vol. 2: narasi

Click here to load reader

Post on 12-Jan-2017

232 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    ruang | kreativitas tanpa batas

    RUANG April 2016

    #10P E M E R I N T A H

    VOL. 2: NARASIAyos Purwoaji - Davide Sacconi - Derrick Andika Juda - Maria

    Shhrazade Giudici - Noa Haim - Rifandi S. Nugroho - Rofianisa Nurdin - Savitri Sastrawan - Siti Amrina Rosada

    - Sri Suryani

  • 2

    edisi #10: Pemerintah

  • 3

    ruang | kreativitas tanpa batas

    RUANG #10: PEMERINTAH

    vol. 2: Narasi

    Maria Shhrazade Giudici

    Davide Sacconi

    Ayos Purwoaji

    Derrick Andika Juda

    Siti Amrina Rosada

    Noa Haim

    Sri Suryani

    Rifandi S. Nugroho

    Savitri Sastrawan

    Rofianisa Nurdin

    tidak akan terwujud tanpa kontribusi dari:

  • 2

    edisi #10: Pemerintah

    Apakah pemerintah dan masyarakat memiliki visi dan aspirasi yang sama tentang kota? Bagaimana membangun komunikasi yang produktif antara pemerintah dan masyarakat? Lantas, apa peranan arsitek dalam hal ini?

    Pemerintah telah mengikutsertakan perencana kota dalam merencanakan pembangunan; namun uji kompetensi atau tender yang tidak terlaksana dengan baik, beserta kultur KKN yang masih mewabah, membuat banyak hasil pembangunan tidak terlaksana dengan baik atau mengusulkan strategi yang tidak tepat. Akhirnya, arsitek seringkali terjebak dalam konflik antara pemerintah dan masyarakatnya. Idealnya, arsitek harus bersikap sebagai penengah yang memediasi aspirasi masyarakat dengan visi pemerintah. Namun seringkali arsitek hanya berpihak pada satu sisi, atau malah memilih sisi ke-empat: pasar.

    Bagian kedua dari Ruang edisi #10: Pemerintah, menawarkan narasi dalam membaca praktek-praktek yang berlangsung; seperti realita lapangan yang seolah berjarak dengan visi, fenomena-fenomena politis keruangan atau pengaturan pengalaman ruang-ruang kota yang membentuk manusia. Ruang bersyukur mendapat masukan dari berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan. Penyelenggara negara, praktisi arsitektur dan perencana kota, akademisi, seniman, aktivis, pengamat, serta pecinta arsitektur dan kota menawarkan beragam sudut pandang untuk membedah kompleksitas permasalahan tadi. Campuran antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ataupun bahasa Indonesia-Inggris memperkaya kemungkinan-kemungkinan yang membebaskan, bukan malah memenjarakan. Semoga artikel-artikel ini memancing kita dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

    Wacana akan dibuka oleh Maria Sheheraza de Guidici dan Davide Sacconi dari AA School, City and Power: 12 Tales from a Present Future, yang membahas tentang relasi antara kota dan kekuasaan melalui sebuah kolaborasi eksperimental bersama 12 arsitek dan praktisi kolektif. Kemudian Ayos Purwoaji dari AYOREK Surabaya bercerita tentang Kota dan Narasi yang Majemuk, bahwasanya kota justru dibentuk oleh fragmen-fragmen kecil yang kemudian menjadi identitas kolektif. Sementara Derrick Andika Juda, desainer urban di AECOM Jakarta, menyumbangkan bagian dari tesis masternya yang bertajuk Pasar Senen: How Life Between Buildings Matters in Market Revitalisation. Selanjutnya, Siti Amrina Rosada menjabarkan observasinya tentang Arsitek dalam Profesi: Peran, Posisi, dan Potensi, yang kembali kepada pertanyaan: apakah menjalani profesi arsitek saja akan cukup untuk bersetia pada arsitektur?

    Noa Haim, founder dari Collective Paper Aesthetic Rotterdam, bercerita tentang proyek yang terinspirasi dari karya Buckminster Fuller dan memiliki tujuan untuk menjadi instrumen berpikir untuk arsitektur dan perencanaan kota berdasarkan konsep partisipatif, How Can We Make Places People Truly Love?. Sri Suryani, seorang lulusan UCL yang tinggal di Jakarta, menangkap fenomena realitas kaum marjinal di ibukota tersebut melalui tulisan Di Atas Kertas. Lalu, Rifandi S. Nugroho dari komunitas Kami Arsitek Jengki Surabaya, membahas tentang Tiga Orang yang Berperan di Awal Kemerdekaan dalam upaya merefleksikan gambaran akan pahit dan manisnya bersinergi bersama pemerintah pada masa tersebut. Seorang seniman bernama D.A.E. Savitri Sastrawan, akan mengusung artikel Bali: We Now Devote Ourselves to the God of (US) Dollar yang bercerita tentang pergeseran nilai pada pariwisata Bali dan pergerakan seniman untuk mengekspresikan kritik mereka kepada pemerintah melalui karya seni. Di akhir wacana, Rofianisa Nurdin, penggagas CreativeMornings Jakarta, akan menutup rangkaian narasi dengan mengangkat observasinya pada Umbrella Movement Hong Kong tahun 2014 silam, Tentang Hong Kong: Okupasi Kota dan Bangkitnya Kesadaran Politik Kaum Muda.

    Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai yang mereka bawa.

    Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

    PEMBUKARUANG

  • City and Power: 12 Tales From A Present FutureDavide Sacconi & Maria S. Giudici

    Kota dan Narasi Yang MajemukAyos Purwoaji

    Pasar Senen: How Life Between Buildings Matters in Market RevitalizationDerrick Andika Juda

    Arsitek Dalam Profesi: Peran, Posisi dan PotensiSiti Amrina Rosada

    How Can We Make Places People Truly Love?Noa Haim

    Di Atas KertasSri Suryani

    Tiga Orang Yang Berperan Di Awal KemerdekaanRifandi S. Nugroho

    Bali: We Now Devote Ourselves To The God of (US) DollarsD.A.E. Savitri Sastrawan

    Tentang Hongkong: Okupasi Kota dan Bangkitnya Kesadaran Politik Kaum MudaRofianisa Nurdin

    ISIvol.2: Narasi

    essay

    esai

    essay

    esai

    essay

    esai

    esai

    esai

    essay

    7

    23

    31

    37

    45

    51

    59

    69

    77

  • K O N T R I B U T O RAyos PurwoAji adalah

    seorang penggemar wacana dan arsip arsitektur. Sehari-hari

    menjalankan peran sebagai dosen ilmu budaya di sebuah universitas

    swasta di Surabaya.

    DAviDe sAcconi is an architect and PhD candidate at the

    Architectural Association of London. He graduated with honors from

    the Universit degli Studi di Roma Tre and earned his postgraduate research diploma at the Berlage

    Institute of Rotterdam. He worked for IaN+ and MVRDV. In 2012-14 he has taught in the MArch Urban

    Design program at the Bartlett School of Architecture UCL and since 2014 he has been a Visiting

    Professor at the Syracuse University London Program, at the Liverpool University and visiting critic at the

    Architectural Association. Together with Luca Galofaro, Gianfranco Bombaci and Matteo Costanzo

    (2A+P/A) he is the co-founder of CAMPO, a space to study, debate

    and celebrate architecture.

    DerricK juDA AnDiKA is an urban designer working at a

    multidisciplinary built environment consultancy company in Jakarta.

    Graduated from School of Architecture, Planning and Policy

    Development at Institut Teknologi Bandung, he then pursued further

    education and obtained an MA degree in Urban Design from the

    University of Westminster, London, UK. He now lives in Jakarta and

    practices urban design at AECOM Indonesia..

    AP

    Ds

    Dj

    Dss

    ms

    D.A.e. sAviTri sAsTrAwAn is a Balinese nomad, DewaAyuEka Savitri Sastrawan is an arts and language freelancer. She is an artist, a Bahasa Indonesia - English translator, and currently completing Masters in Global Arts at Goldsmiths, University of London. She previously studied Fine Art Painting at ISI Denpasar, Bali and Chelsea College of Art and Design, UAL, UK. Her research interest is to explore the interdisciplinary possibilities in the arts and language within the global society and culture.

    maria shhrazade Guidici earned her MA in Architecture from Mendrisio Academy, Switzerland, with an award winning project for Venice developed in Elia Zenghelis unit. She worked between 2005 and 2007 in Bucharest-based office BAU before graduating at the Berlage Institute in 2009 with the team thesis Rome-The Centres Elsewhere, published in fall 2010 by Skir. (quoted from The City as a Project)

  • K O N T R I B U T O RroFiAnisA nurDin menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Menggemari sastra dan arsitektur kota, dan diam-diam berkhayal ingin mengambil kuliah filologi. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura.

    siTi AmrinA rosADA, di tahun 2013 lalu menjadi lulusan Arsitektur Brawijaya, saat ini menetap di Palangka Raya. Sampai saat ini kebanyakan berkarya lewat fotografi, tulisan, dan arsitektur.

    sri suryAni, arsitek amatir. yang telah menyelesaikan program master di Development Planning Unit The Bartlett UCL jurusan Building and Urban Design in Development pada bulan September 2015. Saat ini sedang belajar di Yayasan Ciliwung Merdeka dan penelitian mandiri tentang politik ruang dan pengetahuan. Berharap suatu saat bisa membangun taman kanak-kanak dan melukis setiap hari.

    noA HAim (Jerusalem, 1975) master of architecture, designer,

    journalist and contributing editor based in Rotterdam, Nederland where she graduated from The

    Berlage Institute (2004). Following a presentation of her graduation work in a form of participatory

    activity within London Festival of Architecture 2008, she established her design studio Collective Paper

    Aesthetics. In collaboration with museums, science centres, cultural and educational organizations the

    studio is developing educational toys, hands-on furnishing