tamu dari alam gaib

Author: eko-budiman

Post on 06-Jan-2016

219 views

Category:

Documents


82 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sebuah Novel

TRANSCRIPT

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Seri Dewi Ular-76-Tara Zagita

    Tiga Naga Sakti Karya : Tara Zagita Sumber DJVU : NOVO

    Editor : Jisokam Ebook oleh : Dewi KZ TIRAIKASIH WEBSITE

    http://kangzusi.com/ http://dewi-kz. info/

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    TAMU DAR ALAM GAIB

    oleh Tara Zagita Serial Dewi Ular Cetakan pertama, 2002 Gambar sampul oleh Fan Sardy Penerbit Sinar Matahari, Jakarta Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit .

    (Oo-dwkz-234-novo-oO)

    1 MUNGKIN karena malam itu adalah malam Jumat Kliwon,

    tepat tanggal 13 bulan 9, maka suasana malam menjadi sepi. Terkesan ganjil. Tak banyak orang bepergian, atau berada di luar rumah. Hilir mudik kendaraan di jalan raya pun tak sepadat biasanya. Padahal rnasih pukul sembilan lewat sedikit, tapi sudah seperti hampir tengah malam,

    "Kenapa sih, dari tadi bulu kudukku meremang merinding sendiri? Seperti ada yang mendekatiku tanpa rupa. Betul kok."

    "Ah, itu biasa saja, Jang. Anginnya agak kencang, tanda mau turun hujan. Makanya, bulu merinding sendiri karena hembusan angin penghantar hujan ini, Jang."

    "Abang juga merasa merinding kayak aku tadi? "

    "Iya. Lha, memangnya yang punya bulu kuduk cuma situ aja?"

    Percakapan seperti itu tidak saja terjadi antara pedagang rokok yang mangkal di ujung jalan sana dengan pemuda yang berprofesi sebagai tukang ojek Tapi di beberapa tempat, terjadi pula percakapan serupa walau redaksionalnya berbeda. Angin memang berhemhus agak kencang. Tanda-tanda alam akan turunnya hujan. Tentu saja udara pun dingin, namun tak

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    membuat orang-orang menggigil. Dan, menurut mereka itu bukan hal yang wajar.

    Ada keganjilan di malam itu. Aroma wangi dupa atau kemenyan ikut mencekam suasana malam itu. Dupa atau kemenyam sudah pasti datang dari rumah-rumah yang penghuninya merasa perlu melakukan ritual magis pada malam keramat. Mengirim doa untuk sanak keluarga yang sudah meninggal, misalnya. Atau, memberi sesaji untuk sebuah pusaka, dan entah untuk keperluan apa lagi. Yang jelas, malam itu memang terkesan sebagai malam keramat yang mencekam dan mudah memancing kecurigaan siapa saja.

    Hujan memang belum turun, Hanya saja, tadi petang sempat gerimis sebentar, lalu terang kembali. Tapi sekarang hujan sedang berkemas-kemas untuk menjadi deras. Suara gemuruh angin bagaikan membuat kehidupan malam di kota metropolitan ini menjadi bisu.

    "Kita langsung pulang saja, San."

    "Nggak jadi mampir dulu ke rumah tante Molly?"

    "Nggak usah. Nanti kutelepon saja. Cuaca malam ini nggak sehat. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi malam ini."Sandhi, sopir muda bertampang lumayan itu, menuruti perintah majikan mudanya, yaitu gadis cantik jelita keturunan bidadari asli khayangan. Gadis yang punya kelebihan pandai membaca gelagat alami dan pintar menterjemahkan makna sebuah cuaca itu tak lain adalah si Dewi Ular. Lebih dikenal lagi dengan nama buminya: Kumala Dewi. Tentu saja Sandhi sangat peucaya bahwa akan terjadi sesuatu di malam itu, sebab ia tahu kumala Dewi adalah gadis paranormal berilmu tinggi. Sebagai putri tunggal dari perkawinan Dewa Permana dan Dewi Nagadini, tentunya Kumala memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari dukun atau paranormal manapun.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Karenanya, hati Sandhi saat itu sempat berdebar lemah, sebagai responsifitasnya terhadap pernyataan Kumala yang diucapkan dengan suara mirip orang menggumam tadi. Ia pun mengemudikan mobil BMW hijau giok dengan sangat hati-hati dan penuh waspada. Mereka baru saja pulang dari menengok kelahiran bayi pertamanya Pramuda dan Emafie. Istri kakak angkatnya Kumala itu hari ini telah melahirkan bayi pertama mereka. Sebagai saudara angkat yang penuh peihatian melebihi saudara kandung sendiri, Kumala tak mungkin bisa sebentar saja dalam kunjungannya. Ada beberapa hal yang harus ia lakukan menyambut kelahiran bayi pertamanya Pramudaitu, sehingga pukul sembilan malam baru bisa meluncur pulang ke rumahnya.

    Suara klakson dua kali merupakan isyarat yang sangat dipahami oleh Buron. Pemuda jelmaan Jin Layon yang berbadan agak kurus dan berambut kucai itu segera keluar rumah, membukakan pintu gerbang yang sejak tadi sengaja dikunci rapat-rapat. Kali ini agaknya si Jelmaan Jin Layon yang acap kali dijuluki jin usil oleh Mak Bariah itu agak malas menghampiri ke pintu pagar. Buron hanya berdiri di teras depan, yang berjarak sekitar 30 meter dari pintu gerbang.

    Pandangan matanya tertuju tajam ke arah pintu yang terbuat dari besi stainless anti karat. Dengan kekuatan pandangan mata gaibnya pintu itu bisa terbuka sendiri dari kuncinya, lalu bergerak ke samping lebar-lebar, dan BMW hijau giok itu pun memasuki halaman rumah. Baron segera kembali masuk ke dalam. Rupanya ia sedang menyimak acara kesayangannya di teve layar lebar itu sehingga ia malas untuk membuka pintu gerbang itu secara manual. Ia tak ingin kehilangan waktu terlalu banyak untuk acara kesayangannya itu.

    "Jin bego itu sok pamer kesaktian lagi, Mala!" kecam Sandhi bersifat mengadukan kemalasan Buron kepada Kumala. Mobil masih bergerak pelan-pelan mendekati garasi.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Nanti akan berhenti di depan serambi samping, dan kumala akan turun lebih dulu sebelum mobil dimasukkan ke garasi. Kumala hanya menghembuskan napas panjang mendengar pengaduan Sandhi. Menurutnya hal itu bukan persoalan yang perlu ditanggapi terlalu serius. Tapi ia tetap memberi teguran kepada Buron dengan caranya sendiri. Mungkin tidak malam ini juga.

    Pintu gerbang belum bisa ditutup kembali. Sandhi akan menegur Buron, karena tugas Buron jika di rumah adalah membukakan pintu gerbang saat Kumala pulang dari bepergian, dan menutupnya kembali. Tugas itu dilakukan Mak Bariah jika pelayan bagian dapur itu punya waktu untuk melakukannya. Sandhi sering kesal melihat kemalasan Buron seperti itu. Dan, ia tak ingin dibuat lebih capek lagi oleh tugas Buron yang ditangguhkan itu. Maka, setelah ia menutup garasi, ia pun bergegas ke ruang tengah dan bersuara lantang kepada Buron.

    "Hey, pintu depan belum ditutup tuh!"

    "Kenapa nggak kau , tutup sekalian sih?"

    "Memangnya itu tugasku, apa?!" Sandhi bersungut- sungut. Buron tak menghiraukan kecaman itu. Ia sibuk memusatkan perhatiannya kelayar teve.

    "Tutup dulu, sana...!"tegur, Sandhi sebelum masuk kamar".

    "Cerewet luh!" geram Buron kesal juga. Ia pun bergegas meninggalkan layar tevenya. Namun langkahnya terhenti kembali diteras depak Bahkan sebelum kedua kakinya menginjak teras depan langkah itu sudah berhenti lebih dulu. Bukan karena ingin mengerahkan kekuatan gaibnya untuk menutup pintu gerbang dari jarak jauh, tapi karena ada sesuatu yang membuat Buron agak kaget dan terpaksa menghentikan langkahnya.

    Seseorang telah nekat memasuki halaman rumahKumala Dewi. Orang tersebut masih berusia remaja, sekitar I7 tahun.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Ia masih mengenakan pakaian seragam sekolah sebuah SMU swasta Anak itu setengah berlari menghampiri teras dengan wajah tegang sekali. Buron tak jadi menghardik anak itu setelah melihat wajahnya sepucat mayat. Tubuhnya menggigil ketakutan Bibirnya bergetar Napasnya pun tampak berat dan terputus- putus.

    "Hey... mau apa kamu?" tegur Buron dengan dahi berkerut, sedikit bersikap galak demi menjaga wibawanya.

    "Baang.. to... tolong saya, Bang...! Sa... saya takuut...!"

    "Takut?! Takut apaan?!"

    Anak itu tak berani mengjnjak lantai teras Ia berdiri di depan tangga teras, merapat ke tanaman pohon palem, sebentar-sebentar matanya melirik ke arah jalanan. Keringat dinginnya tampak bercucuran membasahi sekujur wajah pucatnya.

    "Takut apa maksudmu, hah?! Sini... sini...!" ajak Buron agak menunjukan kepeduliannya. Anak itu pun menghampiri lebih dekat lagi Anak itu ingin menjawab pertanyaan Buron, tapi suaranya bagaikan tenggelam dan bergumul bersama degup jantungnya. Ia hanya bisa menggerak-gerakan mulutnya, namun sulit melontarkan kata. Buron membawanya duduk di kursi teras. Hatinya semakin merasa kasihan, sebab anak itu benar-benar tersiksa oleh rasa takutnya yang begitu besar. Bukan sedang berpura-pura menjadi orang ketakutan. Karenanya, Buron mencoba membujuknya untuk tenang.

    "Kama tinggal di mana?"

    "Di blok B1, Bang. Di jalan Intan Utara..."

    "Dekat lapangan tenis dong?"

    "Be...betul,Bang."

    "Namamu...?"

    "An... Andy, Bang."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Hmmm... kamu pulang sekolah, ya?"

    "Se... sebetulnya sudah sejak tadi sore, Bang. Tapi saya... saya mampir dulu ke rumah teman, jadi baru sekarang bisa sampai sini, Bang. Hmm,eeh... hmmm..."

    Percakapan itu mengalihkan perhaiian Andy sesaat. Dengan begitu ketegangannya pun menjadi sedikit berkurang. Di dalam sana, Sandhi sempat curiga mendengar suara Buron bicara dengan seseorang. Ia menyempatkan melongok keteras. Lalu, ikut berkerut dahi karena merasa asing dengan anak yang diajak bicara Buron itu.

    "Ada apa, Ron?"

    Buron hanya melirik Sandhi sekejap, lalu bicara lagi kepada Andy. Tak mempedulikan pertanyaan Sandhi.

    "Nah, sekarang coba jelaskan, kenapa kamu sampai ketakutan seperti ini? Apa yang membuatmu ketakutan tadi ! "

    "Saya... saya melihat... terbang dan turun ketanah, Bang..."

    "Apanya yang terbang?! Siapa yang terbang?!"

    "Itu.. anu... manusia... manusia bersayap, Bang. Hiiiihh. !"

    "Manusia bersayap?!" Sandhi menyahut dengan nada terheran-heran. Ia ikut mendekati Andy. Tatapan matanya bersikap menuntut kejujuran jawaban Andy tadi.

    "Be... benar, Bang," anak itu menganggukkan kepala kepada Sandhi. "Sayata.. takut sekali melihat... melihat manusia bersayap tadi, Bang, Wajahnya nggak seperti manusia biasa dan..."

    "Di mana kau melihat manusia bersayap?!" desak Buron.

    "Di sana, Bang... Di... di... samping gereja yang baru terbakar tiga hari yang lalu itu, Bang. Di jalan sampingnya itulah manusia bersayap turun dan mendaratkan kedua kakinya yang... yang... iiihhh... saya ngeri sekali

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    membayangkannya, Bang!" Andy bergidik menggigil seperti kedinginan. Gigi-gjginya saling gemerutuk. Sandhi dan Buron saling beradu pandangan mata. Tegang dan cemas.

    "Panggil Kumala...!" perintah Buron Dalam keadaan serius seperti itu, Sandhi tak berani membantah perintah jelmaan Jin Layon. Ia bergegas masuk untuk memberitahu kedatangan Andy kepada Kumala. Tak lama kemudian Kumala Dewi pun daiang ke teras. Ikut menanyai remaja berwajah imut-imut penuh ciri-ciri penakut.

    "Saya melihatnya setelah menyeberang jalan besar, Kak," kata Andy set elah mendapat usapan tangan di punggungnya dari Kumala. Usapan tangan itu mengandung hawa gaib yang dapat menenangkan kegundahan hati siapa pun, dan malam itu terbukti mampu membuat Andy menjadi tidak gemetaran lagi.

    "Waktu saya mau menuju jalan samping gereja terbakar itu, saya masih sangsi dengan pengjihatan saya sendiri, Kak. Tapi setelah saya pertegas lagi, barulah saya yakin betul bahwa saat itu saya meiihat ada orang terbang melintasi reruntuhan gereja, lalu hinggap atau mendarat di jalanan samping gereja. Orang itu tinggi, dan besar, matanya memancarkan cahaya merah mengerikan. Sayapnya hitam dan berhelai-helai seperti bendera umbul-umbul. Saya terpaku di tempat. Mata saya tak bisa dipejamkan. Orang itu menghampiri saya sampai berjarak lima meter. Lalu... lalu sebelum saya jatuh pingsan, orang itu menggeram dengan suara seperti kera. Ia menyeringai. Saya melihat giginya runcing-runcing dan bertaring. Persis drakula di film-film horor, Kak. Kemudian... entah kemana makhluk itu, sebab saya terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Pingsan di tempat Entah berapa lama saya pingsan sampai akhimya saya siuman sendiri, dan segeraberlari ketakutan menuju kemari..."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Bagaimana bentuk daun telinganya? Apakah kau sempat memperhatikan dan mengingat ya?" tanya Kumala setelah tertegun sesaat.

    "Daun telinganya... agak lebar dan meruncing ke atas Tinggi."

    Buron dan Sandhi sama-sama menatap Dewi Ular, seakan mereka ingin mendengar kesimpulan dan reaksi gadis cantik berbibir ranum itu. Tetapi pada waktu itu Kumala sedikit menundukkan wajah. Matanya yang indah bak berlian itu menatap lantai di depannya. Menerawang kosong. Sebentar kemudian baru mengangkat wajah kembali. la langsung memandang Buron, sebagai asistennya untuk urusan yang berbau mistik. Lalu dengan suara tenang, berkharisma dan enak didengar, Kumala memberi perintah tegas tepada asistennya itu.

    "Cari dia...!"

    Buron hanya menganggukkan kepala dengan sikap patuh. Badannya ditegakkan Kumala tahu apa yang akan dilakukan Buron saat itu. Ia tak ingin Andy mengetahuinya, karena dapat membangkitkan rasa takutnya Andy yang sudah dijinakkan itu. Maka, dengan gerakan kepala tipis, Buron sudah paham maksud isyarat Kumala itu. Ia pun menjadi sinar kuning berekor mirip meteor kecil.

    Bluug..:! Lenyap.

    Malam semakin misterius. Suasana sepi terasa kian mencekam. Seolah-olah ada kekuatan aneh yang mampu menghbungkam seluruh kehidupan di muka bumi, membuat malam benar-benar membisu kaku. Hanya suara lolongan anjing saja yang sesekali terdengar mengalun meliuk-liuk di kejauhan sana. Lolongan anjing itu sempat membuat bulu kuduk orang yang mende ngarnya menjadi merinding. Alunan lolongannya menyerupai jeritan roh yang tersiksa di alam kuburnya.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Sayup-sayup terdengar percakapan Kumala Dewi dengan seorang perempuan yang meneleponnya.

    "Kenapa mesti pakai begituan segala sih, Tante? Penglaris atau sejenisnya hanya dibutuhkan oleh pengusaha yang kurang percaya diri dan kurahg matang dalam perhitungan bisnisnya. Menurut saya sih.. Tante cukup matang dalam perhitungan bisnisnya kok. Jadi, rasa-rasanya nggak perlu minta penglaris pada saya deh."

    "Terus terang, Kumala... di Bandung sainganku banyak. Dan, mereka rata-rata juga pakai penglaris. Jadi, kalau aku nggak pakai penglaris juga, bisa-bisa belum genap seminggu restoranku sudah harus gulung tikar, alias bangkrut!"

    "Ah, masak sih....?" Kumala tertawa kecil dan pendek.

    "lya, Sumpah deh! Jadi, bagaimana... Mau nggak nolongin aku dengan memberikan penglaris buat restoranku yang besok kuresmikan? Keberatan kasih penglaris padaku, ya Mal ? "

    "O, nggak. Keberatan sih nggak, Tante. Cuma... hmm, baiklah. Kalau memang Tante lebih percaya diri dengan bekal penglaris macam gituan, akan saya berikan. Tapi dalam bentuk air, ya? Beli aja sebotol mineral, nanti air itu bisa Tante bawa ke Bandung dan sebelum segalanya dimulai air disiramkan dengan rata sekeliling tempat usaha Tante itu."

    "Ya, ya... aku mengerti!" jawabnya berapi-api. Girang sekali. "Aku akan meluncur ke rumahmu sekarang juga, ya?"

    "Boleh. Tapi... sekarang sudah malam, Tante. Maksud saya... memang masih pukul sepuluh lewat sedikit sih, tapi cuacanya sedang kurang baik, Tante, Apakah..."

    "Soalnya besok pagi-pagi sekali aku sudah harus berangkat ke Bandung bersama-sama beberapa stafku dari sini. Kapan lagi aku dapatkan penglaris itu kalau nggak malam ini juga?"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Kumala Dewi tak bisa mencegah kemauan Tante Munna. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memang mempunyai sifat keras hati. Cenderung egois. Kumala sudah mengenalnya lebih dari tiga bulan. Ia tahu, janda cantik berperawakan tinggi, sekal, montok dan gesit itu memang mempunyai nilai keberanian agak tinggi dibanding perempuan sebayanya. Bukan hanya penampilannya yang cenderung tomboy saja yang membuatnya kurang feminim, tapi jiwanya pun memang berjiwa lelaki, sehingga tak merasa takut jika harus pergi tengah malam.

    Kumala mengenal Tante Munna ketika janda berkulit coklat dan gemar berpetualang di dunia c inta asmara itu menghadapi kasus misteri, yaitu kehilangan teman kencannya yang kala itu masih dibangga-banggakan, (Baca serial Dewi Ular dalam episode "MISTERI PENCULIK ASMARA"). Sejak mengetahui kehebatan supranaturalnya Kumala Dewi, ia sering mengbubungi Kumala walau melalui telepon. Hal itu tentunya bertujuan menjalin persahabatan lebih akrab lagi, sehingga jika ia membutuhkan pertolongan yang bersifat mistis, maka ia tak akan sungkan-sungkan memohon kepada Kumala. Dan, permohonannyayang bersifat familiar itu selalu sulit ditolak oleh Kumala, seperti halnya pada malam yang bernuansa misterius ini.

    "Kok banyak kabut sih? Tumben?!" gumam Tante Munna sambil mengendarai Espass merahnya sendirian Matany ayang sedikit lebar bertepian hitam itu menatap lurus ke depan dengan tajam. Dahinya berkerut kuat, pertanda sedang berusaha memperjelas pandangannya yang sedikit kabur sambil hatinya merasa heran melihat jakarta berkabut,seperti suasana di Puncak atau di dataran tinggi lainnya. Meski demikian ia masih tetap tenang dann tak berlarut-larut membahas kabut malam yang sebenarnya sangat ganjil itu.

    "Eh, kok makin lama makin tebal sih? Kabul apaan ini? Jangan-jangan asap dari rumah kebakaran nih?!"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Kecepatan mobil berkurang. Tante Munna semakin berhati-hati mengendarai mobilnya dalam keadaan pandangan mata berkabut.

    Permukaan aspal jalanan tak terlihat lagi. Kendaraan yang melintas di jalan itu sangat sedikit. Hanya satu-dua saja yang tampak melintas berpapasan dengan menyalakan lampu kabutnya. Hati Tante Munna mulai serius menanggapi situasi ganjil itu. Menurutnya, jalan tersebut biasanya belum sesepi ini walau sudah pukul sepuluh lewat. Mestinya, paling tidak beberapa taksi akan dijumpainya sepanjang perjalanan tersebut. Tapi kenyataannya sejak tadi baru sekitar 3 buah }aksi yang sempat dilihatnya tadi.

    "Lho, kok jadi nyasar ke sini sih?!"

    Tante Munna terheran-heran sekali. Kabut memang sudah tidak setebal tadi. Tidak terlalu mengganggu penglihatan Tapi menurutnya jalan itu bukan jalan menuju ke rumah Kumala Dewi. Padahal sudah lebih dari seratus kali Tante Munna menggunakan jalur jalan itu untuk menuju ke beberapa tempat rekanan bisnisnya, termasuk menuju ke rumah Kumala, dan selama ini ia tak pernah salah jalan. Sekarang justru jalan yang dilaluinya itu adalah jalan menuju ke tempat lain, bertolak belakang dengan arah yang dituju.

    "Gila! Kenapa aku bisa sampai sebodoh ini sih?! Cuma karena terhalang kabut sebentar masa mobil ini bisa nyelonong sampai kesini sih? Ini kan jalan Ring Rood menuju pinggiran kota?!"

    Sambil menggerutu kesal sendiri Tante Munna cepat-cepat banting stir ke kanan begitu tiba di jalur putar balik. Kecepatan mobilnya ditinggikan. Ngebut. Ia tak ingin buang-buang waktu terlalu banyak, mengingat sebentar lagi sudah pukul sebelas malam. Tak ada rasa takut atau was-was dalam hatinya, karena suasana jalanan tak sesepi tadi. Ada biskota yang masih beroperasi, ada taksi dan kendaraan pribadi yang berjalan normal seperti malam-malam biasanya. Hati

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    perempuan berambut cepak itu hanya menyimpan rasa heran dan penasaran atas peristiwa aneh itu, hingga akhirnya ia semakin bingung dan jengjcel sendiri .

    "Sial ! Benar-benar sial nasibku malam ini! Kumala pasti sudah menunggu-nunggu kedatanganku. Ah, nggak enak juga jadinya kalau begini. Mengganggu dia yang mungkin sudah mau naik ke pembaringan. Tapi... peduli amatlah! Yang penting malam ini juga aku bisa dapatkan penglaris hebat dari dia, biar besok bisa kubawa ke Bandung. Mungkin memang harus bersusah-susah dulu seperti ini kalau mau mendapatkan penglaris hebat dari orang seperti Kumala itu..."

    Belum puas Tante Munna berkecamuk dalam hatinya , tiba-tiba deru mesin mobilnya berhenti secara mendadak. Hilang begitu saja, tanpa ada tanda-tanda apapun. Buru-buru tangan Tante Munna meraih kunci kontak dan menstaternya kembali. Tapi mesin tetap mati. Tak ada getaran kontak listrik sedikit pun. Kunci itu sepertinya telah dol hingga tak berfungsi sama sekali. Tante Munna gagal menghidupkan kembali mesin mobilnya. Tak ada pilihan lain kecuali membawa mobilnya ke tepian dan berhenti dalam keremangan cahaya mercury.

    "Benar-benar brengsek mobil ini! Belum ada enam bulan keluar dari showroom sudah ngadat begini! Huhh... kalau tahu kualitasnya menyebalkan begini mendingan beli yang sedan sekalian deh!"

    Tempat yang sepi, jauh dari bengkel, membuat Tante Munna hanya punya satu pilihan, yaitu menghubungi mobil derek menggunakan fasilitas handphonenya. Ia sudah mencobanya berkali-kali sampai hatinya benar-benar jengkel, toh mobil itu tetap saja tak bisa distarter lagi. Ia mencoba memeriksa mesin mobil, tak ditemukan kerusakan apapun pada mesin tersebut, atau memang ia tak mampu menemukan kerusakannya? Yang jelas, sebelum berhasil menghubungi pihak jasa mobil derek, hati Tante Munna sedikit berharap lega. Dilihatnya seorang lelaki berjalan menuju ke mobilnya .

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Lelaki itu tampaknya masih muda. Usianya masih sekitar 27 tahun. Mengenakan T-shirt ketat dan celana jeans rapi. Ia tampak sedang mencari taksi kosong untuk ditumpanginya, terlihat dari jalannya yang sebentar-sebentar menengok ke belakang. Tante Munna yang, saat itu berdiri di samping pintu mobilnya berlagak: tak memperhatikan pemuda tersebut. Namun begitu pemuda tersebut hendak melewatinya segera saja Tante Munna menegur dengan keramahan agak canggung.

    "Maaf, Bung.,, apakah Anda bisa bantu saya sebentar, Bung?"

    Dalam keremangan cahaya lampu mercury berjarak 50 meter itu Tante Munna melihat senyum di wajah ganteng pemuda tersebut cukup menimbulkan kesan bersahabat. Keramahan senyum tersebut menimbulkan kesan simpati yang menyenangkan hati. Ditambah lagi dengan penampilannya yang dandy,berbadan tegap, sedikit berotot, dan berkulit putih bersih untuk jenis kulit lelaki, maka Tante Munna merasa sedikit beruntung bisa bertemu dengan pemuda itu. Agaknya pemuda itu pun menanggapi kesulitan TanteMunna dengankesan sangat peduli, sehingga kejengkelan hati Tante Munna pun scmakin terkikis habis.

    "Kenapa bisa mogok begini, Tante?"

    "Mana saya tahu? Anda bisa periksa sendiri mesinnya. Dan..."

    "Boleh saya coba menstaternya?"

    "Hmm, ya... silakan!" sambil Tante Munna sedikit mundur, memberikan tempat untuk pemuda itu. Dengan tanpa naik ke mobil dan tanpa menginjak gas, pemuda itu memutar kunci kontak pelan-pelan. Dan, gruuuung. .! Ternyata ia berhasil. Mesin menderum dengan normal, seperti sediakala. Tante Munna terperangah girang dan heran. Pemuda itu menarik diri dan mempersilakan Tante Munna duduk di jok sopir.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Silakan Mobil ini tak bermasalah kok, Tante."

    "Aneh Padahal tadi... tadi ..."

    "Maaf, saya harus buru-buru pulang, mumpung ada taksi kosong lewat tuh !" sambil bergegas melambaikan tangan, menghentikan taksi. Tapi dengan cepat niatnya dapat ditahan oleh suara Tante Munna.

    "Ehmm, sebentar... Apa nggak sebaiknya Anda ikut di mobil saya saja, Bung?!"

    "Ah, terlalu merepotkan Tante nanti."

    "Tapi saya perlu berterima kasih pada Anda, bukan? Anda telah bantu saya dan saya pun harus bantu Anda. Naiklah Di mana Anda tinggal? Biar saya antar sampai rumah Anda, Bung. Ayolah. "

    Setelah saling pandang beberapa saat, saling menukar senyum persahabatan beberapa desiran, akhirnya pemuda itu pun menerima tawaran Tante Munna. Ruang ber-AC dalam mobil itu segera dipenuhi aroma wangi parfum lelaki yang mengisyaratkan sebentuk kejantanan pria sejati. Tante Munna sangat menyukai parfum beraroma seperti itu. Tak heran jika hatinya semakin berdebar-debar indah setelah melanjutkan perjalanannya ditemani pemuda berhidung mancung yang punya wajah mirip Tom Cruise itu. Kebetulan sekali setelah Tante Munna lebih dulu memperkenalkan namanya, ternyata pria muda mirip Tom Cruise itu juga punya nama Tom, yaitu Tomhans.

    "Jadi bagaimana aku harus memanggilmu: Tom atau Hans?"

    "Apa sajalah. Terserah apa enaknya buat Tante Mun," jawabnya bernada lebih akrab lagi, membuat debar-debar hati Tante Munna mulai berubah menjadi desiran-desiran memicu gairah asmara. Desiran ersebut mulai memabokkan jiwa, mulai melenakan harapan, dan tak menutup kemungkinan Tante

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Munna akan berubah pikiran, sekaligus berubah arah tujuan semula janda yang memang doyan lalapan daun muda memang mudah tergoda pendiriannya jika menemukan lawan bicara seperti Tomhans itu.

    "Sangat terkutuk kalau aku nggak memanfaatkan kesempatan emas seperti ini, dan semakin terkutuk lagi kalau kubiarkan cowok seperti Tom turun dari mobilku tanpa meninggalkan bekas kehangatan asmara jantannya itu," pikir Tante Munna sepanjang perjalanan menuju ke rumah Tom.

    Sesuai dengan janjinya, Tante Munna akan mengantarkan Tom sampai depan rumah. Namun setelah mereka terlibat percakapan lebih familiar lagi, dalam benak Tante Munna segera muncul gagasan untuk mencoba-coba merubah rencana menggeser janji semula.

    Ia ingin tahu apakah Tom menanggapi perubahan janjinya, atau sama sekali tak memberi sinyal yang berarti Tante Munna harus kembali menepati janjinya tadi ?

    "Apakah kau harus cepat-cepat sampai rumah, Tom? Istrimu sudah menunggu, barangkali?"

    "Nggak Saya belum punya istri kok."

    "Tapi ada seseorang yang sedang menunggumu di rumah, begitu?"

    "Nggak juga. Saya cuma merasa nggak punya acara. lagi jadi harus pulang dan beristirahat. Soalnya. besok saya harus berangkat ke Bandung. Menjemput mama yang kepingin tinggal di Jakarta lagi!"

    " Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Besok aku juga ! mau ke Bandung, Tom."

    "0,ya...?!"

    Kita bisa barengan deh. Kamu bawa mobil sendiri?"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Berangkat dari sini sih... nggak, tapi pulangnya bersama mama nanti memang bawa mobil sendiri."

    "Kalau begitu kamu bisa berangkat bareng aku. Mau?"

    "Boleh saja," Tom tampak berseri-seri.

    "Jadi, malam ini kamu nggak harus cepat-cepat pulang, kan?"

    "Maksud Tante...?!"

    "Kita mampir dulu ke rumahku, karena ada barang yang harus segera kuberikan pada keponakanku di rumah. Setelah itu, baru kuantar kau pulang kerumahmu. Bagaimana? Atau... mau nggak usah pulang sekalan?'" pancing Tante Munna berlagak canda, padahal sangat berharap ditanggapi secara serius oleh Tomhans.

    Tomhans tidak berkomentar apa-apa. Tak jelas jawabannya atas tawaran Tante Munna itu. Ketampanannya yang sesekali tampak tersiram cahaya mobil dari depan hanya menampilkan senyum maskulinnya yang membingungkan Tante Munna. Apakah pria muda itu tak keberatan jika harus mampir ke rumah Tante Munna, atau ia mempunyai rasa keberatan hati yang tak berani diungkapkan? Semua ketidak past ian tersebut akhirnya dilupakan oleh Tante Munna. Dianggap tak pernah ada. Dan, yang jelas-jelas ada dalam diri Tante Munna adalah keberanian. Nekad membawa Tom pulang ke rumahnya. Ternyata pemuda itu tak berkomentar apa-apa juga.

    Sikapnya masih baik. Masih menunjukan rasa bersahabat. Tak menolak sewaktu dipersilakan masuk ke rumah Tante Munna. Tak keberatan ketika dlbawa naik ke lantai atas, tempat di mana kamar tidur dan ruang santai pribadi Tante Munna herada. Pada waktu diimintai pendapatnya tentang suasana rumah janda sekal itu, Tom hanya manggut-manggut seraya menjawab secara diplomatis .

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Bagus. Rumah ini terkesan nyaman dan bikin betah tamu yang datang kemari. Cuma sayang... terlalu dingin untuk seorang wanita karir seperti Tante Munna ini."

    "Dingin yang bagaimana maksudmu ? " Tante Munna segera menangkap makna diplomasi tersebut dengan senyum penuh arti. Bahkan sempat berlagak bodoh di depan sang tamu.

    "Dingin. . karena terlalu besar AC nya, begitu?"

    "Bisa saja begitu. Tapi... bisa saja dingin dalam pengertian lain. Dan, saya yakin cuma Tante yang bisa merasakannya."

    Tawa geli lepas dari mulut Tante Munna yang masih berbibir sexy dan menantang setiap lelaki itu.

    "Wajar saja kalau dingin," katanya. "Habis, sudah bertahun-tahun tak ada lelaki yang menghaagatkan rumah ini sih."

    "Ooo... begitu?" gumam Tomhans sambil berlagak melihat-lihat suasana kamar tidur yang pintunya sengaja dibuka lebar-lebar oleh Tahte Munna. Ia hanya berani berdiri di pintu, sementara pemilik kamar sudah berada di dalam, sedang menghampiri sebuah jaket digantungan baju, seolah-olah la akan mengenakari jaket itu jika mengantar pulang Tom nanti.

    "Masuklah, Tom. Jangan berdiri di pintu saja. O, ya... mau minuman penghangat badan? Aku masih menyimpan champagne sisa pesta ultahku tempo hari. Mau...?"

    "Boleh juga," seraya melangkah masuk, mendekati sebuah sofa sudut yang memiliki lampu tidur bertiang tinggi. Setelah duduk di sana Tom menyambung kata-katanya tadi.

    "Tapi menurut saya yang layak dijadikan penghangat badan bukan minuman champagne. Itu masih kurang hangat."

    "Ada yang lebih hangat lagi begitu?"

    "Ya. Ada yang lebih hangat lagi dari minuman tersebut."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    " Apa yang lebih hangat dari champagne?"

    "Api...," jawab Tom sambil melebarkan senyum dan tawanya mirip orang menggumam. Canda itu ditanggapi oleh Tante Munna dengan tawa lepas, pertanda hatinya semakin girang menerima tamu yang memiliki selera humor cukup elite. Bukan humor kampungan. Oleh karenanya, ketika menghampiri Tom sambil membawa dua gelas minuman penghangat badan, Tante Munna sengaja memancing arti kelakar tadi ke arah yang lebih sensitif lagi.

    "Memang benar, api lebih hangat dari seteguk champagne. Tapi... api apa dulu dong ? Jelaskan, api apa yang kamu maksud tadi, Tom?"

    "Api apa saja... termasuk api asmara, tentunya."

    "Wow...! Itu api yang aku sukai, haah, haaah, haaah...!"

    Tante Munna tak sungkan-sungkan melepaskan tawa lebarnya dengan suara yang khas; sedikit besar dan agak serak-serak parau. Bahkan sambil merasa geli dalam tawanya ia berani memukul lengan Tomhans, seolah-olah memukul dan mencubit sudah merupakan bagian dari keakraban hubungan mereka. Lambang kebebasan mereka. lsyarat keterbukaan Tante Munna terhadap apapun yang ingin disentuh Tom dari dirinya. Dan, ternyata malam pun benar-benar menjadi lebih hangat lagi dari sekedar minuman maupun kepulan asap rokok kesukaan Tante Munna itu.

    Janda berkulit coklat ini agak binal. Beberapa orang yang dekat dengannya menilainya begitu. Tak heran jika kali ini tangannya sudah berhasil melakukan keisengan nakal di pangkuan Tomhans, dan bicaranya sudah menjurus pada hal-hal yang bersifat membangkitkan gairah seseorang lelaki.

    "Menurutmu apakah sulit membuat malam ini menjadi malam yang penuh kehangatan, Tom?"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Nggak. Nggak sulit. Saya sanggup membuat malam ini menjadi malam yang penuh kehangatan, karena saya memiliki energi panas yang dibutuhkan oleh setiap wanita."

    "O, ya... ?!" bisiknya parau. Matanya sudah mulai sayu.

    "mungkin Tante belum tahu, bahwa saya adalah penguasa kehangatan dan cinta, penguasa kemesraan dan kepuasan bercinta."

    "Oooh, benarkah. .?!" Tante Munna seperti merengek. Tangannya meremas sesuatu dengan geram. Hatinya semakin bergemuruh karena yang diremas saat itu adalah sesuatu yang diharapkan hingga berdebar-debar sangat kuat.

    "Tante Munna nggak percaya kalau saya penguasa kehangatan dan cinta?"

    "Akan percaya kalau kau membuktikannya, Tom. Buktikan dulu padaku seberapa indah kehangatan dan cinta yang kau miliki itu. Bagaimana?"

    Tantangan itu pantang dihindari oleh Tomhans. la menyambut tantangan Tante Munna dengan-sentuhan tangan yang lembut, tapi membuat api gairah berkobar-kobar dalam diri Tante Munna.

    Bahkan ketika Tante Munna sengaja menatapnya dengan pandangan mata semakin sayu, Tomhans segera membalas dengan pandangan sayu pula yang semakin mendekati wajah cantik Tante Munna. Dengus napas Tomhans membakar wajah Tante Munna, membuat ia terpaksa makin memejamkan mata dan sedikit mengangkat dagunya.

    Bibir sensual yang sengaja merekah basah itu sempat menunggu sentuhan beberapa detik. Tak lama kemudian Tante Munna merasakan bibibirnya disapu lembut oleh ujung lidah Tomhans. Sapuan itu bertambah ganas, sehingga cepat-cepat disambut oleh Tante Munna dengan kecupan dan pagutan liar. Ia melumat bibir Tomhans, sementara tangan

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Tomhans terbenam di balik blus berleher lebar itu. Tangan Tante Munna pun tak mau kalah nakal, bergerak menyusuri bagian-bagian sensitif di tubuh Tomhans.

    "Ooouh, Tooom... Tooom, teruskan cumbuanmu. Nikmat sckali... indah sekali, Toom. Ooohh, aku menyukainya, Sayang...!"

    Entah apa lag coleteh yang berhamburan dari mulut Tante Munna, Tomhans menyusuri sekujur tubuhnya dengan ciuman dan jamahan tangan semakin liar. Sampai akhirnya mata Tante Munna terpejam, ketika menerima sapaan cinta Tomhans yang paling istimewa, karena Tom memiliki sapaan cinta melebihi yang dimiliki pria lain. Tante Munna sangat kegirangan. Ungkapan hati senangnya itu diwujudkan dalam bentuk pergumulan mesra penuh amukan emosi jiwa. Meski sekujur tubuhya bermandi peluh, namun ia tetap memacu Tomhans agar melaju tanpa henti, bagaikan seorang kesatria yang menunggangi kuda dengan ganas dan beringas.

    Ketika ledakan puncak asmara Tomhans terjadi, Tante Munna memekik keras dengan suara berat dan panjang. Suaranya itu tak begitu terdengar jelas karena pada saat puncak asmara Tom tiba, langit seperti ikut merasakan guncangan kenikmatannya. Guntur menggelegar di angkasa. Bergemuruh saling bersahutan, hingga menyerupai rangkaian suara gaib dari alam seberang.

    Seandainya Tante Munna tidak menggeliat dalam amukan emosi kenikmatannya yang paling indah dari sebelumnya, mungkin ia pun akan merasakan bahwa ranjang tempatnya bercumbu dahsyat itu ikut bergetar. Begitu pula benda-benda kecil lainnya, dan derak kaca jendela juga terdengar akibat bergetar.

    Getaran itu adalah getaran jiwa Tomhans saat mencapai puncak kemesraannya. Adakah lelaki lain yang memiliki keistimewaan seperti itu; membuat bumi bergetar saat

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    mencapai puncak kemesraannya? Jika hanya Tomhans orangnya, lalu siapa sebenarnya Tomhans itu?

    (Oo-dwkz-234-novo-oO)

    2 SEMALAM suntuk Buron menjalankan tugasnya. Saat

    sarapan pagi tiba Buron baru pulang dari penjelajahannya, memburu manusia bersayap. Pagi itu Kumala Dewi menikmati nasi goreng masakannya Mak Bariah bersama tamu mudanya. Jika biasanya ia ditemani buron dan Sandhi, tapi kali ini ada seorang lagi yang menemaninya menikmati makan pagi, yaitu Andy.

    Remaja bertampang imut-imut itu memang disarankan oleh Kumala untuk tidak pulang kerumahnya. Bermalam di rumah Kumala merupakan salah satu alternatif terbaik bagi andy. Sebab, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang berbahaya bagi keselamatan Andy jika tadi malam ia harus pulang ke rumahnya.

    "Mamamu tadi menelepon waktu kau mandi," kata Kumala kepada Andy."Setelah mendengar keadaanmu baik-baik saja, beliau tampaknya sudah tidak mengkhawatirkan lagi."

    "Mama memang begitu. Nggak mudah percaya pada orang Iain. Maafkan saja sikap mama itu, Kak, Walau pun semalam Kak Mala sudah meneleponnya sampai dua kali, tapi mama pasti masih kurang percaya dengan pernyataan Kakak yang akan menjamin keselamatan saya. Sorry aja, ya Kak."

    "Nggak apa-apa. Itu wajar Seorang ibu yang mencintai anaknya memang pantas untuk selalu mengkhawatirkan diri anaknya. Kita nggak boleh mengecam sikap mamamu itu, Andy."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Benar," timpal Sandhi. "Apalagi mamamu belum kenal betul siapa Kak Kumala Dewi ini, wajar saja kalau dia tak sepenuhnya mempercayai kesanggupan kami dalam menjamin keselamatanmu."

    Pada saat itu percakapan mereka terhenti, dan perhatian mereka tertuju ke arah lain. Buron muncul, seperti baru saja keluar dari kamar tidurnya. Padahal Buron baru saja tiba dalam bentuk cahaya kuning yang segera menjelma diri menjadi sosok pemuda berambut kucai di dalam kamarnya. Hal itu ia lakukan untuk inenghindari ketakutan Andy jika ia tahu-tahu muncul secara gaib di ruang makan.

    "Eh, Abang...? Sarapan yuk, Bang?" sapa Andy dengan ramah dan bersikap hormat, pertanda ia anak yang punya etika dan tahu sopan santun. Ia menyangka Buron baru bangun tidur.Setelah menjawab sapaan Andy secara basa-basi, Buron langsung duduk di kursi samping Sandhi. Bersebrangan dengan tempat duduknya Kumala Dewi. Ia tampak letih dan kurang ceria. Kumala dapat menduga pasti tak ada hasil yang menggembirakan dari tugas Buron. Maka, sengaja Kumala hanya memandangi asistennya untuk urusan gaib itu tanpa bertanya apa-apa. Justru Sandhi yang lebih dulu mengajukan pertanyaan karena ingin segera mengetahui apa saja yang didapatkan oleh Buron setelah semalam suntuk berkelana menjelajahi alam sekeliling mereka.

    "Bagaimana? Kau temukan si manusia bersayap itu?!"

    Jawaban pertama dari Buron adalah menggelengkan kepala.

    "Aku ngak ketemu manusia bersayap."

    "Maksudmu, apa yang dikatakan Andy semalam itu bohong?!"

    Andy menyahut agak ngotot, "Nggak kok, Bang. Saya nggak bohong. Berani sumpah deh!" Anak itu ketakutan kalau dituduh pembohong, Tapi Buron segera menyambung

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    laporannya yang membuat Andy sedikit lega, walau sebenarnya ia masih kurang paham maksud kata-kata Buron itu.

    "Tapi aku sempat menangkap gelombang energi asing sebelum tengah malam tiba. Gelombang energi itu jelas bukan dari alam ini. Aku sempat terpental sewaktu mendekati radiusnya. Sayang sekali ketika kukejar kembali, gelombang energi as ing itu lenyap tanpa bisa, kudeteksi lagi. Sampai pagi ini aku masih melacaknya, tapi gelombang energi asing itu nggak ada di sekeliling Jakarta, bahkan sekeliling Jawa Barat nggak ketemu juga energi itu. Maka, aku pulang saja sebelum tulang-tulangku remuk semua."

    "Remuk...?!" Dewi Ular berkerut dahi penuh perhatian pada Buron. Sandhi juga curiga dengan kata-kata Buron yang terakhir, sedangkan Andy hanya bengong saja tak mengerti maksud seluruh laporan Buron. Andy memang tidak mengetahui bahwa Buron adalah jelmaan Jin Layon yang mempunyai kesaktian sendiri dalam melacak energi gaib dari alam lain. Tapi Andy sempat terperanjat juga sewaktu Buron berdiri dan menyingkapkan kausnya ke atas. Kumala dan San-dhi pun terkejut melihat sekitar tulang rusuk Buron sampai ke batas pusarnya mengalami luka memar. Biru kehitam-hitaman.

    "Kenapa sampai memar begini, Ron?!" tanya Sandhi.

    "Energi asing itu yang membuatnya begini. Waktu kudekati, dan aku masuk dalam radiusnya, tiba-tiba ia menyentak sangat kuat hingga aku terlempar jauh. Sentakan itu mengandung racun yang kurasakan bakal meremukan tulang rusukku, bahkan lama-lama akan meremukan seluruh tulang-tulang ini. Makanya aku tak berani tetap memburunya. Aku harus segera pulang dan kau harus cepat-cepat cegah racun ini pembusuk tulang ini, Kumala. Aku nggak mampu mencegahnya!"

    "Racun penghancur tulang?!" Kumala menggumam bernada curiga, Sepertinya ia memiliki kesimpulan sendiri atas luka

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    yang diderita Buron itu. Tapi ia tak katakan kepada siapa pun, siapa pihak yang dicurigai sebagai pemilik energi gaib yang mengandung racun penghancur tulang itu. Atau barangkali ia masih meragukan kesimpulannya, sehingga belum berani memberi pernyataan di depan mereka. Yang jelas, ia harus segera tangani luka berbahaya yang dapat. menghaneurkan seluruh jaringan tubuh dalam seketika, seandainya bukan Buron yang mengalaminya.

    Setidaknya luka yang didenta Buron itu telah menjadi bukti bahwa cerita Andy bukan cerita bohong. Meski pun orang tua Andy tetap menganggap kesaksian putranya adalah sebuah halusinasi dari anak yang memang berjiwa pengecut itu, namun Kumala Dewi tetap beranggapan lain. Hanya saja, ketika ia mengantarkan pulang Andy dan menjelaskan kepada orang tua Andy mengenai kasus tersebut, ia tidak memberi pernyataan apa-apa terhadap anggapan orang tua Andy. Menurutnya sangat sulit bagi orang awam untuk mempercayai kesaksian Andy itu.

    "Sebaiknya kurangi saja aktiv itas keluar malam mulai sekarang." Hanya itu saran Kumala yang ditujukan kepada Andy dan keluarganya. Tetapi kepada sopir kesayangannya Kumala memberi pernyataan yang lebih tegas lagi.

    "Aku yakin kita te lah kedatangan tamu dari alam sana. Aku akan melacaknya sendiri kalau urusan kantor hari ini sudah selesai!"

    "Apa kira-kira tujuan tamu itu datang kernari?"

    "Sebentar lagi kita akan mendengar informasi yang lebih penting dari kesaksian Andy. Entah siapa yang membawa informasi tersebut. Tapi firasatku mengatakan, akan ada seseorang yang menemuiku untuk meminta bantuan atas kasusnya. Kasus itulah yang kumaksud sebagai informasi penting. Dari informasi itu barangkali bisa diketahui maksud dan tujuan tamu gaib tersebut!"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Tak sedikit pun Sandhi meragukan kata-kata majikan cantiknya. Sebab, ia tahu persis bahwa majikan cantiknya itu selalu berkata benar. Jauh lebih tepat dari ramalan para ahli nujum mana pun. Sandhi hanya menunggu dan bertanya-tanya, siapa orang yang akan datang untuk meminta bantuan Kumala atas kasus yang dihadapinya? Kapankah orang itu akan datang menemui Kumala Dewi ? Siang atau malam ? Di kantor atau setelah mereka berada di rumah ?.

    Seperti biasa, selama Kumala dalam jam kerja, Sandhi tetap menunggu di ruang khusus untuk para sopir, ruangan bagi para driver itu berada di lantai bawah dekat temppat parkir mobil para manager. Di sana mereka menunggu perintah dari atasann.ya sewaktu-waktu Ada yang mengisi kekosongan dengan bermain atau baca koran, ada pula yang ngobrol di kantin yang letaknya tak jauh dari tempat parkir. Di ruang itu juga dilengkapi dengan dua pesawat telepon antar ruangan, sehingga Kumala Dewi bisa bicara dengan sopirnya meski dia berada di ruang kerjanya, di lantai delapan.

    "San, aku mau rapat dengan para pemegang saham sampai pukul tiga nanti. Tolong kalau ada yang mencariku sehubungan dengan informasi yang kubicarakan tadi, kau handle dulu deh, ya? Tahan tamu itu jangan sampai pulang sebelum ketemu aku. Jelas?"

    "Jelas. Tapi... apakah kau tahu siapa tamu kita nanti?"

    "Entahlah. Aku sengaja nggak mau meneropongnya, karena siapa pun dia itu nggak penting. Yang penting adalah keluhannya."

    Sandhi berani bertanya begitu karena ia tahu bahwa sebenarnya Dewi Ular bisa mengetahui siapa tamu yang akan menemuinya melalui teropong supranaturalnya. Tapi ia pun memaklumi maksud Kumala yang enggan meneropong calon tamunya itu, karena tidak semua tamu yang akan datang harus diteropong lebih dulu. Hanya dalam keadaan yang benar-benar genting saja hal itu dilakukan. Atau manakala

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    konsentrasi gadis yang menjabat sebagai konsultan perusahaan itu tidak sedang sibuk oleh urusan kantor, maka teropong gaibnya sering digunakan sebelum sang tamu datang.

    Hanya Sandhilah satu-satunya sopir y ang diperlakukan secara istimewa oleh majikannya. Sebab, hubungan Kumala dengan Sandhi selama ini memang sudah seperti keluarga sendiri. Kumala tidak menganggap Sandhi sebagai sopirnya yang kedudukannya lebih rendah, melainkan sebagai anggota keluarganya yang punya kedudukan sejajar dengannya. Buron pun diperlakukan demikian oleh si anak dewa itu. Maka, ketika usai makan siang itu seorang tamu benar-benar datang dan sangat membutuhkan Kumala, sekretarisnya Kumala segera menghubungi Sandhi. Hanya Sandhilah satu-satunya sopir yang boleh menggunakan ruang kerjanya majikan manakala sang majikan tidak berada di tempat. Wewenang Sandhi jauh lebih tinggi daripada sekretarisnya Kumala.

    "Mana tamunya?"

    "Sudah ada di dalam. Habis, tadi Zus Mala pesan begitu sih. Temui saja dia. Mungkin kau sudah mengenalnya, San," kata sekretaris berwajah mungil itu. Sandhi segera masuk ke ruang kerjanya Kumala yang terpisah dengan meja kerja karyawan lainnya itu, tertutup rapat dan sangat eksklusif.

    "Hey...?"

    "Sandhi ...?! Oh, syukurlah kau Segera datang. Aku harus bertemu dengan Kumala secepatnya, San. Bisakah kau membantuku mempertemukan dengan Kumala?! Tolong deh, San... ini penting sekali!"

    "Hmmm, tenanglah dulu...! Jangan panik begitu dong Duduklah."

    Sandhi terpaksa menenangkan tamunya yang tampak panik dan sangat tegang itu. la berhasil membujuk tamu berwajah cantik yang sudah dikenalnya cukup akrab sejak lima bulan

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    yang lalu. Gadis itu memang seorang model yang kebetulan memiliki wajah dan nama hampir mirip dengan penyanyi barat: Jessica Simpson Rambutnya yang panjang disemir pirang, postur tubuhnyayang tergolong tinggi itu selalu dirawat dan dijaga. agar tak menjadi korban kebanyakan kolestrol, sehingga penampilannya itu sering membuat orang lain menyangkanya sebagai gadis bule Padahal dia made in dalam negeri.

    Jessica menjalin hubungan akrab dengan Kumala dan orang-orangnya. Buronlah yang menemukan Jessica pertama kalinya, yaitu ketika Jessica ingin melakukan tindakan nekat: bunuh diri, akibat kematian pacarnya yang sangat dicintai, (Baca serial Dewi Ular dalam episode: "GADIS PENUNGGU JENAZAH"). Sejak ia diselamatkan Buron dari keputus asaannya dan bergabung dengan Kumala, ia sering bertandang ke rumah Kumala, sesekali menyempatkan bermalam di sana. Maka, ketika siang itu ia bertemu dengan Sandhi, gadis berusia 27 tahun itu tak segan-segan mengungkapkan keluh kesah dan ketegangannya yang sempat membuatnya agak panik tadi.

    "Sungguh San! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dalam jarak beberapa meter. Jelas dan sangat jelas sekali ! Dia adalah Tommy. Sumpah mampus deh, San! Dia memang Tommy, pacarku yang dulu."

    "Lalu, kenapa kamu jadi tegang sekali kalau benar dia adalah Tommy pacarmu? Apakah... dia kau lihat sedang berduaan dengan perempuan lain, begitu?!"

    "Bukan itu yang membuatku takut sekaligus senang da nsedih!"

    "Jadi...?"

    "Tommy itu kan udah mati sekitar delapan bulan yang lalu, San!"

    "Sudah meninggal dunia , maksudmu?!"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "lya! Kematiannya itulah yang membuatku dulu hampir bunuh diri, untung segera diselamatkan oleh Buron. Lalu, tadi... sekitar pukul sepuluh, aku melihat Tommy memasuki sebuah Mall. Aku sengaja berhenti di Mall itu dan memburunya. Aku meiihat dia naik ke lantai atas menggunkan eskalator..."

    "Mungkin orang yang mirip Tommy?"

    "Nggak! Dia memang Tommy-ku, Sandhi! Aku sempat berseru memanggilnya: Tom...! Toom...! Dan, ilu berpaling memandangiku yang ada di bawah eskalator. Tapi dia hanya tersenyum tipis padaku, tanpa bermaksud menghampiriku. Maka, aku memburunya ke lantai atas. Dan setelah itu... aku tak berhasil menemukan dia lagi. Aku mencarinya ke setiap jengkal lantai Mall itu, tapi tetap tak kutemukan dia di sana," Jessica membendung tangis dukanya. Menggigit bibir sendiri sambil buru-buru menundukkan kepala.

    Sandhi sempat bingung menanggapinya. Jika benar apa yang dilihat Jessica tadi, maka peristiwa itu adalah peristiwa aneh yang akan menggemparkan masyarakat sekitar tempat tinggal Tommy. Tapi jika penglihatan itu tidak benar, maka Jessica perlu memeriksakan diri kepada seorang psikiater dan harus segera mendapat kepastian atas kekeliruan pandangannya itu.

    "Aku ingin Kumala membantuku mencarikan dia saat ini! Sebab, aku yakin sekali bahwa Tommy telah bangkit dari kuburnya dalam keadaan sehat, segar, dan tak terlihat seperti mayat hidup. Dia tampil sebagaimana manusia biasa kok!"

    "Kenapa tidak mau cari ke rumah saja? Mungkin dia pulang ke rumahnya dan...."

    "Aku sudah menghubungi keluarganya. Hampir setengah jam aku bicara di telepon dengan mamanya dan kakak perempuannya. Tapi pada akhirnya mereka justru marah padaku. Mereka tersinggung dan menganggapku gila. Sebab,

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    sampai pukul sebelas tadi, pihak keluarga Tommy belum menerima kedatangan Tommy. Sebelum sampai ke sini tadi, aku kembali menelepon mamanya. Tapi mamanya justru membentakku untuk tidak bicara tentang kesaksianku yang dianggap tak waras, mabuk, mengigau dan sebagainya. Sulit sekali membuat mereka percaya bahwa Tommy telah bangkit dari kematiannya! Oleh sebab itulah, San.. Aku ingin Kumala membanluku mencarikan di manaTommy saat ini berada. Aku ingin buktikan kepada keluarganya Tommy bahwa..,"

    Ketukan pintu dari luar membuat Jessica berhenti curhat, sementara Sandhi sudah sempat bertanya dalam hatinya, "Benarkah siang hari bolong begini ada mayat bangkit dari kubumya?"

    Karena suara ketukan pintu pula kecamuk di hati Sandhi terputus. Sekretaris memberitahukan, ada scorang tamu lagi yang mcndesak ingin bertemu dengan Kumala Dewi. Sandhi menyuruh sekretaris agar mempersilakan tamu tersebut naik keruangan itu juga. Dan, tamu itu ternyata juga bukan orang asing lagi bagi Sandhi. Tapi buat Jessica dia adalah orang yang belum dikenalnya, sehingga ia buru-buru menyambut uluran tangan sang tamu saat Sandhi memperkenalkannya.

    Tamu itu tak lain adalah Tante Munna. Raut wajahnya |uga kelihatan menampung segumpal kecemasan yang meresahkan hati. Senyumnya sangat kaku, pertanda hatinya sulit diajak untuk tersenyum kepada siapa pun.

    "Kemarin malam saya dan Kumala menunggu kedatangan Tante Munna sampai pukul dua belas lewat, tapi Tante nggak muncul-muncul juga. Akhirnya kami tinggal t idur deh. Lain kali kalau nggak jadi datang kasih kabar kami dong, Tante."

    "Sorry aku... aku memang bersalah dalam hal ini. Tapi semua itu ada alasannya dan cukup kuat untuk...."

    "Kenapa sih kok nggak jadi datang?" potong Sandhi yang semakin curiga dengan kemurungan wajah Tante Munna.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Sebab, kemurungan itu disertai kegundahan yang cukup besar, sampai-sampai nada bicaranya pun terkesan gugup dan sangat datar.

    "Justru aku segera kemari, karena aku ingin Kumala segera menangani kasus aneh yang kuhadapi sejak kemarin malam," suaranya mulai parau. Sepertinya perempuan itu menyembunyikan perasaan takutnya yang sulit diungkapkan di depan orang yang baru dikenal, yaitu Jessica. Namun karena tatapan mata Sandhi terkesan menuntutnya untuk bicara apa adanya, maka ia paksakan mulutnya melontarkan apa saja yang terpendam dalam hatinya siang itu.

    "Jadi... pada waktu aku sedang menuju ke rumah kalian, aku sempat bertemu dengan seorang pemuda seusiamu. Terus terang saja, aku tergiur oleh ketampanan pemuda itu. Akhirnya dia kubawa pulang. Sebelumnya aku sempat nyasar sampai ke jalan menuju luar kota. Mobilku mogok, dan berhasil dibetulkan oleh pemuda itu. Lalu. .. ketika dia kubawa pulang, kami saling mengakrabkan diri, sampai akhirnya saling.... saling... sama-sama-tidur seranjang. Tapi..."

    "Siapa nama pemuda itu? Tante mengenalnya?"

    "Ya Sangat kukenal namanya, bahkan dia berikan alamat rumahnya segala. Lengkap dengan nomor telepon rumah itu. Hmmm, oh, ya... pemuda itu bernama Tomhans, dan.."

    "Siapa?!" sahut Jessica hampir memekik kaget. Ia beradu pandangan dengan Tante Munna yang menyebut ulang nama Tomhans. Lalu, terdengar lagi suara Jessica yang membuat Sandhi berkerut dahi dan Tante Munna mengeriyitkan keningnya.

    "Tomhans itu nama panggilan mantan kekasihku, Sandhi! Dialah yang kuceritakan tadi. Dialah Tommy... Tommy Rehansha, yang sering disingkat Tomhans!"

    "O, ya...? Nggak salah tuh, Jess?"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Tante, pemuda itu berbadan tegap, gagah, berhidung mancung dan mempunyai tahi lalat kecil di leher kirinya, bukan?"

    "Be... benar...!"

    Tante Munna semakin gemetar. Ia selalu mengangguk dan membenarkan ciri-ciri yang disebutkan Jessica. Akhirnya ia yakin bahwa Jessica memang sangat mengenal Tomhans. Begitu pula halnya dengan Jessica, yakin betul bahwa Tante Munna memang bertemu dengan Tommy yang dikatakan baru pulang meninggalkan rumah Tante Munna sekitar pukul delapan pagi lewat. Hampir pukul sembilan.

    "Dia bilang padaku, mau kembali lagi sekitar pukul sepuluh tadi. Tapi sampai pukul sebelas, bahkan hampir ia tengah hari, dia belum kembali kerumahku," kata Tante Muna dengan nada sedih.

    Sambungnya lagi, "Sementara itu aku terpaksa menunda kepergianku ke Bandung hanya karena menunggu kembalinya Tomhans. Akhirnya, baru saja tadi aku menelepon ke rumah Tomhans, dan kudapatkan jawaban dari kakak perempuannya Tom, bahwa Tom sebenarnya sudah lama meninggal dunia, bahkan..."

    "Memang! Itu memang benar; Tom sudah setengah tahun lebih dimakamkan di TPU Tanah Kusir!" sahut Jessica semakin seru. "Dan... tadi saya juga melihat Tom masuk ke sebuah Mall. Dia mengenakan T-shirt ketat warna hitam bergaris putih di pundaknya, bukan?"

    "Ya, benar! Celananya jeans yang belum menjadi belel!"

    "Tepat sekali kalau begitu. Oooh... Aku semakin yakin, Tom pasti sudah bangkit dari kuburnya karena ia merindukan diriku, San! Dia pasti ada di antara masyarakat Jakarta ini!"

    Jessica semakin berapi api, hingga Sandhi terpaksa harus mengingatkan serta menenangkan tangisnya yang tak kuasa

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    dipendam lagi itu. Sandhi sendiri menjadi semakin bingung menyikapi kedua tamunya. Kini ada dua orang yang telah menjadi saksi hidup, melihat Tommy atau Tomhans berkeliaran di alam kehidupan nyata.

    Haruskah kesaksian itu tetap dianggap sebagai illusi, halusinasi, fatamorgana, mimpi dan sejenisnya? Bahkan Tante Munna sudah berani terangan terangan menyatakan tegas-tegas bahwa dia semalam tidur seranjang dengan Tommy dan bercinta penuh keindahan asmara Meski sempat disangkal Jessica yang menjadi cemburu atas pengakuan itu, tapi Sandhi tetap berkesimpulan bahwa apa yang dialami mereka bukan sekedar mimpi siang hari, dan apa yang dilihat mereka bukanlah illusi dari gangguan jiwa yang tertekan rindu sekian lama.

    Celakanya lagi, ternyata persoalan yang dihadapi Tante Munna tidak hanya sampai di situ saja Menurut Sandhi, barangkali Tante Munna itulah tamu yang dimaksud Kumala sebagai pembawa informasi penting, di mana informasinya itu dapat dipakai untuk memprediksi apa maksud dan tujuan dari 'tamu dunia lain' datang ke alam kehidupan manusia ini. Sebab, ketika Jessica telah kembali tenang dari tangisnya dan ia harus pergi ke toilet untuk keperluan pribadinya, Sandhi sempat memancing kemurungan duka di wajah Tante Munna yang sangat mencurigakan itu.

    "Jadi, saat ini Tante sangat sedih karena yakin bahwa Tom pergi nggak akan kembali lagi? Tante kepingin ketemu Tom agar bisa saling bermesraan lagi, begitukah?"

    Janda tomboy yang kehilangan separoh dari ketegarannya itu tarik napas panjang-panjang setelah menggelengkan kepalanya.

    "Bukan bermesraan kembali yang kubutuhkan darinya. Saat ini aku butuh keterangan darinya atas perubahan yang terjadi pada diriku ini, San: Perubahan ini sangat aneh membuatku ketakutan sendiri. Dari menit ke menit keteganganku

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    meningkat terus Rasa takutkupun semakin tinggi terhadap perubahan yang kualami."

    "Perubahan apa maksudnya?"

    "Lihat perutku..." seraya mengusap perutnya sendiri. Sandhi yang duduk berhadapan dengan Tante Munna langsung mengarahkan pandangan matanya ke perut Tante Munna, Sandhi baru menyadari, bahwa s iang itu Tante Munna memang tampak sedikit lebih gemuk dari hari-hari sebelumnya. Tapi ia belum mengerti apa maksud perintah tadi, sehingga kini ia kembali menatap Tante Munna yang masih menyeringai tipis. Menahan perasaan ngeri dan was-was terhadap sesuatu yang menurutnya sangat mustahil itu.

    "Kau lihat perutku ini menjadi lebih besar dari sebelumnya, kan?"

    "Ya. Memang kelihatan lebih gemuk."

    "Ini bukan gemuk karena kebanyakan lemak, San. Perutku menjadi bengkak begini karena aku merasakan tanda-tanda kehamilan pada diriku."

    "Hamil...?!"

    "SejakTom pergi, aku sering merasa mual malahan sempat muntah-muntah dua kali di kamar mandi. Makin siang makin tak enak sekali rasanya. Selain mual, aku juga merasa pegal-pegal dan nyeri di bagian pinggang. Lalu, kuperhatikan perutku ini makin membengkak dan urat-uratnya mengencang. Sepertinya... hmmm... sepertinya aku telah menjadi hamil akibat kencan dengan Tom kemarin malam itu, San! Proses kehamilan ini pernah kurasakan sewaktu aku bersuami dulu dan melahirkan dua orang anak yang sekarang dibawa pergi oleh mantan suamiku itu!"

    "Tapi, bukankah... bukankah tadi Tante katakan bahwa Tante baru kemarin malam kenal dengan Tomhans dan tidur seranjang pun baru malam itu juga? Bukankah..."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Itu memang benar! Dan, tanda-tanda kehamilan ini pun juga kenyataan yang benar, San!" suaranya berbisik tapi bernada tegas.

    "Pemuda misterius itu telah menghamiliku secara tak normal," tambahnya. "Aku merasa sedangmengalami proses kehamilan yang sangat cepat, yang tak bisa diterima oleh akal sehat mana pun. Dan, oleh sebab itu... aku ingin Kumala memeriksa kondisiku, apakah benar aku sedang mengalami kehamilan gaib, atau ada sesuatu yang berkembang dan merusak sistem kerja lambungku? Inilah yang kutakuti dan membuatku sangat cemas, Sandhi!"

    "Gawat..?!" gumam Sandhi yang mulai berekspresi tegang itu. Ia tetap tak dapat berbuat banyak terhadap kedua tamunya, selain menenangkan hati mereka agar bersabar menunggu Kumala selesai dengan acara rapatnya nanti. Meski ia tahu nomor telepon di ruang rapat itu, namun ia tetap tak berani menghubungi Kumala dan memberitahukan kondisi Tante Munga saat itu. Kumala akan marah padanya jika Sandhi melakukan kebodohan tersebut.

    Celakanya lagi, sampai pukul tiga sore ternyata Kumala belum turun dari lantai sembilan, tempat diadakannya rapat para pemegang saham. Dan, pada saat itu Jessica sendiri akhirnya mengetahui kasus ganjil yang dialami Tante Munna, karena perut Tante Miuina tampak lebih membengkak. Lebih besar dari saat datang tadi. Janda itu hanya bisa mendesah dan mengeluh sambil mendesak Sandhi agar segera memanggil Kumala, sebab ia sendiri mengakui saat itu perutnya semakin menonjol. Seperti orang hamil lima bulan.

    Meski pun Sandhi sendiri juga bertambah tegang, tapi ia tetap tak mau menghubungi majikan cantiknya di ruang rapat lantai sembilan. Sandhi berusaha sebisa- bisanya menenangkan kondisi kejiwaan kedua tamunya itu, sampai akhirnya telepon di meja kerjanya Kumala berdering. Kumala sendiri yang menelepon dari ruang rapat. Ia memberitahu

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    bahwa rapat sudah selesai, sebentar lagi akan kembali ke ruang keijanya.

    "Sebaiknya lekaslah turun dan lihat sendiri keadaan salah satu tamu kita ini, Mala! Tante Muna benar-benar membutuhkan pertolonganmu secepatnya!"

    "Ya, aku sudah dengar jerit hati kalian bertiga sejak tadi! Aku akan segera turun."

    Kemunculan gadis anak bidadari kahyangan itu membuat Jessica dan Tante Munna saling berebut kesempatan lebih dulu untuk mengungkapkan isi hatinya.

    Suara mereka sangat crowded, karena Sandhi yang membantu menenangkan mereka justru menambah tumpang tindihnya percakapan tersebut. Menghadapi keadaan seperti itu, Dewi Ular yang tampil tenang dan berkharisma itu cukup mengangkat jari tangannya dan menempelkan di mulutnya sendiri. Tanpa suara apapun, ia telah berhasil membuat ketiga orang di depannya berhenti bicara secara serentak. Sunyi sesaat menguasai ruang kerjanya.

    "Kita selesaikan satu persatu masalahnya, okey?" ujarnya seraya tersenyum penuh keramahan dan keakraban. Jessica dan Tante Munna manggut-manggut seraya mengendurkan ketegangan masing-masing. Mereka tak sadar telah terkena pengaruh kekuatan batin Kumala yang terpancar lewat pandangan mata dan air mukanya. Kekuatan batin itulah yang membuat mereka segera menghentikan perkataan dan memiliki rasa patuh serta rasa hormat kepada si gadis anak dewa itu.

    Perhatian Dewi Ular tertuju pada perut Tante Munna. Dahinya sedikit berkerut pertanda sangat curiga terhadap ukuran perut yang tak normal itu. Tante Munna dim saja, menatap sedih disiksa kengerian. Sikapnya tampak jelas menunggu pengertian dari Kumala agar segera bertindak menangani keganjilan perutnya itu. Melihat perhatian Kumala

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    tertuju kuat pada perut Tante Munna tanpa diminta Sandhi buru-buru menjelaskan secara singkat apa yang dialami Tante Munna dan Jessica sebelum datang tadi. Yang bersangkutan hanya menggumam dan mengangguk, membenarkan penjelasan singkat itu.

    "Memang sih... tadi sewaktu Tante Munna datang perutnya nggak sebesar itu, Mala. Aku melihat sendiri perut itu tak terlalu menonjol begitu. Jadi, rupanya akibat pertemuannya dengan pemuda yang mengaku bemama Tomhans itu Tante Munna sekarang mengalami proses kehamilan tak normal, sehingga..."

    "Ambilkan tissue di mejaku... !" perintahnya kepada Sandhi tanpa berpaling dari penglihatannya. Hanya tangannya yang terulur ke samping menunjuk tempat tissue di meja kerjanya.

    Sandhi mengambilkan dua lembar kertas tissue tersebut, lalu diserahkan kepada Kumala yang tetap berdiri di tempat, tak berusaha menghampiri kedua tamunya yang duduk di sofa berseberangan. Hanya Sandhi yang mengenali betul sikap Kumala saat itu. Menurutnya, Kumala memang tampil tenang dan kalem. Namun sebenarnya gadis cantik jelita itu mengalami suatu ketegangan yang dipendam rapat-rapat dan ditahan kuat-kuat agar tak mempengaruhi kedua tamunya. Ketegangan yang tersembunyi itulah yang kini membuat Sandhi menjadi berdebar-debar. Jika gadis cantik jelita itu bersikap demikian, maka dapat dipastikan pada saat itu di sekeliling mereka ada suatu kekuatan gaib yang cukup membahayakan.

    Kertas tissue itu digenggamnya dalam satu gumpalan setelah diremas-remas dengan dua tangan. Lalu, mereka menjadi heran melihat Kumala Dewi meniup kertas tissue dalam genggamannya. Seolah-olah putri tunggalnya Dewi Nagadini itu menitipkan napasnya ke dalam gumpalan kertas tissue tersebut. Kakinya melangkah pelan-pelan, Hanya dua langkah sudah berhenti. Kertas tissue dalam genggamannya

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    dilemparkan dengan hati-hati sekali ke perut Tante Munna. Wuuut...!

    Weeesss. !

    Kertas tissue itu seperti batu yang dilemparkan ke arah wajah Dewi Ular. Memantul balik begitu menyentuh perut Tante Munna. Kekuatan pantulannya disertai gelombang hawa padat yang menerjang Kumala, sehingga gadis itu terhempas ke belakang. Jatuh terkapar setelah membentur dinding dan membuat lukisan yang digantungkan di dinding itu jatuh dari tempatnya.

    Braak...!

    "Malaaaa..?!! " sentak Sandhi kaget sekali.

    (Oo-dwkz-234-novo-oO)

    3 POLWAN cantik yang kini telah berpangkat Letnan itu

    sengaja mampir ke rumah Kumala Dewi, Ia yakin sahabat mudanya yang cantik dan secara tak resmi menjadi konsultan kriminil di kepolisian itu ada di rumah, karena hari itu adalah hari libur nasional. Cuaca pagi pun cukup cerah, dan matahari belum meninggi. Kecil kemungkinannya Kumala sudah pergi saat dihampirinya nanti.

    Letnan Dua Merina Swastika yang akrab dipanggil Mbak Mer oleh orang-orangnya Kumala itu sengaja mampir bukan hanya ingin mengucapkan terima kasihnya kepada Kumala yang telah membantu tugas-tugasnya selama ini dalam menyingkap kasus kriminil yang misterius, tapi juga ingin membawa Kumala ke suatu tempat yang menurutnya sangat perlu diketahui si konsultan cantik itu. Mbak Mer sengaja berpakaian preman, tampil trendy bak seorang foto model yang masih berstatus single, karena hari itu dia pun tidak

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    sedang bertugas. Hanya saja, karena ia ditempatkan di bagian reserse kriminalitas, khusus wanita, maka ia punya beban moral untuk hadir di tempat-tempat kejadian perkara meski sedang berlibur.

    "Waah, merdeka sekali tuan putri kita nih.,. sudah pukul sembilan masih belum mandi juga? Malah kelihatannya baru bangun tidur, ya?" tegurnya dengan nada kelakar yang sangat familiar.

    Kumala Dewi yang memang baru bangun tidur itu hanya tersenyum malu, lalu tertawa kecil sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Padahal meski pun belum mandi, wajah Kumala tak pernah susut dari nilai kecantikannya yang sangat mengagumkan itu. Maklum, keturunan bidadari asli, biar tak mandi setahun pun akan tetap kelihatan cantik di mata manusia mana pun.

    "Sandhi dan Buron apakah juga belum bangun, Mal?"

    "Kayaknya sih belum, Mbak. Habis, kami baru tidur pukul enam tadi sih. Mereka ikut begadang jaga semalaman."

    "Ada lemburan, tentunya?"

    "Begitulah. Biasa, Mbak... ada klien yang harus diselamatkan dari ancaman maut para penghuni alam gaib sana."

    Lalu, Dewi Ular pun menceritakan tentang upayanya menyelamatkan Tante Munna dari kehamilan tak wajar itu Ia dibantu Buron saat menangani kehamilan Tante Munna yang terpaksa dibawa pulang ke rumahnya setelah gagal ditangani di kantor. Usaha itu pun hampir saja gagal, karena kekuatan gaib yang berada di balik kehamilan Tante Munna itu cukup tinggi. Dukun dan paranormal biasa belum tentu sanggup melumpuhkan kekuatan gaib yang dikandung Tante Munna.

    Mereka baru berhasil mengeluarkan isi kandungan tersebut setelah Dewi Ular mengerahkan sebagian besar kesaktiannya

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    yang seharusnya hanya digunakan di alam gaib sana. Pukul lima pagi mereka barubisa membebas kan Tante Munna dari ancaman kehamilan gaib itu. Karenanya, Tante Munna belum sempat pulang dan sekarang masih tertidur di kamar tidur khusus untuk tamu. Jessica juga ada di kamar itu, karena Jessica ikut menyaksikan perjuangan Dewi Ular dalam melumpuhkan kekuatan iblis dalam kandungan tersebut.

    "Kalau saya gagal menangani kasus semalam, pagi ini sudah lahir sepuluh anak iblis dari kandungan Tante Munna itu, Mbak. Dan, tentunya mereka akan menyusun kekuatan untuk menguasai alam kehidupan kita ini. Mereka pasti akan tumbuh pesat, dan cepat menjadi dewasa!"

    "Mengerikan sekali?!" gumam Mbak Mer sambil menyeringai ngeri membayangkan cerita Kumala itu. Kemudian ia menyambung kata-kalanya dengan sangat serius.

    "Nah, sekarang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang penting kau ketahui, atau mungkin saja ada hubungannya dengan anak-anak iblis itu, Kumala. Apakah kau bersedia?"

    "Kemana sih, Mbak?"

    "Pukul tujuh tadi aku mendapat kabar dari Sersan Burhan tentang ditemukannya sesosok mayat lelaki di dalam sebuah mobil. Mobil itu diparkirkan di jalanan dekat kuburan pinggir kota, Mala. Sampai sekarang mobil itu masih dalam penyidikan untuk diketahui pemiliknya, sedangkan mayat lelaki itu tak diketahui identitasnya. Dia dalam keadaan tinggal tulang belulang dan sisa pembusukannya. Tapi kerangka mayat itu ditemukan dalam keadaan berpakaian lengkap serta utuh. Pakaiannya seperti masih baru. Begitu pula sepatu yang dikenakan oleh kerangka mayat tersebut."

    "Aneh sekali?" gumam Kumala lirih, walau wajahnya tak menunjukkan rasa heran yang bersungguh-sungguh.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Itulah sebabnya aku ingin membawamu ke sana. Mobil dan mayat itu masih ada di Polres setempat. Belum dibawa ke pusat. Mungkin dengan indera keenammu kau bisa mengenali siapa sebenarnya mayat berpakaian lelaki itu?"

    Kumala Dewi manggut-manggut saat merenungi kata-kata Mbak Mer. Setelah menunggu dalam kebisuan sesaat, Mbak Mer bertanya pelan.

    "Anda tertarik untuk melihatnya, Nona cantik...?!"

    Senyum indah penuh pesona mekar di bibir ranum Dewi Ular. Ia tetap tampak anggun dan menawan. Tak seorangpun yang dapat menduga bahwa dia adalah anak tunggal dewa dari kahyangan, karena penampilannya di pagi itu sangat trendy. Seperti gadis model yang tampil dengan gaya gaulnya dalam berbusana. Kumala sengaja pergi tanpa membangunkan yang lain, karena ia tak tega mengganggu kenyenyakan tidur mereka. Ia hanya berpesan kepada Mak Bariah bahwa sebelum tengah hari ia sudah kembali. Tante Munna dan Jessica disarankan untuk jangan pulang dulu sebelum ia kembali.

    Begitu turun dari sedan dinasnya Mbak Mer,pandangan mata Kumala segera tertuju pada sebuah mobil Espass yang diparkirkan di kantor Pokes setempat. Ia tampak sedikit kaget meiihat mobil tersebut. Langkahnya pun buru-buru menghampiri Espass merah dan memperhatikan plat nomor di belakang mobil tersebut. Mbak Mer mulai curiga meiihat apa yang dilakukan Kumala, sehingga ia segera menyusul ke tempat Kumala berada.

    "Mbak, saya kenal dengan mobil ini," katanya tanpa ditanya lagi. "Dari warnanya, plat nomornya, saya tahu kalau mobil ini adalah mobilnya Tante Munna"

    "0,ya...?! "

    "Mobil ini dipinjam dari pria teman kencannya kemarin pagi, seperti yang saya ceritakan tadi. Dan, sejak itu pria tersebut

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    tak pernah muncul lagi Mobil ini pun ikut menghilang bersamanya."

    "Tapi kenapa nggak ada surat-surat penting yang ditemukan dalam mobil ini maupun pada diri mayat tersebut?!"

    "Tante Munna kemarin juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya, sebab ketika mobil dibawa pergi oleh Tomhans, dia lupa menyerahkan STNK-nya. Tak ada surat penting yang disimpan di mobil ini, karena sorenya sebelum dia tersesat, mobil ini habis dicuci bersih dan sengaja dikosongkan, karena mau dipakai buat mengangkut para calon karyawannya ke Bandung. yang jelas..."

    "Tengoklah dulu ke dalam kantor sana!" sahut sebuah suara dari seorang lelaki. Suara itu dikenali betul oleh Kumala yang segera berpaling ke kanan, dan dugaannya memang benar. Sersan Burhanlah yang menyahut kata-katanya tadi. Kumala dibawa ke ruang belakang tempat di mana mayat berkerangka itu disemayamkan sementara.

    "Waah... kurasa sudah jelas, Mbak," ujarnya kepada Mbak Mer yang ada di sampingnya, ikut memandangi mayat tersebut.

    "Jelas bagaimana?"

    "T-shirt hitam bergaris putih di pundak, celana jeans yang belum tampak belel, semua ini adalah ciri-ciri pakaian Tomhans, sesuai keterangan Jessica dan Tante Munna"

    "Jadi, menurutmu mayat yang tinggal kerangka ini adalah pemuda mantan pacarnya Jessica dan yang disebut-sebut Tante Mun sebagai Tomhans? Begitu?"

    "Benar. Aroma kerangkanya menandakan dia pernah dikubur dalam tanah selama lebih dari enam bulan, Mbak."

    "Tapi... kenapa Jessica dan Tante Munna mengaku bertemu atau meiihat Tomhans dalam sosok manusia biasa?!"

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Hmm, yaa... di situlah letak misteri yang harus kupelajari lebih cermat lagi, Mbak."

    "Apakah menurutmu mayat yang tinggal kerangka ini bisa hidup kembali seperti kesaksian Jessica dan Tante Mun ?" tanya Sersan Burhan yang sebelumnya pernah mendengar cerita mengenai kasusnya Tante Munna dan Jessica sebelum ini.

    "Hanya kekuatan gaib kelas tinggi yang dapat menghidupkan mayat ini dalam sosok manusia biasa," jawab Kumala sambil menatap tak berkedip ke arah mayat tersebut. Seolah-olah ia sedang mencoba berdialog dengan kerangka mayat yang masih memiliki s isa kebusukan itu.

    Dialog batin tersebut tentunya tak dipahami oleh mereka yang berkumpul di sekelling mayat sambil menutup hidung masing-masing, karena kebusukan masih tercium tajam dari mayat tersebut. Cukup lama Kumala diam di s itu tanpa dialog; dan berpandangan menerawang. Mbak Mer serta Sersan Burhari yang sudah hafal betul dengan tanda-tanda seperti itu mulai mundur pelan-pelan. Mereka membiarkan Kumala dalam keheningannya. Bahkan. petugas lainnya diingatkan untuk tidak mengajak bicara Kumala atau mengeluarkan suara yang mengganggu suasana hening itu.

    Pada saat diantar pulang oleh Letnan Merina Swastika, mereka masih membicarakan masalah kesaksian Jessica dan peristiwa yang dialami Tante Munna. Polwan cantik itu masih belum puas dengan keterangan sebelumnya, sehingga ia lebih banyak bertanya daripada menyimpulkan sebuah perkara. Barangkali hal itu dimaksudkan untuk mendapat kepastian mutlak bahwa mayat berkerangka itu memang mayat almarhum Tommy Rehansha alias Tomhans.

    Mbak Mer juga menanyakan tentang hasil wawancara Kumala dengan roh mayat tersebut. Dan, oleh Kumala pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum kecil, terkesan menahan kelucuan dalam hatinya .

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Aku belum berkomunikasi dengan roh Tomhans kok, Mbak."

    "Jadi, waktu kau diam agak lama tadi, ngapain?"

    "Mencoba mengenali tanda-tanda kekuatan gaib yang membekas pada tulang-tulang mayat itu. Dan, temyata aku menemukan bekas-bekas radiasi gaib yang berasal dari alam kegelapan. Aku mengenali ciri-cirinya sebagai radiasi milik para iblis. Bukan siluman, bukan dari bangsa jin atau dari yang lainnya. Jadi, dapat dipastikan alam kita ini sudah kedatangan tamu dari sana!"

    "Iblis telah turun ke bumi, maksudmu?"

    "Sepertinya begitu, Mbak. Tapi dari jenis yang mana, belum sempat kusimpulkan dengan tepat. yang jelas, ia memiliki kesaktian cukup tinggi, sehingga bisa menghidupkan orang yang sudah lama mati, atau bisa memanfaatkan kerangka mayat siapa saja sebagai perwujudan dari dirinya di mata manusia awam. Pantaslah kalau aku dan Buron hampir gagal menaklukan kekuatan gaib dalam kandungan Tante Munna, karena rupanya yang dikandung Tante Munna adalah benih- benih iblis kelas tinggi."

    "Lalu, kenapa sekarang mayat itu menjadi kerangka kembali?!"

    "Karena kekuatan iblis telah meninggalkannya. Maka, ia menjadi sosok aslinya kembali. Sayangnya, ia tidak dikembalikan ke makamnya, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan menegangkan di masyarakat kita,Mbak."

    "Apa motivasi kedatangan 'tamu gaib' kita itu, Kumala?"

    "Belum bisa kujelaskan semuanya, Mbak. Tadi aku sempat mendeteksi keadaan sekeliling kantor Polres tadi, nggak ada tanda-tanda gaib yang dapat dikategorikan sebagai energi gaib iblis kelas atas. Tapi firasatku mengatakan, dia akan beraksi lagi nanti malam. Atau bahkan siang ini pun mungkin

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    dia sudab beraksi. Sayangnya deteksi gaibku masih belum bisa menjangkau gelombang gaibnya"

    Mereka saling diam sesaat. Kemudian terdengar kembali suara lembut berwibawa dari mulut Dewi Ular yang bergigi indah bak barisan mutiara nan elok itu.

    "Rasa-rasanya... mulai sekarang kita harus meningkatkan aktiv itas keamanan di seluruh wilayah Jakarta. Bahkan bila perlu seluruh negeri ini harus dalam pengawasan yang ketat dari para aparat, demi menjamin ketenangan dan keamanan masyarakat kita. Sebab... hati kecilku mengatakan bahwa sebentar lagi akan muncul kekacauan yang meresahkan rakyat terutama warga ibukota ini, yang disebabkan oleh kekuatan gaib kelas tinggi. Entah seperti apa bentuknya, yang pasti negeri ini akan menjadi kacau balau, kehidupan di dunia akan terancam hancur akibat teror misterius dari alam kegelapan. Kasus kehamilan Tante Munna dan ditemukannya kerangka mayat Tomhans itu hanyalah sebuah awal dari malapetaka yang akan melanda permukaan bumi kita, Mbak!"

    Sempat merinding bulu kuduk Mbak Mer mendengar kata-kata Kumala yang bernada datar dan pandangan matanya seperti orang melamun itu. Seingatnya, Kumala tidak pemah main-main jika sedang meramalkan sebuah kehidupan masa depan yang mengandung resiko maut bagi para penghuni bumi. Mbak Mer tak pernah berani menyangkal dengan canda jika Kumala sudah bicara dengan nada seperti itu. Dan menurut perwira cantik itu, ramalan Kumala tadi perlu dilaporkan pada atasannya supaya seluruh aparat keamanan bersiap siaga menghadapi suasana rawan bencana dan dapat mengantisipasi lebih dulu sebelum terjadi.

    Hati polwan berkulit sawo matang itu diam-diam menyimpan debar-debar kecemasan. Tapi t idak lebih kuat dari debar-debar yang dialami Tante Munna dan Jessica sewaktu mendengar penjelasan Kumala mengenai mayat Tomhans serta mobil Espass milik janda sekal itu. Dengan bantuan

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Mbak Mer dan Sandhi, mereka pergi ke tempat di mana mayat Tomhans berada, dan mobil Espass menjadi salah satu barang bukti dari kasus kriminal tersebut.

    Hanya Kumala dan Buron yang tidak ikut mereka. Keduanya mempunyai kesibukan sendiri, setelah masing- masing berunding menyusun rencana gaib. Rencana tersebut hanya bisa dipahami dan dikerjakan oleh mereka yang memiliki tingkat kesaktian melebihi tingkatannya bangsa siluman.

    Tetapi sebelum mereka bertindak, sebuah telepon datang dari seorang teman dekat Kumala Dewi. Begjtu dekatnya jalinan persahabatan itu, sampai seperti seorang saudara sendiri. Kumala tak bisa menyampingkan kehadiran telepon tersebut, karena mengandung informasi yang sangat penting baginya.

    "Please, Kumala... datanglah kemari sekarang juga! Kondisinya semakin mengkhawatirkan Franni benar-benar butuh bantuanmu, Kumala! Kalau saja dia bisa kubawa ke Sana, sudah kubawa dari tadi!"

    "Siapa itu Franni?"

    "Teman SMA-ku dulu. Dia tinggal di seberang rumahku, Kumala Tak tega aku melihat dia mengalami penderitaan seperti itu!"

    "Aku sedang punya urusan penting juga, jadi..."

    "Yaah, kamu kok gitu sih? Datanglah sebentar saja, Kumala. Kamu kan bisa gunakan kesaktianmu untuk tiba di sini dalam tempo kurang dari setengah menit?! Dengan kesaktianmu juga kamu bisa tangani penderitaan Franni dalam semenit, lalu kembali menyelesaikan urusanmu itu sampai benar-benar selesai. Tolong deh, Kumala... Franni benar-benar kritis. Mungkin dia akan kehilangan nyawanya saat bersalin nanti, sebab menurutku ia hamil dalam keadaan nggak normal dan sangat..."

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    "Franni temanmu itu hamil?!" sahut Kumala sedikit terperanjat.

    "Benar. Padahal kemarin dia masih sehat. Hmm, maksudku... masih belum tampak hamil. Perutnya masih kempes. Tapi hari ini dia kelihatan seperti hamil sembilan bulan. Dia sangat kesakitan, seperti orang mau melahirkan. Makanya..."

    "Aku akan ke sana!" sahut Kumala tegas dan cepat. Tak mau banyak bicara lagi, telepon segera ditutup.

    Wajahnya sedikit tegang ketika beradu pandang dengan Buron, membuat Buron curiga dan ingin tabu, "Telepon dari siapa?!"

    "Fiora...," jawab Kumala sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul lima sore kurang sedikit. Setelah menjelaskan secara singkat kepada Buron tentang kabar dari Fiora tadi, ia segera.putuskan untuk pergi menemui Fiora saat itu juga.

    "Ikut aku, Ron! Gunakan jalur gaib!" Perintah singkat itu sangat dipahami oleh Buron, Jalur gaib adalah jalur perjalanan menembus dimensi gaib untuk mempersingkat waktu Maka, dalam sekejap saja Buron sudah melesat setelah berubah menjadi seberkas sinar kuning mirip meteor kecil, sedangkan Kumala Dewi sudah lebih dulu melesat. Ia berubah menjadi seberkar sinar hijau berbentuk menyerupai seeker naga kecil yang memiliki kecepatan melebihi kilatan cahaya petir.

    Claaap...!

    Dalam beberapa detik saja mereka sudah muncul di rumah Fiora, di halaman belakang yang sepi itu. Mereka sengaja tak muncul di depan rumah Fiora, karena di sana banyak orang berkerumun, termasuk sanak keluarga Fiora sendiri.

    Walau pun penjelrnaan mereka dari cahaya menjadi manusia biasa tidak diketahui orang, tapi kehadiran mereka

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    yang berasal dari belakang rumah telah mengundang keheranan sanak keluarga Fiora, serta beberapa tetangga yang ikut berkerumun di teras depan itu. Bagi Fiora sendiri kemunculan mereka bukar hal yang aneh dain mengherankan. Gadis berusia 26 tahun yang memiliki mata membelalak indah dengan bibir sedikit tebal menggoda gairah itu penah menyaksikan keajaiban yang lebih hebat lagi dari sekedar kemunculan Kumala dan Baron.

    Bahkan ia lebih banyak tahu tentang rahasia pribadi Kumala dibandingkan teman-teman Kumala lainnya, sebab Fioralah saut-satunya sahabat yang pernah diajak menembus alam seberang. Bahkan pernah bertemu dengan para begundal iblis dan pernah jumpa dengan ayah Kumala sendiri, yaitu Dewa Permana, ketika ia mengikuti perjalanan gaibnya si DewiUlar itu, (Baca serial Dewi Ular dalam episode: "DUEL-RACUN MAUT"). Tentu saja dia menjadi satu-satunya gadis yang rnemegang teguh janjinya untuk tidak membeberkan beberapa rahasia alam sana kepada pihak mana pun.

    "Syukurlah kau benar-benar datang, Kumala," sambut Fiora dengan lega. "Yuk, ikut aku ke rumah seberang. Sudah tiga 'orang pintar' yang dipanggil untuk sembuhkan penyakit anehnya Franni, yaitu kehamilan gaibnya itu, tapi tidak satu pun ada yang sanggup menanganinya, Aku baru saja datang setengah jam yang lalu, makanya telat mengabarimu...!" celoteh Fiora sambil berusaha menembus kerumunan orang di pintu masuk rumaah Franni. Buron mengikuti dari belakang sambil mempertajam radar gaibnya, sebagai tindakan berjaga-jaga penuh kewaspadaan dari gangguan gelombang gaib yang dapat datang menyerang mereka sewaktu-waktu.

    Franni gadis berkulit langsat, bertubuh sekal, padat berisi dan memiliki dada yang tergolong montok. Namun tak terlalu seronok dipandang umum. Ia memilki kecantikan setara dengan kecantikan Fiora, karena usianya pun sebaya dengan usia Fiora, Hanya saja, dilihat dari bentuk matanya yang

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    sedikit lebar dan bibir agak tebal menantang gairah, Franni memiliki daya pikat yang lebih menggoda ketimbang Fiora, Keberaniannya dalam mengoda lawan jenisnya pun tampak lebih besar, sehingga para tetangganya diam-diam menilai dirinya lebih nakal dibandingkan Fiora atau gadis-gadis sebaya di sekitar rumahnya.

    "Apakah dia masih kuliah?" tanya Buron kepada Fiora dengan berbisik pelan sekali. Matanya memperhatikan Franni yang mengerang dengan memegangi perutnya yang membengkak besar.

    "Dia sudah bekerja, sebagai Sales Promotion Girl perusahaan rokok yang sekarang sedang buka stand di PRJ," jawab Fiora cepat dalam nada berbisik pula. Buron menggumam dan manggut-manggut.

    "Pantas... Kelihatannya dia cukup berani untuk menikmati kencan dengan seorang pria. Jiwanya cenderung menyukai petualangan cinta dengan pria mana pun yang ia sukai."

    "Ron...," panggil Kumala yang sudah berada di samping ranjang tempat Franni menggeliat kesakitan, seperti ingin bersalin. Buron yang semula hanya sampai batas pintu kamar, kini berani melangkah mendekati ranjang karena panggilan Kumala tadi.

    "Pagar sekeliling tempat ini sekarang juga!"

    "Baik,"

    "Fi... tolong kosongkan kamar ini. Hanya kami dan salah satu wakil keluarganya saja yang boleh berada di kamar ini, termasuk kau. Jaga di pintu, ya Fi?!"

    "Okey...!" tegas Fiora walau pun dengan suara bergetar karena debar-debar ketegangan hatinya membuat persendian tulangnya mulai gemetar. Ia tahu keadaan saat itu sangat gawat, terbukti nada suara Kumala Dewi tidak selunak biasanya. Meski sikapnya tampak tenang, tapi nada suaranya

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    cukup tegas dan berwibawa Itu menandakan bahwa Dewi Ular merasa berhadapan dengan masalah yang tidak bisa dianggap enteng olehnya. Apalagi jarak Kumala dengan Franni tidak berani dekat-dekat seperti biasanya, semakin yakin hati Fiora bahwa Franni mempunyai persoalan yang sangat berbahaya bagi diri sang anak dewa itu.

    Memang demikian kenyataannya. Dewi Ular berusaha untuk tidak menyentuh perut Franni. Meski ia telah mengerahkan tenaga sakiinya, namun begitu kakinya menyentuh tepian ranjang, sebuah kekuatan gaib dari dalam perut Franni berhasil menghentak kuat dan membuat tubuhnya terpental hingga membentur dinding. Bruuk...!

    "Ohh..?!" pekik Fiora dengan suara tertahan Ia sangal kaget melihat Dewi Ular terlempar dari tempatnya. la sangat cemas terhadap keselamatan sahabat karibnya itu. Tapi segera menjadi sedikit lega ketika dilihatnya Kumala yang seperti dihempas badai tadi segera bangkit dari posisinya jatuh berlutut. Kumala tak mengalami cedera. Namun suasana menjadi lebih tegang lagi, karena Franni berteriak keras-keras, panjang sekali, seperti serigala sedang melolong, Seluruh tubuhnya bergetar, urat-uratnya mengeras Franni tampak ingin melahirkan bayinya.

    Zuuub...!

    Kumala Dewi menahannya dengan melepaskan cahaya hijau bening dari telapak tangannya. Cahaya itu menghantam sekitar kedua paha Franni. Seolah-olah sedang menyumbat jalur jalan bayi. Hal itu membuat Franni mengerang makin kuat. Kulit wajahnya selain bercucur keringat juga menjadi kebiru-biruan akibat mengerahkan tenaga pendorong dari dalam perutnya. Karena tertahan oleh kekuatan Dewi Utar, maka terjadilah saling dorong dari dua tenaga yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.

    Dinding kamar bergetar. Benda-benda di kamar itu pun terguncang seperti dilanda gempa. Lampu yang menggantung

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    di atas ikut bergetar. Rumah itu seperti mau rubuh oleh sebuah getaran yang sangat menakutkan para penghuninya Fiora berpegangan pada sisi samping sebuah almari pakaian, berdekatan dengan kakak perempuannya Franni yang mewakili keluarga di dalam kamar itu. Kedua orang ini saling berpandangan penuh rasa takut, hingga tak mampu saling mengucapkan sepatakatapun.

    Buron yang sejak tadi merentangkan kedua tangannya ke samping kanan-kiri sebagai upaya memagari sekeliling tempat itu dengan kesaktianriya, tiba-tiba terhempas ke belakang.

    Braak.!

    Lalu, terlempar ke kiri menabrak rak buku. Gubraak...! Secepatnya ia terpental ke depan. Praang...! Tubuhriya bagaikandibanting kuat-kuat membentur cermin rias. Belum sempat bangkit sudah terlempar kembali melayang di atas ranjang.

    Wuus, gubraaak. !

    "Aaaau...!!" kakak perempuan Franni menjerit panik melihat Buron terbentur-bentur ke sana-sini, sampai akhirnya jatuh di bawah kakinya dengan hidung berdarah.

    "Ada yang datang, Malaa..!" Buron sempat berteriak demikian sebelum tubuhnya melambung ke atas dan menjebolkan langit-langit kamar secara tragis.

    Guzzrrakss, bruussk...!

    "

    Aaahh..!!" teriak Buron di atas sana.

    "Sirna raga!" seru Dewi Ular memberi instruksi kepada Buron.

    Claap, bluss...!

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Buron berubah menjadi sinar kuning. Pada kesempatan itu Dewi ular juga berubah menjadi s inar hijau seperti naga kecil. Peristiwa ajaib tersebut membuat kakak Franni mernbelalakan kedua matanya. Shock di tempat dicekam rasa takutnya.

    Cahaya hijau itu memancarkan bias cahayanya semakin terang, semakin lebar, sehingga sekujur tubuh Franni kini diliputi oleh cahaya hijau berpendar-pendar. Gadis itu telah pingsan beberapa detik sebelumnya. Kakaknya pun akhirnya jatuh terpuruk di lantai karena tak mampu berdiri tegak lag. Sementara itu, Buron yang kini menggunakan kesaktiannya secara penuh sedang mengamuk di luar rumah tanpa terlihat oleh siapa pun. Orang-orang yang berkerumun di luar rumah hanya melihat kilatan cahaya petir beberapa kali. Seolah-olah sejumlah guntur sedang menghujani rumah Franni. Suaranya menggelegar secara beruntun. Mengerikan sekali, sehinga sebagian besar mereka berlarian masuk rumah siapa saja yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

    Blaaar, bllaaar, blegaaar, gleeerr...!

    Hanya Fiora yang masih mampu bertahan berdiri dengan kedua lutut gemetaran la melihat jelas cahaya hijau seperti seekor naga kecil itu melayang-layang mengelilingi bagian atas ranjang. Tiba-tiba dari ujung cahaya hijau itu melesat sinar putih kebiru-birnan sebesar lidi.

    Zlaap...! Sinar panjang itu menuju keatas lurus. Menembus atap rumah. Tapi tak lama kemudian seperti memantul balik berupa sinar putih perak yang segera menghantam perut Franni.

    Bleess...!

    Tubuh Franni yang pingsan terguncang-guncang, seperti cacing kepanasan. Kemudian dari jalur keluarnya bayi tampak muncul gumpalan kabut menyerupaikapas warna abu-abu.

  • Tiraikasih Website http ://kangzusi.com/

    Bluuuss...! Begitu gumpalan kabut itu keluar, cahaya hijaunya Dewi Ular menyabet dengan cepat bak sabetan ekor naga sakti.

    Bledaarr...! Bledaar...! Bledaaarr...!

    Sepuluh kali keluar gumpalan kabut abu-abu, sepuluh kali pula dihancurkan oleh sabetan sinar hijau. Setelah sepuluh kali terjadi demikian, maka cahaya hijau itu segera berubah menjadi sosok gadis cantik yang sangat dikenali oleh Fiora.

    Karena setelah sepuluh kali terjadi demikian, tak pernah muncul lagi gumpalan kabut abu-abu dari tubuh Franni perut gadis itu pun segera normal kembali. Kempes seperti semula.

    Suara guntur di luar rumah sudah berhenti. Dan di depan mata Fiora cahay