tugas kpm kto

Click here to load reader

Post on 08-Aug-2015

11 views

Category:

Government & Nonprofit

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  1. 1. Tugas KPM-KTO PENYALAHGUNAAN OBAT NAMA : RUSMAN.M NIM : NH0112240 KELAS : A3a SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN MAKASSAR 2015
  2. 2. FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya narkoba merupakan ancaman bagi kaum remaja. Karena remaja berusia 14-17 tahun sedang mengalami perkembangan fisik, psikologi maupun sosial yang pesat yang dapat merupakan pencetus remaja mencoba, menggunakan bahkan kecanduan narkoba. Pertumbuhan fisik yang cepat membentuk ciri utama yaitu mereka merasa sudah bukan anak kecil lagi namun sesungguhnya mereka belum dewasa baik secara mental, emosional maupun spiritual. Mereka sangat ingin tampil layaknya orang dewasa bahkan ingin memperoleh identitas pribadi. Namun pada kenyataannya mereka mudah ikut trend dan terbawa teman dalam pergaulan sehari-hari. Apalagi bila orangtua terlalu menuntut tanggung jawabnya sebagai orang yang dewasa maka dapat menimbulkan kecemasan dan kebingungan dalam diri mereka. Kemampuan intelektual yang berkembang pesat menimbulkan rasa ingin tahu mereka yang besar sekali termasuk ingin mencoba-coba narkoba. Misalnya merokok dan menghisap ganja. Pada umumnya merokok dan minum alkohol dipandang
  3. 3. sebagai lambing kedewasaan. Keinginan mengurangi ikatan secara emosional dengan orangtua membuat remaja sering berbohong terutama jika sedang menghadapi kesulitan (personal fable). Bila faktor pengawasan orangtua amat berkurang maka gerak-gerik mereka kurang terawasi dengan baik. Dalam menghadapi perubahan sosial khususnya dalam upaya melonggarkan ikatan orang tua, remaja kerap membutuhkan teman sebaya, termasuk lawan jenisnya. Remaja sangat bangga jika berkelompok walaupun ada aturan atau norma yang tidak baik yang sulit ditolaknya. Namun, walaupun berkelompok mereka belum memiliki mental yang kuat untuk menghadapi tekanan persaingan dan monotonnya kehidupan sehari-hari. Narkoba terlihat sangat menarik, menyenangkan dan seolah-olah menjadi jalan pintas untuk melarikan diri dari keadaan stress dan kebosanan sehari-hari. Alkohol dan ganja tidak hanya digunakan untuk rekreasi akhir pekan namun juga dipakai sepanjang pekan. Begitu pula dengan shabu atau metamphetamine dan heroin sudah jadi akrab dan terkenal di kalangan remaja. Remaja yang banyak mengonsumsi narkoba sangat memprihatinkan karena selain merusak masa depan, juga berdampak pada proses belajar dan tidak fokus dalam belajar di sekolah. Salah satu cara menyikap masalah itu menurutnya dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan dalam kehidupan sehari- hari sehingga mempunyai benteng diri yang kuat. Selain itu penuh kesadaran diri remaja yang bersangkutan sehingga lambat laun kebiasaan buruk itu dapat diantisipasi semaksimal mungkin. B. Pokok Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba ? 2. Apa faktor-faktor yang dapat menyebabkan remaja melakukan penyalahgunaan narkoba ? 3. Bagaimana cara melakukan pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba pada remaja ?
  4. 4. BABII PEMBAHASAN A. Definisi Narkoba Narkotika berasal dari bahasa Yunani yaitu Narkoun yang berarti membuat lumpuh atau mati rasa. Menurut Undang-undang RI No. 22/1997 ditetapkan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik buatan maupun semi buatan yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan atau kecanduan. Undang-Undang ini memberi batasan penyalahgunaan narkotika adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa sepengetahuan dan pengawasan dokter. Dalam pasal 45 dinyatakan bahwa pecandu narkotika wajib menjalankan pengobatan dan atau perawatan. Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya yang telah populer beredar di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan, termasuk bagi aparat hukum. Sebenarnya dahulu kala masyarakat juga mengenal istilah madat sebagai sebutan untuk candu atau opium, suatu golongan narkotika yang berasal dari getah kuncup bunga tanaman Poppy yang banyak tumbuh di sekitar Thailand, Myanmar dan Laos (The Golden Triangle) maupun di Pakistan dan Afganistan. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Pasikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi). Sebenarnya narkotika yang digunakan sebagai terapi nyeri dalam dunia kedokteran tidak banyak menimbulkan masalah namun penyalahgunaannya selalu membawa persoalan serius karena di samping merusak kesehatan juga berdampak kerugian ekonomi serta menimbulkan masalah sosial dan moral. B. Penggolongan Narkoba Narkoba dapat dibagi ke dalam beberapa golongan yaitu sebagai berikut: 1. Narkotika yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri dan dapat
  5. 5. menimbulkan ketergantungan. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997, narkotika dibagi menurut potensi yang menyebabkan ketergantungannya adalah sebagai berikut: a). Narkotika golongan I, yaitu berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan, tidak digunakan untuk terapi (pengobatan). Contoh: heroin, kokain, dan ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk. b). Narkotika golongan II, yaitu berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir. Contoh: morfin, petidin, dan metadon. c). Narkotika golongan III, yaitu berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh: kodein. 2. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibagi menurut potensi yang dapat menyebabkan ketergantungan yaitu sebagai berikut: a). Psikotropika golongan I, sangat kuat menyebabkan ketergantungan dan tidak digunakan dalam terapi. Contoh: MDMA (ekstasi), LSD, dan STP. b). Psikotropika golongan II, kuat menyebabkan ketergantungan, digunakan sangat terbatas pada terapi. Contoh: amfetamin, metamfetamin (sabu), fensiklidin, dan ritalin. c). Psikotropika golongan III, potensi sedang menyebabkan ketergantungan, banyak digunakan dalam terapi. Contoh: pentobarbital dan flunitrazepam. d). Psikotropika golongan IV, potensi ringan menyebabkan ketergantungan dan sangat luas digunakan dalam terapi. Contoh: diazepam, klobazam, fenobarbital, barbital, klorazepam, klordiazepoxide, dan nitrazepam (Nipam, pil BK/Koplo, DUM, MG, Lexo, Rohyp, dan lain-lain). 3. Zat Adiktif Lain adalah zat/bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Yang sering disalahgunakan adalah sebagai berikut: a). Alkohol, terdapat pada berbagai jenis minuman keras. b). Inhalansia/solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor, dan rumah tangga.
  6. 6. c). Nikotin, terdapat pada tembakau. d). Kafein pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepada tertentu. C. Dampak Penyalahgunaan Narkoba Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan narkoba yang dilakukan tidak untuk maksud pengobatan, tetapi karena ingin menikmati pengaruhnya, dalam jumlah berlebih yang secara kurang teratur, dan berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosialnya. Penyalahgunaan narkoba merupakan perilaku manusia, bukan semata-mata masalah zat atau narkoba itu sendiri. Sebagai masalah perilaku, banyak variabel yang mempengaruhinya. Para pecandu narkoba, ibaratnya hidup dalam lingkaran setan. Dalam waktu singkat, mereka akan kehilangan kendali dan terjebak dalam tuntutan yang terus-mendesak, istilahnya "Craving" atau ketagihan. Setiap kali, dosisnya harus ditambah agar kebutuhan akan perasaan bahagia, seolah berada di awang- awang dan penuh fantasi, tetap terpenuhi. Akibatnya tentu fatal. Mula-mula pecandu akan mengalami kesulitan sosial, keuangan, dan kesehatan. Jika kebutuhan narkoba terus meningkat, mereka bisa meninggal dunia karena over dosis (OD). Narkoba selain berpengaruh pada fisik dan psikis pengguna, juga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Gagal dalam studi, gagal dalam pekerjaan, kematian, kriminalitas, seks bebas yang berujung pada penyakit HIV/AIDS, gangguan fungsi atau penyakit pada organ-organ tubuh, seperti otak, hati, jantung, paru- paru, ginjal, gangguan psikologis meliputi cemas, sulit tidur, depresi, paranoid (perasaan seperti orang lain mengejar) adalah sebagian dari masalah yang muncul dari penyalahgunaan narkoba. Masalah yang jauh lebih besar dari semua itu adalah hancurnya generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan, karena penyalahgunaan narkoba saat ini banyak dilakukan oleh mereka yang berusia muda. D. Faktor-Faktor Penyebab Remaja Melakukan Penyalahgunaan Narkoba Narkoba merupakan musuh nomor satu bagi para remaja. Namun, para remaja hingga saat ini banyak yang belum tahu mengenai narkoba sebagai musuh utama ini. Buktinya, semakin banyak remaja terjerumus dalam rayuan maut narkoba. Ketidaktahuan remaja tentang bahaya narkoba memang menjadi tugas berat bagi orangtua dan guru untuk menerangkannya. Apalagi narkoba
  7. 7. sekarang sangat mudah didapat dan bandarnyapun memang selalu menempel pada dunia remaja. Faktor yang menyebabkan remaja melakukan penyalahgunaan narkoba adalah sebagai berikut: 1. Ajakan, bujukan dan iming-iming teman atau anggota kelompok sebaya. 2. Cenderung memiliki gangguan jiwa seperti kecemasan, obsesi (memikirkan sesuatu secara berulang-ulang), apatis, menarik diri dalam pergaulan, depresi, kurang mampu menghadapi stres, atau hiperaktif. 3. Suka berpetualang, mencari sensasi, melakukan hal-hal yang mengandung resiko bahaya yang berlebihan. 4. Ketidaktahuan akan bahaya narkoba atau tidak memikirkan akan bahaya narkoba. 5. Orang tua tidak acuh dan tidak mengadakan pengawasan terhadap anaknya 6. Tidak ada perhatian, kehangatan, kasih sayang dalam keluarga. E. Cara-Cara Melakukan Pencegahan Terhadap Penyalahgunaan Narkoba Pada Remaja Generasi muda adalah generasi yang rawan sebagai penyalahguna narkoba, karena itu, pengenalan bahaya narkoba merupakan sebuah hal yang mutlak dilakukan sebagai usaha preventif. Penyalahgunaan narkoba sangat memprihatinkan, karena terutama menimpa generasi muda sehingga merugikan pembangunan bangsa. Umumnya penggunaan pertama narkoba diawali pada anak usia Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, yaitu mulai dari masa anak usia SD, SMP, dan SMA, sebagai upaya yang berkesinambungan. Pencegahan yang dimaksud di sini bukan semata-mata informasi mengenai bahaya narkoba, tetapi lebih menekankan pemberian keterampilan psikososial kepada anak untuk bersikap dan berperilaku positif, mengenal situasi penawaran/ajakan, dan terampil menolak tawaran atau ajakan tersebut. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan narkoba yaitu sebagai berikut: 1. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidupnya. Hadapi dan pecahkan masalah itu, bukan dihindari, apalagi dengan melarikan diri kepada penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba bukan penyelesaian masalah, tetapi memperparah masalah. 2. Jangan pernah sekalipun terpancing untuk mencoba memakai narkoba karena sekali terjebak masuk kedalamnya maka sulit untuk lepas dari jebakan itu. 3. Penciptaan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, komunikatif, terbuka, penuh perhatian dan kasih sayang diantara anggotanya, merupakan bagian
  8. 8. penting dari upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, agar remaja memiliki daya tangkal tinggi. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Penanggulangan pun demikian, yaitu ketika remaja masih dalam taraf coba-coba, pemakai pemula, dan belum pecandu berat. Dalam hal ini, peran keluarga, sekolah dan masyarakat sangat penting. Banyak hal yang perlu dan harus dilakukan untuk mencegah agar remaja jangan sampai melakukan penyalahgunaan dan menderita ketergantungan terhadap narkoba, diantaranya yaitu sebagai berikut: 1. Meningatkan dan menyadarkan para remaja akan ancaman bahaya penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba terhadap diri dan keluarganya. 2. Mendorong para remaja untuk berprakarsa dan berperan dalam perang melawan penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba, guna menyelamatkan generasinya dan generasi yang akan datang. 3. Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Temu kenali kekuatan atau potensi kamu dan kembangkan untuk perbuatan yang bermanfaat. Temu kenali pula kekurangan dan kelemahan dirimu agar dapat mengatasinya. Jangan sekali-kali mencoba menutupi kekurangan dirimu dengan melarikan diri kepada penyalahgunaan narkoba. 4. Setiap orang mempunyai masalah. Masalah adalah bagian dari kenyataan hidup. Hadapi dan atasi masalah. Jangan melarikan diri dari masalah, apalagi melarikan diri kepada penyalahgunaan narkoba. Menghadapi dan mengatasi masalah akan membuat dirimu dewasa dan piawai dalam menjalani tugas hidup. Asah dan tingkatkan kemampuan dirimu memecahkan masalah. 5. Pengenalan diri juga merupakan awal untuk membangun serta memperkuat kepercayaan diri. Kepercayaan diri dan kemampuan mengendalikan diri adalah modal utama untuk menangkal terjadinya penyimpangan perilaku, termasuk penyalahgunaan narkoba. 6. Lemahnya kepercayaan diri dan kemampuan untuk mengendalikan diri menyebabkan orang mudah terpengaruh oleh sikap dan perbuatan orang lain. Karena itu pupuk dan kembangkan rasa harga diri dan kepercayaan dirimu. 7. Kembangkan kemampuan berhubungan (berkomunikasi) dengan orang lain, mengemukakan pendapat, bertukar pikiran, mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, termasuk dengan orang tua, teman-teman sebaya dan teman-teman sekolah, kembangkan kemampuan untuk mengatakan tidak terhadap ajakan teman yang merugikan dirimu. 8. Gunakanlah akal sehat dan hati nurani, sehingga berani mengatakan tidak terhadap ajakan, bujukan atau paksaan teman untuk melakukan penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya, kamu harus berani dan mampu mengajak mereka kepada kehidupan sehat dan normal tanpa narkoba.
  9. 9. Penyakit kecanduan narkoba sering disertai episode sembuh dan kambuh, dan penyebabnya kompleks. Karena itu penyembuhan penyakit ini bukan semata-mata tidak memakai narkoba saja, namun lebih ditentukan oleh motivasi dan usaha individu memperbaiki kehidupan masa depannya. Kambuh bagi mantan pecandu adalah tantangan yang harus dihadapi sampai tercapai kehidupan yang sehat (the whole healthy person) dalam jangka waktu yang panjang. Sugesti dan narkoba persis seperti anak kembar yang punya ikatan emosi kuat, namun sugesti adalah musuh dalam selimut. Kadangkala sugesti hilang namun bisa juga datang mendadak sehingga mantan pecandu tidak berdaya terutama jika suasana hatinya kacau. Karena itu, di samping tidak memakai narkoba lagi, mantan pecandu harus menjauhkan diri dari komunitas, tempat dan benda-benda yang merangsang keinginan memakai narkoba. Mantan pecandu perlu dengan tekun dan sabar menjalin hubungan sosial dengan orang-orang yang mendukungnya. Berarti mantan pecandu harus mengubah pola pikir, emosi dan sikap untuk menekuni spiritual. Juga mereka harus kritis dan hati-hati dalam mencermati awal kekacauan pikiran dan emosi, karena hal ini sebetulnya mudah dirasakannya. Mantan pecandu harus mau jujur minta pendapat dengan orangtua atau konselor. Demikian pula dengan orangtua. Hendaknya orangtua berusaha bijaksana, sabar, jangan panik, menyerah apalagi marah-marah jika anaknya kampuh. Masih terbuka kesempatan memperoleh kesembuhan yang lebih baik. Berilah mereka teladan dalam perilaku, bijaksana dengan keputusan maupun meminta pendapat, penuh perhatian dan peduli serta beri dukungan yang konstruktif.
  10. 10. BABIII KESIMPULAN Berdasarkan dari uraian dan keterangan di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan yaitu sebagai berikut: 1. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba yaitu berpengaruh pada fisik dan psikis pengguna, juga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Gagal dalam studi, gagal dalam pekerjaan, kematian, kriminalitas, gangguan fungsi atau penyakit pada organ-organ tubuh, seperti otak, hati, jantung, paru-paru, ginjal, gangguan psikologis meliputi cemas, sulit tidur, dan depresi. Masalah yang jauh lebih besar dari semua itu adalah hancurnya generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan, karena penyalahgunaan narkoba saat ini banyak dilakukan oleh mereka yang berusia muda. 2. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan remaja melakukan penyalahgunaan narkoba adalah dari ajakan, bujukan dan iming-iming teman atau anggota kelompok sebaya, ketidaktahuan akan bahaya narkoba atau tidak memikirkan akan bahaya narkoba dan adanya orang tua yang tidak acuh dan tidak mengadakan pengawasan terhadap anaknya. 3. Cara melakukan pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba pada remaja yaitu dengan menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, komunikatif, terbuka, penuh perhatian dan kasih sayang diantara anggotanya, merupakan bagian penting dari upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidupnya. Hadapi dan pecahkan masalah itu, bukan dihindari, apalagi dengan melarikan diri kepada penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba bukan penyelesaian masalah, tetapi memperparah masalah. Jangan pernah sekalipun terpancing untuk mencoba memakai narkoba karena sekali terjebak masuk kedalamnya maka sulit untuk lepas dari jebakan tersebut.
  11. 11. Penyalahgunaan Obat PenyalahgunaanObat: Obat Resepdan OTC Umumnya Disalahgunakan Penyalahgunaan Obat Penyalahgunaan obat bukan hanya tentang obat-obatan terlarang seperti ganja atau kokain. Obat-obatan sah juga dapat disalahgunakan - yang berarti bahwa mereka sudah digunakan oleh orang lain selain pasien atau dalam cara atau dosis selain dari apa yang sudah dianjurkan. Di sini Anda akan menemukan gambar obat resep yang biasa disalahgunakan (obat anti-depresi, penghilang rasa sakit, dan perangsang) dan beberapa obat-obatan bebas (over-the-counter). Karena obat-obatan datang dalam berbagai bentuk, tidak semua pil dan tablet diperlihatkan; gambar obat tidak skala. Barbiturates (Obat bius) Diresepkan untuk mengurangi kecemasan atau membuat tidur, obat anti-depresi memperlambat fungsi otak. Barbiturat adalah jenis anti-depresi. Fenobarbital adalah barbiturate; lainnya seperti Mebaral, Seconal, dan Nembutal. Meskipun berguna ketika digunakan sebagai resep, barbiturat dapat membuat kecanduan. Jika diambil dengan obat-obatan tertentu, termasuk alkohol, dapat memperlambat jantung dan pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian. Istilah untuk barbituates termasuk "barbs," "reds," red birds, "" phennies, "" tooies, "" yellows, "dan" yellow jackets. "
  12. 12. Benzodiazepines: Valium, Xanax Valium dan Xanax adalah contoh benzodiazepin, jenis lain dari obat anti- depresi. Mereka mungkin diresepkan untuk mengobati kecemasan, reaksi stres akut, serangan panik, kejang-kejang, dan gangguan tidur (biasanya untuk penggunaan jangka pendek). Seperti obat anti-depresi lainnya, mereka memiliki kegunaan yang masuk akal tetapi mungkin disalahgunakan. Penarikan benzodiazepin "dapat bermasalah" tetapi jarang mengancam nyawa, Diingatkan oleh National Institute on Drug Abuse (Nida). Obat tidur Obat tidur adalah anti-depresi. Obat tidur - Ambien, Sonata, dan Lunesta adalah obat tidur yang lebih baru yang disebut nonbenzodiazepines. Obat ini "mungkin memiliki lebih sedikit potensi untuk kecanduan" daripada obat anti-depresi lain, yang dinyatakan dalam situs National Institute on Drug Abuse (Nida).
  13. 13. Codeine dan Morfin Penghilang rasa sakit adalah kelompok lain obat resep yang biasanya disalahgunakan. Mereka termasuk kodein dan morfin - Oramorph dan Aviniza mengandung morfin. Morfin biasanya diresepkan untuk rasa sakit parah; kodein, untuk rasa sakit ringan. Julukan untuk kodein termasuk " Captain Cody" dan "Cody." Istilah untuk morfin termasuk "M" dan "Miss Emma." OxyContin, Percocet OxyContin, Percocet, dan Percodan saling berbagi bahan aktif, oxycodone, yang mana merupakan pereda nyeri opiod. Obat ini tidak identik; Percocet juga mengandung acetaminophen sementara Percodan juga mengandung aspirin. Obat ini hanya boleh digunakan di bawah pengawasan medis, dan bukan dengan alkohol, barbituates, antihistamin, atau benzodiazepin - kombinasi obat yang dapat mengancam nyawa. Julukannya termasuk "oxy," "O.C," dan "oxycotton" untuk OxyContin dan "percs" untuk Percocet atau Percodan.
  14. 14. Vicodin, Lortab, Lorcet Vicodin, Lortab, dan Lorcet mengandung opioid hydrocodone dan asetaminofen. Opioid dapat menyebabkan ngantuk, sembelit, dan dapat menekan pernapasan, tergantung pada jumlah yang diambil, diingatkan Nida. Julukan untuk vicodin's termasuk "Vike" dan "Watson-387," dinyatakan oleh situs nonprofit Partnership for a Drug-Free America. Vicodin, atau obat resep lainnya, tidak boleh dibagi; mereka hanya untuk pasien dengan resep. Amfetamin Stimulan untuk meningkatkan kewaspadaan, perhatian, dan energi. Mereka ditentukan untuk narkolepsi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan depresi yang tidak merespon pada pengobatan lain. Obat dengan ADHD Dexedrine dan adderall, adalah perangsang yang disebut amfetamin, yang mana dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang mencari rasa euforia. Resiko termasuk denyut jantung cepat atau tidak teratur, mengurangi nafsu makan, gagal jantung, kegelisahan, insomnia, dan kecanduan. Julukan untuk amfetamin termasuk "bennies," " black beauties," dan " speed."
  15. 15. Methylphenidate Methylphenidate adalah stimulan ditemukan dalam obat ADHD Concerta dan Ritalin. Julukannya termasuk "MPH," R-ball, "" Skippy, "" the smart drug ", dan" vitamin R. "Nida mencatat bahwa dengan mengambil stimulan dosis tinggi dapat menyebabkan suhu tubuh tinggi dan berbahaya, detak jantung yang tidak teratur, dan berpotensi untuk kegagalan kardiovaskular atau kejang yang mematikan. Dextromethorphan (DXM) Dextromethorphan (DXM) adalah bahan aktif dalam obat-obatan batuk dan pilek tanpa resep. Produk tersebut aman ketika diambil seperti yang direkomendasikan, tetapi dosis yang sangat besar dapat menghasilkan euforia dan gangguan penilaian - serta mual dan muntah, kehilangan koordinasi, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, dan kerusakan otak akibat kombinasi DXM dan dekongestan yang sering ditemukan didalam obat-obatan, kata Nida. Julukan untuk DXM itu termasuk "Orange Crush," "Triple Cs," "Dex," dan "Robo."
  16. 16. Pseudoephedrine Pseudoephedrine umumnya ditemukan dalam obat-obatan untuk pilek tanpa resep. Ia dicari sebagai bahan untuk membuat obat metamfetamin ( "meth") ilegal. Itulah sebabnya ada undang-undang yang membatasi jumlah pseudoephedrine- yang terkandung dalam produk obat yang dapat dibeli setiap saat. Mengidentifikasi Pill Yang Mencurigakan Menemukan pil secara acak dan ingin tahu apa itu? WebMD's Pill Identifier dapat membantu. Tetapi sejak ada ratusan obat dan ribuan pil dan tablet dari berbagai bentuk, warna, dan ukuran, strategi yang baik adalah membawa pil ke seorang apoteker dan meminta bantuan mereka untuk mengidentifikasikan apa itu.
  17. 17. Penyalahgunaan Obat : Apa yang harus dilakukan Jika Anda mencurigai bahwa seseorang yang kamu kenal menyalahgunakan obat, termasuk obat-obatan resep atau over-the-counter, Nida menyarankan untuk menelepon 800-662-HELP untuk menemukan pusat perawatan. Jika Anda adalah orang tua yang mencurigai bahwa anak Anda yang menggunakannya, the Partnership for a Drug-Free America memberikan tips ini: DAFTAR PUSTAKA Hawari. Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif). Jakarta: FKUI. 2000. Lukitaningsih, D. Y. Narkoba Penanganan dan Pencegahannya. Semarang: Rotary Club Semarang Sentral. 2000. Martono, Lydia Harlina dan Satya Joewana. Pencegahan Dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Sekolah. Jakarta: Balai Pustaka. 2006. Wresniwiro, M. Narkoba Musuh Bangsa-Bangsa. Jakarta: Mitra Bintibmas. 2005. Yanny, Dwi. Narkoba Pencegahan dan Penanganannya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 2003.