terapi tambahan untuk schizophrenia dangangguan bipolar

Download Terapi Tambahan Untuk Schizophrenia Dangangguan Bipolar

Post on 01-Dec-2015

77 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Terapi Ajuvan untuk Skizofrenia Dan Gangguan Bipolar: Apa yang akan Dicoba saat Anda Sudah Tidak Punya Ide Lagi

AbstrakTerapi farmakologis skizofrenia dan gangguan bipolar masih meninggalkan banyak hal yang menarik perhatian. Repurposed drugs merupakan obat-obatan yang sudah disetujui penggunaannya dalam kondisi medis selain skizofrenia dan gangguan bipolar namun dapat digunakan sebagai sumber-sumber terapetik yang jarang digunakan untuk pasien yang tidak respon pada obat-obat lainnya. Berdasarkan hasil yang didapat dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Stanley Medical Research and Institute (SMRI) selama satu dekade terakhir dan dari tinjauan literatur lainnya, kami telah mengidentifikasi sembilan jenis obat yang terbukti memiliki efikasi dalam pengobatan skizofrenia dan/ atau gangguan bipolar. Obat-obat tersebut yakni: aspirin, celecoxib, estrogen/raloxifene, folate, minocycline, mirtazapine, asam lemak omega 3, pramipexole, dan pregnenolone. Bukti atas efikasi obat-obat tersebut akan dibahas satu per satu. Karena keterbatasan finansial pada perusahaan farmasi untuk melakukan promosi obat-obat tersebut maka terdapat kekurangan untuk melakukan percobaan definitif terhadap obat-obat tersebut sehingga obat-obatan tersebut tidak diketahui sebagaimana mestinya. Selain itu, seharusnya studi biomarker juga dilakukan untuk mengidentifikasi subgrup terhadap pasien-pasien yang menunjukkan respon terhadap obat-obat tersebut.

Kata kunci :Aspirin, Celecoxib, Estrogen, Folate, Minocycline, Mirtazapine, Asam Lemak Omega 3, Pramipexole, Pregnenolone

PendahuluanTerapi farmakologis pada penyakit psikiatrik yang serius belum memberikan hasil yang memuaskan pada banyak pasien. Gejala psikotik, seringkali hanya terselesaikan sebagian saja (1,2), sedang gejala kognitif dan negatif pada pasien skizofrenia (3), serta gejala depresif gangguan bipolar (4) sudah terbukti refrakter pada terapi yang ada saat ini. Ketika dikonfrontasi terhadap adanya hasil terapi yang buruk maka kebanyakan klinisi akan mencoba menggunakan clozapine atau menambahkan antipsikotik lain ataupun menggunakan mood stabilizer. Terapi farmakologis tersebut hasilnya sering tidak memuaskan sehingga para klinisi menjadi penasaran dengan obat apa yang bisa menjadi ajuvan untuk skizofrenia dan gangguan bipolar.Pada dekade yang lalu, Stanley Medical Research Institute ( SMRI), telah memberikan dukungan pada penelitian-penelitian yang menggunakan repurposed drugs untuk terapi penderita skizofrenia dan gangguan bipolar. Repurposed drugs merupakan obat-obatan yang telah digunakan dalam terapi penyakit tertentu namun juga memiliki kegunaan dalam terapi skizofrenia dan gangguan bipolar. Meski demikian, repurposed drugs biasanya sudah off-labelI dalam terapi psikiatrik, atau tersedia sebagai obat generik ataupun tersedia over-the-counter. Hal itu membuat perusahaan farmasi menjadi kekurangan dana untuk mendukung penelitian-penelitian mengenai obat-obatan tersebut. Tentunya kita masih ingat chlorpromazine yang diteliti sebagai repurposed drug, awalnya merupakan obat yang biasa digunakan sebagai zat sedatif atau anestesi.SMRI mendukung setidaknya 200 studi tentang repurposed drugs. Daftar semua studi tersebut tersedia pada situs www.stanleyresearch.org, yang merupakan daftar dari Awarded Treatment Trials. Berdasarkan penelitian-penelitian dalam daftar tersebut dan tinjauaan dari literatur yang ada, SMRI berhasil mengidentifikasi 9 obat yang menunjukkan efek yang menjanjikan sebagai terapi tambahan bagi penderita skizofrenia dan/atau gangguan bipolar. Kesembilan agen tersebut dirangkum dalam tabel 1. Telah diketahui bahwa banyak obat yang saat ini digunakan dalam terapi untuk berbagai penyakit diajukan sebagai repurposed drug, termasuk di dalamnya adalah obat-obat antidepresan, benzodiazepine, asam amino dan beberapa jenis obat-obatan herbal. Tulisan ini tidaklah bertujuan untuk menyertakan terapi medikasi lainnya melainkan hanya fokus pada senyawa-senyawa tertentu yang telah digunakan secara langsung. Pada tabel tersebut kesembilan agen repurposed drug disusun secara alfabetik. SMRI telah mendukung banyak dari penelitian awal tentang obat-obat tersebut dan masih membantu penelitian tambahan lain yang saat ini sedang berlangsung.Tak ada satupun dari obat-obat di atas yang terbukti secara meyakinkan sebagai terapi tambahan. Namun, terdapat beberapa pendapat yang muncul bahwa obat tersebut mungkin bisa digunakan sebagai terapi tambahan. Pendapat tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika klinisi menghadapi kasus yang resisten terhadap terapi baku saat ini. Selain itu, penggunaan kombinasi dari beberapa obat-obat di atas dapat berguna pada beberapa kasus seperti pasien dengan hipertensi atau dengan AIDS. Utamanya, ketika kombinasi tersebut terdiri dari beberapa obat yang memiliki mekanisme kerja obat yang berbeda. Kebanyakan dari repurposed drugs dianggap bekerja melalui mekanisme kerja obat yang berbeda dengan antipsikotik baku saat ini ataupun dengan mood stabilizer. Sehingga, agen-agen tersebut bisa saja dipandang sebagai kelas baru dari terapi medikamentosa bagi penderita skizofrenia atau gangguan bipolar.Aspirin (Acethylsalicylic Acid)Latar belakangPengobatan tradisional yang menggunakan bahan-bahan yang mengandung asam salisilat telah digunakan berabad-abad untuk mengobati nyeri dan demam. Asam salisilat disintesa pertamakali di Eropa pada pertengahan abad ke-19. Paten nama dagang aspirin dimiliki oleh Bayer dan berakhir pada 1917 di USA. Berakhirnya hak paten tersebut membuat asam salisilat kemudian dapat digunakan secara luas hingga saat ini.Mekanisme kerja obatAspirin merupakan golongan OAINS. Cara kerjanya dipercaya melalui efek hambatnya terhadap cyclooxygenase (COX), yakni enzim yang dibutuhkan untuk mensintesa prostaglandin dan thromboxane. Aspirin dipercaya menghambat COX-1 maupun COX-2 sama baiknya. Kerja aspirin itu akan menghambat transmisi nyeri dan juga agregasi platelet. Itulah sebanya aspirin dapat digunakan dalam profilaksis penderita dengan riwayat serangan jantung. Selain itu, prostaglandin juga memiliki peran penting dengan reseptor asam N-methyl-D-aspartate (NMDA). Peran tersebut untuk memfasilitasi transmisi glutamate. Selain itu, aspirin juga dianggap memiliki efek neuroprotektan, efek terhadap fosfolipid membran sel, serta efeknya terhadap sitokin proinflamasi seperti interleukin dan TNF-.Repurposed Drug untuk skizofrenia dan/atau Gangguan Bipolar

AspirinDapat bermanfaat untuk pasien dengan peningkatan kadar CRP ataupun marker inflamasi lainnya

CelecoxibDapat bermanfaat untuk kasus skizofrenia pada pasien dengan relatively recent onset. Namun keuntungan yang didapat dari penggunaannya harus mempertimbangkan efek samping yang bisa terjadi

Estrogen dan RaloxifeneStudi pada pasien skizofrenia menunjukkan kemungkinan adanya perbaikan pada gejala positif. Resiko dari efek samping harus dipertimbangkan dalam penggunaan obat ini

FolateStudi pada pasien skizofrenia dengan kadar folat yang rendah menunjukkan adanya manfaat dari obat ini. Utamanya, pada gejala depresif

MinocyclineDapat bermanfaat pada skizofrenia jenis relative recent onset, utamanya pada gejala negatif. Obat ini tidak dianjurkan penggunannya pada wanita hamil ataupun pada anak-anak.

MirtazapineDapat bermanfaat pada skizofrenia dengan gejala negatif atau pada kasus akathisia.

Asam lemak omega-3Memiliki beberapa bukti tentang efikasinya terhadap pasien skizofrenia dan gangguan bipolar, utamanya jika yang digunakan adalah agen asam lemak omega 3 dengan kandungan EPA > 50%. Efek perbaikannya pada individu premorbid harus mempertimbangkan adanya efek samping obat

PramipexoleDapat bermanfaat pada depresi bipolar. Penggunannya pada pasien skizofrenia masih belum jelas karena adanya gejala eksaserbasi bisa menyertai

PregnenoloneDapat bermanfaat pada pasien skizofrenia atau depresi bipolar.

Penggunaannya pada skizofreniaC-reactive Protein (CRP) merupakan enzimyang berfungsi sebagai biomarker terjadinya inflamasi kronis. Setidaknya ada tiga studi yang menu njukkan bahwa CRP akan meningkat pada pasien skizofrenia. Hal itu menimbulkan anggapan bahwa inflamasi merupakan bagian penting dari patofisiologi dari skizofrenia. Gen yang berhubungan dengan inflamasi juga disandikan pada jaringan otak pasien skizofrenia. Selain itu, sejumlah agen antipsikotik juga menunjukkan efek terhadap kadar CRP. Pada sebuah studi terbaru, 70 pasien dengan diagnosa skizofrenia diberi perlakuan acak untuk mendapat 1000 mg aspirin /hari atau plasebo, sebagai terapi tambahan selama 3 bulan terhadap terapi reguler yang sudah mereka terima. Semua pasien telah mengalami skizofrenia setidaknya selama 10 tahun. Hasilnya, pada mereka yang mendapat aspirin, mengalami penurunan signifikan pada skor positif PANSS dan penurunan nonsignifikan pada gejala negatif. Sedang, gejala kognitif tidak mengalami perbaikan. Pasien-pasien yang menunjukkan respon terbaik adalah mereka yang memiliki kadar tertinggi pada beberapa jenis biomarker inflamasi. Untuk meminimalkan efek aspirin pada lambung maka pasien juga diberi agen proton-pump inhibitor. Penggunaannya pada gangguan bipolarPada sebuah studi dengan melibatkan 122 pasien dengan gangguan bipolar, dilaporkan bahwa CRP mengalami peningkatan pada pasien-pasien tersebut. Sedang, studi lainnya menunjukkan adanya hubungan antara gangguan bipolar dengan inflamasi melalui ekspresi gen ataupun melalui perubahan kadar sitokin. Sebuah studi dengan menggunakan hewan uji tikus menunjukkan efektivitas dari lithium yang dianggap terjadi akibat efek antiinflamasi lithium. Meski demikian hingga saat ini, belum ada studi yang meneliti penggunaan aspirin pada gangguan bipolar. PenilaianAspirin merupakan obat yang relatif aman kecuali pada mereka dengan tukak lambung atau masalah perdarahan. Aspirin memang seharusnya tidak digunakan tanpa otorisasi medis pada pasien-pasien yang menggu