unsud oke 2

Download unsud Oke 2

Post on 28-Nov-2015

37 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1. PENDAHULUANA. Latar BelakangVarietas unggul baru selalu dikembangkan untuk menghadapi tantangan zaman. Salah satu terobosan adalah perakitan padi tipe baru. Padi tersebut memiliki tekstur yang memungkinkan memiliki potensi hasil maksimal.Padi yang berkembang di kalangan petani pada saat ini adalah jenis non hibrida yang benihnya diperoleh dari persilangan biasa seperti varietas cisadane, IR-64, Memberamo, Ciherang dan Sintanur. Laju produksi pada dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan gejala melandai, bahkan pada tahun-tahun tertentu mengalami penurunan.Padi hibrida selalu mempunyai komponen hasil yang lebih tinggi sehingga produktivitasnya dapat mencapai 8,5 t/ha gabah kering giling, atau 39% lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang. Varietas yang bobot 1.000 butirnya lebih tinggi adakalanya lebih memiliki gabah atau beras yang lonjong sehingga lebih disukai konsumen (Siregar 1992).Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian (2007), benih padi hibrida secara definitif merupakan turunan pertama (F1) dari persilangan antara dua varietas yang berbeda. Varietas hibrida mempunyai kemampuan berproduksi lebih tinggi dibandingkan varietas inbrida, karena adanya pengaruh heterosis yaitu kecenderungan F1 lebih unggul dibandingkan tetuanya. Fenomena heterosis sudah lama dikenal dan diketahui kurang lebih 200 tahun yang lalu yaitu pada tahun 1763 oleh seorang peneliti yang

Bernama J.G Koelruetur. Peneliti tersebut melihat pertumbuhan yang lebih subur pada tanaman hasil persilangan dua varietas yang berbeda (Satoto et.al., 2009).Di Indonesia penelitian mengenai padi hibrida telah dilakukan sejak tahun 1983 yang diawali dengan pengujian keragaan Galur Mandul Jantan atau CMS atau Galur A. Namun, penelitian yang lebih intensif baru dimulai pada tahun 1998, yaitu dengan menguji persilangan galur-galur tetua hibrida (Nainggolan, 2007).Varietas unggul padi hibrida yang dilepas di Indonesia diproduksi dengan sistem tiga galur, dengan sistem ini padi hibrida yang tahan terhadap hama penyakit utama dapat disilangkan jika tetua-tetua yang memiliki gen ketahanan telah tersedia. Tiga galur yang berbeda tersebut, ialah galur mandul jantan atau CMS (Cytoplasmic male sterile), galur pelestari atau maintainer, dan galur pemulih kesuburan atau restorer. CMS (Cytoplasmic male sterile) atau diartikan jantan mandul, merupakan galur padi yang tidak dapat memproduksi sebuk sari yang berfungsi (viable) disebabkan adanya interaksi antara gen-gen sitoplasma dan gen-gen inti, CMS digunakan sebagai tetua betina dalam produksi benih pada hibrida dan disebut sebagai galur A. galur pelestari (maintainer line) ialah galur yang mirip dengan galur-galur mandul jantan, hanya saja mempunyai serbuk sari yang hidup dan mempunyai biji yang normal. Galur pelestari tersebut digunakan sebagai pollinator atau penyerbuk untuk melestarikan galur CMS, galur pelestari disebut galur B. disilangkan galur pemulih kesuburan (restorer line) ialah kultivar padi yang bila disilangkan dengan galur CMS dapat memulihkan kesuburan tepungsari pada F1, restorer disebut juga tetua penghasil tepungsari, tetua jantan atau galur R dan galur ini dipergunakan sebagai pollinator untuk tetua CMS dalam produksi benih (hidajat, 2006). Untuk menghasilkan turunan pertama (F1), keturunan dari persilangan CMS dan maintainer disilangkan lagi dengan galur restorer atau dapat dituliskan dengan formula persilangan (A x B) x R. Keturunan dari persilangan inilah yang dikenal sebagai padi hibrida. Keunggulan teknologi baru yang dimiliki padi hibrida memang menjanjikan, namun memiliki kendala bagi petani yaitu pada harga benih padi hibrida yang lebih mahal daripada benih padi inbrida, hasil panen dari benih padi hibrida tidak bisa digunakan kembali untuk ditanam pada musim tanam berikutnya, hal ini tentunya akan sangat memberatkan bagi para petani karena akan menjadi suatu ketergantungan yang tinggi pada para produsen benih padi. Selain itu, didalam budidaya padi hibrida memerlukan penanganan yang lebih spesifik, seperti dibutuhkannya sarana produksi dan infrastruktur pendukung yang memadai serta membutuhkan pestisida yang lebih tinggi.Varietas pada hibrida diharapkan memiliki daya hasil lebih tinggi daripada varietas yang umum ditanam petani saat ini. Selain keunggulan potensi hasil, padi hibrida juga harus mempunyai berbagai sifat unggul yang terdapat pada varietas yang saat ini banyak ditanam petani. Virmani (1994) melaporkan bahwa berdasarkan penelitian pada MK 1986-MH 1992, padi hibrida dapat meningkatkan hasil 15-20% daripada varietas non hibrida atau inbridaPadi hibrida yang memiliki daya hasil tinggi akan diekspresikan dengan hasil yang tinggi bila lingkungan mendukung. Salah satu agar lingkungan mendukung pertumbuhan dan hasil tinggi padi hibrida, dapat dicapai dengan memanfaatkan teknologi budidaya yang spesifik.Mengingat adanya varietas yang memiliki ciri yang berbeda, maka membutuhkan teknologi budidaya berbeda pula. Berdasarkan hal ini maka teknik budidaya padi hibrida menjadi kegiatan penting agar diperoleh produksi maksimal.

B. Tujuan dan Sasaran1. Praktik Kerja Lapangan yang dilaksanakan mempunyai tujuan :a. Mengetahui cara budidaya padi hibridab. Mengetahui jenis-jenis hama pada tanaman padi hibridac. Mengetahui beberapa cara pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi hibrida

2. Sasaran Praktik Kerja Lapangan adalah :a. Mendapat ketrampilan dan pengalaman dalam bidang pertanian.b. Melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan pertanian sehari-hari untuk mengembangkan kepekaan yang bernalar terhadap berbagai persoalan yang timbulc. Mendapat gambaran tentang hubungan antara teori yang didapat dan penerapannya serta berbagai faktor dilapangan yang mempengaruhinya.

C. Manfaat Praktik Kerja LapanganManfaat kegiatan praktik kerja lapangan adalah :1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang tanaman padi hibrida2. Mendapat bekal dan pengalaman praktik kerja untuk terjun dalam masyarakat.3. Hasil Praktik Kerja Lapangan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melaksanakan penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKAA. Botani Padi HibridaBerdasarkan literatur Grist (1960), tanaman padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan ke dalam Divisio Spermatophyta, dengan sub divisio Angiospermae, termasuk ke dalam kelas Monocotyledoneae, Ordo adalah Poales, Famili adalah Graminae,Genus adalah Oryza Linn, dan Speciesnya adalah Oryza sativa L.Padi hibrida secara definitif merupakan turunan pertama (F1) dari persilangan antara dua varietas yang berbeda. Varietas hibrida mempuyai kemampuan berproduksi lebih tinggi dibandingkan varietas inbrida, karena adanya pengaruh heterosis yaitu kecenderungan F1 lebih unggul dibandingkan tetuanya. Heterosis tersebut dapat muncul pada semua sifat tanaman dan untuk padi hibrida diharapkan dapat muncul terutama pada sifat potensi hasil.Taksonomi padi adalah sebagai berikut :Kingdom: PlantaeSub divisi: AngiospermaeDivisi: SpermatophytaKelas: MonocotyledonOrdo: GraminealesFamili: GramineaeGenus: OryzaSpecies: Oryza Sativa LB. Morfologi Padi HibridaTanaman padi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetative dan bagian generative. Bagian vegetative tanaman padi meliputi akar, batang, dan daun sedangkan bagian generative meliputi bunga dan biji1. Bagian vegetatifa. AkarPadi merupakan tanaman semusim dengan sistem perakaran serabut. Terdapat dua macam perakaran padi yaitu akar seminal yang dari akar primer radikula pada saat berkecambah dan akar adventatif sekunder yang bercabang dan tumbuh dari buku batang muda bagian bawah. Akar adventif tersebut menggantikan akar seminal. Perakaran yang dalam dan tebal, sehat, mencengkeram tanah lebih luas serta kuat manahan kerebahan memungkinkan penyerapan air dan hara lebih efisien terutama pada saat pengisian gabah (Suardi, 2002).

b. Batang Batang padi berbentuk bulat, berongga dan beruas-ruas. Antar ruas dipisahkan oleh buku. Ruas-ruas sangat pendek pada awal pertumbuhan dan memanjang serta berongga pada fase reproduktif. Pembentukan anakan dipengaruhi oleh unsur hara, cahaya, jarak tanam dan teknik budidaya. Batang befungsi sebagai penopang tanaman, mendistribusikan hara dan air dalam tanaman dan sebagai cadangan makanan. Kerebahan tanaman dapat menurunkan hasil tanaman secara drastis. Kerebahan umumnya terjadi akibat melengkung atau patahnya ruas batang terbawah, yang panjangnya lebih dari 4 cm (Makarim dan Suhartatik 2009).c. DaunDaun padi tumbuh pada batang dan tersusun berselang-seling pada tiap buku. Tiap daun terdiri atas helaian daun, pelepah daun yang membungkus ruas, telinga daun (auricle) dan lidah daun (ligule). Daun teratas disbut daun bendera yang posisi dan ukurannya tampak berbeda dari daun yang lain. Satu daun pada awal fase tumbuh memerlukan waktu 4-5 hari untuk tumbuh secara penuh, sedangkan pada fase tumbuh selanjutnya diperlukan waktu yang lebih lama, yaitu 8-9 hari. Jumlah daun pada tiap tanaman bergantung pada varietas. Varietas-varietas baru di daerah tropis memiliki 14-18 daun pada batang utama (Makarim dan Suhartatik 2009).2. Bagian generativea. BungaBunga padi secara keseluruhan disebut malai. Tiap unit bunga pada malai dinamakan spikelet yaitu bunga yang terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik dan benang sari serta beberapa organ lainnya yang bersifat inferior. Tiap unit bunga pada malai terletak pada cabang-cabang, bulir yang terdiri atas cabang primer dan sekunder. Tiap unit bunga padi pada hakekatnya adalah floret yang hanya terdiri atas satu bunga, yang terdiri atas satu organ betina (pistil) dan enam organ jantan (stamen). Stamen memiliki dua sel kepala sari yang ditopang oleh tangkai sari berbentuk panjang, sedangkan pistil terdiri atas satu ovul yang menopang dua stigma (Makarim dan Suhartatik, 2009). Malai terdiri atas 8-10 buku yang menghasilkan cabang-cabang primer yang selanjutnya menghasilkan cabang sekunder. Tangkai buah (pedicel) tumbuh dari buku-buku