Telaah Jurnal Medscape (1)

Download Telaah Jurnal Medscape (1)

Post on 24-Nov-2015

39 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>BAB IPENDAHULUAN</p> <p>1.1. Latar BelakangKajian kritis terhadap bukti sangat penting dilakukan untuk mengetahui isi setiap makalah atau jurnal. Dalam epidemiologi klinik, kemampuan mengkaji suatu penelitian sangat diperlukan karena ketidakmampuan dalam hal tersebut dapat menyebabkan salah persepsi terhadap hasil suatu penelitian. Telaah kritis jurnal merupakan hal yang sangat diperlukan sebelum informasi yang kita peroleh dari jurnal tersebut dapat kita terapkan karena tidak semua jurnal/makalah valid dapat diterima sebagai tambahan ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan kedokteran, membaca jurnal ilmiah adalah suatu metode yang sangat efektif untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Tujuan akhir membaca jurnal ilmiah bagi seorang dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan adalah untuk menerapkan hasil penelitian kepada pasiennya. Hal ini merupakan suatu pendekatan yang disebut evidence based medicine.Agar dalam membaca jurnal ilmiah, dokter sebagai klinikus dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, setiap dokter harus membekali diri dengan pemahaman yang memadai tentang metodologi penelitian. Jika seorang dokter membaca laporan ilmiah tanpa melakukan telaah kritis, berarti ia tidak mengetahui kelemahan penelitian. Dengan konsekuensi, ia mengadopsi kesimpulan penelitian yang salah tersebut. Dapat kita bayangkan bila dokter kemudian menerapkan pengetahuan yang keliru.Dalam rangka mengaplikasikan cara menelaah jurnal ilmiah, kami memilih artikel jurnal dengan judulIs The Beck Anxiety Inventory a Good Tool to Assess the Severity of Anxiety? Kami menelaah artikel tersebut dari sudut pandang evidence based medicine sebelum diterima sebagai tambahan ilmu pengetahuan.</p> <p>1.2. Rumusan MasalahApakah artikel jurnal berjudul Is The Beck Anxiety Inventory a Good Tool to Assess the Severity of Anxiety? telah memenuhi kriteria sebagai sumber yang valid, penting dan dapat diaplikasikan pada pasien menurut telaah klinis evidence based medicine? 1.3. TujuanMenentukan apakah artikel jurnal berjudul Is The Beck Anxiety Inventory a Good Tool to Assess the Severity of Anxiety? telah memenuhi kriteria sebagai sumber yang valid, penting dan dapat diaplikasikan pada pasien menurut pedoman telaah kritis evidence based medicine.</p> <p>1.4. ManfaatDengan telaah kritis, untuk menentukan validitas artikel jurnal yang berjudul Is The Beck Anxiety Inventory a Good Tool to Assess the Severity of Anxiety?, maka dapat diputuskan layak atau tidaknya informasi yang terdapat dalam jurnal tersebut untuk digunakan dalam kegiatan ilmiah atau untuk kepentingan klinis</p> <p>.</p> <p>BAB IIRESUME JURNAL</p> <p>2.1.Judul Is The Beck Anxiety Inventory a Good Tool to Assess the Severity of Anxiety? (Apakah Beck Anxiety Inventory merupakan Suatu Alat yang Baik untuk Menilai Keparahan Kecemasan?)</p> <p>2.2.Peneliti 1. Anna DT Muntingh, Netherlands Institute of Mental Health and Addiction (Trimbos Institute), Utrecht, Belanda, EMGO Institute for Health and Care Research (EMGO+), Amsterdam, Belanda,Department of General Practice, VU University Medical Centre, Amsterdam, Belanda, Department of Developmental, Clinical and Cross-cultural Psychology, Tilburg University, Tilburg, Belanda.2. Christina M van der Feltz-Cornelis, Netherlands Institute of Mental Health and Addiction (Trimbos Institute), Utrecht, Belanda, The Netherlands, Department of Developmental, Clinical and Cross-cultural Psychology, Tilburg University, Tilburg, Belanda, Academic Psychiatry Department GGZ Breburg, Tilburg, Belanda.3. Harm WJ van Marwijk, EMGO Institute for Health and Care Research (EMGO+), Amsterdam, Belanda,Department of General Practice, VU University Medical Centre, Amsterdam, Belanda.4. Philip Spinhoven, Institute of Psychology, Leiden University, Leiden, Belanda, Department of Psychiatry, Leiden University Medical Centre, Leiden, Belanda. 5. Brenda WJH Penninx, EMGO Institute for Health and Care Research (EMGO+), Amsterdam, Belanda,Department of Psychiatry, Leiden University Medical Centre, Leiden, Belanda, Department of Psychiatry, VU University Medical Centre, Amsterdam, Belanda, Department of Psychiatry, University Medical Centre Groningen, Groningen, Belanda.6. Anton JLM van Balkom, EMGO Institute for Health and Care Research (EMGO+), Amsterdam, Belanda, Department of Psychiatry, VU University Medical Centre, Amsterdam, Belanda.</p> <p>2.3.Tempat dan Waktu PenelitianTempat : Amsterdam, Groningen, dan Leiden, Belanda.Waktu : September 2004 sampai Februari 2007.</p> <p>2.4.PendahuluanDalam pelayanan primer, banyak pasien datang dengan gejala-gejala kecemasan, namun hal ini jarang dinilai secara sistematis. Untuk memperbaiki manajemen kecemasan, penilaian keparahan kecemasan (dan pemantauan selanjutnya) direkomendasikan oleh peneliti dan juga pedoman klinis. Berkenaan dengan depresi, penggunaan indikator keparahan dalam pelayanan primer didukung dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pasien menghargai penggunaan kuesioner sebagai suatu pelengkap untuk penegakan diagnosis oleh dokter umum mereka dan sebagai bukti bahwa permasalahan mereka ditangani secara serius. Lagipula, saat kuesioner untuk menilai keparahan digunakan, nilai keparahan yang lebih tinggi berkaitan dengan perawatan yang lebih baik (pemberian resep antidepresan yang lebih banyak dan peningkatan rujukan ke pelayanan sekunder). Selain itu, di beberapa negara insentif ditawarkan ketika instrumen yang valid digunakan dari awal dan selama pengobatan pasien yang didiagnosis depresi. Untuk alasan yang sama, penggunaan skala keparahan untuk menilai gejala-gejala kecemasan di pelayanan primer mungkin dianjurkan. Namun pertama-tama kita harus menentukan kuesioner mana yang bisa digunakan sebagai indikator keparahan dalam perawatan primer dan apa karakteristiknya.Seperti halnya pada gangguan kecemasan berbeda dalam jenis dan gejala-gejalanya, menilai keparahan kecemasan secara umum mungkin lebih sulit daripada menilai keparahan depresi. Skala penilaian umum mungkin tidak cukup spesifik untuk menilai keparahan gangguan kecemasan tertentu (yaitu gangguan panik atau gangguan kecemasan umum). Namun, pengujian ekstensif untuk berbagai bentuk kecemasan juga tidak dapat dilaksanakan selama konsultasi singkat dalam pelayanan primer. Mengingat singkatnya, kesederhanaan, dan kemampuannya untuk mengukur kecemasan umum, Beck Anxiety Inventory (BAI) mungkin menjadi kandidat yang baik untuk digunakan sebagai indikator keparahan. Sejak perkembangannya, BAI telah banyak digunakan untuk penelitian klinis mengenai perawatan kesehatan mental, terutama untuk mengukur kecemasan menyeluruh.Bagaimanapun BAI telah diperdebatkan mengenai fokusnya terhadap gejala fisiologis terkait gangguan panik. Hasil dari beberapa penelitian ditemukan bahwa nilai BAI pasien dengan gangguan panik lebih tinggi daripada pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh. Di sisi lain, ditemukan bahwa pasien dengan gangguan panik dan pasien dengan gangguan kecemasan lainnya memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi daripada pasien tanpa gangguan kecemasan. Hebatnya, tidak ada penelitian yang secara khusus meneliti komorbiditas gangguan kecemasan dan bagaimana hal ini mempengaruhi skor BAI, meskipun komorbiditas sering terjadi. Selain itu, tidak ada penelitian BAI sebelumnya yang difokuskan pada populasi layanan primer.Diduga kualitas lain dari BAI adalah kemampuannya untuk membedakan kecemasan dan depresi. Meskipun pada pelayanan primer hal tersebut mungkin kurang penting dibandingkan pengaturan penelitian, penting untuk mengetahui apakah BAI hanya mengukur kecemasan atau BAI juga sensitif untuk gejala-gejala depresi. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan tumpang tindihnya substansi dari BAI dengan gejala depresi, digambarkan dengan korelasi sedang antara BAI dan skala depresi. Dalam hal perbedaan nilai BAI pada pasien cemas dan depresi, perbedaan besar ditemukan dalam penelitian validasi asli, tetapi dalam dua penelitian berikutnya tidak ada perbedaan yang ditemukan. Namun dalam penelitian ini penulis mempertanyakan hasil karena keterbatasan dalam metodologi.</p> <p>Dalam penelitian ini, kami meneliti apakah BAI mencerminkan keparahan kecemasan pada pasien layanan primer dengan gangguan kecemasan yang berbeda. Nilai rerata dari beberapa kelompok pasien dibandingkan: kontrol sehat, pasien dengan satu gangguan kecemasan, pasien dengan beberapa gangguan kecemasan, pasien dengan satu gangguan depresi, dan pasien dengan komorbiditas kecemasan-depresi. Kelompok-kelompok diagnostik dipisahkan menjadi pasien tanpa komorbiditas dan pasien dengan komorbiditas, untuk memastikan homogenitas kelompok. Dihipotesiskan bahwa nilai BAI pasien dengan gangguan kecemasan akan lebih tinggi dibandingkan nilai BAI kontrol sehat atau pasien depresi. Pasien dengan gangguan panik diharapkan memiliki nilai BAI yang lebih tinggi daripada pasien dalam kelompok gangguan kecemasan lainnya. Kami juga mengharapkan nilai BAI pasien dengan gangguan komorbiditas lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas. </p> <p>2.5.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah BAI mencerminkan keparahan kecemasan pada pasien layanan primer dengan gangguan kecemasan yang berbeda.</p> <p>2.6.Hipotesis Penelitian1. Nilai BAI pada pasien dengan gangguan kecemasan akan lebih tinggi dibandingkan nilai BAI pada pasien kontrol sehat atau pasien depresi. 2. Pasien dengan gangguan panik memiliki nilai BAI lebih tinggi daripada pasien dalam kelompok gangguan kecemasan lainnya. 3. Pasien dengan gangguan komorbidas memiliki skor yang lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.</p> <p>2.7.Metode PenelitianPesertaPara peserta dalam penelitian ini direkrut untuk sebuah penelitian kohort besar: Netherlands Study ofDepression and Anxiety (NESDA) / Penelitian Depresi dan Kecemasan Belanda. Dari basis sub-sampel sebanyak 1.601 pasien layanan primer dalam kelompok penelitian kohort NESDA, kami memilih semua pasien yang mengalami gangguan kecemasan atau gangguan depresi berdasarkan Composite Interview Diagnostic Instrument (CIDI) WHO / Instrumen Diagnostik Wawancara Gabungan WHO seumur hidup versi 2.1 dan pasien yang tidak memiliki riwayat kecemasan atau depresi. Klasifikasi diagnosis DSM-IV dalam bulan terakhir digunakan untuk memastikan gejala-gejala ini. Pasien dengan riwayat kecemasan atau depresi, tetapi tidak ada diagnosis saat ini, dikeluarkan dari analisis. Rerata nilai BAI pasien dengan gangguan kecemasan (N = 276) dan pasien dengan gangguan depresi (N = 155), dibandingkan dengan rerata nilai BAI dari kelompok kontrol pasien yang tidak memiliki riwayat gangguan kecemasan atau depresi (N = 513). Protokol penelitian NESDA telah disetujui oleh Komite Etika Medis VU University Medical Centre.</p> <p>ProsedurSampel layanan primer dalam penelitian NESDA direkrut antara September 2004 dan Februari 2007 melalui 65 dokter umum yang berada di tempat yang berbeda di Belanda (Amsterdam, Groningen, dan Leiden). Sebuah kuesioner skrining dikirim ke 23.750 pasien antara 18 dan 65 tahun yang telah berkonsultasi dengan dokter umum mereka dalam empat bulan terakhir. Kuesioner ini terdiri dari Kessler - 10 ( K - 10 ), untuk menyaring gangguan afektif, dilengkapi dengan lima pertanyaan tentang kecemasan (Extended EK - 10 K atau EK-10). EK - 10 menunjukkan sifat psikometrik yang adekuat, dengan sensitivitas .90 dan spesifisitas .75 untuk mendeteksi gangguan kecemasan atau depresi. Peserta yang mengembalikan EK-10 ( N = 10706 , 45,9 %) , menilai secara positif ( N = 4592 , 43 %) , memberikan informed consent ( N = 3420 , 74 %) dan bisa dihubungi (N = 2995 , 88 %) melakukan wawancara skrining via telepon berdasarkan bentuk singkat bagian dari CIDI (depresi berat, dysthymia, fobia sosial , gangguan panik, agoraphobia, dan gangguan kecemasan menyeluruh).Pasien yang tidak bersedia untuk diwawancarai (N = 267, 9 %) , tidak fasih berbahasa Belanda (N = 86, 3 %) atau sedang dirawat di sebuah organisasi kesehatan mental (N = 155, 5 %) dikeluarkan. Semua pasien lain yang diskrining positif pada skrining via telepon ( N = 1162 , 47 %) dan sampel acak dari pasien yang diskrining negatif (N = 924) dihubungi untuk wawancara tatap muka. Sebanyak 437 ( 24 % ) peserta tidak bersedia untuk berpartisipasi dan 39 (2 %) tidak bisa dihubungi atau tidak fasih berbahasa Belanda, sebanyak 1.610 pasien layanan primer akhirnya dimasukkan dalam penelitian NESDA dan menyelesaikan penilaian awal. Rincian lebih lanjut tentang proses perekrutan dijelaskan di bagian lain. Dari 1.610 peserta NESDA, 9 pasien yang tidak menyelesaikan BAI dikeluarkan dari analisis. Oleh karena itu, sampel ini terdiri dari 1.601 pasien, 617 diantaranya memiliki setidaknya satu diagnosis kecemasan atau depresi, 471 memiliki riwayat kecemasan atau depresi, dan 513 adalah kontrol yang tidak memiliki riwayat kecemasan atau depresi .</p> <p>PenilaianComposite Interview Diagnostic Instrument (CIDI)Instrumen Diagnostik Wawancara Gabungan versi 2.1 adalah sebuah wawancara yang mengklasifikasikan diagnosis psikiatri menurut DSM-IV. Instrumen wawancara ini digunakan secara luas, yang memiliki reabilitas antar penilai yang baik, test-retest reliabilitas yang tinggi, dan validitas yang tinggi untuk klasifikasi gangguan depresi dan kecemasan. Wawancara CIDI dilakukan oleh asisten penelitian yang dilatih khusus. CIDI mengklasifikasikan diagnosa yang ada di beberapa titik kehidupan pasien (diagnosis seumur hidup), dalam setengah tahun terakhir dan dalam satu bulan terakhir.</p> <p>Beck Anxiety Inventory (BAI)BAI adalah daftar singkat yang menjelaskan 21 gejala kecemasan seperti "kegoyahan kaki", "takut" dan "takut kehilangan kontrol". Responden diminta untuk menilai berapa sering masing-masing gejala ini mengganggu mereka dalam sepekan terakhir, pada skala mulai dari 0 (tidak sama sekali) hingga 3 (parah, aku nyaris tidak bisa mengatasinya). Total nilai minimal 0 dan maksimal 63. Skala ini divalidasi dalam sampel dari 160 pasien rawat jalan psikiatri dengan berbagai kecemasan dan gangguan depresi, didiagnosis dengan Structured Clinical Interview (wawancara klinis terstruktur) untuk DSM-III. BAI memiliki konsistensi internal yang tinggi (Cronbachs = .92) dan test-retest reliabilitas lebih dari satu minggu sebesar .75.Analisis Statistik Semua analisis dilakukan di SPSS versi 15.0. Analisis regresi dilakukan untuk menguji perbedaan antara nilai kelompok. Analisis ini dikoreksi untuk usia dan jenis kelamin, karena usia didistribusikan secara berbeda atas kelompok diagnostik dan karena pasien perempuan mimiliki nilai yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pasien laki-laki dalam total sampel. Semua variabel dimasukkan secara bersamaan ke dalam analisis. Analisis ini diulang dengan kelompok-kelompok yang berbeda sebagai kelompok referensi untuk dapat membandingkan semua kelompok.</p> <p>2.8.Hasil dan Pembahasan PenelitianA. Hasil PenelitianStatistik DeskriptifRata-rata usia peserta adalah 45,9 tahun dan sebagian besar pasien adalah perempuan (68,8%). Hampir sepertiga peserta telah didiagnosis dengan gangguan kecemasa...</p>