tugas mandiri farmasi

34
TUGAS MAKALAH INFEKSI SALURAN KEMIH Disusun Oleh : Dwi Septiadi Badri G99141147 KEPANITERAAN KLINIK LAB/UPF FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET/RSUD Dr MOEWARDI SURAKARTA 2014 1

Upload: adhie-badri

Post on 17-Jan-2016

25 views

Category:

Documents


1 download

DESCRIPTION

nb

TRANSCRIPT

Page 1: Tugas Mandiri Farmasi

TUGAS MAKALAH

INFEKSI SALURAN KEMIH

Disusun Oleh :

Dwi Septiadi Badri

G99141147

KEPANITERAAN KLINIK LAB/UPF FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET/RSUD

Dr MOEWARDI SURAKARTA

2014

1

Page 2: Tugas Mandiri Farmasi

BAB I

PENDAHULUAN

ISK (Infeksi Saluran Kemih) adalah adanya bakteri pada urin yang disertai

dengan gejala infeksi. Ada pula yang mendefinisikan ISK sebagai gejala infeksi

yang disertai adanya mikroorganisme patogenik pada urin, uretra, kandung kemih,

atau ginjal.

Infeksi saluran kemih sering terjdi pada wanita. Salah satu penyebabnya

adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah

melewati jalur ke kandung kemih. Faktor lain yang berperan adalah

kecenderungan untuk menahan urin serta iritasi kulit lubang uretra sewaktu

berhubungan kelamin. Uretra yang pendek meningkatkan kemungkinan

mikroorganisme yang menempel dilubang uretra sewaktu berhubungan kelamin

memiliki akses ke kandung kemih. Wanita hamil mengalami relaksasi semua otot

polos yang dipengaruhi oleh progesterone, termasuk kandung kemih dan ureter,

sehingga mereka cenderung menahan urin dibagian tersebut. Uterus pada

kehamilan dapat pula menghambat aliran urin pada keadaan-keadaan tertentu.

Faktor protektif yang melawan infeksi saluran kemih pada wanita adalah

pembentukan selaput mukus yang dependen estrogen di kandung kemih. Mukus

ini mempunyai fungsi sebagai antimikroba. Pada menopause, kadar estrogen

menurun dan sistem perlindungan ini lenyap sehingga pada wanita yang sudah

mengalami menopause rentan terkena infeksi saluran kemih. Proteksi terhadap

infeksi saluran kemih pada wanita dan pria, terbentuk oleh sifat alami urin yang

asam dan berfungsi sebagai antibakteri.

Infeksi saluran kemih pada pria jarang terjadi, pada pria dengan usia yang

sudah lanjut, penyebab yang paling sering adalah prostatitis atau hyperplasia

prostat. Prostat adalah sebuah kelenjar seukuran kenari yang terletak tepat di

bawah saluran keluar kandug kemih. Hiperplasia prostat dapat menyebabkan

obstruksi aliran yang merupakan predisposisi untuk timbulnya infeksi dalam

keadaan normal, sekresi prostat memiliki efek protektif antibakteri.

2

Page 3: Tugas Mandiri Farmasi

Pengidap diabetes juga berisiko mengalami infeksi saluran kemih berulang

karena tingginya kadar glukosa dalam urin, fungsi imun yamg menurun, dan

peningkatan frekuensi kandung kemih neurogenik. Individu yang mengalami

cedera korda spinalis atau menggunakan kateter urin untuk berkemih juga

mengalami peningkatan risiko infeksi.

3

Page 4: Tugas Mandiri Farmasi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi akibat

terbentuknya koloni kuman di saluran kemih. Beberapa istilah penting yang sering

dipergunakan dalam klinis mengenai ISK adalah:

1. ISK sederhana, yaitu ISK pada pasien tanpa disertai kelainan anatomi

maupun kelainan struktur saluran kemih.

2. ISK kompleks, yaitu ISK yang terjadi pada pasien yang menderita

kelainan anatomis/ struktur saluran kemih, atau adanya penyakit

sistemik. Kelainan ini akan menyulitkan pemberantasan kuman oleh

antibiotika.

3. First infection (infeksi pertama kali) atau isolated infection, yaitu ISK

yang baru pertama kali diderita atau infeksi yang didapat setelah

sekurangkurangnya 6 bulan bebas dari ISK.

4. Infeksi berulang, yaitu timbulnya kembali bakteriuria setelah

sebelumnya dapat dibasmi dengan pemberian antibiotika pada infeksi

yang pertama. Timbulnya infeksi berulang ini dapat berasal dari re-

infeksi atau bakteriuria persisten. Pada re-infeksi kuman berasal dari

luar saluran kemih, sedangkan bakteriuria persisten bakteri penyebab

berasal dari dalam saluran kemih itu sendiri.

II. Etiologi

Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang

biasanya menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram

negatif tersebut, ternyata Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian

diikuti oleh Proteus sp., Klebsiella sp., Enterobacter sp., dan Pseudomonas sp.

Jenis penyebab ISK non-bakterial adalah biasanya adenovirus yang dapat

menyebabkan sistitis hemoragik. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK

melalui cara hematogen adalah brusella, nocardia, actinomises, dan

4

Page 5: Tugas Mandiri Farmasi

Mycobacterium tubeculosa. Candida sp merupakan jamur yang paling sering

menyebabkan ISK terutama pada pasien-pasien yang menggunakan kateter urin,

pasien dengan penyakit imunnocompromised, dan pasien yang mendapat

pengobatan antibiotik berspektrum luas. Jenis Candida yang paling sering

ditemukan adalah Candida albicans dan Candida tropicalis. Semua jamur

sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen.

Faktor predisposisi yang mempermudah untuk terjadinya ISK, yaitu :

1. Bendungan aliran urin, terdiri atas:

a. Anomali kongenital

b. Batu saluran kemih

c. Oklusi ureter (sebagian atau total)

2. Refluks vesikoureter

3. Urin sisa dalam buli-buli karena :

a. Neurogenic bladder

b. Striktura uretra

4. Hygienitas

5. Instrumentasi

a. Kateter

b. Dilatasi uretra

c. Sitoskopi

III. Patogenesis dan Patofisiologi

Saluran kemih merupakan area yang seharusnya bebas dari

mikroorganisme atau steril. Infeksi saluran kemih terjadi pada saat

mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berkembangbiak di dalam

media urin. Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari

flora normal usus dan hidup secara komensal di introitus vagina, prepusium

penis,kulit perineum, dan sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih

melalui 4 cara, yaitu:

1. Ascending;

2. hematogen;

5

Page 6: Tugas Mandiri Farmasi

3. limfogen;

4. langsung dari organ sekitar yang sebelumnya sudah terinfeksi atau

eksogen sebagai akibat dari pemakaian intrumen.

Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending. Namun,

secara umum, infeksi paling sering terjadi dengan cara ascending, walaupun

infeksi secara hematogen dapat terjadi pada anak usia infant.

1. Infeksi Ascending

Infeksi secara ascending (naik) dapat terjadi melalui 4 tahapan, yaitu:

a. Kolonisasi mikroorganisme pada uretra dan daerah introitus vagina;

b. masuknya mikroorganisme ke dalam buli-buli;

c. multiplikasi dan penempelan mikroorganisme dalam kandung kemih;

d. naiknya mikroorganisme dari kandung kemih ke ginjal.

Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih.

(1)kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2)masuknya kumen melalui uretra ke buli-

buli, (3)penempelan kuman pada dinding buli-buli, (4)masuknya kumen melaui

ureter ke ginjal

.

Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan

antara mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel

saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena

pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agen yang

meningkat.

6

Page 7: Tugas Mandiri Farmasi

2. Hematogen

Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada seseorang dengan daya tahan

tubuh rendah. Infeksi ini sering terjadi pada anak usia infant, anak dengan daya

tahan tubuh yang rendah karena menderita sesuatu penyakit kronis, atau pada

anak yang mendapatkan pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen bisa

juga timbul akibat adanya fokus infeksi di tempat lain, misalnya infeksi S. aureus

pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi di tulang,

kulit, endotel, atau tempat lain. M. Tuberculosis, Salmonella sp., pseudomonas

sp., Candida albicans, dan Proteus sp termasuk jenis bakteri/ jamur yang dapat

menyebar secara hematogen. Walaupun jarang terjadi, penyebaran hematogen ini

dapat mengakibatkan infeksi ginjal yang berat, misal infeksi Staphylococcus dapat

menimbulkan abses pada ginjal.

IV. Diagnosis

Gambaran Klinis

Gambaran klinis infeksi saluran kemih sangat bervariasi mulai dari tanpa

gejala hingga menunjukkan gejala yang sangat berat. Gejala yang sering timbul

adalah disuria, polakisuria, dan urgensi yang biasanya terjadi bersamaan,disertai

nyeri suprapubik dan daerah pelvis. Pada bayi baru lahir, dapat terjadi ikterik.

Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi, yaitu:

1. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa nyeri supra

pubik, disuria, frekuensi, hematuri, urgensi, dan stranguria.

2. Pada ISK bagian atas, dapat ditemukan gejala demam, kram, nyeri

punggung, muntah, dan penurunan berat badan. Pada ISK bagian atas,

terkadang dapat pula ditemukan skoliosis.

Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menunjang

menegakkan diagnosis infeksi saluran kemih, antara lain:

7

Page 8: Tugas Mandiri Farmasi

1. Urinalisis

Untuk pengumpulan spesimen, dapat dipilih pengumpulan urin melalui

urin porsi tengah, pungsi suprapubik, dan kateter uretra. Secara umum, untuk anak

laki-laki dan perempuan yang sudah bisa berkemih sendiri, maka cara

pengumpulan spesimen yang dapat dipilih adalah dengan cara urin porsi tengah.

Urin yang dipergunakan adalah urin porsi tengah (midstream). Untuk bayi dan

anak kecil, spesimen didapat dengan memasang kantong steril pada genitalia

eksterna. Cara terbaik dalam pengumpulan spesimen adalah dengan cara pungsi

suprapubik, walaupun tingkat kesulitannya paling tinggi dibanding cara yang lain

karena harus dibantu dengan alat USG untuk memvisualisasikan adanya urine

dalam vesica urinaria.

2. Bakteriologis

a. Mikroskopis, pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa

diputar atau pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bila dijumpai satu bakteri

lapangan pandang minyak emersi.

b. Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk

memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna,

yaitu:

Tabel 1. Kriteria untuk diagnosis bakteriuria bermakna

Pengambilan spesimen Jumlah koloni bakteri per ml urin

Aspirasi supra pubik > 100 cfu/ml dari 1 atau lebih

organisme patogen

Kateter > 20.000 cfu/ml dari 1 organisme

patogen

Urine bag atau urin porsi tengah > 100.000 cfu/ml

8

Page 9: Tugas Mandiri Farmasi

3. Tes Kimiawi

Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria,

diantaranya yang paling sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya

adalah sebagian besar mikroba kecuali enterococci mereduksi nitrat.

4. Tes Plat – Celup (Dip-Slide)

Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan

plastik bertangkai dimana pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan

padat khusus. Lempengan tersebut dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan

digenangi urin. Setelah itu lempengan dimasukkan kembali kedalam tabung

plastik tempat penyimpanan semula, lalu diletakkan pada suhu 37oC selama satu

malam. Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola

pertumbuhan kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang

memperlihatkan pola kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cfu per mL

urin yang diperiksa. Cara ini mudah dilakukan, murah dan cukup adekuat.

Kekurangannya adalah jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui.

b. Radiologis dan pemeriksaan penunjang lainnya

Pemeriksaan radiologis pada ISK prinsipnya adalah untuk mendeteksi

adanya faktor predisposisi infeksi saluran kemih, yaitu hal – hal yang mengubah

aliran urin dan stasis urin, atau hal – hal yang menyebabkan gangguan fungsional

saluran kemih. Pemeriksaan tersebut antara lain berupa:

a. Foto polos abdomen

Dapat mendeteksi sampai 90% batu radio opak

b. Pielografi intravena (PIV)

Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi

system pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode

infeksi saluran kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat

hipertensi, pielonefritis akut, riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan

kreatinin plasma sampai < 2 mg/dl, bakteriuria asimtomatik pada

kehamilan, lebih dari 3 episode infeksi saluran kemih dalam setahun. PIV

9

Page 10: Tugas Mandiri Farmasi

dapat mengkonfirmasi adanya batu serta lokasinya. Pemeriksaan ini juga

dapat mendeteksi batu radiolusen dan memperlihatkan derajat obstruksi

serta dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah

> 6 minggu infeksi akut sembuh, dan tidak dilakukan pada penderita yang

berusia lanjut, penderita DM, penderita dengan kreatinin plasma > 1,5

mg/dl, dan pada keadaan dehidrasi.

c. Sistouretrografi saat berkemih

Pemeriksaan ini dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral,

terutama pada anak – anak.

d. Ultrasonografi ginjal

Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process,

ukuran dan bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada

ginjal.

e. Pielografi antegrad dan retrograde

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive

dan mengandung factor resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu

dilakukan pada refluks vesikoureteral dan pada infeksi saluran kemih

berulang untuk mencari factor predisposisi infeksi saluran kemih.

f. CT-scan

Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada

parenkim ginjal, termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik.

Pemeriksaan ini dapat membantu untuk menunjukkan adanya kista

terinfeksi pada penyakit ginjal polikistik. Perlu diperhatikan bahwa

pemeriksaan in lebih baik hasilnya jika memakai media kontras, yang

meningkatkan potensi nefrotoksisitas.

g. DMSA scanning

Penilaian kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat

dilakukan dengan skintigrafi yang menggunakan (99mTc)

dimercaptosuccinic acid (DMSA). Pemeriksaan ini terutama digunakan

untuk anak – anak dengan infeksi saluran kemih akut dan biasanya

10

Page 11: Tugas Mandiri Farmasi

ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih. Pemeriksaan ini 10 kali

lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks ginjal dibanding ultrasonografi.

V. Penatalaksanaan

Prinsip umum penatalaksanaan ISK adalah untuk eradikasi bakteri

penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai dan mengkoreksi kelainan

anatomis yang merupakan faktor predisposisi.

Tujuan penatalaksanaan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala,

mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah dan mengurangi

risiko kerusakan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang

sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal. Oleh karena itu, pola

pengobatan ISK harus sesuai dengan bentuk ISK, keadaan anatomi saluran kemih,

serta faktor-faktor penyerta lainnya. Tata cara pengobatan :

1. Menggunakan pengobatan dosis tunggal.

2. Menggunakan pengobatan jangka pendek antara 10-14 hari.

3. Menggunakan pengobatan jangka panjang antara 4-6 minggu.

4. Menggunakan pengobatan pencegaham (profilaksis) dosis rendah.

5. Menggunakan pengobatan supresif, yaitu pengobatan lanjutan jika

pemberantasan (eradikasi) bakteri belum memberikan hasil

Pemilihan antibiotik sangat dipengaruhi oleh bentuk resistensi lokal suatu

daerah. Amoksisilin secara tradisional merupakan antibiotik lini pertama untuk

ISK pada anak-anak. Namun, peningkatan angka resistensi E.coli terhadap

antibiotik ini menjadikan angka kegagalan kesembuhan ISK yang diterapi dengan

antibiotik ini menjadi tinggi. Uji sensitivitas antibiotik menjadi pilihan utama

dalam penentuan antibiotik yang dipergunakan. Antibiotik yang digunakan untuk

pengobatan infeksi saluran kemih terbagi dua, yaitu antibiotika oral dan

parenteral.

1. Antibiotika Oral

a. Sulfonamida

11

Page 12: Tugas Mandiri Farmasi

Antibiotika ini digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali.

Sulfonamida umumnya diganti dengan antibiotika yang lebih aktif karena

sifat resistensinya. Keuntungan dari sulfonamide adalah obat ini harganya

murah.

b. Trimetoprim-sulfametoksazol

Kombinasi dari obat ini memiliki efektivitas tinggi dalam melawan

bakteri aerob, kecuali Pseudomonas aeruginosa. Obat ini penting untuk

mengobati infeksi dengan komplikasi, juga efektif sebagai profilaksis pada

infeksi berulang. Dosis obat ini adalah 160 mg dan interval pemberiannya

tiap 12 jam.

c. Penicillin

Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas

spektrum luas, termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran

urin. Dosis ampicillin 1000 mg dan interval pemberiannya tiap 6

jam.

Amoxsicillin terabsorbsi lebih baik, amoxsicillin dikombinasikan

dengan clavulanat lebih disukai untuk mengatasi masalah resistensi

bakteri. Dosis amoxsicillin 500 mg dan interval pemberiannya tiap

8 jam. Sekitar 50% bakteri penyebab ISK resisten terhadap

amoxicillin.

d. Cephaloporin

Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama dibanding dengan

antibiotika lain yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih,

selain itu obat ini juga lebih mahal. Cephalosporin umumnya digunakan

pada kasus resisten terhadap amoxsicillin dan trimetoprim-

sulfametoksazol.

e. Tetrasiklin

Antibiotika ini efektif untuk mengobati infeksi saluran kemih tahap

awal. Sifat resistensi tetap ada dan penggunannya perlu dipantau dengan

12

Page 13: Tugas Mandiri Farmasi

tes sensitivitas. Antibotika ini umumnya digunakan untuk mengobati

infeksi yang disebabkan oleh chlamydial.

f. Quinolon

Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan

untuk mengobati infeksi tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli

dan Enterobacteriaceae lain, tetapi tidak terhadap Pseudomonas

aeruginosa. Ciprofloxacin dan ofloxacin diindikasikan untuk terapi

sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50 mg dan interval

pemberiannya tiap 12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg dan

interval pemberiannya tiap 12 jam.

g. Nitrofurantoin

Antibiotika ini efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada

pasien infeksi saluran kemih berulang. Keuntungan utamanya adalah

hilangnya resistensi walaupun dalam terapi jangka panjang.

h. Azithromycin

Berguna pada terapi dosis tunggal yang disebabkan oleh infeksi

chlamydial.

i. Methanamin Hippurat dan Methanamin Mandalat

Antibiotika ini digunakan untuk terapi profilaksis dan supresif

diantara tahap infeksi.

2. Antibiotika Parenteral.

a. Amynoglycosida

Gentamicin dan Tobramicin mempunyai efektivitas yang sama,

tetapi gentamicin sedikit lebih mahal. Tobramicin mempunyai aktivitas

lebih besar terhadap pseudomonas memilki peranan penting dalam

pengobatan onfeksi sistemik yang serius. Amikasin umumnya digunakan

untuk bakteri yang multiresisten. Dosis gentamicin sebesar 3-5 mg/kg

berat badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan 1 mg/kg berat

badan dengan interval pemberian tiap 8 jam.

b. Penicillin

13

Page 14: Tugas Mandiri Farmasi

Penicillin memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati

infeksi akibat Pseudomonas aeruginosa dan enterococci. Penicillin sering

digunakan pada pasien yang ginjalnya tidak sepasang atau ketika

penggunaan amynoglycosida harus dihindari.

c. Cephalosporin

Cephalosporin generasi kedua dan ketiga memiliki aktivitas

melawan bakteri gram negative, tetapi tidak efektif melawan

Pseudomonas aeruginosa. Cephalosporin digunakan untuk mengobati

infeksi nosokomial dan uropsesis karena infeksi pathogen.

d. Imipenem/silastatin

Obat ini memiliki spectrum yang sangat luas terhadap bakteri gram

positif, negative, dan bakteri anaerob. Obat ini aktif melawan infeksi yang

disebabkan enterococci dan Pseudomonas aeruginosa, tetapi banyak

dihubungkan dengan infeksi lanjutan kandida. Dosis obat ini sebesar 250-

500 mg ddengan interval pemberian tiap 6-8 jam.

e. Aztreonam

Obat ini aktif melawan bakteri gram negative, termasuk

Pseudomonas aeruginosa. Umumnya digunakan pada infeksi nosokomial,

ketika aminoglikosida dihindari, serta pada pasien yang sensitive terhadap

penicillin. Dosis aztreonam sebesar 1000 mg dengan interval pemberian

tiap 8-12 jam.

Obat-obatan seperti asam nalidiksat atau nitrofurantoin tidak digunakan

pada anak-anak yang dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK.

Selain itu nitrofurantoin juga lebih mahal dari cotrimoxazole dan memiliki efek

samping seperti mual dan muntah. Fluoroquinolon yang sering dipergunakan pada

pasien dewasa tidak pernah dipergunakan pada anak-anak karena mengganggu

perkembangan pada sistem muskuloskeletal dan sendi.

Lama pemberian antibiotik pada ISK umumnya masih menjadi

kontroversi. Pada pasien dewasa, pemberian antibiotik selama 1-3 hari telah

menunjukkan perbaikan berarti, namun dari berbagai penelitian, lamanya

antibiotik diberikan pada anak adalah sebaiknya 7-14 hari.

14

Page 15: Tugas Mandiri Farmasi

Jika tidak ada perbaikan dalam 2 hari setelah pengobatan, contoh urin

harus kembali diambil dan diperiksa ulang. Kultur ulang setelah 2 hari pengobatan

umumnya tidak diperlukan jika diperoleh perbaikan dan bakteri yang dikultur

sebelumnya sensitif terhadap antibiotik yang diberikan. Jika sensitivitas bakteri

terhadap antibiotik yang diberikan atau tidak dilakukan tes sensitivitas/resistensi

sebelumnya, maka kultur ulang dilakukan setelah 2 hari pengobatan.

Antibiotik profilaksis tidak dianjurkan diberikan pada anak penderita ISK.

Dalam penelitiannya, Conway et al menyatakan bahwa pemberian antibiotik

profilaksis berkaitan erat dengan meningkatnya risiko terjadinya resistensi dan

tidak adanya pengurangan dalam risiko terjadinya ISK berulang maupun renal

scarring. Pada anak penderita refluks vesiko-urinaria, antibiotik profilaksis tidak

memberikan efek berarti dalam pengurangan risiko terjadinya ISK berulang,

sehingga pemberian antibiotik profilaksis tidaklah diperlukan.

VI. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu

saluran kemih, obstruksi saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisistem,

dan gangguan fungsi ginjal. Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi

ISK yang terjadi jangka panjang adalah terjadinya renal scar yang berhubungan

erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal kronik.

VII. Prognosis

Prognosis infeksi saluran kemih adalah baik bila dapat diatasi faktor

pencetus dan penyebab terjadinya infeksi tersebut.

15

Page 16: Tugas Mandiri Farmasi

BAB III

STATUS PENDERITA

1. Anamnesa

a. Identitas Penderita

Nama : Ny. A

Umur : 34 th

Jenis Kelamin : perempuan

Status pernikahan: kawin

Agama : Islam

Pekerjaan : karyawan swasta

Alamat : palur, karanganyar

b. Keluhan Utama : sering anyang-anyangen

c. Riwayat Penyakit Sekarang : sejak 4 hari terekahir pasien

mengeluhkan sering anyang-anyangen, pasien juga mengeluhkan

nyeri perut bawah dan perasaan tidak nyaman di daerah panggul, nyeri

hilang timbul, dan sering ingin buang air kecil.Kadang-kadang pasien

merasa demam sumer-sumer. Pasien mengaku sering menahan

kencing karena urusan pekerjaan. Belum pernah diobati.

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit serupa : pernah anyang-anyangen tapi

diabaikan karena belum merasa terganggu

Riwayat DM : disangkal

Riwayat Hipertensi : disangkal

e. Riwayat Kebiasaan

Riwayat merokok : disangkal

Riwayat minum jamu : disangkal

16

Page 17: Tugas Mandiri Farmasi

Riwayat minum minuman keras : disangkal

f. Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga

Riwayat DM : disangkal

Riwayat Hipertensi : disangkal

Riwayat Sakit ginjal : disangkal

g. Riwayat Sosial dan Ekonomi

Pasien sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta,pasien sering

disibukkan dengan pekerjaannya, pasien mempunyai seorang suami

dan 2 orang anak. Pasien melakukan aktivitas seksual teratur.

2. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum : Baik, kompos mentis, gizi cukup

b. Tanda vital

- Tensi : 120/80

- Nadi : 88

- Suhu : 37,9°C

- Frekuensi nafas : 20

c. Status Gizi

- BB : 50 kg

- TB : 1,55 m

- BMI : 20,8 kg/m2

d. Kulit : ikterik (-), turgor kurang (-), petechie (-), anemis (-)

e. Kepala : mesocephal, rambut warna hitam, luka (-)

f. Mata : konjunctiva pucat (-/-), sclera ikterik (-/-), perdarahan

palpebra (-/-), pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm), reflek

cahaya (+/+), edema palpebra (-/-), strabismus (-/-)

g. Telinga : membrane timpani intak, secret (-/-), nyeri tekan tragus

(-/-)

17

Page 18: Tugas Mandiri Farmasi

h. Hidung : nafas cuping hidung (-/-), secret (-/-), epistaksis (-/-),

fungsi penghidu baik

i. Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah tremor

(-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-)

j. Leher : Simetris, trakea ditengah, JVP tidak meningkat, limfonodi

tidak membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)

k. Thorax

- Retraksi (-)

- Jantung

Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus Cordis tidak kuat angkat

Perkusi : Konfigurasi jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II intensitas normal, reguler,

bising (-)

- Paru

Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi : fremitus raba kanan = kiri

Perkusi : sonor seluruh lapang paru

Auskultasi :suara dasar (vesikuler / vesikuler), suara tambahan

(-/-)

l. Punggung

- Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis

(-)

- Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)

- Perkusi : nyeri ketok kostovertebra (-)

m. Abdomen

- Inspeksi : dinding perut sejajar dengan dinding dada

- Auskultasi : peristaltik (+) normal

- Perkusi : tympani

n. Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

18

Page 19: Tugas Mandiri Farmasi

o. Genitalurinari : secret (-), ulkus (-)

p. Ekstremitas

- atas : oedem (-/-), akral dingin (-/-), luka (-/-), clubbing

finger (-/-), spoon nail (-/-)

- bawah : oedem (-/-), akral dingin (-/-), luka (-/-), clubbing

finger (-/-), spoon nail (-/-)

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium Darah

Hb : 12,2 g/dL (12 – 15,6)

Hct : 36 % (33 – 45)

AL : 14,1. 103/µL (4,5 – 14,5)

AT : 208. 103/µL (150 – 450)

AE : 4,10 106/ µL (4,10 – 5,10)

GDS : 95 mg/dL (80 – 110)

GDP : 102 mg/dL (70 – 110)

Pemeriksaan Laboratorium Urin

Makroskopis

- Warna : kuning

- Kejernihan : agak keruh

Kimia urin

- Berat jenis :1.015 (1.003 – 1.030)

- pH : 6,5 (6 -7)

- leukosit : 3000/mm3 (2000/mL)

- nitrit : negatif (-)

- glukosa : negatif (-)

- protein : 25 mg/dL (20mg/dL)

- urobilinogen : positif (+)

- bilirubin : negatifl (-)

-

19

Page 20: Tugas Mandiri Farmasi

Mikroskopis

- eritrosit : 1-2/LPB

- leukosit : 6-8/LBP

- Epitel

Squamous : 6-8/LPK

Transisional : 1-2/LPK

Bulat : negative

- Kristal

Amorf : positif

4. Diagnosis

ISK

5. Tujuan Pengobatan

Tujuan pengobatan adalah ISK bawah antara lain:

a. mencegah dan menghilangkan gejala

- anyang-anyangen, rasa tidak nyaman di daerah perut bagian

bawah, demam dengan Antibiotika dan Analgesik Antipiretik

b. mencegah bakteriemia dengan Antibiotika

c. mencegah dan mengurangi resiko kerusakan jaringan ginjal yang

mungkin timbul dengan terapi nonfarmakologis

6. Pengobatan

a. medikamentosa

R/ Bactrim tab mg 480 no XX

Ѕ 2 dd tab II

R/ Paracetamol tab mg 500 no XV

Ѕ prn 1-3 dd tab I

Pro: Ny. A (34 tahun)

20

Page 21: Tugas Mandiri Farmasi

b. nonmedikamentosa

- pasien diharapkan untuk mengubah kebiasan hidupnya, tidak

menunda waktu untuk berkemih

- minum air yang banyak ±8 gelas sehari

- menjaga kebersihan daerah genetalia eksterna, dengan

membersihkan alat genital dari arah depan ke belakang.

- Menghindari pemakaian celana ketat.

- Mengganti pakaian dalam setiap hari.

7. Pembahasan Obat

a. Bactrim

- Antibiotik digunakan untuk eradikasi kuman patogen penyebab

infeksi. Sebelum ada biakan dari hasil tes sensitivitas, pasien diberi

antibiotik yang efektif dan mempunyai efek samping kecil.

Pengobatan infeksi akut tergantung dari berat ringannya infeksi,

biasanya selama 5-7 hari. Jika belum tahu jenis bakterinya gunakan

Bactrim 2x2 (480 mg). Bactrim adalah nama paten yang merupakan

kombinasi sulfametosazol(400mg) dan trimetroprim(80mg)

(cotrimoksazol) merupakan plihan pertama pada isk dengan

komplikasi. Efektif untuk gram positif dan negative. Walaupun

keduanya hanya bersifat bakteristatik namun kombinasi berkhasiat

bakterisid. Keuntungannya timbulnya resistensi lebih lambat. Karena

bakteri yang resisten dengan satu komponen masih dapat dimusnahkan

dengan komponen lain. Kontraindikasinya : kerusakan parenkim hati,

gagal ginjal berat, hamil, hipersensitifitas. ISK akut tanpa komplikasi

3 tablet forte dosis tunggal(10 mg). Pada anak-anak diberikan bentuk

sirup 2 x sehari 6 mg-5 bln 2,5 ml, 6 bln-5 th 5 ml, 6 th -12 th 5-10 ml.

diberikan segera sesudah makan. Efek samping : mual, muntah, hilang

nafsu makan, kemerahan pada kulit.

21

Page 22: Tugas Mandiri Farmasi

b. Paracetamol

- Paracetamol diberikan untuk menghilangkan gejala demam yang

timbul akibat infeksi saluran kemih. Diminum bila demam timbul.

Untuk dewasa dosis Paracetamol adalah 500mg, untuk anak dosis

paracetamol dapat dihitung menurut berat badan atau usia.

- Keberhasilan pengobatan pada ISK simptomatik ini adalah hilangnya

gejala dan bukan hilangnya bakteri.

- Evaluasi ulang dengan kecurigaan adanya kelainan anatomi atau

struktural dapat mulai dipertimbangkan bila terjadi ISK berulang > 2

kali dalam waktu 6 bulan.

22

Page 23: Tugas Mandiri Farmasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H, Lobel B

(ed). European Association of Urology : Guidelines on Urinary and Male

Genital Tract Infections. 2001.

2. Berger RE. Sexually Transmitted Disease: The Classic Disease. Dalam :

Walsh PC. Campbell`s Urology Vol 1. 8th edition. WB Saunders

Company. 2002 ; 671-92.

3. Johnson. CC, MD. Definitions, Classification and Clinical Presentation of

Urinary Tract Infections. Med. Clin of North Am 1991; 75:2. 241-52.

4. Tseng CC, et al. Role of Host and Bacterial Virulence Factors in the

Development of Upper Urinary Tract Infection Caused by E. Coli. Am J of

Kidney Dis 2002; 39:4. 744-752.

5. Jawetz E et al (eds) : Medical MIcrobiology, 19th ed , Appleton and

Lange, Norwalk, Connecticut/San Mateo Californiam 1991.

6. Jawetz. E , Melnick & Adelberg : Mikrobiologi Kedokteran, edisi 20 EGC

Jakarta 1996

23