STUDI PELAPISAN NIKEL DEKORATIF DENGAN ?· Logam Ni mempunyai tingkat kecerahan dekoratif yang kurang…

Download STUDI PELAPISAN NIKEL DEKORATIF DENGAN ?· Logam Ni mempunyai tingkat kecerahan dekoratif yang kurang…

Post on 17-Sep-2018

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p>STUDI PELAPISAN NIKEL DEKORATIF DENGAN </p><p>MENGGUNAKAN BAHAN PENGKILAT NATRIUM </p><p>KLORIDA UNTUK HOME INDUSTRY KERAJINAN LOGAM </p><p>Bambang Darmawan1)</p><p>, Asep Setiadi 2)</p><p>, Ega Tqwali 3)</p><p>, 1,2,3)</p><p>Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, FPTK UPI Email : bamdarsap@gmail.com </p><p>ABSTRAK Logam Ni mempunyai tingkat kecerahan dekoratif yang kurang baik apabila dilapiskan langsung pada baja </p><p>karbon ST-37. Hal ini perlu diperhatikan mengingat kecerahan dekoratif merupakan peranan penting dalam </p><p>menentukan kualitas lapisan. Untuk meningkatkan kecerahan dekoratif lapisan perlu dilakukan penambahan </p><p>klorida pada proses pelapisan Nikel. Percobaan dilakukan dimulai dari persiapan bahan uji baja karbon ST-37 </p><p>dan bahan pelapis Ni. Kemudian dilakukan persiapan awal yaitu pembersihan permukaan bahan yang akan </p><p>dilapis dan pembuatan larutan pelapis. Dilanjutkan percobaan pelapisan Ni pada ST-37. Kemudian dilakukan </p><p>perlakuan panas terhadap hasil proses pelapisan dengan memvariasikan temperatur laku panas. Analisis </p><p>terhadap hasil ketebalan dan foto penampang struktur mikro dilakukan sehingga dapat menyimpulkan </p><p>pengaruh natrium klorida dan waktu terhadap ketebalan hasil lapisan. Natrium klorida dapat digunakan </p><p>sebagai alternatif bahan pengkilat, ketebalan lapisan dalam proses elektroplating, ketebalan lapisan merupakan </p><p>fungsi dari waktu pelapisan dan waktu proses pelapisan yang paling baik pada 25 menit. </p><p> Kata kunci : nikel, dekoratif, ketebalan, struktur mikro, baja karbon </p><p>PENDAHULUAN </p><p>Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan </p><p>industri dan ekonomi di Indonesia, maka </p><p>meningkat pula penggunaan bahan logam, baik </p><p>sebagai komponen proses di industri, maupun </p><p>sebagai komponen produk yang dipasarkan di </p><p>masyarakat. Jumlah penduduk Indonesia yang </p><p>telah melebihi 200 juta orang, akan membuat </p><p>konsumsi pemakaian logam dalam sarana kehidupan menjadi sangat besar. Sehingga dengan </p><p>banyaknya penggunaan bahan dari logam atau </p><p>paduannya maka perlu mengetahui kerusakan </p><p>barang-barang tersebut akibat korosi (karat). </p><p>Sesuai definisi, bahwa korosi adalah kerusakan </p><p>akibat hasil dari reaksi kimia antara logam atau </p><p>paduan logam dengan lingkungannya. Dari </p><p>definisi tersebut jelas bahwa barang-barang yang </p><p>terbuat dari logam atau paduaannya yang rentan </p><p>terhadap korosi dapat mengalami kerusakan akibat </p><p>terserang korosi. Dampak kerusakan akibat korosi </p><p>sangat besar pengaruhnya terhadap berjalannya </p><p>suatu proses industri. Hampir semua sektor </p><p>industri mempunyai permasalahan dengan korosi, </p><p>misalnya sektor industri logam, industri </p><p>perhubungan, industri pertambangan dan energi, </p><p>pekerjaan umum, industri pertanian dan lain </p><p>sebagainya. Akibat kerusakan yang ditimbulkan </p><p>korosi tersebut, maka dapat diperkirakan secara </p><p>kasar bahwa biaya penanggulangan korosi </p><p>mencapai 1,5 % dari GNP, maka dapat </p><p>dibayangkan besarnya biaya yang harus </p><p>dikeluarkan untuk penanggulangan korosi </p><p>tersebut, dan pada saat ini biaya yang diperlukan mencapai orde beberapa trilyun rupiah. Untuk memperkecil dampak negatif dari </p><p>kerusakan yang ditimbulkan akibat korosi, maka </p><p>diperlukan salah satu upaya untuk melakukan </p><p>pencegahan awal (prevention of corrosion). </p><p>Teknik pelapisan logam dengan menggunakan </p><p>arus listrik searah (electroplating) merupakan </p><p>salah satu cara pencegahan awal dari serangan </p><p>korosi tersebut. Logam Ni merupakan logam </p><p>pelapis yang baik untuk dekoratif tetapi masih </p><p>mempunyai kekurangan pada nilai kecerahan dekoratif dan daya lekatnya. Logam Ni mempunyai kecerahan dekoratif yang kurang baik </p><p>apabila dilapiskan langsung pada baja karbon ST- 37. Hal ini perlu diperhatikan mengingat kecerahan dekoratif merupakan peranan penting </p><p>dalam menentukan kualitas lapisan. Untuk </p><p>meningkatkan daya lekat lapisan perlu </p><p>penambahan klorida pada proses pelapisan Nikel. </p><p>METODE PERCOBAAN Percobaan dilakukan dimulai dari persiapan bahan </p><p>uji baja karbon ST-37 dan bahan pelapis Ni. </p><p>Kemudian dilakukan persiapan awal yaitu pembersihan permukaan bahan yang akan dilapis </p><p>dan pembuatan larutan pelapis. Dilanjutkan </p><p>7 </p><p>mailto:bamdarsap@gmail.com</p></li><li><p>percobaan pelapisan Ni pada ST-37 dengan variasi </p><p>waktu dengan penambahan natrium klorida (NaCl) </p><p>1%. Pengujian kecerahan dekoratif dan ketebalan </p><p>lapisan dilakukan. Analisis terhadap hasil </p><p>kecerahan dekoratif dan uji ketebalan serta foto </p><p>penampang struktur mikro dilakukan sehingga </p><p>dapat menyimpulkan pengaruh natrium klorida </p><p>dan waktu terhadap ketebalan hasil lapisan. </p><p>HASIL DAN PEMBAHASAN </p><p>Tingkat kecerahan lapisan diukur dengan menggunakan alat ukur iluminasi cahaya, data </p><p>iluminasi cahaya yang diperoleh, didapat dari hasil </p><p>Gambar 1. Foto lapisan pada waktu pelapisan nikel pengkuran tegangan berupa tinggi gelombang </p><p>(amplitude) pada osiloskop. Gelombang yang ditunjukkan oleh osiloskop dapat dinyatakan sebagai kualitas kecerahan dari proses electroplating nikel dekoratif (Tabel 1). </p><p>Tabel 1. Data hasil pengujian iluminasi </p><p>cahaya lapisan nikel dekoratif </p><p>Gambar 2. Cara pengukuran ketebalan lapisan </p><p>Tabel 2. Data hasil pengujian ketebalan lapisan </p><p>Pengukuran ketebalan dilakukan dengan cara </p><p>pengamatan benda kerja pada mikroskop, </p><p>kemudian dilakukan pemotretan. Setelah itu </p><p>dilakukan pengukuran ketebalan lapisan yang </p><p>terbentuk pada permukaan benda kerja dilakukan </p><p>dengan cara mengukur lapisan pada foto hasil </p><p>pemotretan sehingga dapat diketahui ketebalan </p><p>lapisannya. Sebagai contoh diambil dari data pada </p><p>Tabel 2 dipakai data waktu pelapisan nikel 5 menit </p><p>ke 1 seperti dibawah 1 dan 2. </p><p>Dari gambar 1 diukur ketebalan lapisan pada </p><p>permukaan benda kerja dengan cara pengukuran </p><p>ditunjukkan pada gambar 2 diatas, sehingga </p><p>didapatkan ketebalan lapisannya adalah 3 mm. </p><p>Dimana lapisan yang diukur adalah lapisan nikel </p><p>dan lapisan yang terbentuk sebelum nikel yang </p><p>menempel pada permukaan benda kerja yang </p><p>8 </p></li><li><p>kemungkinan muncul akibat proses preparasi yang </p><p>kurang baik ataupun muncul akibat proses </p><p>pelapisan nikel itu sendiri. Sedangkan unutk </p><p>lapisan khrom dalam foto tidak terlihat karena </p><p>lapisannya sangat tipis disebabkan waktu </p><p>pelapisan khrom untuk pelapisan khrom dekoratiif </p><p>adalah 2 menit dan lapisan ini hanya berfungsi </p><p>sebagai pelapis dekoratif. </p><p> Tabel 3. Data hasil perhitungan ketebalan </p><p>lapisan </p><p>pada benda kerja (spesimen) </p><p>Agar data diatas dapat terlihat perubahan nilainya maka dibuat dalam bentuk grafik dibawah ini. </p><p>Setelah semua ketebalan pada foto diketahui kemudian dilakukan perhitungan pembesaran yang </p><p>digunakan untuk mengetahui ketebalan lapisan </p><p>yang sebenarnya. Untuk menghitung pembesaran yang digunakan pada foto adalah dengan cara </p><p>membagi ketebalan skala foto diatas dengan ketebalan sebenarnya skala pada foto. Dimana </p><p>diketahui ketebalan skala pada foto adalah 13 mm </p><p>dan ketebalan skala sebenarnya adalah 50 m. Sehingga dengan menggunakan persamaan </p><p>dibawah ini dapat diketahui pembesarannya. = </p><p>13 = 50 </p><p>13 = = 260 </p><p>0,05 </p><p>Setelah diketahui pembesaran yang digunakan adalah 260 kali, maka dengan menggunakan persamaan dibawah ini dapat diketahui ketebalan lapisan yang terbentuk. = </p><p>3 </p><p>= 260 = 0,01154 = 11,54 Dengan menggunakan cara yang sama, maka semua data ketebalan lapisan yang terbentuk dapat diketahui dan dicatat dalam tabel dibawah ini. </p><p>Gambar 3. Grafik hubungan waktu pelapisan nikel </p><p>dengan ketebalan lapisan </p><p>Dari gambar 3 tersebut maka dapat disimpulkan </p><p>bahwa pada ketebalan lapisan dalam proses </p><p>elektroplating, ketebalan lapisan merupakan fungsi dari waktu pelapisan. </p><p>KESIMPULAN </p><p> Berdasarkan analisis data, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Natrium klorida dapat digunakan sebagai </p><p>alternatif bahan pengkilat 2. Ketebalan lapisan dalam proses elektroplating, </p><p>ketebalan lapisan merupakan fungsi dari waktu pelapisan. </p><p>3. Waktu proses pelapisan yang paling baik pada 25 menit </p><p>UCAPAN TERIMAKASIH </p><p> Penulis mengucapkan terimakasih kepada UPI yang telah memberi dana Hibah PKM BHP dari </p><p>Dana DIPA BOPTN UPI TA 2014 dengan SK </p><p>Rektor UPI Nomor: 3415/UN40/LT/2014 Tanggal 23 April 2014 </p><p>Daftar Pustaka </p><p>Graham, A.K. (1975), Electroplating Engineering </p><p>Hand Book, third edition, Mac Graw Hill, </p><p>New York. </p><p>Lowenhein, F.A. (1987), Electroplating, Mac </p><p>Graw Hill, New York. </p><p>Mohler, J.B. (1969), Electroplating and Related </p><p>Processes, Chemical Publishing Co.Inc, </p><p>New York. 9 </p></li><li><p>Solehudin, A., Widyanto, B., Hidrianto, R.W. </p><p>(2001), Studi Perbandingan Konsentrasi </p><p>NH4Cl dan NaCl serta Waktu Proses </p><p>Pelapisan Nikel Terhadap Dayalekat, </p><p>Ketebalan dan Kekerasan pada Baja SAE </p><p>1005, Journal Korosi dan Material, </p><p>Indocor, 1, No. 2. </p><p>Solehudin, A., Juwita, L. (2002), Pelapisan logam </p><p>Nikel dekoratif dengan mengunakan Bahan </p><p>Pengkilat alternatif Garam Klorida, Jurnal </p><p>Korosi dan Material, Indocor, II, No.4. </p><p>10 </p></li></ul>