Tugas Jiwa 2 Bab II

Download Tugas Jiwa 2 Bab II

Post on 09-Jul-2015

238 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>BAB II TINJAUAN TEORITIS</p> <p>A. KONSEP DASAR GANGGUAN MENTAL</p> <p>1. Pengertian Gangguan Mental ialah sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang dengan masyarakat (Rusdi Maslim, 1998). Masalah gangguan mental merupakan sesuatu yang banyak dijumpai. Kenyataan di bawah ini membuktikan hakikat yang sebenarnya:a. b.</p> <p>1 - 1.5% merupakan penyakit mental yang utama 10% dari keseluruhan penduduk mengidap gangguan mental yang telah 25 - 35% dari pesakit yang berjumpa doktor menghadapi tekanan mental.</p> <p>didiagnoskan.c.</p> <p>2. Penyebab Gangguan Mental</p> <p>Terdapat berbagai kelompok gangguan mental: Penyebab fizikal seperti jangkitan (contohnya: demam malaria jenis serebrum, ensefalitis), kecederaan atau trauma (dalam otak), metabolik (seperti diabetes, ketoasidosis, ketidakseimbangan metabolik), dementia (nyanyuk), epilepsi atau gila babi dan penyakit Parkinson.</p> <p>Sebab-sebab biokemia begitu jelas sekali dalam penyakit skizofrenia di mana ketidakseimbangan bahan dopamin merupakan penyebab yang nyata. Kajian-kajian mengenai keturunan atau genetik telah membuktikan peningkatan kejadian atau insidens berhubung kes gangguan mental seperti skizofrenia dan gangguan fikiran atau mood. Masalah seperti penyalahgunaan bahan, gangguan atau masalah makan seringkali menggunakan teori-teori tingkah laku pembelajaran untuk menjelaskan keadaan ini. Masalah-masalah tekanan psikologi yang besar yang tidak dapat diselesaikan boleh membawa kepada keadaan yang lebih serius seperti gangguan pasca stres atau penderaan terhadap kanak-kanak.</p> <p>3. Jenis Gangguan Mental</p> <p>Jenis Gangguan Mental yang biasa boleh dikelompokkan seperti berikut: Sindrom Otak Organik Psikosis Neurosis Gangguan personaliti Gangguan bahan Gangguan semasa kanakkanak Nyanyuk dan meracau Skizofrenia, gangguan fikiran Keresahan, obsesif-kompulsif Antisocial, kes perenggan</p> <p>penggunaan Menyalahgunakan sesuatu, mabuk, pergantungan terhadap sesuatu dan mengasingkan diri atau menyendiri Kencing malam, penderaan kanak-kanak,Keresahan</p> <p>4. Prevalens Gangguan Mental</p> <p>Gangguan mental merupakan sesuatu yang sangat biasa berlaku di samping beberapa kes tertentu yang menunjukkan simptom psikiatrik secara langsung. Contohnya: Keresahan/kemurungan OCD/fobia Kemurungan Manik depresi Skizifrenia Penyalahgunaan dadah Penderaan kanak-kanak/pasangan 8% 4% 5% 1-2% 1% 200,000 ?</p> <p>5. Perawatan</p> <p>Terdapat 3 kumpulan rawatan pilihan yang diberikan:a. 1) 2) b.</p> <p>Psikologi/Tingkah laku konseling, psikoterapi, terapi tingkah laku, secara perseorangan, suami-isteri, keluarga, kelompok menggunakan dadah ansiolitik, hipnotik, antidepresan, antisikotik</p> <p>Obat-obatan1)</p> <p>c.</p> <p>Terapi elektro-konvulsif (ECT).</p> <p>6. Pohon Masalah Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasid, 1993 dan INJF, 1996, dikutip : Keliat, 1998). Agar penentuan pohon masalah dapat dipahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan tiga komponen</p> <p>yang terdapat pada pohon masalah yaitu : penyebab (causa) masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki klien. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek/akibat dari masalah utama.</p> <p>Kekerasan, resiko tinggi</p> <p>Akibat</p> <p>Perubahan sensori persepsi : pendengaran</p> <p>Masalah utama : Keluhan utama : Dengar suara tanpa stimulus Penyeba b</p> <p>Isolasi sosial : menerik diri</p> <p>Berduka : Disfungsional</p> <p>Gangguan harga diri : Kronik</p> <p>Gambar : contoh pohon masalah aspek jiwa</p> <p>7. Komunikasi Teraupetik dengan Pasien Gangguan Jiwa</p> <p>Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah teknik khusus, adabeberapa hal yang membedakan berkomunikasi antara orang gangguan jiwa dengan gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah :</p> <p>a. penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri, penderita gangguan penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang wajar (kecuali pasien dengan perubahan fisik, ex : pasien dengan penyakit kulit, pasien amputasi, pasien pentakit terminal dll). b. gangguan jiwa cenderung asyik dengan dirinya sendiri sedangkan penderita penyakit fisik membutuhkan Penderita support dari orang lain. c. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, penderita penyakit fisik bisa saja jiwanya sehat tetapi bisa juga ikut terganggu.</p> <p>Sebenarnya ada banyak perbedaan, tetapi intinya bukan pada mengungkap perbedaan antara penyakit jiwa dan penyakit fisik tetapi pada metode komunikasinya.</p> <p>Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar pengetahuan tentang ilmu komunikasi yang benar, ide yang mereka lontarkan terkadang melompat, fokus terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan dan mengolah kata kata bisa saja kacau balau.</p> <p>Ada beberapa trik ketika harus berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa : a. pada pasien halusinasi maka perbanyak aktivitas komunikasi, baik meminta klien berkomunikasi dengan klien lain maupun dengan perawat, pasien halusinasi terkadang menikmati dunianya dan harus sering harus dialihkan dengan aktivitas fisik.</p> <p>b. Pada pasien harga diri rendah harus banyak diberikan reinforcement c. Pada pasien menarik diri sering libatkan dalam aktivitas atau kegiatan yang bersama sama, ajari dan contohkan cara berkenalan dan berbincang dengan klien lain, beri penjelasan manfaat berhubungan dengan orang lain dan akibatnya jika dia tidak mau berhubungan dll. d. Pasien perilaku kekerasan, khusus pada pasien perilaku kekerasan maka harus direduksi atau ditenangkan dengan obat obatan sebelum kita support dengan terapi terapi lain, jika pasien masih mudah mengamuk maka perawat dan pasien lain bisa menjadi korban.</p> <p>8. MANAJEMEN KRISIS</p> <p>Managemen</p> <p>krisis adalah</p> <p>sebuah</p> <p>situasi</p> <p>kegawat</p> <p>daruratan</p> <p>pada</p> <p>klien</p> <p>penderita gangguan jiwa, rata - rata pasien yang masuk dalam kategori managemen krisis adalah pasien yang mengalami kondisi labil, terjadi pada pasien baru, pasien yang mengalami kekambuhan, pasien dengan regimen terapeutik tidak efektif, pasien amuk, pasien gaduh gelisah, pasien putus obat dan beberapa penyebab lain.</p> <p>a. Tanda dan Gejala:</p> <p>1) 2) 3) 4) 5)</p> <p>Pasien Mondar - mandir Tatapan mata tajam Pasien susah tidur Pasien menggangu pasien lain Pasien berteriak - teriak</p> <p>6) 7) 8) 9)</p> <p>Pasien memukul benda atau tempat tidur Pasien menimbulkan suasana gaduh Pasien menolak instruksi Pasien menyerang pasien lain, menyerang perawat atau tenaga kesehatan</p> <p>yang lain</p> <p>Sebenarnya ada begitu banyak gejala dari pasien krisis ini tetapi, beberapa hal diatas hanya sebagai representasi dari sebuah situasi krisis pada klien gangguan jiwa.</p> <p>b. Peran Perawat dalam situasi krisis 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Kolaborasi medis pemberian psikofarmaka Melakukan pemberian psikofarmaka sesuai order Melakukan restrain Managemen krisis Pertimbangan melakukan ECT Managemen lingkungan Beri instruksi pada pasien lain terkait kondisi pasien kritis Monitoring kondisi klien Beberapa pertimbangan dalam melakukan Managemen krisis Keselamatan pasien lain Keselamatan pasien sendiri Keselamatan pasien yang bersangkutan</p> <p>13)</p> <p>Keselamatan Lingkungan</p> <p>Managemen krisis dapat terjadi setiap saat dan setiap waktu, sehingga monitoring pada beberapa pasien - pasien tertentu layak menjadi sebuah pertimbangan, sebelum akhirnya timbul korban dari situasi labil pada klien tersebut. Metode pengobatan yang diterapkan di Rumah Sakit Jiwa ini terdiri dari dua macam pengobatan yaitu pengobatan secara medis dan non medis. Pengobatan secara medis dilakukan guna menjaga kesehatan para pasien secara fisik. Sedangkan pengobatan yang dilakukan dengan cara non-medis ini dilakukan dengan cara pengobatan terapi. Didalam terapi peranan perawat merupakan salah satu faktor penting didalam proses penyembuhan para pasiennya. Hal ini disebabkan oleh faktor komunikasi yang lebih dominan dilakukan oleh para perawat. Kegiatan pengobatan itu dimulai dengan interaksi kepada pasien untuk mencari bantuan psikologis dan perawat menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologis itu untuk membantu pasien dalam meningkatkan kemampuan meningkatkan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan, dan tindakannya. Pesan psikoterapi dari perawatlah yang membawa pengaruh positif berupa ketenangan (bersifat dukungan) untuk kesembuhan pasien gangguan jiwa. Hasil yang ditimbulkan akibat suatu proses yang telah dilakukan oleh perawat diharapkan menimbulkan suatu akibat, efek, atau hasil yang terjadi pada penerima sesuai dengan keinginan sumber atau tujuan dari komunikasi psikoterapi itu sendiri. Berdasarkan fenomena di atas yang membuat penulis tertarik dan sekaligus juga sebagai tujuan penelitian menggambarkan komunikasi psikoterapi yang dilakukan perawat dalam pengobatan pasien gangguan jiwa yang berada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam studi ini adalah dengan observasi dan wawancara mendalam (Indepth Interview) yang dipandu dengan pedoman wawancara.</p> <p>B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN MENTAL</p> <p>1. PENGKAJIAN a. Faktor Predisposisi Penyebab : Gangguan fungsi susunan saraf pusat Gangguan pengiriman nutrisi Gangguan peredaran darah</p> <p>1). Penuaan Kumulatif degeneratif jaringan otak Penuaan Racun dalam jaringan otak Kimia toksik/logam berat Respon kognitif maladaptif 2). Neurobiologi Penyakit Alzheimers Gangguan metabolik : Penyakit lever kronik, GGK Devisit vitamin</p> <p>Malnutrisi</p> <p> Anorexia nervosa Bulimia nervosa 3). Genetik : Penyakit otak degeneratif herediter ( Huntingtons Chorea)</p> <p>b. Stressor Presipitasi 1) Hipoksia : Anemia hipoksik Histotoksik hipoksia Hipoksemia hipopoksik Iskemia hipoksik Suplai darah ke otak menurun/berkurang 2) Gangguan metabolisme Malfungsi endokrin : Underproduct / Overproduct Hormon Hipotiroidisme Hipertiroidisme Hipoglikemia Hipopituitarisme</p> <p>3) Racun, Infeksi Gagal ginjal</p> <p>Syphilis Aids Dement Comp</p> <p>4) Perubahan Struktur</p> <p>Tumor Trauma</p> <p>5) Stimulasi Sensori Stimulasi sensori berkurang Stimulasi berlebih Lingkungan yang stimulusai berkurang / atau lebih Halusinasi Penerangan dan aktifitas di ICU yang konstan Bingung Delusi Halusinasi</p> <p>c. Perilaku Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir yang terganggu, ditandai dengan: Gangguan perhatian, memori, pikiran dan orientasi Demensia : Suatu keadaan respon kognitif maladaptif yang ditandai dengan hilangnya kemampuan intelektual/ kerusakan memori, penilaian, berpikir abstrak d. Mekanisme koping : Dipengaruhi pengalaman masa lalu Regresi</p> <p>Rasionalisasi Denial Intelektualisasi</p> <p>e. Sumber Koping : Pasien Keluarga Teman</p> <p>2. Diagnosa Keperawatan Menurut Nanda : </p> <p>Anxietas Komunikasi, kerusakan verbal Resiko tinggi terhadap cedera Sindrom defisit perawatan diri ( mandi,/kebersihan diri, makan, berpakaian, berhias, toilet ) Perubahan sensori/perseptual ( penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan) Gangguan pola tidur Perubahan proses pikir</p> <p>Contoh diagnosa lengkap dalam proses keperawatan : a). Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan otak ditandai dengan Interpretasi lingkungan yang tidak akurat Kurang memori saat ini Kerusakan kemampuan memberikan rasional Konfabulasi</p> <p>b). Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan : Ketakutan Disorientasi yang ditandai dengan perilaku agitasi</p> <p>c). Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan : Kerusakan kognitif Kehilangan memori saat ini Konfabulasi</p> <p>3. Perencanaaan : Identifikasi hasil : Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal Prioritas : Menjaga keselamatan hidup Pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial Libatkan keluarga Pendidikan kesehatan mental</p> <p>Usaha perawatan : Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemempuan pasien</p> <p>4. Implementasi : Intervensi Delirium : a. Kebutuhan Fisiologis Prioritas : menjaga keselamatan hidup</p> <p>Kebutuhan dasar dengan mengutamakan nutrisi dan cairan Jika pasien sangat gelisah perlu :</p> <p>Pengikatan untuk menjaga therapi, tapi sedapat mungkin harus dipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri a). Gangguan tidur : Kolaborasi pemberian obat tidur Gosok punggung Beri susu hangat Berbicara lembut Libatkan keluarga Temani menjelang tidur Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur Hindari tidur diluar jam tidur Mandi sore dengan air hanngat Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopi, dll Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam</p> <p>b). Disorientasi : </p> <p>Ruangan yang terang Buat jam, kalender dalam ruangan Lakukan kunjungan sesering mungkin Orientasikan pada situasi linkumngan Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar, tempat tidur, lemari, photo kleuarga, pakaian, sandal ,dll) Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa Ikutkan dalam tyherapi aktifitas kelompok dengan program orientasi realita (orang, tempat, waktu).</p> <p>b. Halusinasi 1) Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri 2) Ruangan : Hindari dari benda-benda berbahaya Barang-barang seminimal mungkin</p> <p>3) Perawatan 1 1 dengan pengawasan yang ketat 4) Orientasikan pada realita</p> <p>b. Dukungan dan peran serta keluarga Maksimalkan rasa aman Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten)</p> <p>c. Komunikasi Pesan jelas Sederhana Singkat dan beri pilihan terbatas</p> <p>d. Pendidikan kesehatan 1) Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaan sebelumnya 2) Seharusnya perawat harus harus tahu sebelumnya tentang : Masalah pasien Stressor Pengobatan Rencana perawatan Usaha pencegahan Rencana perawatan dirumah 3) Penjelasan diulang beberapa kali 4) Beri petunjuk lisan dan tertulis</p> <p>5) Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumah dengan</p> <p>baik sesuai rencana yang telah ditentukan 5. Intervensi pada Demensia a. Orientasi - Tujuan : Membentuk pasien berfungsi dilingkungannya - Tulis nama petugas pada kamar pasien jelas, besar, sehingga dapat dibaca pasien - Orientasikan pada situasi lingkungan - Perhatikan penerangan terutama dimalam hari - Kontak personal dan fisik sesring mungkin - Libatkan dalam kegiatan T.A.K - Tanamkan kesadaran : Mengapa pasien dirawat Memberikan percaya diri Berhubungan dengan orang lain Tanggap situasi lingkungan dengan menggunakan panca indera Inyteraksi personal</p> <p>- Identifikasi proses pulang b. Komunikasi - Membina hubungan saling pe...</p>