Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)ik.pom.go.id/v2015/artikel/Waspada-Keracunan-Phenylpropanolamin-PPA1.pdf ·…

Download Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)ik.pom.go.id/v2015/artikel/Waspada-Keracunan-Phenylpropanolamin-PPA1.pdf ·…

Post on 10-Jun-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>1 </p> <p>Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) </p> <p>Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan </p> <p>banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian, untuk mengatasi gejala-gejala flu </p> <p>yang seringkali mengganggu, penggunaan obat flu kadangkala juga diperlukan. Obat flu biasa dijual </p> <p>bebas dan mudah didapat. Obat flu yang dijual di pasaran sangat bervariasi, mulai dari merk dan </p> <p>komposisinya. </p> <p>Salah satu obat flu yang cukup banyak digunakan di masyarakat adalah obat flu yang mengandung </p> <p>Phenylpropanolamin (PPA). PPA biasa ditemukan dalam komposisi obat flu bersamaan dengan analgesik </p> <p>seperti parasetamol, antihistamin seperti klorfeniramin maleat, atau juga pada obat batuk. PPA bekerja </p> <p>sebagai dekongestan, yang berguna untuk menghilangkan/melonggarkan hidung tersumbat dengan cara </p> <p>menyempitkan pembuluh darah mukosa pada hidung. </p> <p>Sebagai dekongestan, PPA dapat diminum dalam berbagai dosis. Pada anak-anak usia 26 tahun, dosis </p> <p>PPA adalah 6,2525 mg/hari, sedangkan pada anak-anak 612 tahun, dosis PPA yang digunakan adalah </p> <p>12,550 mg/hari, dengan dosis maksimalnya adalah 75 mg/hari. Dosis PPA untuk orang dewasa adalah </p> <p>25100 mg/hari dengan dosis maksimal 150 mg/hari. </p> <p>Di samping memiliki efek dekongestan, PPA juga memiliki efek sebagai penekan nafsu makan, sehingga </p> <p>di luar negri PPA banyak digunakan oleh para wanita sebagai obat untuk menurunkan berat badan. </p> <p>Tetapi kemudian muncul kasus peningkatan risiko terjadinya stroke hemoragik/perdarahan akibat </p> <p>mengkonsumsi PPA dengan dosis sebagai obat penurun berat badan, sehingga US FDA (Food and Drug </p> <p>Administration) menarik semua produk yang mengandung PPA dari pasaran. </p> <p>Pada tahun 2009, Badan POM telah mengeluarkan press release yang menyatakan bahwa di Indonesia </p> <p>PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan </p> <p>batuk, dan tidak pernah disetujui sebagai obat penurun berat badan. Obat flu dan batuk yang </p> <p>mengandung PPA di Indonesia telah mendapat izin edar aman dikonsumsi sesuai aturan pakai yang telah </p> <p>ditetapkan. </p> <p>Gejala Keracunan Phenylpropanolamine (PPA) </p> <p>Keracunan PPA dapat terjadi karena konsumsi PPA dengan dosis yang berlebih. Toksisitas dapat terjadi </p> <p>setelah mengkonsumsi PPA pada dosis yang melebihi 23 kali dosis terapinya, seperti pada </p> <p>penyalahgunaan PPA di Amerika sebagai obat untuk menurunkan berat badan, dengan dosis sekitar </p> <p>300350 mg/hari. </p> <p>2 </p> <p>Phenylpropanolamine bekerja dengan menstimulasi sistem adrenergik dalam tubuh. Efek yang </p> <p>ditimbulkan pada reseptor alfa adrenergik bervariasi. PPA juga menghasilkan stimulasi ringan beta-1-</p> <p>adrenergik dan bekerja secara tidak langsung dalam meningkatkan pelepasan norepinefrin. Hal ini yang </p> <p>membuat PPA memiliki fungsi sebagai vasokonstriktor (menyempitkan pembuluh darah). </p> <p>Menurut US FDA mengkonsumsi PPA dalam jumlah besar diduga menimbulkan pendarahan di otak. Saat </p> <p>PPA digunakan dalam dosis terapi, maka efek vasokonstriksi (penyempitan/penciutan pembuluh darah) </p> <p>yang terjadi relatif lebih terkendali, utamanya terjadi di pembuluh darah tepi pada mukosa hidung </p> <p>(sehingga menyebabkan longgarnya hidung yang tersumbat). Namun, saat PPA dikonsumsi melebihi </p> <p>dosis terapinya maka efek toksiknya akan muncul. Vasokonstriksi dapat terjadi secara sistemik di seluruh </p> <p>tubuh, termasuk pada pembuluh darah di otak. Efek toksik utama dari obat ini adalah hipertensi, yang </p> <p>kemudian dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, seizure (kejang), bahkan pendarahan otak. Selain </p> <p>itu, efek toksik dari penggunaan PPA dengan dosis berlebih adalah pendarahan otak, yang dapat terjadi </p> <p>pada pasien muda yang sehat, setelah terjadi peningkatan tekanan darah yang cukup signifikan </p> <p>(misalnya 170/110 mmHg) dan seringkali berhubungan dengan defisit neurologi, koma, dan seizure </p> <p>(kejang). Selain itu, dapat terjadi juga bradikardia (perlambatan denyut jantung) atau penyumbatan </p> <p>atrioventrikular, yang umum ditemukan pada pasien penderita hipertensi berat yang berhubungan </p> <p>dengan konsumsi PPA. Terjadinya infark miokardial dan nekrosis miokardial juga dihubungkan dengan </p> <p>keracunan PPA dosis tinggi. </p> <p>Penegakan Diagnosis </p> <p>JIka terjadi keracunan, penegakan diagnosis biasanya berdasarkan pada catatan penggunaan PPA </p> <p>sebagai dekongestan atau penyalahgunaan sebagai obat pelangsing pada pasien serta timbulnya </p> <p>hipertensi. Adanya gejala sakit kepala yang berat, gangguan neurologis, atau koma dapat meningkatkan </p> <p>terjadinya pendarahan otak. </p> <p>Perlu dilakukan pemeriksaan spesifik, seperti pemeriksaan urin. Perlu diperhatikan dalam pemeriksaan </p> <p>urin bahwa PPA juga bisa menyebabkan hasil positif dari obat amfetamin, tetapi bisa dibedakan dari tes </p> <p>konfirmasi. Pemeriksaan laboratorium lainnya yang penting antara lain: pemeriksaan elektrolit, glukosa, </p> <p>kadar urea dalam darah (Blood Urea Nitrogen, BUN), kreatinin, kreatin fosfokinase dengan isoenzim MB, </p> <p>12-lead EKG dan monitoring EKG, serta CT scan kepala jika diduga terjadi pendarahan otak. </p> <p>3 </p> <p>Penanganan Keracunan </p> <p>A. Penanganan pada saat darurat dan perawatan suportif </p> <p> Jaga jalan nafas dan bantu ventilasi, jika diperlukan berikan oksigen tambahan. </p> <p> Atasi hipertensi, seizure (kejang), dan takiaritmia ventrikular jika terjadi. Jangan atasi </p> <p>bradikardia yang terjadi tiba-tiba (refleks), kecuali dengan menurunkan tekanan darah secara </p> <p>tidak langsung. </p> <p> Monitor tanda vital dan EKG selama 46 jam setelah konsumsi PPA overdosis, dan monitor </p> <p>lebih lama jika pasien mengonsumsi PPA tablet sustained-release (lepas lambat) </p> <p>(Lange, 2007) </p> <p>B. Antidotum </p> <p>Tidak ada antidotum khusus untuk zat ini. </p> <p>C. Dekontaminasi </p> <p>Segera berikan arang aktif dosis tunggal setelah 3060 menit menelan PPA dalam bentuk sediaan </p> <p>cair dan 2 jam setelah menelan PPA dalam bentuk sediaan kapsul/tablet, dengan dosis: </p> <p>o Anak-anak: 12 gram/kg secara oral. </p> <p>o Dewasa: 50100 gram/kg secara oral. </p> <p>D. Eliminasi </p> <p> Diuresis asam </p> <p>PPA yang termasuk golongan obat simpatomimetik dieliminasi oleh ginjal, waktu paruhnya </p> <p>menurun jika pH urinnya rendah. Pengasaman urin dapat meningkatkan eliminasi zatnya, tetapi </p> <p>pada pasien dengan kondisi mioglobinuria merupakan kontraindikasi. Pengasaman ini dapat </p> <p>memperburuk kondisi pasien karena dapat mengendapkan mioglobin pada gagal ginjal. </p> <p> Hemodialisis </p> <p>Dialisis peritoneal dan hemodialisis dapat meningkatkan eliminasi zat tersebut, tetapi efikasi </p> <p>klinis pada pasien yang overdosis belum terbukti. </p> <p>Pencegahan Keracunan </p> <p> Penggunaan PPA hanya diperuntukan sebagai obat flu, sesuai dengan dosis yang dianjurkan, </p> <p>bukan sebagai obat untuk menurunkan berat badan. </p> <p> Mengkonsumsi PPA jika hanya diperlukan, sesuai dengan anjuran dokter, dan dalam dosis yang </p> <p>sesuai. </p> <p>4 </p> <p> Baca cara penggunaan dan aturan pakai konsumsi obat flu, terutama yang mengandung PPA. </p> <p> Jika gejala flu sudah sembuh, penggunaan obat flu, dapat dihentikan. Jika gejala flu tidak </p> <p>kunjung sembuh, segera kontak kembali dokter untuk evaluasi pengobatan. </p> <p> Apabila dicurigai telah terjadi keracunan PPA, segera hubungi Sentra Informasi Keracunan atau </p> <p>dokter setempat untuk mendapatkan informasi dan petunjuk seputar penanganan keracunan. </p> <p>Pustaka: </p> <p>1. Tatro, D.S. 2003. A to Z Drugs Facts 4th edition. Facts and Comparisons </p> <p>2. Olson, K. R., 2007, Lange Poisoning and Drug Overdose 4th ed. , McGraw-Hill Inc., p. 322324 </p> <p>3. Press Release Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia tentang Penjelasan </p> <p>terkait Informasi Obat Flu dan Batuk yang Mengandung Phenylpropanolamine (PPA) Nomor </p> <p>KH.00.01.1.3.1673, Tanggal 16 April 2009 </p> <p>4. http://www.toxinz.com/Spec/2222161, akses tanggal 12 April 2012 </p> <p> -monik </p> <p>http://www.toxinz.com/Spec/2222161</p>