supply chain management inventory 004

Download Supply Chain Management Inventory 004

Post on 14-Oct-2015

96 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SCM

TRANSCRIPT

  • USULAN PENELITIAN S2

    SISTEM PEMANTAUAN DAN DISTRIBUSI STOK PADA RANTAI

    MANAJEMEN PEMASOK MENGGUNAKAN PENDEKATAN

    CONTINUOUS REVIEW DAN METODE SINGLE EXPONENTIAL

    SMOOTHING

    HUSNI ANGRIANI A

    12/336577/PPA/03828

    PROGRAM STUDI S2 ILMU KOMPUTER

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS GADJAH MADA

    YOGYAKARTA

    2013

  • i

    HALAMAN PERSETUJUAN

    USULAN PENELITIAN S2

    SISTEM PEMANTAUAN DAN DISTRIBUSI STOK PADA RANTAI

    MANAJEMEN PEMASOK MENGGUNAKAN PENDEKATAN

    CONTINUOUS REVIEW DAN METODE SINGLE EXPONENTIAL

    SMOOTHING

    Diusulkan oleh

    Husni Angriani A

    12/336577/PPA/03828

    Telah disetujui

    pada tanggal 28 November 2013

    Pembimbing

    Dr. Azhari SN., MT

    NIP. 19620920 1989 03 1 002

  • ii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... i

    DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

    1. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1

    2. Rumusan Masalah ........................................................................................... 5

    3. Batasan Masalah .............................................................................................. 5

    4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................................ 6

    5. Tinjauan Pustaka ............................................................................................. 6

    6. Landasan Teori .............................................................................................. 10

    6.1 Supply chain Management ................................................................ 10

    6.2 Pendekatan Continuous review (Q,r) ................................................ 13

    6.3 Metode Single Exponential Smoothing ............................................. 15

    7. Desain Penelitian ........................................................................................... 18

    7.1 Desain Proses supply barang ke distributor dan retailer ................... 18

    7.2 Arsitektur Sistem ............................................................................... 21

    7.3 Rancangan Pengujian ........................................................................ 31

    8. Metodologi Penelitian ................................................................................... 31

    9. Jadwal Penelitian ........................................................................................... 38

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 40

  • 1

    1. Latar Belakang Masalah

    Manajemen inventory merupakan suatu faktor yang penting dalam upaya

    untuk mencukupi ketersediaan stok suatu barang pada distribusi dan penjualan barang

    (Simchi-levi et al. 2008). Sebuah perusahaan dapat mengeluarkan biaya yang relatif

    tinggi jika ketersediaan produk yang kurang atau terlalu banyak, dan besarnya

    permintaan yang tidak dapat didentifikasi dengan mudah merupakan tantangan

    penting bagi supply chain management (Smros et al. 2003). Inventory merupakan

    aset perusahaan paling besar yang berkisar antara 30 % - 40 %. Biaya yang harus

    tersedia oleh suatu perusahaan berkisar antara 20 % 40 % dari nilai barang yang

    disimpan. Beberapa metode dan pendekatan telah dikembangkan untuk memantau

    jumlah persediaan barang dalam suatu tempat, sehingga biaya dapat ditekan dan

    menjamin kelancaran penyediaan barang (Parwati et al. 2009), pendekatan dalam

    inventory yaitu continuous review dan periodic review.

    Persediaan di sepanjang supply chain memiliki implikasi yang besar terhadap

    kinerja finansial suatu perusahaan. Jumlah uang yang tertanam dalam bentuk

    persediaan biasanya sangat besar sehingga persediaan adalah salah satu aset terbesar

    yang dimiliki supply chain. Banyak perusahaan yang memiliki nilai persediaan

    melebihi 25% dari nilai keseluruhan aset yang dimiliki. Hal ini berarti bahwa biaya

    modal yang tertahan dalam bentuk persediaan disuatu perusahaan/ supply chain bisa

    sangat besar. Manajemen persediaan yang baik bisa berpengaruh besar terhadap

    kinerja finansial sebuah perusahaan (Pujawan & ER 2010).

    Menurut teori klasik mengenai manajemen persediaan agar suatu barang dapat

    dikelola atau disimpan dengan baik dalam gudang, terdapat banyak aspek yang harus

    diperhitungkan seperti item-item barang yang dapat mengalami kerusakan, misalnya

    waktu penyimpanannya melebihi batas waktu sehingga barang tersebut menjadi

    usang (Baron et al. 2010). Sebagai contoh barang yang tidak tahan lama misalnya

    makanan tertentu, produk musiman, bahan kimia, obat-obatan, minuman dan

  • 2

    sebagainya. Oleh karena itu, pengelolaan persediaan barang yang tahan lama juga

    memerlukan perhatian khusus, karena beberapa barang tersebut dapat rusak dan tidak

    dapat diselamatkan.

    Persediaan barang dalam sebuah toko juga dapat mempengaruhi penjualan

    barang tersebut. Banyaknya persediaan barang yang tersimpan dalam suatu toko

    dapat menyebabkan keuntungan dan kerugian. Keuntungan dapat diperoleh pada saat

    permintaan meningkat, sebaliknya kerugian dapat terjadi karena kurangnya

    permintaan. Hal ini disebabkan karena faktor ketidakpastian permintaan pelanggan.

    Untuk itu diperlukan manajemen stok yang tepat pada distribusi penjualan barang.

    Saat ini, pendekatan supply chain management telah mendukung cooperative

    management dimana arus informasi antar mitra dalam supply chain mampu mencapai

    satu tujuan bersama secara lebih cepat dan mudah dibandingkan jika dilakukan secara

    individual (Sucky 2005). Disamping itu, menurut Marqus et al. (2008) terlihat pula

    bahwa kolaborasi bisnis antar banyak perusahaan yang saling terkait dalam suatu

    rantai stok barang merupakan hal yang sangat penting dan strategis untuk

    peningkatan permintaan menuntut proses bisnis untuk membuat peluang pendapatan

    baru, efisiensi dan loyalitas pelanggan.

    Sebagai contoh dalam suatu distribusi barang dari supplier hingga retailer/toko.

    Supplier mendistribusikan barang ke distributor sesuai dengan banyaknya permintaan

    distributor. Distributor mendistribusikan barang ke retailer sesuai banyaknya

    permintaan retailer. Distribusi barang tersebut memungkinkan terjadinya

    ketersediaan barang yang menjadi sangat banyak dan juga ketersediaan barang yang

    sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini dikarenakan tidak adanya informasi

    mengenai berapa banyak barang yang keluar setiap saat pada masing-masing pihak

    yang terkait dalam supply chain, sehingga sulit menentukan kapan waktu yang tepat

    untuk melakukan pemesanan serta berapa banyak jumlah barang yang dipesan. Hal

    tersebut mengakibatkan kehabisan barang yang seharusnya dapat menjadi keuntungan

    ketika permintaan pelanggan dapat dipenuhi atau kelebihan barang yang dapat

  • 3

    mengakibatkan barang menjadi rusak dan biaya pada barang yang tersimpan tidak

    dapat digunakan mengakibatkan seluruh pihak tidak dapat mempergunakan biaya

    tersebut untuk keperluan lainnya. Untuk itu dibutuhkan pemantauan terhadap stok

    pada semua pihak yang terkait dalam supply chain, agar pengelolaan stok bisa

    dilakukan dengan baik sehingga dapat diketahui kapan waktu pemesanan dan berapa

    banyak jumlah barang dipesan.

    Informasi yang tidak transparan mengakibatkan banyak pihak pada supply chain

    melakukan kegiatan atas dasar ramalan atau tebakan yang tidak akurat. Ritel atau

    toko seringkali tidak membagi informasi dengan pusat distribusi dan pabrik.

    Akibatnya pabrik hanya mengetahui pola permintaan berdasarkan order yang

    diterima dari pusat distribusi (Pujawan & ER 2010).

    Beberapa masalah tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak adanya informasi

    mengenai jumlah stok barang yang ada pada masing-masing pihak supply chain,

    sehingga distribusi stok tidak dapat di ketahui dan juga pihak supplier tidak

    mengetahui jumlah yang tepat berapa banyak barang yang harus diproduksi untuk

    memenuhi distribusi stok tersebut. Untuk itu, ketersediaan barang sangat

    mempengaruhi seluruh pihak yang memiliki kepentingan dengan barang tersebut

    sehingga dibutuhkan informasi mengenai ketersediaan barang dalam jumlah yang

    tepat untuk kelancaran distribusi dan penjualan suatu barang pada masing-masing

    pihak. Pada Gambar 1.1 diperlihatkan alur distribusi stok barang dalam kehidupan

    sehari-hari :

  • 4

    Gambar 1.1 Alur distribusi stok barang

    Pada Gambar 1.1 merupakan contoh distribusi stok barang dalam kehidupan

    sehari-hari dimana masing-masing pihak tidak mengetahui kapan waktu pemesanan

    sebaiknya dilakukan dan berapa banyak stok yang tersedia pada masing-masing

    distributor dan toko. Akibatnya ketika seorang customer melakukan pemesanan

    melebihi stok yang dimiliki oleh toko C , maka toko C tersebut tidak dapat memenuhi

    permintaan pelanggan dengan cepat tetapi menunggu dan melakukan permintaan

    kepada distributor yang memiliki lead time selama dua hari sejak pemesanan.

    Akibatnya toko tersebut dapat kehilangan pelanggan karena pelanggan tersebut dapat

    berpindah ke toko yang lain. Demikian halnya dengan toko 2 yang memiliki stok