tht paper (ca nasofaring) agung

Download THT Paper (CA Nasofaring) Agung

Post on 02-Jan-2016

38 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

HISTOPATOLOGI

KARSINOMA NASOFARING

PENDAHULUAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Angka kejadiannya lebih dari separuh kejadian semua karsinoma di daerah kepala dan leher. Indisen yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan Virus Epstein-Barr.(1,2)

Kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal ( 18 % ), laring ( 16 % ) dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam presentase rendah. Berdasarkan data laboratorium patologi anatomi tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit.(1)

Diagnosis menentukan prognosis penderita namun cukup sulit dilakukan karena nasofaring tersembunyi di belakang tabir langit-langit terletak dibawah dasar tengkorak serta berhubungan dengan banyak daerah penting di dalam tengkorak dan ke lateral maupun ke posterior leher.(3)

Oleh karena letak nasofaring tidak mudah di periksa oleh mereka yang bukan ahli, seringkali tumor ditemukan terlambat dan telah bermetastasis ke leher.(3,4,7,8)

ANATOMI NASOFARING

Gambar Anatomi Nasofaring

Nasofaring berhubungan erat dengan sinus sphenoid, fossa nasalis, foramen pada dasar tengkorak. Tuba eustachius membuka ke dalam dinding lateral nasofaring. Di antara tulang rawan, mulai dari bagian pertengahan tuba eustachius sampai akhir dinding belakang adalah fossa Rossen-Muller. Histologi epitel nasofaring pada orang dewasa memiliki peranan yang sangat penting dalam penelitian. Teori menunjukkan bahwa karsinoma ini dapat berkembang dalam epitel yang mengalami metaplasia skuamosa. Tidak diketahui mengapa metaplasia ini lebih banyak pada masyarakat kanton dari pada orang kulit putih.(1,2,3,4)FISIOLOGI NASOFARING

Fungsi utama nasofaring adalah sebagai lubang tabung kaku dan terbuka untuk udara pernafasan. Pada waktu menelan, muntah, bersendawa dan tercekik nasofaring akan terpisah dengan sempurna dari orofaring karena palatum molle terangkat sampai ke dinding posterior orofaring. Nasofaring juga merupakan saluran ventilasi dari telinga tengah melalui tuba eusthacius, juga sebagai ruang resonansi dalam pembentukkan suara.

DEFINISI

Menurut Bahasa

Karsinoma berasal dari bahasa yunani : karkinoma dari karkinos yang berarti kepiting atau kanker. Sehingga karsinoma dapat diartikan sebagai pertumbuhan ganas yang baru terdiri dari sel sel epithelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastase.Menurut istilah

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan di belakang hidung (nasofaring) dengan predileksi di fossa Russenmuller dan atap nasofaring

EPIDEMIOLOGI

Karsinoma nasofaring menjadi penyebab kematian utama pada sebagian besar populasi di Asia Tenggara, di Cina Selatan, karsinoma nasofaring merupakan tumor terbanyak pada laki-laki, dengan insiden rata-rata sekitar 40/100.000, insiden terbanyak ditemukan di daerah Cina, khususnya di propinsi Kwangtung Republic Rakyat Cina.(4,10)

Pada ras mongoloid kanker nasofaring insidennya cukup tinggi, sehingga tidaklah mengherankan pada penduduk Cina Bagian Selatan, kemudian Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak ditemukan kasus ini.(1,4)

Selain itu cukup banyak kasus karsinoma nasofaring di Yunani, Afrika Bagian Utara seperti Aljazair, Tunisia, pada orang Eksimo, Alaska dan Greenland, penyebabnya diduga adalah karena memakan makanan yang diawetkan pada musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin.(1)

Di Indonesia frekuensi penderita ini hampir merata di setiap daerah, seperti Jakarta, Ujung pandang, Palembang, Denpasar, Padang, Bukit Tinggi, Medan, semarang, Surabaya dan lain-lain.(1,8,9)ETIOLOGI

Etiologi karsinoma nasofaring ini masih belum diketahui secara pasti. Secara umum, karsinoma nasofaring terjadi sebagai akibat pengaruh genetik dan lingkungan, seperti zat karsinogen dan infeksi virus Epstein-Barr ( EBV ).(4) Hal ini didukung oleh adanya faktor genetik yang berhubungan dengan karsinoma nasofaring, yaitu HLA-A2 dan HLA-Bsin2 ( paling banyak ditemukan pada orang daerah Cina Selatan tetapi jarang di dapatkan pada ras kaukasoid ). Selain itu telah berhasil diidentifikasi abnormalitas pada berbagai kromosom, termasuk didalamnya kromosom 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 22 dan X.(4)

Faktor lingkungan dan kultur yang berhubungan dengan karsinoma nasofaring termasuk didalamnya adalah kebiasaan dari orang kanton yang memakan ikan yang diasinkan dan mengawetkan makanan dengan bahan pengawet nitrosamin ( hal ini telah di konsumsi sejak masa kanak-kanak ). Bukti ditemukannya DNA-EBV pada hampir setiap kasus karsinoma nasofaring menjadikan pengangan bagi para ahli untuk membuat kesimpulan bahwa keganasan yang terjadi adalah akibat ekspansi pembelahan pada sel yang diakibatkan EBV. Hal ini memberikan indikasi bahwa EBV muncul dalam sel pada saat terjadinya transformasi sel menjadi ganas dan menunjukkan peranan virus tersebut terhadap perkembangan awal terjadinya proses keganasan pada nasofaring.(4,7)GEJALA DAN TANDA-TANDA

Gejala yang timbul oleh tumor nasofaring beraneka ragam, tidak ada gejala pasti yang khusus untuk tumor nasofaring karena tumor primer itu sendiri dalam nasofaring kadang tidak menimbulkan gejala. Tumor nesofaring dapat, menimbulkan gejala-gejala hingga penderita datang berobat keberbagai ahli.(4)

Tumor ini baru menimbulkan gejala bila sudah ada penyebaran.

1. Gejala nasofaring ( tumor primer )

Asimptomatik.

Hidung tumpat

Epistaksis ringan

Untuk itu nasofaring harus diperiksa dengan cermat, kalau perlu dengan nasofaringoskop. Karena sering gejala belum ada sedangkan tumor sudah bertumbuh atau tumor tidak nampak karena masih terdapat dibawah mukosa ( creeping tumor ).(2,3,4)2. Gangguan pada telinga/pendengaran.

Merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba eustachius ( fossa Rossen-Muller ) hingga tuba tertutup. Gangguan dapat berupa :

Tinnitus

Tuli (deafness ) akibat timbulnya otitis media serosa

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri ( otalgia ).

Tidak jarang penderita dengan gangguan pendengaran ini baru kemudian disadari bahwa penyebabnya adalah karsinoma nasofaring.(2,4,10)

3. Gejala mata dan syaraf

Infiltrasi dasar tengkorak

Merupakan gejala karsinoma. Penjelasan melalui fenomena laserum akan mengenai syaraf otak N. III, N VI dapat pula ke N. V dapat menimbulkan gejala :

Diplopia

Juling

Neuralgia terminal.(2,4)

Gambaran Ca Nasofaring

Penderita datang dengan keluhan juling bila melirik kekanan bengkak leher sebelah kanan sejak dua bulan, tidak nyeri. Tidak ada keluhan lain. Pada pemeriksaan terdapat massa kalenjer limfe-3 dan paralysis N. VI kanan. Biopsi nasofaring memastikan diagnosis karsinoma dengan penyebaran kalenjer limfe ( N3 ) dan penyusupan ke dasar tengkorak ( petrosfenoidal ).(2,4,10)a. Pada pandangan lurus kedepan tampak normal

b. Penderta melirik kekanan, mata kanan tidak bergerak ke kanan

c. Penderita melirik kekiri, tidak ada gangguan gerakan bola mata.(2) Infiltrasi para faring

Yaitu tengkorak lateral dan belakang tumor masuk menjalar, sepanjang dasar tengkorak dapat merusak syaraf-syaraf yang melalui foramen jugularis yaitu N. IX, X, XI dan XII sehingga menimbulkan paralise matorik atau sensorik pada faring dan laring.(2) Pembengkakkan leher

Tiga dari empat penderita tumor nasofaring mengalami pembengkakkan pada leher, ini merupakan gejala utama hampir 50 % penderita. Oleh tumor dalam nasofaring tidak menimbulkan gejala, satu-satunya keluhan penderita ialah pembengkakkan pada leher. Menghadapi penderita demikian maka nasofaring penderita harus diperiksa. Sebelum dilakukan biopsi kalenjar leher yang membesar pada daerah nasofaring yang mencurigakan harus dilakukan biopsi lebih dahulu.(2)HISTOPATOLOGI

Telah disetujui oleh WHO bahwa hanya 3 bentuk karsinoma ( epidermoid ) pada nasofering, yaitu :

1. Karsinoma sel skuamosa Berkeratinisasi

2. Karsinoma tidak berkeratinisasi

3. Karsinoma tidak berderiferenisasi

Semua yang kita kenal selama ini dengan limf epiteloma, sel transisionil, sel spindle, sel clear, anaplstik dan lain-lain dimasukkan dalam kelompok tidak berdiferenisasi.(4)STADIUM

Untuk penentuan stadium dipakai system TNM menurut UICC (1992) : (2,3,4) T= Tumor primer

T0= Tidak tampak tumor

T1= Tumor terbatas pada satu lokalisasi ( lateral / postero superior atap dan lain-lain )

T2= Tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas didalam rongga nasofaring

T3= Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring dan sebagainya )

T4= Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau mengenai syaraf-syaraf otak TX= Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak jelas

N= Pembesaran kalenjer getah bening

N0= Tidak ada pembesaran

N1= Terdapat pembesaran tetapi homolateral dan masih dapat di gerakkan

N2= Terdapat pembesaran kontra/bilateral dan masih dapat digerakkan

N3= Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontra lateral, maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitarnya M= Metastasis jauh

M1= Tidak ada metastasis jauh

M2= Terdapat metastasis jauh

StadiumTNasofaringM

IT1N0M0

IIT2N0M0

IIIT1/T2/T3N1M0

T3N0M0

IVT4N0/N1M0

T1/T2/T3/T4N2/N3M0

T1/T2/T3/T4N0/N1/N2/N3M1

DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan :

1. Anamnesa

2. Pemeriksaan fisik