tugas mandiri edema

13
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Kapiler Darah 1.1 Susunan 1. Molekul-molekul yang berdisfusi hanya perlu menempuh jarak pendek antara darah dan sel sekitar karena dinding kapiler yang tipis dan garis tengah kapiler yang kecil, disetai dekatnya jarak setiap sel dengan sebuah kapiler. Jarak pendek ini penting karena laju disfusi melambat seiring dengan pertambahan jarak disfusi. a. Dinding Kapiler sangat tipis ketebalan hanya 1 nm. Kapiler terdiri dari hanya 1 lapisan sel endotel gepeng-gepeng. b. Setiap kapiler sedemikian sempitnya sehingga aliran darah harus lewat satu per satu. Karena itu, plasma bisa berkontak langsung dengan bagian dalam dinding kapiler atau hanya terpisah oleh jarak disfusi yang pendek. 2. Para peneliti memperkirakan bahwa karena luasnya percabangan kapiler makan tidak ada sel yang letaknya lebih jauh dari 0,01 cm dari sebuah kapiler.Kapiler terdistribusi dalam jumlah yang sangat luar biasa (perkiraan berkisar 10 sampai 40 milyar kapiler) maka tersedia luas permukaan total yang sangat besar untuk proses pertukaran. 3. Darah mengalir lebih lambat di kapiler daripada bagian lain sistem sirkulasi. Percabangan kapiler yang ekstensif merupakan penyebab lambatnya aliran darah melalui kapiler.

Upload: nadia-hardianti

Post on 11-May-2017

253 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Tugas Mandiri Edema

LO.1 Memahami dan Menjelaskan Kapiler Darah

1.1 Susunan1. Molekul-molekul yang berdisfusi hanya perlu menempuh jarak pendek antara darah dan sel

sekitar karena dinding kapiler yang tipis dan garis tengah kapiler yang kecil, disetai dekatnya jarak setiap sel dengan sebuah kapiler. Jarak pendek ini penting karena laju disfusi melambat seiring dengan pertambahan jarak disfusi.

a. Dinding Kapiler sangat tipis ketebalan hanya 1 nm. Kapiler terdiri dari hanya 1 lapisan sel endotel gepeng-gepeng.

b. Setiap kapiler sedemikian sempitnya sehingga aliran darah harus lewat satu per satu. Karena itu, plasma bisa berkontak langsung dengan bagian dalam dinding kapiler atau hanya terpisah oleh jarak disfusi yang pendek.

2. Para peneliti memperkirakan bahwa karena luasnya percabangan kapiler makan tidak ada sel yang letaknya lebih jauh dari 0,01 cm dari sebuah kapiler.Kapiler terdistribusi dalam jumlah yang sangat luar biasa (perkiraan berkisar 10 sampai 40 milyar kapiler) maka tersedia luas permukaan total yang sangat besar untuk proses pertukaran.

3. Darah mengalir lebih lambat di kapiler daripada bagian lain sistem sirkulasi. Percabangan kapiler yang ekstensif merupakan penyebab lambatnya aliran darah melalui kapiler.

Page 2: Tugas Mandiri Edema

1.2 Aliran1. Aliran darah jauh lebih lambat melewati kapiler. Kecepatan lambat ini menyebabkan

tersedianya waktu yang cukup bagi pertukaran nutrien dan produk sisa metabolik antara darah dan sel jaringan, yang merupakan tujuan utama sistem sirkulasi keseluruhan.

2. Pertukaran zat terjadi di pori-pori kapiler darah. Pori kapiler tersusun dari sel-sel endotel yang kerapatannya bervariasi di antara organ-organ. Ukuran pori kapiler bervariasi dari organ ke organ. Di sebagian besar kapiler terdapat celah sempit berisi air, atau pori, di taut antara sel-sel, pori2 ini memungkinkan lewatnya bahan-bahan larut air. Bahan larut lemak misalnya O2 dan CO2 mudah menembus sel endotel itu sendiri dengan larut di dalam lapis ganda lemak.

Page 3: Tugas Mandiri Edema

3. Di sebagian besar jaringan, bahan-bahan kecil larut air misalnya ion, glukosa, dan adam amino mudah melewati pori berisi air ini, tetapi bahan besar tak larut lemak yang tidak dapat menembus pori, misalnya protein plasma, tidak dapat dipertukarkan.

4. Sel endotel secara aktif dapat berubah untuk mengtur permeabilitas kapiler. Contohnya histamin meningatkan permeabilitas kapiler dan memici sel endotel memperbesar celah antar sel. Karena pori membesar makan dinding kapiler yang bersangkutan menjadi lebih “bocor”. Akibatnya protein-protein plasma yang normalnya tertahan di dalam pembuluh lolos ke jaringan sekitar, dan menimbulkan efek osmotik. Kemudian menyebabkan bengkak peradangan.

5. Transpor vesikular pada pori kapiler berperan untuk transpor molekul besar tak larut lemak misalnya hormon protein yang harus dipertukarkan antara darah dan jaringan.

6. Organ perekondisian secara terus menerus memasok nutrien dan O2 serta mengeluarkan CO2 dan zat lain sewaktu darah melewatinya. Disfusi ini terjadi melalu dinding kapiler darah.

7. Sel dan seiring dengan peningkatan aktivitas pemakaian O2 menyebabkan peningkatan CO2. Hal ini mengakibatkan peningkatan gradien konsentrasi O2 dan CO2 antara Sel dan darah sehingga lebih banyak O2 berdisfusi keluar darah ke dalam sel dan lebih banyak CO2dalam arah berlawanan untukmenunjang peningkatan aktivitas metabolik ini.

8. Cara pertama pertukaran menembus kapiler adalah disfusi. Kemudian cara kedua adalah dengan cara bulk flow yang melewati dinding kapiler.

Bulk flow penting dalam distribusi cairan ekstrasel. Bulk flow terjadi proses filtrasi suatu volume plasma bebas protein, yang kemudian bercampur dengan cairan interstisium, dan kemudian di reabsorpsi.

Dinding kapiler berfungsi sebagai penyaring, dengan cairan mengalir melalui pori berisi air. Ketika tekanan di dalam kapiler melebihi tekanan di luar maka cairan terdorong keluar melalui pori dalam suatu proses yang dikenal sebagai ultrafiltrasi.

Ada 4 gaya yang mempengaruhi bulk flow yaitu : Tekanan darah kapiler (tekanan cairan hidrostatik), tekanan osmotik koloid plasma, tekanan hidrostatik cairan interstitium, tekanan osmotik koloid cairan interstitium. *penjelasan di LO selanjutnya

Page 4: Tugas Mandiri Edema

LO.2 Memahami dan Menjelaskan Metabolisme Air

2.1 Unsur-Unsur Biokimia Cairan

Cairan yang bersikulasi di seluruh tubuh di dalam ruang cairan intrasel dan ekstrasel mengandung elektrolit, mineral dan sel.

Elektrolit merupakan sebuah unsure atau senyawa yang jika melebur atau larut di dalam air atau pelarut lain akan pacah menjadi ion dan mampu membawa muatan listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

Page 5: Tugas Mandiri Edema

1. Ion positif ( kation )

Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.

2. Ion negative ( anion )

Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).

Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.

1. Natrium

Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter. Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:

· Left atrial stretch reseptor

· Central baroreseptor

· Renal afferent baroreseptor

· Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)

· Atrial natriuretic factor

· Sistem renin angiotensin

· Sekresi ADH

· Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)

Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).

Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.

2. Kalium

Page 6: Tugas Mandiri Edema

Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.

3. Magnesium

Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan + 10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.

4. Kalsium

Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.

5. Karbonat

Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa.

2.4 Proporsi cairan dan elektrolit tubuh

Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori presentase cairan tubuh berdasarkan umur adalah : bayi baru lahir 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari berat badan. Presentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada factor usia, lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin. Jika lemak tubuh sedikit, maka cairan dalam tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit disbanding pria karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak disbanding pada pria.

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme Air

Perpindahan cairan yang normal menurut hukum starling, diatur oleh tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik di dalam dan di luar vaskuler. Besarnya tekanan hidrostatik pada ujung arteriola 35 mmHg, sedangkan pada ujung venula sekitar 12 – 15 mmHg. Tekanan osmotik koloid plasma sebesar 20-25 mmHg.

Page 7: Tugas Mandiri Edema

Tekanan Hidrostatik Kapiler dipengaruhi antara lain oleh besarnya tekanan dari jantung dan jumlah cairan intravaskuler. Sedangkanan tekanan osmotik koloid ditentukan oleh albumin.

Tekanan hidrostatik bersifat mendorong cairan keluar melalui dinding kapiler, sedangkan sifat tekanan osmotik adalah menarik air dari luar.

Tekanan hidrostatik intravaskuler dan tekanan osmotik interstitial cenderung mengerakkan cairan keluar melalui dinding kapiler.

Tekanan hirostatik interstitial dan tekanan osmotik koloid intravaskuler cenderung menggerakkan cairan masuk kedalam.

Pada kondisi normal tekanan hidrostatik di kapiler terus menerus cenderung memaksa cairan dan zat terlarut di dalamnya keluar melalui pori-pori kapiler masuk ke dalam ruang interstitial.

Sebaliknya, tekanan osmotik koloid cenderung menyebabkan gerakan cairan dengan osmosis dari ruang interstitial ke dalam darah.

Tekanan osmotik koloid inilah yang mencegah keluarya volume cairan secara terus-menerus dari darah ke dalam ruang interstitial.

Meningkatnya tekanan hidrostatik terjadi peningkatan cairan masuk ke dalam ruang intersitial secara terus-menerus. Penyebab peningkatan tersebut di antaranya adalah gagal jantng, penurunan perfusi ginjal, aliran darah yang lambat misalnya karena sumbatan, dan lain-lain.

Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma disebabkan menurunnya kadar albumin plasma. Penurunan kadar albumin plasma di akibatkan oleh kehilangan albumin serum yang yang berlebihan atau pengurangan sintetis albumin serum. Kondisi ini misalnya dapat ditemukan pada penyakit nefrotik sindrom, penyakit hati dan pankreas, serta kekurangan protein yang berat atau malnutrisi, dan lain-lain.

LO.3 Memahami dan Menjelaskan Edema

3.1 DefinisiEdema adalah istilah medis untuk retensi cairan dlam tubuh. Penumpukkan atau akumulasi cairan menyebabkan jaringan yang terkena menjadi bengkak . Pembengkakakn adalah akibat dari akumulasi dari kelebihan bawah kulit atau jaringan.

3.2 Klasifikasi Menurut lokasi edema dibagi menjadi 2 yaitu Edema menyeluruh (generalisata) dan Edema lokal. Ada juga Edema umum yang terjadi di sekitar mata (periorbital) atau pada kantung skrotal karena tekanan jaringan rendah pada area ini. Edema sakral dapat diidentifikasi dengan menekan-kan jari telunjuk dengan kuat pada jaringan sakral dan mempertahankan tekanan untuk beberapa detik. Bila cekungan menetap edema terjadi disebut pitting edema. Non-pitting edema biasanya mempengaruhi kaki atau lengan, tekanan yang diterapkan pada kulit tidak menhasilkan lekukan persisten. Non-pitting edema bisa terjadi pada gangguan tertentu pada organ sitemik seperti limfatik.

3.3 Gejala

Page 8: Tugas Mandiri Edema

Terjadi pembengkakan di beberapa bagian tubuh, pembengkakan ada di jaringan langsung bawah kulit. Bagian tubuh yang membengkak setiap kali ditekan kondisinya tidak dapat kembali seperti semula, bahkan membentuk cekungan. Kulit terlihat berkilau namun justru menjadi kering sehingga pori- porinya sangat terlihat. Bagian perut juga ikut membesar tanpa alasan yang jelas.

3.4 Penyebab Edema generalisata disebabkan karena penurunan tekanan osmotik koloid

hipoproteinemia, edema lokal disebabkan oleh kerusakan kapiler kontriksi sirkulasi (vena regional) atau sumbatan drainase limfatik.

Albumin rendah (hipoalbuminemia): Albumin dan protein lain dalam tindakan darah seperti spons untuk menjaga cairan dalam pembuluh darah. Albumin rendah dapat menyebabkan edema, tetapi biasanya tidak satu-satunya penyebab.

Reaksi alergi: Edema adalah komponen biasa dari kebanyakan reaksi alergi. Dalam menanggapi alergi eksposur, tubuh memungkinkan pembuluh darah di dekatnya bocor cairan ke daerah yang terkena

Obstruksi aliran: Jika drainase cairan dari bagian tubuh diblokir, cairan dapat membuat cadangan. Bekuan darah di pembuluh darah dalam kaki dapat menyebabkan edema kaki. Sebuah tumor memblokir getah bening atau aliran darah akan menyebabkan edema di daerah yang terkena.

Penyakit kritis: Burns, infeksi yang mengancam jiwa, atau penyakit kritis lainnya dapat menyebabkan reaksi seluruh tubuh yang memungkinkan cairan bocor ke jaringan hampir di mana-mana. Edema luas di seluruh tubuh dapat hasil

Edema dan penyakit jantung (gagal jantung kongestif): Ketika jantung melemah dan memompa darah lebih efektif, cairan dapat perlahan-lahan membangun, menciptakan edema kaki. Jika penumpukan cairan terjadi dengan cepat, cairan di paru-paru (edema paru) dapat berkembang.

Edema dan penyakit hati: penyakit hati yang berat (sirosis) menghasilkan peningkatan retensi cairan. Sirosis juga menyebabkan rendahnya tingkat albumin dan protein lain dalam darah. Kebocoran cairan ke dalam perut (ascites disebut), dan juga dapat menghasilkan edema kaki

Edema dan penyakit ginjal: Sebuah kondisi ginjal yang disebut sindrom nefrotik dapat mengakibatkan edema kaki yang parah, dan kadang-kadang seluruh tubuh edema (anasarca).

Edema dan kehamilan: Karena peningkatan volume darah selama kehamilan dan tekanan dari rahim tumbuh, edema kaki ringan adalah umum selama kehamilan.

Page 9: Tugas Mandiri Edema

Namun, komplikasi serius kehamilan seperti deep vein thrombosis dan preeklampsia juga dapat menyebabkan edema.

Edema serebral (edema otak): Pembengkakan di otak dapat disebabkan oleh trauma kepala, rendah natrium dalam darah (hiponatremia), ketinggian tinggi, tumor otak, atau obstruksi drainase cairan (hydrocephalus). Sakit kepala, kebingungan, dan ketidaksadaran atau koma dapat gejala edema serebral

3.5 Patofisiologi

Generasi cairan interstisial diatur oleh kekuatan dari persamaan Starling. Tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah menyebabkan air cenderung untuk menyaring ke dalam jaringan. Hal ini menyebabkan perbedaan dalam konsentrasi protein antara plasma darah dan jaringan. Akibatnya tekanan onkotik tingkat yang lebih tinggi protein dalam plasma cenderung untuk menyedot air ke dalam pembuluh darah dari jaringan. Persamaan Starling menyatakan bahwa tingkat kebocoran cairan ditentukan oleh perbedaan antara dua kekuatan dan juga oleh permeabilitas dinding pembuluh air, yang menentukan laju aliran untuk ketidakseimbangan kekuatan yang diberikan. Kebocoran air yang paling terjadi pada venula kapiler atau posting kapiler, yang memiliki dinding semi-permeabel membran yang memungkinkan air untuk lulus lebih bebas daripada protein. (Protein dikatakan tercermin dan efisiensi refleksi diberikan oleh refleksi konstan hingga 1.) Jika kesenjangan antara sel-sel dinding pembuluh membuka kemudian permeabilitas terhadap air meningkat pertama, tetapi sebagai peningkatan kesenjangan permeabilitas ukuran protein juga meningkat dengan penurunan koefisien refleksi.

Perubahan dalam variabel dalam persamaan Starling dapat berkontribusi untuk pembentukan edema baik oleh peningkatan tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah, penurunan tekanan onkotik dalam pembuluh darah atau peningkatan permeabilitas dinding pembuluh. Yang terakhir ini memiliki dua efek. Hal ini memungkinkan air mengalir lebih bebas dan mengurangi perbedaan tekanan onkotik dengan memungkinkan protein untuk meninggalkan kapal lebih mudah.

3.6 Penanganan

Page 10: Tugas Mandiri Edema

Sumber :

http://www.webmd.com/heart-disease/heart-failure/edema-overview

http://www.jevuska.com/2012/12/21/apa-arti-edema/

http://www.caradokter.com/gejala-penyakit-edema.html

UPK-PKB.2013.Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa. Jakarta: Badan Penerbit FKUI

Horne, Mima M and Swearingem, Pamela L. 2001. Kesetimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa. Jakarta : EGC

Sherwood, Lauralee. 2009. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC

Asmadi.2008.Teknik Prosuderal Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Penerbit Salemba Medika