ujian tugas akhir program (tap) s-1 pgsd

Download Ujian Tugas Akhir Program (Tap) S-1 Pgsd

If you can't read please download the document

Post on 30-Oct-2014

50 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MENYIASATIUJIAN TUGAS AKHIR PROGRAM (TAP) S-1 PGSD Imam Maliki/ UPBJJ Malang Abstrak : Tugas Akhir Program (TAP) merupakan evaluasi akhir program yang harus diikuti semua mahasiswa FKIP-UT progrm S-1. Melalui ujian TAP mahasiswa diharapkan mampu memecahkan masalah pembelajaran secara kreatif dan inovatif, dengan cara memahami dan menghubungkan berbagai konsep yang telah dipelajari dengan pengalaman praktik sehar-hari dalam mengelola kelas binaannya. Untuk itu, mahasiswa dituntut menggunakan model peneliti Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) dalam menyelesaikan soal ujian TAP. Ini berarti, mahasiswa peserta ujian TAP dituntut menggunakan model pemecahan masalah untuk menyelesaikan soal kasus pembelajaran yang dihadapi, dengan mengetengahkan ide, gagasan, dan temuan perbaikan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu teknis dan hasil pembelajaran dalam kelas binaannya. Kata-kata Kunci : Ujian, TAP, S-1 PGSD FKIP UT Pendahuluan Bagi mahasiswa FKIP UT, Tugas Akhir Program (TAP) merupakan evaluasi akhir program yang harus diikuti semua mahasiswa progrm S-1 yang telah menempuh sejumlah mata kuliah tertentu yang dipersyaratkan. Mata kuliah yang dipersyaratkan bagi mahasiswa UT S-1 yang akan menempuh TAP antara lain, telah lulus mata kuliah bidang keilmuan, kependidikan, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mata kuliah yang dipersyaratkan tersebut merupakan mata kuliah yang dapat memberi dan menambah wawasan keilmuan dan profesi keguruan kepada mahasiswa guna meningkatkan profesionalitas mahasiswa tersebut sebagai guru di masa depan. Melalui TAP mahasiswa dilatih dan diuji kompetensi akademiknya. Latihan dan ujian kompetensi akademik itu dilakukan dengan cara memahami dan menghubungkan berbagai konsep yang telah dipelajari dengan pengalaman nyata sehar-hari dalam mengelola kelas binaannya. Ini berarti, mahasiswa dituntut dapat menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari tersebut ke dalam konteks pembelajaran nyata dilakukannya sehar-hari. Dengan kata lain, melalui ujian TAP mahasiswa diharapkan mampu memecahkan masalah pembelajaran secara kreatif dengan menelorkan gagasan dan temuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang dibinanya. Untuk mencapai harapan tersebut, ujian TAP disusun dengan mempertimbangkan pelibatan pola pikir pemecahan masalah. Pola pikir ini, menuntut mahasiswa berpikir secara komprehensif berdasarkan

teori yang telah dipelajari dan memperbandingkan teori tersebut dengan pengalaman sehari-hari dalam konteks kelas yang dibinanya. Dengan berpikir komprehensif dengan cara membandingkan antara pemahaman teoretis dan pengalaman praktis, diharapkan ditemukan jawaban logis atas masalah dan kasus yang dihadapi dalam kelas nyata binaannya. Wujud kongretnya adalah mahasiswa mampu mengerjakannya dengan menggunakan cara berpikir ilmiah, logis, dan sistematis. Ujian TAP memiliki nuansa berbeda dengan ujian UKT pada masa lalu. Ujian UKT dilaksanakan dengan mengetengahkan kasus yang terjadi dalam pembelajaran. Kasus pembelajaran tersebut dikaji dengan menggunakan model pemecahan masalah. Model pemecahan masalah menuntut mahasiswa berpikir komprehensif dengan memanfaatkan teori yang relevan untuk memecahkan masalah kasuistik pembelajaran. Dengan kata lan, model pemecahan masalah menuntut mahasiswa membandingkan dan menghubung-hubungkan teori dengan pengalaman praktis pembelajaran sehari-hari dalam

menyelesaikan soal ujian UKT. Berbeda dengan ujian UKT, ujian TAP di samping menuntut mahasiswa menggunakan model pemecahan masalah, juga menuntut mahasiswa menggunakan model peneliti Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) dalam menyelesaikan soal. Peneliti PTK menggunakan model pemecahan masalah untuk menyelesaikan kasus pembelajaran. Tujuannya adalah untuk memperbaiki mutu teknis dan hasil pembelajaran. Dengan demikian diharapkan, pemanfaatan cara berpikir peneliti PTK untuk menghadapi ujian TAP, mendorong mahasiswa (yang nota bene adalah guru) berlatih menggali dan menemukan suatu formula pemecahan masalah kasuistik, dengan asumsi formula pemecahan masalah kasuistik tersebut memberikan harapan munculnya perbaikan mutu teknis dan hasil pembelajaran. Sehingga ke depan, kasus pembelajaran yang ditemukan mahasiswa peserta TAP dalam praktik pembelajaran sehari-hari di kelas binaannya, diharapkan dapat diselesaikan secara kreatif dan inovatif; dengan menelorkan suatu model perbaikan mutu pembelajaran yang memberikan harapan munculnya mutu teknis dan hasil pembelajaran yang lebih baik. Namun karena PTK merupakan hal baru dalam dunia kependidikan, maka para mahasiswa yang akan

menempuh TAP dan ujian TAP perlu dibekali berbagai hal terkait dengan karakteristik PTK. Oleh karena itu, paper kecil ini dibuat sebagai bahan panduan diskusi mahasiswa S-1 PGSD yang akan menempuh TAP dan ujian TAP. Arah pembicaraannya mengacu pada pertanyaan-pertanyaan sebagai beikut, (1) apa sajakah kemungkinan permasalahan (kasus) pembelajaran yang dihadapi, (2) apa sajakah alternatif pemecahan yang mungkin dapat dipakai untuk masalah tersebut, (3) bagaimanakah kekuatan dan kelemahan alternatif pemecahan yang mungkin tersebut, dan (4) alternatif manakah yang terbaik untuk pemecahan kasus yang ditemukan tersebut.

Karakteristik PTK Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) dapat ditelusuri dari hakikat kinerja PTK itu sendiri. PTK pada hakikatnya merupakan penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya binaannya sendiri. Dalam PTK guru harus melakukannya dengan merefleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Dengan membaiknya kinerja guru diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat (Wardani, 2002: 1.4). Dengan kata lain, PTK dilakukan guru di kelasnya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan harapan ditemukan model perbaikan pembelajaranya. Dengan demikian, ke depan diharapkan kinerja guru dalam pembelajaran yang dibinanya menjadi lebih baik, yang pada gilirannya akan mengangkat hasil pembelajaran itu menjadi lebih baik. Sejalan dengan penjelasan tersebut, PTK pada hakikatnya merupakan sebuah model penelitian yang memiliki karakteristik yang khas, yang berbeda dengan penelitian yang lain. Karakterisdtik yang khas dari PTK itu adalah (1) masalah dalam PTK muncul sebagai wujud kesadaran guru terhadap kondisi pembelajaran yang dilaksanakannya sehari-hari. Ini berarti peneliti PTK adalah guru itu sendiri. Oleh karena peneliti PTK adalah guru itu sendiri dan kancah penelitiannya adalah kelas binaannya sendiri, maka data yang ditemukan, analisis data yang dilakukan, dan alternatif perbaikan yang ditawarkan berpeluang lebih tepat dan lebih baik untuk perbaikan pembelajaran. Hal ini terjadi, karena guru sudah sangat mengenal permasalahan dalam kelas yang dibinanya.

(2) PTK dilakukan guru dengan cara merefleksi diri. Artinya, guru mencoba mengingat kembali apa yang dikerjakannya di kelas, bagaimana dampak tindakannya itu bagi siswa, mengapa dampaknya seperti itu, dan lain-lain. Dari situ guru mencoba menelaah kelemahan dan kekuatan tindakannya, untuk kemudian mencoba memperbaiki kelemahan-kelemahan tindakannya tersebut, sehingga ditemukan suatu model perbaikan pembelajarannya. (3) PTK dilakukan di dalam kelas yang divina guru itu sendiri. Oleh karena itu, fokus penelitian dalam PTK adalah aktivitas belajar-mengajar guru tersebut dalam kelas binaannya. Artinya, guru tidak perlu mencari objek penelitian yang bukan kelas binaannya. Hal ini akan membantu guru sebagai peneliti, mempertahankan kealamiahan kelas. Kealamiahan kelas amat penting untuk menggali data penelitian yang akurat. (4) PTK bertujuan memperbaiki pembelajaran. Jadi, PTK dilakukan guru untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan dalam kelas binaannya. Dengan kata lain, PTK dilakukan guru didasari oleh pemahaman bahwa dalam pembelajarannya dirasakan adanya masalah yang terjadi. Masalah itu kemudian dicoba direnungkan; direnungkan mengapa masalah itu terjadi dan apa saja sebabnya. Setelah ditemukan latar berlakang terjadinya dan penyebabnya, kemudian diidentifikasi beberapa kemungkinan alternatif pemecahannya. Alternatif pemecahan yang teridentifikasi itu kemudian dianalisis kekuatan dan kelemahannya. Barulah kemudian dipilih dan ditentukan alternatif terbaik dari beberapa alternatif tersebut untuk memperbaiki pembelajaran dalam kelas binaannya. Penjelasan di atas memberikan gambaran tentang langkah-langkah melakukan PTK. Secara ringkas langkah-langkah PTK dimaksud adalah (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan merumuskan masalah merencanakan perbaikan, dan (4) melaksanakan PTK. Melaksanakan PTK dimulai dari (1) persiapan, (2) analisis data, (3) refleksi tindakan, dan (4) tindak lanjut. Sumber Permasalahan Pembelajaran di SD Pembelajaran merupakan suatu proses membelajarkan siswa. Sebagai suatu proses, pembelajaran melibatkan sejumlah unsur yang terkait dengan keterlaksanaan proses tersebut. Unsur yang berkaitan

dengan pelaksanaan pembelajaran adalah (1) tujuan pembelajaran (TPU dan TPK), (2) proses pembelajaran (materi pelajaran, metode dan teknik mengajar, sumber belajar), dan (3) evaluasi proses dan hasil belajar siswa, serta (4) pelaku pembelajaran (guru dan siswa). Masing-masing unsur yang terkait dengan proses pembelajaran dapat menjadi sumber permasalahan pembelajaran. Permasalahan pembelajaran dapat timbul dari tujuan pembelajaran, dari materi pembelajaran, dari proses pembelajaran, atau dari evaluasi pembelajarannya.. Artinya, dapat saja terjadi pembelajaran tidak berhasil seperti yang diharapkan karena tujuannya, materi pelajarannya, proes belajar mengajarnya, atau evaluasinya yang tidak mendukung keberhasilan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu untuk dapat mencari pemecahan masalah dan mencari alternatif perbaikan pembelajarannya perlu diketahui lebih dahulu sumber atau tempat masalah itu timbul. Jika diduga penyebab ketidakberhasilan pembelajaran itu karena tujuannya, perlu ditelaah mengapa tujuan menjadi penyebab permasalahan pembelajaran. Apakah tujuan tersebut kurang spesifik; ka