teknik dan alat asesmen sastra (ini yang kudu di print)

Click here to load reader

Post on 07-Feb-2016

177 views

Category:

Documents

15 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

teknik dan alat asesmen sastra

TRANSCRIPT

TEKNIK DAN ALAT ASESMEN KESASTRAANS2. Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaPascasarjana Universitas Negeri malang

A. PENDAHULUANPengajaran sastra disekolah tidak berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran yang mandiri,melainkan menjadi bagian mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sastra yang dalam kurikulum di tegaskan dengan sebutanapresiasi bahasa dan sastra Indonesia hanya merupakan salah satu pokok bahasan dari sejumlah pokok bahasan yang lain yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan demikian, seorang guru bahasa Indonesia juga berarti guru apresiasi sastra. Ia bertugas mengukur hasil belajar bahasa dan sastra siswa yang menjadi asuhannya. Hal itu juga berarti ia di tuntut untuk mampu menyusun tes kebahasaan dan kesastraan sebagai salah satu sarana mengungkap hasil belajar siswa.Penggabungan sastra ke dalam pengajaran bahasa memang wajar dan dapat dimengerti. Sebab, bahasa merupakan sarana pengucapan sastra, bahasa merupakan salah satu unsur bentuk sastra yang sangat penting. Bahkan secara lahiriah, aspek formal yang nampak, wujud sastra adalah bahasa. Sastra merupakan karya seni yang bermediakan bahasa yang unsur-unsur keindahannya menonjol. Akan tetapi sebagai sebuah karya seni, sastra tidak semata-mata hanya berurusan dengan unsur bahasa saja, melainkan juga unsur sastra yang lain yang juga tak kalah pentingnya. Perpaduan yang harmonis antara berbagai unsur sastra yang secara sederhana dapat dibedakan ke dalam unsur bentuk dan unsur isi akan menghasilkan karya sastra yang bernilai tinggi.Untuk memahami karya sastra yang merupakan salah satu cara atau langkah dalam usaha mengapresiasi karya sastra, penguasaan terhadap bahasa yang bersangkutan merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar. Walau demikian, penguasaan bahasa saja belum menjamin seseorang untuk memahami sastra dengan baik. Untuk memahami sastra dengan baik, disamping penguasaan kode bahasa juga diperlukan pengetahuan tentang kode sastra dan kode budaya. Idealnya terjadi kaitan yang erat antara pengajaran bahasa dengan pengajaran sastra yang bersifat saling mengisi dan menunjang.

B. TUJUAN, BAHAN, DAN PENILAIAN DALAM PENGAJARAN SASTRADalam kegiatan pengajaran, seperti dikemukakan diatas, antara komponen tujuan, bahan yang di ajarkan, dan penilaian terhadap hasil kegiatan pengajaran berkaitan erat. Bahan pengajaran hendaklah dijabarkan berdasarkan tujuan, tujuan itu sendiri dimungkinkan tercapai jika ditunjang oleh bahan yang sesuai. Kadar ketercapaian tujuan atau tingkat penguasaan bahan akan diketahui melalui kegiatan penilaian, sedang penilaian akan ada artinya jika dalam kaitannya dengan tujuan dan bahan yang telah diajarkan. Hal itu berlaku pula untuk pengajaran apresiasi sastra.Secara umum bagaimana bunyi tujuan pengajaran sastra secara umum ditekankan. Atau demi terwujudnya kemampuan siswa untuk mengapresiasi sastra secara memadai. Tujuan tersebut walau bersifat umum, paling tidak telah memberi arah terhadap tujuan-tujuan yang lebih khusus dan operasional. Semua tujuan yang lebih khusus dan operasional tersebut harus diarahkan dan mendukung tercapainya tujuan umum.Kejelasan tujuan pengajaran sastra penting sebab ia akan memberikan pedoman bagi pemilihan bahan yang sesuai. Pemilihan bahan pengajaran, dan juga bahan untuk diteskan, harus menopang tercapainya tujuan, membimbing dan meningkatkan kemampuan mengapresiasi sastra siswa. Hal ini pelu ditegaskan karena ada kecenderungan dalam pengajaran sastra disekolah, kita sering memilih bahan yang mudah saja dengan mengabaikan peranan besar kecilnya bahan itu untuk mencapai tujuan seperti diatas.Secara garis besar bahan pengajaran sastra dapat dibedakan ke dalam dua golongan: a) Bahan apresiasi tak langsung dan b) Bahan apresiasi langsung. Namun,pembedaan tersebut tidak bersifat eksak, sebab dimungkinkan terjadi ketumpangtindihan diantara keduanya. Bahan pengajaran apresiasi sastra yang tak langsung terutama berfungsi untuk menunjang berhasilnya pengajaran apresiasi sastra yang bersifat langsung. Bahan apresiasi yang bersifat tak langsung menyarankan pada bahan pengajaran yang bersifat teoritis dan sejarah, tepatnya: teori sastra dan sejarah sastra, atau pengetahuan tentang sastra. Namun harus dibatasi karena kedudukannya sebagai membantu keberhasilan bahan kedua agar tidak menggeser kedudukan pengajaran apresiasi yang bersifat langsung.Pengajaran apresiasi bersifat langsung menyarankan pada pengertian bahwa siswa langsung dihadapkan pada berbagai jenis karya sastra. Siswa secara kritis dibimbing memahami, mengenali beberapa unsur yang khas,menunjukkan kaitan diantara berbagai unsur yang semuanya mencakup dalam wadah apresiasi. Kemampuan siswa untuk mengapresiasi sastra akan lebih berarti daripada sekedar pengetahuan tentang sastra. dengan bekal kemampuan itu, siswa akan mampu menimba berbagai pengalaman kehidupan melalui berbagai karya sastra, sendiri dan langsung tidak terbatas pada lingkup dan waktu di sekolah.

C. PENILAIAN DALAM PENGAJARAN SASTRAKaitan antara komponen, tujuan, bahan dengan alat penilaian dalam pengajaran sastra dapat menjadi lebih tajam. Penilaian dalam hal ini dapat berfungsi ganda : (1)mengungkap kemampuan apresiasi sastra siswa dan (2) menunjang ketercapaian tujuan pengajaran apresiasi sastra siswa. Fungsi pertama jelas dan menjadi tujuan penulisan ini. Fungsi kedua pun akan terjadi jika penilaian yang dilakukan lebih ditekankan pada tujuan untuk mengungkap kemampuan apresiasi siswa secara langsung. Jadi,tidak sekedar mengungkap pengetahuan siswa tentang sastra.Jika soal-soal ujian kesastraan yang sering dihadapi hanya berkisar tentang teori dan sejarah sastra, agar lulus, siswa pun hanya akan mempelajari bahan yang sesuai, yaitu pengetahuan tentang sastra dan bukan apresiasi langsung. Sebaliknya jika soal ujian yang sering ditemui lebih ditekankan pada kemampuan apresiasi sastra langsung, siswa pun akan berusaha mempelajari bahan yang sesuai.Pemilihan bahan yang akan diujikan dan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa hendaknya di sesuaikan dengan tingkat pengembangan kejiwaan dan kognitif siswa. Bahan yang diberikan tentunya tidak sama antara jenjang pendidikan. Puisi,fiksi ataupun drama yang diteskan untuk anak SD harus yang berada dalam jangkauan kognitif mereka, misalnya puisi,fiksi, cerita dan drama anak-anak, yang kesemuanya masih amat sederhana baik isi maupun bahasanya.Bahan tes untuk siswa hendaknya dipilih dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pemilihan bahan sastra yang sulit, misalnya abstrak dan sulit dipahami, akan memperkecil motivasi siswa dan membuatnya menjadi tak bersemangat.Pemilihan kegiatan dalam memperlakukan karya sastra dan atau pemilihan tugas tes kesastraan juga ada perbedaan antara siswa dalam berbagai tingkatan sekolah. Tugas-tugas kesastraan sebenarnya dapat sangat luas, tidak hanya terbatas pada teks yang hanya diberikan di sekolah, melainkan juga tugas yang dilakukan diluar sekolah. Tugas itu misalnya berupa kegiatan mengikuti lomba penulisan puisi, cerpen, esai, pentas drama dan lain-lain. Tugas tes apresiasi sastra juga bertingkat, dlam arti ada tingkatan yang sederhana dan ada tingkatan yang lebih kompleks. Ada dua macam tingkatan tes kesastraan berdasarkan dua pendekatan yang berbeda. yang pertama adalah tingkatan tes kesastraan berdasarkan taksonomis bloom seperti halnya tes kebahasaan, sedangkan yang kedua adalah tingkatan tes kesastraan berdasarkan pengkategorian moody dengan modifikasi seperlunya. (Nurgiantoro,2001.53-55)

D. PENDEKATAN DALAM TES SASTRAD.1 Pendekatan Taksonomis (Bloom) dalam Tes KesastraanSecara etimologi taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian- sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.Pendekatan taksonomis beranggapan bahwa keluaran hasil belajar dapat dibedakan ke dalam berbagai aspek, jenis dan tingkatan tertentu. Titik tolak inilah yang mendasari perumusan tujuan dan penyusunan nilai bervariasi. Begitupun dalam menilai hasil belajar sastra, taksonomi Bloom masih relevan untuk diaplikasikan dalam penilain sastra. Dalam taksonomis yang diajukan oleh Bloom (1956:7) yaitu membedakan keluaran hasil belajar ke dalam tiga ranah: Cognitive Domain (Ranah Kognitif), Affective Domain (Ranah Afektif), Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor). Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.Penilaian terhadap hasil belajar sastra tidak hanya ditekankan pada aspek kognitifnya saja akan tetapi juga harus meliputi aspek psikomotor dan afektifnya. Hal ini dikarenakan pengukuran hasil belajar tidak hanya pada pengetahuan terhadap seperangkat pengetahuan dan teori-teori dalam karya sastra akan tetapi minat dan kemampuan dalam mengapresiasikan sastra juga menjadi bahan penilian. Sejalan dengan pendapat tersebut Nurgiantoro (1988:296) mengatakan bahwa aspek kognitif akan memperoleh pengetahuan tentang apa dan bagaimana-nya sastra. kemampuan dalam memahami ini akan berdampak pada aspek afektifnya berupa menghargai dan mencintai sastra yang pada gilirannya akan mendorong pada ranah psikomotornya untuk mengapresiasikan sastra tersebut. Untuk lebih memahami tentang alat penilaian dari sastra maka akan dijelaskan sebagai berikut:1. Penilaian Ranah KognitifHasil belajar sastra yang bersifat kognitif lebih banyak berhubungan dengan kemampuan dan proses berpik