tugas rbi (suryo 6511040609)

Download Tugas RBI (Suryo 6511040609)

Post on 29-Oct-2015

43 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Suryo atmojo catur p

6511040609

Tugas RBI1. Apa yang dimaksud dengan RBI ?

2. Jelaskan lingkup dari RBI ?

3. Jelaskan langkah-langkah proses penyusunan RBI dari awal sampai akhir ( Berilah data-data pendukungnya ) ?

4. Tambahkan hal-hal lain yang bisa memperjelas proses RBI ?

Jawaban :

1. Risk Based Inspection (RBI) adalah metode untuk menentukan rencana inspeksi (equipment mana saja yang perlu diinspeksi, kapan diinspeksi, dan metode inspeksi apa yang sesuai) berdasarkan resiko kegagalan suatu peralatan.

Menurut konsep RBI,

Resiko (Risk) = PoF x CoF

PoF (Probability of failure) adalah kemungkinan terjadinya kegagalan pada suatu periode tertentu. CoF (consequence of failure) adalah konsekuensi apabila suatu equipment gagal. CoF ada 4 macam yaitu: konsekuensi safety (jumlah personel yang cedera/meninggal), ekonomi (jumlah uang yang hilang akibat berhentinya produski), lingkungan (polutan yang mencemari lingkungan), dan hukum/politik.

2. Dokumen API 581 secara spesifik ditujukan untuk aplikasi RBI di industri hidrokarbon dan kimia. Metode RBI API 581 juga membatasi peralatan yang masuk ke dalam jangkauan RBI API P 580 pada peralatan- peralatan bertekanan dan tidak bergerak atau komponen bertekanan dan tidak bergerak dari sebuah rotating equipment. Selengkapnya peralatan yang termasuk ke dalam jangkauan RBI adalah sebagai berikut :

1. Bejana tekan : semua peralatan yang mewadahi tekanan

2. perpipaan proses: pipa dan komponen pipa

3. Tangki penyimpanan: atmospheric dan pressurized

4. Rotating Equipment: komponen bertekanan

5. Boiler dan Heater: komponen bertekanan

6. Penukar kalor

7. Pressure Relief Devices

3. Tahap I - screening atau qualitative RBI

Tujuan tahap I ini adalah memilah-milah equipment mana saja yang diprioritaskan untuk diinspeksi. Dalam tahap ini, PoF dan CoF dinyatakan secara kualitatif yaitu rendah dan tinggi. PoF rendah x CoF rendah = Risk rendah, maka pada equipment dengan risk ini cocok diterapkan corrective maintenance. PoF tinggi x CoF rendah = Risk menengah, maka cocok diterapkan corrective maintenance. PoF rendah x CoF tinggi = Risk menengah, maka cocok diterapkan preventive maintenance. PoF tinggi x CoF tinggi = Risk tinggi, maka harus dilakukan detailed analysis untuk menentukan rencana inspeksi atau mitigation action.- Pengelompokan peralatan berasarkan resikonya- Kelompok low risk penanganan: dapat diabaikan dari inspeksi

- Kelompok mendium risk penanganan : diarahkan ke breakdown maintenance atau preventive atau prediktif maintenance tergantung mekanisme terjadinya kerusakan

- Kelompok High risk penanganan : perlu diadakan analisis lebih detil atau RBI tahap berikutnya.Tahap II - detail analysis

Dalam tahap II ini dilakukan evaluasi PoF dan CoF secara detil, kemudian dapat ditentukan kapan waktu tercapainya Limit Risk sebagai dasar penentuan waktu inspeksi. Selain itu, juga ditentukan metode inspeksi yang sesuai. Dengan merefer pada API Recommended Practice 580, Risk-Based Inspection adalah Risk assessment dan managemen proses yang terfokus pada kegagalan peralatan karena kerusakan material. Jadi dengan RBI kita bisa membuat inspection program berdasarkan risk yang terjadi.

- peralatan yang termasuk kelompok high risk di analisis lebih detail. Untuk analisis ini diperlukan bekal pengetahuan mendalam tentang pola kerusakan dan lajukerusakan. Untuk membantu analisis biasanya diperlukan model kerusakan dari sistem selain teknik analisis standar seperti :FTA, ETA,Event Modelling DLL.Model yang dimaksud dapat berupa model laju korosi akibat gas atau zat-zat kimia dilimgkungan perlatan, model laju kebocoran gas, model laju kebocoran dan akibatnya terhadap kebakaran dan ledakan dan lain-lain. Berdasrkan analisis detail akan dighasilkan output berupa:

- waktu atau interval analisis pada peralatan

- prioritas lokasi inpeksi dari peralatan

- teknik inspeksi yang direkomendasika

Selain itu, RBI juga memberikan pendekatan baru dalam menghitung resiko pada perusahaan, yaitu perusahaan dapat dengan pasti memberikan target resiko yang dapat ditanggung oleh perusahaan dalam satuan angka misalnya sekian ribu dolar pertahun atau seper sekian nyawa karyawan per tahun. Dengan adanya target ini maka efesiensi dan prestasi dari kegiatan inspeksi dapat diukur dan dianalisis secarakuantitatif.

Beberapa nilai tambah yang diperoleh dari penerapan risk based inspection antara lain:- mengurangi waktu dan durasi shutdown- inspection dapat diprioritaskan pada peralatan yang memiliki tingkat kekritisan high- mengurangi risk of failure dari peralatan dengan sistem inspection yang terpadu.- meningkatkan safety serta kesiapan/kehandalan peralatan dalam operasi.

Data Data Pendukung.

4. Failure Mode Effect and Analysis (FMEA)

FMEA adalah sekumpulan aktivitas yang di harapkan dapat mengenali dan mengevaluasi potential failure dari sebuah produk atau proses dan dampaknya. Selain itu juga diharapkan mampu mengidentifikasi tindakan yang dapat mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya potential failure. Tujuan umum dari FMEA (Modarres,1999) adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi failure mode dan meringkatkan sesuai dengan effect pada product performance, selanjutnya menetapkan prioritas sistem untuk perbaikan

2. Mengidentifikasi design actions untuk mengeliminasi potensi failure mode atau mengurangi occurance pada masing-masing kegagalan

3. Sebagai dokumen yang melatar belakangi perubahan design produk dengan melengkapi ragam reference untuk analisis, mengevaluasi perubahan design dan mengembangkan perbaikan design.

FMEA ini memiliki kegunaan, diantaranya :

1. Ketika di perlukan tindakan preventive atau pencegahan sebelum masalah terjadi.

2. Ketika ingin mengetahui atau mendata alat deteksi yang ada jika terjadi kegagalan.

3. Pemakaian proses baru.

4. Perubahan atau penggantian komponen peralatan.

5. Pemindahan komponen atau proses kearah baru .

Risk Priority Number (RPN)

RPN merupakan perkalian matematis dari keseriusan efek (severity), kemungkinan terjadi cause akan menimbulkan kegagalan yang berhubungan dengan efek (occurance) dan kemampuan untuk mendeteksi kegagalan sebelum terjadi pelanggaran (detection). Dalam bentuk persamaan (Modarres,1999) :

RPN = Severity rating X Frequence rating X Probability of detection rating