5,6

• KDH : 20%

Page 6: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB V

• 5.KONSEP PERANCANGAN

• 5.1 Konsep Tampak

• 1. Konsep Aksibilitas

• Konsep pencapaian tapak direncanakan dengan dua pencapaian, yaitu melalui main enterance yang dapat di capai melalui pedestrian sebagai sirkulasi pejalan kaki dan area parker sebagai sirkulasi kendaraaan. Pencapaian dua jalur ini lebih ditunjukan untuk memudahkan pencapaian bagi pengguna bangunan

• Penempatan enterance pedestrian berada di bagian barat karena area tersebut merupakan jalan utama.Menyediakan akses bagi pejalan kaki yaitu plaza yang memiliki luas 30mx50m beserta cafetarian di pinggir plaza tersebut.Membuat area parkit VIP dan area parker untuk kendaraaan bis.Memisahkan jalur kendaraaan servis dari pejalan kaki dan kendaraan pribadi.

• 2. Konsep Sirkulasi

• Pengolahan sirkulasi terbagi dua yaitu :

• Pola Mengelilingi

• Kendaraan dapat mencapai seluruh permukaan bangunan.

• Pola tidak mengelilingi

• Kendaraaan hanya dapat mencapai muka bangunan dan presentase jalan lebih kecil.

• Jalur sirkulasi utama yang menghubungkan semua zona harus ditempatkan pada sirkulasi yang berhubungan langsung antara jalan, bangunan, parker, dan basement.Tujuan ini untuk memperjelas sirkulasi antara pengelolah, pengunjung, dan servis.

• Sirkulasi secara umum :

• Sirkulasi pengunjung (Area parkir – dropp off – pedestrian – enterence – lobby – hall – kegiatan – exit.

• Sirkulasi pengelolah yaitu area parkir – basement – kantor pengelolah – kegoiatan – exit.

• Sirkulasi servis yaitu enterance – area parkir – kegiatan – exit

• Sirkulasi secara khusus :

• Alur bus yaitu enterance – area parkir – exit

Page 7: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

• Alur mobil yaitu enterance – area parkir/drop off/parkir basement – exit

• Alur servis yaitu enterance – area parkir loading dock – penyimpanan sementara – exit.

• Pejalan kaki enterance – pedestrian – park – plaza – enterance bangunan – lobby – aktivitas lantai 1 – aktivitas lantai 2 – exit.

• Tamu pameran yaitu enterance – lobby – exhibition – berkeliling – aktivitas keliling – exit.

• Tamu pertunjukan yaitu enterance – lobby – enterance auditorium lantai 1 – enterance convention lantai 2 – menyaksikan pertunjukan – exit.

• Tamu rapat enterance – lobby – meeting rom kecil – meeting room besar – rapat – exit

• Tamu Ballroom yaitu enterance – lobby – ballroom A – ballroom B – Kegiatan – exit.

Page 8: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

BAB VI

• 6.HASIL RANCANGAN

• 6.1 Peta Situasi

• Lokasi pemilihan site berada di Kota Bandung, yang tepatnya berada di Jl. Gedebage, Kecamatan Gedebage. Dengan luas lahan 7ha.

• 6.1 Peta Batasan Site

• Keberadaan site terletak di kawasan strategis ekonomi pusat pelayanan Gedebage. Site merupakan lahan kosong yang dapat diolah. View site mengarah pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api. Lokasi site merupakan bagian dari wilayah yang ,masih dalam proses pengembangan.

• 6.1 Zoning

• Hasil perancangan Bandung International Convention Centre, terdapat pembagian beberapa zona dengan bentuk kotak yang di hubungkan dengan pola sirkulasi. Posisi bangunan pada bagian depan muka bangunan menghadap ke arah selatan, pada bagian timur merupakan bangunan bagian convention dan bangunan exhibition. Pada bagian barat dan timu merupakan area in-out basement. Dan pada bagian utara bangunan merupakan bagian servis, loading dock dan gudang, pada bagian selatan juga terdapa plasa, cafetarian dan area parkir VIP yang fungsinya sebagai parkiran pengunjung khusus dan bus pariwisata.

• 6.2 Sirkulasi

• Pengelolah sirkulasi dalam banguan adalah pola mengelilingi :

• 1. Sirkulasi kendaraan dibuat linier dan tidak terputus memudahkan pencapaian ke bangunan

• 2. Mengelilingi bangunan agar mempermudah sirkulasi kendaraan melakukan drop off maupun keluar masuk area bangunan.

• 3. Area parkir pengunjung terletak di basement

• 4. Terdapat are parkir VIP dan pengunjung bus Pariwisata

• 5. Pada sirkulasi kendaraan pengunjung dan pengelolah terdapat jalur masuk mobil dan motor satu arah dengan lebar 10m.

• 6. Jalur masuk tersebut mengarahkan pengunjung berkendara ke arah drop off dan basement parkir.

• 7. Pada jalur kendaraan terdapat vegetasi pohon sehingga perjalanan menuju basement tersa sejuk dan nyaman.

Page 9: Alan Prama Irvandi 20310490 - publication.gunadarma.ac.idpublication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/14368/2/TUGAS AKHIR... · pada gunung dan sadion Glora Bandung lautan Api

• 6.3 Ruang Terbuka

• Pentingnya ruang terbuka merupakan hal yang harus diperhatikan bagi perencanaan gedung pertemuan karena ruang terbuka memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi pengunjung. Ruang terbuka selain untuk vegetasi sebagai penyaring terhadap debu, getaran dan suara, juga sebagai tempat pameran terbuka sehingga menghasilkan keindahan dan kemegahan bangunan. Pengelolahan dan perencanaan ruang terbuka harus memperhatikan kriteria yang meliputi :

• 1. Ruang terbuka sebagai orientasi dan pembentuk suasana

• 2. Ruang terbuka sebagai ruang untuk kegiatan outdoor pengikat kegiatan.

• 3. Ruang terbuka sebagai pedistrian, estetika dan sirkulasi

• Gambar 6.3 Ruang Terbuka

• Ruang terbuka berada di muka bangunan yaitu di bagian selatan, ruang terbuka pada bangunan ini dimanfaatkan sebagai pedistrian, parkiran kendaran pariwasatan, cafetarian dan paza. di setiap bagian tapak di beri vegetasi sebagai filtering terhadap kebisingan akibat polusi dan sirkulasi kendaraan. Sususnan vegetasi juga disesuaikan dengan fungsi yang barkaitan yaitu penataan jarak dan pemilihan jenis pohon.