tugas dr

Download tugas dr

Post on 10-Jan-2016

22 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran UKRIDARumah Sakit Umum Daerah KojaPeriode 17 Agustus 2015 24 Oktober 2015Stephanie Yohanna Tania11.2013.315

1. Kebutuhan cairan pada anak & dewasa berdasarkan rumus Holliday Segar : - 10kg pertama : 100cc/kgBB/hr- 10kg kedua: 50 cc/kgBB/hr- 10kg ketiga: 20cc/kgBB/hr

2. Perdarahan adalah kehilangan volume darah sirkulasi secara akut. Klasifikasi perdarahan (kehilangan darah) menjadi empat kelas berdasarkan tanda-tanda klini, merupakan peranan penting untuk memperkirakan presentase hilangnya darah secara akut. Beberapa fakor dapat mempengaruhi respon hemodinamik klasik terhadap kehilangan volume darah sirkulasi akut yakni umur pasien, parahnya cidera (difokuskan pada tipe & lokasi anatomi cedera), rentang waktu antara cidera dan penanganannya, pemberian cairan pra-rumah sakit & pemakaian PSAG, pemakaian obat-obat sebelumnya untuk kondisi kronis.KeteranganKelas IKelas IIkelas IIIKelas IV

Blood loss (ml)Up to 750750-15001500-2000>2000

Blood loss (%blod volume)Up to 15%15%-30%30%-40%>40%

Pulse rate140

Pulse pressure (mmHg)NormalNormalDecreased>35

Respiratory rateU-2020-3030-40>35

Urine output (mL/hr)>3020-305 -- 15Negligble

CNS / mental statusSlightly anxiousMildly anxiousAnxious, confusedConfused, lethargic

Fluid replacementCrystalloidCrystalloidCrystalloid & bloodCrystalloid & blood

TatalaksanaTerapi cairan awalLarutan elektrolit isotonik hangat seperti Ringer Laktat atau normal saline dapat digunakan sebagai resusitasi awal. Cairan ini dapat mengisi volume intravaskuler dalam waktu singkat dan menstabilkan volume vaskuler dengan cara menggantikan kehilangan cairan penyerta yang hilang dalam ruang interstitial dan intraseluler. Pada tahap awal, bolus cairan hangat diberikan secepatnya dengan dosis umum 1-2 liter untuk dewasa dan 20ml/kg untuk anak. Respon pasien diobservasi selama pemberian cairan awal untuk menentukan diagnosa selanjutnya dari respon tersebut.

Perhitungan kasar menentukan jumlah cairan kristaloid yang dibutuhkan secara cepat yakni dengan mengganti 1ml darah yang hilang dengan 3 ml kristaloid sehingga memungkinkan resusitasi volume plasma yang hilang dalam ruang interstitial dan intraseluler. Hal tersebut dikenal dengan hukum 3 untuk 1 (3 for 1 rule).

3. SyokDefinisi : Sindroma klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik yang ditandai dengan kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yanga dekuat organ-organ vital tubuh.

Macam-macam syok Syok HipovolemikDEFINISISyok hipovolemik disebut juga syok preload yang ditandai dengan menurunnya volume intravaskuler oleh karena perdarahan (aorta pecah, perdarahan gastrointestinal, hematoma), kehilangan plasma (luka bakar), dan kehilangan cairan dan elektrolit (muntah, diare, keringat yang berlebih, asites, obstruksi usus). Menurunnya volume intravaskuler menyebabkan penurunan volume intraventrikel kiri pada akhir diastol yang menyebabkan menurunnya curah jantung (cardiac output).

PATOFISIOLOGIBerdasarkan patofisiologi, tahapan syok melalui tiga tahapan :1. Tahap kompensasi Tahap awal syok saat tubuh masih mampu menjaga fungsi normalnya. Penurunan curah jantung (cardiac output) terjadi sedemikian rupa sehingga timbul gangguan perfusi jaringan tapi belum cukup untuk menimbulkan gangguan seluler. Mekanisme kompensasi dilakukan melalui vasokonstriksi untuk menaikkan aliran darah ke jantung, otak dan otot skelet dan penurunan aliran darah ke tempat yang kurang vital. Faktorhumoral dilepaskan untuk menimbulkan vasokonstriksi dan menaikkan volume darah dengan konservasi air. Ventilasi meningkat untuk mengatasi adanya penurunan kadar oksigen di daerah arteri. Pada fase kompensasi ini terjadi peningkatan frekuensi dan kontraktilitas otot jantung untuk menaikkan curah jantung dan peningkatan respirasi untuk memperbaiki ventilasi alveolar. Manifestasi klinis yang tampak berupa takikardia, gaduh gelisah, kulit pucat dan dingin dengan pengisian kapiler (capillary refilling) melambat > 2 detik. 2. Fase ProgresifTerjadi jika tekanan darah arteri tidak lagi mampu mengkompensasi kebutuhan tubuh. Faktor utama yang berperan adalah jantung. Curah jantung tidak lagi mencukupi sehingga terjadi gangguan seluler di seluruh tubuh. Pada saat tekanan darah arteri menurun, aliran darah menurun, hipoksia jaringan bertambah nyata, gangguan seluler, metabolisme, produk metabolisme menumpuk, dan akhirnya terjadi kematian sel. Dinding pembuluh darah menjadi lemah, tak mampu berkonstriksi sehingga terjadibendungan vena, venous return menurun. Relaksasi sfinkter prekapiler diikuti dengan aliran darah ke jaringan tetapi tidak dapat kembali ke jantung. Peristiwa ini dapat menyebabkan trombosis luas (DIC = Disseminated Intravascular Coagulation). Menurunnya aliran darah ke otak menyebabkan kerusakan pusat vasomotor dan respirasi di otak. Keadaan ini menambah hipoksia jaringan.Hipoksia dan anoksia menyebabkan terlepasnya toksin dan bahan lainnya dari jaringan (histamin dan bridikinin) yang ikut memperburuk syok (vasodilatasi dan memperlemah fungsi jantung). Iskemia dan anoksia usus menimbulkan penurunan integritas mukosa usus pelepasan toksin dan invasi bakteri usus ke sirkulasi. Invasi bakteri dan penurunan fungsi detoksifikasi hepar memperburuk keadaan. Timbul sepsis, DIC bertambah nyata, integritas system retikuloendotelial rusak, integritas mikrosirkulasi juga rusak. Hipoksia jaringan menyebabkan perubahan metabolisme aerobik menjadi metabolisme anaerobik. Akibat perubahan metabolisme tersebut, timbul asidosis metabolik, asam laktat ekstraseluler meningkat dan penumpukan asam karbonat di jaringan. Manifestasi klinis yang dijumpai berupa takikardia yang bertambah, tekanan darah mulai turun, perfusi perifer memburuk (kulit dingin dan mottled, capillary refilling bertambah lama), oliguria dan asidosis (laju nafas bertambah cepat dan dalam) dengan depresi susunan syaraf pusat (penurunan kesadaran).

3. TahapIrrevesibel atau refrakter Ditandai dengan kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki. Pada tahap ini ditandai dengan kegagalan sistem kardiorespirasi yakni jantung tidak mampu lagi memompa darah yang cukup, paru menjadi kaku, timbul edema interstisial, daya respirasi menurun, dan akhirnya anoksia dan hiperkapnea. Manifestasi klinis berupa tekanan darah tidak terukur, nadi tak teraba, penurunan kesadaran semakin dalam (sopor-koma), anuria dan tanda-tanda kegagalan system organ lain.

TatalaksanaPenatalaksanaan syok hipovolemik terdiri dari penanganan primer, sekunder dan tersier. Pada penanganan primer terdiri dari airway, breathing, circulation, disability, dan exposure. Pada penangnaan sekunder meliputi pengkajian fisik dan penangan tersier terdiri dari pemberian resusitasi cairan.A. Penanganan primerPada penanganan primer memeriksa dan melakukan pencatatan tanda-tanda vital, produksi urin dan tingkat kesadaran untuk memantau respon penderita terhadap terapi.

Airway (Jalan Nafas) :Tiga hal utama dalam tahapan airway adalah :1. Look Melihat ada tidaknya obstruksi jalan napas seperti agitasi (hipoksemia), penurunan kesadaran (hipercarbia), pergerakan dada dan perut pada saat bernapas (see saw-rocking respiration), kebiruan pada area kulit perifer pada kuku dan bibir (sianosis), adanya sumbatan di hidung, posisi leher, keadaan mulut untuk melihat ada tidaknya darah. 2. Listen Mendenngarkan ada atau tidaknya suara napas tambahan obstuksi parsial dan obstruksi total serta henti nafas. Contoh suara nafas tambahan obstruksi parsial adalah snoring, gurgling, crowing/stridor, dan suara parau (laring) dan yang kedua yaitu suara napas hilang berupa obstruksi total dan henti napas. 3. FeelMerasakan aliran udara yang keluar dari lubang hidung pasien.

Breathing (pernafasan)Tiga hal utama dalam tahapan breathing :1. Look (Melihat)Melihat apakah pasien bernapas atau tidak, pengembangan dada saat bernafas kuat atau tidak, keteraturannya, dan frekuensinya.2. Listen (Mendengar)Mendengarkan ada atau tidaknya suara vesikuler, suara nafas tambahan (rhonki / wheezing)

3.FeelMerasakan pengembangan dada saat bernapas, perkusi, dan pengkajian suara paru dan jantung dengan menggunakan stetoskop.Pemeriksaan airway dan breathing bertujuan agar pertukaran ventilasi dan oksigenasi tidak terganggu dengan cara pemberian oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi >95%.

Circulation Tiga hal utama dalam tahapan circulation :1. Look Mengamati ada tidaknya sianosis pada ekstremitas, keringat dingin pada tubuh pasien, menghitung capillary refill time, timbul akral dingin atau tidak.2. FeelMerasakan adanya kekuatan nadi (nadi radialis, brakhialis, dan carotis)3. ListenMelalukan pemeriksaan tekanan darah

Disability (pemeriksaan neurologi)Pada pemeriksaan neurologi berdasarkan GCS (Glasgow Coma Scale). Pemeriksaan mengamati kedaan pupil dengan menggunakan penlight (isokor atau tidak), tingkat kesadaran, pergerakan mata dan respon pupil, fungsi motorik dan sensorik.

Exposure (pemeriksaan lengkap)Pemeriksaan dilakukan dengan cara membuka seluruh pakaian pasien dan melakukan pemeriksaan dari ubun-ubun sampai jari kaki untuk mencari ada atau tidak anggota tubuh yang cedera.

Dilatasi lambung (dekompresi)Dekompresi sering terjadi pada penderita trauma, terutama anak-anak dan dapat mengakibatkan hipotensi atau disritmia jantung berupa bradikardi dari stimulasi nervus vagus yang berlebihan. Dekompresi lambung dilakukan dengan memasukan selang atau pipa kedalam perut melalui hidung atau mulut dan memasangnya pada penyedot untuk mengeluarkan isi lambung.

Pemasangan kateter urinBertujuan untuk memudahkan penilaian urin akan ada atau tidak hematuria dan mengevaluasi perfusi ginjal dengan pemantauan urin yang keluar.

B. Penanganan sekunderPenanganan sekunder dengan cara memasan