ustek mk lokasi belawan.doc

Download Ustek MK Lokasi belawan.doc

Post on 24-Sep-2015

173 views

Category:

Documents

112 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MANAJEMEN KONSTRUKSI ( MK )

PAGE

MANAJEMEN KONSTRUKSI ( MK )

PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) LOKASI MEDAN BELAWANA. PENDAHULUAN

A.1LATAR BELAKANG

Kebutuhan akan rumah di perkotaan meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hasil kajian tim studi pasar perumahan di Indonesia (HOMI Project), menunjukkan bahwa jumlah penduduk berpenghasilan rendah (kurang dari Rp. 1,3 juta per bulan) masih merupakan jumlah terbesar, yaitu sekitar 65% dari total jumlah penduduk perkotaan. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk 4,2% sepanjang tahun 1990-2000, maka kebutuhan perumahan yang diperlukan mencapai sekitar 800.000 rumah baru setiap tahun, belum termasuk jumlah kebutuhan perumahan yang belum tuntas terpenuhi di tahun sebelumnya (backlog). Kenyataannya, hanya 20% dari total kebutuhan unit rumah tersebut yang dapat dipenuhi, selebihnya diupayakan sendiri oleh masyarakat (tumbuh alami) dengan rancangan dan kualitas masing-masing unit rumah yang beragam.

Migrasi penduduk yang sangat cepat telah menimbulkan dampak di daerah perkotaan, salah satunya adalah tumbuhnya permukiman kumuh (slum) dan permukiman kumuh di lahan ilegal (squatter settlements). Permukiman kumuh dan ilegal tersebut membawa implikasi berbagai bentuk masalah sosial, seperti : minimnya penyediaan prasarana dan sarana lingkungan, munculnya kriminalitas di daerah perkotaan, menurunnya tingkat kesehatan masyarakat, dan lain-lain.

Visi pembangunan perumahan dan permukiman menekankan papan sebagai kebutuhan dasar. Penekanan ini mengandung arti bahwa setiap orang atau keluarga Indonesia berhak menempati rumah yang layak dan terjangkau di dalam lingkungan permukiman yang sehat, aman, dan berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat yang berjati diri, mandiri dan produktif. Sedangkan dalam mengemban misi penyelenggaraan perumahan, kemampuan pemerintah sangat terbatas, disamping itu iklim pembangunan perumahan saat ini belum cukup mendukung percepatan pemenuhannya. Oleh sebab itu perlu menggali sumber daya dan potensi masyarakat dalam penyelenggaraan perumahan bagi rakyat Indonesia.

Paradigma pembangunan saat ini sangat menjaga stabilitas lingkungan, baik sosial maupun alami sebagai habitat manusia. Lebih jauh lagi telah dipahami bahwa penyediaan perumahan dan permukiman sudah tidak dapat lagi dengan membuka lahan baru (lahan produktif pertanian) di pinggiran kota urban sprawl. Dengan demikian penyediaan perumahan dan permukiman di perkotaan harus menghemat lahan dan memanfaatkan aset-aset kota yang sudah ada secara optimal. Program-program peremajaan kembali lingkungan perumahan dan permukiman (housing renewal) dan infill housing di kawasan pusat kota merupakan salah satu solusi yang banyak dipilih di beberapa kota metropolitan di dunia.

Gagasan pembangunan perumahan sederhana secara vertikal, rumah susun sederhana, belum banyak diminati masyarakat umum. Kondisi ekonomi dan sosial di Indonesia belum memungkinkan untuk meningkatkan laju pembangunan perumahan, khususnya rumah susun. Selain itu budaya hidup secara horizontal yang masih kuat, mengakibatkan masih banyak penduduk yang enggan menempati rumah susun, karena dianggap tidak sesuai dengan pola dan disiplin hidup mereka. Namun demikian bentuk perumahan vertikal masih dipandang sebagai pemecahan yang relevan dalam menangani masalah perumahan di kota-kota besar. Upaya-upaya dilakukan agar sebagian rakyat Indonesia dapat menempati rumah yang layak dan terjangkau, diantaranya melalui penyelenggaraan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa).

Pemerintah pada tahun 2007 akan membangun rumah susun sederhana berbasis sewa di 21 lokasi di Indonesia. Untuk itu diperlukan pembangunan Rusunawa yang relevan dengan kondisi aktual Indonesia khususnya di 21 lokasi tersebut. Pembangunan rumah susun yang dimaksud, bukan hanya memenuhi kriteria maupun persyaratan secara teknis konstruksi, namun juga sebagai bangunan yang mempunyai wujud arsitektural yang baik dan sehat (healthybuilding), sekaligus mencerminkan khasanah arsitektur yang berkembang di Indonesia; secara penataan bangunan diatur secara benar (sesuai peraturan) dan ramah lingkungan; dan secara pengaturan ruang efektif dan efisien. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa desain rumah susun ini secara sosial budaya dapat diterima oleh masyarakat Indonesia; secara ekonomis/finansial layak bangun dan mampu dimanfaatkan/terjangkau oleh kelompok sasarannya.

A.2.MAKSUD DAN TUJUAN

KAK MANAJEMEN KONSTRUKSI PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) dimaksudkan sebagai pedoman penugasan yang harus diikuti bagi Konsultan Manajemen Konstruksi Rusunawa dalam melaksanakan pekerjaannya; serta ditujukan untuk mendapatkan proses pembangunan Rusunawa beserta prasarananya yang efisien (laik fungsi dan terjangkau), efektif (disain rumah yang sudah mempertimbangkan budaya dan pola hidup calon penghuni), dan berkelanjutan (menjadi contoh yang baik bagi lingkungan, kawasan dan kotanya)A.3SASARAN

Sasaran dari MANAJEMEN KONSTRUKSI PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) ini adalah :

1. Terarahnya pelaksanaan program pembangunan Rusunawa pada khususnya, dan perumahan permukiman pada umumnya.

2. Tersedianya landasan/dasar bagi Pemerintah Daerah dalam membuat keputusan/pertimbangan dalam pembangunan Rusunawa.

3.Terkendalikannya proses perenacanaan konstruksi dan pelaksanaan konstruksi Rusunawa secara berkualitas, tepat waktu, dalam batas biaya yang tersedia, serta diselenggarakan secara tertib.A.4NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA

Satuan Kerja Pelaksanaan Pengembangan Permukiman Ditjen Cipta Karya, Dep. Pekerjaan Umum.

A.5LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG SERTA ALIH PENGETAHUAN.

a. Lingkup Tugas

Manajemen konstruksi Pembangunan Rusunawa yang berlokasi di daerah yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setempat, dengan spesifikasi umum sebagai berikut:

luas bangunan: + 3200 m2

jumlah lantai bangunan maksimum 4 (empat) lantai

lantai dasar bangunan diperuntukkan untuk Fasilitas Ekonomi

jumlah unit rumah susun: 96 unit. Dengan luas 21 m2 per unit.

b. Lingkup Pekerjaan

Kegiatan Manajemen Konstruksi meliputi pengendalian waktu, biaya, pencapaian sasaran fisik (kuantitas dan kualitas), dan tertib administrasi di dalam pembangunan bangunan Rusunawa, mulai dari tahap persiapan/ perencanaan sampai dengan tahap pelaksanaan konstruksi. Kegiatan Manajemen Konstruksi terdiri atas:

a.meneliti kelengkapan dokumen perencanaan dan dokumen pelelangan, menyusun program pelaksanaan pelelangan bersama konsultan perencana, dan ikut memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu pelelangan, serta membantu kegiatan panitia pelelangan.

b.menyusun laporan dan berita acara dalam rangka kemajuan pekerjaan dan pembayaran angsuran pekerjaan perencanaan.

c.mengadakan dan memimpin rapat-rapat koordinasi perencanaan, menyusun laporan hasil rapat koordinasi, dan membuat laporan kemajuan pekerjaan manajemen konstruksi.

1.Tahap Pelelangan

a.membantu Pengelola Proyek dalam mempersiapkan dan menyusun program pelaksanaan pelelangan pekerjaan konstruksi fisik.

b.membantu Panitia Lelang dalam menyusun Harga Perhitungan Sendiri (Owners Estimate) pekerjaan konstruksi fisik.

c.membantu Panitia Lelang melakukan pra-kualifikasi calon peserta pelelangan.

d.membantu Panitia Lelang dalam penyebarluasan pengumuman pelelangan, baik melalui papan pengumuman, media cetak, maupun media elektronik.

e.membantu memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu rapat penjelasan pekerjaan.

f.membantu melakukan pembukaan dan evaluasi terhadap penawaran yang masuk

g.membantu menyiapkan draft surat perjanjian pekerjaan pelaksanaan konstruksi fisik.

h.menyusun laporan proyek tahap pelelangan.

2.Tahap Pelaksanaan

a.mengevaluasi program kegiatan pelaksanaan konstruksi fisik yang disusun oleh pemborong, yang meliputi program-program pencapaian sasaran konstruksi, penyediaan dan penggunaan tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan, bahan bangunan, informasi, dana, program Quality Assurance/Quality Control, dan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

b.mengendalikan program pelaksanaan konstruksi fisik, yang meliputi program pengendalian sumber daya, pengendalian biaya, pengendalian waktu, pengendalian sasaran fisik (kuantitas dan kualitas) hasil konstruksi, pengendalian perubahan pekerjaan, pengendalian tertib administrasi, pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja,

c.melakukan evaluasi program terhadap penyimpangan teknis dan manajerial yang timbul, usulan koreksi program dan tindakan turun tangan, serta melakukan koreksi teknis bila terjadi penyimpangan.

d.melakukan koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan konstruksi fisik.

e.melakukan kegiatan pengawasan yang terdiri atas:

i. memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan konstruksi yang akan dijadikan dasar dalam pengawasan pekerjaan di lapangan.

ii. mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan, serta mengawasi ketepatan waktu, dan biaya pekerjaan konstruksi.

iii. mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas, dan laju pencapaian volume/ realisasi fisik.

iv. mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan persoalan yang terjadi selama pekerjaan konstruksi.

v. menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secara berkala, membuat laporan mingguan dan bulanan pekerjaan pengawasan, dengan masukan hasil rapat-rapat lapangan, laporan harian, mingguan dan bulanan pekerjaan konstruksi yang dibuat oleh pemborong.

vi. menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan untuk pembayaran angsuran, pemeliharaan pekerjaan, dan serah terima pertama dan kedua pek