? web viewuntuk itu dia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman. ......

Download ? Web viewUntuk itu dia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman. ... memiliki…

Post on 17-Mar-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB VIISEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA

Standar Kompetensi

(Sejarah Islam)

:

7. Memahami perkembangan Islam di Nusantara.

Kompetensi Dasar

:

7.1. Menceritakan sejarah masuknya Islam di nusantara melalui perdagangan, sosial dan pengajaran.

7.2. Menceritakan sejarah beberapa kerajaan Islam di Jawa, Sumatera,Sulawesi dan Maluku.

Indikator

:

1. Menjelaskan kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa pembawanya?

2. Menguraikan proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia

3. Menceritakan beberapa kerajan Islam di Sumatra.

4. Menceritakan beberapa kerajan Islam di Jawa.

5. Menceritakan beberapa kerajan Islam di Sulawesi.

6. Menceritakan beberapa kerajan Islam di Maluku

A. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Masuknya agama Islam ke Indonesia belum dapat dipastikan waktunya. Ada 3 pendapat yang menyatakan Islam masuk ke Nusantara (Indonesia) sbb:

1. Menurut teori pertama (Gujarat), Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang Gujarat (India) yang beragama Islam pada sekitar abad ke-13 M.

2. Teori kedua (Persia) berkeyakinan, masuknya Islam ke Indonesia melalui peran pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah di Gujarat sebelum ke Nusantara sekitar abad ke-13 M.

3. Teori ketiga (Makkah), menyebutkan, Islam tiba di Indonesia dibawa langsung oleh para pedagang muslim yang berasal dari Timur Tengah sekitar abad ke-7 M.

Berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

Perkembangan agama islam di Indonesia berlangsung sangat cepat. Hal ini tidak terlepas dari peranan para saudagar muslim, dan mubalig, yang dalam hal ini termasuk peran walisongo. Dengan penuh semangat mereka menyebarkan nilai-nilai islam kepada masyarakat setempat. Nilai-nilai ajaran islam tersebut di sampaikan melalui perdagangan, sosial, dan pendidikan. Peranan Saudagar Muslim dalam Penyebaran Agama Islam.

Dengan berbagai upaya dan perjuangan yang dilakukan oleh para saudagar muslim tersebut, kehadiran Islam di nusantara bukan hanya berkenan di kalangan masyarakat barat, melainkan juga telah menyentuh masyarakat kelas atas, seperti kaum bangsawan, tokoh masyarakat, kepala suku, dan para uleebalang (ketua adat).

Perjuangan para saudagar muslim tidak berhenti sampai di situ. Mereka terus berjuang dan tak kenal lelah menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam pada masyarakat haingga berhasil.

1. Peranan Wali Songo dan Ulama dalam Penyebaran Agama Islam

Selain para pedagang, faktor lain yang memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah ulama dan mubaliq. Penyebaran agama Islam khususnya di jawa dikembangkan oleh sejumlah wali.

Wali adalah seseorang yang mamiliki kepribadian baik dan dianggap dekat dengan Allah swt. Serta mempunyai kemampuan atau kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Pendapat lain mengatakan bahwa seorang wali adalah orang yang selalu dijaga oleh Allah swt dan senantiasa berbakti kepada-Nya.

Wali Songo mangembangkan agama Islam antara abad ke-14 sampai abad ke-16M. Dalam buku Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa dalam berdakwah para wali ini dinggap sebagai sekelompok mubaliq untuk daerah penyiaran tertentu. Selain dikenal sebagai ulama, mereka juga berpengaruh besar dalam pemerintahan. Oleh karena itu, mereka diberi gelar sunan atau susunan (junjungan).

Berikut ini di antara Wali Songo yang berperan dalam menyiarkan dan mengembangkan agama Islam di Pulau Jawa.

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Maulana Magribi karena berasal dari wilayah Magribi (Afrika Utara). Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gresik karena selama lebih 20 tahun ia berhasil mencetakkader penyebaran agama Islam pertama di Pulau Jawa. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Meskipun bukan orang jawa, tetapi ia mampu mengatasi keadaan masyarakat setempat dan menerapkan metode dakwah yang tepat untuk menarik simpati masyarakat kepada Islam. Di antara upayanya, yaitu menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat.

2. Sunan Ampel (Maulana Rahmatullah)

Sunan Ampel memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampel Denta (dekat Surabaya). Sunan Ampel dikenal sebagai wali yang tidak setuju terhadap adat istiadat masyarakat jawa pada masa itu, misalnya kebiasaan mengadakan sesajin atau selamatan. Namun, para wali lain berpendapat bahwa hal itu tidak dapat dihilangkan dengan segera, melainkan dengan cara memasukkan nilai-nilai Islami di dalamnya. Sunan Ampel juga di anggap sebgai penerus cita-cita dan perjuangan Sunan Gresik.

3. Sunan Bonang (Maulana Makhdun Ibrahim)

Sunan Bonang termasuk Wali yang menyebarkan agama Islam dengan cara menyesuaikan kebudayaan masyarakat Jawa, seperti wayang dan musik gamelan. Untuk itu dia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat syahadat (syahadatain) sehingga musik gamelan yang mengiringinya dikenal dengan istilah Sekaten.

4. Sunan Drajat (Maulana Syaifuddin)

Sunan Drajat dikenal sebagai seorang wali yang berjiwa sosial tinggi. Sumbangsih nya terhadap yatim piatu, fakir miskin, dan orang sakit cukup banyak. Perhatiaannya yang demikian besar terhadap masalah sosial sangat tepat karena ia hidup pada saat kerajaan majapahit runtuh dan rakyat mengalami krisis yang memprihatinkan. Selain itu, dalam berdakwah ia juga menggunakan media kesenian. Pangkur adalah salah satu ciptaannya.

5. Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin)

Sunan Giri yang aslinya bernama Raden Paku merupakan seorang wali yang menyebarkan agama Islam dengan menitikberatkan pada bidang pendidikan. Ia pernah belajar di Pesantren Anpel Denta dan juga sebagai pendiri Pesantren Giri. Dapat dikatakan bahwa Sunan Giri merupakan tokoh pemersatu Indonesia di bidang pendidikan agama islam.

6. Sunan Kalijaga (Maulana Muhammad Syahid)

Sunan Kalijaga selain dikenal sebagai seorang wali, juga sebagai budayawan dan seniman. Karena wawasannya yang luas dan pemikirannya yang tajam, ia tidak hanya disukai oleh rakyat tetapi juga para cendekiawan dan penguasa. Sunan Kalijaga melakukan dakwahnya dengan cara berkelana. Sarana dakwah yang digunakan berupa pertunjukan wayang kulit. Alur cerita dan tokoh wayang memuat nilai-nilai islam. Di antara lagu yang diciptakannya adalah Dandanggula.

7. Sunan Muria (Maulana Umar Said)

Sunan Muria termasuk salah satu Wali Songo yang dikenal pendiam, tetapi sangat tajam fatwanya. Oleh karena itu, ia juga dikenal sebagai guru tasawuf. Dalam menyebarkan agama Islam ia lebih memfokuskan di daerah pedesaan kerena ia sendiri tinggal di tempat yang jauh dari keramaian bersama rakyat biasa. Ia juga seorang wali yang menyukai seni. Dua tembang yang bernuansa Islam hasil ciptaan nya adalah Sinom dan Kinanti. Tembang Sinom umumnya melukiskan suasana ramah tamah dan nasihat. Adapun tembang Kinanti bernada gembira digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan falsafah hidup.

8. Sunan Kudus (Maulana Jafar Shadiq)

Wali Songo yang mendapat gelar wali Al ilmi (orang berilmu luas) adalah Sunan Kudus karena memiliki berbagai ilmu agama, seperti ilmu tauhid, dan fikih. Karena keahliannya itu, ia mendapat kepercayaan dari Kesultanan Demak untuk melancarkan penyebaran Islam, ia membangun sebuah masjid di Kudus yang disebut Menara Kudus karena disampingnya terdapat Bedug Masjid.

9. Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah)

Salah seorang Wali Songo yang sangat berperan dalan penyebaran agama Islam di Cirebon-Jawa Barat adalah Sunan Gunung Jati. Ia merupakan cucu Raja Pajajaran yang lahir di Mekah. Setelah Dewasa, ia memilih berdakwah di Jawa dan berhasil menjadikan Cirebon sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.

2. Peranan Pedagang Muslim

Pedagang-pedagang Muslim mendarat di daerah-daerah pesisir seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatera serta Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa. Dari daerah ini Islam menyebar ke daerah pesisir Indonesia lainnya seperti Bengkulu, Banten, Demak, Giri, Gowa, Tanjungpura, Banjar, Kutai, Ternate, Tidore, Gorontalo, Jailolo dan Papua. Dari daerah pesisir ini Islam menyebar ke daerah pedalaman.

Jalan masuknya Islam ke Indonesia diperkirakan melalui dua jalur, yaitu :

1. Jalur Utara, melalui Jazirah Arab - Damaskus Baghdad Gujarat (India) Ceylon (Srilanka) - Indonesia.

2. Jalur Selatan, melalui Jazirah Arab Yaman Gujarat (India) Ceylon (Srilanka) Indonesia.

B. Cara Penyebaran Islam di Indonesia

Kedatangan agama baru ini menarik perhatian penduduk lokal. Secara garis besar penyebaran Islam di Indonesia melalui tiga jalur, yaitu perdagangan, hubungan sosial (perkawinan dan politik), dan pengajaran (pesantren, tasawwuf dan kesenian).

1. Melalui Jalur Perdagangan.

Kesibukan lalu-lintas perdagangan sekitar abad ke-7 sampai abad ke-16 telah melibatkan pedagang-pedagang Muslim dari Arab, Persia dan India. Melalui transportasi laut mereka sampai di daerah pesisir Indonesia. Sambil berdagang mereka berdakwah baik melalui sikap mereka yang menampilkan sikap akhlakul karimah seperti berlaku jujur, sopan, ramah, benar dalam menakar dan menimbang barang dagangan (dawah bil hal); maupun secara lisan dengan menjelaskan ajaran-ajaran Islam secara langsung (dawah bil lisan).

Masuknya Islam dengan cara perdagangan ini sangat efektif, karena yang terlibat dalam urusan perdagangan bukan hanya rakyat kecil tetapi juga para bangsawan dan raja,

Recommended

View more >