unud-293-234525099-bab iv

Download unud-293-234525099-bab iv

Post on 26-Dec-2015

4 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • BAB IV

    ANALISIS PROSPEK PENGAJUAN PENINJAUAN KEMBALI

    PERKARA PIDANA OLEH JAKSA

    4.1. Penyimpangan Dalam Penerimaan Pengajuan Peninjauan Kembali yang

    Diajukan Jaksa oleh Mahkamah Agung

    Putusan Mahkamah Agung yang telah menerima permintaan peninjauan kembali

    yang diajukan oleh jaksa dalam beberapa kasus yang telah ada, seperti putusan kasus

    Muchtar Pakpahan, Kasus Ram Gulumal alias V. Ram (The Gandhi Memorial School),

    kasus Soetiyawati maupun kasus Pollycarpus Budihari Priyanto, dapat dikatakan sebagai

    keputusan yang berani. Putusan-putusan tersebut oleh sebagian orang dianggap sebagai

    putusan yang kontroversial, karena dianggap tidak melaksanakan aturan formal atau

    telah bertindak melebihi ketentuan hukum acara mengenai hal pengaturan permintaan

    peninjauan kembali terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

    Putusan-putusan Mahkamah Agung tersebut terlihat lebih memperhatikan

    perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dari pada mengikuti ketentuan undang-

    undang. Mahkamah Agung terlihat tidak fanatik terhadap ajaran positivisme atau

    analytical positivism atau rechtsdogmatiek yang cenderung melihat bahwa hukum

    sebagai suatu yang otonom, yang tujuannya tidak lain sekedar mencapai atau

    terwujudnya kepastian hukum. Mahkamah Agung juga sepertinya telah berfikir

    sebagaimana aliran realisme hukum yang tidak hanya berkutat pada pengongkritan

    undang-undang, sebagaimana aliran realisme hukum Amerika ataupun realisme hukum

    Skandinavia.

    149

  • 150

    Menurut pemikir-pemikir tentang hukum di Amerika seperti Oliver Wendell

    Holmes, bahwa seorang sarjana hukum harus menghadapi gejala-gejala hidup secara

    realistis.142 Dalam pendapat yang lain, menurut Benyamin Nathan Cardozo, salah

    seorang pemikir hukum Amerika berpandangan, bahwa :

    1. Hukum adalah kegiatan hakim di pengadilan yang terikat pada tujuan hukum, yaitu kepentingan umum.

    2. Hakim bebas memutus, tetapi dengan batasan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.143

    Hampir sejalan dengan aliran realisme hukum Amerika, dalam aliran realisme

    hukum Skandinavia, sebagaimana pendapat salah satu tokohnya yaitu Axel Hagerstrom,

    bahwa ilmu pengetahuan hukum harus bertitik tolak dari kenyataan-kenyataan empiris

    yang relevan dalam bidang hukum.144 Demikian juga pendapat Ander Vilhelm

    Lundstedt, bahwa hukum positif sama sekali tidak mewajibkan. Undang-undang hanya

    merumuskan bagaimana kelakuan biasa orang dalam suatu situasi tertentu.145 Seperti

    halnya Lundstedt, pemikir hukum lainya bernama Karl Olivecrona juga berpendapat,

    bahwa :

    Aturan hukum merupakan sejumlah peraturan. Peraturan-peraturan itu mempunyai pengaruh psikologis yang agak besar atas kelakuan orang. Pengaruh ini berpautan dengan organisasi kekuasaan fisik, yakni negara. Kekuasaan itu menakutkan orang untuk tidak melanggar peraturan-peraturan itu. Peraturan-peraturan hukum ditanggapi sebagai norma moral. Melalui propaganda orang-orang dibawa pada keyakinan bahwa mereka harus mentaati peraturan tersebut. Akan tetapi memang tidak terdapat peraturan yang normatif, terdapat hanya kenyataan saja.146

    Putusan Mahkamah Agung dalam kasus-kasus peninjauan kembali tersebut di

    142 Theo Huijbers I, Op.cit., h.179.

    143 Achmad Ali, Op.cit., h.312.

    144 Theo Huijbers I, Op.cit., h.181.

    145 Theo Huijbers I, Op.cit.., h.182.

    146 Theo Huijbers I, Op.cit., h. 182

  • 151

    atas, oleh Satjipto Rahardjo dipandang sebagai pembangkangan oleh pengadilan.147

    Pembangkangan tersebut terjadi karena pengadilan lebih mendengar gejolak dalam

    masyarakat dari pada mengikuti bunyi undang-undang. Filsafat atau aliran yang

    legalistik-positivisme dipinggirkan dan digantikan oleh realisme hukum.148 Mahkamah

    Agung dan pengadilan pada umumnya memang harus berani keluar dari lingkungan

    formal dengan berfilsafat realisme seperti itu, semata-mata berdasarkan alasan demi

    membangun hukum Indonesia yang lebih berkeadilan.149

    Langkah hukum yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dalam perkara-perkara

    peninjauan kembali tersebut di atas, menunjukkan secara tidak langsung bahwa

    Mahkamah Agung khususnya dalam perkara tersebut telah menerapkan tipe penegakan

    hukum yang oleh Satjipto Rahardjo disebut sebagai penegakan hukum progresif.

    Penegakan hukum tipe ini dilakukan demi menyelamatkan penegakan hukum di

    Indonesia dengan tipe penegakan hukum moderen yang sebelumnya dianut tidak bisa

    menyelesaikan kasus-kasus besar seperti korupsi, dimana para koruptor dan armada

    hukumnya lebih pintar mematahkan jurus-jurus hukum yang akan dikenakan kepada

    mereka.150

    Sebaliknya, apabila berpegang teguh pada ajaran positivisme, putusan-putusan

    peninjauan kembali di atas sebagai bentuk penyimpangan hukum. Dalam arti,

    penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan yang sah dan berlaku, yakni

    KUHAP. Ketentuan yang mengatur masalah peninjauan kembali dalam perkara pidana

    147 Satjipto Rahardjo, 2007, Membedah Hukum Progresif, Buku Kompas, Jakarta, selanjutnya

    disebut Satjipto Rahardjo V, h.39. 148

    Ibid. 149

    Ibid. 150

    Satjipto Rahardjo, Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif, htt://WWW.kompas.com. Tanggal Akses 5 Juli 2009, selanjutnya disebut Satjipto Rahardjo VI.

  • 152

    di Indonesia telah dirumuskan secara limitatif dalam Pasal 263 KUHAP. Dalam pasal

    tersebut secara jelas tidak ada ketentuan yang mengatur tentang boleh atau tidaknya

    jaksa mengajukan peninjauan kembali. Hal ini berarti dalam pandangan positivisme

    tidak ada kebolehan bagi jaksa mengajukan peninjauan kembali, karena memang dalam

    undang-undang itu tidak ada pengaturan kebolehan bagi jaksa. Kecenderungan melihat

    bahwa hukum sebagai suatu yang otonom, sebagaimana diagungkan penganut aliran

    positivisme yang berpendapat, bahwa tujuan hukum tidak lain dari sekedar

    mencapai/terwujudnya kepastian hukum, maka penyimpangan undang-undang dalam

    pandangan positivisme juga dianggap telah meniadakan kepastian hukum.

    Keputusan Majelis Hakim Mahkamah Agung menerima peninjauan kembali

    yang diajukan oleh jaksa sejak kasus pertama, yaitu kasus Muchtar Pakpahan dan kasus-

    kasus berikutnya yang mengikuti hingga sekarang, secara normatif tidak mempunyai

    landasan berpijak. Pertimbangan hukum Mahkamah Agung dalam menerima pengajuan

    peninjauan kembali oleh jaksa dalam putusan peninjauan kembali perkara Muchtar

    Pakpahan, perkara Ram Gulumal alias V. Ram (The Gandhi Memorial School), perkara

    Soetiyawati maupun perkara Pollycarpus Budihari Priyanto tersebut di atas, didasarkan

    atas alasan yang pada intinya sebagai berikut :

    1. Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan

    kehakiman yang menentukan Terhadap putusan pengadilan yang telah

    memperoleh kekuatan hukum tetap pihak-pihak yang bersangkutan dapat

    mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, apabila

    terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang.

    Ketentuan tersebut tidak menjelaskan tentang siapa saja yang dimaksud pihak-

  • 153

    pihak yang bersangkutan yang dapat mengajukan peninjauan kembali tersebut.

    Demikian juga Pasal 21 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 yang

    menentukan, Apabila terdapat hal-hal atau keadaan-keadaan yang ditentukan

    dengan undang-undang terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh

    kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan kembali kepada Mahkamah

    Agung, dalam perkara pidana atau perdata oleh pihak-pihak yang

    berkepentingan, tidak menjelaskan tentang siapa-siapa yang dimaksud dengan

    pihak-pihak yang berkepentingan yang dapat mengajukan peninjauan kembali.

    Terhadap ketidakjelasan tersebut, dalam putusan Mahkamah Agung perkara

    Muchtar Pakpahan maupun putusan setelahnya telah memberikan jawaban dengan

    menggunakan penafsiran ekstensif, bahwa yang dimaksud pihak-pihak yang

    berkepentingan dalam perkara pidana, selain terpidana atau ahli warisnya adalah

    jaksa.

    2. Pasal 263 KUHAP yang merupakan pelaksanaan dari Pasal 21 Undang-undang

    Nomor 14 Tahun 1970 mengandung hal yang tidak jelas, yaitu :

    a. Pasal 263 ayat (1) KUHAP tidak secara tegas melarang jaksa penuntut umum

    mengajukan upaya peninjauan kembali. Sebab logikanya terpidana/ahli

    warisnya tidak akan mengajukan peninjauan kembali atas putusan vrijspraak

    dan onslag van alle vervolging. Dalam konteks ini, maka yang berkepentingan

    adalah jaksa penuntut umum atas dasar alasan dalam ketentuan Pasal 263 ayat

    (2) KUHAP.

    b. Konsekuensi logis dari aspek demikian, maka Pasal 263 ayat (3) KUHAP

    yang pokoknya menentukan, Atas dasar alasan yang sama sebagaimana

  • 154

    tersebut pada ayat (2) terdapat suatu putusan pengadilan yang telah

    memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan

    kembali apabila dalam putusan ini suatu perbuatan yang didakwakan telah

    dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan, tidak

    mungkin dimanfaatkan oleh terpidana atau ahli warisnya sebab akan

    merugikan yang bersangkutan. Oleh kareananya logis apabila kepada jaksa

    diberikan hak untuk mengajukan peninjauan kembali.

    Berdasarkan alasan-alasan tersebut dan seluruh pertimbangan sebagaimana

    termuat dalam putusan-putusan peninjauan kembali di atas, terlihat Mahkamah Agung

    sepertinya ingin membuktikan, bahwa jaksa d