tugas perlintan kel.2.docx

Download tugas perlintan kel.2.docx

Post on 18-Oct-2015

97 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

TUGAS PERLINDUNGAN TANAMANAPLIKASI TAKTIK FISIS UNTUK PENGENDALIAN HAMA PASCA PANEN BERAS DALAM SIMPANANGuna Melengkapi Tugas Perlindungan Tanaman

Oleh :1. Riris WidyowatiH08101022. Rofi AmaliaH08101033. Rofi KaromahH08101044. Roslita SugiyantoH08101055. Rossiyani Dewi H0810106Dosen Pengampu : Ir. Yv. Pardjo Notosandjojo, M.S.

PROGRAM STUDI AGRIBISNISFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS SEBELAS MARETTAHUN 2012BAB IPENDAHULUANBeras merupakan jenis padi-padian yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang paling utama. Bahan pangan seperti beras tersebut diperlukan sepanjang masa sebagai kebutuhan pokok manusia sebelum sandang dan papan. Sebanyak 75% masukan kalori harian masyarakat di nagara-negara Asia berasal dari beras. Lebih dari 50% penduduk dunia tergantung pada beras sebagai sumber kalori utama. Seiring dengan itu, pertumbuhan penduduk yang makin meningkat menjadi tuntutan bagi bahan pangan untuk semakin hari semakin meningkat, baik jumlah maupun mutunya. Namun, produktivitas tanaman pangan waktunya sangat terbatas baik oleh musim atau keadaan alam sehingga mengakibatkan produksinya hanya bisa diperoleh pada waktu tertentu saja bahkan pada kondisi perubahan iklim yang terjadi sekarang ini sering menyebabkan banyak terjadi gagal panen. Oleh karena itulah, berbagai tindakan dilakukan mulai dari pengolahan hasil hingga pada penyimpanan produk pangan agar ketika dibutuhkan produk tersebut dapat tersedia.Selain adanya kondisi perubahan iklim yang terjadi di bumi ini, tahapan-tahapan dalam pascapanen padi juga sangat mempengaruhi kuantitas hasil padi yang diperoleh. Kehilangan hasil pada tahapan pascapanen dapat diakibatkan oleh banyak faktor, tetapi faktor hama adalah yang paling utama. Di negara berkembang termasuk di Indonesia kerusakan bahan hasil pertanian diperkirakan rata-rata mencapai 25-50 % dari total produksi. Sedangkan di negara maju, kerusakan yang terjadi berkisar antara 5-15 %. Produk pasca penen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen. Pada setiap tahap dalam kegiatan pascapanen dapat terjadi penyusutan pada komoditas yang besarnya beragam tergantung pada baik buruknya sistem pascapanen yang diterapkan. Penyusutan akibat serangan organisme perusak terbesar terjadi di tempat penyimpanan. Menurut FAO, kehilangan hasil panen di negara-negara berkembang berkisar antara 10-13%, diantaranya berkisar 5% oleh berbagai jenis hama gudang seperti serangga, tikus, tungau, burung, dan jasad renik. Bulog memperkirakan susut bobot beras sekitar 25%, terdiri dari 8% waktu panen, 5% waktu pengangkutan, 2% waktu pengeringan, 5% waktu penggilingan, dan 5% waktu penyimpanan.

BAB IIISIBeras adalah suatu jenis komoditas utama di Indonesia, dan mampu disimpan dalam gudang dalam jangka waktu yang relatif lama, hal ini bisa mengakibatkan serangan hama pasca panen didalam penyimpanan.Hama pasca panen merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi. Hama menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan pada hasil pertanian baik dilapangan maupun ditempat penyimpanan. Hasil panen yang disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat diserang oleh berbagai hama gudang yang dapat merugikan. Kerugian yang ditimbulkan oleh hama pasca panen ini berupa penurunan kualitas dan kuantitas yaitu kerusakan bentuk, aroma, tercampur kotoran, daya tumbuh, nilai gizi dan nilai sosial ekonomi materi yang disimpan. Kerugian akibat serangga hama dan penyakit di Indonesia diperkirakan rata-rata setiap tahun 15-20% dari potensi produksi pertanian total.Produk dalam simpanan ini khususnya beras juga tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama. Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama gudang) mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang. Walaupun hama gudang (produk dalam simpanan) ini hidupnya dalam ruang lingkup yang terbatas, karena ternyata tidak sedikit pula jenis dan spesiesnya, yang masing-masing memiliki sifat sendiri, klasifikasi atau penggolongan hama yang menyerang produk dalam gudang untuk lebih mengenalnya dan lebih mudah mempelajarinya telah dilakukan oleh para ahli taksonomi. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang hama pasca panen yang menyerang beras dan aplikasi taktik-taktik fisis untuk mengendalikannya:A. Hama Pasca Panen pada Beras dalam PenyimpananHama merupakan semua binatang yang aktifitasnya menimbulkan kerusakan pada tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomis. Jenis hama serangga tidak hanya dijumpai di ladang ataupun di sawah, akan tetapi hama serangga dapat pula di jumpai pada bahan-bahan simpanan di gudang.Hama gudang hidup dalam ruang lingkup yang terbatas, yakni hidup dalam bahan-bahan simpanan di gudang.Beras merupakan salah satu komoditi yang membutuhkan penyimpanan dalam waktu yang relatif lama. Oleh karena itu, tidak jarang akan timbul berbagai gangguan khususnya hama pascapanen yang menyerang beras dalam penyimpanan. Berikut adalah beberapa hama yang menyerang beras dalam penyimpanan.1. Kumbang Bubuk Beras (Sitophilus oryzae)Sitophilus oryzae dikenal sebagai bubuk beras (rice weevil). Hama ini ditemukan pertama kali oleh Corolus Linaeus pada tahun 1763 di media padi.

Klasifikasi Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) yaitu:Kingdom:AnimaliaFilum : ArthropodaKelas:InsectaOrdo : ColeopteraFamili : CurculionidaeGenus : SitophilusSpesies : Sitophilus oryzaeKumbang bubuk beras ini bersifat kosmopolit atau tersebar ke seluruh dunia, tapi terutama di daerah tropis dan sub tropis. Akibat penyerangan ini, dalam waktu tidak lebih dari 1 tahun, produksi beras yang disimpan dalam gudang-gudang akan rusak 10-20%. Dalam waktu yang relatif pendek, simpanan beras di gudang maupun lumbung akan berubah menjadi bubuk-bubuk beras yang bergumpalan, bila tempat-tempat itu mempunyai kondisi yang baik bagi kumbang untuk hidup dan berkembang biak.Kepala kumbang bubuk beras memanjang dan membentuk moncong. Pada ujungnya terdapat bagian mulut pengunyah untuk membor biji-biji beras.Hama Sitophilus oryzae bersifat polifag, selain merusak butiranberas, juga merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran lainnya.Akibat dari serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa lubang pada satu butir, akan menjadikan butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk seperti tepung. Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini yang bercampur dengan air liur hama.Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata 4,5 mm, sedang pada beras hanya 3,5 mm. Larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa.Cara berkembang biaknyanya dengan bertelur. Telur-telur itu diletakkan dalam biji-biji beras yang sudah dibor lebih dulu kemudian ditutup dengan cairan gelatin yang dihasilkan oleh kumbang itu sendiri. Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. Lubang gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama 7 hari. Larva yang telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup hama ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis produk yang diserang.Faktor yang menentukan derajat kerusakan beras oleh kumbang beras dalam masa penyimpanan antara lain oleh pengaruh populasi, kadar air beras, kelembaban, kondisi fisik gudang, suhu, varietas asal beras, serta lama penyimpanan beras.2. Kumbang Tepung (Tribolium castaneum)Hama kumbang tepung ini juga disebut hama bubuk beras, bubuk Tribolium bukan hama yang khusus menyerang beras atau tepungnya. Pada kenyataannya, dimana pada komoditas beras ditemukan hama (Sitophilus oryzae), pasti akan ditemukan juga hama bubuk ini. Hama (Tribolium) hanya memakan sisa komoditas yang telah terserang hama (Sitophilus oryzae) sebelumnya yang berbentuk tepung (hama sekunder).

Klasifikasi Kumbang Tepung (Tribolium sp) yaitu:Kingdom: AnimaliaFilum: ArthropodaKelas : InsectaOrdo : ColeopteraFamili : TenebrionidaeGenus : TriboliumSpesies: (Tribolium sp.)Hama ini tidak hanya ditemukan dalam komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak, bekatul yang ada di toko maupun di rumah. Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya 4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang 5-6 mm. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang 3,5 mm. Kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur diletakkan dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil (remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorixal. Larva akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula pergantian kulit ini hanya terjadi sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11 mm. Menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di permukaan material, tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam material. Siklus hidup dari kumbang 35-42 hari. 3. Ngengat Beras (Corcyra cephalonica)