tugas khusus uji kelayakan apotek kf melati mas

of 52/52
TUGAS KHUSUS STUDI KELAYAKAN APOTEK DI KAWASAN VILLA MELATI MAS SERPONG TANGERANG SELATAN Oleh: Eka Putri Septiyanti, S.Farm 3351141154 Novia Kurniasih, S.Farm 2014000108 Rani Purwati, S.Farm 2014000121 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI DAN UNIVERSITAS PANCASILA 2015

Post on 06-Nov-2015

384 views

Category:

Documents

122 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Uji kelayakan Apotek

TRANSCRIPT

  • TUGAS KHUSUS

    STUDI KELAYAKAN APOTEK

    DI KAWASAN VILLA MELATI MAS SERPONG

    TANGERANG SELATAN

    Oleh:

    Eka Putri Septiyanti, S.Farm 3351141154

    Novia Kurniasih, S.Farm 2014000108

    Rani Purwati, S.Farm 2014000121

    PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI DAN UNIVERSITAS PANCASILA

    2015

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan

    yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk

    memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk

    pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan

    pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Tempat yang

    digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan disebut sarana kesehatan.

    sarana kesehatan meliputi pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah

    sakit, balai pengobatan, praktik dokter, praktik dokter gigi, apotek, pabrik

    farmasi, laboratorium kesehatan, dan lain-lain. Salah satu dari sarana

    kesehatan tersebut adalah apotek.

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51

    Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian definisi apotek adalah sarana

    pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker.

    Apotek merupakan suatu jenis bisnis eceran (retail) yang komoditasnya

    (barang yang diperdagangkan) terdiri dari perbekalan farmasi (obat dan bahan

    obat) dan perbekalan kesehatan (alat kesehatan). Sebagai perantara, apotek

    dapat mendistribusikan perbekalan farmasi dan perbekalan kesehatan dari

    supplier kepada konsumen, memiliki beberapa fungsi kegiatan yaitu

    pembelian, gudang, pelayanan dan penjualan, keuangan, dan pembukuan. Agar

    dapat di kelola dengan baik, seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA)

    disamping menguasai ilmu kefarmasian juga perlu menguasai ilmu lainnya

    seperti ilmu pemasaran (marketing) dan ilmu akuntansi (accounting). Apotek

    bukanlah suatu badan usaha yang semata-mata hanya mengejar keuntungan

    saja tetapi apotek mempunyai fungsi sosial yang menyediakan, menyimpan dan

  • menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin

    keabsahannya.

    Apotek dengan fungsinya yang tidak hanya sebatas tempat penyediaan

    obat sebagai komoditi melainkan tempat pelayanan kefarmasian yang

    komprehensif, memerlukan pengelolaan yang professional yang dilaksanakan

    oleh apoteker yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk

    dapat berinteraksi langsung dengan pasien. Oleh karena itu, kemampuan dari

    segi teknis kefarmasian saja tidaklah cukup untuk memberikan pelayanan yang

    optimal, melainkan perlu dilengkapi dengan penguasaan manajerial meliput i

    perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi kinerja yang

    diselenggarakan untuk mengelola setiap investasi dan sumber daya yang ada.

    Sedangkan kemampuan berkomunikasi diperlukan dalam upaya memberikan

    pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada kualitas hidup pasien.

    Studi kelayakan perlu dilakukan sebelum menjalankan suatu usaha,

    karena studi kelayakan dapat dijadikan acuan dalam proses pengambilan

    keputusan yang mengandung resiko yang belum jelas untuk menghindari

    kegagalan dan kerugian.

    Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu kota berkembang di

    Indonesia, disamping ibukota Jakarta. Kota ini memiliki jumlah penduduk

    yang padat yaitu sebesar 1.443.403 jiwa dengan luas wilayah 17,84 km2 dan

    kepadatan penduduk 9.806 jiwa per km2. Kota Tangerang Selatan dibagi

    menjadi 7 kecamatan yaitu: Setu, Serpong, Pamulang, Ciputat, Ciputat

    Timur, Pondok Aren, dan Serpong Utara. Salah satu lokasi yang memiliki

    penduduk padat adalah Kecamatan Serpong Utara dengan Jumlah penduduk

    142.328 jiwa (2013, BPS Kota Tangerang Selatan).

    Apotek yang akan didirikan berlokasi di Kecamatan Serpong Utara,

    tepatnya di Jalan Villa Melati Mas Blok B, Kelurahan Jelupang. Daerah ini

    berada dipinggir jalan raya dengan lalu lintas yang padat dan dilalui oleh

    angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Jumlah pusat pelayanan kesehatan

    di sekitar apotek yang akan didirikan juga memiliki potensi untuk mendukung

    berkembangnya apotek. Beberapa dokter praktek seperti dokter gigi, dokter

  • spesialis anak, dan dokter kecantikan serta bidan sekitar memberikan peluang

    masuknya resep sehingga diharapkan menambah omzet apotek. Jika

    memungkinkan apotek dapat menjalin ikatan kerja sama dengan dokter praktek

    maupun bidan praktek sekitar dalam menyediakan obat-obat yang diresepkan,

    sehingga lebih banyak pasien yang mengambil obatnya di apotek yang akan

    didirikan. Selain itu, fasilitas pelayanan lain seperti klinik dan rumah sakit juga

    berpeluang untuk memberikan omzet. Dari hal tersebut diatas, maka pendirian

    apotek di. Jalan Villa Melati Mas Blok B, Kelurahan Jelupang, Kecamatan

    Serpong Utara, Tangerang Selatan dapat dipertimbangkan.

    1.2 Tujuan Pendirian Apotek

    Studi kelayakan ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan suatu

    apotek yang akan didirikan di Jl. Villa Melati Mas, Kelurahan Jelupang,

    Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1. Apotek

    2.1.1. Definisi

    Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 51 Tahun 2009. Apotek

    didefinisikan sebagai sarana pelayanan kesehatan tempat dilakukan praktek

    kefarmasian oleh apoteker.(1)

    Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik

    Indonesia No.1332/MENKES/ SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

    Kesehatan Republik Indonesia No.922/MENKES/PER/X/1993, Apotek adalah

    tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan

    farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Menurut Undang-undang

    Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, perbekalan kesehatan

    adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya

    kesehatan.(2)

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang

    Pekerjaan Kefarmasian, yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian adalah

    pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,

    penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan

    obat atas dasar resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,

    bahan obat, dan obat tradisional. Sediaan farmasi meliputi obat, bahan obat,obat

    tradisional dan kosmetika.(1)

    2.1.2 Tugas dan Fungsi (1)

    Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang

    Pekerjaan Kefarmasian, tugas dan fungsi apotek adalah :

  • i) Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah

    jabatan.

    ii) Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.

    iii) Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi,

    antara lain obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.

    iv) Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,

    pengadaan, penyimpanan, pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan

    obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, bahan obat dan

    obat tradisional.

    2.2 Studi Kelayakan

    2.2.1 Definisi

    Studi kelayakan (Feasibility Study) apotek adalah suatu rancangan secara

    komprehensif mengenai rencana pendirian apotek baru untuk melihat kelayakan

    usaha baik dari pengabdian profesi maupun sisi bisnis ekonominya.(3)

    2.2.2. Tujuan (3)

    Tujuannya adalah untuk menghindari penanaman modal yang tidak efektif dan

    berguna untuk mengetahui apakah apotek yang akan didirikan cukup layak atau

    dapat bertahan dan memberi keuntungan secara bisnis. Dalam studi kelayakan

    diperlukan perhitungan yang matang sehingga apotek yang akan didirikan nanti tidak

    mengalami kerugian.

    Sebelum melakukan pendirian dan pengelolaan apotek, perlu dilakukan perencanaan

    terlebih dahulu, maka setelah melakukan survei mengenai lokasi dan banyaknya

    sarana penunjang (dokter, rumah sakit, poliklinik, dan lain-lain termasuk banyaknya

    penduduk dengan kemampuan berbeda-beda) harus dilakukan studi kelayakan.

  • 2.2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi (4)

    Beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum mendirikan apotek ialah:

    a. Lokasi

    Banyak faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan

    lokasi suatu usaha. Sebagai faktor yang digunakan sebagai dasar pertimbangan

    pada umumnya Pasar, sebab merupakan masalah yang tidak boleh diabaikan,

    selain itu faktor pembeli harus diperitungkan dahulu. Oleh karenanya hendaknya

    diperhitungkan lebih dulu :

    1) Ada tidaknya apotek lain

    2) Letak apotek yang akan didirikan, mudah tidaknya pasien untuk parkir

    kendaraannya

    3) Jumlah penduduk

    4) Jumlah Dokter

    5) Keadaan sosial ekonomi rakyat setempat untuk diketahui

    6) Selain keadaan tersebut perlu dipertimbangkan ada tidaknya fasilitas

    kesehatan lain seperti : rumah sakit, puskesmas, poliklinik. Sebab tempat-

    tempat tersebut juga memberi obat langsung pada pasien.

    b. Perundang-undangan farmasi dan ketentuan lainnya.

    c. Pembelian.

    d. Penyimpanan barang/pergudangan.

    e. Penjualan, yang terpenting ialah kalkulasi harga atas resep Dokter.

    f. Administrasi, menyangkut pula laporan-laporan.

    g. Evaluasi apotek pada akhir tahun.

    2.2.4. Tahapan Pembuatan Studi Kelayakan (5)

    Studi kelayakan pendirian apotek terdiri dari 5 tahapan yaitu:

    1) Penemuan gagasan (idea)

    2) Penelitian lapangan

    3) Evaluasi data

  • 4) Pembuatan rencana, dan

    5) Pelaksanaan rencana kerja.

    Gambar 2.1 Proses pembuatan studi kelayakan

    a) Tahap 1 : Penemuan Suatu Gagasan

    Gagasan (idea) adalah sebuah pemikiran terhadap sesuatu yang ingin sekali untuk

    dilaksanakan. Gagasan ini biasanya muncul dari sebuah pemikiran seseorang

    dalam suatu organisasi yang mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu.

    Gagasan yang baik untuk didiskusikan dan dianalisis, sebelum dilaksanakan

    adalah gagasan yang memenuhi beberapa kriteria diantaranya yaitu bahwa

    gagasan harus:

    i) Sesuai dengan visi dan misi organisasi

    ii) Dapat menguntungkan organisasi

    iii) Sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki organisasi

    iv) Tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku

    v) Aman untuk jangka panjang

    b) Tahap 2 : Penelitian Lapangan

    Setelah gagasan dianalisis dapat memberikan perspektif yang baik bagi

    perusahaan dimasa yang akan datang, maka gagasan tersebut disetujui untuk

    ditindak-lanjuti dengan penelitian di lapangan (on the spot). Dalam melakukan

    penelitian di lapangan, data-data yang dibutuhkan antara lain yaitu data:

  • i) Ilmiah yaitu : melalui analisis data-data bisnis mengenai kondisi lingkungan

    External yang ada disekitar lokasi yang menjadi target pendirian Apotek,

    seperti:

    a. Nilai strategis sebuah lokasi.

    b. Data kelas konsumen.

    c. Peraturan yang berlaku di wilayah/daerah tersebut.

    d. Tingkat persaingan atau jumlah apotek yang sudah ada saat ini.

    ii) Non ilmiah, yaitu : melalui intuisi (intuition) atau feeling yang diperoleh

    setelah melihat kondisi dan situasi lokasi lingkungan disekitarnya.

    c) Tahap 3 : Evaluasi Data Lapangan

    Evaluasi data hasil penelitian dilapangan, dapat dilakukan dengan cara yaitu:

    i) Memperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh, yang terdiri dari:

    a. Data lingkungan disekitar lokasi (External faktor), seperti: kelas konsumen

    yang akan dilayani (pemukiman, perkantoran), jumlah konsumen dan

    income per kapita per tahun, peraturan tentang pengembangan tata kota di

    lokasi yang dipilih, jarak lokasi yang dipilih dengan supplier, kondisi

    keamanan disekitar lokasi yang ditetapkan.

    b. Data kemampuan sumber daya yang dimiliki, seperti: kemampuan

    keuangan, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan barang dagangan,

    kemampuan pengelolaan (manajemen).

    ii) Membuat usulan proyek (Prospect appraisal), yang terdiri dari:

    a. Pendahuluan, yang meliputi:

    - Latar belakang, munculnya gagasan

    - Menetapkan tujuan, misalnya untuk melakukan ekspansi ke pasar ke

    wilayah lain yang baru guna memperoleh penjualan dan laba yang besar.

    b. Analisis teknis, yang meliputi:

    - Kebutuhan tenaga Apoteker dan Asisten Apoteker

    - Kebutuhan biaya untuk sarana perlengkapan Apotek, yang meliputi

    sarana di ruang peracikan (rak obat, timbangan, alat tulis, label, klip

  • plastik, dsb), rak penjualan bebas, ruangan dan perlengkapan praktek

    dokter, sistem informasi, billboard, dsb.

    - Kebutuhan biaya sarana transportasi (sepeda motor)

    - Kebutuhan biaya pembuatan surat izin Apotek

    - Kebutuhan biaya persediaan barang, kebutuhan jumlah departemen/kelas

    terapi, jumlah kategori dan merek serta jumlah SKU dari setiap mereknya

    harus disesuaikan dengan target pasar yang dipilih, agar tidak mubazir.

    c. Analisis pasar, yang meliputi:

    - Bentuk pasar yang ada saat ini, seperti pasar monopoli, oligopoli atau

    persaingan bebas.

    - Prospek potensi pasar dimasa mendatang, seperti perkembangan jumlah

    perkantoran (bank, hotel, sekolah), pusat perbelanjaan (shopping center),

    jumlah pemukiman baru dan data income per capita, dll.

    - Tingkat persaingan (misalnya, jumlah apotek pesaing yang ada)

    - Tingkat keamanan (security) disekitar lokasi pendirian Apotek

    - Jumlah target konsumen yang menjadi sasaran.

    Gambar 2.2 Evaluasi studi kelayakan

    d. Analisis manajemen, yang meliputi:

    - Bentuk badan usaha yang dipilih, seperti perusahaan terbatas/PT atau

    koperasi

    Analisis

    Teknis

    Analisis

    Keuangan

    Analisis

    Manajemen

    Analisis

    Pasar

    Pendahuluan

    Studi Kelayakan

  • - Bentuk usaha Apoteknya, seperti Apotek berdiri sendiri atau menjadi

    bagian usaha Apotek yang sudah dimiliki (Apotek jaringan-menambah

    Apotek baru)

    - Fungsi kegiatan yang akan dikerjakan, seperti mengerjakan seluruh

    fungsi kegiatan (untuk Apotek yang berdiri sendiri) atau hanya sebagian

    fungsi kegiatan saja (untuk Apotek jaringan, karena supply barang dari

    kantor pusat)

    - Jumlah dan kualifikasi kebutuhan tenaga kerja, seperti jumlah Apoteker,

    AA atau D3 farmasi, harus disesuaikan dengan proyeksi laba-rugi

    Apotek pada tahun pertama, kedua, dan seterusnya selama 5 tahun yang

    akan datang.

    - Program kerja, yang berisi mengenai langkah-langkah penting yang

    menjadi prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran pada

    tahun pertama.

    - Uraian pekerjaan, petugas, target waktu, target angka.

    e. Analisis keuangan, yang meliputi:

    - Jumlah biaya investasi dan modal kerja yang dibutuhkan dan digunakan

    untuk keperluan pendirian Apotek baru, seperti biaya membeli gedung,

    biaya renovasi, biaya perlengkapan peralatan operasional (rak dan lemari

    obat, timbangan obat, kulkas, meja, dan kursi kerja, kursi konsumen,

    sistem informasi, dsb), jumlah biaya modal kerja, besarnya Return On

    Investment (ROI), lamanya waktu pengembalian (payback periode), serta

    besarnya tingkat pengembalian internal yang aman (IRR).

    - Sumber pendanaan, dapat diperoleh seperti dari Bank atau dari lembaga

    lain atau dari modal sendiri, serta perbandingan tingkat efisiensi dari

    bank, lembaga lain atau modal sendiri.

    - Aliran kas untuk mengetahui gambaran rencana aliran kas selama periode

    investasi dan upaya yang harus dilakukan untuk menjaga aliran kasnya

    selama periode investasi sesuai dengan rencananya.

  • d) Tahap 4 : Rencana Pelaksanaan

    Setelah usulan proyek disetujui, kemudian menetapkan waktu (Time schedule)

    yang berupa waktu (tanggal dan bulan), anggaran biaya dan pelaksanaannya untuk

    memulai pekerjaan sesuai dengan skala prioritas:

    1. Menyediakan dana biaya investasi dan modal kerja.

    2. Mengurus izin

    3. Membangun, merehabilitasi gedung

    4. Merekrut karyawan

    5. Menyiapkan barang dagangan, sarana perlengkapan Apotek

    6. Memulai operasional

    e) Tahap 5 : Pelaksanaan Pekerjaan

    Untuk melaksanakan pekerjaan, harus ada format yang berisi mengenai jadwal

    pelaksanaan setiap jenis pekerjaan, mencatat setiap penyimpanan yang terjadi,

    membuat evaluasi dan solusi penyelesaiannya.

    2.2.4 Aspek Penilaian (4)

    Secara umum studi kelayakan dari suatu usaha mencakup 4 aspek penilaian, yaitu:

    1) Aspek Manajemen

    Apotek perlu mendapat dukungan tenaga manajemen yang ahli dan berpengalaman,

    serta memiliki motivasi dan dedikasi yang tinggi untuk mengembangkan apotek.

    Karena itu hendaknya disusun tugas-tugas pokok yang harus dijalankan agar apotek

    dapat berjalan dengan baik. Tugas-tugas tersebut kemudian dituangkan dalam

    jabatan-jabatan tertentu dan disusun dalam satu organisasi, dengan tersusunnya

    struktur organisasi lebih mudah untuk menentukan apa yang harus dipenuhi oleh

    calon pegawai apotek. Aspek manajemen, meliputi :

    a. Strategi manajemen (Visi, Misi, Strategi, Program Kerja, SOP )

    b. Bentuk badan usaha

    c. Struktur organisasi

    d. Jenis pekerjaan

  • e. Kebutuhan tenaga kerja

    f. Program kerja

    2) Aspek Teknis

    Aspek teknis yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik dan peralatan yang

    dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di apotek. Aspek teknis,

    meliputi:

    a. Peta lokasi dan lingkungan (posisi apotek terhadap sarana pelayanan kesehatan

    lain)

    b. Tata letak bangunan

    c. Interior dan peralatan teknis

    3) Aspek Pasar

    Dalam pendirian apotek, aspek pemasaran mendapat prioritas utama agar laju

    perkembangan apotek sesuai dengan yang diharapkan Aspek ini diantaranya

    menyangkut jumlah praktek dokter yang ada di sekitar apotek dan jumlah apotek

    pesaing di lokasi tersebut. Aspek pasar meliputi:

    a. Jenis produk yang akan dijual

    b. Cara (dari mana, bagaimana) mendapatkan produk yang akan dijual

    c. Bentuk pasar(Persaingan Sempurna, Monopoli, Oligopoli, Monopsoni)

    d. Potensi pasar (Q = N.P)

    e. Target pasar (Individu, Korporasi, Reseller)

    f. Target konsumen

    4) Aspek Keuangan

    Aspek finansial ditujukan untuk memperkirakan berapa jumlah dana yang

    dibutuhkan untuk membangun dan kemudian untuk mengoperasikan apotek. Sumber

    pembiayaan apotek dapat menggunakan dua sumber, yaitu : pertama modal sendiri,

    dapat satu orang pribadi atau beberapa orang dengan pembagian saham. Kedua dapat

  • dengan pinjaman dengan melalui bank atau lembaga non bank. Aspek keuangan,

    meliputi:

    a. Investasi dan modal kerja

    b. Penilaian analisis keuangan (PBP, ROI, NPV, IRR, BEP)

    Yaitu analisa yang berkenaan dengan biaya operasional dan biaya investasi.

    Penilaian analisis keuangan tersebut dapat menggunakan analisis PBP, ROI, NPV,

    IRR, BEP

    PBP : Pay Back Periode

    ROI : Return On Investment

    NPV : Net Present Value

    IRR : Internal Rate of Return

    BEP : Break Even Point

    c. Cash Flow Analysis

    Di bawah ini akan dijelaskan mengenai aspek keuangan dilihat dari analisis Break

    Even Point, Return on Investment dan Payback Periode dalam studi kelayakan.

    a) Break Even Point (BEP)

    Untuk mempertahankan kontinuitas usaha, apotek harus menjaga tingkat

    keseimbangan antara hasil penjualan (total revenue) atau laba yang diperoleh

    dengan biaya total. Analisa pendekatan yang digunakan ialah metode break even

    point :

    BEP = [1/(1-Biaya Variabel/Volume Penjualan)] x biaya tetap

    Analisa BEP menunjukkan suatu keadaan kinerja suatu usaha pada posisi tidak

    memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian karena pada posisi

    tersebut pada omset tertentu laba yang diperoleh sama dengan biaya tetap yang

    dikeluarkan. Sehingga dengan harga yang ada, omzet yang didapatkan, serta biaya

    yang dikeluarkan itu tidak akan menderita kerugian. Dengan adanya BEP ini

    menjadi alat untuk menetapkan perkiraan omzet yang harus didapatkan agar suatu

    usaha tidak merugi.(4)

  • Analisa BEP berguna untuk :

    1. Digunakan untuk perencanaan laba(Profit Planning)

    2. Sebagai alat pengendalian (Controlling)

    3. Sebagai alat pertimbangan dalam menentukan harga jual

    4. Sebagai alat pertimbangan dalam mengambil keputusan perlu diketahui

    berapakah BEP-nya.

    b) ROI (Return on Investment)

    Return on Investment (ROI) atau rentabilitas atau earning power merupakan

    perbandingan antara pendapatan bersih dengan aktiva bersih rata-rata yang

    digunakan. Hal ini penting untuk mengetahui kemampuan perusahaan

    menghasilkan pendapatan. ROI dapat dihitung dengan rumus :

    ROI = (Laba Bersih/Total Investasi) x 100%

    ROI dapat dinaikkan dengan cara:

    a. Menaikkan margin

    1) Hasil penjualan (total sales) dinaikkan lebih besar dibanding biaya.

    2) Biaya diturunkan lebih besar dibanding penjualannya.

    b. Menaikkan perputaran

    1) Menaikkan hasil penjualan (laba) dibanding aktivanya (modal lancarnya).

    2) Menurunkan aktivanya lebih besar dibanding hasil penjualan (laba).

    ROI merupakan analisa hasil usaha. Hal ini tergantung dari tujuan perusahaan, tapi

    secara umum dapat dikatakan ROI yang baik adalah lebih besar daripada jasa

    pinjaman rata-rata. Besarnya ROI yang diperoleh merupakan tingkat pengembangan

    usaha suatu perusahaan.(4)

  • c) Payback Periode

    Pay Back Period merupakan suatu analisa untuk mengetahui berapa lama modal

    yang kita investasi akan kembali (balik modal). PBP merupakan rasio dari total

    investasi dibandingkan dengan laba bersih. Pay Back Period dapat dihitung dengan

    rumus:

    PBP (thn) = Total Investasi/Laba Bersih

    Semakin kecil waktu pengembalian modal maka semakin prospektif pendirian apotek

    yang menandakan semakin besar tingkat pengembalian modal dan keuntungan bersih

    rata-rata juga akan semakin besar. Pay back period tergantung dari jumlah investasi

    dan modal tetap yang dikeluarkan. Investasi juga berasal dari modal operasional dan

    modal cadangan. (4)

    d) Internal Rate of Return

    Internal Rate of Return disingkat IRR yang merupakan indikator tingkat efisiensi dari

    suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju pengembaliannya

    (rate of return) lebih besar dari pada laju pengembalian apabila melakukan investasi

    di tempat lain.

    IRR dapat di hitung dengan rumus:

    IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak, untuk

    itu biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari

    Minimum acceptable rate of return atau Minimum atractive rate of return. Minimum

    acceptable rate of return adalah laju pengembalian minimum dari suatu investasi

    yang berani dilakukan oleh seorang investor .

  • BAB III

    STUDI KELAYAKAN

    3.1 Aspek Pasar dan Pemasaran

    3.1.1 Potensi Pasar

    Apotek akan didirikan di Jalan Villa Melati Mas Blok B, Kelurahan

    Jelupang Kecamatan Serpong Utara. Lokasi apotek yang akan didirikan berada

    dipinggir jalan raya dengan lalu lintas yang cukup padat dan dilalui oleh

    kendaraan pribadi.

    Lokasi ini cukup strategis dalam menjaring konsumen karena berada

    dekat dengan sarana pelayanan kesehatan seperti praktek dokter, klinik,

    puskesmas dan rumah sakit serta berada di tengah-tengah perumahan yang padat

    penduduk sehingga menjadi potensi pasar yang potensial.

    Lokasi apotek berada di jalur menuju perumahan villa melati mas, alam

    sutera, Graha Raya, Royal Serpong Village, dan jalan raya Serpong, sehingga

    diprediksi akan ramai pada pagi, siang, sore maupun malam hari. Jalan raya di

    depan apotek merupakan jalur dua arah dengan pembatas jalan namun dekat

    dengan fasilitas putaran balik sehingga bagi konsumen yang datang dari arah

    seberang memiliki kemudahan untuk memutar arah menuju apotek.

    3.1.2 Peluang Pasar

    Besar kecilnya peluang pasar dapat dilihat dari faktor pendukung lain

    seperti kepadatan lalu-lintas yang melewati lokasi dan keberadaan sarana

    kesehatan (praktek dokter, puskesmas dan klinik) radius 2 km di sekitar lokasi

    Apotek yang akan didirikan.

  • a. Data kepadatan lalu-lintas

    Data kepadatan lalu-lintas tiap jam di sekitar lokasi Apotek Kimia Farma

    Villa Melati Mas dapat dilihat dalam tabel berikut:

    Data kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas

    No. Jenis Kendaraan Bermotor Jumlah/jam

    1 Motor 2869

    2 Mobil 2017

    b. Data praktek dokter, klinik dan rumah sakit

    Data praktek dokter dan klinik dapat dilihat pada tabel dibawah ini

    No. Nama Dokter Jarak dari

    apotek Waktu Praktek

    1. drg. R. Yulianti Wijaya 400 m

    Senin,Rabu,Jumat

    17.00 20.00

    2. Praktek Dokter Besama 300 m Senin-Sabtu

    08.00-20.00

    3. dr. Monica Sampurna 400 m Setiap hari

    08.00 16.00

    4. dr. Andreas Liando 400 m Senin,Rabu,Jumat

    15.30 18.00

    5 dr. Weny Tjiali 400 m Senin-sabtu 17.00-21.00

    6 dr. Anita Tasik 400 m

    Setiap hari kerja

    08.00 21.00

    7 drg. Joe Wisnu Brata 400 m

    Senin, rabu, kamis, jumat

    17.00 21.00

    8 dr. Juanda Tjong 400 m Senin-sabtu

    09.00 20.00

    9 drg. Theresia nita 450 m Setiap Hari kerja

    15.00 18.00

    10 Dr. Huardy Theodore 450 m Setiap Hari kerja

    15.00 18.00

    11

    drg. L.L Winata

    drg. Andy Winata drg. Windy Rosalia

    500 m Setiap hari kerja

    08.00 21.00

    12

    dr. Indawati Kamil

    dr. Vany Lusian

    ( Spesialis kulit & kelamin)

    450 m Senin - sabtu

    10.00 17.00

    13 drg. Jenny Suhardi 750 m Senin sabtu

  • 08.00 10.00 17.00 19.00

    14

    dr. Albert Susanto

    ( Spesialis kulit & kelamin)

    700 m Senin sabtu 14.00 18.00

    15 drg. Sonia 700 m Senin,rabu,jumat

    18.00 21.00

    16 Eka Hospital

    4.2 km Setiap hari

    (24 jam)

    17 RS Omni Internasional 3,6 km Setiap hari 24 jam

    18 RS Islam Assobirin 1,3 km Setiap hari

    24 jam

    19

    RS Medika BSD

    3,8 km Setiap hari

    24 jam

    a. Data Apotek Pesaing

    Apotek Kompetitor

    No Nama Apotek Jarak dari

    Apotek

    Praktek Dokter

    1 Apotek Anakku Sayang 150 m ada

    2 Apotek Sehat 200 m ada

    3 Apotek Allie 500 m ada

    4 Apotek Guardian 15 m Tidak ada

    5 Apotek Melati 20 m ada

    6 Apotek Harkat 30 m ada

    7 Apotek Selaras 2 km ada

    8 Apotek Century 2 km Tidak ada

  • 3.2 Aspek lingkungan

    3.2.1 Peta Lokasi

    Keterangan : Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas

  • 3.2.2 Aspek Demografi

    a. Apotek yang ingin didirikan berada di kecamatan Serpong Utara yang

    memiliki luas wilayah 2243 Hektar dengan jumlah penduduk total

    142.328 jiwa dan kepadatan penduduk 7978 orang per km2. Jumlah

    keluarga 38.738 jiwa dan laju pertumbuhan 5,26 %.

    a. Lokasi

    Apotek ini rencana akan dibuka di Kelurahan Jelupang. Tepatnya lokasi

    yang akan dipakai adalah Jalan Villa Melati Mas Blok B ,Serpong,

    Tangerang Selatan. Adapun daerah sekitar antara lain:

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Serpong

    Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kelapa Dua

    Sebelah Utara Berbatasan dengan Kota Tangerang

    Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pondok Aren

    Pemantauan lokasi pembuatan apotek dilakukan 2 km sekitar lokasi

    pendirian apotek.

    3.2.3 Aspek Pelayanan Dan Teknologi

    a. Aspek Pelayanan

    Bentuk pelayanan yang akan dilakukan oleh Apotek meliputi

    pelayanan dengan resep, non resep (swamedikasi dan swalayan farmasi),

    pelayanan KIE, Delivery Service, dan telefarmasi.

    b. Operasional Apotek

    Tabel 2.6. Waktu operasional Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas

    No Operasional Apotek Waktu

    1 Jam operasional apotek 07.00 23.00

    2 Jam kerja APA 08.00 15.00

    3 Jam kerja Apoteker pendamping 15.00 23.00

    4 Jam kerja AA (sistem shift) 07.00 15.00

    15.00 23.00

    No Jenis kelamin Jumlah (Jiwa)

    1 Laki-laki 70915

    2 Perempuan 71413

    3 Total 142.328

  • 5 Jam kerja dokter praktek (hari kerja) 09.00 12.00

    18.00 22.00

    6 Layanan obat via telepon (telefarmasi) 08.00 22.00

    c. Jenis Pelayanan

    Pelayanan obat di Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas dibedakan menjadi

    pelayanan resep dan pelayanan tanpa resep (swamedikasi)

    1. Pelayanan dengan Resep

    1. Penerimaan Resep

    1. Apoteker menerima resep pasien

    2. Dilakukan skrining resep meliputi adsministrasi, farmasetik dan klinik

    a. Persyaratan administratif :

    - Nama dokter, SIP dan alamat dokter

    - Tanggal penulisan resep

    - Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

    - Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien

    - Cara pemakaian yang jelas

    - Informasi lainnya

    b. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,

    inkompatibilitas, cara pemakaian dan lama pemberian.

    c. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi,

    kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain lain). Jika ada

    keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter

    penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif bila

    perlu menggunakan persetujuan.

    3. Dihitung harga dan diminta persetujuan pasien terhadap nominal harga

    obat dalam resep.

    4. Pasien diberikan nomor antrean resep dan dipersilahkan menunggu di

    ruang tunggu apotek.

    5. Ditulis nomor struk (print out) pada resep dan satukan resep dengan print

    out.

  • 6. Dicocokkan nama, jumlah dan kekuatan obat dalam resep dengan print

    out.

    2. Peracikan Obat

    a. Dilakukan pengecekan ketepatan jumlah obat yang diperlukan sesuai

    dengan yang tertera pada resep.

    b. Apoteker/Asisten Apoteker membuat etiket sesuai permintaan pada resep.

    c. Dilakukan penyiapan obat sesuai jumlah yang diminta pada resep.

    d. Obat diracik sesuai dengan yang tertulis pada resep.

    e. Proses pencampuran dan penyiapan obat racikan dilakukan oleh Juru

    Resep di bawah pengawasan Apoteker/Asisten Apoteker dan atau Asisten

    Apoteker maupun Apoteker.

    f. Setelah pengerjaan obat selesai, obat diberi etiket dan diperiksa kembali

    oleh Apoteker/AA dan dikemas dalam klip obat.

    g. Untuk obat yang belum diambil seluruhnya atau pasien meminta copy

    resep, wajib dibuatkan copy resep yang ditandatangani oleh

    Apoteker/Asisten Apoteker.

    h. Bagi pasien yang meminta kuitansi maka dibuatkan kuitansi.

    3. Penyerahan Obat

    1. Sebelum diserahkan, Apoteker wajib melakukan pengecekan obat dengan

    resep.

    2. Pasien dipanggil menurut nomor resep.

    3. Obat diserahkan kepada pasien dengan mengecek nama pasien dengan

    nama yang tertulis pada resep.

    4. Memberi penjelasan kepada pasien mengenai jenis obat, kegunaan, cara

    pakai dan cara penyimpanan obat, efek samping atau akibat yang

    mungkin timbul dan cara mengatasinya serta pantangan yang harus

    dilakukan. Untuk resep yang diambil sebagian, dianjurkan segera diambil

    sebelum obat habis, terutama untuk Antibiotika.

    5. Mengucapkan terima kasih dan semoga lekas sembuh

  • 4. Dokumentasi Resep

    Resep yang masuk pada akhir shift dikumpulkan, dilakukan pencatatan

    pada kartu stok dan buku pencatatan resep.Penyimpanan resep dilakukan

    berurutan berdasarkan hari.Untuk resep narkotik dan non narkotik disimpan

    pada tempat berbeda.Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengecekan

    pelaporan resep seperti pada resep narkotik.

    2. Pelayanan Tanpa Resep (Swamedikasi)

    Pelayanan obat tanpa resep adalah pelayanan perbekalan farmasi yang

    dapat dilayani tanpa resep dokter antara lain obat bebas, obat bebas terbatas, obat

    wajib apotek (OWA), kosmetika, obat tradisional, PKRT (Perbekalan Kesehatan

    Rumah Tangga), dan alat kesehatan. Pelayanan tanpa resep ditujukan untuk

    swamedikasi (self medication) untuk meringankan/menghilangkan gejala

    penyakit tertentu seperti batuk, pilek atau diare. Adapun tahap pelayanan non

    resep di Apotek Kimia Farma Pasar Baru sebagai berikut :

    1. SOP Pelayanan OTC (Over The Counter Drug)

    a. Pasien datang.

    b. Menyapa pasien dengan ramah (selamat pagi,siang atau sore) disertai

    dengan mencakupkan tangan pada dada dan menanyakan kepada pasien

    obat apa yang dibutuhkan.

    c. Ditanyakan lebih dahulu keluhan atau penyakit yang diderita pasien,

    kemudian membantu pasien untuk mendapatkan obat yang tepat.

    d. Menghitung harga dan minta persetujuan terhadap nominal harga.

    e. Memberikan uang kembalian dan obat diserahkan kepada pasien disertai

    dengan informasi tentang obat meliputi dosis, frekuensi pemakaian

    sehari, waktu penggunaan obat, cara penggunaan dan efek samping obat

    yang mungkin timbul setelah penggunaan obat, dan jika diperlukan

    pengatasan pertama terhadap efek samping yang ditimbulkan.

    f. Mengucapkan terima kasih dan semoga lekas sembuh.

  • 2. SOP Pelayanan OWA (Obat Wajib Apotek)

    1. Pasien datang,

    2. Menyapa pasien dengan ramah selamat pagi,siang atau sore) disertai

    dengan mencakupkan tangan pada dada dan menanyakan kepada pasien

    obat apa yang dibutuhkan,

    3. Ditanyakan pada pasien apa keluhan yang dialaminya dan gejala

    penyakitnya,

    4. Ditanyakan pada pasien apakah sebelumnya pernah menggunakan obat

    tertentu dan bagaimana hasilnya (kondisi membaik atau bertambah

    parah),

    5. Bila pasien telah menggunakan obat sebelumnya dan hasilnya tidak

    memuaskan maka pilihkan obat lain yang sesuai dengan kondisi pasien,

    begitu juga untuk pasien yang sama sekali belum pernah minum obat,

    6. Menghitung harga dan minta persetujuan terhada nominal harga

    7. Setelah pasien setuju dengan harga obat, diserahkan obat kepada pasien

    disertai dengan informasi tentang obat meliputi : dosis, frekuensi

    pemakaian sehari, waktu penggunaan obat, cara penggunaan dan efek

    samping obat yang mungkin timbul setelah penggunaan obat dan dan jika

    diperlukan pengatasan pertama terhadap efek samping yang ditimbulkan,

    8. Melakukan pencatatan nama pasien, alamat, dan no telepon pasien serta

    obat-obat yang diterima sebagai suatu medical record.

    9. Mengucapkan terima kasih dan mengucapkan semoga lekas sembuh.

    3. Swalayan

    Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas juga menyediakan swalayan farmasi

    yang ditujukan untuk pasien yang ingin melakukan upaya pengobatan sendiri

    (UPDS) atau swamedikasi. Jenis obat-obatan yang terletak pada swalayan

    farmasi di Apotek Kimia Farma Melati Mas merupakan obat bebas, alat

    kesahatan, alat kontrasepsi, kosmetik, vitamin dan suplemen makanan.

  • 4. Pelayanan KIE

    Pelayanan KIE di Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas dilakukan oleh

    Apoteker/AA (dengan persetujuan Apoteker) untuk memberikan informasi pada

    pasien. Pelayanan ini bisa dilakukan secara langsung, lewat telepon atau

    membuat janji terlebih dahulu.

    Pelayanan KIE sangat diperlukan agar pasien dapat memperoleh informasi

    tentang obat dengan benar. Pelayanan KIE diberikan pada pasien resep dan non

    resep. Pemberian

    Informasi yang harus diberikan kepada pasien meliputi :

    A. Nama generik dan nama dagang beserta deskripsi fisik dan kekuatan obat.

    B. Aksi obat yang diharapkan dan interaksi yang mungkin terjadi.

    C. Bagaimana dan kapan menggunakan obat.

    D. Penggunaan khusus dan teknik monitoring yang dapat dilakukan sendiri.

    E. Efek samping yang biasa terjadi dan cara mengatasinya.

    F. Apabila obat dihentikan, bagaimana cara menghentikannya dan

    hubungannya dengan obat yang baru.

    G. Cara penyimpanan obat.

    H. Lama penggunaan dan bagaimana cara mengatasi bila lupa meminum

    obat.

    Pemberian informasi yang benar kepada pasien sangat perlu untuk

    menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan penggunaan obat dan diharapkan

    tujuan pengobatannya tercapai. Untuk penderita penyakit tertentu seperti

    kardiovaskular, hipertensi, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya,

    apoteker diharapkan dapat memberikan konseling secara berkelanjutan. Pada

    proses penyampaian KIE, perlu diperhatikan tingkat pendidikan pasien, karena

    hal tersebut akan mempengaruhi bahasa yang digunakan selama melakukan

    konseling agar mudah dipahami sehingga informasi yang diberikan dapat

    mencapai sasaran.

  • d. Aspek Teknologi

    Dalam perencanaan pendirian apotek di daerah Jl.Villa Melati Mas Blok

    B juga diperlukan suatu teknologi penunjang layanan untuk mempermudah

    sistem pelayanan baik terhadap konsumen maupun mempermudah karyawan

    dalam pengecekan stok obat. Adapun teknologi yang diperlukan antara lain :

    Komputer sebanyak 6 unit

    Software apotek untuk membantu karyawan dalam mengelola penjualan obat

    di apotek sehingga memudahkan dalam melakukan transaksi.

    AC

    Televisi pada ruang tunggu

    Layanan internet

    Telepon 3

    Lemari pendingin 3

    Printer

    Scanner

    Apotek ini akan menggunakan sistem billing antara komputer kasir dengan

    komputer yang digunakan memasukkan stok sehingga setiap penjualan dapat

    dipantau dan dengan cepat diketahui stok obat mana yang habis. Dengan sistem ini

    pengadaan obat dapat segera dilakukan. Pada kasir juga dilengkapi alat sensor

    optik untuk dapat mendeteksi no.barcode obat-obat HV/OTC sehingga

    pelayanannya menjadi lebih cepat.

    3.3 Aspek SDM

    Sumber daya manusia merupakan salah satu hal yang penting dikelola dalam

    manjalankan suatu apotek. Kerjasama antar para karyawan sangat diperlukan

    sehingga mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif dan kenyamanan pada

    pasien. Dalam menjalankan usaha apotek ini, diperlukan beberapa pegawai yaitu 1

    orang Apoteker Pengelola Apotek (APA), 1 orang apoteker pendamping, dan 5 orang

    asisten apoteker (AA). Apotek buka setiap hari, kecuali hari libur nasional dengan

    jam buka dari jam 07.00 23.00. Adapun pembagian shift kerja adalah shift pagi dari

    pukul 07.00 15.00 WIB dan shift siang dari pukul 15.00 23.00 WIB.

  • Berikut ini merupakan struktur organisasi dari apotek yaitu :

    Adapun tugas dari masing masing personel apotek yaitu :

    1. Apoteker pengelola apotek (APA)

    APA memiliki tugas mengelola seluruh kegiatan apotek meliputi pengelolaan

    perbekalan kesehatan dan mengontrol persediaan barang, mengawasi seluruh

    kegiatan apotek baik yang bersifat kefarmasian meliputi pelayanan resep dan non

    resep, administrasi keuangan, mengawasi dan mengontrol kinerja semua karyawan

    apotek, memberikan layanan kefarmasian kepada masyarakat berupa komunikasi,

    informasi dan edukasi (KIE) mengenai obat dan perbekalan farmasi kepada pasien.

    2. Asisten Apoteker

    Asisten apoteker memiliki tugas yaitu membantu APA dan Apoteker pendamping

    dalam hal sebagai berikut :

    a. Melayani penjualan obat, baik dengan ataupun tanpa resep dokter.

    b. Meracik, menyiapkan obat, menulis etiket, membuat salinan resep.

    c. Melakukan pencatatan penjualan harian.

    d. Mendata kebutuhan obat yang habis atau tinggal sedikit setiap hari pada

    buku defecta.

    - Mencatat laporan penggunaan obat dan perbekalan farmasi

    - Menerima barang pesanan, memeriksa dan menandatangani faktur, mencatat

    ke dalam buku pembelian (komputer)

  • - memelihara kebersihan dan kerapihan ruang pelayanan dan peracikan obat

    serta mengelompokkan dan menata obat secara alfabetis.

    3.4 Aspek Yuridis

    Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek yang

    bekerjasama dengan pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan,

    termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah

    surat yang diberikan Menteri Kesehatan RI kepada apoteker atau apoteker

    bekerjasama dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di suatu tempat tertentu.

    Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada

    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

    wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan

    pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan

    disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.

    Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7

    dan 9 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:

    a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan

    Kabupaten/Kota.

    b. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari

    setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada

    Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap

    kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.

    c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-

    lambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala

    Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan.

    d. Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan,

    apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan

    kegiatan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan setempat dengan

    tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.

  • e. Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan

    sebagaimana ayat (3) atau persyaratan ayat (4), Kepala Dinas Kesehatan

    setempat mengeluarkan surat izin apotek.

    f. Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala

    Balai POM dimaksud (3) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas

    Kesehatan setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat

    penundaan.

    g. Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (6), apoteker diberikan

    kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-

    lambatnya dalam waktu satu bulan sejak tanggal surat penundaan.

    h. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai

    pasal (5) dan atau pasal (6), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan

    permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Dinas setempat dalam jangka

    waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat

    penolakan disertai dengan alasan-alasannya.

    (Depkes RI, 2002)

    Dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian di apotek, harus berlandaskan

    hukum diantaranya :

    1. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1189 A/ Menkes/ SK/ X/ 1999

    tentang wewenang Penetapan Ijin di bidang Kesehatan.

    2. PP No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian

    3. Kepmenkes RI No1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan

    Farmasi di Apotek

    4. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1980 tentang Masa Bhakti dan Ijin Kerja

    Apoteker.

    5. Permenkes RI No.949/Menkes/Per/VI/2000 tentang Registrasi Obat Jadi.

    6. SK MenKes RI No.347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotik

    No.1

    7. KepMenkes RI No.924/Menkes/Per/X/1993 tentang Obat Wajib Apotik No.2

    8. KepMenkes RI No.1176/Menkes/SK/X/1999 tentag Daftar Obat Wajib

    Apotik No.3

    9. Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

  • 10. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

    11. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan

    12. UU 8/1999, Perlindungan Konsumen

    13. Peraturan Pemerintah RI No.72 tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan

    Farmasi dan Alat Kesehatan

    3.5 Aspek Finansial

    3.5.1 Data apotek

    Data dibawah ini merupakan data estimasi jumlah resep yang mungkin

    masuk ke Apotek Kimia Farma Villa Melati Mas yang berasal dari dokter

    outhouse. Diasumsikan bahwa dalam satu tahun setara dengan 365 hari (2

    hari nonaktif untuk lebaran). Diasumsikan pula bahwa harga resep per

    lembar yaitu

    Dokter outhouse

  • No. Nama Dokter Jarak

    dari

    apotek

    Waktu

    Praktek

    Jumla

    h

    Pasien

    Harga Per Resep Jumla

    h

    Resep

    yang

    mungk

    in

    Masuk

    ke

    Apotek

    Jumlah Pemasukan

    Resep Per Hari

    Jumlah

    Pemasukan

    Resep Per

    Bulan

    Jumlah

    Pemasukan

    Resep Per Tahun

    1 drg. R. Yulianti

    Wijaya

    400 m Senin,Rabu,Jum

    at 17.00 - 22.00

    7 Rp 100,000 2 Rp 200,000 Rp 2,400,000 Rp 28,800,000

    2 Praktek Dokter

    Besama

    300 m Senin - Sabtu

    08.00 - 20.00

    50 Rp 50,000 5 Rp 250,000 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000

    3 dr. Monica

    Sampurna

    400 m Setiap Hari

    08.00 - 16.00

    15 Rp 50,000 1 Rp 50,000 Rp 1,400,000 Rp 16,800,000

    4 dr. Andreas

    Liando

    400 m senin ,rabu,

    jumat 15.30 -

    18.00

    5 Rp 50,000 1 Rp 50,000 Rp 600,000 Rp 7,200,000

    5 dr. Weny Tjiali 400 m Senin-sabtu

    08.00 - 21.00

    8 Rp 50,000 1 Rp 50,000 Rp 1,200,000 Rp 14,400,000

    6 dr. Anita Tasik 400 m Setiap hari kerja 08.00 - 21.00

    25 Rp 50,000 3 Rp 150,000 Rp 3,000,000 Rp 36,000,000

    7 drg. Joe Wisnu

    Brata

    400 m senin,rabu,kami

    s, jumat 17.00 -

    18.00

    7 Rp 100,000 1 Rp 100,000 Rp 1,200,000 Rp 14,400,000

    8 dr. Juanda

    Tjong

    400 m senin - sabtu

    09.00 - 20.00

    15 Rp 50,000 2 Rp 100,000 Rp 2,400,000 Rp 28,800,000

    9 drg. Theresia

    nita

    450 m setiap hari kerja

    15.00 - 18.00

    7 Rp 100,000 1 Rp 100,000 Rp 2,000,000 Rp 24,000,000

  • 10 Dr. Huardy

    Theodore

    450 m setiap hari kerja

    15.00 - 18.00

    10 Rp 50,000 2 Rp 100,000 Rp 2,000,000 Rp 24,000,000

    11 drg. L.L Winata

    drg. Andy

    Winata drg.

    Windy Rosalia

    500 m Setiap hari kerja

    08.00 - 21.00

    15 Rp 10,000 3 Rp 30,000 Rp 600,000 Rp 7,200,000

    12 dr. Indawati

    Kamil dr. Vany

    Lusian (Sp

    kulit&kelamin)

    450 m senin - sabtu

    10.00 - 17.00

    30 Rp 100,000 2 Rp 200,000 Rp 4,800,000 Rp 57,600,000

    13 drg. Jenny

    Suhardi

    750 m senin - sabtu

    08.00 - 10.00

    17.00 - 19.00

    10 Rp 100,000 2 Rp 200,000 Rp 4,800,000 Rp 57,600,000

    14 dr. Albert

    Susanto

    (spesialis kulit

    & kelamin)

    700 m senin-sabtu

    14.00 - 18.00

    10 Rp 100,000 2 Rp 200,000 Rp 4,800,000 Rp 57,600,000

    15 drg. Sonia 700 m senin,rabu,jumat

    18.00 - 21.00

    5 Rp 100,000 1 Rp 100,000 Rp 1,200,000 Rp 14,400,000

    16 RS Omni

    Internasional

    3,6 km setiap hari (24

    jam)

    ~ Rp 150,000 3 Rp 450,000 Rp 12,600,000 Rp 151,200,000

    17 RS Islam

    Assobirin

    1,3 km setiap hari (24

    jam)

    ~ Rp 100,000 3 Rp 300,000 Rp 8,400,000 Rp 100,800,000

    TOTAL Rp 712,800,000

    Total perkiraan pemasukan dari resep yaitu = resep dari dokter outhouse

    = Rp885,720,000

  • 3.5.1 Perhitungan Neraca Keuangan

    1. Biaya Sewa 1 Ruko = Rp. 80.000.000/tahun

    2. Pengeluaran belanja untuk kesehatan berdasarkan data pendapatan

    perkapita di daerah serpong yaitu :

    - Pendapatan perkapita masyarakat Tangerang Selatan per tahun = Rp.

    11.700.000,-

    - Asumsi persentase pengeluaran belanja masyarakat untuk kesehatan

    di Daerah Serpong = 10 %

    - Rata-rata pengeluaran untuk kesehatan pertahun = 10/100 x Rp.

    11.700.000 = Rp. 1.170.000 /jiwa

    - Radius layanan resep= 2 Km2, kepadatan penduduk 7978 jiwa/Km2

    - Jumlah jiwa = 7978 jiwa/Km2 x 2 Km2 = 15.956 jiwa

    - Perkiraan pengeluaran belanja masyarakat untuk kesehatan di sekitar

    apotek dengan radius 2 Km2 = 15.956 jiwa x Rp. 1.170.000 /jiwa =

    Rp. 18.668.520.000

    - Perkiraan pengeluaran masyarakat untuk obat sebesar 50 % x Rp.

    18.668.520.000 = Rp. 9.334.260.000

    - Asumsi persentase dari pengeluaran masyarakat untuk obat yang

    datang ke apotek yang akan di bangun sebesar 5%.

    - Perkiraan omzet dari pengeluaran masyarakat sekitar apotek 5% x

    Rp. 9.334.260.000 = Rp 466.713.000

    3. Dari data kepadatan lalu lintas, dapat dibuat asumsi omzet apotek

    pertahun :

    Diasumsikan bahwa dari total orang yang lewat, sebanyak 5% berkunjung

    ke apotek dengan konsumsi per orang Rp 10.000/hari.

  • Konsumsi total untuk satu tahun = Rp Rp 2.440.000 x 363 hari

    = Rp1,352.433,000

    4. Konsumsi total satu tahun = total konsumsi orang yang lewat + total

    konsumsi penduduk = Rp1,352.433,000 + Rp. 466.713.000

    = Rp1,799,146,000

    Asumsi segmentasi biaya:

    Biaya UPDS : 50 % x Rp1,799,146,000 = Rp. 899,573,000.00

    Biaya HV/OTC : 50 % x Rp1,799,146,000 = Rp. 899,573,000.00

    5. Biaya Pada Tahun Pertama

    a. Biaya Operasional

    Jenis

    Kendaraan

    Rata-rata

    Jumlah

    kendaraan

    yang

    lewat/jam

    Jumlah

    kunjun

    gan ke

    apotek/

    hari

    Konsumsi

    per hari

    Konsumsi total

    Motor 2869 143 Rp 10.000 Rp1,430,000

    Mobil 2017 101 Rp 10.000 Rp 1.010.000

    Total Rp 2.440.000

    Jenis Biaya Jumlah

    Gaji

    a. APA(Rp. 4.000.000,- x13 bulan x 1) Rp 52.000.000

    b. AA (Rp.2.500.000,-x 13 bulan x5) Rp 162.500.000

    Total Biaya Gaji Rp 214.500.000

    Biaya listrik, air, telepon Rp 20.000.000

    Biaya serba-sebi Rp 4.500.000

    Biaya UJP Rp 30.000.000

    Biaya pemeliharaan Rp. 6.000.000

  • a. Biaya Inventaris Kantor

    - Papan nama dan neon box Rp 10.000.000

    - Kursi dan meja Rp 2.000.000

    - Lemari,rak,gondola,counter Rp 45.000.000

    - Neraca Rp 1.500.000

    - Alat Peracikan Rp 3.000.000

    - Embalage Rp 1.500.000

    - Buku Standar dan stempel Rp 1.000.000

    - Lemari pendingin Rp 3.500.000

    - Lampu Rp 500.000

    - AC Rp 6.000.000

    - TV Rp 3.000.000

    - Komputer, software dan printer Rp 17.000.000

    - Alat pemadam kebakaran Rp 2.500.000

    - Alat Kebersihan Rp 100.000

    - Jam dinding Rp 100.000

    - Kalkulator Rp 100.000

    - Timbangan Badan Rp 250.000

    - Brankas Rp 3.500.000

    - Kendaraan Rp 15.000.000

    Total Biaya inventaris Rp. 116.050.000

    b. Total Investasi

    Biaya pajak Rp 3.500.000

    Total biaya operasional Rp 278.500.000

    Investasi Jumlah

    Biaya Sewa Ruko Rp 80.000.000,-

    Biaya Inventaris Rp 116.050.000,-

    Biaya Perijinan Rp 10.000.000,-

    Biaya Renovasi Rp 80.000.000

    Modal (Persediaan) Rp 200.000.000,-

    Total Investasi Rp 486.050.000

  • Dengan asumsi terjadi kenaikan biaya setiap tahunnya, sebagai berikut :

    Jenis Biaya Asumsi

    kenaikan

    Tahun

    I II III IV V VI

    Biaya gaji 10% Rp 214.500.000 Rp 235950000 Rp 259.545.000 Rp 285.499.500 Rp 314.049.450 Rp 345.454.395

    Biaya listrik, air,

    telepon

    5% Rp 20,000,000 Rp 22,000,000 Rp 24,200,000 Rp 26,620,000 Rp 29,282,000 Rp 32,210,200

    Biaya serba-sebi 5% Rp 4,500,000 Rp 4,725,000 Rp 4,961,250 Rp 5,209,313 Rp 5,469,778 Rp 5,743,267

    Biaya UJP 5% Rp 30,000,000 Rp 31,500,000 Rp 33,075,000 Rp 34,728,750 Rp 36,465,188 Rp 38,288,447

    Biaya pemeliharaan

    5% Rp 6,000,000 Rp 6,300,000 Rp 6,615,000 Rp 6,945,750 Rp 7,293,038 Rp 7,657,689

    Biaya pajak 5% Rp 3,500,000 Rp 3,675,000 Rp 3,858,750 Rp 4,051,688 Rp 4,254,272 Rp 4,466,985

    Total biaya operasional Rp 278,500,000 Rp 304,150,000 Rp 332,255,000 Rp 363,055,000 Rp 396,813,725 Rp 433,820,984

  • 6. HV/ OTC

    Berdasarkan data konsumsi kesehatan dan pendapatan perkapita penduduk

    maka diperoleh omzet produk HV/OTC = Rp. 899.573.000

    7. UPDS

    Berdasarkan data konsumsi kesehatan dan pendapatan perkapita penduduk

    maka diperoleh omzet produk UPDS = Rp. 899.573.000

    8. Resep

    Berdasarkan data dokter yang praktek dan asumsi resep yang masuk ke

    apotek maka diperoleh total omzet dari dokter sebagai berikut:

    Dokter outhouse = Rp 712.800.000

    Total Omzet per tahun

    Sumber Omzet

    HV/ OTC Rp 899,573,000.00

    UPDS Rp 899,573,000.00

    Resep Rp 712,800,000.00

    Total Omzet Rp 2,511,946,000.00

    9. Asumsi Pertumbuhan Tahunan

    Tahun

    Ke

    Asumsi

    pertumbuhan

    pertahun

    Omzet

    (Rp)

    1 0% Rp 2,511,946,000

    2 20% Rp 3,014,335,200

    3 25% Rp 3,767,919,000

    4 25% Rp 4,709,898,750

    5 20% Rp 5,651,878,500

    6 15% Rp 6,499,660,275

  • 10. Perhitungan HPP

    HPP pada tahun pertama sebesar nilai omzet dibagi 1/margin keuntungan.

    Untuk setiap obat HV atau OTC, UPDS dan resep yaitu sebesar 1,25 dari

    harga beli maka nilai HPP yang diperoleh adalah sebagai berikut:

    Sumber Omzet HPP

    HV/ OTC Rp 899,573,000 Rp 1,124,466,250

    UPDS Rp 899,573,000 Rp 1,124,466,250

    Resep Rp 712,800,000 Rp 891,000,000

    Total Rp 2,511,946,000 Rp 3,139,932,500

    Untuk HPP Selama 6 Tahun, dengan asumsi HPP = 80% dari omzet :

    Tahun

    ke

    Asumsi

    Pertumbuhan

    pertahun

    Omset HPP

    (Omset x 80%)

    1 0% Rp 2,511,946,000 Rp 2,009,556,800

    2 15% Rp 3,014,335,200 Rp 2,411,468,160

    3 20% Rp 3,767,919,000 Rp 3,014,335,200

    4 18% Rp 4,709,898,750 Rp 3,767,919,000

    5 16% Rp 5,651,878,500 Rp 4,521,502,800

    6 15% Rp 6,499,660,275 Rp 5,199,728,220

  • LAPORAN LABA/RUGI

    Tahun

    ke

    Total Omzet HPP Biaya

    Operasional

    Laba

    Kotor

    Pajak

    (10%)

    Laba Bersih Setelah

    Pajak

    1 Rp 2,511,946,000 Rp 2,009,556,800 Rp 278,500,000 Rp 223,889,200 Rp 22,388,920 Rp 201,500,280

    2 Rp 3,014,335,200 Rp 2,411,468,160 Rp 304,150,000 Rp 298,717,040 Rp 29,871,704 Rp 268,845,336

    3 Rp 3,767,919,000 Rp3,014,335,200 Rp 332,255,000 Rp 421,328,800 Rp 42,132,880 Rp 379,195,920

    4 Rp 4,709,898,750 Rp 3,767,919,000 Rp 363,055,000 Rp 578,924,750 Rp 57,892,475 Rp 521,032,275

    5 Rp 5,651,878,500 Rp4,521,502,800 Rp 396,813,725 Rp 733,561,975 Rp 73,356,198 Rp 660,205,778

    6 Rp 6,499,660,275 Rp 5,199,728,220 Rp433,820,984 Rp 866,111,071 Rp 86,611,107 Rp 779,499,964

  • 1. Analisis IRR

    Trial and error pertama dengan df = 15%

    Tabel Cash inflow df 15% :

    Tahun

    ke

    cash flow df 15% NPV cash flow

    0 Rp 486.050.000 1 Rp 486,050,000

    1 Rp 201,500,280 0.8696 Rp 175,224,643

    2 Rp 268,845,336 0.7561 Rp 203,273,959

    3 Rp 379,195,920 0.6575 Rp 249,321,317

    4 Rp 521,032,275 0.5718 Rp 297,926,255

    5 Rp 660,205,778 0.4972 Rp 328,254,313

    6 Rp 779,499,964 0.4323 Rp 336,977,834

    Rp 200,000,000 0.2472 Rp 49,440,000

    NPV 1 Rp 2,126,468,321

    1 Rp 1,640,418,321

    Trial and error pertama dengan df = 28 %

    Tabel Cash inflow df 28 % :

    Tahun

    ke

    cash flow df 28% NPV cash flow

    0 Rp 486,050,000 1 Rp 486,050,000

    1 Rp 201,500,280 0.783 Rp 157,774,719

    2 Rp 268,845,336 0.6104 Rp 164,103,193

    3 Rp 379,195,920 0.4768 Rp 180,800,615

    4 Rp 521,032,275 0.3725 Rp 194,084,522

    5 Rp 660,205,778 0.291 Rp 192,119,881

    6 Rp 779,499,964 0.2274 Rp 177,258,292

    Rp 200,000,000 0.0847 Rp 16,940,000

    NPV 2 Rp 1,569,131,223

    2 Rp 1,083,081,223

    Mencari IRR minimum, syarat NPV 1 NPV 2 = 0

    IRR =

    = 53.26 %

  • Interpretasi hasil IRR (Internal Rate of Return)

    Dari perhitungan, IRR yang diperoleh 53,26%. Nilai IRR yang

    didapatkan lebih besar jika dibandingkan dengan suku bunga bank yaitu

    15%, sehingga dapat disimpulkan bahwa proyek tersebut layak

    dilaksanakan.

    Payback periode (PP)

    =

    = 2,4 tahun (2 tahun 5 bulan)

    Return of Investment

    =

    x 100%

    = 41.46%

    Break Even Point (BEP)

    =Rp329,506,374

  • BAB IV

    PEMBAHASAN

    Apotek Kimia Farma yang akan didirikan terletak di lokasi kelurahan

    Jelupang kecamatan Serpong Utara, lokasi ini cukup strategis dan mudah diakses

    oleh masyarakat karena terletak di tepi jalan besar dua arah yang cukup ramai,

    dengan pembatas jalan namun dekat dengan fasilitas putaran balik, banyak dilalui

    oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Selain itu apotek juga berada

    diantara beberapa kompleks perumahan yaitu perumahan Taman Melati Mas, Graha

    Raya, Royal Serpong Village, Perum Pondok Jagung, Pondok Pakulonan, Regency

    Melati Mas, dan Bukit Serpong Mas. Lokasi apotek ini diperjelas dalam keputusan

    Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang sarana dan prasarana

    menurut standar pelayanan kefarmasian di apotek, yang menyebutkan bahwa apotek

    berlokasi pada daerah yang mudah dikenali dan dapat mudah diakses oleh

    masyarakat.

    Data yang diperoleh menunjukkan jumlah penduduk di kecamatan Jelupang

    yaitu 142.328 jiwa, dengan kepadatan penduduk 13.156 jiwa/km2 merupakan

    kecamatan padat penduduk di Tangerang Selatan, hal ini tentunya merupakan

    peluang yang sangat baik mengingat keperluan masyarakat terhadap obat dan alat

    kesehatan di kota besar saat ini semakin tinggi seiring kesadaran akan kesehatan

    yang meningkat. Apoteker juga ditugaskan selama apotek buka untuk melakukan

    pelayanan konsultasi tentang obat atau penyakit, swamedikasi serta penyerahan obat

    kepada pasien disertai KIE. Hal ini diharapkan dapat memberikan kepuasan

    konsumen terhadap informasi terkait obat dan kesehatan.

    Dari segi apotek kompetitor, apotek memiliki beberapa kompetitor yaitu

    apotek anakku sayang, apotek sehat, apotek allie, apotek melati, apotek harkat,

    apotek selaras, apotek guardian dan apotek century. Namun apotek yang akan

    didirikan dapat bersaing dengan apotek kompetitor yang terlebih dahulu ada dengan

    dengan meningkatkan aspek-aspek pelayanan seperti jasa antar, SDM yang terlatih

    dan apoteker yang melakukan interaksi dengan pasien secara maksimal di apotek

    untuk melakukan konseling, pemberian informasi dan edukasi tentang berbagai hal

    yang perlu diperhatikan oleh pasien sehubungan dengan penggunaan obat-obatan

    untuk meningkatkan kesehatan.

    Lokasi Apotek Kimia Farma Melati Mas dekat dengan praktek pelayanan

    kesehatan seperti RS Omni Internasional, RS Islam Assobirin, dan beberapa praktek

    dokter baik dokter umum, dokter gigi, dokter anak dan dokter kecantikan.

  • Asumsi perhitungan pada aspek finasial menunjukkan dari total investasi

    sebesar Rp 486.050.000,- dapat diperoleh omzet pertahun sebesar Rp. 2.511.946.000

    Hasil analisis perhitungan menggunakan metode IRR adalah 53,26%, dimana hasil

    tersebut lebih besar dari suku bunga bank yaitu 15% sehingga dapat disimpulkan

    bahwa apotek telah layak untuk didirikan. Dari nilai Pay back periode didapatkan

    nilai 2,4 tahun (2 tahun 5 bulan) yang berarti selama 2,4 tahun jangka waktu

    kembalinya investasi yang telah di keluarkan, ROI sebesar 41,46% dan BEP Rp

    329.506.374.,- sehingga apotek ini layak didirikan.

  • BAB V

    SIMPULAN DAN SARAN

    A. Simpulan

    Berdasarkan studi kelayakan, Apotek Kimia Farma yang akan didirikan di

    Ruko Vila Melati Mas yang berada di Jl. Villa Melati Mas Blok B,

    kelurahan Jelupang kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, layak

    untuk didirikan apotek.

    B. Saran

    1. Apotek sebaiknya memiliki aspek pelayanan yang baik agar dapat

    bersaing dengan apotek lainya.

    2. Dalam mendirikan sebuah apotek perlu diperhatikan jumlah

    penduduk, pesaing, keadaan sosial ekonomi penduduk di daerah

    tersebut

  • DAFTAR PUSTAKA

    1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian,

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

    2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Departemen Kesehatan

    Republik Indonesia, Jakarta.

    3. Hartono. 2003. Manajemen Apotek. Jakarta: Depot Informasi Obat.

    4. Anief, M. 2001. Manajemen Farmasi Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

    5. Umar, M. 2013. Manajemen Apotek Praktis Edisi Revisi ke II. Jakarta: PD Wira Putra Kencana.

    6. DepKes RI. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/Menkes/SK/IX/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

    Kesehatan RI no. 992/Menkes/per/X/1933 tentang Ketentuan dan Tata Cara

    Pemberian Izin Apotek. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

    7. DepKes RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Keframasian di Apotek.

    Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

    8. Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan. 2013. Kota Tangerang Selatan Dalam Angka. Tangerang Selatan

  • LAMPIRAN

  • 1. Daftar pesaing apotik di area catchment

    Apotek Anakku Sayang Apotek Sehat

    Apotek Allie Apotek Guardian

    Apotek Melati Apotek Harkat

  • Apotek Century Apotek Selaras

    2. Toko Alat Kesehatan

    Smart Care Medical

  • 3. Sumber perolehan omzet

  • 4. Puskesmas Sekitar

  • 5. Rumah sakit disekitar

    6. Lokasi yang akan dibangun Apotek