umkm abuba i

Click here to load reader

Post on 05-Jul-2015

375 views

Category:

Documents

22 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN

MAKALAH UKM

ABUBA STEAKDiajukan sebagai salah satu tugas akhir dalam mata kuliah Manajemen Pemasaran

Disusun Oleh:

Julfitri Dwi Handayani (1006830670)

Jakarta, May 2011

BAB I PENDAHULUANI.1 Latar Belakang Masalah UKM atau kepanjangan dari Uni Kecil dan Menengah mempunyai beberapa pengertian di Indonesia ini antara lain apabila dilihat dari sudut pandanga BPS (Biro Pusat Statistik) yang memberikan definisi UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang. Sedangkan, menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan (sumber: http: infoukm.wordpress.com/2008/08/11/keragaman-definisi-ukm-di-indonesia/) UKM di Indonesia dianggap mempunyai peranan penting sebagai penopang pereonomian. Hal ini diutarakan juga dala situs http:infoukm.wordpress.com. Dikatakan dalam situs tersebut bahwa penggerak utama perekonomian di Indonesia selama ini pada dasarnya adalah sektor UKM. Berkaitan dengan hal ini paling tidak terdapat beberapa fungsi utama UKM dalam menggerakan ekonomi Indonesia, yaitu (1) Sektor UKM sebagai penyedia lapangan kerja bagi jutaan orang yang tidak tertampung di sektor formal, (2) Sektor UKM mempunyai kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), dan (3) Sektor UKM sebagai sumber penghasil devisa negara melalui ekspor berbagai jenis produk yang dihasilkan sektor ini. UKM telah dianggap dapat memberikan kontribusi positif untuk membantu mentasi masalah ekonomi dan sosial dalam negeri seperti tingginya tingkat kemiskinan, besarnya jumlah pengangguran, masalah urbanisasi, proses pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan. Maka dari itu sangatlah penting apabila dunia kampus juga belajar mengenai bagaimana contoh -contoh usaha UKM yang telah berkembang maju, sebagai pembelejaran dan penambah informasi tentang dunia UKM

secara nyata, sekaligus juga pemberalajaran tentang strategi pemasaran UKM yang telah maju. Peneliti memutuskan untuk penelitian tentang UKM yang telah berkembang maju, saat ini dilakukan pada sebuah restauran steak di Jakarta yaitu Abuba Steak. Alasan saya tertarik untuk mewawancarai kinerja Abuba Steak adalah, karena Abuba Steak memang telah berkembang dari UMKM kecil hingga saat ini telah berkembang sangat maju dan telah menjadi brand image steak lokal pertama di Indonesia. Abuba menjadi contoh UMKM yang berkembang secara perlahan namun pasti, yang memulai usaha dari bawah (kaki lima) hingga saat ini sudah mempunyai tujuh cabang di Jakarta dan Bandung. Proses pelaksanaan wawancara saya lakukan pada hari Rabu, 27 April 2011 dengan Bp. Bambi Cahyadi selaku operation manager Abuba Steak cabang Cipete dan didampingi dengan Bp. Yusuf selaku supervisor lapangan Abuba Steak Cipete. I.2. Rumusan Permasalahan Rumusan permasalahan pada penelitian ini adalah: Bagaimanakah strategi pemasaran UKM Abuba selama ini apakah strategi tersebut telah diterapkan cukup baik oleh Abuba restauran tersebut?

BAB II DATA PERUSAHAANII.1. Sejarah Perusahaan Restauran Abuba Steak berdiri pada tanggal 4 November 1992 oleh H. Abubabakar setelah pak Abubabakar keluar dari pekerjaannya sebagai chef di sebuah perusahaan minyak. Niat awal beliau mendirikan usaha ini ketika beliau melihat pada saat itu tidak ada makanan steak yang buatan asli orang Indonesia. Restaurant steak yang ada saat itu di Jakarta khususnya masih berasal dari luar Indonesia seperti Tony Romas, Gandys, Sizzler, dan lainnya. Masih langkanya restauran steak buatan lokal ini di Jakarta dijadikan sebagai suatu peluang usaha oleh Pak Abu Bakar tersebut untuk memulai usaha warung makan steak buatan Indonesia. Nama Abuba pun dipilih oleh Pak Abu Bakar yang merupakan singkatan dari namanya sendiri. Tempat awal Pak Abu Bakar untuk membuka usaha warung makan steak ini adalah di daerah Kemang dan hanya dalam bentuk warung kaki lima dengan memakai gerobak sebagai tempat untuk mengolah makanannya. Modalnya saat itu pun hanya 3 juta dan ditambah dengan meminta pinjaman dari orang lain. Karena hanya dengan bermodalkan gerobak ini pula, usaha warung makan Pak Abu Bakar pun sering digusur oleh pihak keamanan dan sering pindah tempat. Walaupun sering digusur, Pak Abu Bakar tidak menyerah dan justru membuka warung kaki limanya lagi didaerah Cipete. Pembagian tugas pun dilakukan antara Pak Abu Bakar dengan istrinya di mana untuk tempat yang di Kemang ditangani oleh istri Pak Abu Bakar dan untuk tempat yang di Cipete ditangani oleh Pak Abu Bakar sendiri dan dibantu dengan Pak Ali anaknya yang juga membantu tempat yang di Kemang. Pada awal-awal usaha tersebut fasilitas Pak Abu Bakar memang hanya memakai gerobak. Pada tahun 1994 barulah Pak Abu Bakar mulai menyewa rsebuah umah di Cipete Raya No.6 untuk dijadikan tempat usahanya. Tempat yang di Kemang pada saat itu pun ditutup dan memilih fokus pada tempat yang di Cipete ini. Jumlah karyawan yang diperkejakan saat itu sebanyak lima orang. II.2. Perkembangan Bisnis Abuba Perkembangan bisnis Abuba pun perlahan maju berkembang terutama ketika Pak Abu Bakar menjalankan usaha steak nya ini di daerah Cipete. Alasan dipilihnya daerah

Cipete ini adalah karena saat itu daerah tersebut masih sepi restauran makan dan seingat Pak Abu Bakar hanya ada satu restaurant makan Sunda yang agak besar. Saat ini Abuba sudah mempunyai 7 gerai cabang antara lain di Cipete, yang berdiri pada tanggal 4 November 1992 dengan total jumlah karyawan dari level manager hingga kru sebanyak 138 orang, cabang Menteng yang berdiri pada tanggal 7 Juli 2007 dengan total jumlah karyawan sebanayk 33 orang, cabang Tebet yang berdiri tanggal 25 Desember 2010 dengan total jumlah karyawan sebanyak 34 orang, cabang Kelapa Gading yang berdiri pada tanggal 25 September 2004 dengan total jumlah karyawan sebanyak 28 orang, cabang Gading Serpong yang berdiri pada tanggal 9 September 2009 dengan total jumlah karyawan sebanyak 25 orang, kemudian cabang Pluit yang berdiri pada tanggal 4 April 2006 dengan total jumlah karyawan sebanyak 29 orang, dan terakhir cabang Bandung yang berdiri pada tanggal 1 Mei 2008 dengan total jumlah karyawan sebanyak 23 orang. Selanjutnya pihak Abuba mengatakan mempunyai rencana untuk membuka cabang di daerah Surabaya, Bali dan ke kancah internasional seperti di Singapura dan Malaysia. III. Visi dan Misi Perusahaan Visi dari Abuba Steak adalah menjadi brand image steak lokal pertama di Indonesia . Misi Abuba adalah berusaha untuk selalu menciptakan steak yang berkualitas dengan standar internasional namun tetap disesuaikan dengan selera lidah orang Indonesia.

BAB III LANDASAN TEORIIII.1. Klasifikasi UKM Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu : 1. Livelihood Activities, merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima 2. Micro Enterprise, merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan 3. Small Dynamic Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor 4. Fast Moving Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB) III. Keragaman Definisi UKM di Indonesia Beberapa lembaga atau instansi bahkan UU memberikan definisi Usaha Kecil Menengah (UKM), diantaranya adalah Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Badan Pusat Statistik (BPS), Keputusan Menteri Keuangan No 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, dan UU No. 20 Tahun 2008. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan. Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang. Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor

316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai penjualan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggitingginya Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari : (1) badang usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi) dan (2) perorangan (pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa) Pada tanggal 4 Juli 2008 telah ditetapkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Definisi UKM yang disampaikan oleh Undangundang ini juga berbeda dengan definisi di atas. Menurut UU No 20 Tahun 2008 ini, yang disebut dengan Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). III.3.Segmentasi, Targeting dan Positioning Perusahaan/organisasi yang menjual ke pasar konsumen dan industri harus menyadari bahwa mereka tidak dapat menarik semua pembeli di pasar, dan mereka tidak akan berhasil mendekati semua pembeli dengan cara yang sama. Maka dari itu akan lebih baik bagi perusahaan untuk membuat pemasaran terarah. Pemasaran terarah adalah keputusan untuk mengenali kelompok berbeda yang membentuk pasar dan mengembangkan produk spresifik untuk menarik audiens sasaran yang dipilih. Melalui pemasaran terarah akan lebih membantu perusahaan dalam mengenali peluang pasar dan mengembangkan produk serta bauran pemasaran secara efektif. Dalam pemasaran terarah ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar tujuan pemasaran itu berhasil yaitu langkah pertama adalah membuat segmentasi pasar. Hal ini merupakan tindakan membagi-bagi pasar menjadi kelompok pembeli terpisah yang

menghargai produk atau bauran pemasaran terpisah. Dalam pasar indutri termasuk industri jasa proses segmentasi biasa menggunakan demografik, karakteristik operasi, pendekatan pembelian, karakteristik pribadi konsumen indutri. Kemudia setelah segmentasi dibuat maka sesungguhnya langkah ini juga telah termasuk dalam langkah ke dua yaitu membuat proses pentargetan pasar (targeting). Proses pentargetan pasar meliputi pemilihan segmen yang paling menjanjikan dan memutuskan sendiri peliputan pasar untuk menggarapnya. Mula-mula perusahaan mengevaluasi segmen pasar mengenai besar dan karateristik pertumbuhan, daya tarik struktural, dan kesesuaian dengan sumber daya dan sasaran perusahaan. Perusahaan dapat memilih satu dari tiga strategi peliputan pasar. Pertama penjual dapat mengabaikan segmen dengan pendekatan pemasaran tanpa permbedaan, mengembangkan tawaran berbeda untuk segmen pasar yang berbeda lewat pemasaran dengan pembedaan, atau hanya membidik satu atau beberapa segmen pasar dengan menggunakan strategi pemasara terkonsentrasi. Pemilihan strategi di atas tergantung pada sumber daya yang dimiliki perusahaan, keanekaragaman produk, tahap daur hidup produk dan strategi pemasaran yang bersaing. Setelah menentukan segmen mana yang akan dimasuki, maka langkah terakhir adalah perusahaan menetapkan posisi untuk memperoleh keunggulan dalam bersaing (positioning). Tugas pemposisian ini mencakup tiga langkah yaitu mengidentifikasi sejumlah keunggulan bersaing yang mungkin untuk membina posisi, memilih keunggulan bersaing yang tepat dan secara efektif mengkomunikasikan dan menyerahkan posisi yang dipilijh kepada pasar. Penjual dapat memposisikan produknya pada atribut produk spesifik untuk kelas perdagangan tertentu dengan kelas produk, atau menurut situasi penggunaan. III.4. Mendesain dan Memanage Industri Jasa Dalam dunia jasa ada lima tipe kategori dari service yaitu: a) Pure tangible good : Bahwa produk yang ditawarkan yang utama lebih ke produk nyata (tangible) seperti sabun, pasta gigi, tidak ada servis secara khusus untuk membarengi kelengkapan dari produk yang ditawarkan b) Tangible good with accompanying services: Pada bagian ini penawaran untuk barang yang nyata (tangible) namun dibarengi dengan fasilitas servis. Contohnya seperti dalam hal teknologi di mana ketika memberli handphone, komputer, mobil pastinya setelah pemberilan itu akan ada tawaran pelayanan servisa dari perusahaan yang memproduksi sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan. c) Hybrid : Bahwa penawaran yang ditawarkan perusahaan antara barang dan servis

sama pentingnya. Contohnya konsumen yang pergi ke suatu restaran karena melihat bahwa makanan yang diproduksi memang enak dan segala layanan di restauran itu juga menjadi hal penting yang dipertimbangkan konsumen. d) Major services with accompanying minor goods and services: Penawaran yang ditawarkan bahwa ada servis / layanan tambahan di samping servis yang utama yang muncul. Contohnya ketika naik pesawat terbang ada servis tambahan seperti pelayanan nonton film, mendengarkan musik, juga ada snack dan minuman. Sesungguhnya yang dicari konsumen dalam memilih pesawat terbang adalah servis ketepatan waktu, keamanan sedangkan fasilitas lainnya di pesawat dianggap sebagai servis tambahan yang diberikan maskapai penerbangan. e) Pure services: Penawaran yang ditawarkan adalah utamanya ke servis itu sendiri kepada konsumen seperti pada pelayanan psikoterapi, massage, baby day care, dll. III.5. Perbedaan Karakteristik dalam Industri Jasa Tidak seperti produk tangible produk servis termasuk intangible. Di dalamnya ada lima unsur yang menjadi alat marketing dan strategi positioning suatu servis jasa : a) Place : Tempat dari suatu produk jasa yang sangatlah penting seperti rumah makan yang letaknya strategis mendapat kesempatan untuk lebih banyak dikunjungi dari pada yang tidak di tempat strategis. b) People : Para sumber daya manusia yang terlibat dalam suatu produk jasa menjadi tiang utama bagaimana produk jasa itu ditawarkan. c) Equipment : Peralatan yang melengkap kelangusungan suatu usaha yang menawarkan produk jasa juga sangat penting. Semakin lengkap perlengkapan akan lebih membantu kemajuan suatu produk usaha jasa. d) Communication material : Ini berkaitan dengan printed material yang berpengaruh pada media promosi suatu usaha produk jasa. Communication material yang baik adalah yang bisa mencerminkan efesiensi dan disampaikan oleh kecepatan dalam menyampaikan pesan yang ingin pihak perusahaan.

e) Symbol : Ini adalah lambang dari suatu usaha. Suatu usaha dapat memilih lambang yang paling sesuai yang paling mencerminkan jenis produk jasa yang dijual f) Price : Harga yang ditawarkan suatu usaha produk jasa menjadi sesuatu yang sangat penting karena berpengaruh pada image perusahaan dan juga kepada kompetitor yang sejenis.

III.6. Promosi Penjualan Produk Ada beberapa cara bagi suatu perusahaan untuk mempromosikan produknya, tiap strategi sales promotion mempunyai tiga keuntungan yaitu komunikasi (communication, untuk memperoleh perhatian dari khalayak banyak, dan dapat mempengaruhi konsumen untuk memakai produk tertentu), incentive (perusahaan dapat memberi suatu bujukan, pengaruh, atau kontribusi agar konsumen tertarik memberli produk tertentu). Impersonality (iklan / adverstising dibuat umum, tidak ditujukan ke konsumen tertentu. Tidak ada kewajiban bagi konsumen untuk memperhatikan suatu iklan tertentu). Strategi promosi yang biasa ada di pasaran adalah: a) Public Relation and Publicity: Melalui strategi ini perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat program yang terkoordinasi dengan baik untuk mencari perhatian dari konsumen. Pemilihan strategi ini biasa dilihat dari high credibilty (bahwa cerita dan tampilan yang baru akan lebih asli dan lebih berkredibilitas di mata konsumen), ability to catch buyers off guard dengan publicity ini maka dapat lebih menjangkau konsumen yang lebih suka menjauhi orang-orang sales dan iklan, dramatization (melalui publicity perusahaan dapat lebih membuat dramatisasi untuk suatu produk) b) Direct and Interactive Marketing: Dalam direct dan interactive marketing mempunyai beberapa bentuk seperti penawaran melalui telefon, online, dll. Pesan yang ingin disampaikan oleh direct and interactive marketing adalah customized (dapat ditujukan secara personal), up to date ( pesan dapat dipersiapkan secara up to date), interactive (pesan yang ingin disampaikan dapat berubah tergantung respon dari konsumen yang dituju) c) Word of Mouth Marketing: Dalam words of mouth juga dapat berupa jenis bentuk online atau off line. Penggunaan cara ini cenderung dapat dipercaya dan karakteristiknya adalah: credible (karena orang akan lebih percaya apabila mendengan kesaksian langsung dari orang lain yang pernah mencoba suatu produk), personal (dapat berupa dialog yang lebih akrab yang merefleksikan opini dan pengalaman, timely (dapat terjadi ketika memang orang menginginkan informasi lebih jauh tentang produk tertenu dan ketika memang mereka merasa tertarik. d) Personal Selling: Personal selling menjadi alat yang paling efektif pada tahap selanjutnya pada proses pembelian. Khususnya dalam membangun kecendrungan dalam pembelian, pendirian, dan aksi. Personal selling mempunyai tiga kualitas yang berbeda: personal interaction: personal selling membuat suatu adegan antara 2 orang atau lebih

menjadi lebih interaktif dan spontan, cultivation (dengan personal selling dapat membuat hubungan antara konsumen dengan perusahaan lebih jauh seperti yang awalnya hubungan tentang penjualan menjadi persahabatan secara personal), response (namun di sini pembeli juga merasa mempunyai kewajiban untuk mendengan pembicaran dari orang salesnya.

BAB IV STRATEGI PEMASARANIV.1. Abuba Menjadi Salah Satu UKM yang Berhasil Keberhasilan Abuba Steak yang terus berkembang dari UKM kecil hingga sekarang mempunyai tujuh cabang bukan dilalui dengan mudah. Saat ini dapat dikatakan bahwa restauran Abuba digolongkan sebagai usaha Fast Moving Enterprise, yang termasuk UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB). Karena Abuba sudah mempunyai banyak cabang, yang dijalankan secara profesional dan juga berencana membuka cabang di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Pendiri Abuba Steak, Pak Abu Bakar berhasil mempunyai inovasi untuk menciptakan restauran steak buatan lokal. Beliau berhasil mencari celah untuk menggapai konsumen pada awalnya yaitu orang ekspatriat dengan membuka warung steak pertamanya di daerah Kemang. Alasan dipilihnya daerah Kemang karena memang diketahui bahwa sekitar daerah Kemang memang banyak diami ekspatriat, sehingga letaknya saat itu yang juga cukup strategis yaitu di seberang rumah makan Payon yang terkenal, maka warung steak Abuba yang saat itu buka dari pukul 18:00-22.00 berhasil 'menggaet' para ekspatriat dan warga lokal Kemang untuk mencicipi rasa steak buatan lokal Indonesia dengan cita rasa internasional namun dengan harga yang cukup murah. Abuba Steak pun mempunyai tagline untuk usaha restaurant usahanya yaitu steak nikmat harga merakyat. IV. 2.Segmentasi, Targeting, Positioning Restauran Abuba Segmentasi dan targeting restauran Abuba adalah lebih kepada semua level ekonomi masyarakat baik tua maupun muda. Restauran Abuba memang ingin menjangkau ke semua lapisan masyarakat, karena pihak Abuba mengatakan seperti awal pencetus pendiri Abuba yaitu Pak Abu Bakar bahwa ia ingin menciptakan restauran steak yang murah namun tetap dengan kualitas yang bagus sehingga bisa dinikmati banyak orang. Tapi, memang dari pengamatan konsumen yang datang ke Abuba dalam jangka waktu seminggu maka dapat digolongkan bahwa untuk weekdays lebih ke orang dewasa seperti pekerja dan anak muda seperti mahasiswa yang datang untuk menikmati steak

Abuba, sedangkan untuk weekend lebih kepada family atau orang-orang dengan keluarganya. Untuk positioning, pihak Abuba ingin menempatkan restaurannya sebagai restauran steak lokal ternama yang paling dikenal masyarakat. Menurut pihak Abuba, brand image sebagai local steak restaurant yang pertama harus dijaga oleh Abuba agar tetap menjadi nomor satu dalam ingatan konsumennya apabila ditanyakan mengenai restauran steak lokal favorit. IV.2. Keberhasilan Abuba Dilihat Dari Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, threats) Apabila dilihat dari analisis SWOT, pihak Abuba mengatakan untuk kekuatan (strengths) dari Abuba adalah masih menjadi brand image for local steak, kemudian the real Indonesian first steak, dan lokasi restauran yang strategis. Keunggulan itu yang menurut Abuba asih menjadikan Abuba sebagai restauran steak ternama di Jakarta. Namun, Abuba tetap menjadikan keunggulan-keunggulan di atas sebagai suatu hal yang mendorong Abuba untuk terus memberikan yang terbaik kepada para konsumennya dengan menjaga kualitas produk. Untuk kelemahan (weaknesses), pihak Abuba menyadari bahwa service time di Abuba belum terlalu cepat atau belum bisa memberikan garansi waktu bahwa seberapa lama order yang dipesan oleh konsumen dapat dinikmati. Salah satu penyebab service time di Abuba yang belum terlalu baik disebabkan karena proses pemanggangan di Abuba yang masih memakai pemanggangan yang manual (memakai arang). Hal ini masih dipertahankan karena terkait dengan cita rasa khas dari steak yang akan dihasilkan nanti. Kelemahan selanjutnya adalah masih kurangnya basic training yang terstruktur khususnya untuk kru-kru baru yang direkrut dari luar. Memang pihak Abuba mengatakan bahwa untuk bagian manajemen hampir semua staffnya masih terkait keluarga atau hubungan kenalan dengan pihak pemilik, begitu juga dengan sebagian kru-kru lapangan seperti pelayan restauran. Walaupun, untuk kru sudah mulai ada perekrutan dari luar namun, pihak manajemen masih menyadari masih kurangnya training yang lebih sistematis untuk para kru agar dapat memaksimalkan profesionalisme dalam berkerja. Selain itu, Abuba belum mempunyai standar untuk interior dan design yang merata untuk semua cabangnya. Contohnya apabila dibandingkan dengan cabang lain, cabang Cipete memang memiliki interior yang paling baik dibanding cabang-cabang lainnya. Dan ini menjadi kelemahan Abuba karena konsep interior yang tidak sama yang dapat dibanding-

bandingkan oleh para konsumennya. Mengenai kesempatan (oppurtunities), pihak Abuba mengataka bahwa mereka bisa menjadikan kelemahan dalam service time yang belum cepat ini sebagai oppurtunity. Mereka berusaha untuk memperbaiki service time dan juga kualitas service itu sendiri kepada para konsumennya. Abuba ingin agar service / pelayanan kepada konsumen benar-benar baik dan mengedepankan hospitality kepada konsumen. Keramahan, kesigapan dalam melayani konsumen sangat diutamakan, agar service time mulai dari pemesanan hingga pesanan itu sampai ke meja konsumen bisa lebih cepat. Pihak Abuba mengatakan memang kemungkinan sukar untuk mengganti alat bakar daging steak dengan alat yang modern saat ini, karena alat bakar dengan arang sudah menjadi ciri khas Abuba, namun apabila sistem pesanan bisa lebih sistematis dan kru juga lebih sigap, maka Abuba yakin service time itu bisa dipercepat. Selain itu pihak Abuba berusaha agar training untuk karyawan lebih terstruktur dan SOP untuk training tersebut tersusun lebih sistematis juga akan remodelling cabang Abuba agar lebih terstandarisasi. Untuk ancaman (threat), Abuba merasakan harus tetap waspada kepada kompetitor yang sejenis yang terus bermunculan, maka Abuba berusaha untuk selalu melakukan penyegaran. Ancaman yang ada selain dari kompetitor adalah dari government regulation yang berurusan dengan importir daging. Hal ini seperti ada quota import daging dari luar yang membuat import daging terbatas dan supplier Kami pun akan cenderung menaikkan harga, belum lagi apabila ada issue-issue yang menyangkut kesehatan hewan juga dapat menjadi ancaman bagi pihak Abuba. Namun, sampai saat ini ancaman-ancaman tersebut dirasakan Abuba masih bisa diatasi dengan baik. IV.2. Karakteristik Restauran Abuba Sebagai Sebuah Produk Jasa Apabila dilihat dari karakteristik sebuah sektor jasa, maka akan dilihat bagaimana Restauran Abuba tersebut mempunyai karakteristik-karakteristik sebagai sebuah sektor jasa yang baik. Dari segi tempat (place), Abuba dinilai unggul karena terletak di daerah strategis dan juga cenderung membuka cabangnya di daerah yang strategis pula. Contohnya pertama kali buka, Abuba membuka tempat di Kemang, kemudian Cipete yang menjadi cabang utamanya sekarang. Kedua cabang ini dinilai kawasan cukup strategis di daerah Jakarta Selatan, juga cabang-cabang yang pihak Abuba buka ada di daerah Tebet, Kelapa Gading, BSD, dll merupakan tempat strategis di kawasan Jakarta bagian lain tersebut. Hal ini tentu membantu segi promosi Abuba sebagai resturan yang mudah ditemukan oleh konsumen yang mencari restaurannya. Dalam hal sumber daya manusia (people), yang menjadi salah satu faktor penting

dalam sektor jasa, Abuba juga dinilai mempunyai keunggulan. Hal ini dapat dilihat mulai dari sektor manajemen dan kru diseleksi secara baik. Salah satu keputusan Abuba yang sampai tahun kemarin memang belum membuka perekrutan pegawai dari luar pihak keluarga karena pihak manajemen Abuba ingin agar manajemen restauran benar-benar dipegang oleh orang yang memang mengetahui seluk beluk restauran dan sudah mencintai restauran tersebut. Bahkan hingga juru masak (khususnya dalam hal tukang grill) pun hingga kini masih direkrut sendiri oleh Pak Abu Bakar, pendiri Abuba. Karena Beliau menginginkan agar juru masak tersebut adalah orang yang benar ahli masak sehingga dapat menghasilkan suatu masakan yang memang sesuai dengan standar Abuba Steak. Mengenai peralatan (equipment), memang dapat dikatakan Abuba belum mempunyai peralatan yang terlalu modern khususnya dalam bagian grill / memanggang daging. Namun, hal ini memang sesungguhnya disengaja oleh pihak Abuba masih memakai alat panggang yang tradisional (arang) karena berkaitan dengan cita rasa steak Abuba yang khas. Sedangkan, dalam hal communication material untuk melakukan promosi atau berhubungan dengan konsumen, Abuba saat ini sudah mempunyai satu brosur pendek yang berisi jenis-jenis masakan Abuba yang dijual beserta harganya juga cabang-cabang yang ada di Jakarta dan Bandung. Dan juga sudah melakukan periklanan ke radio di Jakarta dan Bandung. Namun, dalam hal communication material ini Abuba sesungguhnya masih bisa memberdayakan lagi material-material lain untuk menjadi suatu bentuk promosi ke konsumen seperti booklet tentang Abuba Steak, atau memasukkan iklan ke majalah kuliner atau majalah lokal khususnya di daerah Jakarta. Hal ini agar semakin banyak masyarakat yang mengenal Abuba khususnya di luar daerah Jakarta. Dalam hal menciptakan simbol, dari hasil interview didapatkan informasi bahwa saat ini Abuba memang sedang rencana membuat simbol barunya. Dalam desain awal lambang Abuba memiliki huruf B terbalik dilihat 2 huruf dari belakang, namun rencananya huruf B terbalik ini akan ditaruh di 2 huruf dari depan. Bagi pihak Abuba perubahan ini mempunyai filosofi bahwa huruf B terbalik yang berada di belakang lebih bertanda bahwa Abuba lebih fokus ke dalam perusahaan sendiri dan enggan untuk berinovasi dan berkompetisi, namun dengan huruf B terbalik di depan maka menandakan bahwa Abuba siap membuka diri, bersaing di zaman global, dan siap berinovasi. Dalam melakukan perubahan simbol ini Abuba sudah melakukan riset kepada beberapa konsumennya di berbagai cabang. Bagi pihak Abuba simbol menjadi suatu sangat penting karena menandakan filosofi perusahaan juga. Mulai dari warna hingga bantuk simbol huruf sudah dipersiapkan secara baik oleh Abuba.

Sedangkan, untuk terakhir dalam hal harga (price) dimana harga / price menjadi suatu yang sangat penting dalam hal penjualan suatu produk, karena berkaitan dengan proses perolehan keuntungan, harga balik modal, juga kemampuan bersaing dengan kompetitor. Hal ini juga disadari Abuba, namun pihak Abuba mengakui belum ada standarisasi khusus dalam menentukan harga jual makanan di restauran Abuba tersebut. Abuba masih memakai metode dasar bahwa harga jual sudah termasuk COGS (cost of good sold / harga pembuatan suatu produk sebelum dijual) dan kemudian Abuba menetapkan harga jualnya setelah dikurangi dengan COGS tersebut. Pihak Abuba mengakui bahwa memang Abuba tidak mengambil keuntungan terlalu banyak dari penjualan produk steaknya, karena Abuba lebih mengutamakan kepuasan pelanggan dan berpaku pada filosofi pendiri Abuba dulu yang ingin menciptakan restaran steak lokal dengan citar rasa internasional namun dengan harga kaki lima, sehingga setiap golongan dapat mencicipi kelezatan steak dari Abuba ini. IV.4. Promosi Produk Abuba Dalam hal promosi produk steak nya, Abuba mengatakan lebih mengutamakan metode mulut ke mulut atau words of mouth dalam dunia pemasaran. Hal ini memang biasa dilakukan dalam dunia jasa. Metode ini bisa menjadi salah satu metode yang efektif dalam pemasaran suatu produk, karena para konsumen mendengar kesaksian dari konsumen lain yang memang sudah mencoba produk yang dibicarakan itu. Menurut pihak Abuba ini memang sangat efektif, karena para konsumennya lebih percaya testimonial dari konsumen lain yang pernah makan steak di Abuba, dibanding Abuba mempromosikan produknya sendiri melalui iklan-iklan besar. Namun, saat ini semenjak ada pergantian manajemen dari Pak Abu Bakar yang pendiri Abuba ke anaknya yang bernama Pak Ali Ardiansyah maka di Abuba dilakukan sedikit penyegaran agar tetap bisa bersaing dengan kompetitor lain yang sejenis. Mulai bulan November 2010 Abuba memakai jasa konsultan yang bernama PT Konsultasi Masa Depan, untuk lebih memperbarui citra Abuba. Selain mengutamakan metode words of mouth, Abuba sekarang juga mulai memasang iklan di radio. Untuk di Jakarta, Abuba telah memasang iklan di radio I Radio dan Hard Rock FM, sedangkan untuk di Bandung Abuba memasang iklan di radio Ardan. Selain itu semenjak tahun 2010 juga Abuba mulai membuat account Facebook dan Twitter untuk mengirim up date berita tentang Abuba ke konsumen dan agar lebih dekat juga berhubungan dengan konsumen. Para konsumen juga dapat mengirim saran dan kesan melalui account Abuba di Facebook dan twitter tersebut. Selain itu Abuba terus mengembangkan websitenya, yang awalnya tidak terlalu

diperhatikan. Tampak jelas Abuba saat ini lebih berusaha menjaring lebih banyak konsumen (khususnya anak muda) melalaui pemasaran secara on line disamping juga terus melakukan pemasaran secara off line. IV.5. Inovasi Yang Sudah Dilakukan Abuba dan Kiatnya Menghadapi Kompetitor Pihak Abuba menyadari bahwa menyadari bahwa saat ini Abuba sudah mempunyai banyak kompetitor sejenis yang ingin menyaingi keunggulan Abuba sebagai pioner berdirinya restauran steak lokal. Ada beberapa inovasi yang sudah dilakuka Abuba saat ini antara lain, Abuba berusaha melakukn beberapa inovasi produk dalam menu makanannya. Awalnya Abuba hanya menjual standar daging steak seperti sirloin, tenderloin baik yang lokal maupun yang luar negeri. Namun, saat ini selain menjual standar daging lokal dan lokal, Abuba juga menjual chicken steak, fish steak seperti kakap grill steak, salmon steak, untuk yang tidak memakan daging, kemudian juga ada wagyu steak yang didatangka dari Autralia yaitu sejenis daging steak istimewa yang rendah kadar lemak tak jenuhnya, dan lebih empuk untuk dimakan. Daging steak jenis wagyu ini juga aman dikonsumsi untuk konsumen yang mempunyai penyakit kolestrol. Selain itu Abuba juga mempunyai rencana untuk membuat paket Birthday Party untuk menjangkau konsumen anak-anak di cabang Abuba di Cipete. Menu yang akan disajikan antara lain adalah chicken steak yang tampaknya akan lebih mudah dicerna oleh anak-anak. Proses delivery yang saat ini telah ada pun ingin dikembangkan secara lebih profesional dengan adanya call center khusus yang menerima pesanan melalui telepon. Hal ini ditujukan agar Abuba juga dapat menjangkau konsumen yang ingin menikmati Abuba Steak, namun sedang tidak ingin keluar rumah. Selain call center kendaraan untuk mengantar steak seperti motor dan alat pemanas untuk mempertahankan kualitas steak yang akan diantar juga akan dikembangkan Abuba untuk tahap selanjutnya. Abuba ingin benar-benar menjangkau semua golongan konsumennya dan bersaing secara sehat dengan para kompetitornya melalui penciptaan inovasi-inovasi yang akan terus dicoba dicetuskan oleh Abuba Steak.

BAB V PENUTUPV.1. Kesimpulan Dari hasil interview dan analisa, peneliti menyimpulkan bahwa strategi pemasaran yang dijalan oleh restauran Abuba telah dijalankan dengan cukup baik. Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Abuba Steak sebagain besar memenuhi kriteria bagi pemasaran suatu sektor jasa dengan baik. Walaupun, restauran ini sebagian besar masih diisi oleh pihak manajemen dari keluarga Pak Abu Bakar sendiri selaku pendiri Abuba, namun pihak manajemen dapat membuktikan bahwa profesionalisme dalam menjalankan restauran sangat dijunjung tinggi sehingga kualitas Abuba semakin baik dan diharapkan agar Abuba dapat selalu menjadi yang terbaik dan siap berkompetisi dengan para kompetitornya. IV.2. Rekomendasi Rekomendasi yang dapat diberikan kepada restauran Abuba Steak oleh peneliti adalah: 1. Bahwa Abuba mulai dapat membuka lowongan pekerjaan untuk pihak manajemen dan juga kru-kru secara luas agar lebih banyak orang baru yang berkualitas yang membawa ide segar dan inovasi dibanding hanya dari lingkungan keluarga. Pihak Abuba yang sudah mulai memasang iklan di Kompas untuk lowongan pihak manajemen pada tanggal 8 Januari 2011 sudah menjadi tanda yang baik, namun akan lebih baik juga seterusnya dapat dilakukan dibuka lowongan dari luar untuk menseleksi orang yang berkualitas khususnya untuk bekerja di bagian manajemen. 2. Mengembangkan metode pelatihan sesuai standar yang ingin ditetapkan perusahaan secara lebih sistematis baik untuk level manajemen maupun pihak kru pelayan, dan sebagainya. Hal ini demi mendapatkan suatu lulusan pegawai dari training yang berkualitas yang mengetahui seluk beluk Abuba dan mempunyai visi dan misi yang sama untuk membangun Abuba Steak. 3. Untuk terus melakukan promosi produknya secara terus menerus dengan memilih

media yang baik, karena Abuba tidak boleh lengah dalam mengahadapi persaingan. Di mana banyak kompetitor Abuba yang juga gencar untuk melakukan aneka promosi produknya di berbagai media yang ada. 4.

DAFTAR PUSTAKA- Kotler, Philip; Keller Kenvin Lane: Marketing Management, 13th ed., Pearson International, 2009 - Mullins, John W; Walker Jr., Orville C; Byod Jr., Harper W: Larreche Jean-Claude; Marketing Management, A Strategic Decision-Making Approach, McGraw-Hill, 2010 - Website internet: http: infoukm.wordpress.com/2008/08/11/keragaman-definisiukm-di-indonesia/

Lampiran 1

Testimonal konsumen Abuba SteakData konsumen : Lien Farlina Usia Q A Q A : 42 tahun : Selamat sore, menu apa yang dipesan Mba: : Oh saya pesan kesukaan saya sih, sirloin steak yang versi New Zealand : Oh itu kesukaan Mba ya, bagaimana cita rasa nya Mba, apa yang Mba sukai dari daging sirloin steak Abuba itu? : Enak banget, dagingnya empuk, gurih dan saus barbeque nya itu menambah cita rasanya menjadi lebih enak. Selain itu saya juga tumisan sayurannya yang jagung, wortel ini. Rasanya enak dan gurih juga. Q A : Sudah berapa lama Mba menjadi langganan Abuba Steak? : Iya biasanya sih sama suami dan anak-anak seperti sekarang ini, lumayanlah dalam sebulan bisa sebulan sekali, karena bahaya juga Mba kalau keseringan makan daging terus hehehe... Q A Q A Q A Q A Q A Q A Q A : Menurut Mba kl tentang service timenya gimana Mba, berapa lama Mba dilayani? : Kira-kira 10-15 menitan ya.. : Meunurut Mba terasa lama gak? : Yah lumayan sih nunggunya, cuma masih ternasuk wajarlah tidak terlalu lama juga kok.. makanan yang ditunggu enak ini hehehe... : Oh jadi Mba tidak menjadi terlalu masalah? : Ya, gak terlalu sih cuma memang kalo bisa lebih cepat, mungkin lebih baik? : Kalau mengenai harga gimana? : Yah standar Mba tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah. Tapi dibanding restauran steak luar, mendingan di sini banget Mba, bisa makan steak tapi harganya lumayan. : Mba rencana akan ikut makan di sini terus? : Ya, Insya Allah sih Mba karena saya juga suka banget daging steaknya? : Pernah coba restauran steak lain? : Sudah sih, cuma pasti balik ke sini karena menurut saya memang paling enak sih steak Abuba : Apa saran Mba untuk restauran Abuba? : Mmm apa yaa, oh ya mungkin ini Mba coba lebih banyak kerjasama dengan pihak bank

dalam diskon apabila memakai kartu kredit tertentu. Kan lumayan banget Mba kalau untuk harga steak seperti ini, Abuba kayanya belum ikut-ikutan nih dalam hal ini seperti restauran lain.

Lampiran 2

Transkrip WawancaraNarasumber Tempat Hari, Tanggal Waktu Note : Bp. Bamby Cahyadi Branch Manager Abuba Steak Cipete Bp. Yusuf - Manager Operasional Abuba Steak Cipete : Abuba Steak Cipete : Rabu, 27 April 2011 : Pukul 17:00 18:15 WIB : Sebagian besar dari pertanyaan dijawab oleh Pak Bamby selaku BM, sedangkan Pak Yusuf lebih ke memberi informasi tambahan apabila informasi yang kurang yang diberikan oleh Pak Bamby Q : Selamat sore Pak, bisa dijelaskan sebelumnya mengenai sejarah bedirinya Abuba, seperti tahun berdirinya, motivasi mendirikam Abuba, tempat pertama kali Abuba buka, jumlah karyawan, kapan mempunyai cabang pertama dan berapa jumlah karyawan saat ini? A : Abuba itu pertama kali berdiri pada tanggal 4 November 1992 Mba oleh Bp. H. Abuba Bakar. Beliau memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai chef di pertambangan minyak lepas pantai dan memtuskan untuk membuka usaha warung makan steak. Motivasi Pak Abu Bakar saat itu adalah Beliau melihat bahwa di Jakarta saat itu belum ada rumah makan yang menawarkan steak buatan lokal orang Indonesia. Pada saat itu Mba, yang ada untuk restauran steak adalah impor dari restauran asing dari luar Indonesia seperti Sizzler, Gandys, dll. Pak Abu Bakar ingin membuat usaha warung makan steak yang enak dan tak kalah cita rasanya dengan restauran asing namun dengan harga kaki lima. Awal mula usaha Pak Abu Bakar itu ya Mba Hany hanya berupa gerobak kaki lima di daerah Kemang. Itu semua hanya modal ketrampilan masak Beliau dan sedikit nekat. Dan dibuka di depan restauran Payon yang terkenal dari sekitar jam 18:00-24:00 wib. Nama yang dipilih untuk warungnya adalah Abuba yang notabene singkatan nama Beliau sendiri. Karena Pak Abu Bakar memilih lokasi yang cukup strategis dan dekat dengan komunitas ekspatriat maka dalam beberapa bulan warung Abuba Steak itu ramai pengunjung. Tapi sayangnya, karena itu masih berbentuk gerobak Mba maka warung makannya sering digusur dan berpindah pindah walaupun masih di sekitar daerah Kemang juga. Akhinya Pak Abu Bakar mencari jalan membuka warungnya lagi di daerah Cipete, untuk mengantisipasi apabila yang di Kemang memang benar-benar harus digusur. Jadi warung

kaki lima Pak Abu Bakar saat itu ada dua. Yang di Kemang dikelola oleh istri Pak Abu Bakar dan di Cipete oleh Pak Abu Bakar sendiri dibantu adiknya. Total karyawan di dua tempat itu masih sekitar 5 orang. Barulah pada tahun 1994 Pak Abu Bakar menyewa sebuah rumah di Cipete Raya No. 6 untuk dijadikan tempat untuk warung steaknya. Alasan Pak Abu Bakar memilih Cipete adalah karena setelah diperhatikan Pak Abu Bakar resturan yang agak besar saat itu hanya restauran Sunda dan Pak Abu Bakar berusaha mengambil keputusan itu. Akhinya yang warung di Kemang ditutup Mba, agar Pak Abu Bakar dan istri dapat lebih fokus mengawasi warung makannya yang di Cipete. Pada tahun 1994 bentuk warung Abuba berubah dari gerobak menjadi sebuah ruko dari hasil sewanya kepada rumah di daerah Cipete tersebut. Lahan yang disewa di rumah tersebut juga baru sebagian. Jadi cabang Abuba buka itu ya tahun 1992 itu Mba dan jumlah karyawan masih 5 orang, sekarang Abuba sudah mempunyai 7 cabang di Cipete, Menteng, Tebet, Kelapa Gading, Gading Serpong, Pluit, dan Bandung. Q A : Bisa diceritakan Pak berapa jumlah karyawan dari Abuba saat ini di masing-masing cabang? : Oh bisa Mba, saya perlihatkan file nya. Baik Mba ini saya bacakan ya..Di Cipete yang berdiri pada 4 November 1992 dan sekarang beralamat di Cipete Raya no. 14 semenjak 31 Maret 2008, mempunyai total pegawai sebanyak 88 orangmulai dari level manager hingga kru pelayan.Di Menteng yang berdiri pada tanggal 7 Juli 2007 mempunyai total pegawai 33 orang, di Tebet yang berdiri pada tanggal 23 Desember 2010 mempunyai total pegawai 34 oran, di Kelapa Gading yang berdiri pada tanggal 25 September 2004 mempunyai total pegawai 28 orang, di Gading Serpong yang berdiri pada tanggak 9 September 2009 mempunyai total pegawai 25 orang, di Pluit yang berdiri pada tanggal 4 April 2006 mempunyai total pegawai sebanyak 29 orang dan di Bandung yang berdiri pada tanggal 1 May 2008 mempunyai total pegawai sebanyak 23 orang. Saat ini Abuba lagi mempertimbangkan lagi untuk buka cabang di Surabaya, Bali dan juga kancah internasional seperti Singapura dan Malaysia. Ya kita harapkan itu semua bisa terlaksana secara bertahap. Q A : Kalau boleh saya tahu Pak, untuk saat ini manajemen Abuba masih dipegang oleh Pak Abu Bakar atau orang lain Pak? : Saat ini pihak manajemen sudah dipegang oleh anak Pak Abu Bakar Mba yaitu Bp. Ali Ardiansyah. Maksud Pak Abu Bakar ini menurunkan estafet kepemimpinannya adalah agar manajemen Abuba mengalami penyegaran baik ide, konsep-konsep, inovasi, dll. Dan kebetulan Pak Ali ini adalah lulusan perhotelan di Swiss Mba, jadi memang Pak Ali sudah mempunyai ilmu dasar untuk mengelola usaha warisan dari Pak Abu Bakar? Q A : Kalau untuk karyawan tetap yang bukan non pelayan itu direkrut dari mana Pak, apa sudah menerima dari pihak luar? : Oh, sampai saat ini belum Mba. Pak Ali masih mengedapankan pihak keluarga untuk

mengisi staf-staf di level manajemen Abuba sampai chef nya juga hasil rekrutan dari lingkungan keluarga Pak Ali. Pak Ali ingin memberdayakan dari keluarg dekatnya dulu untuk mengisi level manajemen Mba. Namun, pada tanggal 8 Januari 2011 kemarin kita sudah mulai pasang iklan di Kompas untuk lowongan di posisi Manajemen, dan juga kru. Kalau kru memang sudah dari lama kita juga rekrut dari luar Mba. Q A : Pak sebetulnya apa segmentasi, dan targeting konsumen yang ingin dibidik oleh Abuba? : Mmmm, sebetulnya kita menyasar pada semua golongan ya Mba. Karena itu cita-cita awal Pak Abu Bakar ingin membuat rumah makan steak yang bercita rasa internasional dan telah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia namun dengan harga yang tidak terlalu mahal agar semua golongan konsumen bisa menikmati. Jadi pada dasarnya tidak ada segmentasi dan targeting khusus untuk restauran Abuba Steak ini Mba. Hanya kalau dilihat persentasi yang makan di Abuba, kalau dari hari Senin samai Jumat lebih ke orangorang dewasa yang perkantoran dan juga anak kuliahan. Baru pada Sabtu Minggu lebih ke orang-orang yang berkeluarga yang membawa keluarganya untuk makan di Abuba. Q A : Ok, jadi tidak ada segmentasi dan targeting secara khusus ya, kalau analisis SWOT Abuba menurut pihak Abuba sendiri apa Pak? : Baik ini analisis SWOT ya Mba. Kalau bagi Kami dari manajemen Abuba, Strength Kami adalah bahwa Kami menjadi brand image local steak pertama di Indonesia. Bukannya Kami bermaksud besar kepala ya Mba, cuma tampaknya setiap orang khususnya di Jakarta mayoritas dapat menyebut restauran steak yang enak, murah dan lokal buatan Indonesia adalah Abuba Steak. Kami dapat digolongkan menjadi pioner itu salah satu strength Kami. Kami menjadi ukuran utama bagaima restauran steak lokal itu. Dapat dikatakan bahwa Kami adalah the first real Indonesian steak, dan letak lokasi restauran Kami yang cukup strategis. Untuk weakness Kami, antara lain bahwa Kami menyadari service time Kami masih agak lama hal ini dikarenakan karena Kami masih memakai alat tradisional membakar daging dengan arang dan bukan alat grill dengan listrik karena ini sudah menjadi ciri khas Abuba yang berpengaruh terhadap cita rasa daging steaknya. Kemudian Kami juga menyadari bahwa basic training Kami masih kurang untuk semua level staf. Kemudian standar restauran Kami belum sama yaitu di konstruksi, desai dan visibility pada setiap cabang Abuba. Kami ingin mempunyai standar yang sama Mba baik untuk konstruksi, desai resturan di setiap cabang. Oppurtunity yang Kami rasakan adalah bahwa Kami harus berusaha untuk memperbaiki service time Kami menjadi lebih cepat. Kami ingin mempunyai garansi service time dan mengedepankan hospitality pada konsumen, selain itu Kami juga ingin agar training Kami lebih terstruktur dan SOP untuk training tersebut tersusun lebih sistematis. Dan Kami juga ingin remodelling cabang Abuba agar lebih terstandarisasi. Untuk threat Kami merasakan harus tetap waspada kepada kompetitor yang sejenis Kami yang terus bermunculan, maka dari itu Kami berusaha untuk selalu melakukan penyegaran. Kemudian ada juga masalah dati government regulation

yang berurusan dengan importir daging. Hal ini seperti ada quota import daging dari luar yang membuat import daging terbatas dan supplier Kami pun akan cenderung menaikkan harga, belum lagi apabila ada issue-issue yang menyangkut kesehatan hewan juga dapat menjadi threat bagi Kami. Namun, sampai saar ini threat tersebut di atas masih bisa Kami atasi dengan baik Mba. Q A : Bagaimana dengan strategi pemasaran Abuba saat ini apakah melalui tersebar dari mulut ke mulut (words of mouth) saja atau memakai media periklanan? : Oh nggak Mba, awalnya kita lebih memakai stretagi kepuasan pelanggan yang ingin Kami capai dan itu tersebar dengan sendirinya ke orang lain. Kekuatan dengan informasi dari mulut ke mulut atau words of mouth ya yang Mba katakan itu luar biasa loh Mba, makanya kita selalu mengutamakan kualitas di atas segalanya. Namun, memang belakangan ini Kami sudah mulai memakai media teknologi seperti account facebook, twitter, website yang sedang Kami perbaiki dan update, dan juga mulai memasang iklan di Radio Hardrock dan I Radio untuk yang di daerah Jakarta dan radio Ardan yang berada di Bandung. Kami mulai memasang iklan ini setelah akhir tahun lalu Kami memakai jasa konsultan resmi untuk membuat penyegaran di Abuba, hal ini berkaitan agar tetap dapat menjadi yang terbaik. Pemasangan iklan pegawai di koran kompas adalah hasil saran dari jasa konsultan Kami untuk mulai menerima perekrutan dari luar untul level manajemen agar ada ide-ide sega yang datang dari luar pihak keluarga. Q A : Kalau proses menentukan harga makanan dalam hal ini steak bagaimana Pak: : Jujur ya Mba, kita sebetulnya belum ada perhitungan resmi bagaimana sih proses untuk mendapatkan harga yang pas. Kami masih memakai cara tradisional saja sejaka zaman Pak Abu Bakar dulu yaitu modal berapa yang dikeluarkan kemdian juga ada COGS dari produk nya berapa barulah kita tentukan harga yang akan kita jual berapa. Pada dasarnya kita tidak mengambil keuntungan terlalu banyak dari setiap produk steak yang dijual. Kami lebih ingin agar pelanggan puas dan setia terhadap produk Kami. Dari situ mereka akan terus datang ke restauran Kami dan keuntungan yang Kami dapat pun akan lebih rutin. Q A : Bagaimana Abuba tetap dapat mempertahankan kualitas produknya hingga saat ini? : Oh ya bagi Kami Mba kualitas produk adalah segalanya mulai dari kualitas daging yang Kami pilih, jenis sayuran yang Kami pilih, cara memasaknya, dll semua sudah melalui standarisasi yang ditetapkan manajemen. Namun, Kami memang menyadari Mba bahwa Kami masih agak kurang di service time yang belum ada garansi time berapa suatu makanan yang dipesan akan diproses hingga sampai ke meja konsumen Kami. Kami ingin memperbaiki itu Mba. Semua tukang grill kaim adalah hasil perekrutan Pak Abu Bakar dan Pak Ali yang saat ini memegang manajemen. Dan mereka pun ditraining secara khusus oleh Pak Abu Bakar. Para tukang grill itu umumnya yang sudah ikut semenjak awal Abuba berdiri. Untuk bumbu pun masih rahasia, hanya pihak keluarga ini yang tahu cara mengolah bumbu tersebut walau tukang grill puntidak tahu cara mengolahnya. Itulah Mba

usaha Kami yang berusaha untuk detail dalam setiap proses agar hasil yang diperoleh akan maksimal. Q A : Bagaimana menghadapi kompetitor yang ada saat ini? : Kami hanya berusaha menjadi yang terbaik menurut ukuran Kami sendiri Mba, namun tetao Kami berusaha untuk terus berinovasi agar tetap bersaing secara sehat dengan kompetitor Kami. Misalnya Kami menyadari bahwa awalnya sistem manajemen Kami masih sangat tradisional, namun memang semenjak dipegang Pak Ali. Pak Ali meminta kita untuk bekerja lebih profesional dan diantara usaha Pak Ali adalah semenjak akhir tahun kemarin Kami menyewa jasa konsultas yang dapat membimbing Kami bagaimana caranya agar Kami tetap dapat menjadi yang terbaik. Q A : Inovasi apa sajakah yang sudah dilakukan Abuba saat ini untuk tetap unggul dibanging kompetitornya? : Untuk inovasi Kami berushaa melakukan berbagai variasi menu Mba. Saat ini Abuba mempunyai berbagai macam tipe steak tidak terbatas daging steak lokal, New Zealand, dan Amerika tetapi juga ada chicken steak, kakap grill steak, salmon steak, mulai ada wagyu steak juga yang kualitas dagingnya sangat baik dibanding daging steak lain. Sudah banyak konsumen yang memesan menu-menu variasi ini. Kami juga sudah melakukan cobranding dengan pihak Nestle di mana Nestle menyediakan minuman lemon tea lengkap dengan perlengkapannya dan Nestle memberi Kami harga diskon untuk lemon tea tersebut. Nestle juga ingin agar produknya ada dalam menu di Abuba menurut pihak Nestle tersebut Mba. Kami juga pernah melakukan kerja sama dengan Bank Mandiri dalam rangka memberikan diskon apabila menggunakan debit Mandiri. Saat ini pun Kami sedang mengkaji proposal dari Citibank yang mengajukan kerja sama penggunan pembayaran kartu kredit dengan Abuba. Alhamdulillah Mba hingga saat ini apabila ada kerjasama yang dihasilkan semua proposal itu datang terlebih dahulu dari pihak klien kepada Kami, baru setelah itu Kami kaji. Menurut mereka, mereka juga ingin menggapai konsumen yang menjadi pelanggan setia Kami. Namun, Kami ingininya Mba agar setiap inovasi yang Kami lakukan seperti kerjasama dengan pihak lain maupun variasi menu itu sudah sesuai dengan standar Abuba agar hasil yang dicapai pun juga maksimal Mba. Selain itu Mba kami juga ingin membuat space khusus untuk anak-anak di cabang Cipete ini. Kami ingin menawarkan birthday party di Abuba dengan konsep anak-anak yang ceria. Menu yang kami tawarkan kemungkinan lebih ke ayam, yang lebih mudah dicerna oleh mereka. Semua ini masih digodok oleh pihak manajemen. Kami juga ingin mengembangangkan sistem delivery kami dengan ada call center secara khusus sehingga tidak menganggu jalur telepon biasa, di mana biasanya akan sulit untuk dihubungi karena sibuk. Q : Halangan apa sajakah yang Abuba rasa saat ini untuk dapat bersaing dengan kompetitor?

A

: Kalau untuk halangan sesungguhnya tidak ada yang terlalu signifikan, kompetitor lain sebetulnya Kami anggap sebagai follower Kami di mana Kami merasa bahwa Kami harus bersaing secara sehat. Mungkin setiap local restauran steak mempunyai keunikan sendiri dan Abuba pun juga punya keunikan itu. Keunikan itulah yang Kami terus kembangkan dan asah agar selalu dapat menjadi yang terbaik. Namun, kalau untuk halangan kecil pastinya tetap ada, yaitu

Q A

: Apa positioning yang ingin ditempatkan Abuba di mata konsumennya? : Kami hanya ingin menjaga brand image Kami Mba sebagai the first local steak restauran dan tetap menjadi pioner di mata pelanggan Kami. Kami ingin mejadi restauran local steak no 1 di Indonesia. Saat ini pun kami sedang berusaha melakukan riset kecil-kecil kepada pelanggan kami mengenai rencana untuk mengubah logo kami. Awalnya ada huruf B yang terbalik ada pada 2 huruf dari belakang, namun kami ingin saat ini agar huruf B yang dibalik itu berada di 2 huruf dari depan. Hal itu agar agar memberi kesan bahwa dengan huruf B terbalik di depan seperti tangan terbuka, yang menunjukkan bahwa Abuba terus menuju ke arah pertumbuhan yang semakin baik (growth), berusaha menghadapi kompetisi secara sehat dan terbuka. Huruf B yang terbalik yang tadinya ada di 2 huruf belakang terlihat lebih merangkul yang menurut kami itu menunjukkan bahwa kami lebih tertutp dan takut terhadap perubahan, dan kami ingin merubah itu. Kami ingin mengikuti globalisasi yang ada, kami ingin mempunyai cabang lebih banyak lagi dan go internasional. Kami juga ingin Mba agar Abuba menjadi salah satu restauran kebanggan yang dimiliki masyarakat Indonesia Mba. Ya doakan ya Mba semoga semua proses tersebut dapat berjalan dengan baik.

Q A

: Baik Pak, terima kasih sekali atas penjelasan dan waktunya untuk interview ini Pak. Semoga Abuba terus dapat berkembang dengan baik... : Sama-sama Mba, semoga informasi yang kami berikan dapat membantu Mba dalam menyelesaikan tugasnya.

Lampiran 3 FOTO-FOTO DI RESTAURAN ABUBA

Logo depan Abuba di Restauran Abuba Cabang Cipete

Suasana dalam restauran

Suasana ruangan lain dalam restauran