wrap up emergency.doc

Download WRAP UP emergency.doc

Post on 24-Dec-2015

57 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

WRAP UP

BLOK EMERGENCY ( SKENARIO 1 )

PERDARAHAN PERSALINAN

KELOMPOK B.11

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS YARSI

2013/2014SKENARIO 1PERDARAHAN PERSALINANSeorang pasien 17 tahun dating ke IGD RSUD dengan hamil pertama dan keluhan nyeri perut dan perdarahan pervagina.Pasien mengaku hamil 32 minggu dihitung dari haid pertama haid terakhirnya (HPHT). Pasien tidak pernah melakukan antenatal care (ANC) sebelumnya.

Pasien mengalami kenaikan berat badan sampai 25vkg selama kehamilan ini diikuti edema tungkai dalam 4 minggu terakhir.Pasien tidak pernah mengkonsumsi suplemen besi atau vitamin lainnya.

Dari riwayat penyakit keluarga diketahui tidak ada riwayat penyakit ginjal, DM dan hipertensi dikeluarganya.

Dilakukan pemeriksaan fisik dengan hasil: keadaan umum tampak sakit sedang , tekanan darah 135/85 mmHg; frekuensi nadi 98x/menit; frekuensi nafas 26x/menit; suhu afebris. Dari status obstetric didapatkan tinggu fundus uteri 42 cm; denyut jantung janin I; 166x/menit dan II; 176x/menit simultan.Dilakukan pemeriksaan inspekulo tampak darah berwarna kehitaman mengalir dari OUI, pembukaan tidak ada.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang USG dengan hasil: kehamilan ganda letak sungsang dan hasil pemeriksaan laboratorium urin didapatkan protein +2. Dilakukan pemeriksaan CTG didapatkan tanda-tanda gawat janin.

Kata-kata sulit

pemeriksaan CTG: Cardiatokografi; pemeriksaan untuk melihat denyut jantung jantung janin dan kontraksi rahim ibu.Afebris

: tidak demamAntenatal care (ANC): pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan psikis ibu hamil.

Pertanyaan

1. Apakah ada hubungan tidak pernah mengkonsumsi suplemen besi dan vitamin dengan kegawat daruratan janin ?2. Apa saja antenatalcare (ANC) ?

3. Apa saja factor resiko dari perdarahan antepartum ?

4. Mengapa bisa didapatkan proteinuria ?

5. Mengapa darah berwarna kehitaman ?

6. Adakah pengaruh tidak melakukan Antenatal care (ANC) dengan keadaan ibu sekarang ?7. Apa tanda-tanda gawat janin ?

Jawaban1. Tidak ada, karena tidak ada anemia pada ibu

2. HPHT, usia kehamilan, denyut jantung janin, kondisi gizi ibu, letak janin

3. Hipertensi, usia ibu, kehamilan ganda

4. -,

5. Hipoksia, karena darah mengandung CO2

6. Ada, karena dengan melakukan ANC bisa mengetahui kondisi ibu

7. Denyut jantung janin lebih dari normal (120-160 x/menit), pemeriksaan CTG

Kesimpulan

Ibu hamil dengan mempunyai factor resiko seperti dilihat dari usia ibu, tidak pernah melakukan ANC. Sehingga bisa tidak terkontrol tekanan darah jadi hipertensi. Dan juga ibu yang mempunya bayi kembar lebih beresko memounya hipertensi. Setelah itu dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan CTG, pemeriksaan dengan hasil protein + 2. Didapatkan dri pemriksaan tersebut di diagnosis preeclampsia. Dengan komplikasi pendarahan antepartum, solusio placenta, gawat janin.SASARAN BELAJAR

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi dalam kehamilanLO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi LO 1.3 Memahami dan Menjelaskan Etiologi LO 1.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi LO 1.5 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi LO 1.6 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis LO 1.7 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis LI 2. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi dari PreeklampsiaLO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Perdarahan AntepartumLO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Solusio Plasenta LO 1.3 Memahami dan Menjelaskan Gawat JaninLI 3. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksaan dari PreeklampsiaLI 1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi dalam KehamilanLO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi

Hipertensi dalam kehamilan adalah adanya tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya normotensif, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan atau tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal. Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi.Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita pre-eklampsia, yang juga dapat disertai koma.LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi Dari data berbagai kepustakaan didapat angka kejadian preeklampsia di berbagai negara antara 7 10 % . Di Indonesia sendiri angka kejadian preeklampsia berkisar antara 3,4 8,5 % .

Pada penelitian di RS. Dr. Kariadi Semarang tahun 1997 didapatkan angka kejadian preeklampsia 3,7 % dan eklampsia 0,9 % dengan angka kematian perinatal sebesar 3,1 %. Sedang pada periode tahun 1997 1999 didapatkan angka kejadian preeklampsia 7,6 % dan eklampsia 0,15 %. Penelitian pada bulan Juni 2002 Februari 2004 di RS. Dr. Kariadi Semarang didapatkan 28,1 % kasus persalinan dengan preeklampsia berat. Dari data ini terlihat kecenderungan peningkatan angka kejadian preeklampsia di RS.Dr.Kariadi dari tahun ke tahun.

LO 1.3 Memahami dan Menjelaskan Etiologi

EtiologiTeori yang dianggap dapat menjelaskan etiologi dan patofisiologi PE harus dapat menjelaskan kenyataan bahwa HDK seringkali terjadi pada :1. Mereka yang terpapar pada villi chorialis untuk pertama kalinya ( pada nulipara )

2. Mereka yang terpapar dengan villi chorialis yang berlimpah ( pada kehamilan kembar atau mola )

3. Mereka yang sudah menderita penyakit vaskular sebelum kehamilan.

4. Penderita dengan predisposisi genetik Hipertensi .Menurut Sibai (2003), faktor-faktor yang berpotensi sebagai etiologi :1. Invasi trofoblastik abnormal kedalam vasa uterina.

2. Intoleransi imonologi antara maternal dengan jaringan feto-maternal .

3. Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau inflamasi selama kehamilan.

4. Defisiensi bahan makanan tertentu ( nutrisi ).

5. Pengaruh genetik. Beberapa faktor resiko ibu terjadinya preeklampsi:

1) Paritas

Kira-kira 85% preeklamsi terjadi pada kehamilan pertama. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari kejadian preeklamsi dan risiko meningkat lagi pada grandemultigravida (Bobak, 2005). Selain itu primitua, lama perkawinan 4 tahun juga dapat berisiko tinggi timbul preeklamsi (Rochjati, 2003)

2) Usia

Usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 23-35 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan bersalin pada usia dibawah 20 tahun dan setelah usia 35 tahun meningkat, karena wanita yang memiliki usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun di anggap lebih rentan terhadap terjadinya preeklamsi (Cunningham, 2006). Selain itu ibu hamil yang berusia 35 tahun telah terjadi perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi sehingga lebih berisiko untuk terjadi preeklamsi (Rochjati, 2003).

3) Riwayat hipertensi

Riwayat hipertensi adalah ibu yang pernah mengalami hipertensi sebelum hamil atau sebelum umur kehamilan 20 minggu.Ibu yang mempunyai riwayat hipertensi berisiko lebih besar mengalami preeklamsi, serta meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal lebih tinggi.

4) Sosial ekonomi

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita yang sosial ekonominya lebih maju jarang terjangkit penyakit preeklamsi.Secara umum, preeklamsi/eklamsi dapat dicegah dengan asuhan pranatal yang baik. Namun pada kalangan ekonomi yang masih rendah dan pengetahuan yang kurang seperti di negara berkembang seperti Indonesia insiden preeklamsi/eklampsi masih sering terjadi (Cunningham, 2006)

5) Hiperplasentosis /kelainan trofoblast

Hiperplasentosis/kelainan trofoblas juga dianggap sebagai faktor predisposisi terjadinya preeklamsi, karena trofoblas yang berlebihan dapat menurunkan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya mempengaruhi aktivasi endotel yang dapat mengakibatkan terjadinya vasospasme, dan vasospasme adalah dasar patofisiologi preeklamsi/eklamsi. Hiperplasentosis tersebut misalnya: kehamilan multiple, diabetes melitus, bayi besar, 70% terjadi pada kasus molahidatidosa (Prawirohardjo,2008; Cunningham, 2006).6) Genetik

Genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotip janin. Telah terbukti pada ibu yang mengalami preeklamsi 26% anak perempuannya akan mengalami preeklamsi pula, sedangkan 8% anak menantunya mengalami preeklamsi. Karena biasanya kelainan genetik juga dapat mempengaruhi penurunan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya mempengaruhi aktivasi endotel yang dapat menyebabkan terjadinya vasospasme yang merupakan dasar patofisiologi terjadinya preeklamsi/eklamsi (Wiknjosastro, 2008; Cunningham, 2008).

7) Obesitas

Obesitas adalah adanya penimbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Obesitas merupakan masalah gizi karena kelebihan kalori, biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan gula dan garam yang kelak bisa merupakan faktor risiko terjadinya berbagai jenis penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung koroner, reumatik dan berbagai jenis keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain.Hubungan antara berat badan ibu dengan risiko preeklamsia bersifat progresif, meningkat dari 4,3% untuk wanita dengan indeks massa tubuh kurang dari 19,8 kg/m2 terjadi peningkatan menjadi 13,3 % untuk mereka yang indeksnya 35 kg/m2 (Cunningham, 2006; Mansjoer, 2008)LO 1.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi

1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan.2. Preeklamsi adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria.3. Eklamsi