studi kelayakan usaha pembangunan pabrik gula

Download studi kelayakan usaha pembangunan pabrik gula

Post on 15-Feb-2015

730 views

Category:

Documents

161 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pembangunan pabrik gula

TRANSCRIPT

KATA PENGANTARPuji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan kesehatan kepada kelompok kami selama proses penyusunan studi kelayakan dengan judul Studi Kelayakan Pembangunan Pabrik Gula di Daerah Maumbi, Kota Manado, Sulawesi Utara. Penyusunan studi kelayakan ini dimaksudkan untuk menganalisis apakah rencana proyek pembangunan pabrik gula di lokasi yang telah dipilih dapat layak dilaksanakan atau tidak. Kelompok kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam proses pembuatan studi kelayakan ini sampai akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan studi kelayakan ini. Kelompok kami menyadari bahwa studi kelayakan ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, kelompok kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikkan studi kelayakan ini. Akhir kata, kelompok kami berharap agar studi kelayakan ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Selamat membaca dan terimakasih.

Bandung, April 2013

1

Tim Penyusun

19

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ......1 DAFTAR ISI ...2

Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang ..4 .5 .5 1.2. Tujuan dan Manfaat 1.3. Ruang Lingkup Projek 1.4. Stakeholder 1.5. Pendekatan

..5 ..6

Bab II Kajian Aspek Pasar 2.1. Diskripsi Sektor Industri .7 2.2. Analisis Potensi Pasar dan Competitor ..8 2.3. Analisis STP ..9 ...9 2.4. Analisis dan Proyeksi Pasar Effektif

2.5. Program Marketing Mix ...10 Bab III Kajian Produksi/Operasi 3.1. Perencanaan Kapasitas Produksi .11 3.2. Teknologi dan Proses Produksi ..11 3.3. Peralatan dan Fasilitas ...13 3.4. Bahan Baku, Penolong dan Utilitas 3.5. Organisasi dan Manajemen 3.6. Jadwal Implementasi .13 19 ..14

...17

Bab IV Analisis Finansial 4,1 Rincian permodalan 4.2 Biaya Operasi ...18 ..20 19 ...21

4.3 Proyeksi pendapatan BEP 1.4 Proyeksi Cash Flow

Bab V Kesimpulan dan Tindak Lanjut 5.1 Kesimpulan 5.2 Tindak Lanjut 22 22

19

BAB I Pendahuluan1.1 Latar Belakang Industri gula di Indonesia dewasa ini belum memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Produksi gula belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri sehingga masih diperlukan impor gula. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menutupi kekurangan produksi gula ini, antara lain: Memperluas areal tanaman tebu baik yang diusahakan oleh pabrik gula maupun petani (areal tebu rakyat) Meningkatkan produktivitas tanaman tebu melalui program intensifikasi.

Merehabilitasi serta menambah kapasitas pabrik gula yang sudah ada. Membangun pabrik gula baru dengan melibatkan investasi perusahaan swasta nasional.

Usaha perluasan tanaman tebu untuk pengembangan pabrik gula baru telah dilakukan di beberapa daerah di luar pulau Jawa seperti di Aceh, Sumatera Utara, Lampung, dan Sulawesi Utara dengan hasil yang cukup memuaskan. Oleh karena itu, pada dasarnya Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan industri gula. Sebagai komoditi yang termasuk kebutuhan pokok, tata niaga gula pasir dulu dikendalikan oleh BULOG, namun dengan tekanan dari IMF maka tataniaga gula dibebaskan. Data ststistik memperlihatkan tingkat konsumsi gula di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Suatu penelitian telah menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara tingkat pendapatan dengan tingkat konsumsi gula per kapita. Dengan demikian peningkatan konsumsi gula dipengaruhi oleh faktor-faktor: 1. Pertambahan penduduk 2. Peningkatan pendapatan per kapita Menurut hasil penelitian, permintaan gula di kota Manado selalu 19 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Khususnya menjelang perayaan hari hari besar seperti Natal, Tahun Baru, dan Lebaran, permintaan gula selalu meningkat dua kali lipat. Seperti pada perayaan Natal tahun 2012 yang lalu, permintaan gula di kota Manado meningkat dari 4.000 ton menjadi 8.000 ton. Akibatnya, gula yang dipasarkan kepada masyarakat Manado pada waktu itu perlu dipasok dari Sulawesi Selatan, Lampung, Gorontalo dan beberapa kawasan yang menjadi produsen gula di pulau Jawa. Oleh karena itu, kami menganggap perlu dibangun sebuah pabrik gula di kota Manado untuk memenuhi permintaan gula di kota Manado.

1.2 Tujuan dan Manfaat Tujuan dari pembangunan pabrik ini adalah agar perusahaan kami mendapatkan keuntungan dari penjualan produk (gula) nantinya. Keuntungan yang diharapkan adalah sebesar 4 M per bulan. Manfaat dari pembangunan pabrik ini adalah agar para konsumen yang berada di kota Manado tidak perlu mengimpor gula dari luar daerah. Kehadiran pabrik ini diharapkan dapat memenuhi permintaan gula di kota Manado. 1.3 Ruang Lingkup Projek Untuk membangun pabrik gula ini, hal hal yang perlu dilakukan adalah : Mempersiapkan proyek : melakukan survey, feasibility studi (menentukan STP, menentukan struktur organisasi, menyusun anggaran biaya), dan design and engineering (menentukan luas bangunan, tipe bangunan). Merekrut pekerja.

Memenuhi persyaratan administrasi pembangunan pabrik. Melakukan pembangunan pabrik (lahan tebu bangunan, kantor administrasi, bangunan kesejahteraan karyawan, dan perumahan karyawan). Pengoperasian pabrik.

1.4 Stakeholder Pihak pihak yang akan terlibat dalam proyek ini adalah : Investor : sebagai penanam modal untuk pembangunan pabrik.

Bank Swasta / Pemerintah : sebagai penanam modal untuk pembangunan pabrik. Pekerja bangunan : bertugas melaksanakan pembangunan pabrik. Supplier alat dan bahan bangunan : sebagai pemasok alat dan bahan untuk pembangunan pabrik. Supplier fasilitas produksi pabrik : sebagai pemasok untuk fasilitas di dalam pabrik. 19 Arsitek : sebagai pembuat desain bangunan. Pemilik lahan : sebagai pihak yang akan dibeli lahannya untuk dibangun pabrik. Pemerintah : sebagai pemberi izin untuk mendirikan bangunan dan seluruh keperluan administrasi

1.5 Pendekatan Pembiayaan investasi dan pemodalan dari proyek ini terdiri dari : Fixed asset dan Modal kerja. Kedua pembiayaan investasi tersebut dapat diperoleh dari : Para investor : memberikan proposal pembangunan proyek, memberikan tawaran kerja sama. Para investor akan mendapat pembagian keuntungan beberapa persen dari pabrik gula ini apabila telah beroperasi. Peminjaman uang dari bank swasta / pemerintah : memilih bank yang akan dipinjami, mempersiapkan dokumen dokumen yang dibutuhkan, melakukan peminjaman uang. Keuangan pribadi dari pendiri proyek.

19

BAB II Kajian Aspek Pasar2.1 Diskripsi Sektor Industri 2.1.1 Perkembangan Industri Gula Saat Ini Bercermin pada kesuksesan industri gula di Brazil, Indonesia sebenarnya sudah mulai melakukan industrialisasi diversifikasi produk turunan tebu yang terintegrasi dengan pabrik gula seperti industri lilin (wax) dari blotong, pabrik alkohol serta spirtus mulai tahun 1950-an, namun perkembangannya cenderung lambat dan jalan di tempat. Keseriusan pemerintah untuk membangun industri produk turunan tebu yang terpadu dengan industri gula mulai terlihat kembali beberapa tahun terakhir dengan disusunnya Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 maupun Program Revitalisasi Industri Gula Nasional Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian. Pengembangan industri produk turunan tebu yang terpadu dan modern dapat memberikan multiplier effect (efek pengganda) terutama di sektor hulu. Akan banyak industri yang tumbuh dan banyak menyerap tenaga kerja serta mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam jangka pendek, pengembangan industri gula terpadu dapat dimulai dari beberapa produk seperti bioethanol, kompos atau pupuk organik, dan listrik (co-generation). 2.1.2 Problem dan Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Industri Gula Namun, ada beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan terkait pembangunan industri gula yang terpadu dengan industri turunannya agar efisien dan menguntungkan, antara lain : Ketersedian lahan yang cukup luas di pabrik gula. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang semakin meningkat memaksa ketersediaan lahan kosong dan pertanian diubah menjadi perumahan dan industri. Hal ini juga berdampak pada eksistensi pabrik gula. Saat ini, sebagian besar lokasi pabrik gula BUMN berdampingan dengan perumahan penduduk bahkan ada yang berada di tengah-tengah kota. Oleh karena 19 itu, perintisan industri gula terpadu dalam jangka pendek perlu dipilih lokasi pabrik gula yang memiliki lahan cukup luas. Hal ini selain agar proses produksi berjalan lancar juga tidak mengganggu lingkungan sekitar, sehingga tercipta industri gula terpadu yang lestari dan berkelanjutan. Sedangkan dalam jangka menengah-panjang dapat dibangun perkebunan tebu dan pabrik gula baru yang terintegrasi dengan pabrik coproduct tebu seperti bioethanol, pupuk organik, co-generation, dan industri produk turunan tebu lainnya seperti yang akan dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di Pulau Madura dalam beberapa tahun ke depan[4]. Kapasitas giling dan efisiensi pabrik gula. Pabrik gula yang efisien dan memiliki kapasitas giling lebih dari 5.000 TCD (Ton Cane per Day/Ton Tebu per Hari) dinilai

memiliki profil kelayakan finansial yang lebih baik untuk usaha produk turunan tebu seperti pabrik bioethanol dan produksi listrik. Hal ini berkaitan dengan efisiensi energi proses produksi, ketersediaan bahan baku produk turunan tebu, dan nilai keekonomian pabrik tersebut. Hasil kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian menunjukkan pabrik bioethanol dengan kapasitas 60 kiloliter/hari memerlukan biaya investasi sebesar Rp. 133 200 milyar. Dengan biaya operasional per tahun sekitar Rp. 39 milyar dan harga bioethanol Rp. 5,5 juta/kiloliter, maka usaha tersebut secara finansial menguntungkan dengan B/C ratio (Benefit Cost Ratio) diestimasi sekitar 1,37. Pengusahaan pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan ampas tebu (co-generation) juga cukup prospektif. Dengan kapasitas sekitar 6.000 KWH (Kilowatt Hour), usaha ini memerlukan dana investasi sekitar Rp. 45 milyar dan